Anda di halaman 1dari 13

SURVEI GEOKIMIA TANAH LANJUTAN DAERAH GUNUNG SENYANG

KABUPATEN SANGGAU, PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Kisman dan Bambang Nugroho Widi


Kelompok Penyelidikan Mineral, Pusat Sumber Daya Geologi

SARI
Gunung Senyang merupakan salah satu daerah mineralisasi emas dan logam dasar.
Secara administratif daerah ini termasuk wilayah Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau,
Provinsi Kalimantan Barat. Gunung Senyang adalah daerah perbukitan dengan ketinggian
antara 600-675 meter diatas permukaan laut, dengan lereng dari landai hingga terjal. Secara
geologi disusun oleh dominasi batuan intrusi pada bagian atas dan batuan metasedimen pada
bagian bawah. Batuan metasedimen merupakan batuan tertua, di susul oleh intrusi diorit dan
endapan aluvium. Struktur geologi yang berkembang adalah berupa sesar geser dengan arah
umum utara-selatan dan sesar normal (graben?).
Mineralisasi di tandai oleh urat kuarsa menerobos intrusi diorit dan setempat pada
batuan metasedimen yang mengandung bijih sulfida (emas dan logam dasar) membentuk
suatu zona (ketebalan urat kuarsa kurang dari 1 cm hingga 3 cm). Di bagian utara (Sungai
Entinyuh) asosiasi mineral berupa pirit, kalkopirit dan galena. Sedangkan di bagian selatan
yaitu di Sungai Paju mineralisasi ditandai oleh urat kuarsa, menerobos batuan diorit dengan
arah N290ºE-N330ºE, kemiringan sampai 80º. Urat kuarsa berwarna putih abu-abu, tekstur
gigi anjing dan vuggy dan terdapat sulfida pirit.
Jenis alterasi yang terbentuk di daerah penyelidikan secara kasad mata adalah
silisifikasi, argilitisasi sebagian propilitisasi tetapi sangat terbatas pada daerah-daerah sesar.
Sedangkan butiran emas ditemukan dalam konsentrat dulang dari Sungai Bungo. Hasil dari
analisis mineralogi butir, emas teridentifikasi memiliki bentuk dan ukuran butiran yang
bervariasi dari VFC (sangat halus) hingga CC (sangat kasar) dengan bentuk sub angular
hingga sub rounded. Emas letakan berasal dari daerah aliran Sungai Bungo pada lokasi SSE-
15MN02P, SSE-15MN04P dan SSE-15MN211P.
Berdasarkan hasil analisis Fire assay conto batuan kandungan emas dari daerah aliran
sungai (DAS) Bungo memiliki kadar 11,82 gr/ton Au, DAS Entinyuh kadar 4,90 gr/t Au dan
dari DAS Paju menunjukkan kadar 14,38 gr/t Au. Hasil analisis mineragrafi pada conto SSE-
15MN193F menunjukkan butiran emas berasosiasi dengan sfalerit, pirit kalkopirit dan galena.
Pada conto yang lain ditemukan adanya stibnit. Sedangkan hasil analisis petrografi pada conto
SSE-15MN198R dijumpai adanya mineral biotit sekunder. Dengan data tersebut dapat
diperkirakan bahwa mineralisasi terbentuk atau bergerak dari suhu tinggi ke suhu rendah (tipe
porfiri-tipe epitermal).

