Anda di halaman 1dari 201

BAB 1

BILANGAN KOMPLEKS DAN BIDANG KOMPLEKS

1.1 BILANGAN KOMPLEKS DAN SIFATNYA


Tidak ada satu orang yang "menemukan" bilangan
kompleks, tetapi kontroversi seputar penggunaan angka ini ada di
abad keenam belas. Dalam upaya mereka untuk memecahkan
persamaan polinomial dengan rumus-rumus yang melibatkan akar,
awal berkecimpung dalam matematika dipaksa untuk mengakui
bahwa ada jenis-jenis angka selain bilangan bulat positif.

Persamaan seperti x 2+ 2 x +2=0 dan x 3=6 x +4 yang

menghasilkan “penyelesaian” 1+ √−1 dan

√3 2+ √−2+ √3 2−√−2 menimbulkan kekhawatiran tertentu dalam


komunitas sarjana matematika yang masih muda karena semua

orang tahu bahwa tidak ada angka seperti √−1 dan √ −2, angka
yang kuadratnya negatif. Seperti “angka” hanya ada dalam
imajinasi seseorang, atau seperti pendapat seorang filsuf, “Imajiner,
(anak) anak dari mistisme kompleks”. Seiring waktu “bilangan
imajiner” ini tidak hilang, terutama karena matematikawan sebagai
kelompok ulet dan beberapa bakhkan praktis. Seorang
matematikawan terkenal berpendapat bahwa meskipun “mereka ada
dalam imajinasi kita .... tidak ada yang menghalangi kita ... dan
mempekerjakan mereka dalam penghitungan.” Matematikawan juga
tidak suka membuang apapun. Lagipula, ingatan masih melekat
bahwa angka negatif pada awalnya dicap “fiktif”. Konsep angka
berevolusi selama berabad-abad; berangsur-angsur kumpulan angka
tumbuh dari hanya bilangan bulat positif untuk memasukkan
bilangan rasional, bilangan negatif, dan bilangan irasional. Namun
pada abad ke delapan belas konsep bilangan mengambil langkah
evolusi raksasa ke depan ketika ahli matematika Jerman Carl
Friedrich Gauss meletakkan apa yang disebut bilangan imajiner —
atau bilangan kompleks, seperti yang sekarang mulai disebut —
dengan pijakan yang logis dan konsisten dengan
memperlakukannya sebagai perpanjangan dari sistem bilangan real.
Tujuan kami di bagian pertama ini adalah untuk memeriksa
beberapa definisi dasar dan aritmatika bilangan kompleks.

1. Unit Imajiner
Bahkan setelah mendapatkan kehormatan yang luas, melalui
karya seminal Karl Friedrich Gauss dan ahli matematika Prancis
Augustin Louis Cauchy, nama yang disayangkan "imajiner" telah
bertahan selama berabad-abad. Simbol i pada awalnya digunakan
sebagai penyamaran untuk simbol yang memalukan √−1. Kami

sekarang mengatakan bahwa i adalah unit imajiner dan

mendefinisikannya dengan sifat i 2=−1. Menggunakan unit imajiner,


kami membangun bilangan kompleks umum dari dua bilangan real.

Definisi 1.1 Bilangan Kompleks


Bilangan kompleks adalah bilangan apa pun dari bentuk z=a+ ib di
mana a dan b adalah bilangan real dan i adalah unit imajiner.

2. Terminologi
Notasi a+ib dan a+ bi digunakan secara bergantian. Bilangan
real a dalam z=a+ ib disebut bagian real dari z ; bilangan real b
disebut bagian imajiner z . Bagian real dan imajiner bilangan kompleks

z disingkat ℜ( z) dan ℑ(z), misalnya. Jika z=4−9 i (Catatan:


Bagian imajiner z=4−9 i adalah −9 bukan −9 i), maka ℜ( z)=4
dan ℑ(z)=−9. Kelipatan konstan real dari unit imajiner disebut
angka imajiner murni. Misalnya, z=6 i adalah angka imajiner murni.
Dua bilangan kompleks adalah sama jika bagian real dan imajiner yang
sesuai sama. Karena konsep sederhana ini kadang-kadang berguna, kami
m pernyataan terakhir dalam definisi berikutnya.

Definisi 1.2 Persamaan


Bilangan kompleks z 1=a1 +i b1 dan z 2=a 2+i b2 adalah sama,
z 1=z 2, jika a 1=a2 dan b 1=b2.

Dalam hal simbol ℜ( z) dan ℑ(z), Definisi 1.2 merealkan bahwa


z 1=z 2 jika ℜ( z1 )=ℜ(z1 ) dan ℑ(z 1)=ℑ( z 2).
Totalitas bilangan kompleks atau himpunan bilangan kompleks
biasanya dilambangkan dengan simbol C. Karena bilangan real apa pun
dapat dituliskan sebagai z=a+ 0 i, kita melihat bahwa himpunan R dari
bilangan real adalah himpunan bagian dari C.

3. Operasi Aritmatika
Bilangan kompleks dapat ditambahkan, dikurangi, dikalikan, dan dibagi.

Jika z 1=a1 +i b1 dan z 2=a 2+i b2, operasi ini didefinisikan sebagai
berikut.
Penjumlahan :
z 1+ z2 =( a1 +i b1 ) + ( a2 +i b2 )=(a ¿ ¿1+ a2)+i(b ¿ ¿1+b 2)¿ ¿
Pengurangan:
z 1−z 2=( a 1+i b1 ) −( a2 +i b2 )=(a ¿ ¿ 1+a 2)−i(b ¿ ¿ 1+ b2 )¿ ¿

Perkalian:
z 1 . z 2=( a 1+i b1 ) ( a2 +i b2 )
¿ a1 a2−b1 b2 +i(b ¿ ¿ 1 a2 +a1 b2 )¿
Pembagian:
z1 a1 +i b1
= , a ≠ 0 , atau b 2 ≠ 0
z2 a2 +i b2 2
a1 a2−b 1 b 2 b1 a2−a1 b2
¿ 2 2
+i
a +b 2 2 a 22+ b22
Hukum komutatif, asosiatif, dan distributif yang sudah dikenal
berlaku untuk bilangan kompleks:

z1 + z 2=z 2 + z 1
Hukum komutatif :
{ z 1 z 2=z 2 z 1

z1 + ( z 2 + z 3 )=(z 1+ z 2 )+ z 3
Hukum asosiatif:
{ z 1 (z 2 z 3)=z1 (z 2 z 3 )

Hujum distributif: z 1 ( z 2 + z 3 )=z 1 z 2 + z 1 z 3

Mengingat hukum ini, tidak perlu menghafal definisi


penjumlahan, pengurangan, dan perkalian.
Penjumlahan, Pengurangan, Dan Perkalian
(i) Untuk menambah (mengurangi) dua bilangan kompleks, cukup
tambahkan (kurangi) bagian real dan imajiner yang sesuai.
(ii) Untuk mengalikan dua bilangan kompleks, gunakan hukum

distributif dan fakta bahwa i 2=−1.

Definisi pembagian perlu dielaborasi lebih lanjut, dan dengan


demikian kami akan membahas operasi itu secara lebih mendetail.

Contoh 1 Penjumlahan dan Perkalian


Jika z 1=2+4 i dan z 2=−3+ 8i , temukan (a) z 1+ z2dan (b) z 1 . z 2.

Penyelesaian (a) Dengan menambahkan bagian real dan imajiner,

jumlah dari dua bilangan kompleks z 1 dan z 2 adalah

z 1+ z2 =(2+ 4 i)+(−3+8 i)=(2−3)+(4 +8)i=−1+ 12i

(b) Dengan hukum distributif dan i 2=−1, hasil kali dari z 1 dan z 2
adalah
z 1 . z 2=( 2+4 i ) (−3+8 i )=( 2+ 4 i )(−3 )+ (2+ 4 i ) ( 8 ) i

¿−6−12i+16 i+23 i 2

¿ (−6−32 ) + ( 16−12 ) i

¿−38+4 i

4. Nol dan Kesatuan


Nol dalam sistem bilangan kompleks adalah angka 0+ 0i dan
satu adalah 1+0 i. Nol dan kesatuan ditandai oleh 0 dan 1, masing-
masing. Nol adalah identitas aditif dalam sistem bilangan kompleks
karena, untuk setiap kompleks angka z=a+ ib, kita memiliki z +0=z .
Untuk melihat ini, kita menggunakan definisi tambahan:

z +0= ( a+ib )+ ( 0+0 i )=a+ 0+i ( b+ 0 )=a+ib=z .

demikian pula, kesatuan adalah identitas multiplikasi dari sistem karena,

untuk bilangan kompleks apa pun, kita memiliki z .1=z .(1+0 i)=z .
Juga tidak perlu mengingat definisi pembagian, tetapi sebelum
membahas mengapa ini terjadi, kita perlu memperkenalkan konsep lain.

6. Konjugat (Sekawan)
Jika z adalah bilangan kompleks, bilangan yang diperoleh
dengan mengubah tanda bagian imajinernya disebut konjugat
kompleks (kompleks sekawan), atau hanya konjugat, dari z dan
dilambangkan dengan simbol ź . Dengan kata lain, jika z=a+ ib,
kemudian konjugat adalah ź=a−ib. Sebagai contoh, jika z=6+ 3i ,
maka ź=6−3 i; Jika z=−5 i , kemudian ź=−5+i . Jika z adalah
bilangan riil, katakanlah, z=7 , kemudian ź=7 . dari definisi
penjumlahan dan pengurangan bilangan kompleks, itu mudah
ditunjukkan bahwa konjugat jumlah dan perbedaan dua bilangan
kompleks adalah jumlah dan perbedaan dari konjugat:

z 1+´ z2 = ź1 + ź 2 , z 1−z


´ 2= ź 1− ź 2 . (1)

Selain itu, kami memiliki tiga sifat tambahan berikut:


´
z 1 ź 1
( )
z 1´. z 2= ź 1 ź 2 , = , ź=z .
z 2 ź 2
(2)

Tentu saja, konjugat dari jumlah (hasil) berhingga dari bilangan


kompleks adalah jumlah (hasil) dari konjugat.
Definisi penjumlahan dan perkalian menunjukkan bahwa
jumlah dan hasil kali dari bilangan kompleks z dengan konjugatnya ź
adalah bilangan real:

z +ź=( a+ib ) + ( a−ib )=2 a (3)

z ź= ( a+ib )( a−ib )=a2−i 2 b 2=a2 +b 2 (4)

Perbedaan bilangan kompleks z dengan konjugatnya ź adalah bilangan


imajiner murni :

z−ź=( a+ib )−( a−ib )=2ib (5)

Karena a=ℜ(z ) dan b=ℑ(z), (3) dan (5) menghasilkan dua rumus
yang berguna:

z+ ź z−ź
ℜ ( z )= dan ℑ ( z )= (6)
2 2

Namun, (4) adalah hubungan penting dalam diskusi ini karena


memungkinkan kita untuk mendekati pembagian secara praktis.

Pembagian
Untuk membagi z 1dengan z 2, kalikan pembilang dan penyebut dari
z 1 / z 2dengan konjugat z 2. Itu adalah,
z1 z 1 ź 1 z 1 ź 1
= . = (7)
z2 z 2 ź 2 z 2 ź 2
dan kemudian gunakan fakta bahwa z 2 ź 2 adalah jumlah kuadrat dari
bagian rill dan imajiner dari z 2

Prosedur yang diuraikan dalam (7) diilustrasikan dalam contoh berikut.

Contoh 2 Pembagian
Jika z 1=2−3 i dan z 2=4 +6 i, temukan z 1 / z 2.

Penyelesaian Kami mengalikan pembilang dan penyebut dengan

konjugat z 2=4−6i dari penyebut z 2=4 +6 i dan kemudian


menggunakan (4) :

z1 2−3 i 2−3 i 4−6 i 8−12 i−12i +18 i 2 −10−24 i


= = ∙ = =
z2 4+ 6i 4 +6 i 4−6 i 4 2+6 2 52
Karena kami ingin jawaban dalam bentuk a+ bi, kami menulis ulang
hasil terakhir dengan membagi bagian pembilang dan imajiner
pembilang −10−24 i dengan 52 dan menurunkan ke istilah terendah:
z1 −10 24 −5 6
= − i= − i
z2 52 52 26 13
7. Invers
Dalam sistem bilangan kompleks, setiap bilangan z memiliki
invers aditif unik. Seperti dalam sistem bilangan real, invers aditif
z=a+ ib adalah negatifnya, −z , di mana −z=−a−ib . Untuk setiap
kompleks angka z , kita memiliki z +(−z )=0 . Demikian pula, setiap
bilangan kompleks bukan nol z memiliki perkalian invers. Dalam
simbol, untuk z ≠ 0 ada satu dan hanya satu bilangan kompleks bukan
nol z−1 sehingga z z −1 = 1. Perkalian invers z−1 sama dengan
kebalikan 1/ z .

Contoh 3 Kebalikan
Temukan kebalikan dari z=2−3i .

Penyelesaian Menurut definisi pembagian yang kita peroleh

1 −1 1 2+3 i 2+3 i 2+3 i


= = ∙ = =
z 2−3i 2−3 i 2+3 i 4 +9 13
1 −1 2 3
Itu adalah, =z = + i
z 13 13
Jawabannya harus dalam bentuk a + ib

Anda harus mengambil beberapa detik untuk memeriksa perkalian

z z −1 =( 2−3 i ) ( 132 + 133 i)=1

1.2 BIDANG KOMPLEKS


Bilangan kompleks z=x +iy ditentukan secara unik oleh
pasangan bilangan real yang diurutkan ( x , y ). Entri pertama dan
kedua dari pasangan berurutan sesuai, pada gilirannya, dengan
bagian real dan imajiner dari bilangan kompleks. Contoh, pasangan

berurutan (2 ,−3)sesuai dengan bilangan kompleks z=2−3i .


Sebaliknya, z=2−3i menentukan pasangan berurutan (2 ,−3).
Angka7 , i, dan −5 iadalah masing-masing setara dengan
(7 , 0),(0 , 1) ,(0 ,−5). Dengan cara ini kita dapat mengaitkan
bilangan kompleks z=x +iy dengan sebuah titik ( x , y )dalam
suatu bidang koordinat.

1. Bidang Kompleks
Karena korespondensi antara bilangan kompleks z=x +iy dan
satu dan hanya satu titik ( x , y ) dalam bidang koordinat, kita akan
menggunakan istilah bilangan kompleks dan titik secara bergantian.
Bidang koordinat yang
diilustrasikan pada Gambar 1.1
disebut sebagai bidang kompleks
atau hanya bidang-z. Sumbu
horizontal atau x disebut sumbu
real karena setiap titik pada sumbu
tersebut mewakili bilangan real.
Sumbu vertikal atau y disebut

Gambar 1.1. Bidang-z sumbu imajiner karena titik pada


sumbu tersebut mewakili angka
imajiner murni.

2. Vektor
Dalam pelajaran lain Anda pasti telah melihat bahwa angka-
angka dalam pasangan bilangan real yang terurut dapat diartikan sebagai
komponen-komponen vektor.
Dengan demikian, bilangan
kompleks z=x +iy juga dapat
dilihat sebagai vektor posisi dua
dimensi, yaitu, vektor yang titik
awalnya adalah titik asal dan titik

terminal adalah titik ( x , y ). Lihat


Gambar 1.2. Penafsiran vektor ini
meminta kita untuk menentukan
panjang vektor z sebagai jarak

√ x 2+ y 2dari titik asal ke titik

( x , y ). Panjang ini diberi nama


khusus.

Definisi 1.3 Modulus


Modulus bilangan kompleks z = x + iy, adalah bilangan real

|z|=√ x 2 + y 2 (1)

Modulus |z|dari bilangan kompleks z juga disebut nilai mutlak z . Kita


harus menggunakan kata modulus dan nilai mutlak di seluruh teks ini.

Contoh 1 Modulus Bilangan Kompleks


Jika z=2−3i , maka dari (1) kita menemukan modulus bilangan
menjadi |z|= √22 +(−3)2=√ 13. Jika z=−9i , maka (1) memberikan
|−9i|=√ (−9)2=9.
3. Sifat
Ingat dari (4) Bagian 1.1 bahwa untuk bilangan kompleks apapun

z=x +iy yaitu hasil kali z ź adalah bilangan real; khusus, z ź adalah
jumlah kuadrat dari bagian real dan imajiner dari z : z ź=x 2+ y 2.
Pemeriksaan dari (1) kemudian menunjukkan ¿ z∨¿2 =x2 + y 2 ¿.
Hubungan

¿ z∨¿2 =z ź ¿ dan |z|=√ z ź (2)

harus diingat. Modulus bilangan kompleks z memiliki sifat tambahan.

z1 z1
|z 1 z 2|=|z 1||z 2| dan | || |
=
z2 z2
(3)

Perhatikan bahwa ketika z 1 ¿ z 2=z , sifat pertama dalam (3)


menunjukkan itu

|z 2|=¿ z∨¿2 ¿ (4)

Sifat |z 1 z 2|=|z 1||z 2|dapat dibuktikan menggunakan (2) dan dibiarkan


sebagai latihan.

4. Jarak Kembali
Penambahan bilangan kompleks z 1=x 1+i y 1 dan z 2=x 2+ i y 2
diberikan pada Bagian 1.1, ketika direalkan dalam berpasangan :

( x 1 , y 1 ) + ( x 2 , y2 ) =( x 1+ x2 , y 1+ y 2)
hanyalah definisi komponen dari penambahan vektor. Penafsiran vektor

dari penjumlahan z 1 + z 2 adalah vektor yang ditunjukkan pada Gambar


1.3 (a) sebagai diagonal utama dari jajaran genjang yang titik awalnya

adalah titik asal dan titik terminal adalah ( x 1 + x2 , y 1+ y 2 ). Perbedaan


z 1−z 2 dapat ditarik mulai dari titik terminal z 1 dan berakhir pada titik
terminal z 2, atau sebagai vektor posisi yang titik awalnya adalah titik

asal dan titik terminal adalah ( x 2−x 1 , y 2 − y 1 ). Lihat Gambar 1.3 (b).

a. Jumlah Vektorb. Selisih Vektor


Gambar 1.3 Jumlah dan Selisih Vektor

Dalam kasus z=z 2−z 1, ini mengikuti dari (1) dan Gambar 1.3 (b)
bahwa jarak antara dua titik z 1=x 1+i y 1 dan z 2=x 2+ i y 2pada
bidang kompleks sama dengan jarak antara asal dan titik

( x 2−x 1 , y 2 − y 1 ); itu adalah, |z|=|z 2−z 1|=( x 2−x 1 , y 2 − y 1 ) atau

|z 2−z 1|= √¿ ¿ (5)

Ketika z 1=0, kita melihat lagi bahwa modulus |z 2| mewakili jarak


antara titik asal dan titik z 2.

Contoh 2 Kumpulan Titik di Bidang Kompleks


Jelaskan himpunan titik z dalam bidang kompleks yang memenuhi
|z|=|z−i|.
Penyelesaian Kita dapat menafsirkan persamaan yang diberikan sebagai
persamaan jarak: Jarak dari titik z ke titik asal sama dengan jarak dari z
ke titik i . Secara geometris, tampaknya masuk akal dari Gambar 1.4
bahwa himpunan titik z terletak pada garis horizontal.

Gambar 1.4 Garis horizontal adalah himpunan


titik-titik yang memenuhi

Untuk menetapkan ini secara analitis, kita menggunakan (1) dan (5)

untuk menulis |z|=|z−i|sebagai:

√ x 2+ y 2 =√ x 2 +¿ ¿
x 2+ y 2=x 2+ ¿
x 2+ y 2=x 2+ y2 −2 y +1
1
Persamaan terakhir menghasilkan y= . Karena persamaan adalah
2

1
benar untuk sembarang x , y= adalah persamaan dari garis
2
horizontal yang ditunjukkan dalam warna pada Gambar 1.4. Bilangan
kompleks memenuhi |z|=|z−i| kemudian dapat ditulis sebagai

1
z=x + i.
2

5. Pertidaksamaan
Dalam Catatan di akhir bagian terakhir kami menunjukkan
bahwa tidak ada hubungan urutan dapat didefinisikan pada sistem

bilangan kompleks. Namun, karena|z| adalah bilangan real, kita dapat


membandingkan nilai mutlak dari dua bilangan kompleks. Misalnya,

jika z 1=3+ 4 idan z 2=5−i, maka |z 1|=√ 25=5 dan |z 2|√ 26 dan,

akibatnya, |z 1|<|z 2|.Dalam pandangan (1), interpretasi geometris dari


pertidaksamaan terakhir adalah sederhana: titik (3, 4) lebih dekat ke titik
asal daripada titik (5,−1).

Gambar 1.5 Segitiga dengan sisi vektor

Sekarang perhatikan segitiga yang diberikan pada Gambar 1.5

dengan simpul pada titik asal, z 1, dan z 1 + z 2. Kita tahu dari geometri
bahwa panjang sisi segitiga sesuai dengan vektor z 1 + z 2 tidak boleh
lebih panjang dari jumlah panjangnya dari dua sisi yang tersisa. Dalam
simbol kita dapat mengungkapkan pengamatan ini dengan
pertidaksamaan

|z 1 + z 2|≤|z 1|+|z 2| (6)

Hasil dalam (6) dikenal sebagai pertidaksamaan segitiga. Sekarang

dari identitas z 1=z 1+ z 2 +(−z 2), (6) memberikan

|z 1|=| z1 + z 2 +(−z 2 )|≤+| z1 + z 2|+|−z 2|

Karena |z 2|=|−z 2|.selesaikan hasil terakhir untuk |z 1 + z 2|


menghasilkan pertidaksamaan penting lainnya:

|z 1 + z 2|≥|z 1|−|z 2| (7)

Tetapi karena z 1+ z2 =z2 + z 1, (7) dapat ditulis dalam bentuk alternatif

|z 1 + z 2|=|z 2 + z 1|≥|z 2|−|z 1|=−(|z 1|−|z 2|)dan dikombinasikan

dengan hasil terakhir menyiratkan

|z 1 + z 2|≥||z 1|−| z2|| (8)

Ini juga mengikuti dari (6) dengan mengganti z 2 dengan −z 2 sehingga

|z 1 +(−z 2 )|≤|z 1|+¿. Hasil ini sama dengan


|z 1−z 2|≤|z 1|+|z 2| (9)

Dari (8) dengan z 2 digantikan oleh (−z ¿¿ 2)¿, kami juga menemukan

|z 1−z 2|≥|| z1|−|z 2|| (10)


Sebagai kesimpulan, kita mencatat bahwa pertidaksamaan segitiga (6)
meluas hingga jumlah terbatas dari bilangan kompleks:

|z 1 + z 2+ z 3 +…+ z n|≤|z 1|+|z 2|+|z 3|+ …+|z n| (11)


Pertidaksamaan (6) - (10) akan menjadi penting ketika kita bekerja
dengan integral dari fungsi variabel kompleks dalam Bab 5 dan 6.

Contoh 3 Batas Atas

−1
Temukan batas atas untuk
| 4
z −5 z +1 |
jika |z|=2.

Penyelesaian Dengan hasil kedua dalam (3), nilai mutlak dari hasil bagi

adalah hasil bagi dari nilai mutlak. Jadi dengan |−1|=¿1, kita ingin

menemukan bilangan real M positif sehingga

1
4
≤M
|z −5 z+1|
Untuk menyelesaikan tugas ini kita ingin penyebutnya sekecil mungkin.
Dengan (10) kita bisa menulis

|z 4 −5 z+1|=|z 4 −(5 z−1)|≥|| z 4|−|5 z +1|| (12)


Tetapi untuk membuat perbedaan dalam pernyataan terakhir dalam (12)

sekecil mungkin, kita ingin membuat |5 z +1| sebesar mungkin. Dari

(9), |5 z +1|≤|5 z|+|−1|=5|z|+1. Menggunakan |z|=2, (12)


menjadi

|z 4 −5 z+1|≥||z 4|−|5 z +1||≥||z 4|−(5|z|+1)|


¿∨¿

Maka untuk |z|=2yang kita miliki

1 1

|z −5 z+1| 5
4

1.3 BENTUK BILANGAN KOMPLEKS DARI POLAR


Ingat dari kalkulus bahwa titik P dalam bidang yang koordinat

persegi panjangnya ( x , y ) juga dapat dicari dalam istilah


koordinat polar. Sistem koordinat polar, dibuat oleh Isaac Newton,
terdiri dari titik O yang disebut polar dan setengah garis horizontal
yang berasal dari polar yang disebut sumbu polar. Jika r adalah
jarak yang diarahkan dari polar ke P dan θ adalah sudut kemiringan
(dalam radian) yang berubah dari sumbu polar ke garis OP, maka
titik tersebut dapat diakses oleh pasangan berurutan (r, θ), yang
disebut dengan polar P. Lihat Gambar 1.6.

Gambar 1.6 Koordinat Polar


1. Bentuk Polar
Misalkan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.7, bahwa
sistem koordinat polar ditumpangkan pada bidang kompleks dengan
sumbu polar bertepatan dengan sumbu x positif dan polar O pada titik
asalnya.
Kemudian x , y ,r dan θ
dihubungkan oleh

x=r cos θ , y=r sin θ . Persamaan


ini memungkinkan kita untuk
mengmerealkankan bilangan
kompleks bukan nol z=x +iy
Gambar 1.7 Koordinat Polar di sebagai z=(r cos θ)i (r sin θ) atau
bidang kompleks
z=r ( cosθ +isin θ ) (1)

Kita mengatakan bahwa (1) adalah bentuk polar atau representasi


polar dari bilangan kompleks z. Dari Gambar 1.7 kita melihat bahwa

koordinat r dapat diartikan sebagai jarak dari titik asal ke titik ( x , y ).Di

sisi lain, kita akan mengadopsi konvensi bahwa r tidak pernah negatif,
sehingga kita dapat mengambil r menjadi modulus dari z , yaitu,
r =¿ z∨¿. Sudut θ kemiringan vektor z , yang akan selalu diukur
dalam radian dari sumbu real positif, positif ketika diukur berlawanan
arah jarum jam dan negatif ketika diukur searah jarum jam. sudut θ
disebut argumen z dan dilambangkan dengan θ=arg(z). Argumen θ
dari bilangan kompleks harus memenuhi persamaan cos θ=x /r dan
sin θ= y /r . Argumen bilangan kompleks z tidak unik karena cos θ
dan sin θ adalah 2 π −¿periodik; dengan kata lain, jika θ0 adalah
argumen dari z , maka tentu sudut θ0 ± 2 π ,θ 0 ± 4 π ,. . . juga argumen
dari z . Pada prakteknya kita menggunakan tanθ= y / x untuk
menemukan θ . Namun, karena tanθ adalah π-periodik, beberapa
kehati-hatian harus dilakukan dalam menggunakan persamaan terakhir.
Kalkulator hanya akan memberikan sudut yang memenuhi

−π /2< tan−1 ( y / x)< π /2, yaitu sudut di kuadran pertama dan


keempat. Kita harus memilih θ konsisten dengan kuadran tempat z
berada; ini mungkin memerlukan penambahan atau pengurangan π

hingga tan−1 ( y / x) bila perlu. Contoh berikut menggambarkan


bagaimana hal ini dilakukan.

Contoh 1 Bilangan Kompleks dalam Bentuk polar


Realkan − √ 3 dalam bentuk polar

Penyelesaian Dengan x=− √3 dan y=−1 kita memperoleh


r =¿ z∨¿ √¿ ¿ . Sekarang y / x=−1/(−√ 3)=1/ √ 3 , dan kalkulator

memberikan tan−1 ( √13 )=π /6 , yang merupakan sudut yang sisi

terminalnya berada di kuadran pertama. Tetapi karena titik (−√ 3 ,−1)


terletak di kuadran ketiga, kami mengambil penyelesaian

tanθ=−1/(−√3)=1/√ 3 menjadi θ=arg( z)=π /6+ π=7 π /6.


Lihat Gambar 1.8. Ini mengikuti dari (1) bahwa bentuk polar nomor
tersebut
7π 7π
z=2( cos + isin ) (2)
6 6

Gambar 1.8 arg

2. Argumen Pokok
Simbol arg(z ) sebenarnya mewakili sekumpulan nilai, tetapi
argumen θ dari bilangan kompleks yang terletak pada interval
−π <θ ≤ π disebut nilai utama arg( z ) atau argument utama z.
Argumen utama z adalah unik dan diwakili oleh simbol Arg ¿), yaitu,

−π < Arg(z )≤ π

Sebagai contoh, jika z=i , kita melihat pada Gambar 1.9 bahwa
beberapa nilai arg(i) adalah π /2 ,5 π /2 ,−3 π /2, dan seterusnya,
tetapi Arg(i)=π /2. Jika , kita melihat dari Gambar 1.10 bahwa
argumen −√ 3−i yang terletak pada interval (−π , π ),argumen utama

z, adalah Arg( z )=π /6−π =−5 π /6. Menggunakan Arg( z ) kita


dapat mengmerealkankan bilangan kompleks di (2) dalam bentuk polar
alternatif:

5π −5 π
[ ( ) ( )]
z=2 cos
6
+i sin ⁡
6

Gambar 1.9 Beberapa argumen Gambar 1.10 Argumen utama


dari

Secara umum, arg( z ) dan Arg( z ) dihubungkan oleh

arg ( z )= Arg ( z )+ 2nπ , n=0 , ±1 , ±2 , … (3)

π
Sebagai contoh, arg(i)= +2 nπ . Untuk pilihan n=0 dan n=−1,
2
(3) masing-masing memberikan arg(i)= Arg(i)=π /2 dan

arg(i)=−3 π /2.

3. Perkalian dan Pembagian


Bentuk polar dari bilangan kompleks sangat mudah ketika
mengalikan atau membagi dua bilangan kompleks. Misalkan

z 1=r 1 (cos θ 1+i sin θ1) dan z 2=r 2 ( cos θ2 +i sinθ 2 ) ,


di mana θ1 dan θ2 adalah argumen masing-masing dari z 1 dan z 2.
Kemudian

z 1 z 2=r 1 r 2 [ cos θ1 cos θ2−sin θ1 sin θ2 + ⁡θ1 cos θ2 +cos θ 1 sin θ2 ¿ ]


(4)

dan, untuk z 2 ≠ 0,

z1 r 1
= [ cos θ 1 cos θ 2+sin θ1 sin θ2 +i(sin θ1 cos θ2−cos θ 1 sin θ2 ) ]
z2 r 2
(5)
Dari rumus tambahan untuk cosinus dan sinus, (4) dan (5) dapat ditulis
ulang sebagai

z 1 z 2=r 1 r 2 [ cos ( θ1 +θ2 ) +isin (θ1 +θ2) ] (6)

z1 r 1
Dan = ¿ (7)
z2 r 2

Pemeriksaan pernyataan dalam (6) dan (7) dan Gambar 1.11

menunjukkan bahwa panjang kedua vektor z 1 z 2 dan z 1 / z 2adalah


masing-masing hasil kali dari panjang z 1dan z 2 dan hasil bagi dari
panjang z 1dan z 2. Lihat (3) Bagian 1.2. Selain itu, argumen z 1 z 2 dan
z 1 / z 2 diberikan oleh
arg ⁡( z ¿ ¿ 1 z 2)=arg ⁡(z ¿¿1)+arg ⁡( z ¿¿ 2)¿ ¿ ¿ dan

z1
arg ( )
z2
=arg ⁡(z¿ ¿1)−arg ⁡(z ¿¿ 2)¿ ¿ (8)
Gambar 1.11

Contoh 2 Argumen Hasil kali dan Hasil bagi


Kita baru saja melihat bahwa untuk z 1=i dan z 2=−√ 3−i yang
masing-masing Arg( z 1 )π /2 dan Arg( z 2 )=−5 π /6. Jadi argumen
untuk hasil kali dan hasil bagi

z 1 z 2=i (−√ 3−i )=1−√ 3 i dan

z1 i −1 √ 3
= = − i
z2 −√ 3−i 4 4
dapat diperoleh dari (8):
π −5 π −π
arg ⁡( z ¿ ¿ 1 z 2)= +
2 (
6
=
3
¿ ) dan

z 1 π −5 π −4 π
arg ( ) ( )
= −
z2 2 6
=
3
.

4. Pangkat Bilangan Bulat dari z


Kita dapat menemukan pangkat bilangan bulat dari bilangan
kompleks z dari hasil dalam (6) dan (7). Misalnya, jika

z=r ( cosθ+i sin θ), maka dengan z 1=z 2=z , (6) memberikan
z 2=r 2 [ cos ( θ+θ ) +isin ( θ+θ ) ] =r 2 (cos 2 θ+isin 2 θ)
Karena z 3=z 2 z , maka akan mengikuti

z 3=r 3 (cos 3θ+ isin3 θ),

dan seterusnya. Selain itu, jika kita menggunakan arg(1)=0 , maka (7)
merealkan

1
2
=z−2=r−2 ¿
z

Melanjutkan dengan cara ini, kami memperoleh formula untuk pangkat

n dari z untuk bilangan bulat apa pun n :

z n=r n (cos nθ+i sin nθ), (9)

Ketika n=0, kami mendapatkan hasil yang familier z 0=1.

Contoh 3 Pangkat Bilangan Kompleks


Hitung z 3 untuk z=− √3−i.

Penyelesaian Dalam (2) dari Contoh 1 kita melihat bahwa bentuk polar

7π 7π
dari angka yang diberikan adalah
[
z=2 cos ⁡(
6
)+ isin ⁡( ) .
6 ]
Menggunakan (9) dengan r =2 ,θ=7 π /6, dan n=3 kita dapatkan
7π 7π
3
| ( ) ( )|
(−√ 3−i ) =23 cos 3
6
+isin 3
6

7π 7π
| ( ) ( )|
¿ 8 cos
2
+ isin
2
=−8 i

karena cos ⁡(7 π / 6)=0 dan sin ⁡(7 π /6)=−1

Catatan dalam Contoh 3, jika kita juga menginginkan nilai z−3, maka
kita dapat melanjutkan dengan dua cara: menemukan kebalikan dari

z 3=−8 i atau menggunakan (9) dengan n=−3.

5. Rumus de Moivre
Ketika z=cos θ +i sinθ, kita memiliki |z|=r=1, dan begitu (9)
menghasilkan
¿ (10)
Hasil terakhir ini dikenal sebagai rumus de Moivre dan berguna dalam
menurunkan identitas trigonometri tertentu yang melibatkan cos nθ dan
sin nθ .

Contoh 4 Formula de Moivre


Dari (10), dengan θ=π /6, cos θ= √ 3/ 2 dan s¿ θ=1/2:
2
√ 3 + 1 i =cos 3 θ+i sin3 θ=cos 3 π +i sin 3 π
(2 2) ( 6) ( 6)
π π
¿ cos +i sin =i
2 2

.4 PANGKAT DAN AKAR


Ingat dari aljabar bahwa –2 dan 2 dikatakan akar kuadrat dari

angka 4 karena (−2)2=4 dan (2)2=4 . Dengan kata lain, dua


akar kuadrat dari 4 adalah penyelesaian berbeda dari persamaan

w 2=4 . Seperti yang kita katakan w=3 adalah akar pangkat tiga
dari 27 karena w 3=33 =27. Persamaan terakhir ini mengarahkan
kita lagi ke arah variabel kompleks karena bilangan real mana pun
hanya memiliki satu akar pangkat tiga dan dua akar kompleks.
Secara umum, kita mengatakan bahwa bilangan w adalah akar ke-
n dari bilangan kompleks z bukan nol jika w n=z , di mana n
adalah bilangan bulat positif. Misalnya, Anda diminta untuk

1 1 −1 1
memeriksa bahwa w 1= √ 2+ √ 2 idan w 2= √ 2− √ 2i
2 2 2 2
adalah dua akar kuadrat dari bilangan kompleks z=i karena w 21=i
2
dan w 2=i.
Kita sekarang akan menunjukkan bahwa ada n penyelesaian

persamaan w n=z .

1. Akar
Misalkan z=r (cos θ+i sinθ) dan w=ρ(cosφ+isin φ)
adalah bentuk polar dari bilangan kompleks z dan w. Kemudian,

mengingat (9) Bagian 1.3, persamaan w n=z menjadi

ρ2 ( cos nφ+i sin nφ )=r (cos nθ+i sin nθ) (1)

Dari (1), kita dapat menyimpulkan yaitu


ρn =r (2)

dan cos nφ+ isin nφ=cos nθ+i sin nθ (3)

Dari (2), kita mendefinisikan ρ=√n r untuk menjadi akar unik


positif ke-n dari bilangan real positif r . Dari (3), definisi persamaan dua
bilangan kompleks menyiratkan bahwa

cos nφ=cos nθ dan sin nφ=sin nθ

Kesamaan ini, pada gilirannya, menunjukkan bahwa argumen θ dan φ


terkait dengan nφ=θ+2 kπ , di mana k adalah bilangan bulat. Jadi,

θ +2 kπ
φ=
n
Saat k mengambil nilai integer berturut-turut k =0 , 1 ,2 , .. . , n−1 kita
memperoleh n akar z yang berbeda dari z; akar-akar ini memiliki
modulus yang sama tetapi argumen yang berbeda. Perhatikan bahwa
untuk k ≥ n kita memperoleh akar yang sama karena sinus dan cosinus
adalah 2π periodik. Untuk melihat mengapa demikian,

misalkan k=n+m, di mana m=0 ,1 , 2, … . Kemudian

θ +2(n+m) π θ+2 mπ
φ= = +2 π
n n

θ +2 mπ θ+2 mπ
dan sin φ= , cos φ=
n n

Kita merangkum hasil ini. Akar ke-n dari bilangan kompleks

bukan nol z=r ( cos θ+isin θ)diberikan oleh


θ+2 mπ θ+2 mπ
[ (
w k =√n r cos
n )
+i sin (
n
(4) )]
di mana k =0 , 1 ,2 , .. . , n−1.

Contoh 1 Akar Pangkat Tiga dari Bilangan Kompleks


Temukan tiga akar pangkat tiga dari z=i .

Penyelesaian Ingatlah bahwa kita pada dasarnya memecahkan

persamaan w 3=i. Sekarang dengan r =1, θ=arg(i)=π /2, bentuk


polar dari angka yang diberikan oleh z=cos ( π /2)+i sin(π / 2). Dari
(4), dengan n=3, kita dapatkan

[
w k =√3 1 cos ( π /2+23 kπ )+i sin ( π /2+23 kπ )] , k =0 , 1, 2.

Karena itu tiga akar adalah,

π π 3 1
k =0 , w 0=cos +i sin = √ + i
6 6 2 2

5π 5 π −√3 1
k =1 , w1=cos +i sin = + i
6 6 2 2
3π 3π
k =2 , w2=cos +i sin =−i
2 2

2. Akar Ke-n Utama


Sebelumnya kami menunjukkan bahwa simbol arg( z ) benar-
benar mewakili seperangkat argumen untuk bilangan kompleks z.
Direalkan dengan cara lain, untuk bilangan kompleks yang diberikan

z ≠ 0 , arg( z )bernilai tak terbatas. Dengan cara yang sama, z 1/ n


bernilai n; yaitu, simbol z 1/ n mewakili himpunan akar ke-n w k dari z .
Akar unik dari bilangan kompleks z (diperoleh dengan menggunakan

nilai pokok arg(z )dengan k =0) secara alami disebut sebagai akar ke-

n utama w . Dalam Contoh 1, karena Arg(i)=π /2, kita melihat

3 1
bahwa w 0= √ + i adalah akar pangkat tiga utama darii. Pilihan
2 2
Arg( z ) dan k =0 menjamin kita bahwa ketika z adalah bilangan real
n
positif, akar ke-n utama adalah √ r.
Karena akar yang diberikan oleh (4) memiliki modulus yang
sama, akar ke-n dari bilangan kompleks bukan nol z terletak pada
lingkaran jari-jari √n r yang berpusat pada titik asal pada bidang
kompleks. Terlebih lagi, karena perbedaan antara argumen dari setiap

dua akar berurutan w k dan w k+1 adalah 2 π /n, akar ke-n dari z berjarak
sama pada lingkaran ini, dimulai dengan akar yang argumennya adalah

θ/n . Gambar 1.12 menunjukkan tiga akar pangkat tiga dari iyang
diperoleh pada Contoh 1 yang ditempatkan pada interval sudut yang
sama 2 π /3 pada keliling lingkaran satuan yang dimulai dengan akar
w 0 yang argumennya adalah π /6.
Gambar 1.12 Tiga akar pangkat tiga dari

Seperti contoh berikut ini menunjukkan, akar bilangan kompleks


tidak harus berupa bilangan “bagus” seperti pada Contoh 1.

Contoh 2 Akar Keempat dari Bilangan Kompleks


Temukan keempat akar z=1+i .

Penyelesaian Dalam hal ini, r= √ 2 dan θ=arg(z)=π / 4 . Dari (4)


dengan n=4 , kita memperoleh

[
w k =√4 2 cos ( π / 4+24 kπ )+ isin ( π /4 +24 kπ )] , k =0 , 1, 2 , 3.
Dengan bantuan kalkulator kita temukan

π π
[
k =0 , w 0=√4 2 cos
16
+i sin
16 ]
≈ 1,1664+0,2320 i

9π 9π
√ [
k =1 , w1= 4 2 cos +i sin ]
≈−0,2320+1,1664 i
16 16
17 π 17 π
√ [
k =2 , w2= 4 2 cos +i sin ]
≈−1,1664−0,2320 i
16 16
25 π 25 π
√ [
k =3 , w3 = 4 2 cos +i sin ]
≈ 0,2320−1,1664 i
16 16
Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.13, keempat akar terletak pada
4
lingkaran yang berpusat pada asal jari-jari r =√ 2 ≈ 1.19 dan
ditempatkan pada interval sudut yang sama dari 2 π /4=π /2radian,
dimulai dengan akar yang argumennya adalah π /16.

Gambar 1.13 Empat akar pangkat tiga dari

.5 HIMPUNAN TITIK PADA BIDANG KOMPLEKS


Pada bagian sebelumnya kami memeriksa beberapa dasar
aljabar dan geometri bilangan kompleks. Tapi kami baru saja
menyentuh permukaan subjek yang dikenal sebagai analisis
kompleks. Tujuan kami dalam bab-bab berikutnya adalah untuk
menguji fungsi dari variabel kompleks tunggal z=x +iy dan
kalkulus fungsi-fungsi ini.
Sebelum memperkenalkan gagasan fungsi dalam Bab 2, kita
perlu merealkan beberapa definisi penting dan istilah tentang
himpunan di bidang kompleks.
1. Lingkaran
Misalkan z 0=x 0 +i y 0 . Karena ¿ z−z 0∨¿

√(x−x ¿¿ 0)+¿ ¿ ¿ adalah jarak antara titik z=x +iy dan


z 0=x 0 +i y 0 , titik z=x +iy yang memenuhi persamaan

¿ z−z 0∨¿ ρ , ρ>0 (1)

terletak di lingkaran jari-jari ρ yang berpusat pada titik z 0. Lihat


Gambar 1.14

Gambar 1.14 Lingkaran jari-jari

Contoh 1 Dua lingkaran


(a) ¿ z∨¿ 1 adalah persamaan lingkaran satuan yang berpusat pada titik
asal.
(b) Dengan menulis ulang |z−1+3 i|=5 sebagai ¿ z−(1−3 i)∨¿5 ,
kita melihat dari (1) bahwa persamaan tersebut menggambarkan

lingkaran dengan jari-jari 5 yang berpusat pada titik z 0=1−3i .

2. Cakram(Lingkaran) dan Persekitaran


Titik z yang memenuhi pertidaksamaan ¿ z−z 0∨≤ ρ dapat
berupa lingkaran ¿ z−z 0∨¿ ρ atau di dalam lingkaran. Kami
mengatakan bahwa himpunan titik didefinisikan oleh ¿ z−z 0∨≤ ρ
adalah cakram dengan jari-jari ρ yang berpusat di z 0. Tetapi titik z
yang memenuhi pertidaksamaan yang ketat ¿ z−z 0∨¿ ρ terletak di
dalam, dan bukan di dalam, lingkaran jari-jari ρ yang berpusat pada titik
z 0. Himpunan ini disebut Persekitaran z 0. Biasanya, kita perlu
menggunakan persekitaran z 0 yang juga tidak termasuk z 0. Seperti
persekitaran yang didefinisikan oleh pertidaksamaan simultan

0< ¿ z−z 0 ∨¿ ρ dan disebut deleted neighborhood dari z 0 atau tanpa


pusat dari z 0. Misalnya, ¿ z∨¿ 1 mendefinisikan persekitaran asal,
sedangkan 0< ¿ z∨¿1 mendefinisikan persekitaran asal tanpa pusat;
¿ z−3+ 4 i∨¿ 0,01 mendefinisikan persekitaran 3−4 i , sedangkan
pertidaksamaan 0< ¿ z−3+4 i∨¿ 0,01 mendefinisikan persekitaran
yang terbuka tanpa pusat dari 3−4 i .

3. Himpunan Terbuka
Suatu titik z 0 dikatakan sebagai titik
interior dari himpunan S dari bidang kompleks

jika terdapat beberapa persekitaran z 0 yang


seluruhnya terletak di dalam S. Jika setiap titik
z dari himpunan S adalah titik interior, maka S
dikatakan sebagai satu himpunan terbuka. Lihat

Gambar 1.15 Gambar 1.15. Sebagai contoh, pertidaksamaan


Himpunan terbuka
ℜ( z)>1 mendefinisikan setengah bidang
kanan, yang merupakan himpunan terbuka.
Semua bilangan kompleks z=x +iy dengan
x >1 berada di himpunan ini. Jika kita memilih,
misalnya, z 0=1.1+2 i, maka persekitaran z 0
yang terletak sepenuhnya di himpunan yang
ditentukan

Gambar 1.16 Set terbuka dengan Gambar 1.17 Set S tidak


tampilan titik dekat x = 1 yang diperbesar terbuka

¿ z−(1.1+ 2i)∨¿ 0,05. Lihat Gambar 1.16. Di sisi lain, himpunan S


dari titik dalam bidang kompleks yang didefinisikan oleh ℜ ( z ) ≥ 1 tidak
terbuka karena setiap persekitaran dari titik yang terletak pada
garis x=1 harus mengandung titik dalam S dan titik tidak dalam S.
Lihat Gambar 1.17.

Contoh 2 Beberapa Himpunan Terbuka


Gambar 1.19 menggambarkan beberapa himpunan tambahan terbuka.

(a) ; setengah bidang lebih rendah (b) ; strip vertikal tak terbatas
(c) ; bagian luar lingkaran satuan (d) ; interior cincin melingkar

Gambar 1.18 Empat contoh set terbuka

Jika setiap persekitaran dari suatu titik z 0 dari himpunan S berisi


setidaknya satu titik S dan setidaknya satu titik tidak dalam S, maka z0
dikatakan sebagai titik batas S. Untuk himpunan titik yang ditentukan

oleh ℜ( z) ≥1, titik-titik pada garis vertikal x=1 adalah titik batas.
Titik-titik yang terletak pada lingkaran ¿ z−i∨¿ 2 adalah titik batas
untuk cakram ¿ z−i∨≤ 2juga untuk persekitaran ¿ z−i∨2 dari z=i .
Pengumpulan titik batas himpunan S disebut batas S. Lingkaran

¿ z−i∨¿ 2 adalah batas untuk kedua cakram ¿ z−i∨≤ 2 dan


persekitaran |z−i|<2dari z=i. Titik z yang bukan merupakan titik
interior maupun titik batas dari himpunan S dikatakan sebagai titik

eksterior S; dengan kata lain, z 0 adalah titik eksterior dari himpunan S


jika ada beberapa persekitaran z 0yang tidak mengandung titik-titik S.
Gambar 1.19 menunjukkan himpunan S khas dengan interior, batas, dan
eksterior.
Himpunan terbuka S dapat sesederhana bidang kompleks dengan

satu titik z 0 dihapus. Batas dari "bidang tertusuk" ini adalah z 0, dan
Gambar 1.19 Interior, batas, dan eksterior himpunan S
satu-satunya kandidat untuk titik eksterior adalah z 0. Namun, S tidak
memiliki titik eksterior karena tidak ada persekitaran z 0 dapat bebas dari
bidang titik.

4. Annulus
Himpunan titik S1 yang memenuhi pertidaksamaan

ρ1 <¿ z−z 0∨¿ terletak di luar lingkaran jari-jari ρ1 yang berpusat di


z 0, sedangkan himpunan S2 poin yang memenuhi ¿ z−z 0∨¿ ρ2
letakkan interior ke lingkaran jari-jari ρ2 yang berpusat di z 0. Jadi, jika
0< ρ1< ρ2, himpunan titik yang memenuhi pertidaksamaan simultan

ρ1 <¿ z−z 0∨¿ ρ2

adalah persimpangan himpunan S1 dan S2. Persimpangan ini adalah


cincin lingkaran terbuka yang berpusat pada z 0. Gambar 1.18 (d)
menggambarkan cincin yang berpusat pada titik asal. Himpunan yang
ditentukan oleh (2) disebut annulus lingkaran terbuka. Dengan
mengizinkan ρ1=0, kami mendapatkan persekitaran yang dihapus dari
z 0.

5. Domain
Jika ada pasangan titik z 1 dan z 2 dalam himpunan S dapat
dihubungkan dengan garis poligon yang terdiri dari sejumlah terbatas
segmen garis yang dihubungkan ujung ke ujung yang seluruhnya
terletak di himpunan, maka himpunan S dikatakan terhubung. Lihat
Gambar 1.20. Himpunan terhubung terbuka disebut domain. Setiap
himpunan terbuka pada Gambar 1.18 terhubung dan begitu juga domain.

Himpunan angka z yang memenuhi ℜ( z)≠ 4 adalah himpunan terbuka


tetapi tidak terhubung karena tidak mungkin untuk menggabungkan titik
di kedua sisi garis vertikal x=4 oleh garis poligonal tanpa
meninggalkan himpunan (ingatlah bahwa titik-titik pada baris x=4
tidak ada dalam himpunan). Persekitaran dari titik z 0 adalah himpunan
yang terhubung.

Gambar 1.20 Himpunan terhubung

6. Daerah
Suatu wilayah adalah sekumpulan titik pada bidang kompleks
dengan semua, beberapa, atau tidak ada titik batasnya. Karena suatu
himpunan terbuka tidak mengandung titik batas apa pun, maka ia secara
otomatis merupakan wilayah. Wilayah yang berisi semua titik batasnya

dikatakan ditutup. Cakram didefinisikan oleh¿ z−z 0∨≤ ρ adalah


contoh wilayah tertutup dan disebut sebagai cakram tertutup.

Persekitaran dari titik z 0 yang didefinisikan oleh ¿ z−z 0∨¿ ρ adalah


himpunan terbuka atau wilayah terbuka dan dikatakan sebagai cakram

terbuka. Jika pusat z 0 dihapus dari cakram tertutup atau cakram


terbuka, wilayah ditentukan oleh 0< ¿ z−z 0 ∨≤ ρ atau

0< ¿ z−z 0 ∨¿ ρdisebut cakran yang tertusuk. Cakram terbuka yang


tertusuk sama dengan persekitaran z 0. A yang dihapus tidak bisa
terbuka maupun tertutup; wilayah annular ditentukan oleh
pertidaksamaan 1 ≤∨z−5∨¿ 3hanya berisi beberapa titik batasnya
(titik-titik yang terletak pada lingkaran |z−5|=1), dan karena itu tidak
terbuka atau tertutup. Dalam (2) kami mendefinisikan wilayah
melingkar berbentuk lingkaran; dalam interpretasi yang lebih umum,
sebuah annulus atau daerah annular mungkin memiliki penampilan
yang ditunjukkan pada Gambar 1.21.

Gambar 1.21 Wilayah annular


7. Himpunan terikat
Akhirnya, kita mengatakan bahwa himpunan S di bidang
kompleks dibatasi jika ada bilangan real R> 0 sehingga¿ z∨¿ R
setiap z dalam S. Yaitu, S terikat jika dapat sepenuhnya tertutup dalam
beberapa persekitaran asal. Pada Gambar 1.22, himpunan S yang
ditunjukkan dalam warna dibatasi karena terkandung seluruhnya dalam
persekitaran melingkar putus-putus dari asalnya. Suatu himpunan tidak
terikat jika tidak dibatasi. Misalnya, himpunan pada Gambar 1.18 (d)
dibatasi, sedangkan himpunan pada Gambar 1.18 (a), 1.18 (b), dan 1.18
(c) tidak terikat.

Gambar 1.22 Himpunan S dibatasi karena beberapa


persekitaran asal mencakup S seluruhnya.

LATIHAN 1

Untuk soal no 1-10, jawablah dengan “benar” atau “salah”. Jika


pernyataan tersebut “benar” berilah penjelasan, jika “salah” tunjukkan
contoh penyangkalnya.

1. i<10 i
2. ℜ ( z 1 z 2 ) =ℜ ( z 1) ℜ(z 2)
3. ℑ ( 4+7 i )=7 i
1
4. Jika ℑ ( z ) >0 , maka ℜ() z
>0

5. |x +iy|≤|x|+| y|
1
6. arg( ź )=arg ⁡( )
z
7. Jika ź=−z , maka z adalah imajiner murni.
8. Bentuk polar dari −2−2 √ 3 iadalah…
2
9. Bentuk eksponensial untuk adalah…
1+ 1
10. Persamaan z n=1, n adalah suatu bilangan bulat positif hanya
memiliki solusi riil untuk n = 1 dan n= 2.
−π π
11. Sektor yang didefinisikan dengan < arg ⁡(z)≤ tidak
6 6
terbuka maupun tertutup.
12. Titik batas pada suatu himpunan S adalah suatu titik di S.

Untuk soal no 11 – 20, jawablah dengan isian singkat!

3−i 2−2 i
13. Jika ( a+ib )= + maka nilai a dan b adalah…
2+3 i 1−5 i
4i
14. Jika z= , maka |z|=…
−3−4 i
15. Jika |z|=ℜ(z ), maka z=…
16. Arg( ( 1+i )5 )=…
17. Im ( ( 1+i )7 ) =…
483
1 3
18. ( + √ i) =…
2 2
19. i −5 i9 +21−1=…
127

20. Daerah pada bidang kompleks dengan ℜ ( z ) < ℑ(z) adalah…


Untuk soal no 21-25, jawablah serta berikan penjelasan yang tepat.

21. Apa yang dapat dikatakan tentang bilangn kompleks z jika


z=ź ? Jika ¿?
22. Untuk sebarang dua bilangan kompleks z 1 dan z 2, tunjukkan
2 2
bahwa |z 1 + z 2| +| z1− z2| =2 (|z 1|2+|z 2|2)!
23. Gunakanlah hukum de’Moivre dengan n = 2 untuk menemukan
identitas trigonometri untuk sin 2 θ dan cos 2θ !
24. Tentukanlah semua selesaian untuk persamaan z 4 +1=0!
25. Dengan menggunakan konsep jarak, deskripsikan himpunan
titik-titik z pada bidang kompleks yang memenuhi
|z−i|+|z +i|=1!
BAB 2
FUNGSI DAN PEMETAAN KOMPLEKS

.1 FUNGSI KOMPLEKS
Salah satu konsep terpenting dalam matematika adalah
fungsi. Anda dapat mengingat dari pelajaran sebelumnya bahwa
suatu fungsi adalah semacam korespondensi antara dua himpunan;
lebih spesifik:
Fungsi f dari himpunan A ke himpunan B adalah aturan
korespondensi yang menetapkan masing-masing elemen dalam A
satu dan hanya satu elemen dalam B.
Kita sering menganggap fungsi sebagai aturan atau mesin
yang menerima input dari himpunan A dan mengembalikan output
dalam himpunan B. Dalam kalkulus dasar kita mempelajari fungsi
yang input dan outputnya adalah bilangan real. Fungsi tersebut
disebut fungsi bernilai riil dari variabel real. Pada bagian ini kita
akan mulai mempelajari fungsi-fungsi yang input dan outputnya
adalah bilangan kompleks. Secara alami, kita menyebut fungsi ini
fungsi kompleks dari variabel kompleks, atau fungsi kompleks
singkatnya. Seperti yang akan kita lihat, banyak fungsi kompleks
yang menarik dan berguna hanyalah penyederhanaan fungsi
terkenal dari kalkulus.
1. Fungsi
Misalkan f adalah fungsi dari himpunan A ke himpunan B. Jika
f menetapkan elemen a di A, elemen b di B, maka kita mengatakan
bahwab adalah gambar dari a di bawah f , atau nilai f pada a , dan
kami menulis b=f (a). Himpunan A — himpunan input — disebut
domain f dan himpunan gambar dalam B — himpunan output —
disebut range f . Kami menunjukkan masing-masing domain dan range
fungsi f oleh Dom( f ) dan Range ¿). Sebagai contoh, perhatikan fungsi
“kuadrat” f (x)= x2 yang didefinisikan untuk variabel x real. Karena
bilangan real mana pun dapat dikuadratkan, domain f adalah himpunan
R dari semua bilangan real. Yaitu, Dom(f )= A=R . Kisaran f terdiri
dari semua bilangan real x 2 di mana x adalah bilangan real. Tentu saja,
x 2 ≥ 0 untuk semua x real, dan mudah untuk melihat dari grafik f
bahwa kisaran f adalah himpunan semua bilangan real non-negatif.
Dengan demikian, range( f ) adalah interval ¿ . Range f tidak harus sama
dengan himpunan B. Misalnya, karena interval ¿adalah himpunan
bagian dari R dan himpunan C dari semua bilangan kompleks, f dapat
dilihat sebagai fungsi dari A=R ke B=R atau f dapat dilihat sebagai
fungsi dari A=R ke B=C . Dalam kedua kasus, kisaran f terkandung
dalam tetapi tidak sama dengan himpunan B.
Seperti yang ditunjukkan oleh definisi berikut, fungsi kompleks
adalah fungsi yang input dan outputnya adalah angka kompleks.

Definisi 2.1 Fungsi Kompleks


Fungsi kompleks adalah fungsi f yang domain dan jangkauannya
adalah himpunan bagian dari himpunan C dari bilangan kompleks.

Fungsi kompleks juga disebut fungsi bernilai kompleks dari


variabel kompleks. Sebagian besar kita akan menggunakan simbol
biasa f , g , dan h untuk menunjukkan fungsi kompleks. Selain itu, input
ke fungsi kompleks f biasanya akan dilambangkan dengan variabel z
dan output oleh variabel w=f ( z) . Ketika merujuk ke fungsi
kompleks, kita akan menggunakan tiga notasi secara bergantian,

misalnya, f ( z )=z −i, w=z−i , atau, secara sederhana, fungsi z−i .


Sepanjang teks ini, notasi w=f ( z) akan selalu menunjukkan fungsi
yang kompleks, sedangkan notasi y=f (x ) akan dicadangkan untuk
mewakili fungsi bernilai riil dari variabel real x .

Contoh 1 Fungsi Kompleks


(a) Pernyataan z 2−( 2+ i)z dapat dievaluasi pada bilangan kompleks
mana saja z dan selalu menghasilkan bilangan kompleks tunggal, dan

karenanya f (z)= z2 −(2+i) z mendefinisikan fungsi kompleks.


Nilai f ditemukan dengan menggunakan operasi aritmatika untuk
bilangan kompleks yang diberikan dalam Bagian 1.1. Sebagai
contoh, pada titik z=i dan z=1+i kita memiliki:
f (i)=i2−(2+i)(i)=−1−2i+1=−2i
dan f (1+i)=¿
(b) Pernyataan g ( z )=z+ 2 ℜ( z) juga mendefinisikan fungsi yang
kompleks. Beberapa nilai g adalah:
g(i)=i+2 ℜ(i)=i+2( 0)=i
dan g(2−3 i)=2−3i+2 ℜ(2−3 i)=2−3 i+2(2)=6−3 i .

Ketika domain fungsi kompleks tidak direalkan secara eksplisit,


kami menganggap domain sebagai himpunan semua bilangan kompleks

z yang menentukan f (z). Himpunan ini kadang-kadang disebut sebagai


domain alami f. Misalnya, fungsi f (z)= z2 −(2+i) z dan
g ( z )=z+ 2 ℜ( z) dalam Contoh 1 didefinisikan untuk semua bilangan
kompleks z, dan karenanya, Dom(f )=C dan Dom(g)=C . Fungsi
kompleks h(z )=z /( z 2 +1) tidak didefinisikan pada z=i dan z=−i
karena penyebut z 2+ 1 sama dengan 0 ketika z=± i. Oleh karena itu,
Dom(h) adalah himpunan semua bilangan kompleks kecualii dan −i.
Dalam pengantar bagian, kami mendefinisikan fungsi bernilai
real dari variabel real menjadi fungsi yang domain dan jangkauannya
adalah himpunan bagian dari himpunan R dari bilangan real. Karena R
adalah himpunan bagian himpunan C dari bilangan kompleks, setiap
fungsi bernilai real dari variabel real juga merupakan fungsi kompleks.
Kita akan segera melihat bahwa fungsi bernilai real dari dua variabel
real x dan y juga merupakan tipe khusus dari fungsi kompleks. Fungsi-
fungsi ini akan memainkan peran penting dalam studi analisis kompleks.
Untuk menghindari pengulangan istilah rumit fungsi bernilai real dari
variabel real dan fungsi bernilai real dari dua variabel real, kami
menggunakan istilah fungsi real dari titik ini untuk merujuk pada jenis
fungsi apa pun yang dipelajari dalam pelajaran kalkulus tunggal atau
multivariabel.
2. Bagian Real dan Imajiner dari Fungsi Kompleks
Hal ini sering membantu untuk merealkan input dan output

fungsi kompleks dalam hal bagian real dan imajiner. Jika w=f ( z)
adalah fungsi kompleks, maka gambar bilangan kompleks z=x +iy di
bawah f adalah bilangan kompleks w=u+iv . Dengan

menyederhanakan pernyataan f (x+ iy), kita dapat menulis variabel


real u dan v dalam kaitannya dengan variabel real x dan y . Misalnya,
dengan mengganti simbol z dengan x +iy dalam fungsi kompleks
w=z 2, kita memperoleh:
w=u+iv=¿ (1)
Dari (1) variabel real u dan v masing-masing diberikan oleh
u=x2 − y 2 dan v=2 xy . Contoh ini menggambarkan bahwa, jika
w=u+iv =f ( x+ iy ) adalah fungsi yang kompleks, maka baik u dan
v adalah fungsi real dari dua variabel x dan y . Yaitu, dengan mengatur
z=x +iy , kita dapat merealkan fungsi setiap kompleks w=f ( z)
dalam dua fungsi real seperti:
f ( x )=u ( x , y )+iv ( x , y ) (2)

Fungsi u(x , y) dan v( x , y) dalam (2) masing-masing disebut bagian


real dan imajiner dari f.

Contoh 2 Bagian real dan Imajiner dari suatu Fungsi


Temukan bagian real dan imajiner dari fungsi: (a) f (z)= z2 −(2+i) z
dan (b) g( z )=z +2 ℜ( z).
Penyelesaian Dalam setiap kasus, kami mengganti simbol z dengan
x +iy , lalu menyederhanakan.
(a) f (z)=¿
¿ x 2−2 x+ y − y 2+(2 xy−x−2 y )i .
Jadi, u(x , y)=x2−2 x + y− y 2 dan v( x , y)=2 xy −x−2 y
(b) karena g( z )=x +iy+2 ℜ( x +iy)=3 x +iy , kita memiliki
u(x , y)=3 x dan v( x , y)= y .

Setiap fungsi kompleks sepenuhnya ditentukan oleh fungsi real

u(x , y) dan v( x , y) dalam (2). Dengan demikian, fungsi kompleks


w=f ( z) dapat didefinisikan dengan menentukan dua fungsi real
u(x , y) dan v( x , y) secara berubah-ubah, meskipun w=u+iv
mungkin tidak dapat diperoleh melalui operasi yang lazim dilakukan
hanya pada simbol z . Sebagai contoh, jika kita mengambil, katakanlah,

u(x , y)=x y 2 dan v( x , y)=x 2−4 y3 , maka

f (z)= x y 2 +i (x2 −4 y 3 ) mendefinisikan fungsi yang kompleks.


Untuk menemukan nilai f pada titik z=3+2 i , kita mengganti x=3
dan y=2 ke dalam merealkan untuk f untuk mendapatkan
f (3+2 i)=3 · 22+ i(32−4 ·23 )=12−23i .
Kami mencatat bahwa fungsi kompleks yang didefinisikan

dalam istilah ux , y ¿ dan v( x , y) selalu dapat direalkan, jika


diinginkan, dalam hal operasi pada simbol z dan ź .

3. Fungsi Eksponensial
Definisi 2.2 Fungsi Eksponensial Kompleks
Fungsi e z ditentukan oleh:

e z =e x cos y +i e x sin y (3)


disebut fungsi eksponensial kompleks.

Menurut Definisi 2.2, bagian real dan imajiner dari fungsi

eksponensial kompleks adalah masing-masing u ( x , y )=e x cos y dan


v( x , y)=e x sin y . Dengan demikian, nilai fungsi eksponensial
kompleks w=e z ditemukan dengan merealkan titik z sebagai z=x +iy
dan kemudian mensubstitusi nilai x dan y dalam (3). Contoh berikut
menggambarkan prosedur ini.

Contoh 3 Nilai Fungsi Eksponensial Kompleks


Temukan nilai-nilai fungsi eksponensial kompleks e z pada titik-titik
berikut.
(a) z=0 (b) z=i (c) z=2+ πi
Penyelesaian Di setiap bagian kami mengganti x=ℜ(z) dan
y=ℑ(z ) ke (3) dan kemudian menyederhanakan.
(a) Untuk z=0 , kita memiliki x=0 dan y=0, dan

e 0=e0 cos 0+i e 0 sin 0 .


Karena e 0=1(untuk fungsi eksponensial real), cos 0=1, dan
sin 0=0, e 0=e0 cos 0+i sin 0 disederhanakan menjadi e 0=1.
(b) Untuk z=i , kita memiliki x=0 dan y=1, dan jadi:
e i=e 0 cos 0+i e0 sin 1=cos 1+i sin 1≈ 0,5403+ 0,8415i
(c) Untuk z=2+ πi, kita memiliki x=2dan y=π , dan jadi
e 2+ πi =e 2 cos π +i e2 sin π .
Karena cos π =−1 dan sin π=0 , ini disederhanakan menjadi
e 2+ πi =−e 2.

4. Bentuk Eksponensial dari Bilangan Kompleks


Fungsi eksponensial memungkinkan kita untuk merealkan bentuk
polar dari bilangan kompleks bukan nol z=r ¿) dalam bentuk yang
mudah dan ringkas:

z=ℜiθ (4)
Kami menyebut (4) bentuk eksponensial dari bilangan kompleks z.
Misalnya, bentuk polar dari bilangan kompleks3 i adalah

3[cos ( π /2)+i sin( π / 2)], sedangkan bentuk eksponensial dari 3 i


adalah 3 e iπ /2. Ingatlah bahwa dalam bentuk eksponensial (4) dari
bilangan kompleks, nilai θ=arg(z) tidak unik. Ini mirip dengan
situasi dengan bentuk polar dari bilangan kompleks. Anda dianjurkan

untuk memeriksa bahwa √ 2 eiπ / 4, √ 2 ei 9 π /4 , dan √ 2 ei 17 π / 4, adalah

semua bentuk eksponensial yang valid dari bilangan kompleks 1+i.


Jika z adalah bilangan real, yaitu, jika z=x +0 i, maka (3)
memberikan e z =e x cos 0+i e x sin 0=e x . Dengan kata lain, fungsi
eksponensial kompleks sesuai dengan fungsi eksponensial real biasa
untuk z real. Banyak sifat terkenal dari fungsi eksponensial real juga

dipenuhi oleh fungsi eksponensial kompleks. Misalnya, jika z 1dan z 2


adalah bilangan kompleks, maka (3) dapat digunakan untuk
menunjukkan bahwa:

e 0=1 (5)

e z e z =e z +z
1 2 1 2
(6)

ez 1
z −z 1 2
z
=e (7)
e 2

¿ ¿untuk n=0 , ±1 , ±2 , … (8)


Sementara fungsi eksponensial real dan kompleks memiliki
banyak kesamaan, keduanya juga memiliki beberapa perbedaan yang
mengejutkan dan penting. Mungkin perbedaan yang paling tidak terduga
adalah:
Fungsi eksponensial yang kompleks bersifat berkala (periodik).

5. Koordinat Polar
Hingga titik ini, bagian real dan imajiner dari fungsi kompleks
ditentukan menggunakan deskripsi Cartesian x +iy dari variabel
kompleks z. Ini sama-sama valid, dan, seringkali, lebih mudah untuk
merealkan variabel kompleks z baik menggunakan bentuk polar z=r ¿)
atau, ekivalen, bentuk eksponensial z=ℜiθ . Diberikan fungsi kompleks
w=f (z), jika kita mengganti simbol z dengan r ( cos θ+isin θ) ,
maka kita dapat menulis fungsi ini sebagai:

f ( z )=u ( r , θ ) +iv (r ,θ) (9)

Kita masih menyebut fungsi real u(r , θ) dan v(r ,θ) di (9) bagian real
dan imajiner dari f , masing-masing. Misalnya, mengganti z dengan
r ( cos θ+isin θ) dalam fungsi f (z)= z2, menghasilkan, dengan
rumus de Moivre,

f ( z )=¿

Dengan demikian, menggunakan bentuk polar dari z kita telah

menunjukkan bahwa bagian real dan imajiner dari f (z)= z2 adalah

u ( r ,θ )=r 2 cos 2 θ dan v ( r , θ )=r 2 sin 2 θ (10)


masing-masing. Karena kami menggunakan polar daripada deskripsi
Cartesian dari variabel z, fungsi u dan v di (10) tidak sama dengan

fungsi u dan v di (1) yang sebelumnya dihitung untuk fungsi z 2.


Seperti halnya koordinat Kartesius, fungsi kompleks dapat
didefinisikan dengan menentukan bagian real dan imajinernya dalam

koordinat polar. Pernyataan f (z)=r 3 cos θ+(2 r sin θ)i , oleh karena
itu, mendefinisikan fungsi yang kompleks. Untuk menemukan nilai
fungsi ini di, katakanlah, titik z=2 i, pertama-tama kita merealkan 2 i
dalam bentuk polar:

π π
(
2 i=2 cos +i sin
2 2 )
Kami kemudian mengatur r =2 dan θ=π /2 dalam pernyataan untuk f
untuk mendapatkan:
π π
( )
f ( 2 i )=23 cos +¿ 2.2sin i=8.0+ ( 4.1 ) i=4 i . ¿
2 2

.2 FUNGSI KOMPLEKS SEBAGAI PEMETAAN


Ingatlah bahwa jika f adalah fungsi bernilai real dari variabel
real, maka grafik f adalah kurva pada bidang Cartesian. Grafik
digunakan secara luas untuk menyelidiki sifat fungsi real dalam
pelajaran dasar. Namun, kita akan melihat bahwa grafik fungsi
kompleks terletak di ruang empat dimensi, jadi kami tidak dapat
menggunakan grafik untuk mempelajari fungsi kompleks. Pada bagian
ini kita membahas konsep pemetaan kompleks, yang dikembangkan oleh
matematikawan Jerman, Bernhard Riemann untuk memberikan
pernyataan geometris dari fungsi kompleks. Ide dasarnya adalah ini.
Setiap fungsi kompleks menggambarkan korespondensi antara titik
dalam dua salinan bidang kompleks. Secara khusus, titik z dalam

bidang-z dikaitkan dengan titik unik w=f ( z) dalam bidang-w. Kami


menggunakan pemetaan kompleks istilah alternatif di tempat "fungsi
kompleks" ketika mempertimbangkan fungsi sebagai korespondensi
antara titik-titik di bidang-z dan titik di bidang-w. Representasi

geometris dari pemetaan kompleks w=f ( z) yang dikaitkan dengan


Riemann terdiri dari dua angka: yang pertama, subset S dari titik dalam
bidang-z, dan yang kedua, himpunan S ' dari gambar-gambar dari titik
dalam S di bawah w=f ( z) di bidang-w.

1. Pemetaan
Alat yang berguna untuk mempelajari fungsi real dalam kalkulus

dasar adalah grafik fungsi. Ingatlah bahwa jika y=f (x ) adalah fungsi
bernilai riil dari variabel real x, maka grafik f didefinisikan sebagai
himpunan semua titik ( x , f (x )) dalam bidang Cartesian dua dimensi.
Definisi analog dapat dibuat untuk fungsi yang kompleks. Namun, jika
w=f ( z) adalah fungsi yang kompleks, maka z dan w terletak pada
bidang yang kompleks. Oleh karena itu, himpunan semua titik

( z , f (z )) terletak di ruang empat dimensi (dua dimensi dari input z dan


dua dimensi dari output w). Tentu saja, himpunan bagian dari ruang
empat-dimensi tidak dapat dengan mudah diilustrasikan. Karena itu:
Kita tidak dapat menggambar grafik dengan fungsi yang
kompleks.
Konsep pemetaan kompleks memberikan cara alternatif untuk
memberikan representasi geometris dari fungsi kompleks. Seperti
dijelaskan dalam bagian pengantar, kami menggunakan istilah
pemetaan kompleks untuk merujuk pada korespondensi yang

ditentukan oleh fungsi kompleks w=f ( z) antara titik dalam bidang-z


dan gambar dalam bidang-w. Jika titik z 0 di bidang-z sesuai dengan titik
w 0 di bidang-w, yaitu, jika w 0=f (z 0), maka kita mengatakan bahwa f
memetakan z 0 ke w 0 atau, ekuivalen, bahwa z 0 dipetakan ke w 0 oleh
f.
Sebagai contoh pemikiran geometris jenis ini, pertimbangkan

fungsi real f (x)= x+2. Daripada merepresentasikan fungsi ini dengan


garis kemiringan 1 dan titik potong y (0,2), pertimbangkan bagaimana
satu salinan dari real garis (garis x ) dipetakan ke salinan lain dari garis
real (garis y) oleh f . Setiap titik pada garis-x dipetakan pada titik dua
unit di sebelah kanan pada garis-y (0 dipetakan ke 2, sedangkan 3
dipetakan ke 5, dan seterusnya). Oleh karena itu, fungsi real

f (x)= x+2 dapat dianggap sebagai pemetaan yang menerjemahkan


setiap titik dalam garis real dua unit ke kanan. Anda dapat
memvisualisasikan tindakan pemetaan ini dengan membayangkan garis
real sebagai batang kaku tak terbatas yang secara fisik dipindahkan dua
unit ke kanan.
Untuk membuat representasi geometris dari pemetaan yang
kompleks, kita mulai dengan dua salinan bidang kompleks, bidang-z dan
bidang-w, yang digambar berdampingan atau satu di atas yang lain.
Pemetaan kompleks diwakili dengan menggambar satu himpunan S poin
di bidang-z dan himpunan gambar yang sesuai dari titik-titik di S di
bawah f di bidang-w. Ide ini diilustrasikan pada Gambar 2.1 di mana
himpunan S di bidang-z ditunjukkan dalam warna pada Gambar 2.1 (a)
dan himpunan berlabel S ' , yang mewakili himpunan gambar titik dalam
S di bawah w=f ( z), ditunjukkan dalam warna abu-abu pada Gambar
2.1 (b). Dari titik ini kita akan menggunakan notasi yang mirip dengan
yang ada pada Gambar 2.1 ketika membahas pemetaan.
Notasi: S'
Jika w=f ( z) adalah pemetaan yang kompleks dan jika S adalah
himpunan titik dalam bidang-z, maka kita menyebutkan himpunan
gambar dari titik-titik dalam S di bawah f gambar S di bawah f , dan
kami merealkan ini diatur oleh simbol S '.

Jika himpunan S memiliki sifat tambahan, seperti S adalah


domain atau kurva, maka kami juga menggunakan simbol seperti D dan
D ' atau C dan C ' , masing-masing, untuk menunjukkan himpunan dan
gambarnya di bawah pemetaan yang kompleks. Notasi f (C) juga
kadang-kadang digunakan untuk menunjukkan gambar kurva C di
bawah w=f ( z) .
(a) Himpunan S di bidang-z (b) Gambar S di bidang-w
Gambar 2.1 Gambar himpunan S di bawah pemetaan

Ilustrasi seperti Gambar 2.1 dimaksudkan untuk menyampaikan


informasi tentang hubungan umum antara titik sembarang z dan

gambarnya w=f (z). Dengan demikian, himpunan S perlu dipilih


dengan hati-hati. Misalnya, jika f adalah fungsi yang domain dan
jangkauannya adalah himpunan bilangan kompleks C, maka memilih S
= C akan menghasilkan gambar yang hanya terdiri dari dua bidang
kompleks. Jelas, ilustrasi semacam itu tidak akan memberikan wawasan
tentang bagaimana titik-titik dalam bidang-z dipetakan ke titik-titik
dalam bidang-w oleh f .

Contoh 1 Gambar setengah bidang di bawah w=iz


Temukan gambar setengah bidang ℜ( z)≥2 di bawah pemetaan
kompleks w=iz dan mewakili pemetaan secara grafis.

Penyelesaian Misalkan S adalah bidang


setengah yang terdiri dari semua titik
kompleks z dengan ℜ( z)≥2. Kami
melanjutkan seperti yang diilustrasikan
dalam Gambar 2.1. Pertimbangkan dulu
batas vertikal x=2 dari S yang ditunjukkan
(b) Gambar, S′, dari
setengah bidang S dalam warna pada Gambar 2.2 (a). Untuk
Gambar 2.2 Pemetaan tanda titik z pada baris ini, kita memiliki

z=2+iy di mana −∞ < y < ∞. Nilai


f (z)=iz pada titik pada baris ini adalah
w=f (2+iy)=i(2+iy)=− y+ 2i .
Karena himpunan titik
w=− y +2 i ,−∞ < y <∞ , adalah adalah
garis v=2 pada bidang-w, kami
menyimpulkan bahwa garis vertikal x=2
pada bidang-z dipetakan ke arah horizontal
baris v=2 di pesawat-w oleh pemetaan
w=iz .
Oleh karena itu, garis vertikal yang ditunjukkan dalam warna pada
Gambar 2.2 (a) dipetakan ke garis horizontal yang ditunjukkan dalam
warna hitam pada Gambar 2.2 (b) oleh pemetaan ini.
Sekarang perhatikan seluruh setengah bidang S yang ditunjukkan
dalam warna pada Gambar 2.2 (a). Himpunan ini dapat dijelaskan oleh
dua pertidaksamaan simultan,

x ≥ 2 dan −∞< y < ∞ (1)

Untuk menggambarkan gambar S, kami merealkan pemetaan w=iz


dalam hal bagian real dan imajiner u dan v; maka kita menggunakan
batas yang diberikan oleh (1) pada x dan y pada bidang-z untuk
menentukan batas pada u dan v pada bidang-w. Dengan mengganti
simbol z dengan x +iy di w=iz , kita memperoleh

w=i(x +iy )=− y +ix , dan bagian real dan imajiner dari w=iz
adalah:

u ( x , y )=− y dan v ( x , y ) =x
(2)
Dari (1) dan (2) kami menyimpulkan bahwa v ≥ 2 dan −∞<u< ∞.
Yaitu, himpunan S ' , gambar S di bawah w=iz , terdiri dari semua titik
w=u+iv di bidang-w yang memenuhi pertidaksamaan simultan v ≥2
dan −∞<u< ∞. Dengan kata lain, himpunan S ' terdiri dari semua
titik dalam setengah bidang yang terletak di atas atau di atas garis
horizontal v=2. Gambar ini juga dapat digambarkan dengan
pertidaksamaan tunggal ( w) ≥ 2. Singkatnya, setengah bidang ( z )≥ 2
ditunjukkan dalam warna pada Gambar 2.2 (a) dipetakan pada setengah

bidang ℑ(w)≥2 ditunjukkan dalam warna abu-abu pada Gambar 2.2


(b) oleh pemetaan kompleks w=iz .

Dalam Contoh 1, himpunan S dan gambarnya S ' adalah setengah


bidang. Ini mungkin membuat Anda percaya bahwa ada beberapa cara
geometris sederhana untuk memvisualisasikan gambar himpunan lain di
bidang kompleks di bawah pemetaan w=iz . (Kita akan melihat bahwa
ini adalah kasus di Bagian 2.3.) Namun, untuk sebagian besar pemetaan,
hubungan antara S dan S ' lebih rumit. Ini diilustrasikan dalam contoh
berikut.
Contoh 2 Gambar Garis di bawah w=z 2
Temukan gambar garis vertikal x=1di bawah pemetaan kompleks
w=z 2 dan tampilkan pemetaan secara grafis.

Penyelesaian Misalkan C adalah himpunan titik pada garis vertikal

x=1 atau, yang setara, himpunan titik z=1+iy dengan −∞< y < ∞.
Kita melanjutkan seperti pada Contoh 1. Dari (1) Bagian 2.1, bagian real
2 2
dan imajiner dari w=z 2adalah u(x , y)=x − y dan v( x , y)=2 xy ,
masing-masing. Untuk titik z=1+iy di C, kita memiliki

u(1 , y)=1− y 2 dan v(1, y )=2 y . Ini menyiratkan bahwa gambar S


adalah himpunan titik w=u+iv yang memenuhi persamaan simultan:

u=1− y 2 (3)
dan v=2 y (4)
untuk −∞ < y < ∞ . Persamaan (3) dan (4) adalah persamaan
parametrik dalam parameter real y, dan mereka mendefinisikan kurva
dalam bidang-w. Kita dapat menemukan persamaan Cartesian dalam u
dan v untuk kurva ini dengan memasukkan parameter y. Untuk
melakukannya, kita menyelesaikan (4) untuk y dan kemudian mengganti
ungkapan ini menjadi (3):

v 2 v2
u=1− ()
2
=1−
4
(5)

Karena y dapat mengambil nilai riil apa pun dan karena v=2 y , maka v
dapat mengambil nilai riil apa pun di (5). Akibatnya, C — gambar C —
adalah parabola di bidang-w dengan simpul pada (1,0) dan titik potong
u pada (0 , ± 2) . Lihat Gambar 2.3 (b). Sebagai kesimpulan, kami telah
menunjukkan bahwa garis vertikal x=1 yang ditunjukkan dalam warna

1
pada Gambar 2.3 (a) dipetakan ke parabola u=1− v 2 ditunjukkan
4
dalam warna hitam pada Gambar 2.3 (b) oleh pemetaan kompleks

w=z 2.

(a) Garis vertikal

(b) Gambar C adalah parabola

Gambar 2.3 Pemetaan

Berbeda dengan Gambar 2.2, representasi pemetaan w=z 2


ditunjukkan pada Gambar 2.3 memberikan sedikit wawasan tentang apa
gambar himpunan lain di bidang itu. Pemetaan oleh “fungsi kuadrat
kompleks” ini akan diperiksa secara lebih rinci di Bagian 2.4.

2. Kurva Parametrik di Bidang Kompleks


Untuk fungsi kompleks sederhana, cara di mana bidang kompleks
dipetakan mungkin jelas setelah menganalisis gambar satu himpunan,
tetapi untuk sebagian besar fungsi pemahaman pemetaan diperoleh
hanya setelah melihat gambar dari berbagai himpunan. Kita sering dapat
memperoleh pemahaman yang baik tentang pemetaan kompleks dengan
menganalisis gambar kurva (himpunan bagian dimensi dari bidang
kompleks) dan proses ini difasilitasi oleh penggunaan persamaan
parametrik.
Jika x=x (t)dan y= y (t) adalah fungsi bernilai riil dari
variabel real t, maka himpunan C dari semua titik ( x (t) , y (t)), di
mana a≤t≤b , disebut kurva parametrik. Persamaan

x=x ( t ) , y= y (t) , dan a ≤ t ≤ b disebut persamaan parametrik C.


Kurva parametrik dapat dianggap sebagai letak di bidang kompleks
dengan membiarkan x dan y mewakili yang real dan bagian imajiner
dari suatu titik di bidang kompleks. Dengan kata lain, jika

x=x (t) , y= y (t ), dan a ≤ t ≤ b adalah persamaan parametrik dari


kurva C dalam bidang Cartesian, maka himpunan titik

z ( t )=x ( t ) +iy ( t ) , a≤ t ≤ b, adalah deskripsi kurva C di bidang


kompleks. Sebagai contoh, perhatikan persamaan parametrik x=cos t ,
y=sint , 0 ≤ t ≤ 2 π , dari kurva C pada bidang xy (kurva C adalah
lingkaran yang berpusat pada (0,0) dengan jari-jari 1) . Himpunan titik

z ( t )=cos t+i sin t , 0 ≤t ≤2 π , menggambarkan kurva C pada bidang


kompleks. Jika, katakanlah, t=0 , maka titik (cos 0 ,sin 0)=(1,0)
berada pada kurva C pada bidang Cartesian, sedangkan titik

z ( 0 )=cos 0+isin 0=1 mewakili titik ini pada C di bidang kompleks.


Diskusi ini dirangkum dalam definisi berikut.

Definisi 2.3 Kurva Parametrik dalam Bidang Kompleks


Jika x (t ) dan y (t) adalah fungsi bernilai riil dari variabel real t,
maka himpunan C terdiri dari semua titik

z ( t )=x ( t ) +iy ( t ) , a≤ t ≤ b , disebut kurva parametrik atau kurva


parametrik kompleks. Fungsi bernilai kompleks dari variabel real t,

z (t)=x (t )+ iy(t) , disebut parameterisasi dari C.

Sifat-sifat kurva pada bidang Cartesian seperti kontinu, dapat


dibedakan, halus, sederhana, dan tertutup semuanya dapat diformulasi
ulang menjadi sifat kurva pada bidang kompleks.
Dua dari kurva yang paling dasar di bidang adalah garis dan
lingkaran. Parameterisasi kurva ini di bidang kompleks dapat diturunkan
dari parameterisasi dalam bidang Cartesian. Juga relatif mudah untuk
menemukan parameterisasi ini secara langsung dengan menggunakan
geometri bidang kompleks. Sebagai contoh, misalkan kita ingin
menemukan parameterisasi garis dalam bidang kompleks yang

mengandung titik-titik z 0 dan z 1. Kita tahu dari Bab 1 bahwa z 1−z 0


mewakili vektor yang berasal dari z 0 dan berakhir di z 1, ditunjukkan
dalam warna pada Gambar 2.4.
Gambar 2.4 Paramaterisasi
garis

Jika z adalah titik titik pada garis yang mengandung z 0 dan z 1,


maka pemeriksaan pada Gambar 2.4 menunjukkan bahwa vektor z−z 0
adalah kelipatan real dari vektor z 1−z 0. Oleh karena itu, jika z ada di
baris yang berisi z 0 dan z 1, maka ada bilangan real t sehingga
z−z 0=t (z 1−z 0) . Memecahkan persamaan ini untuk z memberikan
parameterisasi z (t)=z 0 +t ( z 1−z 0)=z 0(1−t)+ z 1 t ,−∞<t <∞ ,
untuk garis. Perhatikan bahwa jika kita membatasi parameter t ke

interval [0 ,1], maka titik z (t) berkisar dari z 0 hingga z 1, dan ini
memberikan parametriisasi segmen garis dari z 0 ke z 1. Di sisi lain, jika
kita membatasi t ke interval [0 , ∞ ], maka kita memperoleh
parametriisasi sinar yang berasal dari z 0 dan mengandung z 1. Parameter
ini termasuk dalam ringkasan berikut.

Kurva Parametrik Umum di Bidang Kompleks


Garis
A parameterisasi dari garis yang mengandung titik z 0 dan z 1 adalah:
z (t)=z 0 (1−t)+ z 1 t ,−∞<t <∞ . (6)
Segmen garis
Parameterisasi segmen garis dari z 0 dan z 1 adalah:
z ( t )=z 0 ( 1−t )+ z1 t , 0 ≤ t ≤1. (7)
Sinar
Parametrization sinar yang berasal dari z 0 dan mengandung z 1
adalah:
z (t)=z 0 (1−t)+ z 1 t ,0 ≤ t < ∞ . (8)
Lingkaran
Parameterisasi lingkaran yang berpusat di z 0 dengan jari-jari r adalah:
z (t)=z 0 +r (cos t+i sin t), 0≤ t ≤ 2 π (9)
Dalam notasi eksponensial, parameterisasi ini adalah:

z (t)=z 0 + ℜit ,0 ≤ t ≤ 2 π (10)

Membatasi nilai-nilai dari parameter t dalam (9) atau (10)


memberikan parametrik dari busur lingkaran. Sebagai contoh, dengan

mengatur z 0=0 dan r =1 pada (10) kita melihat bahwa

z (t)=eit , 0 ≤t ≤ π adalah parameterisasi dari busur setengah lingkaran


dari unit lingkaran yang berpusat pada titik asal dan terletak pada

setengah bidang atas ℑ(z) ≥ 0.


Kurva parametrik penting dalam studi pemetaan kompleks karena
mudah untuk menentukan parameterisasi gambar kurva parametrik.
Misalnya, jika w=iz dan C adalah garis x=2 yang diberikan oleh
z (t)=2+ it , −∞<t <∞ , maka nilai f (z)=iz pada suatu titik pada
baris ini adalah w=f (2+it )=i(2+it)=−t+ 2i , dan gambar z (t)
adalah w (t)=−t+2 i. Dengan kata lain, w (t)=−t+2 i,
−∞ <t <∞ , adalah parameterisasi dari gambar C ' . Dengan demikian,
C ' adalah garis v=2. Singkatnya, kami memiliki prosedur berikut
untuk menemukan gambar kurva di bawah pemetaan yang kompleks.

Gambar kurva parametrik di bawah pemetaan kompleks


Pemetaan Jika w=f ( z) adalah pemetaan yang kompleks dan jika C

adalah kurva yang ditentukan oleh z (t), a ≤t ≤b , maka


w ( t )=f ( z ( t ) ) , a≤ t ≤ b (11)

adalah parameterisasi gambar, C ' dari C di bawah w=f (z).

Dalam beberapa kasus, lebih mudah untuk menunjukkan


pemetaan kompleks menggunakan satu salinan bidang kompleks. Kami
melakukannya dengan menempatkan di atas bidang-w di atas bidang-z,
sehingga real dan sumbu imajiner di setiap salinan bidang pesawat
bertepatan. Karena angka seperti itu secara bersamaan mewakili kedua z
dan bidang-w, kita menghilangkan semua label x , y , u, dan v dari
sumbu. Sebagai contoh, jika kita memplot setengah-bidang S dan
gambarnya S ' dari Contoh 1 dalam salinan yang sama dari bidang
kompleks, maka kita melihat bahwa setengah-bidang S ' mungkin
diperoleh dengan memutar setengah-bidang S melalui sudut π /2 radian
berlawanan arah jarum jam tentang asal. Pengamatan tentang pemetaan
ini w=iz akan diverifikasi di Bagian 2.3. Dalam contoh berikut, kami
mewakili pemetaan kompleks menggunakan satu salinan bidang
kompleks.

Contoh 3 Gambar dari Kurva Parametrik


Gunakan (11) untuk menemukan gambar segmen garis dari 1 hingga i
´.
di bawah pemetaan kompleks w=iz
Penyelesaian Misalkan C menunjukkan segmen garis dari 1 ke i dan
biarkan C merealkan gambarnya di bawah ´ . Dengan
f (z)= iz
mengidentifikasi z 0=1 dan z 1=i dalam (7), kita memperoleh
parameterisasi z (t)=1−t+it , 0 ≤ t ≤1 , dari C. Gambar C ' kemudian
diberikan oleh (11):

´
w ( t )=f ( z ( t ) )=i(1−t+it )=−i ( 1−t )−t , 0 ≤ t ≤ b
Dengan identifikasi z 0=−i dan z 1=−1 dalam (7), kita melihat bahwa
w (t) adalah parameterisasi dari segmen garis dari −i ke −1. Oleh
karena itu, C adalah segmen garis dari −i ke −1. Pemetaan ini
digambarkan pada Gambar 2.5 menggunakan satu salinan bidang
kompleks. Pada Gambar 2.5, segmen garis yang ditunjukkan dalam
warna dipetakan ke segmen garis yang ditunjukkan dalam warna hitam
´.
oleh w=iz

Gambar 2.5 Pemetaan .


Contoh 4 Gambar dari Kurva Parametrik
Temukan gambar setengah lingkaran yang ditunjukkan dalam warna

pada Gambar 2.6 di bawah pemetaan kompleks w=z 2 .

Penyelesaian Biarkan C menunjukkan setengah lingkaran yang


ditunjukkan pada Gambar 2.6 dan biarkan C ' menunjukkan gambarnya
di bawah f (z)= z2. Kita lanjutkan seperti pada Contoh 3. Bertaruh
z 0=0 dan r =2 pada (10) kita mendapatkan parameterisasi C berikut:

z (t)=2e it , 0≤ t ≤ π .
Jadi, dari (11) kita mendapatkannya :
w ( t )=f ( z ( t ) )=¿ (13)

1
adalah parameterisasi dari C ' . Jika kita menetapkan t= s dalam (12),
2
maka kita mendapatkan parameterisasi baru dari C ' :

W ( s )=4 e is, 0 ≤ s ≤ 2 π (13)

Dari (10) dengan z 0=0 dan r =4 , kami menemukan bahwa (13)


mendefinisikan lingkaran yang berpusat pada 0 dengan jari-jari 4. Oleh
karena itu, gambar C ' adalah lingkaran ¿ w∨¿ 4 . Kami mewakili
pemetaan ini pada Gambar 2.6 menggunakan satu salinan bidang. Dalam
gambar ini, setengah lingkaran yang ditunjukkan dalam warna dipetakan

ke lingkaran yang ditunjukkan dalam warna hitam oleh w=z 2.


.3 PEMETAAN LINIER
Ingatlah bahwa fungsi real dari bentuk f (x)=ax+ b di mana
a dan b adalah konstanta real disebut fungsi linear. Sesuai dengan
kesamaan antara analisis real dan kompleks, kami mendefinisikan

fungsi linier kompleks menjadi fungsi bentuk f (z)=az+ b di


mana a dan b adalah konstanta kompleks. Sama seperti fungsi linear
real adalah jenis termudah dari fungsi real untuk grafik, fungsi linier
kompleks adalah jenis termudah dari fungsi kompleks untuk
divisualisasikan sebagai pemetaan bidang kompleks. Pada bagian
ini, kami akan menunjukkan bahwa setiap pemetaan linear
kompleks yang tidak konstan dapat digambarkan sebagai komposisi
dari tiga jenis gerakan dasar: translasi, rotasi, dan pembesaran.
Sebelum melihat pemetaan linear kompleks umum

f (z)=az+ b, kami menyelidiki tiga jenis pemetaan linear khusus


yang disebut translasi, rotasi, dan perbesaran. Sepanjang bagian ini
kita menggunakan simbol T, R, dan M untuk mewakili pemetaan
tranlasi, rotasi, dan perbesaran, masing-masing.
1. Translasi
Fungsi linear yang kompleks
T ( z )=z +b , b ≠ 0 , (1)
disebut translasi. Jika kita mengatur z=x +iy dan b=x 0+ i y 0 dalam
(1), maka kita memperoleh:

T ( z )=( x +iy ) + ( x 0 +i y 0 )=x + x 0+ i( y+ y 0)

Dengan demikian, gambar titik ( x , y ) di bawah T adalah titik


( x + x 0 , y + y 0 ). Dari Gambar 2.7 kita melihat bahwa jika kita
merencanakan ( x , y ) dan ( x + x 0 , y + y 0 ). dalam salinan yang sama
dari bidang kompleks, maka vektor yang berasal dari ( x , y ) dan
berakhir di ( x + x 0 , y + y 0 ) adalah ( x 0 , y 0 ) ;ekuivalen, jika kita
memplot z dan T ( z) dalam salinan yang sama dari bidang kompleks,
maka vektor yang berasal dari z dan berakhir di T ( z) adalah ( x 0 , y 0 ) .
Oleh karena itu, pemetaan linear T ( z)=z +b dapat divisualisasikan
dalam satu salinan bidang kompleks sebagai proses menerjemahkan titik

z sepanjang vektor ( x 0 , y 0 ) ke titik T (z).Karena ( x 0 , y 0 ) adalah


representasi vektor dari bilangan kompleks b , pemetaan T ( z)=z +b
juga disebut translasi oleh b .

Gambar 2.7 Translasi


Contoh 1 Menggambar persegi di dalam Translasi
Temukan gambar S ' dari persegi S dengan simpul pada
1+i ,2+i ,2+2 i, dan 1+2 idi bawah pemetaan linear T ( z)=z +2−i
.

Penyelesaian Kami akan mewakili S dan S ' dalam salinan yang sama
dari bidang kompleks. T pemetaan adalah translasi, dan S dapat

ditentukan sebagai berikut. Mengidentifikasi b=x 0 +iy 0=2+i(−1)


dalam (1), kami plot vektor (2,−1) yang berasal dari setiap titik dalam S.
Lihat Gambar 2.8. Himpunan titik-titik terminal dari vektor-vektor ini
adalah S, gambar S di bawah T. Pemeriksaan Gambar 2.8 menunjukkan
bahwa S adalah bujur sangkar dengan simpul pada:

T ( 1+i )=( 1+i ) + ( 2−i )=3


T ( 2+i )=( 2+i ) + ( 2−i )=4
T ( 2+2 i )=( 2+2 i ) + ( 2−i )=4 +i
T ( 1+2 i )=( 1+2i ) + ( 2−i ) =3+i

Gambar 2.8 Gambar persegi di dalam translasi


Oleh karena itu, S persegi yang ditunjukkan dalam warna pada Gambar
2.8 dipetakan ke S ' persegi yang ditunjukkan dalam warna hitam
dengan terjemahan T (z)=z +2−i.

Dari deskripsi geometrik, jelas bahwa translasi tidak mengubah


bentuk atau ukuran gambar di bidang kompleks. Artinya, gambar garis,
lingkaran, atau segitiga di bawah translasi juga akan menjadi garis,
lingkaran, atau segitiga. Pemetaan dengan sifat ini kadang-kadang
disebut gerakan kaku.

2. Rotasi
Fungsi linear yang kompleks
R ( z )=az ,|a|=1 (2)
disebut rotasi. Meskipun mungkin tampak bahwa persyaratan |a|=1
adalah batasan utama dalam (2), tidak. Perlu diingat bahwa konstanta a
dalam (2) adalah konstanta kompleks. Jika α adalah bilangan kompleks

bukan nol, maka a=a /|a| adalah bilangan kompleks untuk mana
|a|=1. Jadi, untuk bilangan kompleks bukan nol α , kita memiliki

α
R ( z )= z adalah rotasi.
|α|
Pertimbangkan rotasi R yang diberikan oleh (2) dan, untuk saat

ini, asumsikan Arg( a)> 0. Karena |a|=1 dan Arg( a)> 0, kita dapat
menulis dalam bentuk eksponensial sebagai a=e iθ dengan 0<θ ≤ π .
Jika kita menetapkan a=e iθdan z=r e iφ dalam (2), maka berdasarkan
sifat (6) dari Bagian 2.1 kita memperoleh deskripsi R berikut:
R ( z )=e iθ r e iφ=r e i(θ+ φ) . (3)

Dari (3), kita melihat bahwa modulus R(z ) adalah r, yang sama dengan
modulus z. Oleh karena itu, jika z dan R(z ) diplot dalam salinan yang
sama dari bidang kompleks, maka kedua titik terletak pada lingkaran
yang berpusat pada 0 dengan jari-jari r. Lihat Gambar 2.9. Perhatikan

juga dari (3) bahwa argumen R(z )adalah θ+ φ, yang merupakan θ


radian lebih besar dari argumen z. Oleh karena itu, pemetaan linear

R ( z )=az dapat divisualisasikan dalam satu salinan bidang kompleks


sebagai proses memutar titik z berlawanan arah jarum jam melalui sudut

θ radian tentang asal ke titik R( z ). Lihat Gambar 2.9. Jelas, ini


meningkatkan argumen z oleh θ radian tetapi tidak mengubah

modulusnya. Dengan cara yang sama, jika Arg(a)< 0, maka pemetaan


linier R ( z )=az dapat divisualisasikan dalam satu salinan bidang
kompleks sebagai proses memutar titik searah jarum jam melalui sudut θ

radian tentang asal. Untuk alasan ini sudut θ=Arg(a) disebut sudut
rotasi R.

Contoh 2 Gambar Garis di dalam Rotasi


Temukan gambar sumbu real y=0 di bawah pemetaan linear

( 12 √2+ 12 √ 2i ) z
Gambar 2.9 Rotasi
R ( z )=

Penyelesaian Biarkan C menunjukkan sumbu real y=0 dan biarkan

C ' menunjukkan gambar C di bawah R. Karena |12 √ 2+ 12 √2 i|=1 ,


pemetaan kompleks R(z ) adalah rotasi . Untuk menentukan sudut

1 1
rotasi, kita menuliskan bilangan kompleks √ 2+ √2 i dalam bentuk
2 2

1 1
eksponensial √ 2+ √2 i=e iπ /4 . Jika z dan R(z ) diplot dalam
2 2
salinan yang sama dari bidang kompleks, maka titik z diputar
berlawanan arah jarum jam melalui π /4 radian tentang asal ke titik
R( z ). Oleh karena itu, gambar C ' adalah garis v=u, yang berisi asal
dan membuat sudut π /4 radian dengan sumbu real. Pemetaan ini
digambarkan dalam satu salinan dari bidang yang kompleks di gambar
2.10 dimana sumbu real ditampilkan dalam warna dipetakan ke baris

yang ditampilkan dalam warna hitam R ( z )=( 12 √2+ 12 √ 2i ) z .

Gambar 2.10 Gambar Garis di dalam Rotasi

Seperti halnya translasi, rotasi tidak akan mengubah bentuk atau ukuran
gambar di bidang kompleks. Dengan demikian, gambar garis, lingkaran,
atau segitiga di bawah rotasi juga akan menjadi garis, lingkaran, atau
segitiga.
3. Pembesaran
Jenis akhir dari fungsi linear khusus yang kami pertimbangkan adalah
pembesaran. Fungsi linear yang kompleks

M ( z )=az , a> 0 , (4)

disebut pembesaran. Ingat dari Catatan di akhir Bagian 1.1 bahwa


karena tidak ada konsep urutan dalam sistem bilangan kompleks, maka
tersirat dalam pertidaksamaan a> 0 bahwa simbol a mewakili bilangan
real. Oleh karena itu, jika z=x +iy , maka M (z)=az=ax +iay , dan
gambar titik ( x , y ) adalah titik (ax , ay) .Dengan menggunakan bentuk

eksponensial z=r e iθ dari z, kita juga dapat merealkan fungsi dalam (4)
sebagai:

M ( z )=a ( r eiθ ) =( ar ) eiθ (5)

Hasil ar dalam (5) adalah bilangan real karena a dan r adalah bilangan
real, dan dari sini mengikuti bahwa besarnya M ( z) adalah ar .
Asumsikan a> 1. Kemudian dari (5) kita memiliki bahwa titik kompleks

z dan M ( z) memiliki argumen yang sama θ tetapi moduli r ≠ ar


berbeda. Jika kita memplot z dan M ( z) dalam salinan yang sama dari
bidang kompleks, maka M ( z)adalah titik unik pada sinar yang berasal
dari 0 dan mengandung z yang jaraknya dari 0 adalah ar . Karena a> 1,
M ( z) adalah beberapa kali lebih jauh dari asal daripada z. Dengan
demikian, pemetaan linier M (z)=az dapat divisualisasikan dalam satu
salinan bidang kompleks sebagai proses memperbesar modulus titik z
dengan faktor a untuk mendapatkan titik M (z). Lihat Gambar 2.12.
Bilangan real a disebut faktor pembesaran M. Jika 0< a<1, maka
titik M ( z) adalah kali lebih dekat ke titik asal daripada titik z. Kasus
pembesaran khusus ini disebut penyusutan.

Gambar 2.12 Pembesaran

Contoh 3 Gambar Lingkaran di bawah Pembesaran


Temukan gambar lingkaran C yang diberikan oleh |z|=2 di bawah

pemetaan linear M ( z)=3 z .

Penyelesaian Karena M adalah pembesaran dengan faktor pembesaran

3, setiap titik pada lingkaran |z|=2 akan dipetakan ke titik dengan


argumen yang sama tetapi dengan modulus diperbesar oleh 3. Dengan
demikian, setiap titik dalam gambar akan memiliki modulus 3. 2=6 .
Poin gambar dapat memiliki dokumen sejak titik z dalam lingkaran

|z|=2 dapat memiliki dokumen apa pun. Oleh karena itu, gambar C '
adalah lingkaran|w|=6 yang berpusat pada titik asal dan memiliki jari-
jari 6. Pada Gambar 2.13 kami menggambarkan pemetaan ini dalam satu

salinan dari bidang kompleks. Di bawah pemetaan M (z)=3 z ,


lingkaran C yang ditunjukkan dalam warna pada Gambar 2.13 dipetakan
ke lingkaran C ' yang ditunjukkan dalam warna hitam pada Gambar
2.13.

Gambar 2.13 Gambar lingkaran


di bawah pembesaran

Meskipun pemetaan perbesaran akan mengubah ukuran gambar


di bidang kompleks, itu tidak akan mengubah bentuk dasarnya.

Misalnya, gambar segitiga S di bawah pembesaran M (z)=az juga


merupakan segitiga S ' . Karena panjang sisi S semua kali lebih panjang
dari panjang sisi S, maka S dan S ' adalah segitiga yang sama.

4. Pemetaan Linier
Kita sekarang siap untuk menunjukkan bahwa pemetaan linear

umum f (z)=az+ b adalah komposisi rotasi, pembesaran, dan


translasi. Ingatlah bahwa jika f dan g adalah dua fungsi, maka
komposisi f dan g adalah fungsi f ∘ gyang didefinisikan oleh
f ∘ g(z)=f ( g (z)). Nilai w=f ∘ g(z ) ditentukan terlebih dahulu
dengan mengevaluasi fungsi g pada z , kemudian mengevaluasi fungsi f
pada g(z ). Dengan cara yang sama, gambar, S ' ' , dari himpunan S di
bawah komposisi w=f ∘ g(z ) ditentukan terlebih dahulu dengan
menemukan gambar, S ' , dari S di bawah g, dan kemudian menemukan
gambar S ' ' dari S ' di bawah f .
Sekarang anggaplah bahwa umum f (z)=az+ b adalah fungsi
linier yang kompleks. Kami berasumsi bahwa a ≠ 0; jika tidak,
pemetaan kami adalah peta konstan f (z)=b, yang memetakan setiap
titik pada bidang kompleks ke titik tunggal b . Perhatikan bahwa kita
dapat mengmerealkankan f sebagai:
a
f ( z )=az+ b=|a| ( )
|a|
z +b (6)

Sekarang, langkah demi langkah, kita menyelidiki apa yang terjadi pada

titik z 0di bawah komposisi dalam (6). z 0pertama dikalikan dengan

a a
bilangan kompleks a /|a|. Karena || || || ||
a
= =1, pemetaan yang
a

a
kompleks w= z adalah rotasi yang memutar titik z 0 melalui sudut
|a|

θ=Arg (|aa|) radian tentang asal usulnya. Sudut rotasi juga dapat

ditulis sebagai θ=Arg(a) karena a /|a| adalah bilangan real. Biarkan


z 1 menjadi gambar z 0 di bawah rotasi ini oleh Arg(a). Langkah
selanjutnya dalam (6) adalah mengalikan z 1 dengan |a∨¿. Karena |
a∨¿ 0adalah bilangan real, pemetaan kompleks w=|a| zadalah
pembesaran dengan faktor pembesaran |a∨.Sekarang mari z 2 menjadi
gambar z 1di bawah perbesaran oleh |a∨¿. Langkah terakhir dalam
pemetaan linear kami di (6) adalah menambahkan b ke z 2. Pemetaan
kompleks w=z +b menerjemahkan z 2 oleh b ke titik w 0=f ( z 0) .
Kami sekarang meringkas deskripsi pemetaan linear.

Gambar Titik di bawah Pemetaan Linear


Misalkan f (z)=az+ b menjadi pemetaan linier dengan a ≠ 0 dan
biarkan z 0 menjadi titik pada bidang kompleks. Jika titik w 0=f ¿)
diplot dalam salinan yang sama dari bidang kompleks seperti z 0,
maka w 0 adalah titik yang diperoleh oleh

(i) memutar z 0 melalui sudut Arg(a) tentang titik asal,


(ii) memperbesar hasil dengan |a|, dan
(iii) menerjemahkan hasilnya dengan b.

Deskripsi gambar titik z 0 di bawah pemetaan linier ini juga


menggambarkan gambar setiap titik S. Secara khusus, gambar, S ' , dari
himpunan S di bawah f (z)=az+ b adalah himpunan titik diperoleh
dengan memutar S melalui Arg( a), memperbesar oleh |a|, dan
kemudian menerjemahkan dengan b.
Dari (6) kita melihat bahwa pemetaan linear kompleks setiap
non-konstan adalah komposisi paling banyak satu rotasi, satu
perbesaran, dan satu translasi. Kami menekankan frasa "paling banyak"
untuk menekankan fakta bahwa satu atau lebih peta yang terlibat

mungkin pemetaan identitas f (z)= z (yang memetakan setiap


bilangan kompleks ke dirinya sendiri). Misalnya, pemetaan linier

f (z)=3 z +i melibatkan pembesaran oleh 3 dan terjemahan oleh i,


tetapi tidak ada rotasi. Dengan kata lain, pemetaan f (z)=3 z +i adalah
komposisi rotasi melalui 0 radian, pembesaran oleh 3, dan translasi oleh

i. Juga terbukti dari (6) bahwa jika a ≠ 0 adalah bilangan kompleks,


R(z ) adalah rotasi melalui Arg(a), M ( z) adalah pembesaran oleh
|a|, dan T ( z) adalah terjemahan oleh b , maka komposisi
f ( z )=T ∘ M ∘ R( z )=T (M (R (z))) adalah fungsi linear yang
kompleks. Selain itu, karena komposisi sejumlah terbatas fungsi linier
sekali lagi merupakan fungsi linier, maka komposisi rotasi, perbesaran,
dan translasi secara halus adalah pemetaan linier.
Kita telah melihat bahwa translasi, rotasi, dan perbesaran
semuanya mempertahankan bentuk dasar dari sosok dalam bidang
kompleks. Pemetaan linier, oleh karena itu, juga akan mempertahankan
bentuk dasar sebuah gambar di bidang kompleks. Pengamatan ini adalah
sifat penting pemetaan linear yang kompleks dan layak diulang.

Pemetaan linear yang kompleks w=az +b dengan a ≠ 0 dapat


mengubah ukuran gambar di bidang kompleks, tetapi tidak dapat
mengubah bentuk dasar gambar.

Ketika menggambarkan fungsi linear sebagai komposisi rotasi,


perbesaran, dan terjemahan, perlu diingat bahwa urutan komposisi
penting. Untuk melihat hal ini, pertimbangkan pemetaan f (z)=2 z +i,
yang diperbesar oleh 2, kemudian diterjemahkan oleh i; jadi, 0 peta ke
saya di bawah f . Jika kita membalik urutan komposisi — yaitu, jika kita
menerjemahkan dengan i, maka memperbesar dengan 2 — efeknya
adalah 0 peta ke 2 i. Oleh karena itu, membalikkan susunan komposisi
dapat memberikan pemetaan yang berbeda. Namun, dalam beberapa
kasus khusus, mengubah susunan komposisi tidak mengubah pemetaan.
Pemetaan linear yang kompleks selalu dapat direpresentasikan
sebagai komposisi dalam lebih dari satu cara. Pemetaan kompleks

f (z)=2 z +i, misalnya, juga dapat direalkan sebagai

f (z)=2( z+i/2). Oleh karena itu, pembesaran oleh 2 diikuti oleh


terjemahan oleh i adalah pemetaan yang sama dengan terjemahan oleh

i /2 diikuti oleh pembesaran oleh 2.

Contoh 4 Gambar Persegi Panjang di Bawah Pemetaan Linear


Temukan gambar persegi panjang dengan simpul −1+i ,1+i ,1+2 i,
dan −1+2 i di bawah pemetaan linear f (z)=4 iz+2+3 i .

Penyelesaian Misalkan S adalah persegi panjang dengan simpul yang


diberikan dan biarkan S ' menunjukkan gambar S di bawah f . Kami
akan memplot S dan S ' dalam salinan yang sama dari bidang kompleks.
Karena f adalah pemetaan linear, diskusi kami sebelumnya menyiratkan
bahwa S ' ' memiliki bentuk yang sama dengan S. Artinya, S ' juga
merupakan persegi panjang. Jadi, untuk menentukan S ' , kita hanya
perlu menemukan simpulnya, yang merupakan gambar dari simpul S di
bawah f :
f (−1+i )=−2−i f ( 1+i )=−2+7 i
f ( 1+2 i )=−6+7 i f (−1+2 i )=−6−i

Oleh karena itu, S adalah persegi panjang dengan simpul

−2−i ,−2+7 i ,−6+7 i, dan −6−i.

Pemetaan linier f (z)=4 iz+2+3 i dalam Contoh 4 juga


dapat dilihat sebagai komposisi rotasi, pembesaran, dan translasi.

Karena Arg(4 i)=π /2 dan |4 i|=4 , f bertindak dengan memutar


melalui sudut π /2 radian terhadap sumbernya, memperbesar dengan 4,
lalu menerjemahkan dengan 2+3 i. Urutan ini

(a) Rotasi oleh π / 2 (b) Perbesaran oleh 4 (c) Translasi oleh 2 + 3i


Gambar 2.14 Pemetaan linear persegi panjang

pemetaan ditunjukkan pada Gambar 2.14. Pada Gambar 2.14 (a), persegi
panjang S yang ditunjukkan dalam warna diputar melalui π /2 ke
persegi panjang S1 yang ditunjukkan dalam warna hitam; pada Gambar
2.14 (b), persegi panjang S1 yang diperlihatkan dalam warna diperbesar
oleh 4 ke persegi panjang S2 yang ditunjukkan dalam warna hitam; dan
akhirnya, pada Gambar 2.14 (c), persegi panjang S2 yang ditunjukkan
dalam warna ditranslasikan oleh 2+3 i ke persegi panjang S yang
ditunjukkan dalam warna hitam.

Contoh 5 Pemetaan Linear Segitiga


Temukan fungsi linier kompleks yang memetakan segitiga sama sisi

3
dengan simpul 1+i ,2+i , dan + ( 1+2 √ 3 ) i ke segitiga sama sisi
2
dengan simpul i , √ 3+2 i, dan 3 i.

Penyelesaian Biarkan S1 menunjukkan segitiga dengan simpul

3
1+i ,2+i ,dan + ( 1+2 √ 3 ) i ditunjukkan dalam warna pada Gambar
2
2.15 (a), dan S ' mewakili segitiga dengan simpul i ,3 i , dan √ 3+2 i
yang ditunjukkan dalam warna hitam pada Gambar 2.15 (d). Ada

banyak cara untuk menemukan pemetaan linier yang memetakan S1 ke


S ' . Salah satu pendekatan adalah sebagai berikut: Kami pertama-tama
menerjemahkan S1 untuk memiliki salah satu simpulnya pada titik asal.
Jika kita memutuskan bahwa simpul 1+i harus dipetakan ke 0, maka ini

diselesaikan dengan translasi T 1( z)=z−(1+i). Biarkan S2 menjadi


gambar S1 di bawah T 1. Kemudian S2 adalah segitiga dengan simpul

1 1
0 , 1 , dan + √ 3 i ditunjukkan dalam warna hitam pada Gambar
2 2
2.15(a). Dari Gambar 2.15 (a), kita melihat bahwa sudut antara sumbu
1 1
imajiner dan tepi S2 yang berisi simpul 0 dan + √ 3 i adalah π /6.
2 2
Dengan demikian, rotasi melalui sudut π /6 radian berlawanan arah
jarum jam tentang asal akan memetakan S2 ke segitiga dengan dua
simpul pada sumbu imajiner. Rotasi ini diberikan oleh


( )
R ( z )= e 6 z= ( 12 √ 3+ 12 i) z , dan gambar S2 di bawah R adalah

1 1
segitiga S3 dengan simpul pada 0 , √3+ i , dan i ditunjukkan dalam
2 2
warna hitam pada Gambar 2.15(b). Sangat mudah untuk memeriksa

bahwa setiap sisi dari segitiga S3 memiliki panjang 1. Karena setiap sisi
dari segitiga yang diinginkan S ' memiliki panjang 2, kita selanjutnya
memperbesar S3 dengan faktor 2. Perbesaran M (z)=2 z memetakan
segitiga S3 yang ditunjukkan dalam warna pada Gambar 2.15 (c) pada
segitiga S4 dengan simpul 0 , √ 3+i, dan 2 i ditunjukkan dalam warna
hitam pada Gambar 2.15 (c). Akhirnya, kami menerjemahkan S4
dengani menggunakan pemetaan T 2( z)=z +i. Terjemahan ini
memetakan segitiga S4 yang ditunjukkan dalam warna pada Gambar
2.15 (d) ke segitiga S ' dengan simpul i, √ 3+2 i, dan 3 iditunjukkan
dalam warna hitam pada Gambar 2.15 (d).
(c) Perbesaran oleh (d) Translasi oleh
2
Gambar 2.15 Pemetaan linear segitiga

Sebagai kesimpulan, kami telah menemukan bahwa pemetaan linear:

f ( z )=T 2 ∘ M ∘ R∘ T 2 ( z )=( √ 3+i ) z +1−√ 3+ √3 i


memetakan segitiga S1 ke segitiga S ' .

.4 FUNGSI PANGKAT KHUSUS


Fungsi polinomial kompleks adalah fungsi dari bentuk

ρ ( z )=a n z n +an−1 z n−1 +…+ a1 z + a0di manan adalah bilangan


bulat positif dan, −1 , .. . , a1 ,a 0 adalah konstanta kompleks.
Secara umum, pemetaan polinomial yang kompleks bisa sangat
rumit, tetapi dalam banyak kasus khusus, tindakan pemetaan itu
mudah dipahami. Sebagai contoh, fungsi linear kompleks yang
dipelajari dalam Bagian 2.3 adalah polinomial kompleks dengan
derajat n=1.
Pada bagian ini kita mempelajari polinomial bentuk-bentuk
n
f ( z )=z , n ≥2. Tidak seperti pemetaan linier yang dipelajari pada
bagian sebelumnya, pemetaan w=z n , n≥ 2, tidak
mempertahankan bentuk dasar dari setiap gambar dalam bidang

kompleks. Terkait dengan fungsi z n, n ≥ 2, kami juga memiliki


fungsi akar ke-n utama z 1/ n. Fungsi akar ke-n utama adalah fungsi
invers dari fungsi z n yang didefinisikan pada domain yang cukup
dibatasi. Akibatnya, pemetaan kompleks terkait dengan z n, dan
z 1/ n terkait erat.

1. Fungsi Pangkat
Ingatlah bahwa fungsi real dari bentuk f (x)= xa , di mana a
adalah konstanta real, disebut fungsi pangkat. Kami membentuk fungsi
pangkat yang kompleks dengan membiarkan input atau eksponen
menjadi bilangan kompleks. Dengan kata lain, fungsi pangkat

kompleks adalah fungsi bentuk f (z)= zα di mana α adalah konstanta


kompleks. Jika α adalah bilangan bulat, maka fungsi pangkat z α dapat
dievaluasi menggunakan operasi aljabar pada bilangan kompleks dari

−3 1
Bab 1. Misalnya, z 2=z . z dan z = . Kita juga dapat
z. z. z
menggunakan rumus untuk mengambil akar bilangan kompleks dari
Bagian 1.4 untuk mendefinisikan fungsi pangkat dengan eksponen

pecahan dari bentuk 1/n. Misalnya, kita dapat mendefinisikan z 1/ 4


sebagai fungsi yang memberikan akar keempat utama dari z. Pada
bagian ini kita akan membatasi perhatian kita pada fungsi pangkat

kompleks khusus dari bentuk z n dan z 1/ n di mana n ≥ 2 dan n adalah


bilangan bulat.

.4.1 FUNGSI PANGKAT zn


Dalam subbab ini kami mempertimbangkan fungsi pangkat

kompleks dari bentuk z n, n ≥ 2. Adalah wajar untuk memulai


penyelidikan kami dengan fungsi yang paling sederhana, fungsi

kuadrat kompleks z 2.

1. Fungsi zn
Nilai fungsi pangkat kompleks f (z)= z2 mudah ditemukan dengan
menggunakan perkalian kompleks. Misalnya, pada z=2−i, kita
memiliki f ( 2−i )=(2−i)2=( 2−i ) .(2−i)=3−4 i. Memahami

pemetaan kompleks w=z 2, bagaimanapun, membutuhkan sedikit lebih


banyak pekerjaan. Kita mulai dengan merealkan pemetaan ini dalam

notasi eksponensial dengan mengganti simbol z dengan ℜiθ :


2
w=z 2=( ℜiθ ) =r 2 ei 2 θ (1)

Dari (1) kita melihat bahwa modulus r 2 dari titik w adalah kuadrat dari
modulus r dari titik z, dan bahwa argumen 2θ dari w adalah dua kali
argumen θ dari z. Jika kita memplot baik z dan w dalam salinan yang
sama dari bidang kompleks, maka w diperoleh dengan memperbesar z
dengan faktor r dan kemudian dengan memutar hasilnya melalui sudut θ
terhadap titik asal. Dalam Gambar 2.16 kita menggambarkan hubungan

antara z dan w=z 2 ketika r >1 dan θ>0 . Jika 0< r< 1, maka z diikat
oleh faktor r, dan jika θ<0 , maka rotasi searah jarum jam.
Penting untuk dicatat bahwa faktor perbesaran atau kontraksi dan

sudut rotasi yang terkait dengan w=f (z)=z2 bergantung pada di


mana titik z terletak di bidang kompleks. Misalnya, karena f (2)=4

dan f ( 2i )= −14 , titik z=2 diperbesar oleh 2 tetapi tidak diputar,

1
sedangkan titik z=i/2 diikat oleh dan diputar melalui π/4. Secara
2
umum, fungsi kuadrat z 2 tidak memperbesar modulus titik pada
lingkaran satuan ¿ z∨¿ 1 dan itu tidak memutar titik pada sumbu real
positif.

Gambar 2.16 Pemetaan

Deskripsi pemetaan w=z 2 dalam hal perbesaran dan rotasi dapat


digunakan untuk memvisualisasikan gambar dari beberapa himpunan
khusus. Sebagai contoh, perhatikan sinar yang berasal dari asal dan
membuat sudut φ dengan sumbu real positif. Semua titik pada sinar ini
memiliki argumen φ dan gambar dari titik-titik ini di bawah w=z 2
memiliki argumen 2φ. Dengan demikian, gambar terletak pada sinar
yang berasal dari asal dan membuat sudut 2φ dengan sumbu real positif.
Selain itu, karena modulus ρ suatu titik pada sinar dapat berupa nilai
dalam interval [0, ∞], modulus ρ2 dari suatu titik dalam gambar juga
dapat bernilai apa pun dalam interval [0, ∞]. Ini menyiratkan bahwa
sinar yang berasal dari asal membuat sudut φ dengan sumbu real positif
dipetakan ke sinar yang berasal dari asal membuat sudut 2φ dengan

sumbu real positif oleh w=z 2. Kita juga dapat membenarkan sifat
pemetaan z 2 ini dengan parameterisasi sinar dan gambarnya
menggunakan (8) dan (11) Bagian 2.2.

Contoh 1 Gambar Busur Melingkar di bawah w=z 2


Temukan gambar busur lingkaran yang didefinisikan oleh

|z|=2, 0 ≤ arg ( z ) ≤ π /2 ,dibawah pemetaan w=z 2.

Penyelesaian Misalkan C adalah busur lingkaran yang ditentukan oleh

|z|=2, 0 ≤ arg ( z ) ≤ π /2, ditunjukkan dalam warna pada Gambar 2.18


(a), dan biarkan C ' menunjukkan gambar C di bawah w=z 2. Karena
setiap titik dalam C memiliki modulus 2 dan karena pemetaan w=z 2
kuadratkan modulus suatu titik, maka setiap titik dalam C ' memiliki
modulus 22=4. Ini menyiratkan bahwa gambar C ' harus terkandung
dalam lingkaran |w|=4 berpusat pada titik asal dengan jari-jari 4.
Karena argumen titik-titik dalam C mengambil setiap nilai dalam

interval [0, π/2] dan karena pemetaan w=z 2 menggandakan argumen


titik, maka titik-titik tersebut di C ' ada argumen yang mengambil setiap

nilai dalam interval [2· 0 , 2·( π /2)]=[0 , π ]. Yaitu, himpunan C '


adalah setengah lingkaran yang didefinisikan oleh |w|=4 ,
0 ≤ arg(w) ≤ π . Sebagai kesimpulan, kami telah menunjukkan bahwa
w=z 2 memetakan busur lingkaran C yang ditunjukkan dalam warna
pada Gambar 2.17 (a) ke setengah lingkaran C ' yang ditunjukkan dalam
warna hitam pada Gambar 2.17 (b).

(a) Busur melingkar

(b) Gambar C
Cara alternatif untuk menemukan gambar dalam Contoh 1 adalah
dengan menggunakan parameterisasi. Dari (10) Bagian 2.2, busur

lingkaran C dapat diparameterisasi dengan z (t)=2e it , 0≤ t ≤ π /2,


dan oleh (11) Bagian 2.2 gambar C ' -nya diberikan oleh
w (t)=f ( z (t))=4 e i 2t ,0 ≤ t ≤ π /2. Dengan mengganti parameter t
dalam w (t) dengan parameter baru s=2t , kita memperoleh
W ( s)=4 e is, 0 ≤ s ≤ π , yang merupakan parametrization dari setengah
lingkaran |w|=4 , 0 ≤ arg(w) ≤ π .
Dengan cara yang sama, kami menemukan bahwa fungsi

kuadrat memetakan setengah lingkaran |z|=r ,−π /2≤ arg(z )≤ π /2,


ke dalam lingkaran |w|=r 2. Karena setengah bidang kanan ℜ( z) ≥0
terdiri dari kumpulan setengah lingkaran

|w|=r ,−π /2≤ arg(z )≤ π /2, di mana r mengambil setiap nilai


dalam interval ¿, kita mendapatkan bahwa gambar setengah-bidang ini

terdiri dari kumpulan lingkaran |w|=r 2 di mana r mengambil nilai apa


pun dalam [0, ∞ ). Ini menyiratkan bahwa w=z 2. memetakan setengah
bidang kanan ℜ( z) ≥0 ke seluruh bidang kompleks. Kami
menggambarkan sfat ini pada Gambar 2.18. Perhatikan bahwa gambar
dari dua setengah lingkaran yang berpusat pada 0 ditunjukkan dalam
warna pada Gambar 2.18 (a) adalah dua lingkaran yang ditunjukkan
dalam warna hitam pada Gambar 2.18 (b). Karena w=z 2 kuadratkan
modulus suatu titik, setengah lingkaran dengan jari-jari yang lebih kecil
pada Gambar 2.18 (a) dipetakan ke lingkaran dengan jari-jari yang lebih
kecil pada Gambar 2.18 (b), sedangkan setengah lingkaran dengan jari-
jari yang lebih besar pada Gambar 2.18 (a) adalah dipetakan ke
lingkaran dengan jari-jari yang lebih besar pada Gambar 2.18 (b). Kita
juga melihat dalam Gambar 2.18 bahwa sinar yang berasal dari asal dan
mengandung titik i dan sinar yang berasal dari asal dan mengandung
titik −i keduanya dipetakan ke sumbu real nonpositif. Dengan
demikian, sumbu imajiner yang ditunjukkan dalam warna pada Gambar
2.18 (a) dipetakan ke himpunan yang terdiri dari titik w=0 bersama-
sama dengan sumbu u negatif yang ditunjukkan dalam warna hitam
pada Gambar 2.18 (b). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih

dalam tentang pemetaan w=z 2 kita selanjutnya mempertimbangkan


gambar garis vertikal dan horizontal pada bidang kompleks.

(a) Setengah bidang Re (z) > 0


(b) Gambar setengah bidang di (a)

Gambar 2.18 Pemetaan

Contoh 2 Gambar garis vertikal di bawah w=z 2

Temukan gambar garis vertikal x=k di bawah pemetaan w=z 2.

Penyelesaian Dalam contoh ini, mudah untuk mengerjakan dengan

bagian real dan imajiner dari w=z 2yang, dari (1) di Bagian 2.1, adalah
u(x , y)=x2− y 2 dan v( x , y)=2 xy , masing-masing . Karena garis
vertikal x=k terdiri dari titik z=k+ iy ,−∞< y < ∞, maka gambar
dari garis ini terdiri dari semua titik w=u+iv di mana

u=k 2− y 2 , v=2 ky ,−∞ < y <∞ (2)

Jika k ≠ 0, maka kita dapat menghilangkan variabel y dari (2) dengan


menyelesaikan persamaan kedua untuk y=v /2 k dan kemudian
mengganti pernyataan ini ke dalam persamaan dan pertidaksamaan yang
tersisa. Setelah penyederhanaan, menghasilkan:

2
v
2
u=k − 2 ,−∞ <v < ∞ (3)
4k
Dengan demikian, gambar garis x=k (dengan k ≠ 0) di bawah w=z 2
adalah himpunan titik dalam bidang-w yang memenuhi (3). Yaitu,
gambar adalah parabola yang terbuka ke arah sumbu u negatif, memiliki

simpul pada (k 2 , 0 ¿, dan memiliki v-titik potong pada (0 , ± 2 k 2).


Perhatikan bahwa gambar yang diberikan oleh (3) tidak berubah jika k
digantikan oleh −k. Ini menyiratkan bahwa jika k ≠ 0, maka pasangan
garis vertikal x=k dan x=−k keduanya dipetakan ke parabola

u=k 2−v 2 /(4 k 2 ) oleh w=z 2.


Tindakan pemetaan w=z 2 pada garis vertikal digambarkan
pada Gambar 2.19. Garis vertikal x=k ,k ≠ 0, ditunjukkan dalam
warna pada Gambar 2.19 (a) dipetakan ke parabola yang ditunjukkan
dalam warna hitam pada Gambar 2.19 (b). Secara khusus, dari (3) kita
memiliki bahwa garis x=3 dan x=−3 ditunjukkan dalam warna pada
Gambar 2.19 (a) dipetakan ke parabola dengan simpul pada (9,0)
ditunjukkan dalam warna hitam pada Gambar 2.19 (b ). Dengan cara
yang sama, garis x=± 2 dipetakan ke parabola dengan simpul di (4,0),
dan garis x=± 1 dipetakan ke parabola dengan simpul di (1, 0). Dalam
kasus ketika k = 0, ini mengikuti dari (2) bahwa gambar dari garis x=0
(yang merupakan sumbu imajiner) diberikan oleh

u=− y 2 , v=0 ,−∞< y <∞


Oleh karena itu, kami juga memiliki bahwa sumbu imajiner dipetakan ke

sumbu real negatif oleh w=z 2. Lihat Gambar 2.19.


(a) Garis vertikal di bidang-z

(b) Gambar garis dalam (a)


Gambar 2.19 Pemetaan

Dengan modifikasi kecil, metode Contoh 2 dapat digunakan untuk


menunjukkan bahwa garis horizontal y=k , k ≠ 0 , dipetakan ke
parabola

v2
u= −k
4 k2
(4)

oleh w=z 2. Sekali lagi kita melihat bahwa gambar dalam (4) tidak
berubah jika k digantikan oleh −k , sehingga pasangan garis horizontal
y=k dan y=−k , k ≠ 0, keduanya dipetakan oleh w=z 2 ke parabola
diberikan oleh (4). Jika k =0, maka garis horizontal y=0 (yang
merupakan sumbu real) dipetakan ke sumbu real positif. Oleh karena itu,
(a) Garis horizontal di bidang-z

garis horizontal y=k , k ≠ 0, ditunjukkan dalam warna pada Gambar


2.20 (a) dipetakan oleh w=z 2 ke parabola yang ditunjukkan dalam
warna hitam pada Gambar 2.20 (b). Secara khusus, garis y=± 3
dipetakan ke parabola dengan simpul di (−9, 0), garis y=± 2 dipetakan
ke parabola dengan simpul di garis
(b) Gambar , 0)(a)
(−4dalam , dan garis y=± 1 dipetakan ke
parabola dengan simpul di (−1,0)
Gambar .
2.20 Pemetaan

Contoh 3 Gambar Segitiga di bawah w=z 2


Temukan gambar segitiga dengan simpul 0 , 1+i, dan 1−i di bawah
pemetaan w=z 2
Penyelesaian Misalkan S menunjukkan segitiga dengan simpul pada

0 , 1+i , dan 1−i , dan biarkan S' menunjukkan gambarnya di bawah


w=z 2. Masing-masing dari tiga sisi S akan diperlakukan secara
terpisah. Sisi S yang berisi simpul 0 dan 1+i terletak pada sinar yang
berasal dari asal dan membuat sudut π /4 radian dengan sumbu x
positif. Pada diskusi Anda sebelumnya, gambar segmen ini harus

terletak pada sinar yang membentuk sudut 2(π / 4 )=π /2 radian


dengan sumbu u positif.. Selanjutnya, karena moduli dari titik-titik di
tepi yang mengandung 0 dan 1+i bervariasi dari 0 hingga √ 2, moduli
2
gambar dari titik-titik ini bervariasi dari 02 =0 hingga ( √ 2 , ) =2.
Dengan demikian, gambar sisi ini adalah segmen garis vertikal dari 0
hingga 2 i yang terkandung dalam sumbu- v dan ditunjukkan dalam
warna hitam pada Gambar 2.21 (b). Dengan cara yang sama, kami
menemukan bahwa gambar sisi S yang mengandung simpul 0 dan 1−i
adalah segmen garis vertikal dari 0 hingga −2 i yang terdapat pada
sumbu- v . Lihat Gambar 2.21. Sisi S yang tersisa berisi simpul 1−i dan
1+i. Sisi ini terdiri dari himpunan titik z=1+iy ,−1≤ y ≤1. Karena
sisi ini terkandung dalam garis vertikal x=1, maka mengikuti dari (2)
dan (3) dari Contoh 2 yang gambarnya adalah segmen parabola yang

diberikan oleh w=z 2 :

v2
u=1− ,−2≤ v ≤ 2
4
Dengan demikian, kami telah menunjukkan bahwa gambar
segitiga S yang ditunjukkan dalam warna pada Gambar 2.21 (a) adalah
gambar S yang ditunjukkan dalam warna hitam pada Gambar 2.21b (b).

(a) Segitiga di bidang-z

(b) Gambar segitiga dalam (a)


Gambar 2.21 Pemetaan

2. Fungsi z n ,n> 2
Analisis yang mirip dengan yang digunakan untuk pemetaan w=z 2
dapat diterapkan ke pemetaan w=z n , n>2. Dengan mengganti simbol
z dengan ℜiθ kita memperoleh:

w=z n=r n e inθ (5)

Akibatnya, jika z dan w=z n diplot dalam salinan yang sama dari
bidang kompleks, maka pemetaan ini dapat divisualisasikan sebagai

proses memperbesar atau mengikat modulusr dari z ke modulus r n dari


w, dan memotong z tentang asal menambah argumen θ dari z ke
argumen nθ dari w .

Kita dapat menggunakan deskripsi w=z n ini untuk


menunjukkan bahwa sinar yang berasal dari asal dan membuat sudut φ
radian dengan sumbu x positif dipetakan ke sinar yang berasal dari asal
dan membuat sudutn radian dengan sumbu upositif. Sifat ini
diilustrasikan untuk pemetaan w=z 3 pada Gambar 2.22. Setiap sinar
yang ditunjukkan dalam warna pada Gambar 2.22 (a) dipetakan pada
sinar yang ditunjukkan dalam warna hitam pada Gambar 2.22 (b).

Karena pemetaan w=z 3 meningkatkan argumen titik dengan faktor 3,


sinar terdekat sumbu x pada kuadran pertama pada Gambar 2.22 (a)
dipetakan pada sinar di kuadran pertama pada Gambar 2.22 (b), dan
sinar yang tersisa di kuadran pertama pada Gambar 2.22 (a) dipetakan
pada sinar di kuadran kedua dalam Gambar 2.22 (b). Demikian pula,
sinar yang mendekati sumbu x pada kuadran keempat pada Gambar 2.22
(a) dipetakan pada sinar di kuadran keempat pada Gambar 2.22 (b), dan
sisa sinar pada kuadran keempat Gambar 2.22 (a) dipetakan ke atas.
sinar di kuadran ketiga pada Gambar 2.22 (b).

(a) Sinar pada bidang-z (b) Gambar sinar dalam (a)


Gambar 2.22 Pemetaan w=z 2

Contoh 4 Gambar Irisan Melingkar di Bawah w=z 3


Tentukan gambar seperempat cakram yang ditentukan oleh

pertidaksamaan |z|≤2 , 0 ≤ arg( z) ≤ π /2, di bawah pemetaan w=z 3.


Penyelesaian Biarkan S menunjukkan seperempat cakram dan biarkan

S ' menunjukkan gambarnya di bawah w=z 3.


Karena moduli titik dalam S bervariasi
dari 0 hingga 2 dan karena pemetaan
w=z 3kubus modulus suatu titik,
(a) Himpunan S untuk Contoh 4 maka moduli titik-titik dalam S'
bervariasi dari 03 =0hingga 23=8.
Selain itu, karena argumen titik dalam
S bervariasi dari 0 hingga π /2 dan

(b) Gambar S
Gambar 2.23 Pemetaan .
karena pemetaan w=z 3
melipatgandakan argumen suatu titik,
kami juga berpendapat bahwa argumen
titik di S ' bervariasi dari 0 hingga
3 π /2.
Karena itu, S ' adalah himpunan yang diberikan oleh ketidakssamaan

|w|≤ 8 ,0 ≤ arg( w)≤ 3 π /2, ditunjukkan dengan warna abu-abu pada


Gambar 2.23 (b). Singkatnya, himpunan S yang ditunjukkan dalam
warna pada Gambar 2.23 (a) dipetakan ke himpunan S ' yang

ditunjukkan dalam warna abu-abu pada Gambar 2.23 (b) oleh w=z 3.

.4.2 FUNGSI PANGKAT z 1/ n


Kita sekarang menyelidiki fungsi pangkat kompleks dari bentuk

z 1/ n di mana n adalah bilangan bulat dan n ≥ 2. Kita mulai dengan


kasus n=2.
1. Fungsi Akar Kuadrat Utama z 1/ 2
Dalam (4) Bagian 1.4 kita melihat bahwa akar ke- n dari

bilangan kompleks bukan nol z=r ( cos θ+i sin θ )=r e iθ diberikan
oleh:

θ+ 2 kπ θ+ 2 kπ
[ (
√n r cos
n )
+isin ( =√n r ei ¿¿
n )]
di mana k =0 , 1 ,2 , .. . , n−1. Secara khusus, untuk n=2, kita
memiliki bahwa dua akar kuadrat dari z adalah:
θ+ 2 kπ θ+ 2 kπ
[ (
√ r cos
n )
+isin (=√ r ei ¿¿
n )] (6)

untuk k =0 , 1. Rumus dalam (6) tidak mendefinisikan fungsi karena ia


menetapkan dua bilangan kompleks (satu untuk k =0 dan satu untuk
k =1) ke bilangan kompleks z . Namun, dengan menetapkan
θ=Arg (z ) dan k =0 dalam (6) kita dapat mendefinisikan fungsi yang
diberikan ke z akar kuadrat utama yang unik. Secara alami, fungsi ini
disebut fungsi akar kuadrat utama.

Definisi 2.4 Fungsi Akar Kuadrat Utama


Fungsi z 1/ 2didefinisikan oleh:

z 1/ 2=√|z|eiArg (z)/ 2
(7)
disebut fungsi akar kuadrat utama.

Jika kita menetapkan θ=Arg ¿) dan mengganti z dengan r e iθ di (7),


maka kita memperoleh deskripsi alternatif dari fungsi akar kuadrat
utama untuk ¿ z∨¿ 0:

z 1/ 2=√ r ei θ /2 , θ= Arg ( z ) . (8)

Anda harus mencatat bahwa simbol z 1/ 2yang digunakan dalam Definisi


2.4 mewakili sesuatu yang berbeda dari simbol yang sama yang

digunakan dalam Bagian 1.4. Dalam (7) kami menggunakan z 1/ 2untuk


mewakili nilai akar kuadrat utama dari bilangan kompleks z, sedangkan
pada Bagian 1.4 simbol z 1/ 2digunakan untuk mewakili himpunan dua
akar kuadrat dari bilangan kompleks z. Pengulangan notasi ini sangat
disayangkan, tetapi banyak digunakan. Untuk sebagian besar, konteks di

mana Anda melihat simbol z 1/ 2 harus memperjelas apakah kita merujuk


ke akar kuadrat utama atau sekumpulan akar kuadrat. Untuk
menghindari kebingungan, kadang-kadang kita juga akan secara

eksplisit merealkan "fungsi akar kuadrat utama z 1/ 2 n atau "fungsi


f (z)= z1 /2 yang diberikan oleh (7)”.

Contoh 5 Nilai z 1/ 2
Temukan nilai fungsi akar kuadrat utama z 1/ 2 pada titik-titik berikut:
(a) z=4 (b) z=−2 i (c) z=−1+i

Penyelesaian Di setiap bagian kita menggunakan (7) untuk menentukan

nilai z 1/ 2.
(a) Untuk z=4, kita memiliki |z|=|4|=4 dan Arg( z )= Arg(4)=0
, dan dari (7) kita memperoleh:
1 /2 i (1/ 2) i(0)
4 =√ 4 e =2 e =2
(b) Untuk z=−2 i, kami memiliki |z|=|−2 i|=2 dan

Arg( z )= Arg (−2i)=−π /2, dan dari (7) kita memperoleh:


−π
i( )/2
1 /2 2
(−2 i) = √ 2 e = √ 2 e−iπ /4 =1−i

(c) Untuk z=−1+i , kita memiliki |z|=|−1+i|=√ 2 dan


Arg( z )= Arg (−1+i)=3 π / 4, dan dari (7) kita memperoleh:
(−1+i)1 /2 =√( √2 ) e i(3 π / 4)/ 2=√4 2e i (3 π /8) ≈ 0,4551+1,0987 i

Hal ini penting bahwa kita menggunakan argumen utama ketika


kita mengevaluasi fungsi akar kuadrat utama dari Definisi 2.4.
Menggunakan pilihan yang berbeda untuk argumen z dapat memberikan
fungsi yang berbeda. Sebagai contoh, pada Bagian 1.4 kita melihat

−1 1
bahwa dua akar kuadrat darii adalah √ 2− √ 2i dan
2 2

−1 1
√ 2− √ 2i . Untuk z=i kita memilikinya |z|=1 dan
2 2
Arg( z )=π /2. Ini mengikuti dari (7) bahwa:
π
i ( )/2 2 2
i 1/ 2=√ 1 e 4
=1.e iπ / 4= √ + √ i
2 2
Oleh karena itu, hanya yang pertama dari dua akar i ini adalah nilai
fungsi akar kuadrat utama. Tentu saja, kita dapat mendefinisikan fungsi
"akar kuadrat" lainnya. Sebagai contoh, misalkan kita membiarkan θ
menjadi nilai unik dari argumen z dalam interval π <θ ≤3 π . Kemudian

−1 1
f (z)=¿ z ∨eiθ /2 mendefinisikan fungsi yang f ( i )= √2− √2 i.
2 2
Fungsi f bukan fungsi akar kuadrat utama tetapi terkait erat. Karena
π < Arg( z )+2 π ≤3 π , maka θ=Arg(z )+ 2 π , dan seterusnya
f ( z )= √|z|e iθ/ 2=√|z| ei (Agr ( z )+2 π )/2=√|z|e iAgr ( z )/ 2 e iπ .
Karena e iπ =−1, ungkapan di atas disederhanakan menjadi
f ( z )=− √|z|e iAgr ( z )/ 2 .. Yaitu, kami telah menunjukkan bahwa fungsi
f ( z )= √|z|e iθ/ 2, π <θ ≤3 π , adalah negatif dari fungsi akar kuadrat
utama z 1/ 2.

2. Fungsi Invers
Fungsi akar kuadrat utama z 1/ 2.yang diberikan oleh (7) adalah
fungsi invers dari fungsi kuadrat z 2 yang diperiksa di bagian pertama
bagian ini. Sebelum menguraikan pernyataan ini, kita perlu meninjau
beberapa istilah umum tentang fungsi invers.
Sebuah fungsi real harus satu-ke-satu agar memiliki fungsi
invers. Hal yang sama berlaku untuk fungsi yang kompleks. Definisi
fungsi kompleks satu-ke-satu sejalan dengan fungsi real. Yaitu, fungsi
kompleks f adalah satu-ke-satu jika setiap titik w dalam kisaran f
adalah gambar dari titik unik z, yang disebut pra-gambar w, dalam

domain f . Yaitu, f adalah satu-ke-satu jika setiap kali f (z 1)=f ( z 2),


maka z 1=z 2. Dengan kata lain, jika z 1 ≠ z 2, maka f (z 1)≠ f (z 2). Ini
mengatakan bahwa fungsi kompleks satu-ke-satu tidak akan memetakan
titik yang berbeda di bidang-z ke titik yang sama di bidang-w. Misalnya,

fungsi f (z)= z2 bukan satu-ke-satu karena f (i)=f (−i)=−1. Jika f


adalah fungsi kompleks satu-ke-satu, maka untuk setiap titik w dalam
kisaran f ada pra-gambar unik dalam bidang-z, yang kami tunjukkan
dengan f −1 ( w ). Korespondensi antara titik w dan pra-gambarnya
f −1 ( w ) mendefinisikan fungsi invers dari fungsi kompleks satu-ke-satu.

Definisi 2.5 Fungsi Invers


Jika f adalah fungsi kompleks satu-ke-satu dengan domain A dan
range B, maka fungsi invers dari f , dilambangkan dengan f −1,
adalah fungsi dengan domain B dan range A yang didefinisikan oleh
f −1 ( z )=w jika f (w)=z .

Ini mengikuti langsung dari Definisi 2.5 bahwa jika himpunan

S dipetakan ke himpunan S ' oleh fungsi satu-ke-satu f , maka f −1


memetakan S ' ke S. Dengan kata lain, pemetaan kompleks f dan f −1
“membatalkan " satu sama lain. Ini juga mengikuti dari Definisi 2.5

bahwa jika f memiliki fungsi invers, maka f (f −1 ( z ) )=z dan

f −1 ( f ( z ) )=z . Yaitu, dua komposisi f ∘ f −1 dan f −1 ∘ f adalah fungsi


identitas.

Contoh 6 Fungsi Invers dari f ( z )=z +3 i


Tunjukkan bahwa fungsi kompleks f ( z )=z +3 iadalah satu-ke-satu
pada seluruh bidang kompleks dan temukan rumus untuk fungsi
inversnya.

Penyelesaian Salah satu cara untuk menunjukkan bahwa f adalah satu-

ke-satu yaitu dengan menunjukkan bahwa persamaan f (z 1)=f ( z 2)


menyiratkan persamaan z 1=z 2,. Untuk fungsi f ( z )=z +3 i, ini
mengikuti langsung karena z 1+ 3i=z 2 +31 menyiratkan bahwa z 1=z 2
. Seperti halnya fungsi real, fungsi invers dari f seringkali dapat
ditemukan secara aljabar dengan menyelesaikan persamaan z=f (w)
untuk simbol w. Memecahkan z=w+3 i untuk w, kita memperoleh
w=z−3 i dan jadi f −1 ( z )=z −3i .

Dari Bagian 2.3 kita tahu bahwa pemetaan f ( z )=z +3 i dalam


Contoh 6 adalah terjemahan oleh 3 i dan bahwa f −1 ( z )=z −3i . adalah
terjemahan oleh −3 i. Misalkan kita menunjukkan pemetaan ini dalam
satu salinan dari bidang kompleks. Karena menerjemahkan suatu titik
dengan 3 i dan kemudian menerjemahkan gambar dengan −3 i
memindahkan titik asli kembali ke titik itu sendiri, kita melihat bahwa

pemetaan f dan f −1 “membatalkan” satu sama lain.

2. Fungsi Invers dari z n ,n ≥ 2


Kami sekarang menjelaskan bagaimana memperoleh fungsi

invers dari fungsi pangkat z n ,n ≥ 2. Ini membutuhkan beberapa


penjelasan karena fungsi f ( z )=z n , n ≥2, bukan satu-ke-satu. Untuk
i (θ+2 π / n)
melihat hal ini, pertimbangkan titik z 1=ℜiθ dan z 2=ℜ dengan

r ≠ 0. Karena n ≥ 2, titik z 1=z 2berbeda. Yaitu, z 1 ≠ z 2. Dari (5) kita


dapatkan bahwa f (z 1)=r n e i nθdan

f ( z 2 ) =r n ei ( nθ+2 π )=r n e inθ e i 2 π =r n einθ . Oleh karena itu, f bukan


satu-ke-satu karena f (z 1)=f ( z 2) tetapi z 1 ≠ z 2. Faktanya, n titik

berbeda z 1=ℜiθ , z 2=ℜi (θ+2 π / n),

z 3=ℜi(θ+4 π / n) ,. . . , z n=ℜi(θ+2 (n−1 )π / n)semuanya dipetakan ke titik


n
tunggal w=r n e i nθoleh f ( z )=z . Fakta ini diilustrasikan untuk n=6
pada Gambar 2.24. Enam titik z 1 , z 2 , .. . , z 6 dengan modulus yang
sama dan argumen yang berbeda dengan 2 π /6=π / 3 yang
ditunjukkan pada Gambar 2.24 semuanya dipetakan ke titik yang sama

dengan f ( z )=z 6 .

Gambar 2.24 Poin dipetakan ke titik yang sama dengan

Diskusi sebelumnya tampaknya menyiratkan bahwa fungsi

f ( z )=z n , n ≥2, tidak memiliki fungsi invers karena tidak satu-ke-satu.


Anda pernah mengalami masalah ini sebelumnya, ketika mendefinisikan
fungsi invers untuk fungsi real tertentu di kalkulus dasar. Misalnya,

fungsi real f (x)= x2dan g( x )=sin x bukan satu-ke-satu, namun kami


masih memiliki fungsi invers f −1 ( x )= √ x dan g−1 ( x )=arcsin x .
Kunci untuk mendefinisikan fungsi-fungsi invers ini adalah dengan

membatasi domain fungsi dengan tepat f (x)= x2 dan g( x )=sin x


untuk menetapkan di mana fungsinya satu-ke-satu. Misalnya, sedangkan

fungsi real f (x)= x2 yang didefinisikan pada interval(−∞, ∞) bukan


satu-ke-satu, fungsi yang sama didefinisikan pada interval ¿ adalah satu-
ke-satu. Demikian pula, g( x )=sin x bukan satu-ke-satu pada interval
(−∞, ∞) , tetapi itu satu-ke-satu pada interval[−π /2, π /2]. Fungsi
2
f −1 ( x )= √ x adalah fungsi invers dari fungsi f (x)= x yang
didefinisikan pada interval ¿. Karena Dom(f )=¿ dan

Range( f )=¿ , domain dan range f −1 ( x )= √ x keduanya ¿ juga. Lihat


Gambar 2.25. Dengan cara yang sama, g−1 ( x )=arcsin x adalah fungsi
invers dari fungsi g( x )=sin x yang ditentukan pada [−π /2, π /2].
Domain dan range g−1 adalah [−1 ,1] dan [−π /2, π / 2], masing-
masing. Lihat Gambar 2.26. Kami menggunakan ide yang sama untuk

fungsi pangkat kompleks z n ,n ≥ 2. Artinya, untuk mendefinisikan


fungsi invers untuk f ( z )=z n , n ≥2, kita harus membatasi domain f ke
himpunan yang f adalah fungsi satu-ke-satu.

(a). (b)
Gambar 2.25 didefinisikan pada [0, ∞) dan fungsi invers
(a) (b)
Gambar 2.26 didefinisikan pada dan
fungsi invers

Salah satu pilihan dari "domain terbatas" ini ketika n=2


ditemukan dalam contoh berikut.

Contoh 7 Domain Terbatas untuk f ( z )=z 2


Tunjukkan bahwa f ( z )=z 2 adalah fungsi satu-ke-satu pada himpunan
A yang didefinisikan oleh −π /2<arg( z )≤ π /2 dan ditunjukkan
dalam warna pada Gambar 2.27.

Gambar 2.27 Domain tempat adalah satu-ke-satu


Penyelesaian Seperti dalam Contoh 6, kami menunjukkan bahwa f

adalah satu-ke-satu dengan menunjukkan bahwa jika z 1 dan z 2 berada di


A dan jika f (z 1)=f (z 2), maka z 1=z 2. Jika f (z 1)=f ( z 2), maka

z 21=z 22, atau, ekuivalen, z 21−z 22=0. Dengan memfaktorkan ungkapan

ini, kita memperoleh ( z 1−z 2 ) ( z1 + z 2 )=0. Oleh karena itu z 1=z 2 atau
z 1=−z 2. Menurut definisi himpunan A , baik z 1 dan z 2 adalah bukan
nol. Pemeriksaan pada Gambar 2.27 menunjukkan bahwa jika z 2 dalam
A , maka −z 2 tidak dalam A . Ini menyiratkan bahwa z 1 ≠−z2 , karena
z 1 berada di A. Oleh karena itu, kami menyimpulkan bahwa z 1=z 2,
dan ini membuktikan bahwa f adalah fungsi satu-ke-satu pada A.

Teknik Contoh 7 tidak meluas ke fungsi z n ,n ≥ 2. Untuk


alasan ini kami menyajikan pendekatan alternatif untuk menunjukkan

bahwa f ( z )=z 2 adalah satu-ke-satu pada A, yang dapat dimodifikasi


untuk menunjukkan bahwa f ( z )=z n , n ≥2, adalah satu-ke-satu pada
domain yang sesuai. Seperti dalam Contoh 7, kita akan membuktikan

bahwa f ( z )=z 2 adalah satu-ke-satu pada A dengan menunjukkan


bahwa jika ( z 1 )=f ( z 2) untuk dua bilangan kompleks z 1 dan z 2 dalam
A, maka z 1=z 2. Misalkan z 1 dan z 2 berada di A, maka kita dapat
menulis z 1=r 1 ei θ dan z 2=r 2 e iθ dengan −π /2<θ1 ≤ π /2 dan
1 2

−π /2<θ2 ≤ π /2. Jika f ( z 1 ) =f ( z 2 ) , maka mengikuti dari (1) bahwa:


r 21 e i2 θ =r 22 e i 2θ
1 2
(9)

Dari (9) kami menyimpulkan bahwa bilangan kompleks r 21 e i2 θ dan


1

r 22 e i2 θ memiliki modulus dan argumen utama yang sama:


2

2 i 2θ 2 i 2θ
r 21=r 22 dan Arg ( r 1 e ) = Arg ( r 2 e )
1 2
(10)

Karena r 1dan r 2 positif, persamaan pertama dalam (10) menyiratkan


bahwa r 1=¿ r 2. Selain itu, karena −π /2<θ1 ≤ π /2 dan
−π / 2<θ2 ≤ π /2, maka −π <2 θ1 ≤ π dan −π <2 θ2 ≤ π . Ini berarti

bahwa Arg ( r 21 e i 2θ ) =2 θ1dan


1
Arg ( r 22 e i 2θ ) =2 θ2.
2
Fakta ini

dikombinasikan dengan persamaan kedua dalam (10) menyiratkan

bahwa 2 θ1=2 θ2, atau θ1=θ 2. Oleh karena itu, z 1 dan z 2sama karena
mereka memiliki modulus dan argumen pokok yang sama.

3. Invers dari f ( z )=z 2


Dalam Contoh 7 kita melihat bahwa fungsi kuadrat z 2 adalah
satu-ke-satu pada himpunan A yang didefinisikan oleh

−π / 2<arg(z )≤ π /2. Ini mengikuti dari Definisi 2.5 bahwa fungsi


ini memiliki fungsi invers yang didefinisikan dengan baik f −1. Kita
sekarang melanjutkan untuk menunjukkan bahwa fungsi invers ini

adalah fungsi akar kuadrat utama z 1/ 2 dari Definisi 2.4. Untuk


melakukannya, misalkan z=ℜiθdan w=ρ e iφ di mana θ dan φ adalah
argumen utama masing-masing z dan w. Misalkan w=f −1 (z). Karena
range f −1adalah domain dari f , argumen utama φ dari w harus
memenuhi:
−π π
< φ< (11)
2 2
Di sisi lain, dengan Definisi 2.5, f ( w )=w2=z . Karenanya, w adalah
salah satu dari dua akar kuadrat dari z yang diberikan oleh (6). Yaitu,

baik w=√ r e iθ/2 atau w=√ r e i¿ ¿. Asumsikan bahwa w adalah yang


terakhir. Yaitu, asumsikan itu

√ r ei ¿ ¿ (12)
Karena θ=Arg (z ), kita memiliki −π <θ ≤ π , dan,

π /2<(θ+ 2 π )/2≤ 3 π /2. Dari sini dan (12) kami menyimpulkan


bahwa argumen utama φ dari w harus memenuhi −π <φ ≤−π /2atau
π /2<φ ≤ π . Namun, ini tidak mungkin benar karena −π /2<φ ≤ π /2
oleh (11), dan asumsi kami dalam (12) pasti salah. Oleh karena itu, kami

menyimpulkan bahwa w=√ r e iθ/2, yang merupakan nilai dari fungsi


akar kuadrat utama z 1/ 2 yang diberikan oleh (8).

(a) Domain dari (b) Range dari


Gambar 2.8 Fungsi akar kuadrat utama
2
Karena z 1/ 2 adalah fungsi invers dari f ( z )=z yang didefinisikan
pada himpunan −π /2<arg( z )≤ π /2, maka domain dan range z 1/ 2
adalah range dan domain dari f , masing-masing. Secara khusus, Range
1 /2
z 1/ 2= A , yaitu, Range(z ) adalah himpunan kompleks yang
memenuhi −π /2<arg( w)≤ π /2. Untuk menemukan Dom( z 1 /2)
kita perlu menemukan kisaran f . Pada Contoh 1 bagian 2.4.1 kita
melihat bahwa w=z 2 memetakan setengah bidang kanan ℜ( z) ≥0 ke
seluruh bidang kompleks. Lihat Gambar 2.18. Himpunan A sama

dengan setengah bidang kanan ℜ( z) ≥0 idak termasuk himpunan titik


pada sinar yang berasal dari titik asal dan mengandung titik −i. Artinya,

A tidak termasuk titik z=0 atau poin yang memenuhi arg( z )=−π /2
. Namun, kita telah melihat bahwa gambar himpunan arg( z )=π /2 —
sumbu imajiner positif — sama dengan gambar himpunan

arg( z )=−π /2. Kedua himpunan dipetakan ke sumbu real negatif.


Karena himpunan arg(z )=π /2 terkandung dalam A, maka perbedaan
satu-satunya antara gambar himpunan A dan gambar setengah bidang

kanan ℜ( z) ≥0 adalah gambar titik z=0 , yang merupakan titik w=0 .


Yaitu, himpunan A yang didefinisikan oleh −π / 2<arg(z )≤ π /2
dipetakan ke seluruh bidang kompleks tidak termasuk titik w=0 oleh
1 /2
w=z 2, dan domain f ( z )=z adalah seluruh bidang kompleks C
−1

tidak termasuk 0. Secara ringkas, kami telah menunjukkan bahwa fungsi


akar kuadrat utama w=z 1/ 2memetakan bidang kompleks C tidak
termasuk 0 ke himpunan yang didefinisikan oleh

−π /2<arg( w)≤ π /2. Pemetaan ini digambarkan pada Gambar 2.28.


Lingkaran ¿ z∨¿ r ditunjukkan dalam warna pada Gambar 2.28 (a)
dipetakan ke setengah lingkaran ¿ w∨¿ √ r ,−π /2<arg( w)≤ π /2,
ditunjukkan dalam warna hitam pada Gambar 2.28 (b) oleh w=z 1/ 2.
Selanjutnya, sumbu real negatif yang ditunjukkan dalam warna pada

Gambar 2.28 (a) dipetakan oleh w=z 1/ 2 ke sumbu imajiner positif yang
ditunjukkan dalam warna hitam pada Gambar 2.28 (b). Tentu saja, jika
perlu, fungsi akar kuadrat utama dapat diperluas untuk memasukkan
titik 0 dalam domainnya.

4. Pemetaan w=z 1/ 2

Sebagai pemetaan, fungsi z 2 mengkuadratkan modulus suatu


titik dan menggandakan argumennya. Karena fungsi akar kuadrat utama

z 1/ 2 adalah fungsi invers dari z 2, maka pemetaan w=z 1/ 2 mengambil


akar kuadrat dari modulus suatu titik dan membagi dua argumen

utamanya. Yaitu, jika w=z 1/ 2, maka kita memiliki |w|= √|z| dan

1
Arg( w)= Arg( z ). Relasi ini mengikuti langsung dari (7) dan
2
membantu dalam menentukan gambar himpunan di bawah w=z 1/ 2.

Contoh 8 Gambar Sektor Edaran di bawah w=z 1/ 2


Temukan gambar himpunan S yang didefinisikan oleh

|z|≤3 , π /2 ≤arg(z )≤ 3 π / 4 , di bawah fungsi akar kuadrat utama.

Penyelesaian Misalkan S ' menunjukkan gambar S di bawah w=z 1/ 2.


Sejak |z|≤3 untuk poin dalam S dan karena z 1/ 2mengambil akar
kuadrat dari modulus suatu titik, kita harus memiliki itu |w|≤ √ 3 untuk
titik w dalam S ' . Selain itu, karena π /2≤ arg(z )≤ 3 π /4 untuk titik
dalam S dan karena z 1/ 2 membagi dua argumen dari sebuah titik, maka
π /4 ≤ arg( w)≤ 3 π /8 untuk titik w dalam S ' . Oleh karena itu, kami
telah menunjukkan bahwa himpunan S yang ditunjukkan dalam warna
pada Gambar 2.29 (a) dipetakan ke himpunan S ' yang ditunjukkan
dalam warna abu-abu pada Gambar 2.29 (b) oleh w=z 1/ 2.

(a) Sektor Melingkar


(b) Gambar set di (a)
Gambar 2.29 Pemetaan

5. Fungsi Akar ke-n Utama


Dengan menunjukkan argumen yang diberikan pada pembahasan

sebelumnya bahwa fungsi f (z)= z2 adalah satu-ke-satu pada

himpunan yang didefinisikan oleh −π / 2<arg(z )≤ π /2, kita dapat


menunjukkan bahwa fungsi pangkat kompleks f (z)= zn , n>2, adalah
satu-ke-satu pada himpunan yang ditentukan oleh
−π π
< arg ⁡( z)<
n n
(13)
Juga relatif mudah untuk melihat bahwa gambar himpunan didefinisikan

oleh (13) di bawah pemetaan w=z n adalah seluruh bidang kompleks C


tidak termasuk w=0 . Oleh karena itu, ada fungsi invers yang
didefinisikan dengan baik untuk f . Sejalan dengan kasus n=2, fungsi
invers z n ini disebut fungsi akar ke-n z 1/ n. Domain z 1/ n adalah
himpunan semua bilangan kompleks bukan nol, dan range z 1/ n adalah
himpunan bilangan kompleks dengan memenuhi
−π /n< arg( w)≤ π /n. Deskripsi aljabar murni dari fungsi akar n
utama diberikan oleh rumus berikut, yang sejalan dengan (7).

Definisi 2.6 Fungsi Akar ke-n Utama


Untuk n ≥ 2, fungsi z 1/ n didefinisikan oleh:

z 1/ n=√n |z|eiArg (z )/ n
(14)
disebut fungsi akar ke-n utama.

Perhatikan bahwa fungsi akar kuadrat utama z 1/ n dari Definisi


2.4 hanyalah kasus khusus (14) dengan n=2. Perhatikan juga bahwa
dalam Definisi 2.6 kita menggunakan simbol z 1/ n untuk mewakili
sesuatu yang berbeda dari simbol yang sama yang digunakan dalam

Bagian 1.4. Seperti halnya simbol z 1/ n, apakah z 1/ n mewakili akar ke-n


utama atau sekumpulan akar ke-n utama akan jelas dari konteksnya atau
direalkan secara eksplisit.
Dengan mengatur z=r e iθ dengan θ=Arg (z ) kita juga dapat
merealkan fungsi akar ke-n utama sebagai:

z 1/ n=√n r eiθ /n , θ=Arg(z ) (15)

Contoh 9 Nilai dari z 1/ n


Temukan nilai fungsi akar ke-n utama yang diberikan z 1/ n pada titik
yang diberikan z.
(a) z 1/ 3 ; z=i (b) z 1/ 5 ; z=1−√ 3i
Penyelesaian Di setiap bagian kita menggunakan (14).
(a) Untuk z=i , kami memiliki |z|=1dan Arg( z )=π /2. Mengganti
nilai-nilai ini dalam (14) dengan n=3 kita memperoleh:

3 1
i 1/ 3=√ 1 ei (π /2)/ 3=e iπ /6= √ + i
3

2 2
(b) Untuk z = 1− √3 i, kami memiliki |z|=2 dan Arg( z )=−π /3.
Mengganti nilai-nilai ini dalam (14) dengan n=5 kita
memperoleh:
1/ 5
( 1− √ 3 i ) =√5 2 ei (−π / 3)/5= √5 2 e i(π / 15) ≈ 1,1236−0,2388 i.

6. Fungsi Multi-Nilai
Dalam Bagian 1.4 kita melihat bahwa bilangan kompleks bukan
nol z memiliki n akar ke-n berbeda di bidang kompleks. Ini berarti
bahwa proses “mengambil akar ke-n ” dari bilangan kompleks z tidak
mendefinisikan fungsi kompleks karena ia menetapkan sekumpulan
bilangan kompleks ke bilangan kompleks z. Kami memperkenalkan

simbol z 1/ ndi Bagian 1.4 untuk mewakili himpunan yang terdiri dari
akar ke-n dari z . Jenis proses yang serupa adalah menemukan argumen

bilangan kompleks z . Karena simbol arg(z ) mewakili sekumpulan


nilai yang tak terbatas, ia juga tidak mewakili fungsi yang kompleks.
Jenis operasi pada bilangan kompleks ini adalah contoh dari fungsi
bernilai ganda. Istilah ini sering menimbulkan kebingungan karena
fungsi bernilai ganda bukanlah fungsi; suatu fungsi, menurut definisi,
harus bernilai tunggal. Namun disayangkan, istilah fungsi multi-nilai
adalah standar dalam analisis kompleks dan karenanya kami akan
menggunakannya sejak saat ini. Kami akan mengadopsi notasi
fungsional berikut untuk fungsi multi-nilai.
Notasi: Fungsi Multi-Nilai
Ketika menunjukkan fungsi multi-nilai dengan notasi

fungsional, kami akan menggunakan huruf besar seperti F (z)=z 1 /2


atau G(z )=arg(z ). Huruf kecil seperti f dan g akan disediakan
untuk mewakili fungsi.

Notasi ini akan membantu menghindari kebingungan yang terkait

dengan simbol seperti z 1/ n. Sebagai contoh, kita harus mengasumsikan


bahwa g( z )=z 1/ 3 merujuk ke fungsi akar pangkat tiga utama yang
didefinisikan oleh (14) dengan n=3, sedangkan, G(z )=z 1/ 3 mewakili
fungsi bernilai ganda yang ditetapkan tiga akar pangkat tiga dengan nilai

1 1
z. Jadi, kita memiliki g ( i )= √ 3+ i dari Contoh 9 (a) dan
2 2

G(i)= {12 √3+ 12 i ,− 12 √ 3+ 12 i,−i} dari Contoh 1 dari Bagian 1.4.

.5 FUNGSI TIMBAL BALIK


Pada Bagian 2.3 dan 2.4 kami menguji beberapa tipe khusus
fungsi polinomial sebagai pemetaan bidang kompleks. Sejalan
dengan fungsi real, kita mendefinisikan fungsi rasional kompleks

menjadi fungsi bentuk f (z)= p (z)/q (z) di mana p( z ) dan


q ( z) adalah fungsi polinomial yang kompleks. Pada bagian ini,
kita mempelajari fungsi rasional kompleks yang paling mendasar,
fungsi timbal balik 1/ z, sebagai pemetaan bidang kompleks. Sifat
penting dari pemetaan timbal balik adalah pemetaan garis-garis
tertentu ke lingkaran.

1. Fungsi Timbal Balik


Fungsi 1/ z, yang domainnya adalah himpunan semua bilangan
kompleks bukan nol, disebut fungsi timbal balik. Untuk mempelajari
fungsi timbal balik sebagai pemetaan kompleksw=1/ z , kita mulai
dengan mengmerealkankan fungsi ini dalam notasi eksponensial.

Diberikan z ≠ 0 , jika kita mengatur z=r e iθ, maka kita memperoleh:

1 1 1
w= = iθ = e−iθ (1)
z re r

Dari (1), kita melihat bahwa modulus w adalah kebalikan dari modulus z
dan bahwa argumen w adalah negatif dari argumen z. Oleh karena itu,
fungsi timbal balik memetakan titik di bidang-z dengan koordinat polar

(r , θ)ke titik di bidang-w dengan koordinat polar (1/r ,−θ). Dalam


Gambar 2.30, kami menggambarkan hubungan antara z dan w=1/ z
dalam satu salinan bidang kompleks. Seperti yang akan kita lihat, cara
sederhana untuk memvisualisasikan fungsi timbal balik sebagai
pemetaan kompleks adalah sebagai komposisi inversi dalam lingkaran
satuan diikuti oleh refleksi melintasi sumbu real.
Gambar 2.30 Pemetaan timbal
balik

Kami sekarang melanjutkan untuk mendefinisikan dan menganalisis


masing-masing pemetaan ini.

2. Pembalikan di Lingkaran Unit


Fungsinya
1
g ( z )= e−iθ (2)
r
yang domainnya adalah himpunan semua bilangan kompleks bukan nol,
disebut inversi dalam lingkaran unit. Kami akan menggambarkan
pemetaan ini dengan mempertimbangkan secara terpisah gambar titik
pada lingkaran satuan, titik di luar lingkaran satuan, dan titik di dalam
lingkaran satuan. Pertimbangkan dulu titik z pada lingkaran unit. Karena

1 iθ
z=1. e iθ, maka dari (2) g ( z )= e =z . Oleh karena itu, setiap titik
1
pada lingkaran unit dipetakan ke dirinya sendiri oleh g. Jika, di sisi lain,
z adalah bilangan kompleks bukan nol yang tidak terletak pada

lingkaran satuan, maka kita dapat menulis z sebagai z=r e iθ dengan


r ≠ 1. Ketika r >1 (yaitu, ketika z berada di luar unit lingkaran), kami

memilikinya |g(z )|= |1r e |= 1r < 1



Jadi, gambar di bawah g dari
(a) titik, , dan pada bidang-z (b) Gambar-gambar , , dan
di bidang-w
Gambar 2.31 Pembalikan dalam lingkaran unit

titik z di luar lingkaran satuan adalah titik di dalam lingkaran satuan.


Sebaliknya, jika r <1 (yaitu, jika z berada di dalam lingkaran unit),

1
maka |g(z )|= > 1, dan kami menyimpulkan bahwa jika z berada di
r
dalam lingkaran satuan, maka gambarnya di bawah g berada di luar
lingkaran satuan. Pemetaan w=e iθ /r diwakili dalam Gambar 2.31.
Lingkaran |w|=1ditunjukkan dalam warna pada Gambar 2.31 (a)

dipetakan ke lingkaran |w|=1ditunjukkan dalam warna hitam pada

Gambar 2.31 (b). Selain itu, w=e iθ /r memetakan wilayah yang


diperlihatkan dalam warna terang pada Gambar 2.31 (a) ke wilayah yang
ditunjukkan dengan warna abu-abu terang pada Gambar 2.31 (b), dan
memetakan wilayah yang ditampilkan dalam warna gelap pada Gambar
2.31 (a) ke dalam wilayah yang ditunjukkan dalam dalam abu-abu gelap
pada Gambar 2.31 (b).
Kami mengakhiri diskusi kami tentang pembalikan dalam

lingkaran unit dengan mengamati dari (2) bahwa argumen z dan g( z )


adalah sama. Oleh karena itu jika z 1 ≠ 0 adalah titik dengan modulus r
di bidang-z, maka g( z 1) adalah titik unik di bidang-w dengan modulus
1/r terletak pada sinar yang berasal dari titik asal sehingga membentuk
sudut arg(z 0 ) dengan sumbu u positif. Lihat Gambar 2.31. Selain itu,
karena moduli z dan g( z ) berbanding terbalik, semakin jauh suatu titik
z adalah dari 0 pada bidang-z, semakin dekat gambarnya g (z) ke 0 pada
bidang-w , dan, sebaliknya, semakin dekat z ke 0 , semakin jauh g(z )
berasal dari 0 .

3. Konjugasi Kompleks
Pemetaan kompleks kedua yang berguna untuk menggambarkan
pemetaan timbal balik adalah refleksi melintasi sumbu real. Di bawah

pemetaan ini gambar titik ( x , y ) adalah ( x ,− y ). Mudah untuk


memeriksa bahwa pemetaan kompleks ini diberikan oleh fungsi

c (z )= ź, yang kita sebut fungsi konjugasi kompleks. Pada Gambar


2.32, kami menggambarkan hubungan antara z dan gambarnya c (z )
dalam satu salinan bidang kompleks. Dengan mengganti simbol z

dengan ℜiθ kita juga dapat mengmerealkankan fungsi konjugasi

c (z )= ℜ´ =ŕ e´ . Karena r adalah real, kita


iθ iθ
kompleks sebagai

memiliki ŕ =r . Fungsi konjugasi kompleks dapat dituliskan sebagai


c ( z ) = ź=ℜ−iθ.
Gambar 2.32 Konjugasi Kompleks

4. Pemetaan Timbal Balik


Fungsi timbal balik f (z)=1/ z dapat ditulis sebagai komposisi
inversi dalam lingkaran satuan dan konjugasi kompleks. Dengan

menggunakan bentuk eksponensial c (z )=r e−iθ dan g( z )=e iθ /r dari


fungsi-fungsi ini, kami menemukan komposisi c ∘ g diberikan oleh

c ( g( z) ) =c ( 1r e )= 1r e
iθ −iθ

Dengan membandingkan pernyataan ini dengan (1), kita melihat bahwa

c (g(z ))=f ( z )=1/ z . Ini menyiratkan bahwa, sebagai pemetaan,


fungsi timbal balik pertama-tama membalikkan dalam lingkaran unit,
kemudian merefleksikan sumbu real.

Gambar Titik di bawah Pemetaan Timbal Balik


Biarkan z 1 menjadi titik nol di bidang kompleks. Jika titik
w 0=f (z 0)=1/z 0 diplot dalam salinan yang sama dari bidang
kompleks seperti z 0, maka w 0 adalah titik yang diperoleh dengan:
(i) membalikkan z 0 dalam lingkaran unit, lalu
(ii) mencerminkan hasil melintasi sumbu real

Contoh 1 Gambar setengah lingkaran di bawah w=1/ z .


Temukan gambar setengah lingkaran |w|=2, 0 ≤ arg( z)≤ π , di

bawah pemetaan timbal balik w=1/ z .


Penyelesaian Biarkan C
menunjukkan setengah lingkaran
dan biarkan C ' menunjukkan
gambarnya di bawah w=1/ z .
Untuk menemukan C ' , pertama-
tama kita membalikkan C di
lingkaran unit, lalu kita
mencerminkan hasil melintasi
Gambar 2.33 Pemetaan sumbu real. Di bawah inversi
timbal balik
dalam lingkaran unit, titik dengan
modulus 2 memiliki gambar

1
dengan modulus . Selain itu,
2
inversi dalam lingkaran unit tidak
mengubah argumen.
Jadi, gambar C yang dibalik dalam satuan lingkaran adalah setengah

1
lingkaran|w|= ,0 ≤ arg(z )≤ π . Mencerminkan himpunan ini di
2
sumbu real meniadakan argumen titik tetapi tidak mengubah
modulusnya. Oleh karena itu, gambar setelah refleksi melintasi sumbu
real adalah setengah lingkaran yang diberikan oleh

1
|w|= ,0 ≤ arg(z )≤ π . Kami mewakili pemetaan ini pada Gambar
2
2.33 menggunakan satu salinan bidang kompleks. Setengah lingkaran C
yang ditunjukkan dalam warna dipetakan pada setengah lingkaran C'
yang ditunjukkan dalam warna hitam pada Gambar 2.33 oleh w=1/ z .

Menggunakan penalaran yang mirip dengan yang ada pada


Contoh 1 kita dapat menunjukkan bahwa fungsi timbal balik memetakan

lingkaran |z|=k , k ≠0 , ke lingkaran |w|=1/k .Seperti contoh berikut


menggambarkan, fungsi timbal balik juga memetakan garis-garis
tertentu ke lingkaran.

Contoh 2 Gambar Garis di bawah w=1/ z


Temukan gambar garis vertikal x=1di bawah pemetaan timbal balik
w=1/ z .

Penyelesaian Garis vertikal x=1 terdiri dari himpunan titik z=1+iy ,


−∞ < y < ∞ . Setelah mengganti simbol z dengan 1+iy di w=1/ z
dan menyederhanakan, kita memperoleh:

1 1 y
w= = − i
1+ iy 1+ y 2 1+ y 2

Oleh karena itu, gambar garis vertikal x=1 di bawah w=1/ z terdiri
dari semua poin u+iv yang memenuhi:

1 −y
u= 2
, v= dan −∞< y < ∞ . (3)
1+ y 1+ y 2

Kita dapat menggambarkan gambar ini dengan persamaan Cartesian


tunggal dengan menghilangkan variabel y . Amati dari (3) bahwa
v=− yu. Persamaan pertama dalam (3) menyiratkan bahwa u ≠ 0, dan
dengan demikian dapat menulis ulang persamaan ini sebagai y=−v /u.
Sekarang kita mengganti y=−v /uke dalam persamaan pertama (3)
dan menyederhanakan untuk mendapatkan persamaan kuadrat

u2−u+ v 2=0. Oleh karena itu, setelah menyelesaikan kuadrat dalam


variabel u, kita melihat bahwa gambar yang diberikan dalam (3) juga
diberikan oleh

1 2 2 1
( )
u−
2
+v = ,u≠ 0
4
(4)

Persamaan dalam (4) mendefinisikan lingkaran yang berpusat pada

1
( 12 , 0) dengan jari-jari
2
. Namun, karena u ≠ 0, titik (0 , 0) tidak ada

dalam gambar. Menggunakan variabel kompleks w=u+iv , kita dapat

mendeskripsikan gambar ini dengan |w− 12|= 12 , w ≠ 0 . Kami

mewakili pemetaan ini menggunakan satu salinan dari bidang kompleks.


Pada Gambar 2.34, garis x=1 yang ditunjukkan dalam warna dipetakan

ke lingkaran |w− 12|= 12 tidak termasuk titik w = 0 yang ditunjukkan

dalam warna hitam dengan w=1/ z .

Gambar 2.34 Pemetaan timbal balik


Penyelesaian dalam Contoh 2 agak tidak memenuhi karena gambar

bukan seluruh lingkaran |w− 12|= 12 . Hal ini terjadi karena titik-titik

pada garis x=1 dengan peta modulus yang sangat besar ke titik-titik

pada lingkaran |w− 12|= 12 yang sangat dekat dengan 0 , tetapi tidak

ada titik pada garis x=1 yang sebenarnya memetakan ke 0 . Untuk


mendapatkan seluruh lingkaran sebagai gambar garis, kita harus
mempertimbangkan fungsi timbal balik yang didefinisikan pada sistem
bilangan kompleks yang diperluas.
Dalam Keterangan di Bagian 1.5 kami melihat bahwa sistem
bilangan kompleks yang diperluas terdiri dari semua titik di bidang
kompleks yang disatukan dengan titik ideal ∞ . Dalam konteks pemetaan
himpunan titik ini umumnya disebut sebagai bidang kompleks yang
diperluas. Sifat penting dari bidang kompleks yang diperluas untuk
diskusi kita di sini adalah korespondensi, dijelaskan dalam Bagian 1.5,
antara titik-titik pada bidang kompleks yang diperluas dan titik-titik
pada bidang kompleks. Secara khusus, titik-titik dalam bidang kompleks
yang diperluas yang berada di dekat titik ideal ∞ sesuai dengan titik-titik
dengan modulus yang sangat besar di bidang kompleks.
Kami menggunakan korespondensi ini untuk memperluas
fungsi timbal balik ke fungsi yang domain dan jangkauannya adalah
bidang kompleks yang diperluas. Karena (1) telah mendefinisikan fungsi
timbal balik untuk semua titik z ≠ 0 atau ∞ dalam bidang kompleks
yang diperluas, kami memperluas fungsi ini dengan menentukan gambar

0 dan ∞ . Cara alami untuk menentukan gambar dari titik-titik ini adalah
dengan mempertimbangkan gambar dari titik-titik di dekatnya.

Perhatikan bahwa jika z=r e iθadalah titik yang mendekati 0, maka r

1 1
adalah bilangan real positif kecil. Oleh karena itu, w= = e−iθ
z r
adalah titik yang modulus 1/r nya besar. Yaitu, dalam bidang kompleks
yang diperluas, jika z adalah titik yang mendekati 0, maka w=1/ z
adalah titik yang dekat dengan titik ideal ∞. Karena itu masuk akal

untuk mendefinisikan fungsi timbal balik f (z)=1/ z pada bidang


kompleks yang diperluas sehingga f (0)=∞ . Dengan cara yang sama,
kami mencatat bahwa jika z adalah titik yang dekat ∞ dalam bidang
kompleks yang diperluas, maka f ¿ ) adalah titik yang dekat 0. Dengan
demikian, juga masuk akal untuk mendefinisikan fungsi timbal balik

pada perluasan bidang kompleks sehingga f (∞ )=0.

Definisi 2.7 Fungsi Timbal Balik pada Bidang Kompleks yang


Diperluas
Fungsi timbal balik pada bidang kompleks yang diperluas adalah
fungsi yang didefinisikan oleh :
1/ z , jika z ≠ 0 atau ∞
{
f ( z )= ∞ ,
0,
jika z=0
jika z=∞

Daripada memperkenalkan notasi baru, kita akan membiarkan


notasi 1/ z mewakili fungsi timbal balik dan timbal balik pada bidang
kompleks yang diperluas. Kapan saja titik ideal ∞ disebutkan, Anda
harus mengasumsikan bahwa 1/ z mewakili fungsi timbal balik yang
didefinisikan pada bidang kompleks yang diperluas.

Contoh 3 Gambar Garis di bawah w=1/ z


Temukan gambar garis vertikal x=1 di bawah fungsi timbal balik pada
bidang kompleks yang diperluas.
Penyelesaian Kita mulai dengan mencatat bahwa karena garis x=1
adalah himpunan tidak terikat dalam bidang kompleks, maka titik ideal
∞ ada pada garis dalam bidang kompleks yang diperluas. Dalam Contoh
2 kami menemukan bahwa gambar titik z ≠ ∞ pada garis x=1 adalah

lingkaran |w− 12|= 12 tidak termasuk titik w=0 . Jadi, kita hanya perlu

menemukan gambar titik ideal untuk menentukan gambar garis di bawah


fungsi timbal balik pada bidang kompleks yang diperluas. Dari Definisi

2.7, kita memiliki bahwa f (∞ )=0, dan w=0 adalah gambar dari titik

ideal. Ini "mengisi" titik yang hilang dalam lingkaran |w− 12|= 12 .
Oleh karena itu, garis vertikal x=1 dipetakan ke seluruh lingkaran

|w− 12|= 12 oleh timbal balik pemetaan pada bidang kompleks yang

diperluas. Pemetaan ini dapat diwakili oleh Gambar 2.34 dengan


"lubang" di w = 0 diisi.

Karena titik ideal ∞ adalah pada setiap garis vertikal dalam


bidang kompleks yang diperluas, kita memiliki gambar garis vertikal

1 1
x=k dengan k ≠ 0adalah seluruh lingkaran w− | || |
=
2k 2k
di bawah

fungsi timbal balik pada bidang kompleks yang diperluas. Dengan cara
yang sama, kami juga dapat menunjukkan bahwa garis horizontal
dipetakan ke lingkaran oleh w=1/ z . Kami sekarang meringkas sifat
pemetaan ini dari w=1/ z .

Memetakan Garis ke Lingkaran dengan w=1/ z


Fungsi timbal balik pada peta bidang kompleks yang diperluas:
(i) garis vertikal x=k dengank ≠ 0 pada lingkaran

|w− 21k|=|21k | , dan (5)

(ii) garis horizontal y=k dengank ≠ 0 pada lingkaran

|w+ 2k1 i|=|21k |


(6)
Dua sifat pemetaan ini dari fungsi timbal balik diilustrasikan
pada Gambar 2.35. Garis vertikal x=k , k ≠ 0, ditunjukkan dalam
warna pada Gambar 2.35 (a) dipetakan oleh w=1/ z ke lingkaran yang
berpusat pada sumbu real yang ditunjukkan dalam warna hitam pada

1
Gambar 2.35 (b). Gambar garis x=k , k ≠ 0 , berisi titik ( ,0) .Jadi,
k
kita melihat bahwa garis vertikal x=2 ditunjukkan pada Gambar 2.35
(a) peta ke lingkaran yang berpusat pada sumbu real yang mengandung

( 12 , 0) ditunjukkan pada Gambar 2.35 (b), dan seterusnya. Demikian

pula, garis horizontal y=k , k ≠ 0, ditunjukkan dalam warna pada


Gambar 2.35 (a) dipetakan oleh w=1/ z ke lingkaran yang berpusat
pada sumbu imajiner yang ditunjukkan dalam warna hitam pada Gambar

2.35 (b). Karena gambar garis y=k , k ≠ 0, berisi titik (0 ,−1/k ), kita
memiliki garis y=2 yang ditunjukkan pada Gambar 2.35 (a) adalah
lingkaran yang berpusat pada sumbu imajiner yang mengandung titik

(0 ,− 12 ) ditunjukkan pada Gambar 2.35 (b), dan seterusnya.


Gambar 2.35 Gambar garis vertikal dan horizontal di bawah
pemetaan timbal balik

Contoh 4 Pemetaan strip Semi-Tak Terbatas


Temukan gambar strip horizontal semi-tak terbatas yang didefinisikan
oleh 1 ≤ y ≤ 2, x ≥ 0, di bawah w=1/ z .

Penyelesaian Misalkan S menunjukkan strip horizontal semi-tak


terbatas yang didefinisikan oleh 1 ≤ y ≤ 2, x ≥ 0. Batas S terdiri dari
segmen garis x=0 , 1 ≤ y ≤ 2, dan dua garis-setengah y=1 dan
y=2, 0 ≤ x< ∞ . Kami pertama-tama menentukan gambar kurva batas
ini. Segmen garis x=0 , 1 ≤ y ≤ 2, juga dapat digambarkan sebagai
himpunan 1 ≤∨z∨≤ 2 ,arg(z )=π /2. Karena w=1/ z , maka

1
≤∨w∨≤ 1. Selain itu, dari (1) kita memiliki
2
arg(w)=arg(1 /z )=−arg(z ) , dan karenanya, arg(w)=−π /2.
Dengan demikian, gambar segmen garis x=0 , 1 ≤ y ≤ 2, adalah

−1
segmen garis pada sumbu-v dari ihingga −i. Kami sekarang
2
mempertimbangkan setengah garis horizontal y=1 , 0 ≤ x < ∞. Dengan
mengidentifikasi k =1 in (6), kita melihat bahwa gambar setengah-garis
ini adalah busur di lingkaran |w+ 12 i|= 12 . Karena argumen titik-titik

pada setengah garis memenuhi 0< arg(z)≤ π /2, maka argumen dari
titik-titik dalam gambarnya memenuhi −π /2≤ arg( w)<0. Selain itu,

titik ideal ∞ ada di setengah-garis, dan jadi titik w=0 ada di dalam
gambarnya. Jadi, kita melihat bahwa gambar setengah-garis
y=1 , 0 ≤ x < ∞, adalah busur lingkaran yang didefinisikan oleh

|w+ 12 i|= 12 −π /2≤ arg( w)≤ 0


, .

Dengan cara yang sama, kami


menemukan gambar garis setengah
horizontal y=2, 0 ≤ x< ∞ , adalah

busur lingkaran |w+ 14 i|= 14 ,

−π /2≤ arg( w)≤ 0. Kami


menyimpulkan dengan mengamati
(a) Strip semi-tak terbatas S bahwa, dari (6), setiap setengah garis

y=k , 1 ≤ k ≤ 2, terletak di antara


garis-garis batas y=1 dan y=2 di
jalur S memetakan ke busur lingkaran
dengan

|w+ 2k1 i|= 21k ,−π /2≤ arg ⁡(w)≤ 0


(b) Gambar dari S
Gambar 2.36 Pemetaan
timbal balik
, terletak di antara busur melingkar

|w+ 12 i|= 12 dan

|w+ 14 i|= 14 ,−π /2 ≤ arg ⁡( w)≤ 0 .

Oleh karena itu, strip semi tak terbatas


S yang ditunjukkan dalam warna pada
Gambar 2.36 (a) dipetakan ke
himpunan S yang ditunjukkan dalam
warna abu-abu pada Gambar 2.36 (b)
oleh pemetaan kompleks w=1/ z .

.6 LIMIT DAN KONTINUITAS


Konsep yang paling penting dalam kalkulus dasar adalah dari

limit. Ingat bahwa lim f ( x )=L secara intuitif berarti nilai-nilai f (x)
x→ x 0

dari fungsi f dapat dibuat dekat dengan angka real L jika nilai x dipilih
cukup dekat dengan, tetapi tidak sama dengan, bilangan real x 0. Dalam
analisis real, konsep kontinuitas, turunan, dan integral yang pasti
semuanya didefinisikan menggunakan konsep limit. Limit kompleks
memainkan peran yang sama pentingnya dalam studi analisis kompleks.
Konsep limit kompleks mirip dengan limit real dalam arti bahwa

lim f ( z )=Lakan berarti bahwa nilai-nilai f (z) dari fungsi kompleks


z→z 0

f dapat dibuat mendekati di antara bilangan kompleks L jika nilai z


dipilih cukup dekat dengan, tetapi tidak sama dengan, bilangan

kompleks z 0. Meskipun secara lahiriah sama, ada perbedaan penting


antara kedua konsep limit ini. Dalam limit real, ada dua arah dari mana

x dapat mendekati x 0 pada garis real, yaitu, dari kiri atau dari kanan.
Namun, dalam limit kompleks, ada banyak arah tak terhingga dari mana

z dapat mendekati z 0 dalam bidang kompleks. Agar ada limit yang


kompleks, setiap jalan yang dapat didekati z 0 harus menghasilkan nilai
limit yang sama.
Pada bagian ini kita akan mendefinisikan limit fungsi
kompleks, memeriksa beberapa sifat-sifatnya, dan memperkenalkan
konsep kontinuitas untuk fungsi variabel kompleks.

.6.1 LIMIT
1. Limit Real
Deskripsi limit real yang diberikan dalam bagian pengantar
hanya merupakan definisi intuitif dari konsep ini. Untuk memberikan
definisi yang ketat tentang limit real, kita harus memprioritaskan apa
yang dimaksud dengan frasa "dekat dengan" dan "cukup dekat dengan."
kenali bahwa pernyataan yang tepat dari istilah-istilah ini harus

melibatkan penggunaan nilai mutlak sejak |a−b| mengukur jarak

antara dua titik pada garis bilangan real. Pada garis real, titik x dan x 0
dekat jika |x−x 0| adalah angka positif kecil. Demikian pula, titik f (x)
dan L dekat jika |f ( x)−L| adalah angka positif kecil. Dalam

matematika, adalah biasa untuk menggunakan huruf Yunani ε dan δ


mewakili bilangan real positif kecil. Oleh karena itu, ungkapan " f (x)

dapat dibuat dekat dengan L" dapat dibuat tepat dengan merealkan
bahwa untuk bilangan real manapun ε > 0, x dapat dipilih sehingga
|f ( x)−L|<ε . Dalam definisi intuitif kami, kami mensyaratkan

|f ( x)−L|<ε setiap kali nilai x “cukup dekat dengan, tetapi tidak

sama dengan, x 0.” Ini berarti bahwa ada beberapa jarak δ >0 dengan
sifat yang jika x berada dalam jarak δ dari x 0 dan x ≠ x 0 , maka
|f ( x)−L|<ε . Dengan kata lain, jika 0< ¿ x−x 0∨¿ δ , lalu

|f ( x)−L|<ε . Bilangan real δ tidak unik dan, secara umum,


tergantung pada pilihan ε , fungsi f , dan titik x 0. Singkatnya, kami
memiliki definisi akurat limit sebenarnya:

Limit Fungsi Real f (x)


Limit f sebagai x cenderung x 0 ada dan sama dengan L
jika untuk setiap ε > 0 ada δ >0 sehingga |f ( x)−L|<ε . (1)

setiap kali0< ¿ x−x 0 ∨¿ δ .


Penafsiran geometris dari (1) ditunjukkan pada Gambar 2.37.

Pada gambar ini kita melihat bahwa grafik fungsi y=f (x ) selama
interval ( x 0−δ , x 0 +δ ), tidak termasuk titik x 0, terletak di antara garis
y=L−ε dan y=L+ ε ditunjukkan putus-putus pada Gambar 2.37.
Dalam istilah pemetaan, interval ( x 0−δ , x 0 +δ ), tidak termasuk titik
x=x 0, ditunjukkan dalam warna pada sumbu x dipetakan ke himpunan
yang ditunjukkan dengan warna hitam dalam interval( L−ε , L+ ε )

pada sumbu y . Agar batas ada, hubungan yang ditunjukkan pada


Gambar 2.37 harus ada untuk setiap pilihan ε > 0. Kita juga melihat
pada Gambar 2.37 bahwa jika ε yang lebih kecil dipilih, maka δ yang
lebih kecil mungkin diperlukan.

Gambar 2.37 Makna geometris dari limit real

2. Limit Kompleks
Limit kompleks, pada dasarnya, sama dengan limit real kecuali
bahwa ia didasarkan pada gagasan "tutup" pada bidang kompleks.

Karena jarak dalam bidang kompleks antara dua titik z 1 dan z 2diberikan
oleh modulus perbedaan z 1 dan z 2, definisi yang tepat dari limit

kompleks akan melibatkan |z 2−z 1|. Misalnya, frasa “ f (z) dapat


dibuat mendekati ke bilangan kompleks L,” dapat direalkan dengan

tepat: untuk setiap ε > 0, z dapat dipilih sehingga |f ( z)−L|<ε . Karena


modulus bilangan kompleks adalah bilangan real, baik ε dan δ masih
mewakili bilangan real positif kecil dalam definisi limit kompleks
berikut. Sejalan dengan kompleks dari (1) adalah:

Definisi 2.8 Limit Fungsi Kompleks


Misalkan fungsi kompleks f didefinisikan dalam persekitaran tanpa

pusat dari z 0 dan anggaplah L adalah bilangan kompleks. Limit f


sebagai z cenderung ke z 0 ada dan sama dengan L, ditulis sebagai

lim f ( z )=L, jika untuk setiap ε > 0 ada δ >0sehingga


z→z 0

|f ( z)−L|<ε setiap kali 0< ¿ z−z 0 ∨¿ δ

Karena fungsi kompleks f tidak memiliki grafik, kita


mengandalkan konsep pemetaan kompleks untuk mendapatkan
pemahaman geometris dari Definisi 2.8. Ingat dari Bagian 1.5 bahwa

himpunan titik w dalam bidang kompleks memenuhi |w−L|< ε


disebut persekitaran L, dan himpunan ini terdiri dari semua titik dalam
bidang kompleks yang terletak di dalam, tetapi tidak pada, lingkaran
jari-jari ε yang berpusat pada titik L. Juga ingat dari Bagian 1.5 bahwa
himpunan titik memenuhi pertidaksamaan 0< ¿ z−z 0 ∨¿ δ disebut
persekitaran tanpa pusat dari z 0 dan terdiri dari semua titik di
persekitaran ¿ z−z 0∨¿ δ tidak termasuk titik z 0. Dari definisi 2.8, jika

lim f ( z )=Ldan jika ε adalah bilangan positif, maka ada persekitaran


z→z 0

tanpa pusat dari z 0 jari-jari δ dengan sifat untuk setiap titik z di


persekitaran tanpa pusat ini, f (z) ada di ε persekitaran L. Yaitu, f
memetakan persekitaran tanpa pusat 0< ¿ z−z 0 ∨¿ δ di bidang z ke
persekitaran |w−L|< ε di bidang-w . Pada Gambar 2.38 (a),

persekitaran tanpa pusat dari z 0 yang ditunjukkan dalam warna


dipetakan ke himpunan yang ditunjukkan dalam abu-abu gelap pada
Gambar 2.38 (b). Seperti yang dikehendaki oleh Definisi 2.8, gambar
terletak di dalam persekitaran ε dari L yang ditunjukkan dalam warna
abu-abu terang pada Gambar 2.38 (b).
Limit kompleks dan real memiliki banyak sifat umum, tetapi
setidaknya ada satu perbedaan yang sangat penting. Untuk fungsi real,

lim f ( x )=L jika dan hanya jika lim ¿dan lim ¿.


+¿ −¿
x→ x 0 x→ x 0 f ( x ) =L¿ x→ x 0 f ( x )= L¿

Artinya, ada dua arah dari mana x dapat mendekati x 0 pada garis real,
dari kanan (dilambangkan dengan x → x +¿¿
0 ) atau dari kiri

(dilambangkan dengan x → x−¿¿


0 ). Batas real ada jika dan hanya jika

dua limit satu sisi ini memiliki nilai yang sama. Misalnya,
pertimbangkan fungsi real yang didefinisikan oleh:
2
x <0
f ( x )= x
{
x−1 x ≥ 0

lim ¿
Limit f saat x mendekati ke 0 tidak ada karena −¿
x→ 0 f ( x ) = lim ¿ ¿¿
−¿ 2
x →0 x =0

lim ¿
tetapi +¿
x→ 0 f ( x ) = lim ¿¿ ¿ . Lihat Gambar 2.39.
+¿
x→0 ( x−1 )=−1
Untuk limit fungsi kompleks, z diizinkan untuk mendekati z0
dari segala arah dalam bidang kompleks, yaitu, sepanjang kurva atau

jalur apa pun melalui z 0. Lihat Gambar 2.40.

(a) Dihapus -lokasi dari δ z 0


Gambar 2.39 Limit f tidak ada
karena x mendekati 0

(b) lokasi dari Gambar 2.40 Berbagai


Gambar 2.38 Makna geometris cara untuk mendekati z0
dari limit kompleks dalam limit
Agar lim f ( z )ada dan sama dengan L, kita mengharuskan f (z)
z→z 0

mendekati bilangan kompleks L yang sama di sepanjang setiap kurva


yang memungkinkan hingga z 0. Dimasukkan ke dalam cara yang
negatif:

Kriteria untuk Tidak Adanya Limit


Jika f mendekati dua bilangan kompleks L1 ≠ L2 untuk dua kurva

atau lintasan yang berbeda melalui z 0, maka lim lim


z→z
f ( z ) tidak ada.
0

Contoh 1 Tidak Ada Limit


z
Tunjukkan bahwa lim tidak ada.
z→0 z
Penyelesaian Kami menunjukkan bahwa limit ini tidak ada dengan
menemukan dua cara berbeda membiarkan z mendekati 0 yang

z
menghasilkan nilai yang berbeda untuk lim . Pertama, kita
z→0 z

membiarkan z mendekati 0 sepanjang sumbu real. Yaitu, kita


menganggap bilangan kompleks dari bentuk z=x +0 i di mana
bilangan real x mendekati0 . Untuk poin-poin ini kita memiliki:
z x +0 i
lim =lim =lim 1=1 (2)
z→0 z x→ 0 x−0 i x→ 0

Di sisi lain, jika kita membiarkan z mendekati 0 sepanjang sumbu


imajiner, maka z=0+ iy di mana bilangan real y mendekati 0 . Untuk
pendekatan ini kita memiliki:
z 0+ iy
lim =lim =lim (−1 )=−1
z→0 z y →0 0−iy y→0

Karena nilai dalam (2) dan (3) tidak sama, kami menyimpulkan bahwa

z
lim tidak ada.
z→0 z

z z
Limit llim dari Contoh 1 tidak ada karena nilai-nilai lim
z→0 z z→0 z

sebagai z mendekati 0 sepanjang sumbu real dan imajiner tidak sesuai.


Namun, bahkan jika kedua nilai ini sesuai, limit kompleks mungkin

masih gagal ada. Secara umum, nilai komputasi lim f ( z )karena z


z→0

mendekati z 0 dari arah yang berbeda, seperti pada Contoh 1, dapat


membuktikan bahwa limit tidak ada, tetapi teknik ini tidak dapat
digunakan untuk membuktikan bahwa limit memang ada. Untuk
membuktikan bahwa ada limit, kita harus menggunakan Definisi 2.8
secara langsung. Ini memerlukan menunjukkan bahwa untuk setiap
bilangan real positif ε ada pilihan yang tepat dari δ yang memenuhi
persyaratan Definisi 2.8. Bukti semacam itu biasa disebut "bukti
epsilon-delta." Bahkan untuk fungsi yang sederhana, bukti epsilon-delta
bisa cukup terlibat. Karena ini adalah pengantar, kami membatasi
perhatian kami pada apa, menurut pendapat kami, adalah contoh
langsung dari bukti epsilon-delta.

Contoh 2 Bukti limit dari Epsilon-Delta

Buktikan lim (2+i ) z=1+3 i.


z →1+i
Penyelesaian Menurut Definisi 2.8, lim (2+i ) z=1+3 i., jika, untuk
z →1+i

setiap ε > 0, adaδ >0 sehingga zlim


→1+i
(2+i ) z=1+3 i. setiap kali

0< ¿ z−(1+i)∨¿ δ . Membuktikan bahwa ada limit mengharuskan


kita menemukan nilai δ yang sesuai untuk nilai ε yang diberikan.
Dengan kata lain, untuk nilai yang diberikan ε kita harus menemukan
angka positif δ dengan sifat yang jika 0< ¿ z−(1+i)∨¿ δ , lalu
¿( 2+i)z−(1+3 i)∨¿ ε . Salah satu cara menemukan δ adalah
"bekerja mundur." Idenya adalah memulai dengan pertidaksamaan:

|( 2+i ) z −(1+3 i)|< ε (4)


dan kemudian menggunakan sifat bilangan kompleks dan modulus
untuk memanipulasi pertidaksamaan ini sampai melibatkan pernyataan

¿ z−(1+ i)∨.Jadi, langkah pertama yang alami adalah membuat faktor


(2+i ) keluar dari sisi kiri (4):
1+3 i
|
|2+i|. z−
2+i |
<ε (5)

1+ 3i
Karena |2+i|=√ 5 dan =1+i , ( 5 ) sementara itu :
2+i
ε
√ 5 .|2−(1+i)|<ε atau |2−(1+i)|< (6)
√5
Jadi, (6) menunjukkan bahwa kita harus mengambil δ =ε/√ 5. Ingatlah
bahwa pilihan δ tidak unik. Pilihan kami dari δ =ε /√ 5 adalah hasil
dari manipulasi aljabar tertentu yang kami gunakan untuk mendapatkan
(6). Setelah menemukan δ kami sekarang menyajikan bukti formal
bahwa lim (2+i ) z=1+3 i.yang tidak menunjukkan bagaimana
z →1+i

pilihan δ dibuat:

Diberikan ε > 0, biarkan δ =ε / √5 . Jika 0<| z−(1+i)|<δ ,


maka kita memiliki |z−(1+i)|< ε / √ 5. Mengalikan kedua sisi dari
pertidaksamaan terakhir dengan | 2 + i | = √5 kita memperoleh:
ε
|2+i|.|z−(1i)|< √ 5 . atau |( 2+i ) z −(1+3 i)|< ε .
√5
Oleh karena itu, |(2+i) z−(1+3 i)|< ε setiap kali 0<| z−(1+i)|<δ .
Jadi, menurut Definisi 2.8, kami telah membuktikan bahwa

lim (2+i ) z=1+3 i.


z →1+i

3. Batas Multivariabel Nyata


Bukti epsilon-delta dari Contoh 2 mengilustrasikan fakta penting
bahwa walaupun teori batas kompleks didasarkan pada Definisi 2.8,
definisi ini tidak menyediakan metode yang mudah untuk limit
komputasi. Kami sekarang menyajikan metode praktis untuk
menghitung batas kompleks dalam Teorema 2.1. Selain menjadi alat
komputasi yang berguna, teorema ini juga membangun hubungan

penting antara limit kompleks f (z)=u( x , y )+ iv( x , y )dan limit real


dari fungsi bernilai real dari dua variabel riil u(x , y) dan v( x , y) .
Karena setiap fungsi kompleks sepenuhnya ditentukan oleh fungsi real u
dan v, seharusnya tidak mengherankan bahwa limit fungsi kompleks
dapat direalkan dalam limit real u dan v .
Sebelum merealkan Teorema 2.1, kita mengingat beberapa
konsep penting mengenai limit fungsi bernilai riil dari dua variabel real

F (x , y ). Definisi lim ¿berikut ini F (x , y )=L sejalan dengan


(x , y)→¿¿

keduanya (1) dan Definisi 2.8.

Limit Fungsi Real F (x, y)


Limit F sebagai ( x , y ) cenderung ( x 0 , y 0 ) ada dan sama dengan
bilangan real L jika untuk setiap ε > 0 ada δ >0 sehingga
|F ( x , y )−L|< ε setiap kali 0< √ (x−x 0)2+¿ ¿. (7)

Pernyataan √(x−x 0 )2+¿ ¿ pada (7 ) mewakili jarak antara titik


( x , y ) dan ( x 0 , y 0 ) dalam bidang Cartesian. Menggunakan (7), relatif
mudah untuk membuktikannya :
lim 1=1 , lim x=x 0 , dan lim y= y 0
(x , y)→(x 0 , y 0) (x , y)→( x0 , y 0) (x , y)→(x 0 , y 0)

(8)

Jika lim F ( x , y )=L dan lim G ( x , y )= M


( x , y ) → ( x0 , y 0) ( x , y ) → ( x0 , y 0)

maka (7) juga dapat digunakan untuk menunjukkan:

lim cF ( x , y ) =cL , c konstanta real


( x , y ) → ( x0 , y 0)

(9)

lim ( F ( x , y ) ± G ( x , y ) )=L ± M . (10)


( x , y ) → ( x0 , y 0)
lim F ( x , y ) ,G ( x , y )=L ∙ M ,
( x , y ) → ( x0 , y 0)

(11)

lim F (x, y)
dan ( x , y ) → ( x 0 , y0 ) L (12)
= ,M≠0
G(x , y) M

Limit yang melibatkan pernyataan polinomial dalam x dan y


dapat dengan mudah dikomputasi menggunakan limit dalam (8)
dikombinasikan dengan sifat (9) - (12). Sebagai contoh,

lim ( 3 x y 2− y ) =¿
( x , y ) → ( 1,2 )

¿3 lim x lim y lim y − lim y


( ( x, y ) → ( 1,2) )( ( x , y ) → ( 1,2) )( ( x, y ) → ( 1,2) ) ( x, y ) → ( 1,2)

¿ 3 ∙1 ∙ 2∙ 2−2=10

Secara umum, jika p(x , y ) adalah fungsi polinomial dua variabel,


maka (8) - (12) dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa

lim p ( x , y ) =p ( x 0 , y 0 ) (13)
( x , y ) → ( x0 , y 0)

Jika p ¿) dan q ( x , y ) adalah fungsi polinomial dua variabel dan


q ( x 0 , y 0 ) ≠ 0 , maka (13) dan (12) berikan:

lim p( x , y )
( x , y ) → ( x 0 , y0 ) p (x0 , y 0 )
=
q (x , y ) q (x 0 , y 0 )
(14)
Kami sekarang menyajikan Teorema 2.1, yang menghubungkan limit

real dari u(x , y) dan v( x , y) dengan limit kompleks

f (z)=u( x , y )+ iv( x , y ).

Teorema 2.1 Bagian Real dan Imajiner dari Limit


Misalkan f ¿ ) = u(x , y) + iv( x , y) , z 0=x 0 + y 0 , dan L=u 0+ iv 0
.

Kemudian lim f ( z )=Ljika dan hanya jika


z→0

lim u ( x , y )=u0 dan lim v ( x , y )=v 0


( x , y ) → ( x0 , y 0) ( x , y ) → ( x0 , y 0)

Teorema 2.1 memiliki banyak penggunaan. Pertama dan


terutama, ini memungkinkan kita untuk menghitung banyak limit
kompleks dengan hanya menghitung sepasang limit real.

Contoh 3 Menggunakan Teorema 2.1 untuk Menghitung Limit

Gunakan Teorema 2.1 untuk menghitung lim (z 2+ i)


z →1+i

Penyelesaian Karena f (z)= z2 +i=x 2− y 2 +(2 xy +1)i , kita dapat


menerapkan Teorema 2.1 dengan

u(x , y)=x2− y 2 , v (x , y)=2 xy +1, dan z 0=1+i .


Mengidentifikasi x 0 = 1 dan y 0 = 1, kami menemukan u0 dan v 0 dengan
menghitung dua limit real:

v 0= lim ( x 2− y 2) =12−12=0
( x, y ) → ( 1,1)
dan u0 = lim ( 2 xy+ 1 )=2 ∙1 ∙1+1=3
( x , y ) → ( 1,1)

2
dan juga L=u 0+ iv 0 =0+i(3)=3 i. Karena itu, lim ( z +i )=3i
z →1+i

Selain menghitung limit tertentu, Teorema 2.1 juga merupakan


alat teoretis penting yang memungkinkan kita memperoleh banyak sifat
limit kompleks dari sifat limit real. Teorema berikut memberikan contoh
prosedur ini.

Teorema 2.2 Sifat Limit Kompleks


Misalkan f dan g adalah fungsi yang kompleks. Jika lim f ( z )=L
z → z0

dan lim g ( z ) =M , kemudian


z → z0

(i) lim cf ( z )=cL , c konstanta real


z → z0

(ii) lim ( f ( z ) ± g ( z ) )=L ± M


z → z0

(iii) lim f (z)∙ g(z )=L ∙ M , dan


z → z0

lim f (z )
(iv) z → z0 L
= , M ≠0
g( z) M

Bukti (i) Setiap bagian dari Teorema 2.2 mengikuti dari Teorema 2.1
dan sifat yang sejalan (9)-(12). Kami akan membuktikan bagian (i) dan
membiarkan bagian yang tersisa sebagai latihan.
Misalkan f ( z )=u ( x , y )+iv ( x , y ) , z 0=x 0 +i y 0 , L=u0 +i v 0 , dan
c=a+ib. Karena lim
z→z
f ( z )=L berikut dari Teorema 2.1 itu
0

lim u ( x , y )=u0 dan lim v ( x , y )=v 0. Dari (9) dan


( x , y ) → ( x0 , y 0) ( x , y ) → ( x0 , y 0)

(10), kita punya

lim ( au ( x , y )−bv ( x , y ) ) =a u0−b v 0 ,


( x , y ) → ( x0 , y 0)

Dan lim ( bu ( x , y )+ av ( x , y ) )=b u 0+ a v 0 ,


( x , y ) → ( x0 , y 0)

Namun, ℜ ( cf ( z ) )=au ( x , y )−bv ( x , y ) dan

ℑ ( cf ( z ) ) =bu ( x , y ) +av (x , y) oleh karena itu, oleh Teorema 2.1,

lim cf ( z )=au 0−b v 0+i(bu 0+ a v 0 )−cL .


z → z0

Tentu saja hasil dalam Teorema 2.2 (ii) dan 2.2 (iii) masing-
masing berlaku untuk jumlah fungsi terbatas atau hasil fungsi terbatas.
Setelah menetapkan beberapa limit kompleks dasar, kita dapat
menggunakan Teorema 2.2 untuk menghitung sejumlah besar limit
secara langsung. Dua limit dasar yang kita butuhkan adalah fungsi

konstanta kompleks f (z)=c , di mana c adalah konstanta kompleks,


dan fungsi identitas kompleks f (z)= z.

lim c=c , c konstanta real (15)


z → z0

Dan lim z=z 0 (16)


z → z0
Contoh berikut menggambarkan bagaimana limit dasar ini dapat
digabungkan dengan Teorema 2.2 untuk menghitung limit fungsi
rasional yang kompleks.

Contoh 4 Komputasi Limit dengan Teorema 2.2


Gunakan Teorema 2.2 dan limit dasar (15) dan (16) untuk menghitung
batas

lim ( 3+i ) z 4−z 2 +2 z


(a) z →i
z +1
lim z 2−2 z + 4
(b) z → 1+ √ 3 i

z −1−√ 3 i
Penyelesaian
(a) Berdasarkan teorema 2.2 (iii) dan (16), kita punya

lim z 2=lim z ∙ z= lim ⁡ z ∙ lim ⁡ z =i∙ i=−1


z→i z →i ( z→i )( z→i )
Demikian pula, lim z 4=i 4 =1. Dengan menggunakan limit ini,
z→i

Teorema 2.2 ( i ) , 2.2(ii) , dan limit dalam (16), kita memperoleh :

lim ¿
z→i

¿ ( 3+i ) (1 ) −(−1 ) +2(i)


¿ 4 +3 i
dan lim ( z +1 ) =1+i . Karena itu, dari Teorema 2.2(iv), kita
z→i

mempunyai :
lim ((3+i)z 4 −z 2+2 z) lim ( ( 3+i ) z 4 −z 2+ 2 z )
z →i z→i 4+3 i
= =
z+1 lim ( z +1) 1+ i
z→i

Setelah melakukan pembagian, kami memperoleh,

lim ((3+i)z 4 −z 2+2 z)


z →i 7 1
= − i
z+1 2 2
lim z 2−2 z + 4
(b) Untuk menemukan z → 1+ √ 3 i
, kita melanjutkan
z −1−√ 3 i
mengerjakan seperti pada (a)
2
lim (z2 −2 z + 4)=( 1+ √ 3 i ) −2(1+ √ 3i)+ 4
z →1+ √3 i

¿−2+2 √ 3 i−2−2 √ 3 i+ 4=0


dan lim ( z−1−√ 3i )=1+ √3 i−1− √ 3 i=0 . Tampaknya kita
z →1+ √3 i

tidak dapat menerapkan Teorema 2.2 (iv) karena batas penyebutnya


adalah 0. Namun, dalam perhitungan sebelumnya kami menemukan

bahwa 1+ √ 3 i adalah akar dari polinomial kuadrat z 2−2 z+ 4 . Dari


Bagian 1.6, ingat bahwa jika z 1 adalah akar dari polinomial kuadrat,
maka z−z 1 adalah faktor polinomial. Menggunakan pembagian
panjang, kami menemukan itu

z 2−2 z+ 4=( z−1+ √ 3 i)( z −1−√ 3 i).


Karena z tidak diperbolehkan untuk mengambil nilai 1 + √3i dalam
limit, kita dapat menghapuskan faktor umum dalam pembilang dan
penyebut fungsi rasional. Itu adalah,

lim z 2−2 z + 4 lim ( z−1+ √ 3 i)( z −1−√ 3 i)


z → 1+ √ 3 i z → 1+ √ 3 i
=
z −1−√ 3 i z−1−√ 3i
¿ lim ( z−1+ √ 3 i)
z →1+ √ 3 i

Dengan Teorema 2.2 (ii) dan limit dalam (15) dan (16), kita kemudian
memiliki

lim ( z−1+ √3 i )=1+ √ 3 i−1+ √ 3 i=2 √ 3 i


z →1+ √3 i

lim z 2−2 z + 4
Oleh karena itu, z → 1+ √ 3 i
=2 √ 3i
z −1−√ 3 i

Pada Bagian 3.1 kita akan menghitung limit pada bagian (b) dari Contoh
4 dengan cara yang berbeda.

.6.2 KONTINUITAS
1. Kontiunitas dari Fungsi Real
Ingatlah bahwa jika limit fungsi real f saat x mendekati titik x0
ada dan sesuai dengan nilai fungsi f pada x 0, maka kita katakan bahwa f
adalah kontinu pada titik x 0. Dalam simbol, definisi ini diberikan oleh:

Kontinuitas dari Fungsi Real f (x)


Fungsi lim f ( x )=f (x 0 ).
f kontinu pada titik x 0 jika x→ (17)
x 0
Perhatikan bahwa agar persamaan lim f ( x )=f (x 0 ) dalam (17)
x→ x 0

dipenuhi, tiga hal harus benar. Limit lim f ( x ) harus ada, f harus
x→ x 0

didefinisikan pada x 0, dan kedua nilai ini harus sama. Jika salah satu
dari ketiga kondisi ini gagal, maka f tidak dapat kontinu pada x 0.
Misalnya saja fungsinya
2
x <0
f ( x )= x
{
x−2 x ≥ 0

diilustrasikan pada Gambar 2.52 tidak kontinu pada titik tersebut x=0

karena lim f ( x ) tidak ada. Pada catatan yang sama, meskipun


x→ x 0

x 2−2 x 2−2
lim ⁡ =2 ,fungsi f ( z )= tidak kontinu pada x=1
x →1 x−1 x −1
karena f (1)tidak didefinisikan.

Dalam analisis real, kami memvisualisasikan konsep kontinuitas


menggunakan grafik fungsi f . Secara informal, fungsi f adalah kontinu
jika tidak ada celah atau lubang pada grafik f . Karena kita tidak dapat
membuat grafik fungsi yang kompleks, diskusi kita tentang kontinuitas
fungsi kompleks akan bersifat aljabar.

2. Kontinuitas Fungsi Kompleks


Definisi kontinuitas untuk fungsi yang kompleks, pada dasarnya,
sama dengan fungsi yang sebenarnya. Yaitu, fungsi kompleks f kontinu

pada titik z 0 jika limit f saat z mendekati z 0 ada dan sama dengan nilai
f pada z 0. Ini memberikan definisi berikut untuk fungsi-fungsi
kompleks, yang sejalan dengan (17).

Definisi 2.9 Kontinuitas Fungsi Kompleks


Fungsi kompleks f kontinu pada titik z 0jika

lim f ( z )=f ( z 0 )
z → z0

Dapat dianalogikan sebagai fungsi real, dari kompleks f adalah


kontinu pada suatu titik, maka tiga kondisi berikut harus dipenuhi.

Kriteria untuk Kontinuitas pada Suatu Titik


Fungsi kompleks f kontinu pada titik z 0 jika masing-masing dari tiga
kondisi berikut ini berlaku:

(i) lim f ( z ) ada,


z → z0

( ii ) f didefinisikan pada z 0, dan

(iii) lim f ( z )=f ¿)


z → z0

Jika fungsi kompleks f tidak kontinu pada titik z 0 maka kita

1
katakan bahwa f terputus pada z 0. Sebagai contoh, fungsi f ( z )=
1+ z 2
terputus pada z=i dan z=−i .

Contoh 5 Memeriksa Kontinuitas pada suatu Titik


Pertimbangkan fungsi f (z)= z2 −iz+2. Untuk menentukan apakah f
kontinu pada, katakanlah, titik z 0=1−i, kita harus menemukan
lim f ( z ), dan f ¿ ) lalu periksa untuk melihat apakah kedua nilai
z→z 0

kompleks ini sama. Dari Teorema 2.2 dan limit dalam (15) dan (16) kita
memperoleh:

lim f ( z )= lim ( z 2−iz+ 2 )=(1−i)2 −i ( 1−i ) +2=1−3 i.


z → z0 z →1−i

Selanjutnya, untuk z 0=1−i kita memiliki:

f ( z 0 ) =f ( 1−i )=(1−i)2−i ( 1−i ) +2=1−3 i

Karena lim f ( z )=f ¿), dapat disimpulkan f ( z )=z 2−iz+ 2 kontinu


z→z0

pada titik z 0=1−i.

Seperti Contoh 5 menunjukkan, kontinuitas fungsi polinomial


dan rasional yang kompleks ditentukan dengan mudah menggunakan
Teorema 2.2 dan limit dalam (15) dan (16). Namun, fungsi yang lebih
rumit seringkali membutuhkan teknik lain.

Contoh 6 Diskontinuitas Fungsi Akar Kuadrat Utama


Tunjukkan bahwa fungsi akar kuadrat utama f (z)= z1 /2 didefinisikan
oleh (7) dari Bagian 2.4 tidak terputus pada titik z 0 = −1.
Penyelesaian Kami menunjukkan bahwa f (z)= z1 /2 terputus-putus
1 /2
pada z 0=−1 dengan menunjukkan bahwa limit lim f ( z )= lim z
z→z z →−1
0

tidak ada. Untuk melakukannya, kami menyajikan dua cara membiarkan


z mendekati −1 yang menghasilkan nilai yang berbeda dari limit ini.
Sebelum kita mulai, ingat dari (7) Bagian 2.4 bahwa fungsi akar kuadrat

utama didefinisikan oleh z 1/ 2=√|z|eiArg (z)/ 2. Sekarang pertimbangkan


z mendekati −1 sepanjang seperempat lingkaran unit yang terletak di
kuadran kedua. Lihat Gambar 2.41. Yaitu, pertimbangkan titik

|z|=1, π /2<arg(z )< π . Dalam bentuk eksponensial, pendekatan ini


dapat digambarkan sebagai z=e iθ , π /2<θ< π , dengan θ mendekati π
. Dengan mengatur |z|=1dan membiarkan Arg( z )=θ pendekatan π
kami temukan:
iθ/2
lim z 1/ 2= lim √|z|e iArg(z )/ 2=lim √1 e
z →−1 z →−1 θ→π

Namun, karena e iθ/ 2=cos (θ/2)+i sin(θ /2), ini disederhanakan


menjadi:
1
θ θ π π
z →−1
(
z →−1 2 2)
lim z 2 = lim cos + i sin =cos + isin
2 2
¿ 0+i ( 1 )=i (18)

Selanjutnya, kita membiarkan z mendekati −1 sepanjang seperempat


lingkaran unit yang terletak di kuadran ketiga. Lihat lagi Gambar 2.41.

Sepanjang kurva ini kita memiliki titik z=e iθ ,−π <θ← π /2, dengan
θ mendekati −π . Taruhan |z|=1 dan membiarkan Arg( z )=θ
pendekatan −π kami temukan

iθ/2
lim z 1/ 2= lim √|z|e iArg(z )/ 2=lim √1 e
z →−1 z →−1 θ→π

θ θ
θ→π
(
¿ lim cos +i sin =−i
2 2 ) (19)
Karena nilai kompleks dalam (18) dan (19) tidak sesuai, kami

menyimpulkan bahwa lim z 1/ 2tidak ada. Oleh karena itu, fungsi akar
z →−1

kuadrat utama f (z)= z1 /2terputus pada titik z 0=−1.

Gambar 2.41 Gambar untuk Contoh


6
Dalam Definisi 2.9, kami mendefinisikan kontinuitas fungsi

kompleks f pada titik tunggal z 0 dalam bidang kompleks. Kita sering


juga tertarik pada kontinuitas fungsi pada himpunan titik di bidang
kompleks. Fungsi kompleks f adalah kontinu pada himpunan S jika f
kontinu pada z 0 untuk setiap z 0 dalam S. Misalnya, menggunakan
Teorema 2.2 dan limt dalam (15) dan (16), seperti pada Contoh 5, kita

dapat menunjukkan bahwa f (z)= z2 −iz+2 kontinu pada titik nol z 0


dalam bidang kompleks. Oleh karena itu, kita mengatakan bahwa f

1
adalah kontinu pada C. Fungsi f (z)= 2 adalah kontinu pada
z +1
himpunan yang terdiri dari semua z kompleks sehingga z=± i
3. Sifat Fungsi Berkelanjutan
Karena konsep kontinuitas didefinisikan menggunakan limit
kompleks, berbagai sifat limitkompleks dapat diterjemahkan ke dalam
pernyataan tentang kontinuitas. Pertimbangkan Teorema 2.1, yang
menggambarkan hubungan antara limit kompleks

f (z)=u( x , y )+ iv( x , y ) dan limit real u dan v. Menggunakan


definisi kontinuitas berikut untuk fungsi real F (x , y ),kita dapat
merealkan kembali teorema ini tentang limit sebagai teorema tentang
kontinuitas.

Kontinuitas dari Fungsi Real F (x, y)


Fungsi F kontinu pada suatu titik ( x 0 , y 0 ) jika

lim F ( x , y )=F ( x 0 , y 0 ).
( x , y ) → ( x0 , y 0)

(20)

Sekali lagi, definisi kontinuitas ini sejalan dengan (17). Dari (20) dan
Teorema 2.1, kami mendapatkan hasil sebagai berikut.

Teorema 2.3 Bagian Real dan Imajiner dari Fungsi Kontinuitas


Misalkan f (z)=u( x , y )+ iv( x , y ) dan z 0=x 0 +i y 0 . Kemudian

fungsi kompleks f adalah kontinu pada titik z 0 jika dan hanya jika
kedua fungsi realu dan v kontinu pada titik( x 0 , y 0 ) .

Bukti Asumsikan bahwa fungsi kompleks f kontinu pada z 0 . Kemudian


dari Definisi 2.9 kita memiliki:
lim f ( z )=f ( z 0 )=u ( x 0 , y 0 ) + iv ( x0 , y 0 ) . (21)
z → z0
Menurut Teorema 2.1, ini menyiratkan bahwa:

lim u ( x , y )=u ( x 0 , y 0 ) dan lim v ( x , y )=v ( x 0 , y 0)


( x , y ) → ( x0 , y 0) ( x , y ) → ( x0 , y 0)

(22)

Oleh karena itu, dari (20), keduanya udan v kontinu di ( x 0 , y 0 ) .

Sebaliknya, jika u dan v kontinu di ( x 0 , y 0 ) , maka

lim u ( x , y )=u ( x 0 , y 0 ) dan lim v ( x , y )=v ( x 0 , y 0)


( x , y ) → ( x0 , y 0) ( x , y ) → ( x0 , y 0)

Kemudian mengikuti dari Teorema 2.1 bahwa

lim f ( z )=u ( x 0 , y 0 ) +iv ( x 0 , y 0 ) =f ( z 0 ). Oleh karena itu, f adalah


z→z 0

kontinu menurut definisi 2.9.

Contoh 7 Memeriksa Kontinuitas Menggunakan Teorema 2.3


Tunjukkan bahwa fungsi f (z)= ź kontinu pada C.

´
Penyelesaian Menurut Teorema 2.3, f (z)= ź= x+iy=x−iy adalah

kontinu pada z 0=x 0 +i y 0 jika keduanya u(x , y)=x dan

v ( x , y ) =− y adalah kontinu pada ( x 0 , y 0 ) . Karenau dan v adalah


fungsi polinomial dua variabel, maka dari (13) berikut:

lim u ( x , y )=x 0 dan lim v ( x , y )=− y 0


( x , y ) → ( x0 , y 0) ( x , y ) → ( x0 , y 0)

Ini menyiratkan bahwa u dan v kontinu pada ( x 0 , y 0 ) dan, oleh karena


itu, f adalah kontinu pada z 0=x 0 +i y 0 oleh Teorema 2.3. Karena
z 0=x 0 +i y 0 adalah titik arbitrer, kami menyimpulkan bahwa fungsi
f ( z )=ź kontinu pada C.

Sifat aljabar limit kompleks dari Teorema 2.2 juga dapat


disajikan kembali dalam hal kontinuitas fungsi kompleks.

Teorema 2.4 Sifat dari Fungsi Kontinu


Jika f dan g kontinu pada titik z 0, maka fungsi-fungsi berikut

kontinu pada titik z 0:


(i) cf , c konstanta kompleks,
(ii) f ± g,
(iii) f · g , dan
f
(iv) asalkan g(z 0 )≠ 0.
g
Bukti (ii) Karena f dan g kontinu pada z 0 kita memiliki

lim f ( z )=f ( z 0 ) dan lim g ( z ) =g( z 0). Dari Teorema 2.2 (ii),
z→z 0 z→z 0

mengikuti itu lim ( f ( z )+ g ( z ) )=f ( z 0 ) + g( z 0 ). Oleh karena itu, f +g


z → z0

kontinu pada z 0 oleh definisi 2.9.

Tentu saja, hasil Teorema 2.4 (ii) dan 2.4 (iii) meluas ke jumlah
terbatas atau hasil kali terbatas dari fungsi kontinu, masing-masing. Kita
dapat menggunakan fakta-fakta ini untuk menunjukkan bahwa
polinomial adalah fungsi kontinu.

Teorema 2.5 Kontinuitas Fungsi Polinomial


Fungsi polinom kontinu pada seluruh bidang kompleks C
Bukti Biarkan p(z )=an z n +an−1 zn −1 +· ··+ a1 z +a 0 menjadi fungsi
polinomial dan biarkan z 0 menjadi titik di bidang kompleks C. Dari (16)
kita memiliki fungsi identitas f (z)= z kontinu pada z 0, dan dengan
penerapan Teorema 2.4 (iii) yang berulang, ini mengartikan bahwa

fungsi pangkat f ( z )=z n , di mana n adalah bilangan bulat dan n ≥ 1,


kontinu pada titik ini juga. Selain itu, (15) mengartikan bahwa setiap

fungsi konstanta kompleks f (z)=c kontinu pada z 0, dan dengan


demikian mengikuti dari Teorema 2.4 (i) bahwa masing-masing fungsi

a n z n, a n−1 z n−1 , … , a 1 z ,dan a 0 kontinu pada z 0. Sekarang dari


penerapan berulang Teorema 2.4 (ii) kita melihat bahwa

p(z )=an z n +an−1 zn −1 +· ··+ a1 z +a 0 kontinu pada z 0. Karena z 0


dibiarkan menjadi titik mana pun di bidang kompleks, kami telah
menunjukkan bahwa fungsi polinom p kontinu pada seluruh bidang
kompleks C.

Karena fungsi rasional f (z)= p ( z)/q ¿ ) adalah hasil bagi


fungsi polinom p dan q , ia mengikuti dari Teorema 2.5 dan Teorema
2.4 (iv) yang f kontinu di setiap titik z 0 dimana q ( z 0) ≠ 0. Dengan kata
lain,

Kontinuitas Fungsi Rasional


Fungsi rasional kontinu di domain mereka

4. Fungsi Terikat
Fungsi kompleks berkelanjutan memiliki banyak sifat penting
yang sejalan dengan sifat fungsi real kontinu. Misalnya, ingat bahwa
jika fungsi real f kontinu pada interval tertutup I pada garis real, maka f
terikat pada I . Ini berarti bahwa ada bilangan real M >0 sehingga
|f ( x)|≤ M untuk semua x dalam I . Hasil ini sejalan dengan fungsi real
F ( x , y ) merealkan bahwa jika F ( x , y ) kontinu pada daerah R yang
tertutup dan dibatasi bidang Cartesian, maka ada bilangan real M >0
sedemikian rupa sehingga |f ( x , y )|≤ M untuk semua ( x , y ) dalam R,

dan kita katakan F terikat pada R .


Sekarang anggaplah fungsi f (z)=u( x , y )+ iv( x , y )
didefinisikan pada daerah R yang tertutup dan dibatasi dalam bidang
kompleks. Seperti halnya fungsi real, kita mengatakan bahwa kompleks

f terikat pada R jika ada konstanta real M >0 sehingga |f ( z)|< M


untuk semua z dalam R . Jika f adalah kontinu pada R , maka Teorema
2.3 memberi tahu kita bahwa u dan v adalah fungsi real kontinu pada R.
2 2
Ini mengikuti bahwa fungsi real √
f (x , y )= [ u(x , y ) ] + [ v (x , y ) ]
juga kontinu pada R karena fungsi akar kuadrat kontinu. Karena F
adalah kontinu pada daerah tertutup dan terikat R, kami menyimpulkan
bahwa F terikat pada R . Artinya, ada konstanta real M >0 sehingga
|f ( x , y )|≤ M untuk semua ( x , y ) di R . Namun, karena

|f ( z)|=F ( x , y ) , kita memiliki itu |f ( z)|≤ M untuk semua z dalam

R . Dengan kata lain, fungsi kompleks f terikat pada R . Ini menetapkan


sifat penting berikut dari fungsi kompleks kontinu.
Sifat Terikat
Jika fungsi kompleks f kontinu pada daerah tertutup dan terikat R,

maka f terikat pada R. Artinya, ada konstanta real M >0 sehingga


|f ( z)|≤ M untuk semua z dalam R.

Sementara hasil ini meyakinkan kita bahwa M terikat untuk f


pada R , ia tidak memberikan pendekatan praktis untuk menemukannya.
Salah satu pendekatan untuk menemukan ikatan adalah menggunakan
pertidaksamaan segitiga. Lihat Contoh 3 di Bagian 1.2. Pendekatan lain
untuk menentukan batasan adalah menggunakan pemetaan yang
kompleks.

5. Cabang
Dalam Bagian 2.4 kita membahas, secara singkat, konsep fungsi

multi-nilai F ( z) yang menetapkan serangkaian bilangan kompleks ke


input z . (Ingatlah bahwa konvensi kami adalah untuk selalu
menggunakan huruf besar seperti F , G ,dan H untuk mewakili fungsi
bernilai ganda.) Contoh fungsi bernilai ganda meliputi F (z)=z 1 /n,
yang menetapkan input z himpunan akar ke-n dari z , dan
G(z )=arg( z ), yang memberikan input z kumpulan argumen z yang
tak terbatas. Dalam praktiknya, sering kali kita membutuhkan cara yang
konsisten untuk memilih hanya salah satu akar dari bilangan kompleks
atau, mungkin, hanya salah satu argumen dari bilangan kompleks.
Artinya, kita biasanya tertarik untuk menghitung hanya satu dari nilai-
nilai fungsi multi-nilai. Jika kita membuat pilihan nilai ini dengan
konsep kontinuitas dalam pikiran, maka kita memperoleh fungsi yang
disebut cabang fungsi multi-nilai. Dalam istilah yang lebih ketat,

cabang dari fungsi bernilai ganda F adalah fungsi f 1 yang kontinu pada
beberapa domain dan yang menetapkan tepat satu dari beberapa nilai F
untuk setiap titik z dalam domain itu.

Notasi: Cabang
Saat mewakili cabang fungsi multi-nilai F dengan notasi fungsional,
kami akan menggunakan huruf kecil dengan subscript numerik

seperti f 1 , f 2, dan sebagainya.

Persyaratan bahwa suatu cabang harus kontinu berarti bahwa


domain cabang berbeda dari domain fungsi multi-nilai. Sebagai contoh,

fungsi bernilai ganda F (z)=z 1 /2yang menetapkan masing-masing


input z himpunan dua akar kuadrat dari z didefinisikan untuk semua
bilangan kompleks bukan nol z . Meskipun fungsi akar kuadrat utama
f (z)= z1 /2 benar-benar menetapkan nilai F untuk setiap input z (yaitu,
ia menetapkan ke z akar kuadrat utama dari z ), f bukan cabang dari F .
Alasannya untuk ini adalah bahwa fungsi akar kuadrat utama tidak
kontinu pada domainnya. Secara khusus, dalam Contoh 6 kami

menunjukkan bahwa f (z)= z1 /2 tidak kontinu pada z 0=−1. Argumen


yang digunakan dalam Contoh 6 dapat dengan mudah dimodifikasi

untuk menunjukkan bahwa f (z)= z1 /2 terputus-putus di setiap titik


pada sumbu real negatif. Oleh karena itu, untuk mendapatkan cabang

F (z)=z 1 /2 yang sesuai dengan fungsi akar kuadrat utama, kita harus
membatasi domain untuk meniadakan titik pada sumbu real negatif. Ini
memberikan fungsinya
iθ/2
f 1 ( z )= √ r e ,−π <θ< π (23)

Kita merealkan fungsi f 1 yang didefinisikan oleh (23) cabang utama

F (z)=z 1 /2 karena nilai θ mewakili argumen utama z untuk semua z


dalam Dom(f 1). Dalam contoh berikut ini kami menunjukkan bahwa
f 1 sebenarnya adalah cabang dari F .

Contoh 8 Cabang dari F (z)=z 1 /2


Tunjukkan bahwa fungsi f 1 yang didefinisikan oleh (23) adalah cabang
dari fungsi bernilai ganda F (z)=z 1 /2.

Gambar 2.42 Domain D dari cabang

Penyelesaian Domain fungsi f1 adalah himpunan Dom ¿) yang


didefinisikan oleh |z|>0 ,−π <arg( z)< π , ditunjukkan dalam warna
abu-abu pada Gambar 2.42. Dari (8) Bagian 2.4, kita melihat bahwa

fungsi f 1 sesuai dengan fungsi akar kuadrat utama f pada himpunan ini.
Dengan demikian, f 1 tidak menetapkan input z tepat pada nilai

F (z)=z 1 /2. Tetap menunjukkan bahwa f 1 adalah fungsi kontinu pada


domainnya. Untuk melihat hal ini, biarkan z menjadi titik dengan

|z|>0 ,−π <arg( z)< π . Jika z=x +iy dan x >0, maka z=r e iθ di
manar = √ x2 + y2 dan θ=tan −1( y /x ). Karena

−π /2< tan−1<( y / x)< π /2, pertidaksamaan −π <θ< π terpenuhi.


Dengan demikian, menggantikan pernyataan untuk r dan θ dalam (23)
kita memperoleh:
4
f 1 ( z )=√ x 2+ y 2 e i tan
−1
( y/ x)/2

tan−1 ( y / x) tan −1 ( y / x)
4 2
¿ √ x + y cos2
(
2
4 2
)
2
+ ¿i √ x + y sin
2 (
¿ )
Karena bagian real dan imajiner dari f 1 adalah fungsi real kontinu untuk
x >0, kami menyimpulkan dari Teorema 2.5 bahwa f 1 kontinu untuk
x >0. Argumen serupa dapat dibuat untuk poin dengan y >0
menggunakan θ=cot−1 ( x / y ) dan untuk titik dengan y <0
menggunakan θ=−cot −1 (x / y ). Dalam setiap kasus, kami

menyimpulkan dari Teorema 2.5 bahwa f 1 kontinu. Oleh karena itu,


fungsi f 1 yang didefinisikan dalam (23) adalah cabang dari fungsi
bernilai ganda F (z)=z 1 /2 .

6. Pemotongan Cabang dan Titik


Meskipun fungsi bernilai ganda F (z)=z 1 /2 . didefinisikan
untuk semua bilangan kompleks bukan nol C, cabang utama f 1 hanya
ditentukan pada domain |z|>0 ,−π <arg( z)< π . Secara umum,

potongan cabang untuk cabang f 1 dari fungsi bernilai ganda F adalah


bagian dari kurva yang dikecualikan dari domain F sehingga f 1 kontinu
pada titik yang tersisa. Oleh karena itu, sumbu real nonpositif,
ditunjukkan dalam warna pada Gambar 2.42, adalah potongan cabang

untuk cabang utama f 1 yang diberikan oleh (23) dari fungsi bernilai
ganda F (z)=z 1 /2 . Cabang F yang berbeda dengan potongan cabang
yang sama diberikan oleh f 2 ( z)= √ r e iθ/ 2 , π <θ<3 π . Cabang-cabang
ini berbeda karena untuk, katakanlah, z=i kita memiliki

1 1 −1 1
f 1 (i)= √ 2+ √ 2i, tetapi f 2 ( i )= √ 2− √ 2i . Perhatikan
2 2 2 2
bahwa jika kita menetapkan φ=θ−2 π , maka cabang f 2 dapat

direalkan sebagai f 2 ( z)= √r e i(φ+2 π )/2= √ r e iφ /2 eiπ ,−π <φ< π .


iφ /2
Karena e iπ =−1, ini disederhanakan menjadi f 2 ( z )=− √r e ,
−π <φ< π . Jadi, kami telah menunjukkan bahwa f 2=−f 1. Anda
dapat menganggap dua cabang F (z)=z 1 /2 ini sejalan dengan akar
kuadrat positif dan negatif dari suatu bilangan real positif.
Cabang-cabang lain dari F (z)=z 1 /2 dapat didefinisikan dengan
cara yang mirip dengan (23) menggunakan sembarang pengaturan dari
asal sebagai potongan cabang. Sebagai contoh,
f 3 ( z )= √ r e iφ /2 ,−3 π /4 <θ<5 π /4 , mendefinisikan cabang

F (z)=z 1 /2. Potongan cabang untuk f3 adalah sinar

arg(z )=−3 π /4 bersama dengan titik z=0 .


Bukan kebetulan bahwa titik z=0 ada pada potongan cabang
untuk f 1, f 2, dan f 3. Titik z=0 harus berada pada potongan cabang
setiap cabang dari fungsi bernilai ganda F (z)=z 1 /2. Secara umum,
titik dengan sifat yang ada di potongan cabang setiap cabang disebut

titik cabang F . Atau, titik cabang adalah titik z 0 dengan ciri berikut:
Jika kita melintasi setiap lingkaran yang berpusat pada z 0 dengan cukup
radius kecil mulai dari titik z 1, maka nilai cabang apa pun tidak kembali
ke nilai di z 1. Misalnya, pertimbangkan cabang apa pun dari fungsi
bernilai ganda G(z )=arg( z ). Pada intinya, katakanlah, z 0=1 , jika
kita melintasi lingkaran kecil |z−1|=ε berlawanan arah jarum jam

dari titik z 1=1−εi, maka nilai cabang meningkat hingga kita mencapai
titik 1+εi ; maka nilai-nilai cabang menurun kembali ke nilai cabang di

z 1. Lihat Gambar 2.43 (a). Ini berarti bahwa titik z 0=1bukan titik
cabang. Di sisi lain, misalkan kita ulangi proses ini untuk titik z 0=0 .
Untuk lingkaran kecil |z|=ε , nilai-nilai cabang meningkat sepanjang
seluruh lingkaran. Lihat Gambar 2.43 (b). Pada saat kami telah kembali
ke titik awal kami, nilai cabang tidak lagi sama; telah meningkat sebesar

2 π . Karena itu, z 0=0 adalah titik cabang dari G ( z ) =arg( z).


(a) z = 1 bukan titik cabang (b) z = 0 adalah titik cabang
Gambar 2.43
Latihan 2

Untuk soal no 1-10, jawablah dengan “benar” atau “salah”. Jika


pernyataan tersebut “benar” berilah penjelasan, jika “salah” tunjukkan
contoh penyangkalnya.

1. Jika f (z) adalah fungsi kompleks, maka f (x+ 0 i) pasti bilangan


real.
2. arg ⁡( z) adalah fungsi kompleks.
1
3. Domain fungsi f ( z )= 2 adalah semua bilangan kompleks.
z +1
4. w=z + ź memetakan seluruh bidang kompleks ke sumbu riil
v=0.
5. Daerah hasil untuk fungsi f ( z )= Arg(z) adalah semua bilangan
real.
6. Bayangan dari lingkaran |z−z 0|=ρ di bawah pemetaan linier
adalah lingkaran dengan pusat yang berbeda dengan jari-jari yang
sama.
7. Garis x=3 dan x=−3 dipetakan ke parabola yang sama oleh
w=z 2.
z
8. lim tidak ada.
z → 0 ź

9. Jika f suatu fungsi kompleks dengan lim f ( x+ 0i ) =0 dan


x →0

lim f ( 0+iy )=0 maka lim f ( z )=0.


y →0 z→0

10. Jika ´ kontinyu pada z 0.


f (z) kontinyu pada z 0, maka f (z)

Untuk soal no 11 – 20, jawablah dengan isian singkat!

11. Nilai dari f ( z )=e z untuk z=2−πi adalah…


12. Jika f ( z )=z 2 +i ź maka bagian real dari f adalah u ( x , y )=…
dan bagian imajiner dari f adalah u ( x , y )=…
|z−1|
13. Jika f ( z )= 2 , maka domain alami dari f adalah…
z + 2iz+ 2
14. Jika f ( z )=z −ź, maka range dari f termuat pada sumbu…
15. Bayangan dari pemetaan cakram tertutup ¿ z∨≤ 1 oleh
w=z−2+i adalah…
16. Bayangan dari pemetaan garis x=3 oleh w=z 2
adalah…
1
17. Bayangan dari pemetaan sumbu imajiner positif oleh
w=z 2
adalah…
1
18. Bayangan dari pemetaan lingkaran |z|=5 oleh w= adalah…
z
19. lim ( z 2− ź ) adalah…
z →2 i

20. Suatu fungsi kompleks f kontinyu pada z=z 0 jika lim


z→z
f ( z )=…
0

Untuk soal no 21-25, jawablah serta berikan penjelasan yang tepat.

21. Tentukan range untuk f ( z )=| z| yang didefinisikan pada persegi


0 ≤ ℜ(z )≤ 1, 0 ≤ ℑ(z )≤ 1!
22. Deskripsikan cara memperoleh bayangan w 0=f (z ¿¿ 0)¿ dari
titik z 0 di bawah pemetaan f ( z )=a ź +b dalam hal translasi,
rotasi, magnifikasi, dan refleksi!
23. Buktikan bahwa bayangan dari garis horizontal y=k , k ≠ 0
2
v 2
adalah parabola u=−(k )!−
4 k2
24. Apakah lim (|z|+iArg ( iz ) ) ada? Jika ada tentukan nilainya, jika
z→i
tidak ada jelaskan!
z
25. Tunjukkan bahwa fungsi
{
f ( z )= ź
,z≠0
1 , z =0
tidak kontinyu di titik

z 0=0 !

BAB 3
FUNGSI ANALITIK

3.1 DIFERENSIABILITAS DAN ANALITIK


Kalkulus dari fungsi kompleks berkaitan dengan konsep turunan
dan integral biasa. Pada bagian ini kami akan memberikan definisi limit

turunan dari fungsi kompleks f (z). Meskipun banyak konsep dalam


bagian ini akan nampak familiar, seperti hasil perkalian, hasil bagi, dan
aturan rantai diferensiasi, namun ada perbedaan antara beberapa bagian

tersebut dalam kalkulus fungsi real f (z). Pada bab ini akan dilanjutkan,
kamu akan melihat pengecualian nama dan definisi, bagian tersebut
sedikit sama antara interpretasi dari jumlah tersebut yaitu f ' (x ) dan
f ' (z ).

1. Derivatif
Seharusnya z=x +iy dan z 0=x 0 +iy 0 ; kemudian perubahan di
z0 perbedaannya Δ z= z−z 0 atau

Δ z= x−x 0+i ( y− y 0 ) =Δ x +i Δ y . Jika sebuah fungsi kompleks

w=f ( z) didefinisikan pada z dan z 0, kemudian perubahan fungsi yang


sesuai Δ w=f ( z 0 + Δ z )−f ( z 0 ). Derivatif dari fungsi f didefinisikan

Δw
dalam limit bagi hasil dari dimana Δ z ⟶ 0
Δz
Definisi 3.1 Derivatif dari Fungsi Komplek
Misalkan fungsi kompleks f didefinisikan dalam wilayah suatu titik

z 0. Maka derivatif dari f pada z 0, dituliskan dengan f ' (z 0 ), adalah


f ' ( z 0 )= lim f ¿ ¿ ¿ (1)
Δz⟶0

asalkan limit ini ada.

Jika limit (1) terbatas, maka fungsi f differentiable dari z 0.


Dua simbol lain yang menunjukkan turunan derifatif dari w=f ( z)
adalah w ' dan dw /dz . Jika notasi terakhir digunakan, maka nilai

dw
derivatif a pada titik yang ditentukan oleh z 0 ditulis
dz |z =z 0
Contoh 1. Gunakan definisi 3.1
2
Gunakan definisi 3.1 untuk menemukan derivatif dari f ( z )=z −5 z
Penyelesaian. Karena kita akan menghitung turunan dari f pada titik
manapun, kita ganti z 0 pada (1) dengan simbol z . Pertama,

2
f ( z + Δ z )= ( z + Δ z ) −5 ( z + Δ z )
2 2
¿ z + 2 z Δ z+ ( Δ z ) −5 z−5 z Δ z .

Kedua,

2
f ( z + Δ z )−f ( z )=z 2−2 z Δ z + ( Δ z ) −5 z−5 z Δ−( z 2−5 z )
2
¿ 2 z Δ z + ( Δ z ) −5 Δ z .

Kemudian hasil akhir, (1), diberikan

lim 2 z Δ z + ( Δ z )2−5 Δ z
f ' ( z )= Δ z ⟶ 0
Δz

lim Δ z ( 2 z+ Δ z−5 )
Δ z ⟶0
¿
Δz

¿ lim ( 2 z + Δ z−5 ) .
Δz⟶0

Limitnya adalah f ' ( z )=2 z−5

2. Aturan Derivatif
Aturan diferensiasi yang lazim dalam kalkulus variabel real
terbawa ke kalkulus variabel kompleks. Jika f dan g differentiable pada
suatu titik z dan c adalah konstanta yang kompleks, maka (1) dapat
digunakan untuk menunjukkan:

Aturan Derivatif
Aturan Konstan :
d d
c=0 dan cf ( z )=cf ' (z )
dz dz
(2)
Aturan Penjumlahan :
d
[ f ( z ) ± g ( z ) ]=f ' ( z ) ± g' ( z ) (3)
dz
Aturan Perkalian:
d
[ f ( z ) g ( z ) ] =f ( z ) g' ( z ) +f ' ( z ) g ( z ) (4)
dz
Aturan Pembagian :
' '
d f ( z ) g ( z ) f ( z )−f ( z ) g ( z )
[ ]
dz g ( z )
=
[ g (z )]
2

(5)
Aturan Rantai :
d
f ( g ( z ) )=f ' ( g ( z ) ) g ' (z) (6)
dz

Aturan pangkat untuk diferensiasi pangkat z juga valid:


d n n−1
z =nz , n merupakan bilangan bulat (7)
dz
Dengan menggabungkan (7) dan (6) menghasilkan aturan pangkat
untuk fungsi:
d
[g ( z ) ]n=n [g ( z ) ]n−1 g ' ( z), n merupakan bilangan bulat (8)
dz

Contoh 2 Menggunakan Aturan Diferensiasi


Diferensiasikan:

(a) f ( z )=3 z 4 −5 z3 +2 z
z2
(b) (b) f ( z )=
4 z+1
(c) (c) f ( z )=(iz2 +3 z)5

Penyelesaian
(a) Menggunakan aturan (7), aturan penjumlahan (3), juga dengan
(2), kita mendapatkan

f ' ( z )=3. 4 z 3−5. 3 z 2+2.1=12 z 3−15 z 2 +2


(b) Dari aturan pembagian (5)

' ( 4 z +1 ) .2 z−z 2 .4 4 z 2 +2 z
f ( z )= =
( 4 z +1 )2 ( 4 z +1 )2
(c) Dalam aturan fungsi (8) kita mengidentifikasi n=5,

g ( z )=iz 2 +3 z dan g' ( z )=2iz+3 dengan demikian


4
f ' ( z )=5 ( iz2 +3 z ) ( 2iz +3 )
Agar fungsi kompleks f menjadi differentiable pada suatu titik z 0, kita

f ( z 0 + Δ z )−f ( z 0 )
tahu dari bab sebelumnya yang limit lim harus
Δz⟶0 Δz
ada dan sama dengan bilangan kompleks yang sama dari segala arah;
begitupun, limitnya harus terlepas bagaimana Δ z mendekati 0. Ini
berarti dalam analisis yang kompleks, persyaratan diferensiabilitas suatu

fungsi f (z) pada titik z 0 jauh permintaan lebih besar daripada dalam
kalkulus fungsi real f (z) dimana kita dapat melakukan pendekatan
bilangan real x 0 pada garis bilangan dari hanya dua arah. Jika sebuah
fungsi kompleks dibuat dengan menentukan bagian real dan imajiner u
dan v, seperti f ( z )=x + 4 iy , fungsi tersebut dapat dirubah tapi tidak
differentiable.

Contoh 3 Suatu Fungsi yang Tidak dapat dibedakan Asalnya


Tunjukkan bahwa fungsi f ( z )=x + 4 iy tidak differentiable dari
beberapa titik z .
Penyelesaian biarkan titik z menjadi beberapa titik kompleks. Dengan
Δ z= Δ x+ i Δ y ,
f ( z + Δ z )−f ( z )=( x+ Δ x )+ 4 i ( y+ Δ y )−x −4 iy

dan lim f ¿ ¿ ¿ (9)


Δz⟶ 0

Sekarang, seperti yang ditujukkan pada gambar 3.1 (a) jika kita
membiarkan Δ z ⟶ 0 sepanjang garis parallel terhadap sumbu x ,
kemudian Δ y =0 dan Δ x dan
lim f ( z +∆ z )−f (z ) lim ∆ x
Δz ⟶ 0
= Δz ⟶0 =1 (10)
∆z ∆x

Disamping itu jika kita membiarkan Δ z ⟶ 0 selama pada garis


parallel terhadap sumbu y yang ditunjukkan pada gambar 3.1 (b),
kemudian Δ x=0 dan Δ z=i Δ y begitupun

lim f ( z +∆ z )−f (z ) lim 4 i ∆ y


Δz ⟶ 0 Δz ⟶ 0
= =4.
∆z i∆ y
(11)

Mengingat fakta yang dijelaskan bahwa nilai (10) dan (11)

berbeda, kami menyimpulkan bahwa f ( z )=x + 4 iy tidak

differentiable; artinya, f tidak differentiable pada titik mana pun di titik


z.

(a) sepanjang garis yang (b) sepanjang garis sejajar


sejajar dengan sumbu x dengan sumbu y
Gambar 3.1 Mendekati z sepanjang garis horizontal dan
kemudian sepanjang garis vertikal
Aturan dasar (7) tidak berlaku untuk menkonjungsikan titik z

karena, seperti pada contoh 3, fungsi f ( z )=ź tidak differentiable


dimanapun.

3. Fungsi Analitik
Meskipun persyaratan diferesiabilitas adalah permintaan yang
rumit, ada kelas fungsi yang sangat penting yang anggotanya memenuhi
persyaratan yang lebih rumit lagi. Fungsi-fungsi ini disebut fungsi
analitik.

Definisi 3.2 Analitik pada Suatu Titik


Fungsi kompleks w=f ( z) dikatakan analitik pada titik z 0 jika f
differentiable pada z 0 dan pada setiap titik diberapa wilayah z 0.

Fungsi f adalah analitik dalam domain D jika analitik pada


setiap titik dalam D . Ungkapan “analitik pada domain D ” juga
digunakan. Meskipun kita akan melakukannya tidak menggunakan
istilah-istilah ini dalam teks ini, suatu fungsi f yang analitik di seluruh
domain D yang disebut holomorfik atau reguler. Kamu harus membaca
kembali Definisi 3.2 secara cermat. Analitik pada suatu titik adalah sifat
persekitaran; dengan kata lain, analitik adalah bagian yang didefinisikan
lebih satu himpunan terbuka. Ini dibiarkan sebagai latihan untuk
2
menunjukkan fungsi f ( z )=| z| dapat differentiable pada z=0 tetapi
2
tidak dapat differentiable di tempat lain. Meskipun f ( z )=| z|
differentiable dengan z=0 , itu tidak analitik pada saat itu karena tidak
ada di wilayah z=0 dimana f differentiable; maka fungsi f ( z )=| z|2
tidak analitik.
Sebaliknya, polimonial sederhana f ( z )=z 2 differentiable pada
setiap titik z dibidang kompleks. Karena f ( z )=z 2 menjadi analitik
dimanapun.

4. Seluruh Fungsi
Suatu fungsi yang analitik pada setiap titik z dalam bidang
kompleks dikatakan sebagai keseluruhan fungsi. Dapat dilihat pada
aturan diferensiasi (2), (3), (7), dan (5), kita dapat menyimpulkan bahwa
fungsi polinom dapat differentiable pada setiap titik z dalam bidang
kompleks dan fungsi rasional bersifat analitik di seluruh domain D yang
tidak mengandung titik dimana penyebutnya nol. Teorema berikut
merangkum hasil-hasil.

Teorema 3.1 Fungsi Polinomial dan Rasional


(i) Sebuah fungsi polinomial

p ( z ) =an z n+ an−1 z n−1 +…+ a1 z +a 0 , dimana n merupakan


bilangan bulat negatif, adalah seluruh fungsi.
p( z )
(ii) Fungsi rasional f ( z )= , dimana p dan q merupakan
q(z )
fungsi polinomial, analitik pada domain D apapun yang tidak
mengandung titik z 0 untuk q ( z 0 ) =0.

5. Titik Tunggal
Karena fungsi rasional f ( z )=4 z /(z 2−2 z+ 2) tidak terputus
pada 1+i dan 1−i maka akan tidak dapat ditentukan analitik pada titik-
titik tersebut. Oleh (ii) dari Teorema 3.1, f tidak analitik dalam domain
apapun yang mengandung satu atau dua titik tersebut. Secara umum,

titik z dimana fungsi kompleks w=f ( z) bukan analitik desebut titik


tunggal f .
Jika fungsi f dan g analitik dalam domain D , dapat dibuktikan
bahwa:

Analisitas Jumlah, Hasil Kali, dan Hasil Bagi


Penjumlahan f ( z ) + g(z ), berbeda dengan f ( z )−g ( z), dan hasil
kali f ( z ) g (z) adalah analitik. Hasil bagi f (z)/ g( z ) analitik
dengan ketentuan g ( z ) ≠ 0 pada D .

6. Definisi Alternatif dari f (z)


Terkadang mudah untuk menentukan turunan dari suatu fungsi f
menggunakan bentuk alternatif dari pembagian selisih ∆ w/∆ z . Karena

∆ z=z −z0 , kemudian z=z 0 +∆ z dan (10) bisa ditulis dengan


f ( z ) −f ( z 0 )
f ' ( z 0 )= lim (12)
z⟶z0 z−z 0
Berbeda dengan apa yang kita lakukan pada Contoh 1, jika kita
ingin menghitung f pada titik umum z menggunakan (12) maka kita
ganti z 0 dengan simbol z setelah limit dihitung.
Seperti dalam analisis real, jika suatu fungsi f dapat dibedakan
pada suatu titik, fungsi tersebut harus terus menerus pada titik tersebut.
Kami menggunankan bentuk turunan yang diberikan pada (12) untuk
membuktikan pernyataan terakhir.

Teorema 3.2 Diferensiabilitas Kesinambungan


Jika f differentiable pada titik z 0 dalam domain D , maka f adalah
kontinue di z 0.

f ( z )−f ( z 0)
Bukti Limit lim dan lim ( z−z 0) ada dan sama
z ⟶ z0 z−z 0 z⟶z 0

dengan f ( z 0) dan 0. Oleh karena itu Teorema 2.2 (iii) dari Bagian 2.6,
kita dapat menulis limit hasil sebagai hasil limit berikut :
lim f ( z )−f ( z 0 )
z ⟶ z0
lim ( f ( z )−f ( z 0 ) ) = . ( z−z 0 )
z ⟶ z0 z−z 0
lim f ( z )−f ( z0 )
z⟶z0
¿ . lim ( z−z 0 )
z−z 0 z⟶z0

¿ f ' ( z 0 ) .0=0.

Dari lim ( f ( z )−f ( z 0 ) ) =0 kita dapat menyimpulkan bahwa


z ⟶ z0

lim f ( z ) =f (z 0 ). Dilihat pada Definisi 2.9, f kontinu pada z .


z ⟶ z0 0
Tentu saja kebalikan dari Teorema 3.2 tidak benar; kontinuitas
fungsi f pada suatu titik tidak menjamin bahwa f differentiable pada
titik tersebut. Sesuai dengan Teorema 3.2 fungsi sederhana

f ( z )=x + 4 iy kontinu dimanapun karena bagian real dan imajiner dari


f ,u ( x , y ) =x dan v ( x , y ) =4 y kontinu pada titik mana pun ( x , y ).
Sebelumnya kita melihat di Contoh 3 bahwa f ( z )=x + 4 iy tidak
differentiable di setiap titik z.
Sebagai konsekuensi lain dari diferensialibitas, ada aturan
L’Hopital’s untuk menghitung limit bentuk tak tentu dari 0 /0 , sehingga
dapat dijadikan ke analisis kompleks.
Teorema 3.3 Aturan L’Hopital’s
Misalkan f dan g adalah fungsi analitik pada titik z 0 dan

f ( z 0 ) =0 , g ( z0 ) =0 tapi g '( z 0 )≠ 0. Kemudian


f ( z ) f ' ( z0 )
lim =
z ⟶ z0 g(z) g '( z 0 )

Contoh 4 Gunakan Aturan L’Hopital’s

z 2−4 z+ 5
Hitunglah lim
z →2+i z 3−z−10 i

Penyelesaian Jika kita mengidentifikasi z 2−4 z+5 dan

g ( z )=z 3−z−10 i, kamu perlu memastikan bahwa f ( 2+i )=0 dan


g ( 2+i )=0. Limit yang diberikan memiliki bentuk tak tentu 0 /0 .
Sekarang karena f dan g adalah fungsi polinomial, kedua fungsi harus
analitik pada z 0=2+i . Gunakan
f ' ( z )=2 z−4 g' ( z )=3 z 2−1 g' (2+i )=8+12i

kita melihat (13) maka didapatkan

z 2−4 z+ 5 f ' (2+i) 2i 3 1


lim 3
= = = + i
z →2+i z −z−10 i g ' (2+i) 8+12i 26 13

Pada bagian (b) di Contoh 4 pada Bagian 2.6 kita menggunakan


langkah-langkah yang panjang dari pemfaktoran dan penyederhanaan
untuk menghitung limit

z 2−2 z +4
lim (14)
z →1+ √3 i z−1−√ 3 i

Melihat kembali contoh itu menunjukkan bahwa limit (14) memiliki

bentuk tak tentu 0 /0 . Dengan f ( z )=z 2−2 z +4 , g ( z )=z−1− √3 i ,

f ' ( z )=2 z−2 dan g' ( z )=1, Aturan L’ Hopitasl’s (13) memberikan
hasil

'
z 2−2 z +4 f ( 1+ √ 3 i )
lim = =2 ( 1+ √ 3 i−1 )=2 √ 3i .
z →1+ √3 i z−1−√ 3 i 1

3.2 PERSAMAAN CAUCHY-RIEMANN


Pada bagian sebelumnya kita melihat bahwa fungsi f dari
variabel kompleks z adalah analitik di sebuah titik z pada saat f
differentiable pada z dan differentiable pada setiap titik di wilayah z .
Persyaratan ini lebih ketat daripada sekedar diferensiabilitas pada suatu
titik karena fungsi kompleks dapat dibedakan pada titik z tetapi belum
differentiable pada kasus lain. fungsi f adalah analitik dalam domain D
jika f differentiable pada semua titik pada D . Sekarang kita perlu
mengembangkan tes untuk analitik dari fungsi kompleks

f ( z )=u ( x , y )+iv ( x , y ) yaitu berdasarkan turunan parsial dari bagian


real dan imajinernya u dan v .

1. Suatu Kondisi yang Diperlukan Untuk Analisis


Pada Teorema selanjutnya kita melihat jika fungsi

f ( z )=u ( x , y )+iv ( x , y ) differentiable pada suatu titik z , maka fungsi


u dan v harus memnuhi sepasang persamaan yang menghubungkan
turunan parsial pertama.

Teorema 3.4 Persamaan Cauchy-Riemann


Misalkan f ( z )=u ( x , y )+iv ( x , y ) dapat dibedakan pada titik

z=x +iy . Kemudian pada z turunan parsial pertama dari u dan v


ada dan memenuhi persamaan Cauchy-Riemann.
∂u ∂v ∂u −∂ v
= dan =
∂x ∂ y ∂ y ∂x
(1)

Bukti derivatif dari f pada z didapatkan dengan


f ( z + ∆ z ) −f (z )
f ' ( z )= lim
∆ z→0 ∆z
(2)
Dengan menulis f ( z )=u ( x , y )+iv ( x , y ) dan ∆ z=∆ x+i ∆ y , (2)
menjadi
u ( x +∆ x , y + ∆ y )+ iv ( x + ∆ x , y +∆ y )−u ( x , y )−iv( x , y)
f ' ( z )= lim
∆ z→0 ∆ x +i ∆ y
(3)
Karena limit (2) diasumsikan ada, ∆ z dapat mendekati nol dari arah
manapun. Secara khusus, jika kita memilih untuk membiarkan ∆ z →0
sepanjang garis horizontal, lalu ∆ y =0 dan ∆ z=∆ x . Kita dapat
menulis dengan (3) sehingga

u ( x+ ∆ x , y )−u ( x , y ) +i[v ( x+ ∆ x , y )−v ( x , y ) ]


f ' ( z )= lim
∆ x →0 ∆x

lim u ( x + ∆ x , y )−u(x , y)
∆x → 0 v ( x+ ∆ x , y ) =v (x , y )
¿ +i lim
∆x ∆ x →0 ∆x
(4)

Keberadaan f (z) menyiratkan bahwa setiap limit dalam (4) ada. Limit
ini adalah definisi turunan parsial pertama berkenaan dengan x pada u
dan v masing-masing. Karena itu kita telah menunjukkan dua hal:
keduanya ∂ u/∂ x dan ∂ v /∂ x ada pada titik z , dan merupakan
derivatif dari f adalah

∂u ∂v
f ' ( z )= +i (5)
∂x ∂x

Kita sekarang membiarkan ∆ z →0 sepanjang garis vertikal. Dengan


∆ x=0 dan ∆ z=i ∆ y (3) menjadi
lim x ( x , y + ∆ y )−u(x , y ) lim v ( x , y+ ∆ y )−v ( x , y )
f ' ( z )= ∆ y →0 + i ∆ y →0
i∆ y i∆ y
(6)

Dalam hal ini (6) menunjukkan pada kita bahwa ∂ u/∂ y dan ∂ v /∂ y
ada di z menjadi,

∂u ∂ v
f ' ( z )=−i + (7)
∂ y ∂y

Dengan menyamakan bagian real dan imajiner dari (5) dan (7) kita
memperoleh pasangan persamaan dalam (1).

Karena Teorema 3.4 merealkan bahwa persamaan Cauchy-


Riemann (1) berlaku pada z sebagai konsekuensi yang perlu dari f
differentiable pada z , kita tidak dapat menggunakan teorema untuk
membantu kita menentukan dimana f differentiable. Tapi ini penting
untuk menyadari bahwa Teorema 3.4 dapat memberi tahu kita dimana
fungsi f tidak mempunyai turunan. Jika persamaan dalam (1) tidak
terpenuhi pada titik z , maka f tidak differentiable pada z . Kita perlu
melihat Contoh 3 pada Bagian 3.1 bahwa f ( z )=x + 4 iy tidak
differentiable dimanapun pada titik z . Jika kita mengidentifikasi u=x
dan v=4 y , kemudian ∂ u/∂ x=1, ∂ v /∂ y =4 , ∂ u/∂ y=0 dan
∂ v / ∂ x=0 . Maka dapat dilihat dari
∂u ∂v
=1 ≠ =4
∂x ∂y
dua persamaan dalam (1) tidak dapat secara bersamaan dipenuhi pada
titik z . Dengan kata lain, f tidak differentiable dari mana pun.
Ini juga mengikuti dari Teorema 3.4 bahwa jika fungsi kompleks

f ( z )=u ( x , y )+iv ( x , y ) analitik di seluruh domain D , maka fungsi


sebenarnya u dan v memnuhi persamaan Cauchy-Riemann (1) di setiap
titik dalam D.

Contoh 1 Memeriksa Teorema 3.4


Fungsi polinomial f ( z )=z 2 + z adalah analitik untuk semua z dan dapat
dituliskan dengan f ( z )=x 2− y2 + x +i ( 2 xy + y ). Jadi,

u ( x , y )=x 2− y2 + x dan v ( x , y ) =2 xy + y . Untuk setiap titik ( x , y )


dalam bidang kompleks kita melihat bahwa persamaan Cauchy-Riemann
menjadi:

∂u ∂v ∂u −∂ v
=2 x+ 1= dan =−2 y =
∂x ∂y ∂y ∂x

Bentuk kontrapositif dari sebelumnya Contoh 1 adalah :

Kriteria untuk Non-analitik


Jika persamaan Cauchy-Riemann tidak memenuhi di setiap titik z
dalam domain D , maka fungsi f ( z )=u ( x , y )+iv ( x , y ) tidak
dapat analitik pada D.

Contoh 2 Gunakan persamaan Cauchy-Riemann


Tunjukkan bahwa fungsi kompleks f ( z )=2 x 2+ y+ i( y 2−x) tidak
analitik pada setiap titik.
Penyelesaian kita mengidentifikasi u ( x , y )=2 x 2+ y dan

v ( x , y ) = y 2−x . Dari
∂u ∂v
=4 x dan =2 y
∂x ∂y
∂u ∂v
=1 dan =−1 (8)
∂y ∂x

Kita melihat bahwa ∂ u/∂ y=−∂ v /∂ x tapi persamaan

∂ u/∂ x=∂ v /∂ y terpenuhi hanya pada garis y=2 x . Namun, untuk


setiap titik z pada sebuah garis, tidak ada wilayah bebas untuk z dimana
f differentiable pada setiap titik. Kami menyimpulkan bahwa f tidak
analitik.

2. Suatu Kondisi yang Cukup untuk Analisis


Sebenarnya, pada persamaan Cauchy-Riemann tidak memastikan

analitik dari fungsi f ( z )=u ( x , y )+iv ( x , y ) pada suatu titik


z=x +iy . Memungkinkan untuk persamaan Cauchy-Riemann dipenuhi
pada z namun f ( z ) mungkin tidak differentiable di z , atau f ( z )
differentiable pada z tetapi tidak di tempat lain. dalam kedua kasus
tersebut, f tidak analitik z . Namun, ketika kita tambahkan kondisi
kontinuitas ke u dan v dan ke empat turunan parsial ∂ u/∂ x , ∂ u/∂ y ,
∂ v /∂ x dan ∂ v /∂ y , itu dapat menunjukkan bahwa persamaan
Cauchy-Riemann tidak hanya diperlukan namun juga cukup untuk

menjamin analitik dari ( z )=u ( x , y ) +iv( x , y) di z . Untuk buktinya


panjang dan rumit sehingga kami hanya merealkan hasilnya.
Teorema 3.5 Kriteria untuk Analitik
Misalkan fungsi real u(x , y) dan v( x , y) kontinu dan memiliki
turunan parsial pertama kontinu pada domain D . Jika u dan v
memenuhi persamaan Cauchy-Riemann (1) pada semua titik D,
maka fungsi kompleks f ( z )=u ( x , y )+iv ( x , y ) analitik pada D .
Contoh 3 Gunakan Teorema 3.5
x y x
Untuk fungsi f ( z )= 2 2
−i 2 2 fungsi real u ( x , y )= 2 2
x +y x +y x +y

−y
dan v ( x , y )= adalah kontinu kecuali pada titik dimana
x2 + y2
x 2+ y 2=0 dimana z=0 . Apalagi empat turunan parsial pertama

∂u y 2−x 2 ∂u −2 xy
= 2 2 2,
= 2 2 2,
∂x (x + y ) ∂ y (x + y )

∂v
=
2 xy ∂ v − y 2−x 2
, dan =
∂ x ( x 2 + y 2)2 ∂ y ( x2 + y 2 )2

Adalah kontinu kecuali pada z=0 . Akhirnya, kita melihat dari

∂u y 2−x 2 ∂v ∂u −2 xy −∂ v
= 2 2 2= dan = 2 2 2=
∂x (x + y ) ∂ y ∂ y (x + y ) ∂x

bahwa persamaan Cauchy-Riemann dipenuhi kecuali pada z=0 .


Demikian kita menyimpulkan dari Teorema 3.5 bahwa f analitik dalam
domain D apapun yang tidak mengandung titik z=0.
Hasil dalam (5) dan (7) diperoleh berdasarkan asumsi dasar
tersebut bahwa f differentiable pada titik z . Dengan kata lain, (5) dan
(7) memberikan kita rumus untuk menghitung derivatif f ' (z):

∂u ∂v ∂v ∂u
f ' ( z )= +i = −i (9)
∂x ∂x ∂ y ∂ y

Sebagai contoh, kita sudah mengetahui dari bagian (i) Teorema 3.1

bahwa f ( z )=z 2 adalah keseluruhan dan differentiable untuk semua z .


Dengan u ( x , y )=x 2− y2 , ∂ u/ ∂ x=2 x , v ( x , y )=2 xy dan

∂ v /∂ y =2 y , melihat dari (9) maka

f ' ( z )=2 x+i 2 y=2 ¿


Ingatlah bahwa analitik menunjukkan implikasi pembedaan tetapi tidak
sebaliknya. Teorema 3.5 memiliki analog yang memberikan kriteria
berikut untuk diferensialibitas.

Kondisi yang Memadai untuk Diferensialibitas


Jika fungsi real u ( x , y ) dan v ( x , y ) kontinu dan memiliki
turunan parsial pertama kontinu di beberapa persekitaran dari titik z ,
dan jika u dan v memenuhi persamaan Cauchy-Riemann (1) pada z ,
maka fungsi kompleks f ( z )=u ( x , y )+iv ( x , y ) differentiable pada
z dan f ( z ) diberikan oleh (9).

Contoh 4 Fungsi yang Dapat Dibedakan pada Garis


Dalam contoh 2 kita melihat bahwa fungsi kompleks

f ( z )=2 x 2+ y+ i( y 2−x) sama sekali tidak analitik, tetapi persamaan


Cauchy-Riemann memenuhi pada garis y=2 x . Tetapi karena fungsi
u ( x , y )=2 x 2+ y ,∂ u/∂ x=4 x , ∂ u/ ∂ y=1 , v ( x , y )= y 2−x , ∂ v /∂ x=−1
dan ∂ v /∂ y =2 y kontinu pada setiap tiitk, maka f differentiable pada
garis y=2 x . Bahkan dari (9) kita melihat bahwa turunan dari f pada
titik-titik garis yang diberikan f ( z )=4 x−i=2 y−i .
Teorema berikut adalah konsekuensi langsung dari persamaan Cauchy-
Riemann. Buktinya dibiarkan sebagai latihan

Teorema 3.6 Fungsi Konstan


Misalkan fungsi f ( z )=u ( x , y )+iv ( x , y ) analitik dalam domain
D.
(i) Jika |f ( z )| adalah konstan di D , kemudian begitupun
dengan f ( z).
(ii) Jika f ' ( z )=0 pada D , kemudian f ( z )=c pada D ,
dimanapun c adalah konstan.

3. Koordinat Polar
Pada Bagian 2.1 kita melihat fungsi kompleks dapat direalkan

dalam koordinat polar. Memang bentuk f ( z )=u ( r , θ ) +iv (r ,θ)


seringkali lebih mudah untuk digunakan. Dalam koordinat polar akan
menjadi persamaan Cauchy-Riemann

∂u 1 ∂ v ∂ v −1 ∂ u
= , = (10)
∂r r ∂θ ∂r r ∂θ

Polar (9) pada titik z yang koordinat polarnya adalah (r , θ), kemudian
f ' ( z )=e−iθ ( ∂∂ ur +i ∂∂ vr )= 1r e ( ∂∂θv −i ∂∂ uθ ) .
−iθ

.3 FUNGSI HARMONIK
Dalam Bagian 5.5 kita akan melihat bahwa ketika fungsi

kompleks f ( z )=u ( x , y )+ iv( x , y ) analitik pada titik z, maka semua


turunan dari f : f '( z ), f ' ' (z), f ' ' ' (z),.. . juga analitik pada z.
Sebagai konsekuensi dari fakta yang luar biasa ini, kita dapat

menyimpulkan bahwa semua turunan parsial dari fungsi real u(x , y)


dan v( x , y) kontinu pada z. Dari kontinuitas turunan parsial kita
kemudian tahu bahwa turunan parsial campuran orde kedua sama. Fakta
terakhir ini, ditambah dengan persamaan Cauchy-Riemann, akan
digunakan dalam bagian ini untuk menunjukkan bahwa ada hubungan
antara bagian real dan imajiner dari fungsi analitik

f (z)=u( x , y )+ iv( x , y ) dan persamaan diferensial parsial orde


kedua

∂2 φ ∂2 φ
+ =0 (1)
∂ x2 ∂ y2

Persamaan ini, salah satu yang paling terkenal dalam matematika


terapan, dikenal sebagai persamaan Laplace dalam dua variabel.

∂2 φ ∂2 φ
Jumlah + dari dua turunan parsial kedua dalam (1)
∂ x2 ∂ y2
dilambangkan dengan ∇ 2 φ dan disebut Laplacian dari φ. Persamaan
Laplace kemudian disingkat ∇ 2 φ=0.
1. Fungsi Harmonik
Penyelesaian φ (x , y ) dari persamaan Laplace (1) dalam domain
D dari pesawat diberi nama khusus.

Definisi 3.3 Fungsi Harmonik


Fungsi bernilai riil φ dari dua variabel riil x dan y yang
memiliki turunan parsial urutan pertama dan kedua dalam domain D
dan memenuhi persamaan Laplace dikatakan harmonis dalam D.

Fungsi harmonik ditemui dalam studi tentang suhu dan potensi.

Teorema 3.7 Fungsi Harmonik


Misalkan fungsi kompleks f (z)=u( x , y )+ iv( x , y )
analitik dalam domain D. Kemudian fungsi u(x , y) dan v( x , y)
harmonik dalam D.

Bukti Asumsikan f (z)=u( x , y )+ iv( x , y ) analitik dalam domain D


dan bahwa u dan v memiliki turunan parsial orde dua terus-menerus
dalam D. Karena f adalah analitik, maka Persamaan Cauchy-Riemann
memenuhi di setiap titik z. Membedakan kedua sisi ∂ u/∂ x=∂ v /∂ y
sehubungan dengan x dan membedakan kedua sisi ∂ u/∂ y=−∂ v /∂ x
masing-masing, masing-masing,

∂2 u ∂2 v ∂2 u ∂2 v
+ dan +
∂ x2 ∂ x ∂ y ∂ y2 ∂ y ∂ x
(2)
Dengan asumsi kontinuitas, parsial campuran ∂2 v /∂ x ∂ y dan
∂2 v /∂ y ∂ x adalah sama. Oleh karena itu, dengan menambahkan dua
persamaan dalam (2) kita melihatnya

∂2 u ∂2 u
+ =0 dan ∇ 2 u=0
∂ x2 ∂ y2

Ini menunjukkan bahwa u(x , y) harmonik.


Sekarang membedakan kedua sisi ∂ u/∂ x=∂ v /∂ y
sehubungan dengan y dan membedakan kedua sisi ∂ u/∂ y=−∂ v /∂ x
sehubungan dengan x, berikan, pada gilirannya,

∂2 u/∂ y ∂ x=∂2 v /∂ y 2 dan ∂2 u/∂ x ∂ y=−∂2 v /∂2 x .


Mengurangkan dua persamaan terakhir menghasilkan ∇ 2 v=0.

Contoh 1 Fungsi Harmonik


Fungsi f (z)= z2 =x2− y 2+2 xyi adalah keseluruhan. Fungsi

u(x , y)=x2− y 2 dan v( x , y)=2 xy harus harmonis dalam domain


D dari bidang kompleks.

2. Fungsi Konjugasi Harmonik


Kami baru saja menunjukkan bahwa jika suatu fungsi

f (z)=u(x , y )+ iv ¿) analitik dalam domain D, maka bagian real dan


imajinernya u dan v selalu harmonis dalam D. Sekarang anggaplah u ¿)
adalah fungsi real yang diberikan yang dikenal harmonik dalam D. Jika

dimungkinkan untuk menemukan fungsi harmonik real lain v( x , y)


sehingga u dan v memenuhi persamaan Cauchy-Riemann di seluruh
domain D, maka fungsi v( x , y) disebut konjugat harmonik dari
u(x , y). Dengan menggabungkan fungsi sebagai u(x , y)+iv ( x , y )
kita memperoleh fungsi yang analitik dalam D.

Contoh 2 Konjugat Harmonik


(a) Pastikan bahwa fungsi u(x , y)=x2−3 x y 2−5 y harmonis di
seluruh bidang kompleks.
(b) Temukan fungsi konjugat harmonik dari u.

Penyelesaian
(a) Dari turunan parsial

2
∂u 2 2 ∂ u ∂u ∂2 u
=3 x −3 y , 2 =6 x , =−6 xy−5 , 2 =−6 x
∂x ∂x ∂y ∂y

kami melihat bahwa Anda memenuhi persamaan Laplace

∂2 u ∂2 u
+ =6 x−6 x=0.
∂ x2 ∂ y2

(b) Karena fungsi harmonik konjugat v harus memenuhi persamaan


Cauchy-Riemann ∂ v /∂ y =∂u / ∂ x dan ∂ v /∂ x=−∂u /∂ y , kita
harus memiliki

∂v ∂v
=3 x 2−3 y 2 dan =6 xy +5 (3)
∂y ∂x

Integrasi parsial dari persamaan pertama pada (3) berkenaan dengan

variabel y memberikan v( x , y)=3 x2 y− y 3 +h (x) . Turunan parsial


sehubungan dengan x dari persamaan terakhir ini adalah
∂v
=6 xy +h ' ( x)
∂x

Ketika hasil ini disubstitusi ke dalam persamaan kedua dalam (3) kita

memperoleh h ' ( x)=5 , dan juga h(x )=5 x +C , di mana C adalah


konstanta real. Oleh karena itu, konjugat harmonik dari u adalah

v( x , y)=3 x2 y− y 3 +5 x +C .

Dalam Contoh 2, dengan menggabungkan u dan konjugat


harmoniknya vsebagai u(x , y)+iv (x , y ), fungsi kompleks yang
dihasilkan

f ( x )=x 3−3 x y 2−5 y +i(3 x 2− y 3 +5 x +C)

adalah fungsi analitik di seluruh domain D yang terdiri, dalam hal ini,
dari seluruh bidang kompleks. Dalam Contoh 1, karena

f ( z )=z 2=x 2− y2 +2 xyi adalah keseluruhan, fungsi real

v( x , y)=2 xy adalah konjugat harmonik dari u(x , y)=x2− y 2.


LATIHAN 3

Untuk soal no 1-10, jawablah dengan “benar” atau “salah”. Jika


pernyataan tersebut “benar” berilah penjelasan, jika “salah” tunjukkan
contoh penyangkalnya.

1. Jika fungsi kompleks terdifferensial pada titik z, maka f analitik


pada z.
y x
2. Fungsi f ( z )= 2 2
+i 2 2 terdiferensial pada semua z ≠ 0 .
x +y x +y
3. Fungsi f ( z )=z 2 + ź tidak analitik dimanapun.
4. Fungsi f ( z )=cos y−i sin y tidak terdiferensial dimana-mana.
5. Jika f ( z )=e x cos y+i e x sin y , maka f ' ( z )=f ( z) .
6. Fungsi u ( x , y )=e 4 x cos 2 y adalah bagian riil dari suatu fungsi
analitik.
7. Jika u ( x ,
y ) dan v (x , y) adalah suatu fungsi harmonic dalam
∂u ∂ v ∂u ∂ v
domain D, maka fungsi f ( z )= (−
∂y ∂x
+ )(
+
∂x ∂x
analitik)
di D.
8. Persamaan Cauchy Riemann merupakan sarat perlu fungsi
terdiferensiasi.
9. Persamaan Cauchy Riemann dapat dipenuhi pada titik z, tetapi
fungsi f ( z )=u ( x , y )+iv ( x , y ) dapat tidak terdiferensial di z.
10. Jika fungsi f ( z )=u ( x , y )+iv ( x , y ) analitik pada fungsi z, maka
fungsi g ( z )=u ( x , y )−iv ( x , y ) analitik pada z.

Untuk soal no 11 – 20, jawablah dengan isian singkat!


1
11. Jika f ( z )=z − maka f ' ( z )=…
z
1
12. Jika f ( z )= 2 maka f ' ( z )=…
z + 5iz−4
5
z +4 z
13. lim 2 =…
z →1+i z −2 z+2

14. Fungsi f ( z )=
i z 2−2 z analitik di titik…
3 z+ 1−i
1
15. Fungsi f ( z )= 2 tidak analitik pada…
z + 5iz−4
16. Agar f ( z )=3 x− y +5+ i( ax+ by−3) analitik, maka nilai a
dan b adalah…
x−1 y−1
17. Fungsi f ( z )= 2 2
−i 2 2 analitik
(x −1) +( y−1) (x−1) +( y−1)
pada domain D yang tidak memuat titik z=1+i . Di dalam D,
f ' ( z )=…
18. Fungsi f ( z )=(2−x )3+ i( y−1)3 terdiferensial pada…
19. Untuk f ( z )=2 x 3 +3 i y 2, maka f ' ( x +i x 2 )=…
20. Untuk u ( x , y )=e x ¿ , harmonik konjugatnya adalah…

Untuk soal no 21-25, jawablah serta berikan penjelasan yang tepat.

( 4+ 2i ) z 3
21. Jika f ( z )=( ) . Tentukan f ' (z)!
( 2−i ) z 2 +9 i
22. Fungsi f ( z )=¿ z∨¿2 ¿ kontinyu pada titik (0,0). Tunjukkan
bahwa f terdiferensial pada titik (0,0).
23. Tunjukkan bahwa fungsi
0 , z=0

{
f ( z )= x3 − y 3 x 3 + y 3
+i
x 2+ y 2 x 2 + y 2
, z≠0
tidak terdiferensial pada z=0 .
24. Misalkan u(x , y) dan v( x , y) adalah bagian riil dan imajiner
dari suatu fungsi analitik f . Apakah g ( z )=v ( x , y ) +iu( x , y )
juga merupakan fungsi analitik? Jelaskan!
2 2
25. Verifikasilah bahwa u ( x , y )=e x − y cos 2 xy adalah harmonic
pada domain D yang sesuai. Selnjutnya temukan harmonik
konjugat v dan tentukan fungsi analitik f ( z )=u+ iv yang
memenuhi f ( 0 )=1.