Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sangiran merupakan salah satu wilayah dijawa tengah yang terkenal dengan
salah satu situs pembeklannya yaitu museum manusia pueba sangiran. Sangiran
terletak sekitar 10 km dari utara kota solo. Sangiran diapit secara administrative oleh
dua kabupaten yantu kabupaten sragen dan kabupaten katang anyar dikecamatan
gondangrejo. Luas wilayah sangiran kurang lebih 56 km2 yang terletak pada
koordinat 110o48’BT-110o53’BT dan 7o24’-7o30’ (wulandari, 2002). Secara
geografis, sangiran merupakan sebuah cekungan yang dikelilingi oleh oelh bukit dan
ketinggian puncak 180 m diatas permukaan laut. Secara geologis, sangiran
merupakan sebuah kubah dengan deposit yang berasal dari erosi dan diyemukan
pada kala pleistosen (Berstra,1989). Nama sangiran berasal dari sebuah desa
ditengah kubah dan saat ini menjadfi terkenal karena wilayahnya terdistribusi oleh
fosil (simanjuntak, 2001).
Situs manusia purba sangiran merupakan sebua situs prasejarah yang
mengandung temuan fosil yang sangat banyak jumlahnya, seperti fosil Hominid
purba, fosil fauna dan flora, serta artefak batu. Adanya keberagaman temuan dan
jumlah temuan yang melimpah, menjadikan situs manusia purba Sangiran memiliki
perana penting bagi perkembangan ilmu pengetahun khususnya evolisi manusia,
budaya, dan alam (widianto dan simanjuntak, 2001:77;widianto, 1986:1).
Museum Sangiran adalah museum arkeologi yang terletak di Kecamatan
Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Museum ini
berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran yang merupakan salah satu
Situs Warisan Dunia. Situs Sangiran memiliki luas mencapai 56 km² meliputi tiga
kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh) serta Kecamatan
Gondangrejo  yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Situs Sangiran berada di
dalam kawasan Kubah Sangiran yang merupakan bagian dari depresi Solo, di kaki
Gunung Lawu (17 km dari kota Solo).
Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi obyek wisata yang
menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting
dan terlengkap di Asia, bahkan dunia. Dalam museum ini dapat diperoleh informasi
lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang menyumbang
perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi,
Paleoanthropologi. Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya
ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus Erectus (salah satu spesies dalam taxon
Homo erectus) oleh arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald.  
Lebih menarik lagi, di area situs Sangiran ini pula jejak tinggalan berumur 2
juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini, sehingga para
ahli dapat merangkai sebuah benang merah sebuah sejarah yang pernah terjadi di
Sangiran secara berurutan. Koleksi yang tersimpan di museum ini mencapai 13.806
buah yang tersimpan pada dua tempat yaitu 2.931 tersimpan di ruang pameran dan
10.875 di dalam ruang penyimpanan.
Museum sangiran menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti
Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Oleh karena itu, dalam makalah
ini akan dibahas tentang informasi tentang museum sangiran.