PENDAHULUAN sedimen sungai aktif di daerah kaki


Kegiatan survei geokimia tanah Gunung Senyang terdapat unsur Au 3.902
sebagai salah satu tahapan tindak lanjut ppb.
dari kegiatan penyelidikan mineral logam Penambangan emas aluvial atau
di daerah perbatasan Malaysia–Kabupaten koluvial terletak pada kaki Gunung
Sanggau Provinsi Kalimantan Barat tahun Senyang di bagian utara, di lokasi tersebut
2012. Informasi dari hasil kegiatan tersebut terdapat batusabak terkersikan
adalah terdapatnya anomali geokimia bersentuhan dengan diorit atau granodiorit
unsur Au dari conto sedimen sungai aktif oleh van Schelle,1884 (dalam Tim
dan atau batuan. Hasil analisis conto Penyelidikan, 2012). Survei geokimia
tanah di daerah Gunung Senyang secara Litologi daerah penyelidikan dapat
administratif termasuk ke dalam wilayah dibagi menjadi tiga satuan batuan tersusun
Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau dari yang berumur tua ke muda yaitu:
Provinsi Kalimantan Barat (Gambar 1). Satuan batuan metasedimen, satuan
Survei geokimia tanah dilakukan untuk batuan intrusi dan endapan alluvium
mengetahui penyebaran unsur–unsur dengan sisipan batu lempung (Gambar 2).
logam dalam tanah dan mendapatkan Satuan batuan metasedimen terdapat dua
zona-zona anomali unsur logam. Makalah jenis yaitu berupa perselingan batupasir
ini merupakan salah satu bagian dari data dan batu lempung. Batuan lempung
hasil penyelidikan Pusat Sumber Daya umumnya berwarna abu-abu sampai
Geologi Tahun Anggaran 2015. warna gelap (Gambar 3). Sedangkan
batupasir berbutir halus sampai kasar
METODOLOGI berwarna putih terdapat kesan perlapisan
Survei geokimia tanah di daerah warna coklat muda hingga kuning
Gunung Senyang dilakukan dengan cara (Gambar 4).
pengamatan geologi konvensional disertai Satuan batuan beku sebagai intrusi
pengambilan conto tanah interval 50 meter di daerah Gunung Senyang yaitu diorit,
pada horizon B dengan metoda ridge and dasit dan andesit. Satuan batuan diorit
spur, conto batuan dengan chip sampling. banyak tersingkap disekitar Sungai Bungo,
Analisis kimia unsur dilakukan di Sungai Entinyuh, Sungai Paju dan di
laboratorium Pusat Sumber Daya Geologi puncak-puncak bukit (Gambar 5). Satuan
dengan metoda AAS dan Fire Assay. alluvium dengan sisipan lempung,
Unsur yang dianalisis adalah unsur Au, Ag, batulumpur yang masih lunak dan endapan
Cu, Pb, Zn, Mn, Fe, As, Mo, Sb, Hg dan Li. kerikil pasir beraneka bahan (Gambar 6).
Selain metoda AAS dan Fire Assay juga Struktur geologi di daerah
analisis fisika mineral yang terdiri dari penyelidikan pada umumnya berupa sesar
petrografi untuk mengetahui jenis mineral dengan arah umum utara-selatan. Sesar
penyusun batuan dan mineragrafi untuk geser pada satuan batuan metasedimen
mengetahui jenis mineral logam atau dijumpai dilokasi Sungai Paju, dengan jelas
mineral bijih yang membentuk endapan terlihat pergeseran alur lapisan yang sama
bijih. Pengolahan data hasil analisis kimia sebagaimana Gambar 7. Sedangkan
unsur dari conto tanah dengan statistik struktur kekar yang terisi mineral sulfida
deskriptif menggunakan program excel dan umumnya akan berpotongan dengan
plotting dalam peta dengan program struktur utama, dengan arah N130oE-
Mapinfo-11. N160oE atau N310oE-N325oE.

