Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM


MUSKULUSKLETAL PADA PENYAKIT OSTEOPOROSIS

DISUSUN
OLEH:
M. YUNUS ZAKARIA

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN YARSI MATARM
TAHUN PELAJARAN 2019/2020

1
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas anugerah-NYA Tugas
Makalah Keperawatan yang berjudul “OSTEOPOROSIS” telah selesai.
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas KDMyang
diampu oleh Erisa Septiani Sabrina, S,Kep. Ners. selain itu dalam makalah ini dibahas
mengetahui pengertian osteoporosis, etiologi, patofisiologi, pathway, manifestasi klinis,
pemeriksaan penunjang diagnostik, komplikasi, penatalaksanaan medis, dan proses asuhan
keperawatan.
Namun kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat benyak
kekurangan, karena itu kami sangat mengharapkan berbagai kritik dan saran yang
membangun sebagai evaluasi demi penyempurnaan makalah ini selanjutnya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terimakasih.

Mataram 18 Februari 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................................................
KATA PENGANTAR....................................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................... 1
A.    Latar Belakang.......................................................................................................... 1
B.     Tujuan....................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................ 3
A.    Definisi..................................................................................................................... 3
B.     Etiologi..................................................................................................................... 4
C.     Patofisiologi.............................................................................................................. 5
D.    Pathways................................................................................................................... 6
E.     Tanda dan Gejala ..................................................................................................... 7
F.      Pemeriksaan Penunjang........................................................................................... 7
G.    Penatalaksanaan........................................................................................................ 7
H.    Pengkajian ................................................................................................................ 8
I.       Diagnosa Keperawatan ............................................................................................ 9
J.       Intervensi Keperawatan ........................................................................................... 10
BAB III PENUTUP........................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Penyakit tulang dan patah tulang merupakan salah satu dari sindrom geriatric, dalam arti
insidens dan akibatnya pada usia lanjut yang cukup significant.
Dengan bertambahnya usia terdapat peningkatan hilang tulang secara linear. Hilang tulang
ini lebih nyata pada wanita dibanding pria. Tingkat hilang tulang ini sekitar 0,5 – 1% per
tahun dari berat tulang pada wanita pasca menopause dan pada pria > 80 tahun. Hilang tulang
ini lebih mengenai bagian trabekula dibanding bagian korteks, dan pada pemeriksaan
histologik wanita dengan osteoporosis spinal pasca menopause tinggal mempunyai tulang
trabekula < 14% (nilai normal pada lansia 14 – 24% ) (Peck, 1989).
Sepanjang hidup tulang mengalami perusakan (dilaksanakan oleh sel osteoklas) dan
pembentukan (dilakukan oleh sel osteoblas) yang berjalan bersama-sama, sehingga tulang
dapat membentuk modelnya seseuai dengan pertumbuhan badan (proses remodelling). Oleh
karena itu dapat dimengerti bahwa proses remodelling ini akan sangat cepat pada usia remaja
(growth spurt). Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengrusakan
oleh kedua jenis sel tersebut. Apabila hasil akhir perusakan (resorbsi/destruksi) lebih besar
dari pembentukan (formasi) maka akan timbul osteoporosis.
Kondisi ini tentu saja sangat mencemaskan siapapun yang peduli, hal ini terjadi karena
ketidaktahuan pasien terhadap osteoporosis dan akibatnya. Beberapa hambatan dalam
penanggulangan dan pencegahan osteoporosis antara lain karena kurang pengetahuan,
kurangnya fasilitas pengobatan, faktor nutrisi yang disediakan, serta hambatan-hambatan
keuangan. Sehingga diperluan kerja sama yang baik antara lembaga-lembaga kesehatan,
dokter dan pasien. Pengertian yang salah tentang perawatan osteoporosis sering terjadi karena
kurangnya pengetahuan.
Peran dari petugas kesehatan dalam hal ini adalah dokter dan perawat sangatlah mutlak
untuk dilaksanakan. Karena dengan perannya akan membantu dalam mengatasi peningkatan
angka prevalensi dari osteoporosis. Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan berperan
dalam upaya pendidikan dengan memberikan penyuluhan tentang pengertian osteoporosis,
penyebab dan gejala osteoporosis serta pengelolaan osteoporosis. Berperan juga dalam
meningkatkan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan serta peningkatan pengetahuan,
sikap dan praktik pasien serta keluarganya dalam melaksanakan pengobatan osteoporosis.
Peran yang terakhir adalah peningkatan kerja sama dan system rujukan antar berbagai tingkat

4
fasilitas pelayanan kesehatan, hal ini akan memberi nilai posistif dalam upaya meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat.

B.   Tujuan
1.       Tujuan Umum :
Untuk megetahui gambaran secara nyata dan lebih mendalam tentang pemberian asuhan
keperawatan pada pasien dengan osteoporosis.

2.      Tujuan Khusus :


a.    Mahasiswa mampu memahami pengertian osteoporosis
b.    Mahasiswa mampu memahami etiologi osteoporosis
c.    Mahasiswa mampu memahami patofisiologi osteoporosis
d.   Mahasiswa mampu memahami manifestasi osteoporosis
e.    Mahasiswa mampu memahami pemeriksaan diagnostik osteoporosis
f.     Mahasiswa mampu memahami komplikasi osteoporosis
g.    Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan osteoporosis
h.    Mahasiswa mampu memahami konsep dasar asuhan keperawatan osteoporosis

5
BAB  II
KONSEP TEORI

A.    DEFINISI
Osteoporosis adalah suatu keadaan pengurangan jaringan tulang per unit volume,
sehingga tidak mampu melindungi atau mencegah terjadinya fraktur terhadap trauma
minimal. Secara histopatologis osteoporosis ditandai oleh berkurangnya ketebalan korteks
disertai dengan berkurangnya jumlah maupun ukuran trabekula tulang.(Doengoes, Marilynn
E:2000).
Osteoporosis adalah kondisi terjadinya penurunan densitas/matriks/massa tulang,
peningkatan porositas tulang, dan penurunan proses mineralisasi disertai dengan kerusakan
arsitektur mikro jaringan tulang yang mengakibatkan penurunan kekokohan tulang sehingga
tulang menjadi mudah patah.( R. Boedhi Darmojo:2000)
osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang
menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan
fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat.( Brunner & Suddarth:2002)
Penurunan Massa tulang ini sebagai akibat dari berkurangnya pembentukan, meningkatnya
perusakan (destruksi) atau kombinasi dari keduanya (Corwn elizabeth. 2001.).
Menurut pembagiannya dapat dibedakan atas : (Brunner & Suddarth:2002) :
1.    Osteoporosis Primer yang terjadi bukan sebagai akibat penyakit yang lain, yang dibedakan
lagi atas :
a.    Osteoporosis tipe I (pasca menopause), yang kehilangan tulang terutama dibagian
trabekula
b.    Osteoporosis tipe II (senilis), terutama kehilangan Massa tulang daerah korteks
c.    Osteoporosis idiopatik yang terjadi pada usia muda denganpenyebab yang tidak
diketahui
2.   Osteoporosis sekunder yang terjadi pada atau akibat penyakit lain, antara lain
hiperparatiroid, gagal ginjal kronis, arthritis rematoid dan lain-lain.

6
B.  ETIOLOGI
1.  Determinan Massa Tulang
Massa tulang maksimal pada usia dewasa ditentukan oleh berbagai factor antara lain :
a.    Faktor genetic
Perbedaan genetic mempunyai pengaruh terhadap kepadatan tulang
b.    Faktor mekanik
Beban mekanik berpengaruh terhadap massa tulang, bertambahnya beban akan
menambah massa tulang dan berkurangnya massa tulang. Ada hubungan langsung dan nyata
antara massa otot dan massa tulang. Kedua hal tersebut menunjukkan respon terhadap kerja
mekanik. Beban mekanik yang berat akan mengakibatkan massa otot besar dan juga massa
tulang yang besar.
c.    Faktor makanan dan hormon
Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup (protein dan
mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetic yang
bersangkutan

2.    Determinan pengurangan massa tulang


Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penurunan massa tulang pada usia lanjut yang
dapat mengakibatkan fraktur osteoporosis pada dasarnya sama seperti pada factor-faktor yang
mempengaruhi massa tulang.
a.  Faktor genetic
Factor genetic berpengaruh terhadap resiko terjadinya fraktur. Pada seseorang dengan
tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat resiko fraktur dari seseorang denfan tulang
yang besar.
b. Factor mekanis
Pada umumnya aktifitas fisik akan menurun dengan bertambahnya usia dan karena
massa tulang merupakan fungsi beban mekanik, massa tulang tersebut pasti akan menurun
dengan bertambahnya usia.
c.  Faktor lain
1.)      Kalsium
Kalsium merupakan nutrisi yang penting, dengan masukan kalsium yang rendah dan
absorbsinya tidak baik akan mengakibatkan keseimbangan kalsium yang negatif
begitu sebaliknya.

7
2.)      Protein
Parotein yang berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan keseimbangan kalsium
yang negatif
3.)      Estrogen
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya
gangguan keseimbangan kalsium, karena menurunnya efisiensi absorbsi kalsium dari
makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium diginjal.
4.)      Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan mengakibatkan
penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah.
Mekanisme pengaruh rokok terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan
tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.
5.)      Alkohol
Individu dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan kalsium yang
rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat. Mekanisme yang pasti
belum diketahui.

C.    PATOFISIOLOGI
Remodeling tulang normal pada orang dewasa akan meningkatkan massa tulang
sampai sekitar usia 35 tahun. Genetik, nutrisi, gaya hidpu (merokok, minum kopi), dan
aktifitas fisik mempengaruhi puncak massa tulang. Kehilangan karena usia mulai segera
setelah tercapai puncaknya massa tulang. Menghilangnya estrogen pada saat menopause
mengakibatkan percepatan resorbsi tulang dan berlangsung terus selama tahun-tahun pasca
menopause.
Faktor nutrisi mempengaruhi pertumbuhan osteoporosis. Vitamin D penting untuk
absorbsi kalsium dan untuk mineralisasi tulang normal. Diet mengandung kalsium dan
vitamin D harus mencukupi untuk mempertahankan remodelling tulang dan fungsi tubuh.
Asupan kalsium dan vitamin D yang tidak mencukupi selama bertahun-tahun mengakibatkan
pengurangan massa tulang dan pertumbuhan osteoporosis.

8
D.    PATHWAYS

Normal

Genetik,gaya hidup,alcohol,
penurunan prod.hormon

Penurunan masa tulang

Osteoporosis (gangguan muskuloskeletal)

Kiposis/Gibbus

Pengaruh pada fisik Pengaruh pada psikososial

Fungsi tubuh Keterbatasan gerak Konsep diri


menurun -pembatasan grk & lat. -Gmbaran body image
-nyeri pinggang -kemampuan memenuhi ADL -Isolasi sosial
-TB & BB menurun -Inefektif koping individu

Reseptor nyeri nafsu makan menurun

Gang.rs nyaman
(nyeri)
 
Lemas,letih

Disfungsi skelet Adaptasi lingkungan berkurang

Perubahan mobilitas fisik


Resiko injuri

9
E.     TANDA DAN GEJALA
1.      Nyeri dengan atau tanpa adanya fraktur yang nyata
2.      Nyeri timbul secara mendadadak
3.      Nyeri dirasakan ringan pada pagi hari (bangun tidur)
4.      Nyeri akan bertambah karena melakukan aktifitas atau pekerjaan sehari-hari atau karena
pergerakan yang salah
5.      Rasa sakit karena oleh adanya fraktur pada anggota gerak
6.      Rasa sakit karena adanya kompresi fraktur pada vertebra
7.      Rasa sakit hebat yang terlokalisasi pada daerah vertebra
8.      Rasa sakit akan berkurang apabila pasien istirahat di tempat tidur

F.     PEMERIKSAAN PENUNJANG


Osteoporosis teridentifikasi pada pemeriksaan sinar-x rutin bila sudah terjadi
demineralisasi 25% sampai 40%. Tampak radiolusesnsi tulang. Ketika vertebra kolaps,
vertebra torakalis menjadi berbentuk baji dan vertebra lumbalis menjadi bikonkaf.
Pemeriksaan laboratorium (missal kalsium serum, fosfat, serum, fosfatase alkalu, ekskresi
kalsium urine, ekskresi hidroksi prolin urine, hematokrit, laju endap darah), dan sinar-x
dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis medis lain (missal ; osteomalasia,
hiperparatiroidisme, dlll) yang juga menyumbang terjadinya kehilangan tulang.
Absorbsiometri foton-tunggal dapat digunakan untuk memantau massa tulang pada tulang
kortikal pada sendi pergelangan tangan. Absorpsiometri dual-foton, dual energy x-ray
absorpsiometry (DEXA) , dan CT mampu memberikan informasi mengenai massa tulang
pada tulang belakang dan panggul. Sangat berguna untuk mengidentifikasi tulang
osteoporosis dan mengkaji respon terhadap terapi.

G.    PENATALAKSANAAN
a.  Diet kaya kalsium dan vitamin D yang mencukupi sepanjang hidup, dengan peningkatan
asupan kalsium pada permulaan umur pertengahan dapat melindungi terhadap
demineralisasi tulang
b.  Pada menopause dapat diberikan terapi pengganti hormone dengan estrogen dan
progesterone untuk memperlambat kehilangan tulang dan mencegah terjadinya patah
tulang yang diakibatkan.
c.    Medical treatment, oabt-obatan dapat diresepkan untuk menangani osteoporosis termasuk
kalsitonin, natrium fluoride, dan natrium etridonat. Efek samping (misal : gangguan

10
gastrointestinal, aliran panas, frekuensi urin), biasanya ringan dan hanya kadang-kadang
dialami. Natrium florida memperbaiki aktifitas osteoblastik dan pembentukan tulang.

d.  Pemasangan penyangga tulang belakang (spinal brace) untuk mengurangi nyeri punggung

H.    PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien
a. Keluhan Utama:
Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama
dan tindakan apa saja yang dilakukan pasien untuk menanggulanginya.
b.    Riwayat Penyakit Dahulu :
Apakah pasien dulu pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit lainnya.
c.    Riwayat Penyakit Keluarga :
Apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit lainnya.
d.    Riwayat Psikososial :
Apakah pasien merasakan kecemasan yang berlebihan. Apakah sedang mengalami
stress yang berkepanjangan.
e.    Riwayat Pemakaian Obat :
Apakah pasien pernah menggunakan obat-obatan yangdipakai, atau pernahkah pasien
tidak tahan (alergi) terhadap sesuatu obat.

2.      Pemeriksaan fisik


a. B1 (breathing )
Inspeksi : ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang belakang
Palpasi : traktil fremitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : cuaca resonan pada seluruh lapang paru
Auskultasi : pada usia lanjut biasanya didapatkan suara ronki
b. B2 (blood)
Pengisian kapiler kurang dari 1 detik sering terjadi keringat dingin dan pusing, adanya
pulsus perifer memberi makna terjadi gangguan pembuluh darah atau edema yang
berkaitan dengan efek obat

11
c. B3 (brain)
Kesadaran biasanya kompos mentis, pada kasus yang lebih parah klien dapat
mengeluh pusing dan gelisah
d. B4 (Bladder)
Produksi urine dalam batas normal dan tidak ada keluhan padasistem perkemihan
e. B5 (bowel)
Untuk kasus osteoporosis tidak ada gangguan eleminasi namun perlu dikaji juga
frekuensi, konsistensi, warna serta bau feses
f. B6 (Bone)
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis, klien osteoporosis sering
menunjukkan kifosis atau gibbus (dowager’s hump) dan penurunan tinggi badan. Ada
perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality dan nyeri spinal.
Lokasi fraktur yang terjadi adalah antara vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3

I.       DIAGNOSA KEPERAWATAN


Masalah yang biasa terjadi pada klien osteoporosis adalah sebagai berikut :
1.   Nyeri akut yang berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra ditandai
dengan klien mengeluh nyeri tulang belakang, mengeluh bengkak pada pergelangan
tangan, terdapat fraktur traumatic pada vertebra, klien tampak meringis.
2.    Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan
skeletal (kifosis) , nyeri sekunder, atau fraktur baru ditandai dengan klien mengeluh
kemampuan gerak cepat menurun, klien mengatakan badan terasa lemas, stamina
menurun, dan terdapat penurunan tinggi badan.
3.    Risiko cedera yang berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan
ketidakseimbangan tubuh ditandai dengan klien mengeluh kemampuan gerak cepat
menurun, tulang belakang terlihat bungkuk.

12
J.      INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri akut yang berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra ditandai
dengan klien mengeluh nyeri tulang belakang, mengeluh bengkak pada pergelangan
tangan, terdapat fraktur traumatic pada vertebra, klien tampak meringis
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang dengan kriteria hasil
klien dapat mengekspresikan perasaan nyerinya, klien dapat tenang dan istirahat, klien
dapat mandiri dalam penanganan dan perawatannya secara sederhana.
Intervensi :
• Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyamanan, perhatikan lokasi dan karakteristik termasuk
intensitas (skala 1-10). Perhatikan petunjuk nyeri nonverbal (perubahan pada tanda vital
dan emosi/prilaku)
R/ Mempengaruhi pilihan/pengawasan keefektifan intervensi
• Ajarkan klien tentang alternative lain untuk mengatasi dan mengurangi rasa nyerinya
R/ alternative lain untuk mengatasi nyeri misalnya kompres hangat, mengatur posisi
untuk mencegah kesalahan posisi pada tulang/jaringan yang cedera
• Dorong menggunakan teknik manajemen stress contoh relaksasi progresif, latihan
nafasa dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan teraupetik
R/ Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa control dan dapat
meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri yang mungkin menetap
untuk periode lebih lama
• Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi
R/ diberikan untuk menurunkan nyeri.

2. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan
skeletal (kifosis) , nyeri sekunder, atau fraktur baru ditandai dengan klien mengeluh
kemampuan gerak cepat menurun, klien mengatakan badan terasa lemas, stamina
menurun, dan terdapat penurunan tinggi badan
Tujuan :
setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien mampu melakukan mobilitas
fisik dengan criteria hasil klien dapat meningkatkan mobilitas fisik, berpartisipasi dalam
aktivitas yang diinginkan/diperlukan, klien mampu melakukan aktivitas hidup sehari-hari
secara mandiri

13
Intervensi :
• Kaji tingkat kemampuan klien yang masih ada
R/ sebagai dasar untuk memberikan alternative dan latihan gerak yang sesuai dengan
kemampuannya
• Rencanakan tentang pemberian program latihan, ajarkan klien tentang aktivitas hidup
sehari-hari yang dapat dikerjakan
R/ latihan akan meningkatkan pergerakan otot dan stimulasi sirkulasi darah
• Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas /perawatan diri secara bertahap jika dapat
ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan
R/ kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba,
memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam
melakukan aktivitas.

3. Risiko cedera yang berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan
ketidakseimbangan tubuh ditandai dengan klien mengeluh kemampuan gerak cepat
menurun, tulang belakang terlihat bungkuk
Tujuan :
cedera tidak terjadi dengan kriteria hasil klien tidak jatuh dan tidak mengalami fraktur,
klien dapat menghindari aktivitas yang mengakibatkan fraktur
Intervensi :
• Ciptakan lingkungan yang bebas dari bahaya missal : tempatkan klien pada tempat tidur
rendah, berikan penerangan yang cukup, tempatkan klien pada ruangan yang mudah
untuk diobservasi.
R/ menciptakan lingkungan yang aman mengurangi risiko terjadinya kecelakaan.
• Ajarkan pada klien untuk berhenti secara perlahan,tidak naik tangga dan mengangkat
beban berat.
R/ pergerakan yang cepat akan memudahkan terjadinya fraktur kompresi vertebra pada
klien osteoporosis
• Observasi efek samping obat-obatan yang digunakan.
R/ obat-obatan seperti diuretic, fenotiazin dapat menyebabkan pusing, mengantuk dan
lemah yang merupakan predisposisi klien untuk jatuh

14
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

Penkajian

Identitas Klien

Nama : Tn. I

Umur : 75 tahun

Agama : islam

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Wirausaha

Status Pernikahan : Nikah

Alamat : Jl. Seberang Padang

Tanggal Masuk RS : 23-09-2017

Diagnosa Medis : Osteoporosis

Keluhan Utama

Klien mengatakan bahwa merasakan nyeri pada punggung nya sehingga klien
Riwayat Kesehatan

Riwayat Kesehatan Sekarang

Saat di lakukan pengkajian pada tanggal 7 Agustus 2017 klien


mengatakan bahwa nyeri pada punggungnya, klien mengatakan sakit hebat
dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang. Pasien mengatakan nyeri
berkurang pada saat istirahat di tempat tidur. Klien tampak meringis dan
gelisah menahan nyeri tersebut. Selain itu klien juga mengatakan bahwa ia
mengalami kesulitan untuk beraktivitas, klien mengeluh kesakitan tiap kali
bergerak, klien juga mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuan orang lain
untuk bergerak. Klien tampak lemas, dan klien tampak terbaring di tempat
tidur.