1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu mengidentifikasi jenis-jenis fosil vertebrata berdasarkan
karakteristiknya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Fosil
Kira-kirsa 500 juta tahun yang lalu longsoran lumpur yang terjadi didasar laut
purba. Tumbuhan dan binatang terangkut pada proses tersebut dudasar laut yang
lebih dalam lapisan sendimen lumpur yang kemudian menglami litifikasi menjadih
fesih. Selanjutnya serpih mengalami pengangkatan membentuk pegunungan yang
tinggi. Pada batuan tersebut ditemukan sejumlah sisa-sisa organisme tadi yang
beberapa jenis diantaranya masih tetap hidup sampai sekarang sedang yang lainnya
sudah musnah.
Sisa-sisa kehidupan dimasa lampau yang telah mengalami pembatuan disebut
fosil. Fosil yang tertua adalah jejak yang sangat kecil dari organisme yang
menyerupai bakteri yang pernah hidup kurang lebih 3000 juta tahun yang lalu.
Cabang ilmu geologi yang pernah dipelajari tentang kehidupan yang pernah ada
dimasa lampau disebut paleontology. Paleontology sangat membantu ahli geologi
dalam melakukan interprestasi mengenai sejarah bumi
Fosil, dari bahasa latin fossa yang berarti ”menggali keluar dari dalam tanah”.
Fosil adalah semua sisa, jejak, ataupun cetakan dari manusia, binatang dan tumbuh-
tumbuhan yang telah terawetkan dalam suatu endapan batuan dari masa geologis
atau prasejarah dari tahun lalu. Fosil makhluk hidup terbentuk ketika makhluk hidup
pada zaman dahulu (lebih dari 11.000 tahun) terjebak dalam lumpur. Endapan
lumpur tersebut akan mengeras menjadi batu disekeliling makhluk hidup yang
terkubur tersebut. Dari fosil yang ditemukan, yang paling banyak jumlahnya adalah
yang sangat lembut ukurannya seperti serbuk sari, misalnya foraminifera, ostracoda,
dan radiolarian. Sedangkan hewan yang besar biasannya hancur bercerai-cerai dan
bagian tertentu ditemukan sebagai fosil.
2.2 Jenis-Jenis Fosil
Ada beberapa jenis manusia purba yang ditemukan di wilayah Indonesia adalah
sebagai berikut :
2.2.1 Meganthropus Paleojavanicus
Meganthropus paleojavanicus berasal dari kata-kata; Megan artinya besar,
Anthropus artinya manusia, Paleo berarti tua, Javanicus artinya dari Jawa. Jadi bisa
disimpulkan bahwa Meganthropus paleojavanicus adalah manusia purba bertubuh
besar tertua di Jawa. Fosil manusia purba ini ditemukan di daerah Sangiran, Jawa
tengah antara tahun 1936-1941 oleh seorang peneliti Belanda bernama Von
Koeningswald. Fosil tersebut tidak ditemukan dalam keadaan lengkap, melainkan
hanya berupa beberapa bagian tengkorak, rahang bawah, serta gigi-gigi yang telah
lepas. Fosil yang ditemukan di Sangiran ini diperkirakan telah berumur 1-2 Juta
tahun.
Ciri-Ciri Meganthropus paleojavanicus :
·     Mempunyai tonjolan tajam di belakang kepala.
·     Bertulang pipi tebal dengan tonjolan kening yang mencolok.
·     Tidak mempunyai dagu, sehingga lebih menyerupai kera.
·     Mempunyai otot kunyah, gigi, dan rahang yang besar dan kuat.
·     Makanannya berupa daging dan tumbuh-tumbuhan.

2.2.2 Pithecanthropus
Fosil manusia purba jenis Pithecanthrophus adalah jenis fosil manusia purba
yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Pithecanthropus sendiri berarti manusia
kera yang berjalan tegak. Fosil Pithecanthropus berasal dari Pleistosen lapisan bawah
dan tengah. Mereka hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan Mereka
sudah memakan segala, tetapi makanannya belum dimasak. Terdapat tiga jenis
manusia Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia, yaitu Pithecanthrophus
erectus, Pithecanthropus mojokertensis, dan Pithecanthropus soloensis. Berdasarkan
pengukuran umur lapisan tanah, fosil Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia
mempunyai umur yang bervariasi, yaitu antara 30.000 sampai 1 juta tahun yang lalu.

1. Pithecanthropus erectus, ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1891 di


sekitar lembah sungai Bengawan Solo, Trinil, Jawa Tengah. Mereka hidup
sekitar
satu juta sampai satu setengah juta tahun yang lalu. Pithecanthropus Erectus
berjalan tegak dengan badan yang tegap dan alat pengunyah yang kuat.
Volume otak Pithecanthropus mencapai 900 cc. Volume otak manusia modern
lebih dari 1000 cc, sedangkan volume otak kera hanya 600 cc.

2. Pithecanthropus mojokertensis, disebut juga dengan Pithecanthropus


robustus. Fosil manusia purba ini ditemukan oleh Von Koeningswald pada
tahun 1936 di Mojokerto, Jawa Timur. Temuan tersebut berupa fosil anak-
anak berusia sekitar 5 tahun. Makhluk ini diperkirakan hidup sekitar 2,5
sampai 2,25 juta tahun yang lalu. Pithecanthropus Mojokertensis berbadan
tegap, mukanya menonjol ke depan dengan kening yang tebal dan tulang pipi
yang kuat.
3. Pithecanthropus soloensis, ditemukan di dua tempat terpisah oleh Von
Koeningswald dan Oppernoorth di Ngandong dan Sangiran antara tahun
1931-1933. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak dan juga tulang kering.

Ciri-ciri Pithecanthropus :
·       Memiliki tinggi tubuh antara 165-180 cm.
·       Badan tegap, namun tidak setegap Meganthrophus.
·       Volume otak berkisar antara 750 – 1350 cc.
·       Tonjolan kening tebal dan melintang sepanjang pelipis.
·       Hidung lebar dan tidak berdagu.
·       Mempunyai rahang yang kuat dan geraham yang besar.

2.3 Kegunaan Fosil


Fosil adalah sisa-sisa organisme yang pernah hidup di waktu silam, yang
diawetkan oleh alam. Karena terawetkan sejak 3,5 miliar tahun yang lalu fosil
menjadi petunjuk penting mengenai sejarah bumi.
Manfaat dari fosil adalah :
a. Fosil merupakan kunci yang menentukan mengenai lingkungan masa lalu.
Binatang dan tumbuhan hidup di daerah yang memiliki keadaan (iklim) yang
berbeda-beda. Dengan menggunakan keadaan iklim dari binatang dan tumbuhan
pada zaman modern sebagai bandingan dan penerapan Prinsip Uniformtarianisme,
dapat diperkirakan keadaan iklim pada saat hidupnya tumbuhan dan binatang
serupa pada zaman dahulu. Misalnya dari fosil tumbuhan dapat diperkirakan curah
hujan dan suhu di darat zaman dahulu, dan dari fosil mikro organisme yang
terapung dapat menunjukkan keadaan suhu dan salinitas air laut.
b. Fosil merupakan dasar utama dalam menentukan umur relatif suatu lapisan dan
komponen yang sangat penting dalam menyusun sejarah bumi yang sudah berumur
600 juta tahun.
c. Sebagai penunjuk waktu (time indicator) dalam geologi.
d. Menentukan perkiraan umur relatif batuan : lapisan yang memiliki kesamaan
kandungan fosil diperkirakan diendapkan pada waktu yang bersamaan.
e. Mengetahui kisaran lingkungan pengendapan : penemuan fosil pada suatu tempat
dapat menjadi petunjuk untuk menentukan lingkungan pengendapan, misalnya
dengan ditemukannya fosil ikan pada suatu lapisan menunjukan bahwa wilayah
sekitar lapisan tersebut kemungkinan adalah suatu lingkungan air.
f. Menentukan korelasi batuan : lapisan batuan pada suatu daerah dapat dikatakan
sama dengan lapisan batuan didaerah lain jika keduanya mengandung jenis fosil
yang sama.
g. Fosil penting untuk memahami sejarah batuan sedimen bumi. Subdivisi dari waktu
geologi dan kecocokannya dengan lapisan batuan tergantung pada fosil.Organisme
berubah sesuai dengan berjalannya waktu dan perubahan ini digunakan untuk
menandai periode waktu. Sebagai contoh, batuan yang mengandung fosil graptolit
harus diberi tanggal dari era paleozoikum. Persebaran geografi fosil
memungkinkan para ahli geologi untuk mencocokan susunan batuan dari bagian-
bagian lain di dunia.
Ada beberapa syarat yang menyebabkan terjadinya fosil, diantaranya yaitu :
1.      organisme mempunyai bagian tubuh yang keras
2.      mengalami pengawetan dalam batuan sedimen
3.      mengandung kadar oksigen dalam jumlah yang sedikit
4.      terjadi secara alamiah, terhindar dari proses – proses kimia
5.      terbebas dari bakteri pembusuk, terhindar dari organisme pemangsa
6.      umurnya lebih dari 10. 000 tahun.