GEOLOGI DAERAH PENYELIDIKAN Mineralisasi


Morfologi daerah penyelidikan Mineralisasi terbentuk karena
dibagi dua satuan yaitu: satuan bukit terjal adanya penetrasi larutan hidrotermal
mengelilingi Gunung Senyang di sekitarnya melalui struktur rekahan dan terperangkap
dan bukit-bukit rendah bergelombang diantara batuan yang dilaluinya (trap).
seiring dengan jarak yang menjauh dari Data yang diperoleh dari pengamatan di
puncak. Bagian morfologi tertinggi adalah lapangan memberikan gambaran
puncak Gunung Senyang dengan mineralisasi banyak terbentuk pada batuan
ketinggian antara 600-675 meter. Pola intrusi. Mineralisasi yang terbentuk
aliran sungai-sungai yang terbentuk berpengaruh terhadap adanya batuan
berpola radial dengan stadium yang relatif ubahan yang bersifat lokal, umumnya pada
masih muda berbentuk huruf V. batuan diorit. Mineralisasi dicirikan oleh
adanya urat kuarsa halus (ketebalan galena dan stibnit (Gambar 13). Begitu pula
kurang dari 1 cm hingga sekitar 3 cm) yang hasil analisis mineralogi butir
membentuk suatu zona ditandai adanya memperlihatkan butiran emas dengan
pirit dan mineral lain seperti kalkopirit, berbagai ukuran dari halus VFC hingga
spalerit dan galena. kasar MC dan berbagai bentuk dari sub
Ada tiga lokasi yang diperkirakan angular hingga sub rounded (Gambar 14).
memiliki indikasi mineralisasi yang Korelasi antara hasil analisis kimia,
signifikan yaitu : Mineralisasi di daerah petrografi dan mineragrafi sayatan tipis
aliran sungai (DAS) Bungo (conto batuan saling mendukung cukup baik. Kondisi
S. Bungo_R) dan ditemukannya butiran seperti tersebut di atas dapat diduga
emas dari konsentrat dulang. Mineralisasi bahwa proses mineralisasi yang terbentuk
di (DAS) Paju dicirikan oleh adanya urat pada range dari suhu rendah sampai suhu
kuarsa (SSE-15MN197R) menerobos tinggi (tipe epitermal ke mesotermal).
batuan diorit dengan arah antara N290ºE- Analisis statistik deskriptif terhadap
N330ºE dan kemiringan sampai 80º. Urat nilai unsur dari 236 conto tanah horizon B
kuarsa berwarna putih-abu-abu bening berupa mean, standar deviasi, jumlah
hingga kecoklatan, bertekstur paralel dan conto, nilai minimal, nilai maksimal dan
gigi anjing. Alterasi yang terjadi di sekitar tingkat kepercayaan. Setiap conto
urat kuarsa adalah silisifikasi dan dianalisis sebanyak 11 unsur logam yaitu :
argilitisasi pada beberapa bagian dijumpai Au, Ag, Cu, Pb, Zn, Fe, Mn, As, Mo, Sb
pirit halus (Gambar 8). Float urat kuarsa dan Li dengan satuan kadar ppm kecuali
mengandung mineral sulfida ditemukan di Au dan Hg dalam ppb dan Fe (%). Hasil
Sungai Entinyuh (SSE-15MN207F) seperti pengolahan data dirangkum dan disajikan
pada Gambar 9. pada Tabel 1 dan koefisien korelasi antar
unsur disajikan pada Tabel 2.
ANALISIS DAN HASIL Penentuan besarnya anomali unsur
Fotomikrograf specimen conto kimia dibuat menjadi empat kelas yaitu :
SSE-15MN207F terlihat beberapa mineral  Kelas-1 nilai minimum s.d. mean
sulfida (Gambar 10). Pada conto specimen  Kelas-2 mean s.d. mean + Standar
yang berasal dari (DAS) Bungo, deviasi
fotomikrograf disajikan pada Gambar 11.  Kelas-3 mean + Standar deviasi s.d.
Berdasarkan data hasil analisis conto mean + 2 Standar deviasi
batuan kandungan unsur emas mencapai  Kelas-4 mean + 2 Standar deviasi s.d.
11,83 ppm. nilai maksimum.
Hasil analisis kimia batuan Penggambaran peta sebaran unsur
menunjukkan terdapat tiga conto yang dibuat berdasarkan kelas yang ada dengan
memiliki kadar emas cukup signifikan yaitu perbedaan besarnya lingkaran padat pada
conto SSE-15MN207F berkadar 4,90 gr/t setiap titik-titik lokasi. Hasil proses
Au; conto S. Bungo_R berkadar 11,83 gr/t pengolahan data tersebut ditampilkan
Au dan SSE-15MN193F sebesar 14,38 gr/t dalam peta yang menunjukkan penyebaran
Au. Ketiga conto tersebut merupakan unsur, sebagai contoh untuk unsur Au, As
conto-conto dengan kadar emas tertinggi dan Hg diperlihatkan pada Gambar 15,
dibanding conto-conto lainnya. Gambar 16 dan Gambar 17. Sedangkan
Hasil analisis petrografi dari conto hasil analisis conto batuan tidak dilakukan
SSE-15MN198R terdapat mineral biotit pengolahan data statistik sebagaimana
sekunder (Gambar 12). Hasil analisis conto tanah horizon B, tetapi hanya
mineragrafi memperlihatkan mineral emas dilakukan plotting langsung dalam peta
berasosiasi dengan kalkopirit, sfalerit, (Gambar 18).
PEMBAHASAN telah membentuk endapan emas dan
Berdasarkan hasil analisis kimia logam dasar. Hal tersebut di atas jejaknya
terhadap 236 conto tanah horizon B, maka terekam dari hasil pengamatan lapangan
karakteristik kandungan unsur Au adalah dan analisis laboratorium bahwa dari
