Anda di halaman 1dari 5

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 DEFENISI POLIO

Poliomielitis adalah penyakit kelumpuhan akut yang menular disebabkan oleh virus polio.
Predileksi virus polio pada sel kornu anterior medulla spinalis, inti motorik batang otak dan
area motorik korteks otak menyebabkan kelumpuhan serta atrofi otot (Soedarmo, 2008).
Poliomielitis adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus dengan predileksi
pada sel anterior masa kelabu sumsum tulang belakang dan inti motorik batang otak dan
akibat kerusakan bagian susunan saraf pusat tersebut akan terjadi kelumpuhan dan atrofi
otot (IKA, FKUI, 2005).

Poliomielitis adalah penyakit infeksi akut yang pada keadaan serius menyerang susunan
saraf pusat. Kerusakan saraf motorik pada medulla spinalis menyebabkan paralisis flaksid
(Jawetz, dkk, 2005).

Poliomielitis dahulu disebut penyakit lumpuh kanak-kanak, tetapi sekarang diketahui bahwa
penyakit ini dapat juga menyerang orang dewasa (Oswari, 2009).
Polio merupakan sebuah kondisi medis yang sangat serius dan bisa menyebabkan akibat
yang fatal untuk penderita. Penyakit polio disebabkan oleh sebuah virus polio. Ketika tubuh
terkena infeksi dari virus polio maka akan menyebabkan infeksi pada usus. Setelah itu
infeksi akan menjalar ke bagian sistem syaraf dan bisa menyebabkan kondisi penyakit
seperti meningitis. Jika seseorang terkena virus polio maka bisa menyebabkan kematian
dan cacat permanen seperti kelumpuhan. Gejala ketika seseorang sudah terserang virus
polio adalah seperti rasa lelah berlebihan pada kaki dan punggung serta nyeri hebat pada
sendi dan otot.

2.2 Gejala Infeksi Virus Polio Pada Balita


a. Minor Ilness( Gejala Ringan)

Gejala ini terjadi sebagai akibat proses inflamasi akibat berbiaknya virus polio. Gejalanya
sangat ringan atau bahkan tanpa gejala. Keluhan biasanya nyeri tenggorok dan perasaan
tidak enak diperut, gangguan gastroinstetinal, demam ringan, perasaan lemas, dan nyeri
kepala ringan. Gejala ini terjadi selama 1-4 hari, kemudian menghilang. Gejala ini
merupakan fase enterik dari infeksi virus polio. 

Masa inkubasi 1-3 hari dan jarang lebih dari dari 6 hari. Selama waktu itu virus terus
bereplikasi pada naso faring dan saluran cerna bagian bawah. Gejala klinis yang tidak khas
ini terdapat pada 90%-95% kasus  polio.

b. Major Illness( Gejala Berat)

Major illness merupakan gejala klinik akibat penyebaran dan replikasi virus di tempat lain
serta kerusakan yang ditimbulkannya. Menurut Hostman, masa ini berlangsung selama 3-35
hari termasuk gejala minor illness dengan rata-rata 17 hari. Usia penderita akan
mempengaruhi gejala klinis. 1/3 dari kasus polio berusia 2-10 tahun, akan memberikan
gambaran bifasik atau dromedari yaitu terdapat 2 letupan kedua kelainanan sistemik dan
neurologik.
Gejala klinis dimulai dengan demam, kelemahan cepat dalam beberapa jam, nyeri kepala
dan muntah. Dalam waktu 24 jam terlihat kekakuan pada leher dan punggung. Penderita
terlihat mengantuk, irritable dan cemas. 

Pada kasus tanpa paralysis maka keadaan ini sukar dibedakan dengan meningitis aseptik
yang disebabkan oleh virus lain. Bila terjadi paralisis biasanya dimulai dalam beberapa detik
sampai 5 hari sesudah keluhan nyeri kepala.

Pada anak stadium preparalisis lebih singkat dan kelemaham otot terjadi dalam waktu
penurunan suhu, pada saat penderita merasa lebih baik. Pada dewasa, stadium pre paralitik
berlangsung lebih hebat dan lebih lama, penderita terlihat sakit berat, tremor, agitasi,
kemerahan daerah muka, otot menjadi sensitive dan kaku,pada otot ekstensor ditemukan
refleks tendon meninggi dan fasikulasi. Poliomielitis merusak sel motorik, yaitu neuron yang
besar pada substansi griseria anteria pada medulla spinalis dan batang otak (Soedarmo,
2008).

2.3. Tanda-Tanda Penyakit Poliomielitis Pada Balita


Virus polio yang masuk akan berkembangbiak di tenggorok dan usus, dan tanda-tanda klinik
yang timbul kemudian akan sesuai dengan kerusakan anatomik yang terjadi. Biasanya masa
inkubasinya adalah 6-20 hari dan kelumpuhan terjadi dalam waktu 3-35 hari. Replikasi di
motor neuron terutama terjadi di sumsum tulang belakang yang menimbulkan kerusakan sel
dan kelumpuhan serta atrofi otot, sedang virus yang berkembangbiak di batang otak akan
menyebabkan kelumpuhan bulbar dan kelumpuhan pernafasan.
Pada anak yang datang dengan panas disertai dengan tanda sakit kepala, sakit pinggang,
kesulitan menekuk leher dan punggung, kekakuan otot yang diperjelas dengan tanda-tanda
head-drop, tanda trippod saat duduk, tanda-tanda spinal, tanda Brudzinsky atau Kernig
harus dicurigai kemungkinan adanya poliomielitis (Soedarmo, 2008.

2.4 IMUNISASI POLIO

Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan bayi dan anak dengan memasukan
vaksin ke dalam tubuh agar membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.

Sedangkan yang dimaksud vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang
pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin
BCG, DPT, Campak, dan melalui mulut seperti vaksin polio. Tujuan diberikan imunisasi
adalah di harapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan
angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit tertentu.

Imunisasi polio adalah  suatu imunisasi yang memberikan kekebalan aktif terhadap
penyakit poliomielitis. Polio adalah suatu penyakit radang yang menyerang syaraf yang
menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan/tungkai.
Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan dan otot untuk
menelan. Polio bisa menyebabkan kematian. Penularan penyakit polio ini melalui tinja orang
yang terinfeksi, percikan ludah penderita, ataupun makanan dan minuman yang dicemari.
2.5 B.VAKSIN POLIO

Imunisasi merupakan tindakan yang paling efektif dalam mencegah penyakit polio.  Vaksin
polio yang diberikan berkali-kali dapat melindungi seorang anak seumur hidup. Pencegahan
penyakit polio dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan
pentingnya pemberian imunisasi polio pada anak-anak.
Pencegahan penularan ke orang lain melalui kontak langsung (droplet) dengan
menggunakan masker bagi yang sakit maupun yang sehat. Selain itu mencegah
pencemaran lingkungan (fecal-oral) dan pengendalian infeksi dengan menerapkan buang air
besar di jamban dan mengalirkannya ke septic tank.
 Ada 4 jenis vaksin Polio, yaitu :

Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV)

Di Indonesia, meskipun sudah tersedia tetapi Vaksin Polio Inactivated atau Inactived
Poliomyelitis Vaccine (IPV) belum banyak digunakan. IPV dihasilkan dengan cara
membiakkan virus dalam media pembiakkan, kemudian dibuat tidak aktif (inactivated)
dengan pemanasan atau bahan kimia. Karena IPV tidak hidup dan tidak dapat replikasi
maka vaksin ini tidak dapat menyebabkan penyakit polio walaupun diberikan pada anak
dengan daya tahan tubuh yang lemah. Vaksin yang dibuat oleh Aventis Pasteur ini berisi
tipe 1,2,3 dibiakkan pada sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formadehid.

Selain itu dalam jumlah sedikit terdapat neomisin, streptomisin dan polimiksin. IPV harus
disimpan pada suhu 2 – 8 C dan tidak boleh dibekukan. Pemberian vaksin tersebut dengan
cara suntikan subkutan dengan dosis 0,5 ml diberikan dalam 4 kali berturut-turut dalam jarak
2 bulan.

Untuk orang yang mempunyai kontraindikasi atau tidak diperbolehkan mendapatkan OPV
maka dapat menggunakan IPV. Demikian pula bila ada seorang kontak yang mempunyai
daya tahan tubuh yang lemah maka bayi dianjurkan untuk menggunakan IPV.

Oral Polio Vaccine (OPV)

Jenis vaksin Virus Polio Oral atau Oral Polio Vaccine (OPV) ini paling sering dipakai di
Indonesia. Vaksin OPV pemberiannya dengan cara meneteskan cairan melalui mulut.
Vaksin ini terbuat dari virus liar (wild) hidup yang dilemahkan. OPV di Indonesia dibuat oleh
PT Biofarma Bandung. Komposisi vaksin tersebut terdiri dari virus Polio tipe 1, 2 dan 3
adalah suku Sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Vaksin ini dibuat
dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dalam sucrosa. Tiap dosis sebanyak 2
tetes mengandung virus tipe 1, tipe 2, dan tipe 3 serta antibiotika eritromisin tidak lebih dari
2 mcg dan kanamisin tidak lebih dari 10 mcg.

Virus dalam vaksin ini setelah diberikan 2 tetes akan menempatkan diri di usus dan memacu
pembentukan antibodi baik dalam darah maupun dalam dinding luar lapisan usus yang
mengakibatkan pertahan lokal terhadap virus polio liar yang akan masuk. Pemberian Air
susu ibu tidak berpengaruh pada respon antibodi terhadap OPV dan imunisasi tidak boleh
ditunda karena hal ini. Setelah diberikan dosis pertama dapat terlindungi secara cepat,
sedangkan pada dosis berikutnya akan memberikan perlindungan jangka panjang. Vaksin
ini diberikan pada bayi baru lahir, 2,4,6,18, bulan, dan 5 tahun.

Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak mendadak lumpuh pada
salah satu anggota geraknya setelah demam selama 2-5 hari. Terdapat 2 jenis vaksin yang
beredar, dan di Indonesia yang umum diberikan adalah vaksin sabin (kuman yang
dilemahkan). Cara pemberiannya melalui mulut. Dibeberapa Negara dikenal pula
Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan polio. Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru
lahir atau berumur beberapa hari atau selanjutnya diberikan setiap 4-6 minggu. Pemberian
vaksin polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B, dan DPT.
Imunisasi ulang diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT, pmberian imunisasi
polio dapat menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomyelitis. Imunisasi polio

Imunisasi ulang dapat diberikan sebelum anak masuk sekolah (5-6 tahun) dan saat
meninggalkan sekolah dasar (12 thun). Cara memberikan imunisasi polio adalah dengan
meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung ke dalam mulut anak. Imunisasi ini
jangan diberika pada anak yang sedang diare berat, efek samping yng terjai sangat minimal
dapat berupa kejang.

·     Vaksin dari virus polio (tipe 1,2,dan 3) Virus polio terdiri atas tiga strain, yaitu strain 1
(brunhilde), strain 2 (lanzig), dan strain 3 (leon).yang dilemahkan, dibuat dalam biakkan sel-
vero : asam amino, antibiotic, calf serum dalam magnesium clorida, dan fenol merah.

·         Vaksin yang berbentuk cairan dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon, pipet.

·         Pemberian secara oral sebanyak 2 tetes (0,1 ml)

·         Vaksin polio diberikan 4 kali, interval 4 minggu

·         Penyimpanan pada suhu 2-8ºC

C.TUJUAN IMUNISASI POLIO

Imunisasi polio digunakan untuk untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit
polimielitis atau penyakit polio yang biasanya disebabkan oleh virus polio, yang terbagi
menjadi tiga tipe yaitu tipe P1, P2 dan P3.

Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama. Untuk bayi yang lahir di RB/RS polio oral
diberikan saat bayi dipulangkan (untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain)

–          Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan DTP-1, yaitu pada umur lebih dari 6
minggu

–          Polio-2 diberikan bersamaan dengan DTP-2, yaitu pada umur 16 minggu

–          Polio-3 diberikan bersamaan dengan DTP-3, yaitu pada umur 6 bulan

–          Polio-4 diberikan bersamaan dengan DTP-4, yaitu pada umur 18 bulan
–          Polio-5 diberikan bersamaan dengan DTP-5, yaitu pada umur 5 tahun.

IMUNISASI POLIO TIDAK DIBERIKAN bila Keadaan kekebalan tubuh yang rendah atau
tinggal serumah dengan pasien yang memiliki kekebalanm tubuh yang rendah misalnya :
penyakit steroid, kanker dan kemoterapi,Muntah atau diare berat pemberian faksin di tunda
inveksi HIV atau kontak langsung dengan HIV serumahAda alergi terhadap neomisin,
streptomisin, polimiksin-B,Demam > 38,5 C pemeberian vaksin di tunda.