Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ciri yang paling nyata dari kehidupan adalah kemampuan organisme untuk
memproduksi jenisnya. Sejenis, menghasilkan sejenis, organisme
menghasilkan organisme yang sama. Suatu keturunan akan lebih menyerupai
orangtuanya daripada individu lain yang spesiesnya sama, tapi hubungannya
lebih jauh. Perpindahan sifat yang dikenal dengan istilah hereditas. Selain itu,
adapun variasi, keturunan yang memiliki penampilan yang sedikit berbeda
dari orangtuanya atau saudara sekandungnya. Mekanisme hereditas dan
variasi menjadi perhatian seiring abad ke-20 (Mehler 1996).

Definisi hereditas sebagai transmisi genetik dari orang tua pada keturunannya
merupakan penyederhanaan yang berlebih karena sesungguhnya yang
diwariskan oleh anak dari orangtuanya adalah satu set alel dari masing-
masing orang tua serta mitokondria yang terletak di luar nukleus (inti sel),
kode genetik inilah yang memproduksi protein kemudian berinteraksi dengan
lingkungan untuk membentuk karakter fenotip (Meilinda, 2017).

Istilah hereditas akan mengenalkan terminologi Gen dan Alel sebagai


ekspresi alternatif yang terkait sifat. Setiap individu memiliki sepasang alel
yang khas dan terkait dengan tetuanya. Pasangan alel ini dinamakan genotif
apabila individu memiliki pasangan alel yang sama, maka individu tersebut
bergenotipe homozigot dan jika berbeda maka disebut heterozigot (Meilinda,
2017).

Berdasarkan uraian diatas yang melatarbelakangi dilaksanakannya praktikum


ini yaitu untuk mengetahui mengenai pewarisan sifat pada suatu organisme,
serta jumlah perbandingan dari organisme sejenis dan variasi yang terjadi
pada keturunan.
1.2 Tujuan

Tujuan dilakukan praktikum ini adalah agar mahasiswa memahami angka-


angka perbandingan dalam hukum Mendel melalui hukum Kebetulan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Hukum Mendel I disebut juga hukum segregasi atau pemisah gen-gen yang sealel.
Menurut hukum Mendel I, tiap organisme memiliki dua alel untuk setiap sifat.
Selama pembentukan gamet, dua alel berpisah sehingga masing-masing gamet
hanya mengandung satu alel untuk satu sifat. Jika dua gamet bertemu pada
fertilisasi, keturunan yang terbentuk mengandung dua alel yang mengendalikan
satu sifat. Hukum Mendel I tersebut sesuai dengan teori pewarisan sifat karena
alel-alel tersebut menjelaskan mengapa hukum Mendel I dapat dibuktikan dengan
persilangan monohibrid (persilangan dengan satu sifat beda) (Rahayu, 2012).

Menurut (Brown, T.A 1993) dalam suatu persilangan perlu diketahui istilah-
istilah yang diguunakan. Istilah-istilah itu diantaranya :
a) Parental (P) : induk
b) Filial (F) : keturunan
c) Keturunan pertama (F1) : anak
d) Keturunan kedua (F2) : cucu
e) Genotipe : sifat menurun yang tidak tampak dari luar
f) Fenotipe : sifat menurun yang tampak dari luar
g) Dominan : sifat gen yang memiliki ekspresi lebih kuat yang dapat
menutupi/mengalahkan sifat yang dibawa gen alelnya.
h) Resesif : sifat gen yang tidak muncul (tertutup) karena kalah oleh sifat
pasangannya, akan muncul apabila bersama-sama gen resesif lainnya.
i) Homozigot : pasangan gen yang sifatnya sama.
j) Heterozigot : pasangan gen yang tidak sama.

