Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TENTANG


PENYAKIT ESTEOPOROSIS

Di susun oleh :

 M. Saehulislam

Yayasanrumahsakitislamnusatenggarabarat
Sekolahmenengahkejuruan
T.A 2019/2020
BAB I

A.Definsi

Osteoporosis yang lebih dikenal dengan keropos tulang menurut WHO adalah
penyakit skeletal sistemik dengan karakteristik massa tulang yang rendah dan perubahan
mikroarsitektur dari jaringan tulang dengan akibat meningkatnya fragilitas tulang dan
meningkatnya kerentanan terhadap patah tulang. Osteoporosis adalah kelainan di mana
terjadi penurunan massa tulang total. (Lukman, 2009: 140)
Osteoporosis didefinisikan sebagai suatu penyakit dengan karakteristik massa tulang
yang berkurang dengan kerusakan mikroarsitektur jaringan yang menyebabkan
kerapuhan tulang dan risiko fraktur yang meningkat. (Lukman, 2009: 140)
Osteoporosis adalah kelainan metabolik tulang di mana terdapat penurunan massa tulang
tanpa disertai pada matriks tulang. (Nurarif,

2015 : 31)
Osteoporosis adalah kelainan dengan penurunan massa tulang total. Pada kondisi ini
terdapat perubahan pergantian tulang homeostatis normal, kecepatan resorpsi tulang
lebih besar daripada kecepatan pembentukan tulang, yang mengakibatkan penurunan
massa tulang total. (Suratun dkk, 2008 : 74)
Jadi osteoporosis adalah kelainan atau gangguan yang terjadi karena penurunan massa
tulang total. (Suratun dkk, 2008 : 74)

B.ANATOMI

Sebagianbesartulangberupa matriks kolagen yang diisi oleh mineral dan sel-sel


tulang. Matriks tersusun sebagian besar oleh kolagen type I dan sebagian kecil
oleh protein non kolagen, seperti proteoglikan, osteonectin(bone spesific protein),
osteocalsin (Gla protein) yang dihasilkan oleh osteoblast dan konsentrasinya dalam
darah menjadi ukuran aktivitas osteoblast. Suatu matriks yang tak bermineral
disebut osteoid yang normalnya sebagai lapisan tipis pada tempat pembentukan
tulang baru.Proporsi osteoid terhadap tulang meningkat pada penyakit riketsia dan
osteomalasia. Mineral tulang terutama berupa kalsium dan fosfat yang tersusun
dalam bentuk hidroxyapatitePada tulang mature proporsi kalsium dan fosfat adalah
konstan dan molekulnya diikat oleh kolagen. Demineralisasi terjadi hanya dengan
resorbsi seluruh matriks..
Seltulangterdiri3 macam :
1].Osteoblast
Osteoblastberhubungandenganpembentukantulang, kaya alkaline phosphatase
dandapatmeresponproduksimaupunmineralisasimatriks.Padaakhirsiklusremodelling
, osteoblast tetapberada di permukaantulangbaru,
ataumasukkedalammatrikssebagaiosteocyte

2].Osteocyte
Osteocyteberada di lakunare , fungsinya belum jelas. Diduga di bawah pengaruh
parathyroid hormon (PTH) berperan pada resorbsi tulang (osteocytic osteolysis) dan
transportasi ion kalsium.Osteocyte sensitifterhadap stimulus
mekanikdanmeneruskanrangsang (tekanandanregangan) inikepada osteoblast

3].Osteoclast
Osteoclastadalah mediator utama resorbsi tulang, dibentuk oleh prekursor monosit
di sumsum tulang dan bergerak ke permukaan tulang oleh stimulus kemotaksis.
Dengan meresorbsi matriks akan meninggalkan

C .Etiologi

Osteoporosis post menopause terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada
wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita.
Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai
muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama
untuk menderita osteoporosis post menopause, pada wanita kulit putih dan daerah timur
lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam. (Lukman, 2009 : 142)

Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang


berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan di antara kecepatan hancurnya tulang
dan pembentukan tulang yang baru. Senilis yaitu keadaan penurunan massa tulang yang
hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia di atas 70 tahun
dan dua kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis
senilis dan post menopause. (Lukman, 2009 : 142)

Kurang dari lima persen penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder,
yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Penyakit ini bisa
disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid,
dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturate, anti kejang, dan
hormone tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan kebiasaan
merokok bisa memperburuk keadaan ini. (Lukman, 2009 : 142)

D .Klasifikasi

a. Osteoporosis primer yang terjadi bukan sebagai akibat penyakit yang lain, yang
dibedakan atas :
1) Osteoporosis tipe I (pasca menopause), yang kehilangan tulang terutama di bagian
trabekula.
2) Osteoporosis tipe II (senilis), terutama kehilangan massa tulang daerah korteks.
3) Osteoporosis idiopatik yang terjadi pada usia muda denganpenyebabtakbdiketahui.

b. Osteoporosis sekunder, yang terjadi pada atau diakibatkan oleh penyakit lain, antara lain
hiper paratiroid, gagal ginjal kronis, artritis rematoid, dan lain-lain

E . Faktor Resiko

Pengeroposantulangataudikenal osteoporosis adalah kondisi ketika


kepadatan massa tulang mengalami penurunan. Hal ini tidak hanya
membuat tulang keropos, tetapi juga menjadikan tulang rapuh dan mudah
patah.Biasanya ini terjadi karena jaringan tulang mengalami kerusakan
lebih cepat dibandingkan dengan produksi sel-sel baru.

Kondisi seperti ini sering menyerang di atas usia 60 tahun, akan tetapi
usia di atas 40 tahun dan terlebih sudah manopause sudah harus
waspada. Fakta ini diperkuat oleh sejumlah penelitian yang menyatakan
bahwa sebanyak 23% wanita di Indonesia dengan rentang usia 50-80
tahun dan 70-80 tahun mengalami osteoporosis.

Usia memang menjadi faktor risiko pemicu osteoporosis. Namun,


sesungguhnya kondisi ini juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor lainnya,
sebagai berikut:

1. Jenis kelamin
Wanita berisiko empat kali lebih besar menderita osteoporosis
dibandingkan pria, terutama wanita dari ras Kaukasia atau Asia. Hal ini
dikarenakan massa tulang yang dimiliki wanita lebih rendah dari pria
serta postur tubuh wanita Asia yang relatif lebih kecil sehingga
memiliki massa tulang lebih rendah dibandingkan ras lainnya.

2. Hormon
- Pada wanita, rendahnya hormon estrogen yang biasanya terjadi
akibat menopause, operasi pengangkatan ovarium, dan kemoterapi
bisa mempersulit tulang untuk membentuk jarigan dan struktur baru.
- Pada pria, kadar testosteron yang rendah merupakan salah satu
faktor risiko pengeroposan tulang.

3. Riwayat keluarga
Jika terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit
osteoporosis, maka seseorang akan berisiko lebih besar untuk
mengalami kondisi tersebut.

4. Ukuran tubuh
Wanita dan pria dengan bentuk tubuh yang kecil dan kurus, berisiko
lebih tinggi untuk mengalami pengeroposan tulang dibandingkan
wanita dan pria yang memiliki bentuk tubuh besar.

5. Kurang vitamin D
Vitamin D berfungsi membantu tubuh untuk menyerap kalsium yang
cukup bagi kesehatan dan kekuatan tulang, sehingga rentan terkena
osteoporosis. Tidak maksimalnya tubuh dalam menyerap kalsium juga
bisa disebabkan oleh terganggunya kinerja usus akibat penyakit
seliaka dan sirosis bilier primer.

