Anda di halaman 1dari 7

Nama : Dhandi. B.P. Dosen : Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si.

NIM : 11160510000021 Mata Kuliah : Komunikasi Politik

Kelas : KPI B / 6

Media dan Kampanye Politik

Pada dasar nya kampanye adalah tindakan atau usaha yang dilakukan secara sadar dan
bertahap yang memiliki tujuan dalam mendapatkan suatu pencapaian berkat dukungan dari
orang lain/orang banyak atau khalayak yang terikat dan memiliki proses tahapan yang
berkelanjutan pada kurun waktu tertentu

(Pfau & Parrot,1993) Adapun empat aspek pada kampanye persuasive yaitu :

1. Sistematis
menciptakan “tempat” tertentu dalam pikiran khalayak tentang produk, kandidat, atau
gagasan yang disodorkan.
2. Berlangsung dalam berbagai tahapan
Biasanya, dimulai dari menarik perhatian khalayak, Lalu menyiapkan khalayak untuk
bertindak, hingga akhirnya mengajak mereka melakukan tindakan nyata.
3. Dramatisasi Gagasan
Menyampaikan gagasan kepada khalayak dan mengundang/mengajak mereka untuk
terlibat, baik secara simbolis maupun praktis, guna mencapai tujuan kampanye.

Meski kelihatan nya kampanye dan propaganda hampir serupa, Venus berpendapat bahwa
keduanya memiliki karakteristik khas dan beda yaitu :

1. Pendefinisian kampanye selalu jelas, yaitu memiliki tujuan tersendiri untuk para aktor
politik (Ex : CALEG) Meskipun di hadapan massa yang dianggap sebagai sumber justru
para penyanyi atau penghibur lain yang ikut tampil di panggung. Karena memang itu
salah satu daya tarik mengikuti kampanye.
2. Pelaksanaan kampanye selalu terikat dan dibatasi waktu.
3. Sifat gagasan yang disampaikan terbuka untuk diperdebatkan khalayak.
4. Modus penerimaan pesan bersifat sukarela atau persuasif tanpa paksaan.
5. Modus pelaksanaan kampanye diatur kode etik/standar etika.
6. Sifat kepentingan untuk mempertimbangkan kepentingan pihak lain. Artinya, mereka
yang terjun ke politik sudah seharusnya mengutamakan motivasi umum.
Komunikasi yang disengaja dan memiliki tujuan tertentu adalah arti kampanye tetapi secara
umum tujuan kampanye adalah :

1. menciptakan perubahan pada tataran pengetahuan kognitif.


2. Mengarah pada perubahan sikap.
3. Mengubah perilaku khalayak secara konkret dan terukur.

Proses Pembentukan Strategi Kampanye

Dalam proses kampanye adapun strategi nya yang memikirkan perencanaan sebuah
pencapaian yang dituju kampanye.yang membutuh kan riset atau pemahaman yang memadai
tentang khalayak (pemilih) dan situasi yang sedang terjad di khalayak.

1. Positioning
Adalah aktifitas memposisikan diri untuk menanamkan kesan di khalayak atau para
konsumen agar mereka tahu apa perbedaann produk dan jasa yang dihasilkan
organisasi yang bersangkutan.
Menurut Heibing & Cooper positioning adalah alat untuk membangun persepsi produk di
dalam pasar sasaran relatif terhadap persaingan. Oleh karena itu, harus dilakukan
dengan perencanaan yang matang dan langkah yang tepat.

2. Branding
Pengecapan atau pembuatan dan pengembangan suatu “identitas” organisasi terkait
untuk menarik minat khalayak agar lebih mengenal tetang produk politik tsb.

3. Segmenting
Penjaringan pemilihan potensian para loyalis ideology partai politik,konstituen, maupun
simpatisan.
Alur Pemenangan dalam Kampanye

Alur pemenangan kampanye dalam pemilu memiliki 4 hal pokok lingkup pemenangan (Scope of
Winning) yaitu :

1. Mapping
Yang pertama dimulai dengan survei dan pemetaan yang dimana agar mengetahui
kondisi faktual di lapangan.
2. Formulating & Concepting
Langkah ini adalah perencanaan untuk formulasi dan implementasi strategi
pemenangan. Kampanye ideal adalah kampanye yang terkonsep dari; gagasan,
penawaran program, dan pendekatan persuasive yang diformulasikan ke dalam rencana
yang strategis dalam pemenangan.
3. Mentoring candidates.
Dalam langkah ini kandidat mentoring dengan orang yang berpengaruh dalam
kampanye yang nanti nya akan menjadi kekuatan datan dan perspektif kandidat.
4. Supervisi & mentoring
Langkah akhir ini adalah pembentukan tim sukses yang memposisikan nya sebagai
kelompok yang berpengaruh dalam pemasaran politik kandidat. Lalu menjadikan
konsumen relawan, saksi mata, serta para pengamanan suara adalah bentuk partisipasi
warga kader dan non-kader yang peduli dan rela berpartisipasi dalam pemenangan
kandidat.
Aktivitas dalam alur pemenangan ada tiga yaitu:
1) Personal direction
Pengarahan bagaimana seperti apa dana apa yang bergerak,berucap dan bersikap
terukur selama kampanye berjalan.
2) Media recognition
agar adanya pengakuan atau rekognisi lewat publikasi dan publisitas kandidat dalam
ulasan dan perbincangan media massa dan media sosial.
3) Supervisioning
Pengelolaan komunitas dan organisasi yang membangun semangat dalam
berpartisipasinya masyarakat, agar kontribusi pada perolehan suara bisa dikelola
dengan baik.

Tiga hari setelah calon peserta pemilu ditetapkan baru diperbolehkan untuk kampanye
pemilu.masa kampanye berlangsung hingga masa tenang jelan pencontrengan. lalu, kampanye
politik diberiwaktu selama 21 hari untuk Iklan media massa cetak dan media massa elektronik.
tapi, nyatanya sulit untuk membatasi kampanye media massa cetak dan elektronik dalam
kurung waktu hanya 21 hari. Justru biasanya,publikasi politik telah di lakukan dari jauh-jauh hari
sebelum masa nya dan tahap publikasi pemilu dimulai.Maka itu adapun regulasi ini harus
diketahui dan dibicarakan baik baik. Adapun 3 lingkup regulasi yang mengatur tentang
kampanye :

1. Larangan dalam Kampanye


Pasal 280 ayat 1 UU No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dalam masa kampanye,
pelaksana, peserta, dan tim kampanye mempunyai beberapa larangan yang jika
dilanggar akan mendapatkan konsekuensi.
Adapun beberapa pihak yang tidak diperbolehkan untuk ikut serta dalam kampanye
yaitu:
 Mahkamah Agung dan semua peradilan di bawah Mahkamah Agung
 jajaran atas Badan Pemeriksa Keuangan
 jajaran atas BI, BUMN/BUMD, ASN
 pejabat pimpinan lembaga nonstructural yang bukan aggota parpol.
2. Pemberitaan, Penyiaran, dan Iklan Kampanye di Media
Pelokasian waktu dan cara treat yang seimbang bagi para peserta pemilu untuk
menyampaikan materi kampanyenya dalam pemberitaan, penyiaran, dan iklan yang
diatur oleh ketentuan pada perundang-undangan pasal 287.
3. Regulasi Kampanye di Media Penyiaran
Pada Pasal 290 UU No.7 Tahun 2017 yang isinya penyiaran kampanye dilakukan oleh
lembaga penyiaran, lalu pemilihan tema, moderator, dll diatur oleh lembaga penyiaran,
narasumber penyiaran monolog, dialog, dan debat
harus mematuhi larangan kampanye seperti pada pasal 280, dan siaran monolog,
dialog, dan debat dapat mengikut sertakan masyarakat. Media penyiaranpun tidak bias
bebas menggunakan acara atau program siar yang dikhususkan untuk salah satu
kandidat meskipun kandidat adalah salah satu stakeholder sekalipun yang
memanfaatkan nya untuk kepentingan pribadi mereka. yang meskipun, nyatanya saat ini
seperti itu.

Dalam area pertarungan politik ini, diperlukan beberapa prinsip dasar yang harus di pegang
teguh oleh peserta, antara lain :

1. Kebebasan dan Indepedensi


tidak adanya control atau pengendalian formal atas media, khususnya isi redaksi. Maka
pengendalian media oleh parpol tertentu sama bahayanya seperti media dikendalikan
secara berlebih oleh negara.
2. Ketertiban dan solidaritas
penjabaran isi medianya dilarang untuk SARA.
3. Keanekaragaman dan akses
Keragaman ini menunjukan keterbukaan akses yang sama bagi berbagai kepentingan
tanpa sikap diskriminatif. Jika media dimiliki oleh grup petinggi parpol, tentu sangat sulit
mengharapkan keanekaragaman dan akses berimbang.
4. Objektivitas dan kualitas informasi
objektivitas mencakup 2 komponen pokok yaitu faktualitas dan impratialitas. Hanya
dengan objektivitas akan muncul kualitas informasi.

Adapun tiga poin yang harus di kritisi terhadap kampanye di media massa saat ini :

1) Pada UU pemilu No.7 Tahun 2017 Pasal 295 Di tulis bahwa media massa cetak, daring,
dan media sosial menyediakan halaman dan waktu yang adil dan berimbang untuk
pemuatan berita dan wawancara untuk pemasangan iklan kampanye bagi peserta
pemilu.
2) Terabaikan nya peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam pengawasan kegiatan
kampanye pemilu.
3) Dalam UU No.8 tahun 2012 terkait pelokasian jam tayang yang masih sangat normatif.
.

Realitas Komunikasi Politik di Pemilu

Komunikasi untuk Penyelesaian Konflik

KASUS :

AKSI HASIL PENGUMUMAN KPU SELASA 21/05/2019) YANG BERAKHIR RICUH

IDE PEMBAHASAN :

Bagaimana bisa pengumuman KPU Bisa men-Trigger Sebuah aksi yang berujung menjadi riot.

PENJELASAN SERTA TEORI DAN KONSEP :

Pada pemilu 2019 Dimana pada saat penetapan hasil rekaptulasi suara oleh KPU Pada hari
selasa (21/05/2019) dini hari, yang mengakibatkan situasi politik nasional memanas dan sangat
mencemaskan. Banyak pihak tak puas dengan penetapan dan mereka turun kejalan yang
sangat amat disayangkan ada beberapa pihak yang menjadi penunggang bebas yang
memanfaatkan situasi tsb agar tercipta sebuah “riot” yang menimbulkan banyak korban luka-
luka hingga meninggal. Situasi yang seperti ini yang tidak bias terus menerus di diamkan
karena akan ada efek domino ke berbagai sektor di Indonesia.

Ada dua bahasan utama yang mengakibatkan kasus di atas, antara lain :

 Mob Mentality
Mental ini biasa nya terbentuk karena terpengaruh oleh kerumunan atau orang lain
untuk mengadopsi atau mengikuti perilaku tertentu berdasarkan emosi sebagai
kacamata mereka untuk mencapai tujuan nya bukan pada kacamata rasionalitas nya.
 Groupthink
Gejala ini bisa di contohkan pada kejadian Irving Janis (1982), sebagai kelompok yang
memiliki tingkat kohesivitas tinggi dan seringkali gagal mengembangkan alternatif-
alternatif tindakan yang mereka ambil. groupthink ini terjadi di saat seseorang yang
berada di dalam kelompok tertentu yang bergerak bukan karena kesadaran rasionalitas
individunya tetapi lebih karena semangat kebersamaan kelompoknya yang terkadang
melandaskan motif solidaritas antara- dan sesama- dalam motifnya.

Realitas Komunikasi Politik di Pilpres

Kemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin

Charta politika memegang data masuk 85,9 persen, Jokowi-Maruf 54,17 persen, dan Prabowo
Sandiaga 45,83 persen. Dan sebelum nya data yang masuk 75,42 persen, Jokowi Maruf 52,81
persen unggul atas Prabowo-Sandi 46,19 persen. Dengan melihat data tersebut bias
digambarkan bahwa kemenangan pasangan Jokowi-Maruf sebelum real count KPU
diumumkan. Quick Count merupakan metode yang diadopsi dari The National Democratic
Institute (NDI). Selain untuk tahu hasil pemilu lebih awal, hitung cepat juga bisa menjadi data
perbandingan bagi hasil resmi KPU. Dengan demikian, maka tidak tepat jika ada pihak yang
langsung menuduh lembaga-lembaga yang melakukan hitung cepat telah melakukan kerjasama
memenangkan salah satu kandidat.