Anda di halaman 1dari 12

OPTIMASI KINERJA SIMPANG BERSINYAL MENGGUNAKAN VISSIM 8

(Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang)
Victor R. Mekaria1 (vmekaria@gmail.com)
I Made Udiana2 ( )
3
A. Hidayat Rizal (hidayatrizal@staf.undana.ac.id)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan kinerja lalu lintas dan meminimalisir permasalahan yang terjadi
di simpang bersinyal Kantor Gubernur NTT. Berdasarkan hasil survei lalu lintas pada simpang bersinyal
tersebut, kemudian dilakukan Analisis kinerja simpang bersinyal kondisi eksisiting dengan mengacu pada
Metode Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2014. Tingkat pelayanan simpang ditetapkan
menggunakan Metode High Capacity Manual 2000 berdasarkan nilai tundaan keseluruhan simpang.
Selanjutnya dilakukan analisis optimasi kinerja menggunakan Software VISSIM 8 untuk mengoptimalkan
kinerja simpang bersinyal tersebut. Dari hasil analisis diperoleh pada simpang bersinyal Kantor Gubernur
NTT nilai tundaan eksisting rata – rata seluruh simpang sebesar 67,82 det/skr, tingkat pelayanan berada
pada level E dengan kategori tingkat pelayanan yang buruk. Optimasi kinerja simpang dengan
menggunakan VISSIM 8 memberikan hasil nilai tundaan rata – rata seluruh simpang sebesar 38,05 det/skr
dengan tingkat pelayanan berada pada level D, yang berarti mampu menghasilkan pelayanan simpang
yang cukup baik.
KataKunci: Lalu lintas, simpang bersinyal, optimasi kinerja

ABSTRACT
This research aims to optimize traffic performance and minimize the problems that occur at the East Nusa
tenggara Governor Office signalized intersection. According to the survey results at the signalized
intersectionthen analyzed the performance of signalized intersection with reference to Indonesian
Highway Capacity Manual (IHCM) 2014. After analyzing the performance of signalized intersection, then
service level of intersection was seen using High Manual Capacity 2000 method. Then, analysis of
performance optimization at the signalized intersections using VISSIM 8 software to optimize the
performance of this intersections. From the analysis results obtained at the signalized intersection of East
Nusa tenggara Governor Office, the average delay rate of all intersections of 67,82 s/veh, service level is
at level E with the worst service level category. From the results of the performance optimazition
analysis, the results were obtained, at the sign intersction of East Nusa tenggara Governor Office, the
average delay value of all intersections is 38,05 s/veh with level of service at D with good level of service.
Keywords : Traffic, signalized intersection, optimization performance
1. Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana – Kupang
2. Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana – Kupang
3. Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana – Kupang

PENDAHULUAN
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2015 sampai dengan
tahun 2017 jumlah kendaraan bermotor di Kota Kupang terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2015
Kota Kupang dipenuhi oleh 165.278 kendaraan bermotor yang terdiri dari 146.931 sepeda motor, 11.641
mobil penumpang, 197 bus dan 6.509 truk. Pada tahun 2016 jumlah kendaraan bermotor di Kota Kupang
meningkat menjadi 177.396 kendaraan bermotor dengan rincian 158.124 sepeda motor, 12.984 mobil
penumpang, 243 bus dan 6.045 truk. Sedangkan, pada tahun 2017 jumlah kendaraan bermotor di Kota
Kupang meningkat menjadi 191.569 kendaraan bermotor yang terdiri dari 171.129 sepeda motor, 13.809
mobil penumpang, 252 bus dan 6.379 truk. Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor ini akan
menimbulkan permasalahan – permasalahan tersendiri pada persimpangan yang ada di Kota Kupang
terutama pada persimpangan bersinyal. Simpang bersinyal Kantor Gubernur NTT merupakan simpang
bersinyal yang berada di pusat kota dengan aktivitas yang tinggi. Arus lalu lintas yang tinggi pada
persimpangan ini sering mengakibatkan kemacetan, tundaan yang lama dan kecelakaan. Selain itu juga
terjadi antrian yang cukup panjang pada simpang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan
kinerja simpang bersinyal Kantor Gubernur NTT pada kondisi eksisting dan sesudah dilakukan optimasi
kinerja pada simpang. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini disusun dengan judul “Optimasi Kinerja
Simpang Bersinyal Menggunakan VISSIM 8 (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal Kantor
Gubernur NTT, Kota Kupang)”.
Mekaria, V.R.,“Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Menggunakan VISSIM 8 (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal
Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang)”
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kinerja dan tingkat pelayanan (level of service) simpang bersinyal Kantor
Gubernur NTT pada kondisi eksisting.
2. Untuk mengetahui rencana geometrik dan rekomendasi alternatif waktu siklus setelah dilakukan
optimasi kinerja menggunakan Software VISSIM 8.
3. Untuk mengetahui tingkat pelayanan (level of service) simpang bersinyal Kantor Gubernur NTT
sesudah dilakukan optimasi kinerja setelah dianalisis menggunakan Software VISSIM 8.

