Anda di halaman 1dari 4

MENGUKUR STATUS KESEHATAN

( DARI ANGKA KEMATIAN UNTUK KUALITAS HIDUP )

Pembahasan ini mengkaji cara-cara yang berbeda di mana status


kesehatan telah diukur dari tingkat kematian untuk kualitas hidup. Selain itu,
menggambarkan cara di mana kualitas hidup telah digunakan dalam penelitian
baik dari segi faktor-faktor yang memprediksi kualitas hidup (kualitas hidup
sebagai variabel hasil) dan hubungan antara kualitas hidup dan umur panjang
(kualitas hidup sebagai prediktor).

Ukuran Moralitas

Pada dasarnya ketika kita mengukur status kesehatan dan


mengaitkannya dengan angka kematian merupakan hal yang sangat
kasar (kurang etis), selalu terpaku kepada jumlah atau angka manusia
yang mengalami kematian di rentan waktu 1 tahun sebagai pembanding
dengan tahun sebelum dan berikutnya. Menggunakan acuan premis
pertanyaan yang mengacu pada kedua faktor bahwasannya jika terjadi
peningkatan angka kematian maka terjadi penurunan pada status
kesehatan begitu pun sebaliknya. Sehingga untuk mengatakan hal itu
relevan dan dapat berlaku etis maka di butuhkanlah populasi sebagai
subjek mengontrolnya, dimana itu berlaku sebagai pendekatan mencari
kebenaran yang di lihat berdasarkan aspek demografi. Sebagai
contohnya Cina dan Indonesia memiliki masing-masing bahan persepsi
orang (atribusi) dalam menghadapi COVID-19 yang sedang melanda
dunia pada dewasa ini, yakni secara usia, pekerjaan, pola hidup dll.
Sehingga hasil yang dapat disimpulkan dapat di diandalkan berdasarkan
sudut pandang budaya yang terjadi di antara perbandingan kedua subjek
tersebut.

Ukuran Morbiditas

Peneliti laboratorium dan klinis serta ahli epidemiologi dapat menerima


angka kematian sebagai ukuran sempurna dari status kesehatan. Namun,
penjajaran para ilmuwan sosial dengan dunia medis telah menantang
posisi ini untuk mengajukan pertanyaan yang sekarang tampak jelas,
"Apakah kesehatan benar-benar hanya tidak adanya kematian?"
Menanggapi hal ini, telah ada meningkatkan fokus pada morbiditas. Yakni
dimana untuk menjawab program-program yang telah di tawarkan oleh
populasi dalam hal ini pemerintah untuk kualitas kesehatan dalam
menjawab tingkat kematian yang terjadi di suatu populasi. Dengan
penjabarannya yakni : menggambarkan keadaan kesehatan secara
umum, mengetahui keberhasilan program penanggulangan penyakit,
sanitasi lingkungan serta memperoleh pengetahuan penduduk terhadap
pelayanan kesehatan.
Pengukuran Fungsi

Pada ukuran fungsi lebih menekan tentang pertanyaan-pertanyaan yang


di berikan kepada penderita sakit (pasien) untuk mengukur kemampuan
seorang untuk lebih bisa keluar dari sakit dalam hal status kesehatan.

Status kesehatan Subjektif

Selama beberapa tahun terakhir, ukuran status kesehatan semakin


memilih ukuran status kesehatan subjektif, yang semuanya memiliki satu
kesamaan: mereka bertanya pada individu diri mereka sendiri untuk
menilai kesehatan mereka. Beberapa di antaranya hanya disebut sebagai
tindakan kesehatan subjektif, yang lain disebut sebagai kualitas skala
hidup atau kualitas terkait kesehatan skala hidup. Namun, literatur di
bidang status kesehatan subyektif dan kualitas hidup terganggu oleh dua
pertanyaan utama: ‘Apa kualitas hidup?’ Dan ‘Bagaimana seharusnya
diukur? "

Apa itu kualitas hidup ?

Terjadi perdebatan yang cukup panjang berdasarkan literatur yang telah


mempersepsikan apa kualitas hidup yang sebenarnya ? dengan wilayah
pembahasan yang membuka konsep yang pastinya di ajukan kepada
individu untuk menanyakan kembali tentang bagaimana supaya
mendapatkan kualitas hidup yang baik, dari berbagai opini atau persepsi
yang telah di kemukakan oleh beberapa sumber menarik kesimpulan
bahwasannya kualitas hidup itu pertanyaan mengacu pada psikologis dan
fisiologis untuk menjadikan kualitas hidup seorang individu menjadi lebih
baik.

Membuat kerangka konseptual

Menanggapi masalah tentang kualitas hidup para peneliti coba menyusun


konsep untuk menjawab hal ini secara ilmiah berdasarkan sudut pandang
objektif dan subjektif.

1. Siapa yang merencanakan ukuran itu ?

Untuk menjawab hal itu para peneliti berpendapat bahwa menjawab


kualitas hidup sebenarnya di perhadapkan pada 2 hal. Yakni secara
standarisasi pengukuran dan secara psikologis dari individu masing-
masing sehingga untuk dapat di jelaskan bahwa peneliti dan individu
mampu merencanakan hal tersebut baik dimana para peneliti sebagai
penyusun kerangka yang bersifat rekomendatif sedangkan individu
mengkonsepkan diri sendiri.
2. Apakah ukurannya objektif atau subjektif?

Menurut Muldoon dkk (1998) bahwasannya ada alternatif untuk


menjawab pertanyaan yang mengacu pada kualitas hidup, semua
kembali kepada individu bagaimana mereka mempersepsikan hidup
mereka yang di sebut sebagai keberfungsian entah dapat ditinjau
berdasrkan niali objektifnya dan subjektifnya individu tersebut melihat
dirinya melakukan tindakan kemudian menganalisis dalam rasionya.
Maka dalam hal ini peneliti dan dokter terkesan begitu skeptis untuk
menjelaskan bagaiman kualitas hidup yang sebenarnya dan
memerlukan pendekatan unidimensional dan multidimensional.

3. Bagaimana seharusnya di ukur ?

Pengukuran Unidimensional

Banyak tindakan fokus pada satu aspek kesehatan tertentu. Misalnya,


Goldberg (1978) mengembangkan kuesioner kesehatan umum
(GHQ), yang menilai suasana hati dengan bertanya, pertanyaan
seperti: ‘Apakah Anda baru-baru ini: Dapat berkonsentrasi pada apa
pun yang Anda miliki melakukan / Menghabiskan banyak waktu
mengobrol dengan orang-orang / Sudah merasa senang atau
tertekan? 'GHQ adalah tersedia dalam bentuk panjang, terdiri dari 30,
28 atau 20 item, dan bentuk pendek, yang terdiri dari 12 item.
Sementara bentuk pendek terutama digunakan untuk mengeksplorasi
suasana hati secara umum dan memberikan hasil terkait suasana hati
relatif seseorang (mis. adalah orang tersebut lebih baik atau lebih
buruk dari itu biasa?)

Pengukuran Multidimensional

Langkah multidimensi menilai kesehatan dalam arti luas. Namun, ini


tidak berarti bahwa tindakan seperti itu selalu panjang dan rumit.
Misalnya, peneliti sering menggunakan satu item seperti, ‘menurut
Anda kesehatan Anda adalah: sangat baik / baik / adil / buruk?’ atau
‘nilai kondisi kesehatan Anda saat ini’ pada skala mulai dari ‘miskin’
hingga ‘sempurna’. Lebih lanjut, beberapa peneliti hanya meminta
responden untuk membuat penilaian relatif tentang kesehatan mereka
pada skala dari 'terbaik' hingga 'terburuk'. Meskipun langkah-langkah
sederhana ini tidak memberikan detail sebanyak langkah yang lebih
lama, mereka telah terbukti sangat berkorelasi dengan tindakan lain
yang lebih kompleks dan berguna sebagai ukuran hasil.

4. Mengukur kualitas hidup individu


Ukuran status kesehatan subjektif meminta individu untuk menilai
kesehatan mereka sendiri. Ini adalah sangat kontras dengan ukuran
kematian, morbiditas dan sebagian besar ukuran fungsi, yang
dilengkapi oleh penjaga, peneliti atau pengamat. Namun, meski
demikian tindakan memungkinkan individu untuk menilai kesehatan
mereka sendiri, mereka tidak mengizinkan mereka untuk memilih
dimensi untuk menilai itu.