kadarnya berkisar antara 1 ppb - 169 ppb semua lokasi yang teramati, ada tiga lokasi
dengan nilai mean 21,79 ppb. Hasil paling memiliki kandungan emas cukup signifikan
tinggi terdapat pada conto SSE/15MN23S yang disertai logam dasar. Ketiga lokasi
dengan koordinat lokasi (110.3110; tersebut yaitu: DAS Bungo, DAS Entinyuh
0.894146). Lokasi tersebut di punggungan dan DAS Paju.
sebelah kiri hulu Sungai Bungo. Untuk As Uji pendulangan mineral berat di
kadarnya berkisar antara 0 ppm - 64 ppm lokasi endapan koluvium DAS Bungo dan
dengan nilai mean 11,7 ppm. Hasil paling menghasilkan butiran emas dengan bentuk
tinggi terdapat pada conto SSE/15MN220S sub angular hingga sub raounded, hal ini
dengan koordinat lokasi (110.366; menunjukkan bahwa mineralisasi emas
0.888723) . Lokasi tersebut di punggungan masih berasal dari sumber yang dekat.
berarah tenggara yang berhadapan Keyakinan bahwa mineralisasi emas dan
dengan hulu Sungai Entinyuh. Sedangkan logam dasar di daerah penyelidikan
Unsur Hg kadarnya berkisar antara 14 ppb dikuatkan dengan pengujian silang atau
- 323 ppb dengan nilai mean 73,3 ppb. cross check antara analisis mineragrafi dan
Hasil paling tinggi terdapat pada conto fire assay menghasilakan data yang saling
SSE/15MN93S dengan koordinat lokasi mendukung. Hasil analisis mineragrafi
(110.358; 0.891477). Lokasi tersebut di menunjukkan butiran emas berasosiasi
puncak punggungan ujung hulu Sungai dengan sfalerit, pirit, kalkopirit dan galena,
Entinyuh. sedangkan dari analisis kimia conto batuan
Koefisien korelasi antar unsur yang sama menghasilkan nilai kadar yang
berdasarkan hasil analisis kimia conto cukup signifikan. Dari hasil analisis
tanah horizon B antara unsur Au terhadap petrografi (sayatan tipis) salah satu conto
As dan Hg menunjukkan hubungan positif batuan diorit menunjukkan adanya mineral
dengan nilai 0,13 dan 0,02. Angka biotit sekunder, hal ini mengindikasikan
koefisien korelasi tersebut di atas dapat bahwa dilokasi tersebut dikategorikan pada
dijadikan sebagai dasar perkiraan bahwa tingkat alterasi potasik.
keterjadian emas di daerah penyelidikan Rekonstruksi model pembentukan
termasuk kategori suhu rendah. mineralisasi yang dilakukan di daerah
Berdasarkan konsep hidrotermal, penyelidikan belum mendapatkan hasil
mineralisasi terbentuk sedikitnya oleh tiga yang permanen. Untuk mendapatkan
faktor utama yaitu: 1) Adanya batuan gambaran model dilakukan pendekatan
intrusi, berperan sebagai heat sources, 2) terhadap adanya hubungan aplit dengan
Adanya batuan induk berperan sebagai urat kuarsa yang menerobos batuan diorit
rumah atau tempat larutan hidrotermal daerah penyelidikan. Sketsa spekulatif
mengalami pembentukan menjadi endapan model mineralisasi daerah Gunung
hidrotermal (bijih), 3) Adanya struktur Senyang disajikan pada Gambar 19.
berperan sebagai jalan masuknya larutan Diperkirakan mineralisasi daerah Gunung
hidrotermal dan terjebak dalam batuan Senyang terbentuk dan bergerak dari suhu
induk sebagai deposits. tinggi ke suhu rendah (tipe porfiri-tipe
Selain tiga faktor di atas faktor epitermal).
lainnya adalah sirkulasi air bawah KESIMPULAN
permukaan atau ground water circulation. 1) Secara geologi daerah penyelidikan
Di daerah Gunung Senyang peran tersebut merupakan perbukitan, disusun oleh
satuan batuan metasedimen, satuan kimia conto tanah horizon B, unsur Au,
batuan intrusi diorit dan endapan As dan Hg mempunyai koefisien
alluvium. Struktur geologi berupa korelasi positif dengan nilai 0,13 dan
sesar geser berarah utara-selatan dan 0,02 yang mengindikasikan emas
sesar normal membentuk graben (?). terjadi dalam kategori suhu redah.
2) Mineralisasi ditandai dengan adanya 4) Terdapatnya mineral biotit sekunder pada
urat kuarsa yang menerobos batuan analisis petrografi menunjukkan tingkat
diorit berarah umum baratlaut- alterasi potasik, sehingga secara genesa
tenggara. Urat kuarsa memiliki mineralisasi daerah penyelidikan
ketebalan antara 1-3 cm mengandung terbentuk dan bergerak dari suhu tinggi ke
emas berasosiasi dengan sfalerit, suhu rendah (tipe porfiri-tipe epitermal?).
galena dan kalkopirit dan alterasinya
adalah silisifikasi, argilitisasi dan UCAPAN TERIMA KASIH
propilitisasi. Penulis menyampaikan terima
3) Hasil analisis fire assay tiga conto kasih kepada Koordinator Kelompok
batuan menunjukkan kandungan Penyelidikan Mineral dan tim editor yang
emas mencapai kadar 14,38 gr/t Au telah memberikan saran dan koreksinya
(SSE-15MN193F); 11,83 gr/t Au terhadap makalah ini sehingga dapat
(S.Bungo_R) dan 4,90 gr/t Au (SSE- diterbitkan.
15MN207F). Berdasarkan analisis