TINJAUANPUSTAKA
Definisi Simpang Bersinyal
1. Menurut Direktorat Jenderal Bina Marga (2014) simpang bersinyal atau yang sekarang dikenal
dengan simpang alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) adalah simpang yang memuat alat yang
mengatur arus lalu lintas menggunakan tiga isyarat lampu yang baku, yaitu merah, kuning, dan hijau.
2. Menurut Morlok (1991) simpang bersinyal yaitu simpang yang pemakai jalannya dapat melewati
simpang sesuai dengan pengoperasian sinyal lalu lintas.
Arus Lalu Lintas
Arus lalu lintas adalah jumlah kendaraan bermotor yang melalui suatu titik pada suatu penggal jalan per
satuan waktu yang dinyatakan dalam satuan kend/jam (Q kend), atau satuan kendaraan ringan/jam (Qskr),
atau satuan kendaraan ringan/hari (Direktorat Jenderal Bina Marga, 2014). Arus lalu lintas untuk setiap
gerakan (belok kiri, lurus dan belok kanan) dikonversi dari kendaraan per-jam menjadi satuan kendaraan
ringan (skr) per-jam dengan menggunakan ekivalen kendaraan ringan (ekr) untuk masing – masing
pendekat terlindung dan terlawan yang dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Nilai Ekivalen Kendaraan Ringan
Jenis Kendaraan ekr untuk tipe pendekat
Terlindung Terlawan
Kendaraan Ringan (KR) 1,00 1,00
Kendaraan Berat (KB) 1,30 1,30
Sepeda Motor (SM) 0,15 0,40
Sumber: PKJI, 2014
Tipe Pendekat
Tipe pendekat suatu simpang terbagi atas dua, yaitu tipe pendekat terlindung (P) adalah tipe pendekat
yang arus keberangkatannya tidak mengalami konflik dengan arus dari arah berlawanan dan tipe
pendekat terlawan (O) adalah tipe pendekat yang arus keberangkatannya mengalami konflik dengan arus
dari arah yang berlawanan.
Arus Jenuh Dasar
Untuk pendekat terlindung (tipe P), S0 ditentukan menggunakan persamaan dibawah, sebagai fungsi dari
lebar efektif pendekat (PKJI, 2014 : 18), yaitu:
S0 = 600 x LE ……...…………………………………....................……………………………...(1)
Dimana:
S0 = Arus jenuh dasar (skr/jam)
LE = Lebar efektif pendekat (m)
Arus Jenuh
Nilai arus jenuh (S) dapat dihitung (PKJI, 2014 : 18), yaitu:
S = S0 x FUK x FHS x FG x FP x FBKi x FBKa ………………………………………………………...(2)
Dimana:
S = Arus jenuh (skr/jam hijau)
S0 = Arus jenuh dasar (skr/jam hijau)
FUK = Faktor penyesuaian tekait ukuran kota
FHS = Faktor penyesuaian akibat lingkungan jalan
FG = Faktor penyesuaian akibat kelandaian memanjang pendekat
FP = Faktor penyesuaian akibat adanya jarak garis henti pada mulut pendekat terhadap kendaraan
yang parkir pertama
FBKi = Faktor penyesuaian akibat arus lalu lintas yang membelok ke kiri
Mekaria, V.R.,“Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Menggunakan VISSIM 8 (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal
Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang)”
FBKa = Faktor penyesuaian akibat arus lalu lintas yang membelok ke kanan
Rasio Arus
Rasio arus dapat dihitung menggunakan persamaan berikut (PKJI, 2014 : 20), yaitu:
Q
RQ/S = ………………………………………….….……………………………………...……(3)
S
Dengan:
RQ/S = Rasio arus
Q = Arus lalu lintas (skr/jam)
S = Arus jenuh (skr/jam)
Rasio Fase
Rasio fase dapat dihitung menggunakan persamaan berikut (PKJI, 2014 : 31), yaitu:
RQ⁄S kritis
RF = ………………………...…………….……………...…………….…....……...….(4)
RAS
Dengan:
RF = Rasio fase
RQ/S kritis = Rasio arus kritis di setiap pendekat
RAS = Rasio arus simpang
Waktu Siklus
Penentuan waktu siklus untuk sistem kendali waktu tetap dapat dilakukan menggunakan rumus Webster
(1996). Rumus ini bertujuan meminimumkan tundaan total. Nilai c ditetapkan menggunakan persamaan
berikut (PKJI, 2014 : 20), yaitu:
(1,5 x HH + 5)
c= ………………………………...…...………………………………...…..…....(5)
1 - ∑RQ⁄S kritis
Dimana:
c = Waktu siklus (detik)
HH = Jumlah waktu hijau hilang per siklus (detik)
RQ/S = Rasio arus, yaitu arus dibagi arus jenuh, Q/S
RQ/S kritis = Nilai RQ/S yang tertinggi dari semua pendekat yang berangkat pada fase yang sama
∑RQ/S kritis = Rasio arus simpang (sama dengan jumlah semua RQ/S kritis dari semua fase) pada siklus
tersebut
Waktu Hijau
Nilai H ditentukan menggunakan persamaan berikut (PKJI, 2014 : 20), yaitu :
RQ⁄S kritis
HI = (c-HH ) x ……………….…………………..………………………..…......…(6)
ΣI (RQ⁄S kritis )
Dimana:
HI = Waktu hijau pada fase I (detik)
c = Waktu siklus (detik)
HH = Jumlah waktu hijau per siklus (detik)
I = Indeks untuk fase I
RQ/S kritis = Nilai RQ/S yang tertinggi dari semua pendekat yang berangkat pada fase yang sama
∑RQ/S kritis = Rasio arus simpang (sama dengan jumlah semua R Q/S kritis dari semua fase) pada siklus
tersebut
Waktu yang Disesuaikan
Waktu siklus yang telah disesuaikan dapat dihitung menggunakan persamaan berikut, yaitu:
c = ∑H + HH ……………………………………………………………………....…………….…(7)
Dimana:
c = Waktu siklus yang telah disesuaikan (detik)
∑H = Total waktu hijau (detik)
HH = Jumlah waktu hijau hilang per siklus (detik)

Mekaria, V.R.,“Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Menggunakan VISSIM 8 (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal
Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang)”
Kapasitas Simpang
Kapasitas simpang dihitung berdasarkan arus jenuh, waktu hijau dan waktu sinyal (PKJI, 2014 : 21)
sebagai berikut:
C = S x H/c…………………………………………..…………...……………………......…...…..(8)
Dimana:
C = Kapasitas simpang APILL (skr/jam)
S = Arus jenuh (skr/jam hijau)
H = Waktu hijau (detik)
c = Waktu siklus (detik)
Derajat Kejenuhan
Nilai dari derajat kejenuhan dapat dihitung menggunakan persamaan berikut (PKJI, 2014 : 21), yaitu:
Q
DJ = . .……………………………………………..….…………...…………...………...…...….(9)
C
Dimana:
DJ = Derajat kejenuhan
Q = Arus lalu lintas (skr/jam)
C = Kapasitas simpang (skr/jam)
Panjang Antrian
Panjang antrian diperoleh dari perkalian NQ (skr) dengan luas area rata – rata yang digunakan oleh satu
kendaraan ringan (ekr) yaitu 20 m2, dibagi lebar masuk, sebagaimana persamaan berikut (PKJI, 2014 :
22), yaitu:
20
PA = NQ x ………………………………………………………...………..………..……..(10)
LM
Dimana:
PA = Panjang antrian (m)
NQ = Jumlah rata – rata antrian smp pada awal sinyal hijau
LM = Lebar masuk (m)
Rasio Kendaraan Henti
Nilai rasio kendaraan henti dapat dihitung sebagai berikut (PKJI. 2014 : 22), yaitu:
NQ
RKH = 0,9 x x 3600 ……....…………………...……………..….…...…..…………...…(11)
Qxc
Dimana:
RKH = Rasio kendaraan henti
NQ = Jumlah rata – rata antrian kendaraan (skr) pada awal isyarat hijau
Q = Arus lalu lintas dari pendekat yang ditinjau (skr/jam)
c = Waktu siklus (detik)
Tundaan
Tundaan rata – rata untuk suatu pendekat dihitung menggunakan persamaan berikut (PKJI, 2014 : 22),
yaitu:
T = TL + TG …………..…………..…………………………………………………......……..(12)
Dimana:
T = Tundaan rata – rata (detik/skr)
TL = Tundaan lalu lintas rata – rata (detik/skr)
TG = Tundaan geometri rata – rata (detik/skr)
Tundaan lalu lintas rata – rata pada suatu pendekat i dapat ditentukan menggunakan persamaan berikut
(Akcelik, 1988), yaitu:
0,5 x (1-RH)2 NQ1 x 3600
TL = c x + …………………………………..……....……...………(13)
(1- RH x DJ ) C
Mekaria, V.R.,“Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Menggunakan VISSIM 8 (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal
Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang)”
Dimana:
TL = Tundaan lalu lintas pada (detik/skr)
c = Waktu siklus (detik)
C = Kapasitas (skr/jam)
RH = Rasio hijau
DJ = Derajat kejenuhan
NQ1 = Jumlah skr yang tertinggal pada fase hijau sebelumnya
Tundaan geometrik rata – rata pada suatu pendekat dapat diperkirakan sebagai berikut (PKJI, 2014 : 22),
yaitu:
TG = (1 - RKH ) x PB x 6 + (RKH x 4) …………………….………………………..........…......(14)
Dimana:
TG = Tundaan geometri rata – rata (detik/skr)
RKH = Rasio kendaraan henti pada suatu pendekat
PB = Rasio kendaraan membelok pada suatu pendekat
Setelah didapatkan tundaan rata – rata tiap pendekat (T), maka tundaan rata – rata seluruh simpang (TI)
dapat dihitung sebagai berikut (PKJI, 2014 : 34), yaitu:
∑(Q x T)
TI = ………………………………………………...……………...…………….….(15)
∑Q
Dimana:
TI = Tundaan rata – rata seluruh simpang (detik/skr)
∑(QxT) = Total perkalian antara arus lalu lintas dan tundaan rata – rata tiap pendekat
∑Q = Total arus lalu lintas seluruh simpang (skr/jam)
Tingkat Pelayanan Simpang
Tabel 2. Tingkat Pelayanan Simpang Berdasarkan Nilai Tundaan
Tundaan Rata – Rata
Tingkat Pelayanan Deskripsi Umum
(det/skr)
A ≤10 Aliran arus bebas
B >10 – 20 Aliran arus yang stabil (sedikit tundaan)
Aliran arus yang stabil dengan tundaan yang
C >20 – 35
masih dapat diterima
Mendekati aliran arus yang tidak stabil
(tundaan yang dapat ditoleransi, terkadang
D >35 – 55
kendaraan menunggu lebih dari satu waktu
siklus untuk melanjutkan perjalanan)
Aliran arus yang tidak stabil (tundaan yang
E >55 – 80
tidak ditolerasi)
Aliran arus yang dipaksakan (padat dan
F >80
atrian kendaraan secara terus menerus)
Sumber: High Capacity Manual 2000.
Optimasi Kinerja Simpang
Adapun tujuan utama yang ingin dicapai dalam mengoptimalkan kinerja suatu simpang bersinyal, yaitu:
1. Mengurangi maupun menghindari kemungkinan terjadinya kecelakaan yang berasal dari berbagai
kondisi titik konflik.
2. Menjaga kapasitas dari simpang bersinyal dalam operasinya sehingga dapat dicapai pemanfaatan
simpang yang sesuai rencana.
3. Dalam operasinya, pengaturan simpang harus memberikan petunjuk yang jelas dan pasti serta
sederhana, mengarahkan arus lalu lintas pada tempatnya yang sesuai.
Software VISSIM 8
Menurut Planning Transportation Verkehr AG (PTV – AG, 2011), VISSIM 8 adalah perangkat lunak
multi-moda simulasi lalu lintas aliran mikroskopis. VISSIM 8 dikembangkan oleh PTV di Karlsruhe,
Jerman. VISSIM berasal dari Jerman yang mempunyai nama “Verkehr Stadten Simulations Model” yang
berarti model simulasi lalu lintas perkotaan. Kegunaan VISSIM 8 lebih ditekankan pada suatu bentuk

Mekaria, V.R.,“Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Menggunakan VISSIM 8 (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal
Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang)”
rekayasa lalu lintas, karena dalam aplikasi VISSIM 8 memuat lebih detail suatu jaringan lalu lintas seperti
desain persimpangan, perilaku pengendara, pejalan kaki, dan lainnya yang saling berinteraksi .

METODE PENELITIAN
Teknik Analisis Data
1. Analisis Kinerja Simpang Bersinyal
Berdasarkan data volume arus lalu lintas, data waktu sinyal, data kondisi dan geometrik simpang serta
data jumlah penduduk, maka dilakukan analisis untuk menghitung parameter – parameter yang
mempengaruhi kinerja simpang bersinyal yaitu arus jenuh, derajat kejenuhan, kapasitas dan tundaan.
Dalam perhitungan parameter – parameter ini digunakan persamaan – persamaan yang mengacu pada
metode Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2014.
2. Analisis Optimasi Kinerja Simpang
Pada analisis optimasi kinerja simpang bersinyal digunakan Software VISSIM 8. Data – data yang
digunakan dalam analisis ini adalah kecepatan kendaraan dan volume lalu lintas. Adapun tahapan
optimasi kinerja simpang, yaitu:
1. Melakukan optimasi kinerja simpang bersinyal menggunakan Software VISSIM 8 dengan membuat
beberapa alternatif waktu siklus yang akan digunakan.
2. Melakukan analisis waktu tundaan seluruh simpang untuk setiap alternatif waktu siklus yang
digunakan.
3. Memilih alternatif waktu siklus yang menghasilkan kinerja terbaik.
Berikut merupakan bagan alir untuk pemodelan menggunakan Software VISSIM 8.

Mulai

Masukkan
background

Atur skala

Membuat link dan connector

Masukkan data lalu lintas


dan kecepatan kendaraan

Mengatur arah pergerakan


kendaraan

Membuat alternatif pemodelan


sinyal lalu lintas

Membuat node

Masukkan interval
waktu simulasi

Menjalankan simulasi

Menampilkan hasil simulasi

Selesai

Gambar 1. Bagan Alir Pemodelan Menggunakan Software VISSIM 8


Mekaria, V.R.,“Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Menggunakan VISSIM 8 (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal
Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang)”
Diagram Alir

Analisis Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal


dengan Menggunakan Software VISSIM 8

Gambar 2. Diagram Alir Penelitian

Mekaria, V.R.,“Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Menggunakan VISSIM 8 (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal
Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang)”
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Data Masukan
1. Data kondisi dan geometrik simpang
Pada penelitian ini setiap pendekat pada simpang diberikan nama sesuai dengan nama jalan pada
pendekat tersebut, yaitu:
- Jalan Frans Seda : Pendekat Frans Seda (FS)
- Jalan W.J. Lalamentik 1 : Pendekat W.J. Lalamentik 1 (WJL1)
- Jalan Eltari : Pendekat Eltari (ET)
- Jalan W.J. Lalamentik 2 : Pendekat W.J. Lalamentik 2 (WJL2)
Tabel 3. Kondisi dan Geometrik Jalan Pada Simpang Bersinyal Kantor Gubernur NTT
Pendekat
Kondisi dan Geometrik Jalan
FS WJL1 ET WJL2
Tipe lingkungan Jalan Komersial Komersial Komersial Komersial
Hambatan Samping Rendah Rendah Rendah Rendah
Median Ya Ya Ya Tidak
Belok kiri jalan terus Ya Ya Ya Tidak
Lebar pendekat (L) (m) 13,50 10,00 9,80 6,25
Lebar pendekat masuk (LM) (m) 9,40 5,60 9,80 6,25
Lebar belok kiri jalan terus (LBKiJT) (m) 4,10 4,40 5,00 -
Lebar pendekat keluar (LK) (m) 7,00 6,25 11,50 6,80
Lebar efektif (LE) (m) 9,40 5,60 9,80 6,25
2. Data waktu sinyal
Tabel 4. Data Waktu Sinyal Pada Simpang Bersinyal Kantor Gubernur NTT
Waktu Sinyal (detik)
No. Pendekat
Merah Kuning Hijau Merah Semua
1 Frans Seda (FS) 70 3 20 2
2 W.J. Lalamentik 1 (WJL1) 70 3 20 2
3 Eltari (ET) 75 3 15 2
4 W.J. Lalamentik 2 (WJL2) 70 3 20 2
3. Data volume lalu lintas
Tabel 5. Arus Lalu Lintas Puncak Pada Simpang Bersinyal Kantor Gubernur NTT
Arus Lalu Lintas (skr/jam) Total
No. Pendekat
Lurus Belok Kanan Belok Kiri (skr/jam)
1. Frans Seda (FS) 458,00 138,00 - 596,00
2. W.J. Lalamentik 1 (WJL1) 241,00 216,00 - 457,00
3. Eltari (ET) 1.089,00 212,00 - 1.301,00
4. W.J. Lalamentik 2 (WJL2) 271,00 45,00 133,00 454,00
4. Data volume lalu lintas
Tabel 6. Kecepatan Rata – Rata Kendaraan Pada Simpang Bersinyal Kantor Gubernur NTT
Kecepatan Rata – Rata Kecepatan Rata – Rata
No. Pendekat (km/jam) Seluruh Kendaraan
SM KR KB (km/jam)
1. Frans Seda (FS) 40,89 38,59 33,90 37,79
2. W.J. Lalamentik 1 (WJL1) 40,26 32,46 25,49 32,74
3. Eltari (ET) 40,39 32,99 24,59 32,66
4. W.J. Lalamentik 2 (WJL2) 32,22 29,58 23,65 28,82

3. Data jumlah penduduk


Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kota Kupang, pada tahun 2017 jumlah penduduk yang
berada di Kota Kupang sebanyak 412.708 jiwa.

Mekaria, V.R.,“Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Menggunakan VISSIM 8 (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal
Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang)”
Analisis Kinerja Simpang Bersinyal Kantor Gubernur NTT
Berdasarkan hasil survei di lapangan pada simpang bersinyal Gubernur NTT seluruh pergerakan arus lalu
lintas baik lurus maupun belok kanan wajib mengikuti isyarat sinyal yang ada pada setiap pendekat. Pada
simpang bersinyal Patung Kirab dibagi atas empat pendekat yaitu pendekat Frans Seda (FS), W.J.
Lalamentik 1 (WJL1), Eltari (ET) dan W.J. Lalamentik 2 (WJL2). Metode yang digunakan adalah metode
PKJI 2014 dengan menggunakan persamaan 1 sampai dengan persamaan 15. Berikut merupakan hasil
analisis kinerja pada simpang bersinyal Kantpr Gubernur NTT.
Tabel 7. Kinerja Simpang Bersinyal Kantor Gubernur NTT
Pendekat
Parameter Kinerja
FS WJL1 ET WJL2
Arus Jenuh Dasar (S0) (skr/jam) 5640,00 3360,00 5880,00 3750,00
Arus Jenuh (S) (skr/jam) 4447,14 2649,36 4636,38 2898,98
Rasio Arus (RQ/S) 0,13 0,17 0,28 016
Rasio Fase (RF) 0,18 0,23 0,38 0,21
Waktu Siklus (c) (detik) 146,33
Waktu Hijau (H) (detik) 23,00 29,00 48,00 27,00
Waktu Siklus yang Disesuaikan (c) (detik) 147,00
Kapasitas Simpang (C) (skr/jam) 695,81 522,66 1543,92 532,47
Derajat Kejenuhan (DJ) 0,86 0,87 0,86 0,85
Panjang Antrian (PA) (meter) 55,49 74,47 106,59 64,66
Rasio Kendaraan Henti (RKH) 0,96 1,01 0,88 0,98
Tundaan Lalu Lintas (TL) (det/skr) 72,67 76,17 52,28 73,37
Tundaan Geometrik (TG) (det/skr) 3,91 4,01 3,87 3,98
Tundaan Rata – Rata (T) (det/skr) 76,58 80.19 56,14 77,35
Tundaan Rata – Rata Seluruh Simpang (TI) (det/skr) 67,82

Tingkat Pelayanan (Level of Service) Simpang Bersinyal Kantor Gubernur NTT


Dari hasil analisis yang didapatkan nilai tundaan rata – rata simpang bersinyal Kantor Gubernur NTT
sebesar 67,82 det/skr. Berdasarkan Tabel 2 yaitu tingkat pelayanan simpang berdasarkan nilai tundaan,
maka pada simpang bersinyal Kantor Gubenur NTT tingkat pelayanannya berada pada level E dengan
kategori tingkat pelayanan yang buruk.
Analisis Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Kantor Gubernir NTT
Optimasi kinerja simpang bersinyal Kantor Hubernur NTT dilakukan dengan menggunakan Software
VISSIM 8 dengan cara merencanakan ulang geometrik jalan dengan membuat lajur belok kiri jalan terus
pada pendekat W.J. Lalamentik 2 (WJL2). Pada perencanaan ulang geometrik pada simpang bersinyal
Kantor Gubernur NTT tidak dilakukan pelebaran jalan pada tiap pendekat dikarenakan terdapat area
pejalan kaki dan penghijauan di masing – masing sisi pada tiap pendekat. Data geometrik rencana untuk
simpang II dapat dilihat pada Tabel 8 berikut.
Tabel 8. Kondisi dan Geometrik Rencana Untuk Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Kantor
Gubernur NTT
Pendekat
Kondisi dan Geometrik Jalan
FS WJL1 ET WJL2
Lebar pendekat (L) (m) 13,50 10,00 9,80 6,25
Lebar pendekat masuk (LM) (m) 9,40 5,60 9,80 6,25
Lebar belok kiri jalan terus (LBKiJT) (m) 4,10 4,40 5,00 2,00
Lebar pendekat keluar (LK) (m) 7,00 6,25 11,50 6,80
Lebar efektif (LE) (m) 9,40 5,60 9,80 6,25
Median Ya Ya Ya Tidak
Belok kiri jalan terus Ya Ya Ya Ya
Selain itu juga dibuat beberapa alternatif waktu siklus yang berbeda – beda. Untuk setiap alternatif waktu
siklus mempunyai waktu sinyal dan kondisi yang berbeda pula. Alasan dipilihnya alternatif waktu siklus
ini agar mendapatkan tundaan rata – rata paling rendah dengan cara mencoba – coba dari setiap alternatif
waktu siklus yang dipilih.