Persilangan Monohibrid adalah persilangan sederhana yang hanya memperhatikan


satu sifat atau tanda beda. Persilangan ini dapat membuktikan kebenaran Hukum
Mendel II yaitu bahwa gen-gen yang terletak pada kromosom yang berlainan akan
bersegregasi secara bebas dan dihasilkan empat macam fenotipe dengan
perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. Kenyataannya, seringkali terjadi penyimpangan atau
hasil yang jauh dari harapan yang mungkin disebabkan oleh beberapa hal seperti
adanya interaksi gen, adanya gen yang bersifat homozigot letal dan sebagainya.
Mendel melakukan persilangan monohibrid atau persilangan satu sifat beda,
dengan tujuan mengetahui pola pewarisan sifat dari tetua kepada generasi
berikutnya. Persilangan ini untuk membuktikan bahwa hukum Mendel I yang
menyatakan bahwa pasangan alel pada proses pembentukan sel gamet dapat
memisah secara bebas (Rahayu, 2012).

Hukum Mendel II disebut juga hukum asortasi atau pengelompokan gen secara
bebas. Hukum Mendel II menyatakan bahwa apabila dua individu memiliki dua
pasang sifat atau lebih maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas tidak
bergantung pada pasangan sifat yang lain. Hal ini menjelaskan bahwa gen yang
menentukan, misalnya bentuk dan warna biji, tidak saling mempengaruhi. Hukum
ini berlaku untuk persilangan dihibrid (dua sifat beda) atau lebih (Pujiyanto,
2016).

Persilangan dihibrid adalah persilangan organisme yang memiliki dua sifat beda.
Contoh persilangan (dihibrid) yang dilakukan Mendel adalah persilangan antara
tanaman kapri galur murni yang berbiji bulat dan berwarna kuning dengan
tanaman kapri berbiji keriput dan berwarna hijau. Biji bulat dominan terhadap biji
keriput, sedangkan biji kuning dominan dengan biji hijau. Pada persilangan
tersebutt dihasilkan tanaman F1 yang semuanya berbiji bulat dan berwarna
kuning. Mendel kemudian menyilangkan sesama tanaman F1 dan hasilnya adalah
F2 yang menunjukkan adanya empat kombinasi fenotipe. Kombinasi tersebut
menunjukkan adanya pengelompokkan dua pasang gen secara bebas yang dikenal
sebagai hukum Mendel II (Pujiyanto, 2016).

Perbandingan fenotipe yang ditentukan pada persilangan monohibrid dan dihibrid


pada dasarnya hanya perbandingan teoritis. Perbandingan tersebut tidak sama
persis tetapi mendekati angka tersebut. Suatu data dikatakan baik jika hasil
percobaan mendekati nilai teoritis, artinya tidak ada faktor-faktor lain yang
mengganggu. Namun bila nilai observasi jauh dari jumlah yang diharapkan
artinya terdapat faktor lain diluar sifat genetis. Hal tersebutlah yang menyebabkan
penyimpangan-penyimpangan (Yatim, 1996).

Dalam beberapa kasus, persilangan dengan sifat beda lebih dari satu kadang
menghasilkan keturunan dengan perbandingan yang beda dengan hukum Mendel.
Misalnya, dalam suatu persilangan monohibrid (dominan resesif), secara teori
akan didapatkan perbandingan 3 : 1. Sedangkan pada dihibrid didapatkan
perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. Namun, pada kasus tertentu, hasilnya bisa lain misal
untuk monohibrid bukan 3 : 1 tapi 1 : 2 : 1. Dan pada dihibrid, mungkin
kombinasi yang muncul adalah, 9 : 6 : 1 atau 15 : 1. Munculnya perbandingan
yang tidak sesuai dengan hukum Mendel ini disebut Penyimpangan Semu Hukum
Mendel, mengapa disebut semu, karena prinsip segregasi bebas tetapi berlaku, hal
ini disebabkan oleh gen-gen yang membawa sifat memiliki ciri tertentu (Yatim,
1996).

Hukum pewarisan Mendel merupakan hukum yang mengatur pewarisan sifat


secara genetik dari suatu individu terhadap keturunannya. Hukum ini diperoleh
dari hasil percobaan Mendel dan hasil kuantitatifya. Perhitungan kuantitatif pada
persilangan bermanfaat untuk menentukan banyaknya gamet pada individu dan
jumlah genotip pada hasil persilangan serta peluang munculnya genotipe dan
memperkirakannya (Cahyono, 2010).
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 09 Oktober 2019 pukul 13.00
WITA–selesai di Laboratorium Biologi Sel dan Molekul Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tadulako.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kotak dan bahan yang
digunakan adalah kancing model-model gen, kancing merah, dan kancing
putih.