2.4 Cara Pengamatan Fosil


2.5 Sejarah Berdirinya Museum Sangiran
Sejarah Museum Sangiran bermula dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh
Von Koeningswald sekitar tahun 1930-an. Di dalam kegiatannya Von Koeningswald
dibantu oleh Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan pada masa itu. Setiap hari Toto
Marsono atas perintah Von Koeningswald mengerahkan penduduk Sangiran untuk
mencari “balung buto” (Bahasa Jawa = tulang raksasa). Demikian penduduk Sangiran
mengistilahkan temuan tulang-tulang berukuran besar yang telah membatu yang
berserakan di sekitar ladang mereka. Balung buto tersebut adalah fosil yaitu sisa-sisa
organisme atau jasad hidup purba yang terawetkan di dalam bumi.
Fosil-fosil tersebut kemudian dikumpulkan di Pendopo Kelurahan Krikilan
untuk bahan pnelitian Von Koeningswald, maupun para ahli lainnya. Fosil-fosil yang
dianggap penting dibawa oleh masing-masing peneliti ke laboratorium mereka,
sedang sisanya dibiarkan menumpuk di Pendopo Kelurahan Krikilan.
Setelah Von Koeningswald tidak aktif lagi melaksanakan penelitian di
Sangiran, kegiatan mengumpulkan fosil masih diteruskan oleh Toto Marsono
sehingga jumlah fosil di Pendopo Kelurahan semakin melimpah. Dari Pendopo
Kelurahan Krikilan inilah lahir cikal-bakal Museum Sangiran.
Untuk menampung koleksi fosil yang semakin hari semakin bertambah maka
pada tahun 1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati Sragen membangun museum
kecil di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Saragen di atas tanah seluas
1000 m². Museum tersebut diberi nama “Museum Pestosen”. Seluruh koleksi di
Pendopo Kelurahan Krikilan kemudian dipindahkan ke Museum tersebut. Saat ini
sisa bangunan museum tersebut telah dirombak dan dialihfungsikan menjadi Balai
Desa Krikilan.
Sementara di Kawasan Cagar Budaya Sangiran sisi selatan pada tahun 1977
dibangun juga sebuah museum di Desa Dayu, Kecamatan Godangrejo, Kabupaten
Karanganyar. Museum ini difungsikan sebagai basecamp sekaligus tempat untuk
menampung hasil penelitian lapangan di wilayah Cagar Budaya Sangiran sisi selatan.
Saat ini museum tersebut sudah dibongkar dan bangunannya dipindahkan dan
dijadikan Pendopo Desa Dayu.
Tahun 1983 pemerintah pusat membangun museum baru yang lebih besar di
Desa Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Kompleks
Museum ini didirikan di atas tanah seluas 16.675 m². Bnagunannya antara lain terdiri
dari Ruang Pameran, Ruang Pertemuan/ Seminar, Ruang Kantor/ Administrasi,
Ruang Perpustakaan, Ruang Storage, Ruang Laboratorium, Ruang Istirahat/ Ruang
Tinggal Peneliti, Ruang Garasi, dan Kamar Mandi. Selanjutnya koleksi yang ada di
Museum Plestosen Krikilan dan Koleksi di Museum Dayu dipindahkan ke museum
yang baru ini. Museum ini selain berfungsi untuk memamerkan fosil temuan dari
kawasan Sangiran juga berfungsi untuk mengkonservasi temuan yang ada dan
sebagai pusat perlindungan dan pelestarian kawasan Sangiran.
Tahun 1998 Dinas Praiwisata Propinsi Jawa Tengah melengkaspi Kompleks
Museum Sangiran dendan Bnagunan Audio Visual di sisi timur museum. Dan tahun
2004 Bupati Sragen mengubah interior Ruang Knator dan Ruang Pertemuan menjadi
Ruang Pameran Tambahan.
Tahun 2003 Pemerintah pusat merencanakan membuat museum yang lebih
representative menggantikan museum yang ada secara bertahap. Awal tahun 2004 ini
telah selesai didirikan bangunan perkantoran tiga lantai yang terdiri dari ruang
basemen untuk gudang, lantai I untuk Laboratorium, dan lantai II untuk perkantoran.
Program selanjutnya adalah membuat ruang audio visual, ruang transit untuk
penerimaan pengunjung, ruang pameran bawah tanah, ruang pertemuan,
perpustakaan, taman purbakala, dan lain-lain.
2.6 Macam-Macam Jenis Fosil Hewan di Sangiran
Sebanyak 50 (lima puluh) individu fosil manusia Homo erectus telah
ditemukan. Jumlah ini mewakili 65 %  dari fosil Homo erectus yang ditemukan di
seluruh Indonesia atau sekitar 50 % dari populasi Homo erectus  di dunia
.Keseluruhan fosil yang telah ditemukan sampai saat ini adalah sebanyak 13.809
buah. Sebanyak 2.934 fosil disimpan di Ruang Pameran Museum Sangiran dan
10.875 fosil lainnya disimpan di dalam gudang penyimpanan. Dilihat dari hasil
temuannya, Situs Sangiran merupakan situs pra sejarah yang memiliki peran yang
sangat penting dalam memahami proses evolusi manusia dan merupakan situs
purbakala yang paling lengkap di Asia bahkan di dunia. Berdasarkan hal tersebut,
Situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Dunia nomor 593 oleh Komite World
Heritage pada saat peringatan ke-20 tahun di Merida, Meksiko.
Koleksi Museum Sangiran :
1.   Fosil manusia, antara lain Australopithecus africanus , Pithecanthropus
mojokertensis (Pithecantropus robustus ), Meganthropus palaeojavanicus ,
Pithecanthropus erectus, Homo soloensis , Homo neanderthal Eropa, Homo
neanderthal Asia, dan Homo sapiens .
2.   Fosil binatang bertulang belakang, antara lain Elephas namadicus (gajah),
Stegodon trigonocephalus (gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus palaeokarabau
(kerbau), Felis palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinocerus sondaicus
(badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).
3.   Fosil binatang air, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi
ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda nil), Mollusca (kelas Pelecypoda dan
Gastropoda ), Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera .
4.     Batu-batuan , antara lain Meteorit/Taktit, Kalesdon, Diatome, Agate, Ametis
5. Alat-alat batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola
batu dan kapak perimbas-penetak
6.      Koleksi lainnya
a.       Fosil kayu yang terdiri dari:
·    Fosil kayu
Temuan dari Dukuh Jambu, Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo
Kabupaten Karanganyar. Ditemukan pada tahun 1995 pada lapisan
tanah lempung warna abu-abu ditemukan pada formasi pucangan
·     Fosil batang pohon
Temuan dari Desa krikilan , Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.
Fosil ini ditemukan pada tahun 1977 pada lapisan tanah lempung
Warna abu-abu dari endapan ditemukan pada Formasi pucangan
b.      Tulang hasta (Ulna) Stegodon Trigonocephalus
Ditemukan di kawasan cagar sangiran pada tanggal 23 november
1975 di tanah lapisan lempung warna abu –abu Formasi kabuh bawah.
c.       Tulang paha
Ditemukan dari Desa Ngebung, Kecamatan kalijambe, Kabupaten
Sragen pada tanggal 4 Februari 1989 pada lapisan tanah lempung warna
abu – abu dari endapan ditemukan pada formasi pucangan atas.
d.      Tengkorak kerbau
Ditemukan oleh Tardi Pada tanggal 20 November 1992 di Dukuh
Tanjung, Desa Dayu Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar
pada lapisan tanah Warna coklat kekuning-kunginan yang bercampur pasir
ditemukan formasi kabuh berdasarkan penanggalan geologi berumur
700.000-500 tahun
e.       Gigi Elephas Namadicus
Ditemukan di situs cagar budaya sangiran Pada tanggal 12 Desember
1975, Pada lapisan tanah pasir bercampur kerikil berwarna cokelat
ditemukan pada Formasi kabuh
 Fragmen gajah purba
Hidup di daerah cagar budaya sangiran. Jenisnya adalah:
1. astodon
2. Stegodon
3. Elephas
f.       Tulang rusuk (Casta) Stegodon Trigonocephalus
Ditemukan oleh Supardi pada tanggal 3 Desember 1991 di Dukuh
Bukuran, Desa Bukuran Kecamatan kalijambe Kabupaten Sragen pada
lapisan lempung warna abu – abu dari endapan pucangan atas.

g.      Ruas tulang belakang (Vertebrae)


Ditemukan di situs cagar budaya sangiran pada tanggal 15 Desember
1975 di lapisan tanah pasir berwarna abu – abu pada formasi kabuh
bawah.
h.      Tulang jari (Phalanx)
Ditemukan di situs sangiran pada tanggal 28 oktober 1975 pada
lapisan tanah pasir kasar warna cokelat kekuning-kuningan pada formasi
kabuh.
i.        Rahang atas Elephas Namadicus
Rahang ini dilengkapi sebagian gading ditemukan oleh Atmo di
Dukuh Ngrejo, Desa Samomorubuh Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen
pada tanggal 24 April 1980 pada lapisan Grenz bank antara formasi
pucangan dan kabuh.
j.        Tulang kaki depan bagian atas (Humerus)
Bagian fosil ditemukan oleh Warsito Desa Krikilan, Kecamatan
Kalijambe, Kabupaten Sragen pada tanggal 28 Desember 1998 pada
lapisan tanah lempung warna abu – abu dari formasi pucangan atas kala
pleistosen bawah
k.      Tulang kering
Ditemukan oleh Warsito di Dukuh Bubak Desa Ngebung,
Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen pada tanggal 4 januari 1993
lapisan tanah lempung warna abu – abu dari formasi pucangan atas.
Selain mendirikan museum situs prasejarah sangiran untuk menjaga kawasan
sangiran, pemerintah juga mengeluarkan Undang-undang tentang perlindungan cagar
budaya sangiran, yaitu:
1)     Mengeluarkan SK. Mendikbud No. 70 / 111 / 1977 dan menetapkan sangiran
sebagai cagar budaya. Semua fosil-fosil di wilayah sangiran dilindungi dan
setiap temuan harus diserahkan kepada pemerintah.
2)    UU No. 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya yang lebih keras yaitu,
menetapkan sangiran sebagai cagar budaya ( UNESCO )
Meskipun pemerintah telah membuat peraturan perundang-undangan tentang
perlindungan cagar budaya, tetapi pada kenyataannya masih mengalami beberapa
masalah yaitu;
a.    Daerah yang seluas 32 km² hanya diawasi oleh tenaga yang sangat terbatas.
Daerah itu hanya dijaga oleh 27 personil, termasuk 8 orang bertugas sebagai
satpam.
b. Adanya tradisi memberi hadiah terhadap penemu fosil yang telah berlangsung
sejak jaman pendudukan Belanda.
c.   Para pembeli asing menawarkan harga yang lebih tinggi dibandingkan dari
pemerintah, sehingga banyak penduduk setempat yang menjual fosil temuannya
kepada pembeli asing.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Adapun waktu dan tempat praktikum lapang pengenalan fosil purba
dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : sabtu, 14 desember 2019
Waktu : 08:00 – 10:00 WIB
Tempat : Sangiran Museum
Kalijambe, Sragen, Krikila, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
a. Buku referensi tentang fosil
b. ATK
c. Kamera
d. Papan dada
3.2.2 bahan
Fosil-fosil yang ada di Museum Sangiran
3.3 Cara Kerjan
Adapun langka (cara) kerja yang dilakukan ketika melkukan pengamatan dan
identifikasi terhadap fosil sebagai berikut:
1. Dilakukan pengamat terhadap beberapa fosil yang ada, minimal 5 spesies
yang beda.
2. Diambil gambar fosil yang di amati.
3. Dilakukan identifikasi berdasarkan bentuk fosil yang di temukan sehingga
dapat diketahui taksonnya, meliputi : bentuk fosil, umur fosil, periode fosil,
jenis tanah, dan karakter-karakter penanda taksa.
4. Dilakuakn deskripsi masing-masing spesies berdasarkan fosil yang
ditemukan.
5. Dibuat filogen dari semua spesies yang diamati.
6. Ditulis hasil identifikasi (pengamatan) pada lembar hasil yang telah
dibagikan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 kura-Kura Purba (Geochelone atlas)
4.1.2 Kerbau (Bubalus palaeokerabai)

( Dokumen prinadi, 2019)

( Dokumen prinadi, 2019)


( Dokumen prinadi, 2019)
4.1.3 Badak Purba (Rhinoceros sendaicus)
4.1.4 Kudanil Purba (Hippopotanus sp.)

( Dokumen prinadi, 2019)


4.1.5 Gajah Purba (Stegodon trigonucephallus)
4.2 Pembahasan
4.2.1 kura-Kura Purba (Geochelone atlas)
4.2.1.1 klasifikasi
4.2.1.2 Deskripsi
4.2.2 Kerbau (Bubalus palaeokerabai)
4.2.2.1 Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Classis : Mamalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Bovidae
Genus : Bulbalus
Spesies : Bulbalus palaeokerabau
4.2.2.2 Deskripsi
Kerbau purba ini pernah hidup di situs Sangiran sejak jaman Plestosen
awal (1.700.000 tahun yang lalu) hingga Plestosen akhir. Binatang ini
mempunyai ciri berupa sepasang tanduk yang permanen dan berongga di
tengahnya, bentuknya memanjang ke samping yang ukurannya bisa mencapai
lebih dari 1,5m. tanduk tersebut tumbuh tidak lama, setelah hewan tersebut
lahir dan ukuran nya terus bertambah hingga tua. Hewan ini tingginya dapat
mencapai 1.5 – 2 m. Berat badannya antara 400 – 900 kg bahkan bisa
mencapai 1200 kg (Santosa,2000).
Kerbau purba tersebut hidup dalam habitat peralihan (intermediate
habitat) yaitu habitat yang berupa padang rumput terbuka dengan sebagian
berupa semak, rerumputaan yang tinggi dan lingkungan rawa – rawa. Cara
hidupnya adalah dengan menbentuk kelompok – kelompok (Santosa,2000)