Mekaria, V.R.,“Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Menggunakan VISSIM 8 (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal
Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang)”
Tabel 9. Pembagian Waktu Siklus dan Kondisi Khusus Untuk Masing – Masing Alternatif
Waktu Siklus
Alternatif Kondisi Khusus
(detik)
Alternatif 1 120,00 Direkayasakan pembagian waktu sinyal untuk setiap pendekat.
Larangan belok kanan dari pendekat W.J. Lalamentik 1 dan W.J.
Alternatif 2 120,00 Lalamentik 2 dengan kedua pendekat mempunyai fase hijau yang
bersamaan dalam satu waktu siklus.
Larangan belok kanan dari pendekat W.J. Lalamentik 1 dan W.J.
Alternatif 3 120,00 Lalamentik 2 dengan kedua pendekat tersebut mempunyai dua kali
fase hijau yang bersamaan dalam satu waktu siklus.
Alternatif 4 150,00 Direkayasakan pembagian waktu sinyal untuk setiap pendekat.
Larangan belok kanan dari pendekat W.J. Lalamentik 1 dan W.J.
Alternatif 5 150,00 Lalamentik 2, dan kedua pendekat mempunyai fase hijau yang
bersamaan dalam satu waktu siklus.
Larangan belok kanan dari pendekat W.J. Lalamentik 1 dan W.J.
Alternatif 6 150,00 Lalamentik 2 dengan kedua pendekat tersebut mempunyai dua kali
fase hijau yang bersamaan dalam satu waktu siklus.
Alternatif 7 180,00 Direkayasakan pembagian waktu sinyal untuk setiap pendekat.
Larangan belok kanan dari pendekat W.J. Lalamentik 1 dan W.J.
Alternatif 8 180,00 Lalamentik2, dan kedua pendekat mempunyai fase hijau yang
bersamaan dalam satu waktu siklus.
Larangan belok kanan dari pendekat W.J. Lalamentik 1 dan W.J.
Alternatif 9 180,00 Lalamentik 2 dengan kedua pendekat tersebut mempunyai dua kali
fase hijau yang bersamaan dalam satu waktu siklus.

Tabel 10. Pembagian Waktu Sinyal Untuk Masing – Masing Alternatif Waktu Siklus
Waktu Sinyal (detik)
Alternatif Pendekat Merah
Hijau Merah Kuning
Semua
Eltari (ET) 40,00 75,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 2 (WJL2) 20,00 95,00 3,00 2,00
Alternatif 1
Frans Seda (FS) 20,00 95,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 1 (WJL1) 20,00 95,00 3,00 2,00
Eltari (ET) 50,00 65,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 2 (WJL2) 30,00 85,00 3,00 2,00
Alternatif 2
Frans Seda (FS) 25,00 90,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 1 (WJL1) 30,00 85,00 3,00 2,00
Eltari (ET) 50,00 65,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 2 (WJL2) 15,00 80,00 3,00 2,00
Alternatif 3
Frans Seda (FS) 20,00 95,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 1 (WJL1) 15,00 80,00 3,00 2,00
Eltari (ET) 50,00 95,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 2 (WJL2) 25,00 120,00 3,00 2,00
Alternatif 4
Frans Seda (FS) 30,00 115,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 1 (WJL1) 25,00 120,00 3,00 2,00
Eltari (ET) 60,00 85,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 2 (WJL2) 40,00 105,00 3,00 2,00
Alternatif 5
Frans Seda (FS) 35,00 110,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 1 (WJL1) 40,00 105,00 3,00 2,00
Eltari (ET) 60,00 85,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 2 (WJL2) 15,00 110,00 3,00 2,00
Alternatif 6
Frans Seda (FS) 40,00 105,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 1 (WJL1) 15,00 110,00 3,00 2,00

Mekaria, V.R.,“Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Menggunakan VISSIM 8 (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal
Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang)”
Lanjutan Tabel 10. Pembagian Waktu Sinyal Untuk Masing – Masing Alternatif Waktu Siklus
Eltari (ET) 60,00 115,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 2 (WJL2) 30,00 145,00 3,00 2,00
Alternatif 7
Frans Seda (FS) 40,00 135,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 1 (WJL1) 30,00 145,00 3,00 2,00
Eltari (ET) 70,00 105,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 2 (WJL2) 50,00 125,00 3,00 2,00
Alternatif 8
Frans Seda (FS) 45,00 130,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 1 (WJL1) 50,00 125,00 3,00 2,00
Eltari (ET) 70,00 105,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 2 (WJL2) 25,00 120,00 3,00 2,00
Alternatif 9
Frans Seda (FS) 40,00 135,00 3,00 2,00
W.J. Lalamentik 1 (WJL1) 25,00 120,00 3,00 2,00
Dari data – data dan alternatif waktu siklus yang telah dibuat kemudian dibuat simulasi menggunakan
Sofware VISSIM 8 untuk setiap alternatif waktu siklus. Proses simulasi menggunakan Software VISSIM 8
dapat dilihat pada Gambar berikut.

Gambar 3. Proses Simulasi Menggunakan Sofrware VISSIM 8


Setelah dilakukan simulasi untuk setiap alternatif waktu siklus dengan menggunakan Software VISSIM 8,
maka didapatkan hasil sebagai berikut.
Tabel 11. Rekapitulasi Nilai Tundaan Hasil Optimasi Kinerja Simpang I
Waktu Siklus Tundaan
Alternatif
(detik) (det/skr)
Alternatif 1 120,00 53,99
Alternatif 2 120,00 39,40
Alternatif 3 120,00 39,19
Alternatif 4 150,00 58,62
Alternatif 5 150,00 40,13
Alternatif 6 150,00 38,05
Alternatif 7 180,00 70,61
Alternatif 8 180,00 51,41
Alternatif 9 180,00 46,68
Sumber: Hasil Penelitian, 2018.
Dari Tabel 11 dapat diketahui bahwa nilai tundaan minimum dari alternatif – alternatif perencanaan ulang
waktu siklus pada simpang bersinyal Kantor Gubernur NTT berada pada alternatif 6 yaitu sebesar 38,05
det/skr. Berdasarkan Tabel 2, maka tingkat pelayanan simpang (level of service) dari waktu siklus
alternatif 6 ini berada pada level D dengan tingkat pelayanan yang cukup baik, yang mana aliran arus
yang terjadi mendekati tidak stabil dengan nilai tundaan yang masih dapat ditoleransi.

Mekaria, V.R.,“Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Menggunakan VISSIM 8 (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal
Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang)”
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka didapat beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Kinerja simpang bersinyal Kantor Gubernur NTT (simpang II) pada kondisi eksisting sebelum
dilakukan optimasi, yaitu derajat kejenuhan rata – rata simpang sebesar 0,86, panjang antrian
maksimum sebesar 106,59 meter pada pendekat Eltari (ET) dan tundaan rata – rata simpang sebesar
67,82 det/skr. Berdasarkan nilai tundaan rata – rata simpang, maka tingkat pelayanan (level of
service) simpang Bersinyal Kantor Gubernur NTT berada pada level E dengan tingkat pelayanan
yang buruk.
2 Setelah dilakukan analisis optimasi kinerja pada simpang bersinyal Kantor Gubernur NTT geometrik
rencana yang dida[atkan, yaitu pada pendekat Frans Seda (FS) lebar efektif sebesar 9,40 meter,
pendekat W.J. Lalamentik 1 (WJL1) sebesar 5,60 meter, pendekat Eltari (ET) sebesar 9,80 meter dan
pendekat W.J. Lalamentik 2 (WJL2) sebesar 6,25 meter dan juga direncanakan jalur belok kiri jalan
terus untuk pendekat W.J. Lalamentik 2 (WJL2), serta rekomendasi alternatif waktu siklus yang
digunakan adalah waktu siklus alternatif 6 dengan panjang waktu siklus sebesar 150 detik.
3. Setelah dilakukan analisis optimasi kinerja pada simpang bersinyal Kantor Gubernur NTT tundaan
rata – rata sebesar 38,05 det/skr dengan tingkat pelayanan simpang (level of service) berada pada
level D dengan tingkat pelayanan yang cukup baik, aliran arus yang terjadi mendekati tidak stabil
tapi nilai tundaannya masih dapat ditoleransi.

SARAN
1. Perlu adanya pengaturan ulang waktu siklus dan waktu sinyal untuk tiap pendekat untuk
meminimalisir jumlah antrian kendaraan dari fase hijau sebelumnya pada tiap pendekat sehingga
dapat meminimalisir waktu tundaan dan meningkatkan pelayanan simpang.
2. Perlu adanya oprtimasi kinerja simpang secara berkala pada simpang bersinyal Kantor Gubernur
NTT seiring dengan pertumbuhan jumlah kendaraan di Kota Kupang.
3. Untuk peneliti selanjutnya agar dapat menghitung biaya kemacetan akibat tundaan yang terjadi pada
simpang bersinyal Kantor Gubernur NTT sebelum dan sesudah dilakukan optimasi kinerja pada
simpang tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statitistik. 2017. Nusa Tenggara Timur Dalam Angka, BPS Nusa Tenggara Timur. Kupang.
Direktorat Jenderal Bina Marga. 2014. Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia. Departemen Pekerjaan
Umum Indonesia.
Khisty, C. J dan Lall, B. K. 2006. Dasar – Dasar Rekayasa Transportasi, Edisi Ketiga, Jilid I. Penerbit
Erlangga. Jakarta.
Morlok, E. K. 1991. Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi. Penerbit Erlangga. Jakarta.
PTV Planning Transportation AG. 2016. PTV Vissim Fisrt Steps Tutorial. PTV Group. Germany.
Shane, Mc.W.R and Roess, R.P. 1990. Traffic Engineering. Printice Hall Inc. New Jersey, USA.
Transportation Research Board. 2000. Highway Capacity Manual 2000. Washington D. C, USA.
Webster, F. V and Cobbe, B. M. 1966. Traffic Signal, Road Research. London.

Mekaria, V.R.,“Optimasi Kinerja Simpang Bersinyal Menggunakan VISSIM 8 (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal
Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang)”