3.3 Prosedur Kerja

1. Tempatkan dalam dua buah kotak masing-masing 50 butir model gen merah
dan 50 butiir gen putih
2. Andaikan kotak-kotak ini masing-masing kotak (A) induk jantan dan kotak
(B) induk betina
3. Kemudian kocoklah kotak-kotak itu agar isinya bercampur.
4. Sekarang buatlah pasangan gen-gen dari induk jantan dengan gen-gen dari
induk betina. Dengan cara menutup mata setiap kali mengambil setiap butir
gen dari kotak jantan dan kotak betina.
BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Macam Pasangan Frekuensi Muncul


Merah-merah 7
Merah-putih 11
Putih-putih 7

4.2 Pembahasan

Dari hasil pengamatan setelah dilakukannya praktikum fenotip merah (M)


dominan sempurna terhadap fenotip putih (m).
P : M (merah) X m (putih)
F1 : M (merah) X m (putih)
: MM X mm
Gamet : M X m

Jantan / Betina M m
M MM Mm
M Mm mm

Perbandingan
Fenotipe : 1 : 2 : 1
(merah) (merah putih) (putih)
Sedangkan perbandingan fenotipe dominan tidak sempurna (intermediet)
adalah :
3 : 1
(merah) (putih)

BAB V

PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Suatu organisasi dengan sepasang alel yang identik untuk sifat tertentu
dikatakan bersifat homoozigot terhadap alelnya. Sedangkan, satu dengan alel
lainnya, sebagai heterozigot. Pada heterozigot, satu alel dapat dinyatakan
dengan meniadakan yang lainnya (dominasi) atau kedua alel tersebut dapat
berpngaruh terhadap fenotipnya (dominasi tak lengkap). Bila mana sel-sel
reproduktif (sperma atau telur) dipersiapkan, maka faktor-faktor itu berpisah
dan disebarkan sebagai unit-unit pada setiap gamet. Pernyataan ini sering
disebut hukum mendel yang pertama. Mendel menemukan bahwa pewarisan
satu pasang gen sama sekali tidak bergantung pada pewarisan pasangan
lainnya (hukum penilaian bebas). Bila kedua pasangan gen yang bersangkutan
terdapat pada kromosom-kromosom terpisah atau agak berjauhan pada
kromosom yang sama. Beberapa sifat dikendalikan secara aditif oleh lebih dari
satu pasang alel. Pewarisan poligenik atau faktor berganda sedemikian itu
merupakan kekhasan sifat.

5.2 Saran

Saran saya dalam praktikum ini agar mahasiswa dapat memanfaatkan semua
ilmu yang telah dipelajari dan selalu mengembangkan ilmu tentang
persilangan agar dapat meingkatkan kualitas fakultas.

DAFTAR PUSTAKA
Brown, TA. (1993). Genetics A Molecular Approach. Department of
Biochemistry And Applicd Molecular. Manchester: Umist

Cahyono, Fransisca. (2010). Kombinatorial dalam Hukum Pewarisan Mendel.


Makalah II Probabilitas dan Statistik sem. 1 th. 2010/2011

Mehler, B. (1996). Heredity and hereditarium. Philosopy of Education and


Enyclopedia. Ed. J. J. Chambliss: Grandland Publishing Inc.

Meilinda. (2017). Teori Hereditas Mendel. Jurnal Pembelajaran Biologi, Volume


4, Nomor 1, Mei 2017

Pujiyanto, S & Ferniah, R. S. (2016). Menjelajahi Dunia Biologi. Solo: PT Tiga


Serangkai Pustaka Mandiri

Rahayu, S. (2017). Makalah Hukum Mendel. Retrieved 2018.

Yatim, Wildan. (1996). Genetika. Bandung: Taristo