4.2.3 Badak Purba (Rhinoceros sendaicus)


4.2.3.1 Klasifikasi
4.2.3.2 Deskripsi
4.2.4 Kudanil Purba (Hippopotanus sp.)
4.2.4.1 Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Hippopotamidae
Genus : Hippopotamus
Spesies : Hippopotamus sp.
4.2.4.2 Deskripsi
Ciri fisik Kuda Sungai adalah memiliki tubuh besar, mulut dan gigi
yang besar, serta empat buah kaki yang pendek dan gemuk. Gigi seri dan
taringnya tumbuh besar menyerupai tanduk, di mana taringnya berukuran
lebih besar daripada gigi-gigi yang lain. Kuda Sungai memiliki lapisan kulit
yang tipis dengan sedikit kelenjar minyak dan keringat sehingga rentan
terhadap dehidrasi oleh sebab itu, pada siang hari Kuda Sungai banyak
berendam di air atau lumpur untuk menjaga suhu tubuhnya. Pada malam hari
mereka baru beraktifitas. Dengan berat tubuh bisa mencapai 3 ton, Kuda
Sungai masih dapat berlari hingga 30 km/jam, lebih cepat dari kecepatan lari
manusia pada umumnya. Mereka mengenal daerah teritorial namun hanya di
air, ketika sudah di darat mereka tidak berkelompok dan tidak memiliki
daerah teritorial(Santosa,2000).
Ada dua jenis Kuda Sungai yang pernah hidup di Sangiran, yaitu
Hexatoprodon dan Hippopotamus. Dalam suatu kerjasama penelitian antara
Indonesia dan Perancis, ditemukan fosil Hippopotmus dari Bukuran pada
tahun 1998. Sebanyak 109 tulang-tulang Kuda Sungai ini terbalut pekat dalam
endapan lempung hitam Formasi Pucangan berusia 1,2 juta tahun, ketika itu
Sangiran masih berada dalam lingkungan rawa. Hippopotamus tersebut hidup
di dalam rawa bakau berdampingan dengan mamalia lain seperti gajah pada
masa Mastodon, kura – kura raksasa, Bovidae (Widianto, 2009).
4.2.5 Gajah Purba (Stegodon trigonucephallus)
4.2.5.1 Klasifikasi
4.2.5.2 Deskripsi
BAB V
PENUTUP
5.1 kesimpulan
Pada praktikum ini dapat disimpulkan bahwa di sangiran terdapat hewan dan
manusia purba. Hewan yang terdapat disana adalah hewan purba vertebrata, hewan
vertebrata yang ada di sana antara lain, babi purba, harimau purba, kerbau purba,
gajah mastadon, banteng purba.karakteristik dari babi purba adalah memiliki mulut
berbentuk moncong, harimau purba juga mempunyai karakteristik yaitu kepalanya
kecil, selain harimau purba, juga terdapat kerbau purba juga memiliki karakteristik
terdapat tanduk, pada gajah mastadon memiliki karakteristik adanya gading dan gigi
geraham, dan yang terakhir adalah banteng purba memiliki karakteristik yaitu tnduk
yang panjang dan melengkung ke depan. Hewan vertebrata tersebut adalah hewan
vertebrata yang kami amati di museum sangiran, masih banyak lagi hewan vertebrata
lain yang berada di sangiran, selain hewan yang di sebutkan tadi.
DAFTAR PUSTAKA
Priyambodo. 2015. Fosil dan Batuan. Lampung: Universittas Lampung
Rusmulia. et al. 2004. Museum Situs Sangiran Sejarah Evolusi Manusia
Purba.
Santosa, Herry. 2000. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta:
Universiras Sanata Dharma Tjiptadi
Sulistyanto, Bambang. 2003. Balung Buto:Warisan Budaya Dunia dalam
Prespektif Masyarakat di Sangiran. Yogyakarta: Kunci Ilmu
Widianto, Harry dan Simanjutak,dkk. 2009. Sangiran Menjawab Dunia. Jawa
Tengah: Babi Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran