Anda di halaman 1dari 5

Nama : Bunga Dita Islamia

NIM : 1710301082

KELAS : 5B2 Fisioterapi

Tutor LO 1.2

1. Bagaimana intervensi Fisioterapi untuk post operasi sesuai dengan fase bone healing?

 Fase Inflamasi
Respon dan Karakteristik Jaringan : adanya perubahan vaskuler, eksudasi sel dan
kimia, pembentukan bekuan, fagositosis, netralisasi iritan. Aktivitas fibrolastik awal.
Tanda Klinis : inflamasi, nyeri sebelum resistansi jaringan.
Tujuan dan intervensi fisioterapi untuk fase rehabilitasi : Fase Perlindungan awal
-> mengontrol efek inflamasi : istirahat selektif, es, kompresi, elevasi. Mencegah
efek merugikan akibat istirahat : gerakan tidak berbahaya : lingkup gerak sendi pasif,
pijat, dan muscle setting dengan tindakan kewaspadaan.

INTERVENSI :
- Edukasi pasien : jelaskan kepada pasien tentang perkiraan waktu pemulihan dan
cara menjaga bagian tubuh cedera sambil mempertahan aktivitas dan fungsional
yang sesuai.
- Mengontrol nyeri, edema, spasme : dingin, kompresi, elevasi, pijat (48 jam ).
Immobilisasi bagian tubuh (istirahat, bidai, pita perekat, gips). Hindari posisi yang
membebani bagian tubuh. Osilasi sendi dengan lembut (derajat 1 atau 2) dengan
sendi bebas nyeri.
- Mempertahankan integritas dan mobilitas jaringan lunak dan sendi : dosis gerak
pasif yang sesuai dengan batas nyeri, spesifik pada struktur yang terlibat. Dosis
muscle setting berjeda / stimulasi listrik yang sesuai.
- Mengurangi pembengkakan sendi terdapat gejala : kemungkinan membutuhkan
intervensii medis jika bengkak terjadi dengan cepat (darah). Beri perlindungan
(bidai,gips)
- Mempertahankan integritas dan fungsi area terkait : latihan aktif-asisted, aktif
dengan tahanan, dan/ aerobik yang dimodifikasi, bergantunng pada kedekatan
dengan areea yang terkait dan pengaruh pada lesi utama. Alat bantu atau alat
adaptif sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi bagian tubuh selama aktifitas
fungsional.

 Tahap subakut poliferasi


Respon dan karakterikstik jaringan:Pembuangan stimuli berbahaya, pertumbuhan
sistem kapiler di dalam area, pembentukan kolagen, jaringan granulasi sangat rapuh,
jaringan mudah cedera
Tanda klinis:Inflamasi berkurang, nyeri bersamaan dengan resistansi janringan
Tujuan dan intervensi fisioterapi untuk fase rehabilitasi: fase gerak terkontrol
yaitu menengah. Terbentuknya jaringan parut gerak: peregangan selektif, mobilisasi/
manipulasi pada keterbatasan. Mendorong penyembuhan: stabilisasi aktif, dengan
tahanan, rantai terbuka dan tertutup yang tidak membahayakan, daya tahan otot, serta
latihan daya tahan kardiopulmonari, tingkatan intensitas dan lingkup dengan hati-
hati.
Intervensi:
Edukasi pasien: jelaskan kepada pasien tentang waktu penyembuhan yang
diharapkan dan pentingnya mengikuti panduan. Ajarkan latihan di rumah dan
tingkatkan aktifitas fungsional yang sejalan dengan rencana; awasi dan ubah sesuai
kemajuan pasien.
Meningkatkan penyembuhan jaringan yang cidera: awasi respon jaringan
terhadap peningkatan latihan; kurangi intensitas bila nyeri atau inflamasi meningkat.
Lindungi jaringan penyembuhan dengan alat bantu, bidai, pita perekat,atau
bebat;tingkatakan jumlah waktu sendi dapat bergerak bebas setiap hari nya secara
progersif dan kurangi penggunaan alat bantu seiring meningkatakan kekuatan otot
penopang.
Mengembalikan mobilitas jaringan lunak, otot dan atau sendi: tingkatan ROM
dari pasif menjadi aktif asistif menjadi aktif dalam batas nyeri. Tingkatkan mobilitas
jaringan parut secara bertahap, spesifik pada sturktur yang terganggu. Tingkatakan
mobilitas sturktur terkait secara progersif jika membatasi ROM; gunakan tekhnik
spesifik pada struktur yang tegang.
Mengembangkan kontrol neuromuscular, daya tahan otot, dan kekuatan otot
yang terganggu dan yang terkait: awalnya, tingkatkan latihan isometrik dengan
berbagai sudut gerakan dalam toleransi pasien; mulai secara hati-hati dengan tahapan
ringan. Mulai latihan ROM aktif , penumpuan beban dengan proteksi dan stabilisasi.
Seiring meningkatnya ROM, joint play dan penyembuhan, tingkatkan latihan isotonk
dengan penambahan repitisi. Tekankan kontrol pola latihan dan mekanik yang benar.
Tingkatkan tahanan pada akhir tahap ini.
Mempertahankan integritas dan fungsi pada area terkait: aplikasikan latihan
penguatan dan stabilisasi yang progersif, awasi efek pada lesi utama. Kembali ke
aktivitas fungsional intensitas rendah yang tidak memperparah gejala pada jaringan
penyembuhan.
 Fase kronik: maturasi dan remodeling
1. Respon dan karakteristik jaringan
Maturasi jaringan ikat, kontraktur jaringan parut, remodeling jaringan
parut, pola gen selaras terhadap tekanan.
2. Tanda klinis
Tidak ada inflamasi, nyeri setelah resistensi jaringan
3. Tujuan dan intervensi Fisioterapi untuk fase rehabilitasi
Fase kembali ke fungsional: lanjutan
Meningkatnya kualitas tarikan jaringan parut: latihan penguatan dan daya
tahan progresif
Berkembangnya kemandirian fungsional: latihan fungsional, dan
spesifisitas latihan
 Intervensi
1. Mengedukasi pasien
-Instruksikan pasien tentang peningkatan latihan dan peregangan yang
aman
-Awasi pemahaman dan kepatuhan pasien
-Ajarkan cara menghindari cidera ulang pada jaringan
-Ajarkan biomekanik yang aman
-Berikan konseling tentang ergonomik
2. Meningkatkan mobilitas jaringan lunak, otot dan atau sendi
-Teknik peregangan spesifik pada jaringan yang kaku:
-Sendi dan ligamen tertentu (mobilisasi atau manipulasi sendi)
-Perlekatan ligamen, tendon, dan jaringan lunak (pemijatan cross-fiber)
-Otot (inhibisi neuromuskular, peregangan pasif, pemijatan, dan latihan
fleksibilitas)
3. Meningkatkan kontrol neuromuskular, kekuatan, daya tahan otot
Peningkatan latihan:
-Tahanan submaksimal hingga maksimal
-Spesifisitas latihan menggunakan tahanan konsentrik dan eksentrik,
dengan dan tanpa penumpuan beban
-Bidang gerak tunggal atau berbagai bidang
-Gerakan sederhana hingga rumit, menekankan pada gerakan yang
menyerupai aktivitas fungsional
-Stabilitas proksimal terkontrol, gerakan distal tumpang tindih
-Biomekanik yang aman
-Repetisi dari rendah hingga tinggi pada kecepatan rendah; tingkatkan
kompleksitas dan waktu; tingkatkan kecepatan dan waktu
4. Meningkatkan daya tahan kardiopulmonari
-Tingkatkan latihan aerobik dengan aktivitas yang aman
5. Meningkatkan aktivitas fungsional
-Teruskan menggunakan alat penopang dan atau alat bantu sampai ROM
fungsional dengan jointplay, dan kekuatan otot penopang telah memadai.

-Tingkatkan latihan fungsional dengan aktivitas yang mirip dari yang


terlindungi dan terkontrol sampai yang tanpa perlindungan dan bervariasi.

-Lanjutkan latihan penguatan progresif dan aktivitas latihan lanjutan hingga


otot cukup kuat dan mampu untuk merespon kebutuhan fungsional.

 Tahap inflamasi kronim atau sindroma trauma kumulatif


Intervensi selama infalamasi kronik :
1. Edukasi pasien :
Diskusikan penyabab iritsi kronik dan perlunya untuk menghindari
pembebanan pada bagian tubuh ketika inflamasi. Adaptasikan lingkungan
untuk mengurangi pembebanan jaringan. Berikan program latihan untuk
membantu intervensi terapi
2. Membantu penyembuhan : mngurangi nyeri dan infalamasi
Dingin, kompresi, pijat, isitrahatkan bagian tubuh (hentikan tekanan
mekani,, bidai, perekat, gips)
3. Mempertahankan integritas dan mobilitas jaringan yang terganggu.
Gerak pasif yang tidak membebani, pemijatan, dan muscle setting dalam
batas nyeri.
4. Mengembangkan topangan pada daerah yang terkait
Latihan postur, latihan stbilisasi
 Intervensi gerak terkontrol dan fase kembali ke fungsional
1. Mengedukasi pasien :
Diskusi cara ergonomis untuk mencegah pengulangan, interupsi
peningkatan yang aman pada latihan peregangan dan penguatan dirumah.
Interupsi pada tanda pembebanan terlalu banyak
2. Mengembangkan kekuatan dan mobiitas jaringan parut
Pemijatan friksi, mobilitas jaringan lunak
3. Mengembangkan keseimbangan pada panjang dan kekuatan otot
Perbaiki penyebab gangguan otot dan mekanika sendi dengan latihan
peregangan dan penguatan yang bertahap dan sesuai.
4. Meningkatkan kemandirian fungsional
Latihan otot untuk berfungsi sesuai kebutuha :
Berikan cara lain atau dukungan bila tidak mampu.
Latih koordinasi dan penentuan waktu.
Kembangkan daya tahan
5. Menganalisa pekerjaan atau aktifitas
Adaptasi lingkungan atau peralatan rumah, kantor, dan olahraga

2. Kontraindikasi pada pemasangan ORIF ?

Indikasi tindakan pembedahan ORIF:


1. Fraktur yang tidak stabil dan jenis fraktur yang apabila ditangani dengan metode
terapi lain, terbukti tidak memberi hasil yang memuaskan.
2. Fraktur leher femoralis, fraktur lengan bawah distal, dan fraktur intraartikular
disertai pergeseran.
3. Fraktur avulsi mayor yang disertai oleh gangguan signifikan pada struktur otot
tendon

Kontraindikasi tindakan pembedahan ORIF:


1. Tulang osteoporotik terlalu rapuh menerima implan
2. Jaringan lunak diatasnya berkualitas buruk
3. Terdapat infeksi
4. Adanya fraktur comminuted yang parah yang menghambat rekonstruksi.
5. Pasien dengan penurunan kesadaran
6. Pasien dengan fraktur yang parah dan belum ada penyatuan tulang
7. Pasien yang mengalami kelemahan (malaise)