DAFTAR PUSTAKA
Annonim, 2006, Kajian Sumber Daya Geologi Pulau Kalimantan, Pusat Sumber Daya Geologi
Bandung.
Annonim, 2012, Penyelidikan Mineral Logam di Daerah Perbatasan Malaysia – Kabupaten
Sanggau Provinsi Kalimantan Barat, Pusat Sumber Daya Mineral, Bandung.
Annonim, 2014, Eksplorasi Umum Mineral Logam Mulia dan Logam Dasar di Daerah
Perbatasan Malaysia – Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat, Pusat Sumber
Daya Mineral, Bandung.
Corbett and Leach, 1996, Southwest Pacifik Rim Gold-Copper System: Structure, Alteration
and Mineralization, Australia
Supriatna, S., Margono U., Sutrisno, de Keyser F., Langford R.P., 1993, Geologi Lembar
Sanggau, Kalimantan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Gambar 1. Peta Lokasi Daerah Survei


Gambar 2. Peta Geologi Daerah Gunung Senyang
Gambar 3. Singkapan Satuan Batuan Metasedimen Jenis Lempung Lokasi di Sungai Paju

Gambar 4. Singkapan Satuan Batuan Metasedimen Jenis Batupasir Lokasi di Sungai


Entinyuh

Gambar 5. Singkapan Batuan Diorit di Lereng Bukit Hulu Sungai Bungo

Gambar 6. Singkapan Lempung-Batulumpur Sebagai Sisipan Pada Endapan Alluvium


Berwarna Abu-abu Lokasi di Sungai Bungo
Gambar 7. Singkapan Sesar Geser Pada Satuan Batuan Metasedimen di Sungai Paju

Gambar 8. Singkapan Urat Kuarsa Mengisi Rekahan Batuan Diorit Mengandung Mineral
Sulfida Pirit, Kalkopirit, Galena. Lokasi Sungai Paju Conto SSE-15MN197R
(110.352, 0.886995)

Gambar 9. Urat Kuarsa Mengisi Rekahan Batuan Diorit Berisi Mineral Sulfida, Galena,
Spalerit, Kalkopirit dan Pirit Pada Bongkahan Float Conto SSE-15MN207F
(110.357, 0.899874)
Gambar 10. Fotomikrograf Specimen Conto SSE-15MN207F Pembesaran 4,7x Nampak
Beberapa Mineral Sulfida Pirit, Galena dan Sfalerit, Dari Hasil Analisis KIMIA menunjukkan
Kadar Emas 4,90 gr/t Au

Gambar 11. Fotomikrograf Specimen Conto S.BUNGO_R Pembesaran 20x Nampak Mineral
Galena, Hasil Analisis Kimia Kadar Emas 11,83 gr/t Au.

