Anda di halaman 1dari 7

Mohandas Karamchand Gandhi aksara Devanagari bahasa Hindustani: [ˈmoːɦənd̪aːs

ˈkərəmtʃənd̪ ˈɡaːnd̪ʱi] ( simak); lahir di Porbandar, Gujarat, India Britania, 2 Oktober


1869 – meninggal di New Delhi, India, 30 Januari 1948 pada umur 78 tahun) adalah seorang
pemimpin spiritual dan politikus dari India. Gandhi adalah salah seorang yang paling penting
yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. Ia adalah aktivis yang tidak menggunakan
kekerasan, mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai. Pada masa
kehidupan Gandhi, banyak negara yang merupakan koloni Britania Raya. Penduduk di
koloni-koloni tersebut mendambakan kemerdekaan agar dapat memerintah negaranya sendiri.

Gelar Mahatma (bahasa Sanskerta: "jiwa agung")[2] diberikan kepadanya pada tahun 1914 di
Afrika Selatan.[3] Selain itu, di India ia juga dipanggil Bapu (bahasa Gujarat: panggilan
istimewa untuk "ayah",[4] "papa"[4][5]).

Gandhi lahir pada 2 Oktober 1869 di negara bagian Gujarat di India. Beberapa dari anggota
keluarganya bekerja pada pihak pemerintah. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk
mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah
koloni Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Dia
kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukum-
hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan.

Ketika kembali ke India, dia membantu dalam proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris;
hal ini memberikan inspirasi bagi rakyat di koloni-koloni lainnya agar berjuang mendapatkan
kemerdekaannya dan memecah Kemaharajaan Britania untuk kemudian membentuk
Persemakmuran.

Rakyat dari agama dan suku yang berbeda yang hidup di India kala itu yakin bahwa India
perlu dipecah menjadi beberapa negara agar kelompok yang berbeda dapat mempunyai
negara mereka sendiri. Banyak yang ingin agar para pemeluk agama Hindu dan Islam
mempunyai negara sendiri. Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-
pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia
dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di
dalam satu negara.

Pada 1947, India menjadi merdeka dan pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan. Hal ini
tidak disetujui Gandhi.

Prinsip Gandhi, satyagraha, sering diterjemahkan sebagai "jalan yang benar" atau "jalan
menuju kebenaran", telah menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan anti-
rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela. Gandhi sering mengatakan
kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan kepercayaan Hindu
tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa).

Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah kepada Gandhi
karena ia diduga terlalu memihak kepada Muslim.

Warisan dan penggambaran dalam budaya populer


Lihat pula: Daftar penggambaran artistik Mahatma Gandhi

Gelar Mahatma sering disalahartikan di Barat sebagai nama kecil Gandhi. Mahatma
merupakan sebuah kata dalam bahasa Sanskerta yang berasal dari maha (berarti besar) dan
atma (berarti Jiwa). Rabindranath Tagore disebutkan sebagai orang yang pertama kali
memberikan gelar tersebut untuk Gandhi.[6] Dalam otobiografinya, Gandhi mengatakan
bahwa dia tidak pernah menyukai gelar dan sering terluka oleh hal itu.[7]

Kisah hidup Mahatma Gandhi telah banyak dituangkan ke dalam film, sastra, dan teater. Ben
Kingsley yang memerankan Gandhi dalam film tahun 1982 Gandhi, memenangkan Academy
Award untuk Aktor Terbaik. The Making of the Mahatma yang dirilis pada tahun 1996
mendokumentasikan kehidupan Gandhi di Afrika Selatan. Gandhi juga merupakan tema
sentral dalam film Bollywood tahun 2006 Lage Raho Munna Bhai. Pada tahun 2007, sebuah
film berjudul Gandhi, My Father menceritakan hubungan antara Gandhi dan putranya
Harilal.

Lain-lain

Patung Mahatma Gandhi (Józef Gosławski, 1932)

Gandhi tidak pernah menerima Penghargaan Perdamaian Nobel, meski dia dinominasikan
lima kali antara 1937 dan 1948. Beberapa dekade kemudian, hal ini disesali secara umum
oleh pihak Komite Nobel. Ketika Dalai Lama dianugerahi Penghargaan Nobel pada 1989,
ketua umum Komite mengatakan bahwa ini merupakan "sebuah bentuk mengenang Mahatma
Gandhi".

Museum elektronik Nobel mempunyai artikel mengenai hal tersebut. [1]

Sepanjang hidupnya, aktivitas Gandhi telah menarik berbagai komentar dan opini. Misalnya,
sebagai penduduk Kerajaan Britania, Winston Churchill pernah berkata
"Menyedihkan...melihat Mr. Gandhi, seorang pengacara Kuil Tengah yang menghasut,
sekarang tampil sebagai seorang fakir yang tipenya umum di Timur, menaiki tangga Istana
Viceregal dengan badan setengah-telanjang." Begitu juga dengan Albert Einstein yang
berkomentar berikut mengenai Gandhi: "(Mungkin) para generasi berikut akan sulit
mempercayai bahwa ada orang seperti ini yang pernah hidup di dunia ini."

Karya Mahatma Gandhi tidak terlupakan oleh generasi berikutnya. Cucunya, Arun Gandhi
dan Rajmohan Gandhi dan bahkan anak cucunya, Tushar Gandhi, adalah aktivis-aktivis
sosio-politik yang terlibat dalam mempromosikan non-kekerasan di seluruh dunia.

Kata kebajikan yang dikenang Mahatma Gandhi:

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan,


“ tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta
di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan. ”
Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi
“ hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis
sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.

KOMPAS.com - Hari ini, dunia merayakan kelahiran seorang tokoh pencinta damai yang
selalu menginspirasi dunia. Dia adalah Mahatma Gandhi, seorang pengacara India yang
memimpin gerakan kemerdekaan India dari kekuasaan Inggris. Dengan menggunakan cara
non-kekerasan, dia memprotes pajak garam yang diberlakukan Inggris dan meluncurkan
Gerakan Quit India. Aksi protes massal itu menuntut Inggris keluar secara teratur dari India.
Gerakannya juga mengilhami tokoh dunia lainnya seperti Nelson Mandela dan Martin Luther
King Jr. Kelahiran Mohandas Karamchand Ghandi lahir pada 2 Oktober 1869 di Porbandar,
Kathiawar, yang sekarang dikenal sebagai negara bagian Gujarat. Ayahnya, Karamchand
Uttamchand Gandhi, merupakan seorang diwan atau menteri utama negara bagian Porbandar,
pada masa kekuasaan Imperium Inggris. Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Yip Man, Master
Wing Chun Pelatih Bruce Lee Sementara, ibunya bernama Putlibai adalah istri keempat
Karamchand. Gandhi memiliki dua kakak tiri dan tiga saudara kandung. Ibunya sangat
religius sehingga membentuk Gandhi kecil sebagai anak yang taat bergama. Mulai tumbuh
semakin besar, dia memberontak banyak norma di keluarganya. Dia mulai minum alkohol
dan makan daging sapi, yang tentu larangan keras dalam Hindu. Seiring perkembangan
waktu, Gandhi tertarik untuk menjadi dokter. Namun, ayahnya berharap dia menjadi menteri
utama. Mahatma Gandhi. (culturalindia.net) Mahatma Gandhi. (culturalindia.net) Pernikahan
dini Pada usia 13 tahun, Gandhi dijodohkan dengan Kasturba Makanji yang merupakan putri
seorang pedagang, dan kemudian menikah. Kala itu usia Kasturba baru menginjak 14 tahun.
Pernah suatu ketika, Gandhi mengungkapkan pernikahannya tidak berarti apa pun baginya
pada saat usia remaja itu. Dia hanya tertarik dengan pakaian baru yang dikenakan saat acara
penikahan. Namun, seiring berjalannya waktu, perasaannya berubah menjadi nafsu, yang
kemudian dia akui dengan penyesalan dalam otobiografinya. Gandhi mengaku tidak bisa
lebih berkonsentrasi di sekolah karena pikirannya terfokus pada istri barunya. Dia dikaruniai
lima orang anak, namun salah satunya meninggal dunia. Sang istri juga menjadi aktivis sosial
sepertinya. Menjadi pengacara Di usia 18 tahun pada 1888, Gandhi berlayar ke London,
Inggris, untuk belajar hukum, sesuai dengan permintaan orangtuanya. Dia mendapat
kesempatan belajar hukum di Inner Temple di London. Di sana, Gandhi mempelajari hukum
dan yurisprudensi dengan tujuan menjadi pengacara. Pria muda India itu kesulitan
beradaptasi dengan transisi ke budaya Barat. Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Ruhollah
Khomeini, Pemimpin Revolusi Iran Dia meninggalkan aktivitas buruknya selama remaja
dengan terlibat pada gerakan vegetarian dan bertemu dengan Theosophical Society, yang
kemudian mendorong mintanya pada agama. Dia menyelesaikan studinya dengan sukses dan
menjadi pengacara pada Juni 1891. Kemudian, Gandhi kembali ke India. Sampai di India, dia
mengetahui sang ibu telah meninggal beberapa pekan sebelumnya. Gandhi kesulitan untuk
memulai pijakannya sebagai pengacara. Menangani kasus pertamanya, dia canggung ketika
memeriksa seorang saksi. Dia melarikan diri dari ruang sidang, setelah mengembalikan uang
kliennya. Mahatma Gandhi sedang memintal kain. Foto ini diambil pada tahun 1920-an.
Mahatma Gandhi sedang memintal kain. Foto ini diambil pada tahun 1920-an.
(Gandhiserve.org/Wikipedia) Mengadu nasib di Afrika Selatan Sulit menemukan pekerjaan
di India, Gandhi memperoleh kontrak satu tahun terkait layanan hukum di Afrika Selatan.
Pada April 1893, dia berlayar ke Duban, negara bagian Natal. Menghabiskan tahun-tahun di
Afrika Selatan, terbukti menjadi pengalaman spiritual dan politik yang mendalam bagi
Gandhi. Bersama dengan orang kulit berwarna lainnya, dia menjadi sasaran diskriminasi,
seperti diminta untuk pindah dari kelas satu kereta api, meski dia memiliki tiket resmi. Selain
itu, dia pernah diminta untuk melepas serbannya. Kedua tindakan intimidasi tersebut ditolak
Gandhi. Pengalaman semacam itu membangkitkan semangatnya untuk berjuang demi
keadilan sosial. Meski kontrak kerjanya dengan Dada Abdulla & Co. hanya berlaku satu
tahun, dia memutuskan untuk tinggal lama di Afrika Selatan. Baca juga: Biografi Tokoh
Dunia: Lee Tai-young, Perempuan Pengacara Pertama Korea Selama 20 tahun di negara itu,
dia mendirikan Kongres India Natal, yang bertujuan membentuk komunitas India di Afrika
Selatan hingga menjadi kekuatan politik. Bergabung Kongres Gandhi kembali ke India pada
1915 di usia 21 tahun. Dia menjadi figur pemimpin gerakan nasionalis India. Gopal Krishna
Gokhale, seorang pemimpin senior dari Kongres Nasional India, mengundang Gandhi untuk
bergabung dengan gerakan perjuangan India untuk kemerdekaan melawan Kekuasaan
Inggris. Gokhale membimbing Gandhi tentang situasi politik yang berlaku di India dan juga
masalah-masalah sosial. Dia kemudian bergabung dengan Kongres Nasional India dan
sebelum mengambil alih kepemimpinan pada 1920, yang kemudian memancing gerakan
hasutan bernama Satyagraha. Mahatma Gandhi saat memimpin long march menentang
monopoli garam yang diberlakukan pemerintah kolonial Inggris. Mahatma Gandhi saat
memimpin long march menentang monopoli garam yang diberlakukan pemerintah kolonial
Inggris.(Wikipedia) Monopoli garam Setelah otoritas Inggris menangkap Gandhi pada 1922,
dia mengaku bersalah atas tiga tuduhan penghasutan. Meski dijatuhi hukuman penjara selama
enam tahun, dia dibebaskan pada Februari 1924, usai menjalani operasi usus buntu. Keluar
dari jeruji besi, Gandhi menyaksikan situasi yang berbeda. Kekerasan dua kelompok
beragama di India berkobar lagi. Berpuasa selama tiga pekan pada musim gugur 1924, dia
mendesak terwujudnya persatuan. Sempat tak aktif di bidang politik pada 1920-an, Gandhi
kembali terjun ke dunia itu pada 1930. Dia memprotes Undang-undang Garam Inggris yang
melarang orang India mengumpulkan atau menjual garam. Pajak berat diberlakukan,
mendorong Gandhi kembali melancarkan gerakan Satyagraha. Pada 12 Maret 1930, Gandhi
berangkat bersama 79 orang pengikutnya menuju kota Dandi di pesisir Laut Arab. Nantinya,
Gandhi berencana untuk menentang Inggris dengan cara membuat garam dari air laut.
Sepanjang perjalanan sejauh 387 kilometer itu ternyata makin banyak rakyat India yang
mengikuti dia. Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Bunda Teresa, Abdikan Diri Bantu Kaum
Miskin "Ambisi saya tidak kurang adalah mengubah orang Inggris melalui non-kekerasan.
Dengan demikian membuat mereka melihat kesalahan yang mereka perbuat kepada India,"
tulisnya beberapa hari sebelum aksi protes yang dikenal sebagai Salt March. Gerakan itu
membuat 60.000 orang India dipenjara, termasuk Gandhi yang dipenjara pada Mei 1930.
Majalah Time saat bahkan menyebutnya sebagai "Man of The Year". Gandhi dibebaskan
pada Januari 1931. Dua bulan kemudian dia membuat kesepakatan untuk mengakhiri Salt
Satyahraha asal ribuan orang yang dipenjara segera dibebaskan. Jawaharlal Nehru pada 1942.
Jawaharlal Nehru pada 1942.(Wikipedia) Kemerdekaan India Gandhi menghadiri Konferensi
Meja Bundar London mengenai reformasi konstitusional India pada Agustus 1931. Dia
merupakan satu-satunya wakil dari Kongres Nasional India. Namun, konferensi itu terbukti
tidak membuahkan hasil. Dia kembali ke India dan dijebloskan ke penjara pada Januari 1932.
Setelah pembebasan akhirnya, Gandhi meninggalkan Kongres Nasional India pada 1934, dan
kepemimpinan diwariskan kepada anak didiknya Jawaharlal Nehru. Dia kembali menjauh
dari politik untuk fokus pada pendidikan, kemiskinan, dan masalah yang melanda daerah
pedesaan India. Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: John Pemberton, Penemu Minuman Coca-
Cola Gerakan nasionalis makin memuncak ketika Perang Dunia II pecah pada 1939. Gandhi
meluncurkan gerakan Quit India, yang menuntut "penarikan Inggris secara teratur" dari India.
Dia memberikan pidato yang meluncurkan gerakan pada 8 Agustus 1942. Namun, dia dikritik
karena penolakannya yang keras untuk mendukung Inggris dalam Perang Dunia II. Menurut
beberapa orang, tidaklah etis untuk tak mendukung Inggris dalam perjuangannya melawan
Nazi Jerman. Gerakan Quit India menjadi gerakan yang paling kuat dalam sejarah perjuangan
kemerdekaan India dan diyakini telah memainkan peran utama dalam mengamankan
kemerdekaan India pada 1947. Kekerasan antara dua kelompok agama berkobar, bahkan
sebelum kemerdekaan mulai berlaku pada 15 Agustus 1947. Insiden pembunuhan berlipat
ganda. Gandhi melakukan tur ke daerah-daerah yang dilanda kerusuhan dalam sebuah seruan
untuk perdamaian dan berpuasa dalam upaya untuk mengakhiri pertumpahan darah. Dia
menginginkan sebuah negara India bersatu tetapi Liga Muslim, yang sukses menumbuhkan
pengaruh selama masa perang, tak setuju dengan ide Gandhi. Setelah melalui negosiasi alot,
Inggris akhirnya memutuskan untuk membagi dua negara menjadi India dan Pakistan pada 15
Agustus 1947. Patung Mahatma Gandhi di Parliament Square, London, Inggris. Patung
Mahatma Gandhi di Parliament Square, London, Inggris.(Wicak Hidayat/KompasTekno)
Dibunuh Pada sore hari, 30 Januari 1948, Gandhi yang berusia 78 tahun makin lemah
kondisinya berpegang pada dua cucu perempuannya dari kediamannya di Birla House, New
Delhi, menuju acara pertemuan doa. Seorang ekstremis bernama Nathuram Godse yang kesal
dengan Gandhi, berlutut dihadapannya dan mengeluarkan pistol semiotomatis. Dia
menembak Gandhi dalam jarak sangat dekat sebanyak tiga kali. Godse dan rekan
konspiratornya, Narayan Apye, diadili dan dihukum mati pada 15 November 1949. Fakta
unik Gandhi Berikut beberapa fakta unik tentang Gandhi: Kendati telah tiada, Gandhi akan
selalu dikenang sebagai orang sederhana, yang membuat pakaiannya sendiri, vegetarian, dan
berpuasa untuk permurnian diri. Dia juga yakin berjalan merupakan olahraga terbaik. Dia
bahkan berjalan kaki 18 km setiap hari selama 40 tahun. Baca juga: Biografi Tokoh Dunia:
Ada Lovelace, Programmer Komputer Pertama Dunia Satyagraha tetap menjadi salah satu
filosofi yang paling kuat dalam perjuangan kebebasan di seluruh dunia. Inggris, negara yang
pernah dilawannya, bahkan merilis perangko dirinya pada 1969 untuk menghormatinya.
Pakaian yang dia kenakan pada insiden pembunuhan itu kini masih disimpan di Museum
Gandhi, Madurai. Bagi jutaan pendukungnya di India, Gandhi merupakan Mahatma yang
berarti Jiwa Agung.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
https://internasional.kompas.com/read/2018/10/02/17523241/biografi-tokoh-dunia-mahatma-
gandhi-sang-jiwa-agung-pecinta-damai?page=all.
Penulis : Veronika Yasinta
Editor : Veronika Yasinta