G .Patofisiologi

Genetic, nutrisi, gaya hidup (misal merokok, konsumsi kafein, dan alkohol), dan
aktivitas mempengaruhi puncak massa tulang. Kehilangan massa tulang mulai terjadi
setelah tercapainya puncak massa tulang. Pada pria massa tulang lebih besar dan tidak
mengalami perubahan hormonal mendadak. Sedangkan pada perempuan, hilangnya
estrogen pada saat menopause dan pada ooforektomi mengakibatkan percepatan resorpsi
tulang dan berlangsung terus selama tahun-tahun pascamenopause. (Rosyidi, 2013 : 93)

Diet kalsium dan vitamin D yang sesuai harus mencukupi untuk mempertahankan
remodeling tulang dan fungsi tubuh. Asupan kalsium dan vitamin D yang tidak
mencukupi selama bertahun-tahun mengakibatkan pengurangan massa tulang dan
pertumbuhan osteoporosis. Asupan harian kalsium yang dianjurkan (RDA :
recommended daily allowance) meningkat pada usia 11-24 tahun (adolesen dan dewasa
muda) hingga 1200 mg per hari, untuk memaksimalkan puncak massa tulang. RDA
untuk orang dewasa tetap 800 mg, tetapi pada perempuan pasca menopause 1000-1500
mg per hari. Sedangkan pada lansia dianjurkan mengonsumsi kalsium dalam jumlah
tidak terbatas, karena penyerapan kalsium kurang efisien dan cepat diekskresikan
melalui ginjal. (Rosyidi, 2013 : 93)

Demikian pula, bahan katabolik endogen (diproduksi oleh tubuh) dan eksogen dapat
menyebabkan osteoporosis. Penggunaan kortikosteroid yang lama, sindrom Cushing,
hipertiroidisme, dan hiperparatiroidisme menyebabkan kehilangan tulang. Obat-obatan
seperti isoniazid, heparin, tetrasiklin, antasida yang mengandung aluminium,
furosemide, antikonvulsan, kortikosteroid, dan suplemen tiroid memengaruhi
penggunaan tubuh dan metabolism kalsium. (Rosyidi, 2013 : 93)

Imobilitas juga memengaruhi terjadinya osteoporosis. Ketika diimobilisasi dengan gips,


paralisis atau inaktivitas umum, tulang akan diresorpsi lebih cepat dari pembentukannya
sehingga terjadi osteoporosis. (Rosyidi, 2013 : 93)

H. ManifestasiKlinis

Kepadatantulangberkurangsecaraperlahan (terutamapadapenderita osteoporosis senilis),


sehinggapadaawalny osteoporosis
tidakmenimbulkangejalapadabeberapapenderita.Jikakepadatantulangsangatberkurang
yang menyebabkantulangmenjadikolapsatauhancur,
makaakantimbulnyeritulangdankelainanbentuk. Tulang-tulang yang
terutamaterpengaruhpada osteoporosis adalah radius distal, korpus vertebra
terutamamengenai T8-L4, dankollumfemoris. (Lukman, 2009 : 144)

Kolapstulangbelakangmenyebabkannyeripunggungmenahun.Tulangbelakang yang
rapuhbisamengalamikolapssecaraspontanataukarenacederaringan.Biasanyanyeritimbulse
caratiba-tibadandirasakan di daerahtertentudaripunggung, yang
akanbertambahnyerijikapenderitaberdiriatauberjalan. Jikadisentuh,
daerahtersebutakanterasasakit, tetapibiasanya rasa
sakitiniakanmenghilangsecarabertahapsetelahbeberapamingguataubeberapabulan.
Jikabeberapatulangbelakanghancur, makaakanterbentukkelengkungan yang abnormal
dantulangbelakang (punuk Dowager), yang menyebabkanterjadinyaketeganganototdan
rasa sakit. (Lukman, 2009 : 144)