Gambar 12. Fotomikrograf Sayatan Tipis Batuan Diorit Terdapat Mineral Biotit Sekunder (bi)
dan Hornblenda (hb) Conto SSE-15MN198R
Gambar 13. Fotomikrograf Emas Berasosiasi Dengan Kalkopirit, Sfalerit dan Galena Lokasi
(SSE-15MN193F) Sungai Paju.

Gambar 14. Fotomikrograf Butiran Emas Dengan Bentuk Sub Angular Hingga Sub Rounded
(SSE-15MN211P) daerah Sungai Bungo.

Gambar 15. Peta Sebaran Unsur Au (ppb) Pada Conto Tanah Horizon B
Gambar 16. Peta Sebaran Unsur As (ppm) Pada Conto Tanah Horizon B

Gambar 17. Peta Sebaran Unsur As (ppm) Pada Conto Tanah Horizon B
Gambar 18. Peta Sebaran Unsur Pada Conto Batuan Daerah Gunung Senyang

Gambar 19. Sketsa Spekulatif Model Mineralisasi Daerah Gunung Senyang


Tabel 1. Rangkuman Statistic Deskriptif Dari Conto Tanah Horizon B Daerah Gunung
Senyang
Descriptive Cu_ppm Pb_ppm Zn_ppm Mn_ppm Ag_ppm Li_ppm Fe_% Au_ppb As_ppm Mo_ppm Sb_ppm Hg_ppb
Mean 29.2 40.3 69.6 413.9 2.3 9.6 5.11 21.8 11.7 0.8 2.2 73.3
Standard Error 1.1 0.7 1.6 27.1 0.1 0.2 0.11 1.7 0.9 0.1 0.1 2.6
Median 26 38.5 67 219.5 2.3 9 4.73 12.5 5 0 2 64.4
Mode 15 35 68 120 2.3 8 4.51 2 2.5 0 2 40.2
Standard Deviation 17.2 10.7 24.4 416.2 2.1 3.7 1.71 26.2 13.5 1.1 2.0 40.0
Sample Variance 296.9 115.5 597.1 173251.7 4.3 13.7 2.94 687.7 183.2 1.2 3.9 1599.6
Kurtosis 9.9 5.0 6.1 5.1 208.2 1.5 0.26 10.8 0.9 0.3 34.8 10.3
Skewness 2.2 1.6 1.5 2.1 14.0 1.1 0.69 2.9 1.3 1.0 4.3 2.5
Range 143 85 209 2384 32.7 21 10.16 168 64 5 20 309.2
Minimum 3 12 8 36 0.3 3 1.12 1 0 0 0 14.3
Maximum 146 97 217 2420 33 24 11.28 169 64 5 20 323.4
Sum 6886 9502 16429 97690 549.4 2269 1206.26 5142 2754.2 187 522 17300.4
Count 236 236 236 236 236 236 236.00 236 236 236 236 236
Confidence Level(95.0%) 2.2 1.4 3.1 53.4 0.3 0.5 0.22 3.4 1.7 0.1 0.3 5.1

Tabel 2. Korelasi Antar Unsur Dari Conto Tanah Horizon B Daerah Gunung Senyang
Cu_ppm Pb_ppm Zn_ppm Mn_ppm Ag_ppm Li_ppm Fe_% Au_ppb As_ppm Mo_ppm Sb_ppm Hg_ppb
Cu_ppm 1
Pb_ppm 0.181734 1
Zn_ppm 0.184195 0.261328 1
Mn_ppm 0.158132 0.025581 0.410548 1
Ag_ppm 0.085259 0.016207 0.043216 0.077284 1
Li_ppm 0.019021 -0.16574 0.073505 -0.11214 -0.131 1
Fe_% 0.281481 0.276628 0.3879 0.560993 0.145177 -0.4906 1
Au_ppb 0.075776 0.144641 -0.02753 0.065966 -0.02781 -0.09708 0.220835 1
As_ppm 0.001612 0.250493 -0.18465 -0.30782 -0.07367 0.174646 -0.30954 0.124916 1
Mo_ppm -0.04654 -0.09345 0.019841 0.024676 -0.03368 0.012772 0.061606 0.08828 -0.13906 1
Sb_ppm -0.08645 -0.03267 0.058249 -0.11847 0.015185 0.000748 -0.04587 -0.05767 0.034152 0.078293 1
Hg_ppb 0.017847 -0.0591 0.089906 0.204335 0.020573 -0.17161 0.2745 0.017253 -0.10977 0.051673 -0.03412 1