Adapun hasil pemeriksaan TTV klien yaitu :

TD : 110/70mmHg S : 36.5°C

N : 76x/i RR : 20x/i

15
Sedangkan hasil dari pengkajian nyeri yaitu :

P : Adanya pergerakan fragmen tulang dan spasme otot

Q : Tumpul

R : Punggung

S:7

T : Hilang timbul

Riwayat Penyakit Dahulu

Klien mengatakan bahwa seiring bertambahnya usia klien sering


mengalami nyeri pada punggungnya. Saat nyeri klien hanya beli obat di
apotek, minum jamu/herbal. Namun seiring berjalannya waktu, rasa nyeri
yang dialaminya semakin parah itulah mengapa pada 7 Agustus 2017 klien
datang ke RS untuk berobat.

Pemeriksaan Head To Toe

Tanda-tanda vital meliputi : TD : 110/70 N : 76 x/i

S : 36,5 C RR : 20 x/i

Pemeriksaan Kepala

Inspeksi kepala : Bentuk : simetris

Karakteristik rambut : gelombang

Kebersihan : bersih

Palpasi kepala : Tidak ada benjolan/lesi

Pemeriksaan mata

Inspeksi : Sklera : ikterik

Conjungtiva : anemis

Kornea : Normal

Iris : Normal

Tanda-tanda radang : tidak ada

Edema palpebrae : tidak ada nyeri tekan

Rasa sakit : tidak ada rasa nyeri

Telinga
16
Inspeksi : Daun telinga : Simetris, tidak ada massa

Liang telinga : Bersih

Membran tympani : tidak ada kelainan

Pendarahan : tidak ada

Hidung

Simetris/ tidak : cuping hidung simetris kiri dan kanan

Membran mukosa : tidak ada secret

Test penciuman / ketajaman membedakan bau : tidak ada kelainan

Alergi terhadap sesuatu : tidak ada alergi

Mulut dan tenggorokan

Inspeksi : Mulut : lembab

Mukosa mulut : bersih

Lidah : merah muda, tidak ada bintik-bintik putih

Kesulitan menelan : tidak kesulitan dalam menelan

Leher

Inspeksi leher : Normal

Kelenjar tyroid : tidak ada pembesaran

Palpasi : Normal

Arteri carotis : tidak ada kelainan

Vena jugularis : tidak ada kelainan

Kelenjar tyroid : tidak ada pembesaran

Nodus limfa : tidak ada kelainan

Pembesaran kelenjar : tidak ada pembesaran kalenjar

Thorak/paru

Inspeksi : Bentuk thorak : Normal

Warna kulit : Kuning langsat

Pola nafas : efektif

17
Palpasi : Vocal remitus : Normal ada getaran

Perkusi : Batas paru kanan : Normal

Batas paru kiri : Normal

Auskultasi : Suara nafas : Normal

Kardiovaskuler

Inspeksi : Iictus cordis : tidak ada kelainan

Palpasi : Ictus cordis : Normal

Heart rate : Normal

Perkusi : Batas jantung : normal

Auskultasi : Bunyi jantung I&II : Normal

Abdomen

Inspeksi : Kuadran regio : -

Umbilikus : ada

Distensi : tidak mengalami distensi

Pola nutrisi

Berat badan : 45kg tinggi badan :150 cm sakit: bb 42 kg

Frekuensi makan : 3 kali sehari setelah sakit : 3 kali sehari

Pola tidur dan istirahat

Waktu tidur : 21.00-05.00 wib setelah sakit : 21.00-04.00 wib

Lama tidur : 8jam/hari setelah sakit : 7jam/hari

Kesulitan dalam hal tidur: sulit tidur karena nyeri pada sendi lutut

Pola aktivitas & latihan

18
Kemampuan perawatan 0 1 2 3 4
diri

Makan/ minum

Toileting

Berpakaian

Mobilitas di tempat tidur

Berpindah

Ambulasi/ROM

Ket : 0 :mandiri 1: dengan alat bantu 2 : dibantu orang lain 3: dibantu orang lain
dan alat 4: tergantung totl oksigenisasi

Analisa Data

Nama Klien : Tn.I No. Register : .....

Umur : 75 tahun Diagnosa Medis :


OSTEOPOROSIS

Ruang Rawat : R IV Interne Alamat : Jl Seberang


padang

No. Data Etiologi Masalah

1. Ds : Adanya Nyeri akut


pergerakan
Klien mengatakan nyeri pada
fragmen tulang
punggungnya
dan spasme otot
Nyeri berkurang saat klien
beristirahat di tempat tidur

Do :

Klien tampak meringis menahan


nyeri

Klien tampak gelisah

19
2. Ds : Disfungsi sekunder Hambatan
akibat perubahan mobilitas fisik
Klien mengatakan tidak bisa
skeletal (kifosis)
bergerak dan beraktivitas

Klien mengatakan tidak bisa


beranjak dari tempat tidur

Do :

Klien tampak lemah

Klien tampak terbaring di


tempat tidur

Diagnosa Keperawatan

Nyeri akut b.d fragmen tulang dan spasme otot

Hambatan mobilitas fisik b.d disfungsi sekunder skeletal

Intervensi

No Dx. Keperawatan NOC NIC


.

1. Nyeri akut b.d perubahan Pain level Pain mangement


patologis oleh atritis rematik
Pain control Lakukan pengkajian
nyeri secara
Comfort level
komprehensif
Kriteria hasil : termasuk lokasi,
karakteristik,
Mampu mengontrol
durasi, frekuensi,
nyeri (tahu penyebab
kualitas dan faktor
nyeri, mampu
presipitasi
menggunakan tehnik
nonfarmakologi untuk Observasi reaksi
mengurangi nyeri, nonverbal dari

20
mencari bantuan) ketidaknyamanan

Melaporkan bahwa nyeri Gunakan teknik


berkurang dengan komunikasi
menggunakan terapeutik untuk
manajemen nyeri mengetahui
pengalaman nyeri
Mampu mengenali nyeri
pasien
(skala, intensitas,
frekuensi dan tanda
nyeri)

2. Hambatan mobilitas fisik b.d join movement : active Execise therapy :


kerusakan integritas struktur ambulation
mobility Level
tulang, kekakuan sendi
monitoring vital
transfer perfomance
sign
kriteria Hasil : sebelum/sesudah
latihan dan lihat
klien meningkat dalam
respon pasien saat
aktivitas fisik
latihan
mengerti tujuan dari
konsultasikan
peningkatan mobilitas
dengan terapi fisik
memverbalisasikan tentang rencana
perasaan dalam ambulasi sesuai
meningkatkan kekuatan dengan kebutuhan
dan kemampuan
bantu klien untuk
berpindah
menggunakan
tongkat saat
berjalan dan cegah
terhadap cedera

ajarkan pasien atau


tenaga kesehatan
lain tentang teknik

21
ambulasi

kaji kemampuan
pasien dalam
mobilisasi

BAB IV
PENUTUP

A.      Kesimpulan

22
Osteoporosis adalah suatu keadaan pengurangan jaringan tulang per unit volume,
sehingga tidak mampu melindungi atau mencegah terjadinya fraktur terhadap trauma
minimal. Secara histopatologis osteoporosis ditandai oleh berkurangnya ketebalan korteks
disertai dengan berkurangnya jumlah maupun ukuran trabekula tulang.(Doengoes, Marilynn
E:2000).

B.       Saran
Sebagai perawat dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan berperan dalam upaya
pendidikan dengan memberikan penyuluhan tentang pengertian osteoporosis, penyebab dan
gejala osteoporosis serta pengelolaan osteoporosis. Berperan juga dalam meningkatkan mutu
dan pemerataan pelayanan kesehatan serta peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik pasien
serta keluarganya dalam melaksanakan pengobatan osteoporosis. Peran yang terakhir adalah
peningkatan kerja sama dan system rujukan antar berbagai tingkat fasilitas pelayanan
kesehatan, hal ini akan memberi nilai posistif dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.

23
DAFTAR PUSTAKA

Corwn elizabeth. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC


Brunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 3, Jakarta, EGC,  2002
Doengoes, Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2000
Price, S. A & Wilson, L. Patifisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit; alih bahasa,
Brahm U. Pendit..[et. al]. Edisi 6. Jakarta: ECG.2001
R. Boedhi Darmojo, Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut), Jakarta, Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2000
http://lutfyaini.blogspot.com/2013/09/laporan-pendahuluan-dan-askep.html

24