Tulanglainnyabisapatah, yang sering kali disebabkanolehtekanan yang


ringanataukarenajatuh.Salah satupatahtulang yang paling
seriusadalahpatahtulangpanggul.Selainitu, yang
jugaseringterjadiadalahpatahtulanglengan (radius) di
daerahpersambungannyadenganpergelangantangan yang
disebutfrakturcolles.Padapenderita osteoporosis,
patahtulangcenderungmengalamipenyembuhansecaraperlahan. (Lukman, 2009 : 144)
I. Pemeriksaan Diagnosis/ penunjang

a).Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium terutama ditujukan untuk mengetahui secara tidak langsung


adanya resorpi tulang (gangguan terhadap keseimbangan antara resorpsi dan pembentukan
tulang). Pemeriksaan untuk mengetahui adanya resorpsi tulang secara tidak langsung
antara lain :

1) Mengukur kadar kalsium dalam air kemih puasa dibagi dengan kreatini; perlu di ingat
bahwa adanya gangguan absorsbi kalsium dalam intestine akan akibat pengetahuan
kalsium dalam air kemih pun sangat rendah.

2) Mengukur kadar hidroksi-prolin dalam air kemih puasa bagi dengan kreatinin.
Hidroksiporin dipakai sebagai indicator adanya resorpsi tulang, akan tetapi hidrosiprolin
dalam air kemih akan dijumpai pula pada orang dengan diet tinggi protein. Jadi
pemeriksaan ini spesifisitalis serta sensitivitasnya rendah. Pemeriksaan untuk mengetahui
adanya pembentukan tulang adalah :

(a) Mengukur kadar fosfatase alkali serum; fosfatase alkali di produksi oleh osteoblast,
jadi hal ini dapat di pakai sebagai indicator adanya pembentukan tulang, akan tetapi
fosfatase alkali juga di bentuk oleh jaringan lain. Agar pemeriksaan ini mempunyai arti
uang spesifik, perlu adanya pemeriksaan bone spesifik assay.

(b) Mengukur bon-gla-protein plasma (osteocalcin). Osteokalsin desekresi hanya oleh


obteoblas, jadi pemeriksaan ini dapat dipakai sebagai indicator adanya pembentukan
osteoid yang bertambah.

b) Penilaian Massa Tulang

Osteoporosis adalah suatu keadaan dimana terjadi kehilangan masa tulang yang
berlebihan dengan komposisi tulang yang masih normal (tidak berubah), sehingga
mengakibatkan mudahnya terjadi fraktur pada tulang yang bersangkutan.

Tulang terdiri dari dua komponen :

1) Komponen/bagian trabekula

2) Komponen/bagian korteks
Pada pasien osteoporosis, bagian tarbekula akan mengalami penipisan dan tampak lebih
jarang, sedang bagian korteks akan terjadi pengurangan tebal korteks dan pelebaran
kanal haversi. Pengurangan pada kontreks dan trabekula ini tidak mempunyai pola yang
sama untuk setiap pasien, oleh karena itu pada setiap kasus osteoporosis perlu untuk
menentukan status / keadaan kedua bagian tulang tersebut. (Rosyidi, 2013 : 95)

J. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan penderita yang hanya dengan osteoporosis tanpa disertai patah tulang
lebih sederhana disbanding bila penderita sudah dating dengan fraktur. Penderita lanjut
usia dengan fraktur osteoporosis terutama bila akibat jatuh, memerlukan asesmen
bertingkat, antrara lain :

a) Asesmen mengenai sebab jatuh, apa yang menyebabkannya apakah akibat factor
lingkungan, gangguan intra atau ekstra serebral dan lain sebagian. Perlu diadakan
tindak pencegahan da atau pengobatan agar lain kali tidak jatuh lagi.
b) Asesmen mengenai osteoporosisnya, primer atau sekunder, manifestasi di tempat
lain.
c) Asesmen mengenai frakturnya. Operabel (dapat di operasi)atau tidak, kalua
operabel harus di lakukan pendekatan pada dokter bedah. Setelah operasi, tindakan
rehabilitasi yang baik di sertai pemberian obat untuk upaya perbaikan osteoporosis
bisa di kerjakan.

Tindakan dietetik: Diet tinggi kalsium (sayur hijau, dan lain-lain).

Terapi ini lebih bermanfaat sebagai tindakan pencegahan. Pada usia lanjut harus di
berikan bersama jenis terapi yang lain.

Olah raga. Yang terbaik adalah yang bersifat mendukung beban (weight bearing),
misalnya jogging, berjalan cepat, dan lain-lain. Lebih baik di lakukan di bawah sinar
matahari pagi karena membantu pembuatan vitamin D.

Obat-obatan .yang membantu pembentukan tulang (steroid anabolic, flourida). Yang


mengurangi perusakan tulang (estrogen, kalsium, difosfonat, kalsitonin).

(Rosyidi, 2013 : 92)


BAB II

KonsepAsuhanKeperawatan

1. Pengkajian

a].Identitas Pasien

Osteoporosis biasanya terjadi di atas usia 45 tahun, tinggi badan menurun dan rasa
nyeri atau sakit tulang punggung (bagian bawah), leher dan pinggang. (Suratun,
2008 : 75)

b].Alasan Masuk Rumah Sakit

Penderita dengan osteoporosis mengalami penurunan tinggi badan, badan lemas dan
kurang vitamin D dan C serta kalsium. (Suratun, 2008 : 75)

c].Keluhan Utama

Penderita osteoporosis mengeluhkan nyeri atau sakit tulang punggung (bagian


bawah), leher dan pinggang atau rasa kebas di sekitar mulut dan ujung jari pada
hipokalsemia. (Suratun, 2008 : 75)

d].Riwayat Penyakit Sekarang

Keluhan yang dirasakan pasien seperti nyeri pada punggung.

e].Riwayat Penyakit Dahulu

Adanya penyakit endokrin: diabetes mellitus, hipertiroid, hiperparatiroid, sindrom


cushing, akromegali, hipogonadisme atau penyakit-penyakit lain yang ada kaitannya
dengan penurunan mikroarsitektur tulang. Adanya riwayat penyakit jantung,
obesitas, maupun arterosklerosis, tindakan medis yang pernah didapat mauoun obat-
obatan yang biasanya digunakan oleh penderita. (Suratun, 2008 : 76)
f]. Riwayat Penyakit Keluarga
Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota keluarga yang juga
menderita osteoporosis atau beberapa penyakit tulang metabolik yang bersifat
herediter. (M. Black, Joyce, 2014: 2655)

g]. Riwayat Psikososial

Penyakit ini sering terjadi pada wanita. Biasanya sering timbul kecemasan, takut
melakukan aktivitas, dan perubahan konsep diri. Perawat perlu mengkaji masalah-
masalah psikologis yang timbul akibat proses ketuaan dan efek penyakit yang
menyertainya. (Suratun, 2008 : 75)

2. Pemeriksaan Fisik

a) Kulit

Inspeksi: biasanya tidak adanya lesi, hiperpigmentasi (warna kehitaman/kecoklatan), dan


edema.

Palpasi: biasanya turgor kulit menurun, tekstur : kasar , suhu : akral dingin atau
hangat.
b) Rambut
Inspeksi = biasanya disribusi rambut merata atau tidak, kotor atau tidak, bercabang
Palpasi = mudah rontok/tidak, tekstur: kasar/halus
c) Kuku

Inspeksi = biasanya kuku normal tidak terjadi sianosis, merah: peningkatan


visibilitas Hb, bentuk: clubbing karena hypoxia pada kanker paru, beau’s lines pada
penyakit defisiensi fe/anemia fe

Palpasi = biasanya tidak adanya nyeri tekan.

d) Kepala
Inspeksi = biasanya wajah simetris
Palpasi = biasanya tidak adanya luka, tonjolan patologik, dan tidak adanya nyeri
tekan

e.] Mata

Inspeksi = biasanya kelopak mata tidak ada radang, simetris kanan dan kiri, reflek
kedip baik, konjungtiva dan sclera: merah/konjungtivitis, ikterik/indikasi
hiperbilirubin/gangguan pada hepar, pupil: isokor kanan dan kiri (normal).
f.] ]Hidung

Inspeksi = biasanya hidung simetris, tidak ada inflamasi


Palpasi = tidak ada nyeri tekan, massa

g.] Telinga

i) Leher

Inspeksi = daun telinga simetris, warna, ukuran, bentuk, kebresihan, tidak adanya
lesi.

Palpasi = tidak ada nyeri tekan

h) Mulut

Inspeksi = biasanya bibir tidak ada kelainan kongenital (bibir sumbing), warna,
kesimetrisan, kelembaban, pembengkakkan, lesi.

Palpasi = biasanya tidak ada pembengkakkan dan nyeri.

i.] leher

Inspeksi = biasanya tidak adanya pembengkakkan kelenjar tirod/gondok, dan tidak


adanya massa.

Palpasi = biasanya tidak ada nyeri tekan, biasanya JVP dalam normal

.
j) Dada

Inspeksi = ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang belakang., retraksi


interkosta

Palpasi = Taktil fremitus seimbang kanan dan kiri

Perkusi = Suara resonan pada seluruh lapang paru

Auskultasi = Pada kasus lanjut usia, biasanya didapatkan suara ronki.

k) Jantung

Inspeksi = biasanya denyut apek jantung pada area midsternu lebih kurang 2 cm
disamping bawah xifoideus.

Palpasi = spasium interkostalis ke-2 kanan area aorta dan spasium interkosta ke-2
kiri letak pulmonal kiri. spasium interkostalis ke-5 kiri area trikuspidalis/ventikuler
amati adanya pulsasi interkosta ke-5 pindah tangan secara lateral 5-7 cm ke garis
midklavicula kiri dimana akan ditemukkan daerah apical jantung

Perkusi = suara redup

Auskultasi = Bunyi S1 suara “LUB” yaitu bunyi dari menutupnya katub mitral
(bikuspidalis) dan tikuspidalis pada waktu sistolik.

Bunyi S2: suara “DUB” yaitu bunyi menutupnya katub semilunaris (aorta dan
pulmonalis) pada saat diastolic.

l) Abdomen

Inspeksi = bentuk perut simetris, tidak adanya retraksi, penonjolan, tidak adanya
asites.

Palpasi = tidak adanya massa dan respon nyeri tekan

Perkusi = timpani

Auskultasi = biasanya bising usus normal 5- 30 x/menit

m) Genetalia

Inspeksi = biasanya tidak ada lesi, pembengkakan

Palpasi = tidak ada nyeri tekan

(Suratun, 2008 : 77)

3. Diagnosa

a) Nyeri berhubungan dengan fraktur dan spasme otot

Definisi :

Nyeri akut adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat
adanya kerusakan jaringan yang actual atau potensial, atau digambarkan dengan
istilah seperti (international association for the study of pain); awitan yang tiba tiba
atau perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat
diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan. (Wilkinson, 2015 : 530)

Batasan Karakteristik :

Subjektif

 Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan (nyeri) dengan isyarat


Objektif
 Posisi untuk menghindari nyeri
 Perubahan tonus otot (dengan rentang dari lemas tidak bertenaga samapi kaku)
 Respon autonomic (misalnya diaphoresis : perubahan tekanan darah, pernafasan
atau nadi, dilatasi pupil)
 Perubahan selera makan
 Perilaku distraksi (misalnya mondar – mandir, mencari orang atau aktivitas lain,
aktivitas berulang)
 Perilaku ekpresif (misalnya, gelisah, merintih, menangis, kewaspadaan berlebihan,
peka terhadap rangsang dan menghela nafas panjang)
 Wajah topeng (nyeri)
 Perilaku menjaga atau sikap melindungi
 Focus menyempit (misalnya gangguan persepsi waktu, gangguan proses pikir,
interaksi dengan orang lain atau lingkungan menurun)
 Bukti nyeri yang dapat diamati
 Berfokus pada diri sendiri
 Gangguan tidur (mata terlihat kuyu, gerakan tidak teratur atau tidak menentu dan
menyeringai)

Batasan karakteristik lain

 Mengomunikasikan descriptor nyeri (misalnya rasa tidak nyaman, mual, berkeringat


malam ini, kram otot, gatal kulit, mati rasa, dan kesemutan pada ekstremitas)
 Menyeringai
 Rentang perhatian terbatas
 Pucat
 Menarik diri

Faktor yang hubungan

 Agens – agens penyebab cedera (misalnya biologis, kimia, fisik, dan psikologis)
(Wilkinson, 2015 : 531)

b) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan fraktur, gangguan muskuluskeletal

Definisi :

Keterbatasan kebebasan bergerak diatas tempat tidur dari satu posisi ke posisi yang lain
(sebutkan tingkat ketergantungan). (Wilkinson, 2015 : 468)
Batasan Karakteristik :

Hambatan kemampuan untuk :

 Mengubah posisi dari terlentang ke posisi duduk


 Mengubah posisi dari duduk ke posisi terlentang
 Mengubah posisi dari terlentang ke posisi telungkup
 Mengubah posisi dari telungkup ke posisi telentang
 Mengubah posisi dari terlentang ke posisi duduk selonjor
 Mengubah posisi dari duduk selonjor ke posisi telentang
 “bergerak cepat” atau mengatur terposisi diri ditempat tidur berbalik dari sisi ke sisi

Faktor yang Berhubungan :

Gangguan kognitif

Dekondisi

Kendala lingkungan

Kekuatan otot yamg tidak memcukupi

Gangguan musculoskeletal

Gangguan neuromuscular

Obesitas

Nyeri

(Wilkinson, 2015 : 468)

c) Resiko cedera berhubungan dengan tulang rapuh dan mudah patah

Definisi :

Berisiko mengalami cedera sebagai akibat dari kondisi lingkungan yang berinteraksi dengan
sumber – sumber adaptif dan pertahankan individu (Wilkinson, 2015 : 428)

Faktor resiko

Internal

Profil darah yang tidak norma

Gangguan faktor pembekuan


Disfungsi biokimiawi

Penurunan kadar hemoglobin

Usia perkembangan

Penyakit imun atau autoimun

Trombositopenia

Hipoksia jaringan

Malnutrisi

Eksternal

Tingkat imunisasi komunitas

Mikroorganisasi

Racun

Polutan

Obat – obatan

Zat gizi

Individu atau penyedia layanan kesehatan (Wilkinson, 2015 : 428)


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Osteoporosis adalah kelainan dengan penurunan massa tulang total. Pada kondisi ini
terdapat perubahan pergantian tulang homeostatis normal, kecepatan resorpsi tulang lebih
besar daripada kecepatan pembentukan tulang, yang mengakibatkan penurunan massa
tulang total. (Suratun dkk, 2008 : 74)

B. Saran

Sebagai perawat dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan berperan dalam upaya
pendidikan dengan memberikan penyuluhan tentang pengertian osteoporosis, penyebab
dan gejala osteoporosis serta penanganan osteoporosis. Berperan juga dalam
meningkatkan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan serta peningkatan pengetahuan,
sikap dan praktik pasien serta keluarganya dalam melaksanakan pengobatan osteoporosis.
Peran yang terakhir adalah peningkatan kerja sama dan sistem rujukan antar berbagai
tingkat fasilitas pelayanan kesehatan, hal ini akan memberi nilai posistif dalam upaya
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Amin Huda Nur arief, H. K. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnostik dan Nanda nic - noc . Jogjakarta : Mediaction.

Digiulio, M. (2014). Keperawatan Medikal Bedah Demystified. Yogyakarta: Rapha


Publishing.

Kholid Rosyidi, d. (2013). Muskuloskeletal. Jakarta: TRANS INFO MEDIA.

Lukman, N. (2009). Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Sistem


Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika.

M. Black, H. (2009). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika.

Suratun, d. (2008). Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta: Buku


Kedokteran EGC.

Wilkinson. (2010). Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC.