Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN PENDAHLUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN


GANGGUAN SISTEM PANKREAS PADA KASUS DIABETES
MELETUS

DISUSUN OLEH:
NAMA : YANESTHI LIA ANDINI

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN YARSI MATARAM
TA. 2020
LAPORAN PENDAHULUAN

1
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN
SISTEM MUSKULUSKELETAL PADA KASUS DIABETES MELETUS

I. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. Pengertian
Diabetes Militus adalah kumpulan gejala yang timbul pada
seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat
kekurangan hormon insulin secara absolut atau relatif (Dr. Sunita
Almatsier, 2006).
Diabetes militus merupakan sekelompok kelainanheterogen yang ditandai
oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Glukosa
secara normalbersirkulasi dalam jumlah tertentudalam darah,glukosa
dibentuk di hati dan makanan yang dikonsumsi. Insulin yaitu suatuhormon
yang diproduksi pankreas, mengendalikan kadar glukosa dalam darah
dengan mengatur produksi dan penyimpanannya. (Suzanne C, smeltzer
brenda G. Bare. 2002).
Diabetes militus adalah penyakit kronik, progresif yang
dikarakteristikkan dengan ketidakmampuan tubuh untuk melakukan
metabolisme karbohidrat, lemak, dan proein awal terjadinya hiperglikemia
(kadar gula yang tinggi dalam darah). (Tarwoto, 2012).
Diabetes Militus adalah syndrom yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara tuntutan dan suplai insulin (Rumaharbo, 2000).
Diabetes Militus (DM) adalah suatu kelainan yang ditandai dengan
gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein (Courtney, 2001).

2
B. Anatomi fisiologi

Gambar 2.1 Anatomi pankreas (Smeltzer, 2001)


Pankreas merupakan alat tubuh yang bentuknya agak panjang,
terletak di retroperitonial dalam abdomen bagian atas di depan vertebra
lumbalis I dan II.
Kepala pankreas terletak di dekat kepala duodenum, sedangkan
ekornya sampai lien. Pankreas menghasilkan dua kelenjar yaitu :
1. Kelenjar eksokrin
Bagian eksokrin pankreas merupakan bagian terbesar dari pankreas
berperan dalam menghasilkan enzim-enzim pencernaan.

2. Kelenjar endokrin
Kelenjar ini berupa pulau-pulau langerhans yang berjumlah 1 sampai 2
juta, berperan dalam menghasilkan hormon, pulau langerhans
menghasilkan 4 jenis sel yaitu ;
a. Sel A ( Alfa )
Sekitar 20 - 40 % sel A menghasilkan glukogen yang bersifat
hiperglikemik ( meningkatkan gula darah )

3
b. Sel B ( Beta )
Sekitar 60 – 80 % sel B berfungsi membuat insulin yang
merupakan hormon hipoglikemik ( menurunkan gula darah ).
c. Sel C
Sekitar 5 – 15 % sel C membuat somatotattin yang berfungsi
menghambat pelepasan insulin dan glukogen
d. Sel D
Sekitar 1 % sel D mengandung dan mensekresi pankreatik
polipeptida yang berperan mengatur fungsi eksokrin pancreas.
Insulin merupakan protein kecil yang terdiri dari dua rantai asam
amino yang satu sama lain dihubungkan oleh ikatan disulpida sebelum
dapat berfungsi insulin harus berkaitan dengan protein reseptor yang besar
dalam membran sel.
Sekresi insulin di kendalikan oleh kadar glukosa darah, efeknya
dapat dilihat jelas setelah makan, efek utamanya adalah menurunkan kadar
glukosa darah, juga mempengaruhi metabolisme protein dan lemak. Kadar
glukosa darah yang berlebihan akan merangsang sekresi insulin dan bila
kadar glukosa normal atau rendah maka sekresi insulin akan berkurang.
Penurunan kadar gula darah terjadi karena transfer membran terhadap
glukosa kedalam sel meningkat, khususnya kedalam sel-sel otot, glukosa
masuk kedalam darah tanpa dipengaruhi oleh adanya insulin dan langsung
dapat merangsang sekresi insulin.
Insulin menghambat aktivitas metabolik yang dapat meningkatkan
glukosa darah. Insulin menimbulkan efek :
1. Menstimulasi penyimpanan glukosa dalam hati dan otot ( dalam bentuk
glikogen )
2. Meningkatkan penyimpanan lemak dari makanan dalam jaringan
adiposa
3. Mempercepat pengangkatan asam amino ( yang berasal dari protein-
protein makanan ) kedalam sel.

4
C. Etiologi
1. Diabets tipe I
Ada beberapa faktor yang menyebabkan DM tipe I ini adalah :
(Brunner dan Suddarth, 2002).
a. Faktor-faktor Genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri. Tetapi
mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah
terjadinya DM Tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada
individu yang memiliki antigen HLA (Human Leucocyte Antigen)
tertenty, yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan
proses imun lainnya.
b. Faktor-faktor Imunologi
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun,
respon ini merupakan respon abnormal di mana antibodi terarah pada
jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai benda asing.
c. Faktor-faktor Lingkungan
Penyelidikan juga sedang dilakukan terhadap kemungkinan faktor
eksternal yang dapat memicu destruksi sel beta.
2. Diabets Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan
gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum di ketahui.
Selain itu terdapat pula faktor resiko tertentu yang berhubungan
dengan proses terjadinya diabetes tipe II faktor ini adalah :
a. Usia
Insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun.
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga
d. Kelompok etnik
Menurut Black (2009) Penyebab penyakit ini belum di ketahui
secara lengkap dan kemungkinan faktor penyebab dan faktor penyakit
diabetes militus diantaranya:

5
1. Riwayat keturunan dengan diabetes, misalnya dengan DM tipe I
diturunkan sebagai sifat heterogen, mutigenik. Kembar identik
mempunyai resiko25% - 50%, sementara saudara kandung berisiko
6 % dan anak berisiko 5 %.
2. Lingkungan seperti virus (cytomegalivirus, mumps,rubella)yang
dapat memicu terjadinya autoimun dan dapat menghancurkan sel-
sel beta pankreas, obat-obatan dan zat kimia seperti aloxan,
stereptozotocin, pentamidine.
3. Usia diatas 45 tahun
4. Obesitas, berat badan lebih dari atau sama dengan 20 % berat badan
ideal.
5. Etnik, banyak terjadi pada orang amerika keturunan afrika, Asia.
6. Hipertensi tekanan darah lebih dari atau sama dengan 140/90
mmHg.
7. HDR kolestrol lebih dari atau sama dengan 35 mg/dl, atau
trigesirida lebih dari 250 mg/dl.
8. Riwayat gesttasional DM
9. Kebiasaan diet
10. Kurang olah raga
11. Wanita dengan hirtutisme atau penyakit policistik ovari.
D. KLASIFIKASI DM
Tipe Diabetes:
Ada beberapa tipe diabetes yang berbeda, penyaki ini dibedakan
berdasarkan penyebab, perjalanan klinik dan terapinya klasifikasi diabetas
yang utama menurut Brunner dan Suddarth, 2002 adalah :
1. Diabetes tipe I : Diabetes militus tergantung insulin (insulin dependent
diabetes militus [IDDM])
2. Diabetes tipe II : Diabetes militus tidak tergantung insulin (Non insulin
dependent diabetes militus [NIDDM])
3. Diabetes Militus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom
lainnya.

6
4. Diabetes militus gestasional (gestational diabetes militus [GDM]).
Kurang lebih 5% hingga 10% penderita mengalami diabetes tipe
I, yaitu diabets yang tergantung insulin dan kurang lebih 90% hingga
95% penderita mengalami diabetes tipe II, yaitu diabetes yang
tergantung insulin.
E. Patofisiologi
Tipe I, atau IDDM akibat kekurangan insulin karena kerusakan dari sel
beta pankreas, sebagian besar individu dengan IDDM biasanya dengan
berat badan normal atau di bawah normal, gejala klasik IDDM yang tidak
diobati adalah poliuria, polidipsia, polifagia (peningkatan makan) dan
kehilangan berat badan.
Tipe II, atau NIDDM ditandai dengan kerusakan fungsi sel beta
pankreas dan resisten insulin atau oleh menurunnya pengambilan glukosa
oleh jaringan sebagai respons terhadap insulin. Kadar insulin dapat
normal, turun atau meningkat tapi sekresi insulin tergantung dalam
hubungannya dengan tingkat hiperglikemia, ini biasanya di diagnosa
setelah berusia 30 tahun dan 75% dari individu dengan tipe II adalah
obesitas atau dengan riwayat obesitas.
DM berhubungan dengan berbagai komplikasi, komplikasi
kronik utama yaitu mempercepat terjadinya penyakit makro-vaskuler
(penyakit jantung koroner, pembuluh darah kapiler (serebrovaskuler),
retinopati, netropati, dan neuropati. Termasuk diabetik ketoasidosis
(KAD). KAD adalah akibat defisiensi insulin, dosis terlalu kecil, kelalaian
1 dosis atau beberapa hormon yang mengatur balik antagonis insulin
(glukagon, katekolamin, kortisol dan hormon pertumbuhan) ini dapat
terjadi selama infeksi atau trauma. Tanda-tanda metabolik dari KAD
meliputi hiperglikemia, diuresis osmotik dan gehidrasi hiperlipidemia
disebabkan oleh peningkatan lipofisis dan asidosis akibat dari naiknya
produksi dari asam lemak.
Tanpa atau dengan ketosis ringan, kenaikan osmolaritas serum
dan dehidrasi.

7
F. Patways
WOC : Wab Of Caution
2.1.3.1
Usia > 65 thn - Obesitas - imunologi Faktor
(proses penuaan - Hiperten (autoimun) lingkungan
2.1.3.2
dan defek genetik) (Virus)
si
2.1.3.3
Perubahan reseptor Produktif Merusak sel beta
hormon2.1.3.4
insulin, pangkreas
insulin tidak
Kerusakan memberan
sel dan reaksi intrasel
seimbang
dengan jumlah Kegagalan
glukosa dalam produksi insulin
2.1.3.5
Resistensi darah

2.1.3.6
Insulin menjadi Peningkatan
tidak efektif glukosa dalam
darah

2.1.3.7
Jumlah insulin yang
diproduksi Peningkatan Peningkatan
glukosa darah osmolaritas oleh
yang kronik karena glukosa

2.1.3.8
Sel beta gagal
membagi Mempercepat
2.1.3.9
kebutuhan insulin terjadinya - Poli
Arteriosklerosis dipsi
- Poli
ketidak seimbangan
2.1.3.10
Penurunan Penurunan aliran Diabetes Diit dengan terapi
sensitifitas panas, darah ketungkai Neuropati insulin
2.1.3.11
dingin, (makro

Hipoglikemia/
Penurunan Resiko I Hiperglikemia
kerusakan s - Kekakuan/
fungsi
integritas kulit c kelemahan exstrimitas
imunitas Mual, muntah,
- Perubahan Nafsu makan
Luka Gangren
kartilago dalam berkurang
persendian
Resiko tinggi Gangguan Nurisi kurang dari
Intoleransi
infeksi Body image kebutuhan tubuh
Aktifitas

G. Tanda dan Gejala


Dari sudut pasien diabetes militus sendiri, hal yang sering
menyebabkan pasien datang berobat ke dokter dan kemudian di diagnosis
sebagai diabetes militus adalah keluhan.

8
1. Kelainan kulit : gatal, bisul-bisul
2. Kelainan ginekologis : keputihan
3. Kesemutan, rasa baal
4. Kelemahan tubuh
5. Luka atau bisul yang tidak sembuh-sembuh
6. Infeksi saluran kemih.
Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah genital
ataupun daerah lipatan kulit lain seperti di ketiak dan di bawah payudara
biasanya akibat tumbuhnya jamur, sering pula dikeluhkan timbul bisul-
bisul atau luka yang lama tidak mau sembuh.
Rasa baal dan kesemutan akibat sudah terjadinya neuropati,
merupakan keluhan pasien di samping keluhan lemah dan merasa lelah,
pada pasien laki-laki terkadang keluhan impotensi menyebabkan ia datang
berobat ke dokter. (Waspadji, 2000).
Menurut Tarwoto (2012) tanda dan gejala meliputi :
1. Sering kencing/miksi atau menigkatnya frekuensi buang air kecil
(poliauria). Adanya hiperglekimia menyebabkan sebagian glukosa
dikeluarkan oleh ginjal bersama urine karna keterbatasan
kemampuan filtrasi ginjal dan kemampuan reabsorps dari tubulus
ginja. Untuk mempermudah pengeluaran glukosa maka diperlukan
banyak air, sehingga frekuensi miksi meningkat.
2. Meningkatnya rasa haus(polidipsia). Banyaknya miksi
menyebabkan tubuh kekurangan cairan (dehidrasi), hal ini
merangsang pusat haus, yang mengakibatkan peningkatan rasa haus.
3. Minangkatkan rasa lapar (polipagia). Meningkatkan untuk
matabolisme, pemecahan glikoge untuk energimenyebabkan
cadangan energi berkurang keadaan ini menstimulasi pusat lapar.
4. Penurunan berat badan. Penurunan berat badan disebabkan karena
banyaknya kehilngan cairan, glikogen dan cadangan triglesirida
serta massa otot.

9
5. Kelainan pada mata, mata kabur. Pada kondisi kronis, keadaan
hiperglikemia menyebabkan aliran darah menjadi lambat, sirkulasi
ke vaskuler menjadi tidak lancar, termasuk pada mata yang merusak
retinaserta kekeruhan pada lensa.
6. Kulit gatal, infeksi kulit, gatal-gatal disekitar penis dan vagina
peningkatan glukosa darah mengakibatkan penumpukan gula pada
kulit sehingga menjadi gatal, jamur dan bakteri mudah menyerang
kulit
7. Ketonuria. Ketika glukosa tidak lagi digunakan untuk energi, maka
digunakan asam lemak untuk energi, asam lemak akan di pecah
menjadi keton yang kemudian berada dalam darah dan dikeluarakan
melalui ginjal.
8. Kelemahan dan keletihan. Kurangnya cadangan energi, adnya
kelaparan sel, kehilangan potassium menjadi akibat pasien menjadi
mudah lemah dan letih.
9. Terkadang tanpa kejala.Pada keadaan tertentu, tubuh mudah
beradaptasi dengan peningkatan glukosa darah
H. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Smeltzer, 2001 adapun pemeriksaan penunjang pada penyakit
Diabetes Melitus, yaitu sebagai berikut:
1. Pemeriksaan darah
a. Glukosa darah puasa ( GDP ) : lebih dari 120 mg/dl
b. Glukosa darah 2 jam PP ( post prandial ) : lebih dari 200 mg/dl
c. Glukosa darah acak : lebih dari 200 mg/dl
2.Pemeriksaan urine
Pemeriksaan reduksi biasanya 3 x sehari dilakukan 30 menit sebelum
makan, dapat juga 4 x sehari, tapi lebih lazim dilakukan 3 x sehari.
Urine reduksi normal umumnya biru bila terdapat glukosa dalam urine
a. Warna hijau ( + )
b. Warna kuning ( ++ )
c. Warna merah bata ( +++ )

10
d. Warna coklat ( ++++ )
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan fehling benedict
dan ansipatik ( paper strip ).

3.Pemeriksaan penunjang
Perlu dilakukan pada kelompok dengan resiko tinggi untuk diabetes
melitus yaitu
a. Kelompok usia dewasa tua ( > 40 tahun )
b. Kegemukan
c. Tekanan darah tinggi
d. Riwayat kehamilan dengan BB lahir bayi > 4000 gr
e. Riwayat keluarga diabetes melitus
f. Riwayat diabetes melitus pada kehamilan
g. Dislipidemia
( arief mansjoer, at.all, 2001 )
I. Penatalaksanaan
1. Farmakologis
a. Terapi (bila diperlukan)
Jika pasien telah melakukan diit dan kegiatan jasmai yang teratur
tapi kadar gula darahnya masih belun baik, dipertimbangkan
pemakaian obat yang berkhasiat hipoglikemik baik oral maupun
suntikan.
Tabel 2.1 nama obat-obat yang ada di Indonesia
Nama Dosis Dosis Lama Frekuensi
Generik Maksimal Aawal Kerja
Sulfonilurea 500 50 - -
Clorpopamid 15-20 2,5 6-12 1 kali
Gifisia 240 80 12-24 1-2
Glikasit 120 30 10-20 1-2
Glikuidon 20 5 10-20 1-2
Glimefiria - - - 1

11
Biguania
Metformin 2500 500 1-3
Inhibator A
Avarfose 300 50 1-3
(Mansjoer arif,2001)
b. Insulin
Indikasi penggunaan insulin pada NIDDM (Non Insulin Dependent
Diabetes Militusadalah
1) Diabetes melitus dengan berat badan menurun cepat
2) Keto asidosis, asidosis laktat dan komahiperosmolar
3) Dibetes melitus mengalami stres berat
4) Diabetes melitus dengan kehamilan
5) Diabetes melitus yang tidak berhasil dikelola dengan
obat oral dosis maksimal
2. Non Farmokologis
a. Diet
Diet adalah penatalaksanaan yang penting dari kedua tipe diabetes
mellitus
1) Tujuan
Membantu klien memperbaiki kebiasaan makan dan olah raga
untuk mendapatkan kontra metabolik yang lebih baik.
2) Syarat-Syarat diet penyakit diabetes mellitus adalah:
a) Energi cukup untuk mencapai dan mempertahankan berat
badan normal.
b) Kebutuhan protein normal, yaitu 10-15 % dari kebutuhan
energi total.
c) Kebutuhan lemak sedang, yaitu 20-25% dari kebutuhan
energi total, dalam bentuk <10% dari kebutuhan energi total
berasal dari lemak jauh 10% dari lemak tidak jenuh ganda,
sedangkan sisanya dari lemak tidak jenuh tunggal.

12
d) Kebutuhan karbohidrat adalah sisa dari kebutuhan energi
total, yaitu 60-70%.
e) Penggunaan gula murni dalam minuman dan makanan tidak
diperbolehkan kecuali jumlahnya sedikit sebagai bumbu.
f) Penggunaan serta dianjurkan 25 gram / hari dengan
mengutamakan serta larut air yang terdapat dalam sayur dan
buah.
g) Klien DM dengan tekanan darah normal diperbolehkan
mengkonsumsi natrium dalam bentuk garam dapur seperi
orang sehat, yaitu 3000 mg/ hari.
h) Cukup vitamin dan mineral.
3) Macam diet dan indikasi Pemberian.
Tabel 2.2 Jenis diet diabetes mellitus menurut kandungan
energi, protein, lemak dan karbohidrat.
Energi Protein Lemak Karbohidrat
Jenis Diet
Kkal g g G
I 1100 43 30 172
II 1300 45 35 192
III 1500 51,5 36,5 235
IV 1700 55,5 36,5 275
V 1900 60 48 299
VI 2100 62 53 319
VII 2300 73 59 369
VIII 2500 80 62 396

a) Diet 1 s/d III : diberikan pada penderita yang terlalu


gemuk.
b) Diet IV s/d V : diberikan pada penderita yang
mempunyai berat badan normal.
c) Diet VI s/d VII : diberikan kepada penderita kurus,
diabetes remaja (juvenilediabetes) atau diabetes dengan
komplikasi.

13
(Bagian gizi RS Dr. Ciptomangkusumo dan persatuan Ahli
Gizi Indonesia, 2006.)

4) Bahan Makanan Yang Dianjurkan


Bahan makanan yang dianjurkan untuk diet diabetes mellitus
adalah sebagai berikut :
a) Sumber karbohidrat kompleks, seperti nasi, roti, mi,
kentang, singkong, ubi dan sagu.
b) Sumber protein rendah lemak, seperti ikan, ayam tanpa
kulit, susu skim, tempe, tahu dan kacang-kacangan.
c) Sumber lemak dalam jumlah terbatas yaitu bentuk makanan
yang mudah dicerna.
5) Bahan Makanan Yang Tidak Dianjurkan
Bahan makanan yang tidak dianjurkan, dibatasi, atau
dihindari untuk diet diabetes mellitus adalah :
1). Mengandung banyak gula sederhana, seperti : gula pasir,
gula jawa, sirop, jam, jeli, buah-buahan yang diawetkan
dengan gula, susu kental manis, minuman botol ringan, dan
es krim, kue-kue manis, dodol, cakel dan tarcis.
2). Mengandung banyak natrium, seperti : ikan asin, telur asin,
makanan yang diawetkan.
Menurut konsensus perkumpulan endokrinologi Indonesia
(Perkemi) tahun 1998, diagnosis diabetes mellitus umumnya
akan mulai terpikirkan bila ditemukan adanya gejala khas DM
berupa polifogia, polidipsia, polivria, kesemutan, dan
penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya.
Diagnosis diabetes dipastikan bila kadar glukosa darah sewaktu
200 mg/ diatau lebih ditambah gejala khas diabetes dan gula
darah puasa > 126 mg/ dl pada dua kali pemeriksaan pada saat
yang berbeda.
6) Perencanaan Makan Pada Diabetes Mellitus

14
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi
seimbang karbohidrat, 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25%
Untuk penentuan gizi, dipakai Body Massa Index yaitu :
Rumus
BB
2
BMI = (TB)
Keterangan :
BMI < 18,5 : Gizi Buruk
BMI 18,5 – 23,9 : Normal perempuan
BMI 20-24,9 : Normal laki-laki
BMI 27 : Obesitas
Penentuan gizi penderita dan jumlah kalori/ hari.
Rumus
BB
x 100 %
BBR % = TB-100
Keterangan :
BB : berat badan (kg)
TB : Tinggi Badan (Cm)
BBR : Berat badan relatif.
Kebutuhan kalori perhari untuk menuju berat badan normal
adalah:
a) BB normal (BBR 90%-100%) kebutuhan kalori sehari 30
kalori / kg BB
b) BB lebih (BBR lebih dari 100%) kebutuhan kalori sehari 20
kalori / kg BB
c) Gemuk (BBR > 120%) kebutuhan kalori sehari 15 kalori/
kg BB
d) BB kurang (BBR < 90%) kebutuhan kalori sehari 40-60
kalori/ Kg BB.

b. Latihan dan Olah Raga

15
Dianjurkan latihan jasmani teratur 3-4 kali/ minggu selama +
½ jam yang sifatnya sesuai dengan CRIPE (Continouse, Reftmical,
Interval, Proggresive, Endorance Training), latihan yang dapat
dijadikan adalah jalan kaki, jogging, lari, renang, bersepeda, dan
mendayung.
1) Kegunaan Latihan teratur antara lain :
a) Meningkatkan kepekaan insulin (glukosa up take)
b) Menurunkan insulin resisten pada klien dengan kegemukan/
menambah jumlah reseptor insulin.
c) Meningkatkan sensitivitas insulin dengan reseptornya.
d) Mencegah kegemukan
e) memperbaiki aliran darah perifer dan menambah oksigen
suplay
f) Meningkatkan kadar kolestrol HDL
g) Merangkang pembentukan glikogen baru
h) Menurunkan kolestrol dan trigliserida darah
i) Keuntungan psikologis, meningkan rasa percaya diri,
menurunkan kecemasan, meningkatkan kualitas hidup.
2) Faktor resiko olahraga pada diabetes
melitus
a) Jantung
a. Gangguan irama
jantung klien akibat iskemik.
b. Peningkatan
tekanan darah berlebihan pada saat olah raga.
c. Hipotensi setelah
olah raga.
b) Mikrovaskuler
a. Perdarahan pada
retina mata.

16
b. Luka-luka
pembuluh darah kecil
c) Metabolisme
a. Peningkatan kadar
gula darah dan ketosis
b. Hipoglikimia
d) Kerusakan Struktur Otot dan Tulang, trauma
a. Luka borok pada
bayi
b. Kerusakan tulang
penyangga tubuh
c. Kerusakan pada
sandi tulang
3) Strategi Untuk Menghindari Hipo/
Hiperglikemia pada saat berolahraga terutama untuk klien
IDDM (Insulin Dependent Diabeteas Melitus).
a) Satu sampai 3 jam sebelum berolahraga diharuskan makan
dulu.
b) Jika berolahraga berat dan berlangsung lama harus makan
sneck setiap 30 menit
c) Dianjurkan untuk meningkatkan jumlah makanan sampai
paling tidak 24 jam setelah berolahraga,
d) Infeksi insulin diberikan paling tidak 1 jam sebelum
berolahraga.
e) Menurunkan dosis insulin sebelum berolah raga
f) Jadwal suntikan insulin harus perlu disesuaikan
g) Pemantauan kadar gula darah sebelum, selama dan setelah
berolahraga.
h) Olah raga harus ditunda jika glukosa darah 250 mg/ dl
ketonuria positif.
c. Pendidikan

17
Agar pengobatan DM dapat berjalan optimal klien perlu
diberikan pengetahuan tentang segala hal yang berkaitan dengan
Diabetes Mellitus. Tetapi tidak hanya untuk klien saja tetapi juga
untuk keluarganya harus mendapat pengetahuan yang cukup
mendalam mengenai penyebab dan strategi terapi Diabetes
Mellitus. Pengobatan akan dipermudah bila klien mampu membuat
keputusan keputusan-keputusan yang tepat dalam perawatan
penyakitnya sehari-hari. Pemberian pengetahuan secara dini
hendaklah menekankan pentingnya segi-segi prakitis pengobatan
penyakit, yang meliputi :
1. Perencanaan diet
2. Teknik pemantauan glukosa dan
3. Keton-keton.
Perlu disampaikan kepada klien kaitan yang ada antara
diet,aktifitas fisik, dan obat-obatan yang digunakan dukungan dari
dokter ( penberi diagnosis atau sebagai pemberi instruksi ), perawat
( untuk membantu perawatan ), merupakan hal penting dalam
mencapai sasaran pemberian pengetahuan. Pemberian pengetahuan
dan pengobatan akan paling efektif bila semua unsurprofessional
tersebut saling berkomunikasi mengenai pasiennya secara
perorangan.
Menurut Rendy dan Margaret, (2012) Tujuan penataklasanaan
pasien dengan DM adalah:
1. Menormalkan fungsi dari insulin dan menurunkan kader glukosa
darah
2. Mencegah komplikasi vaskuler dan neorophati
3. Mecegah terjadinya hipoglikimia dan ketoasidosis.
Perinsip penatalaksanaan pasien DM adalah mengontrol gula darah
dalam rentang normal. Untuk mengontrol gula darah, ada 5 faktor
penting yang harus diperhatikan yaitu:
1. Asupan makanan dan menejemen diet

18
2. Latihan fisik dan exercise
3. Obat-obatan penurun gula darah
4. Pendidikan kesehatan
5. Monitoring (Suyono, 2001).

J. Komplikasi
1. Makroangiopati
a. Mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah.
b. Jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otok.
2. Mikroangiopati
Mengenai pembuluh darah kecil, retinopati, diabetik, netropati diabetik.
3. Neuropati
Diabetik
4. Rentan infeksi
Seperti tuberculosis paru, ginggivitis dan infeksi saluran kemih.
5. Kaki diabetik
(Mansjoer, 2007)
Menurut, Tarwoto (2012). Pasien dengan DM berisiko terjadi
komplikasi baik bersifat akut maupun kronis diantaranya:
1. Komplikasi akut
a. Koma hiperglikemia disebabkan kadar gula sangat tinggi biasanya
terjadi pada NIDDM
b. Ketoasidosis atau keracunan zat keton sebagai hasil metabolisme
lemak dan protein terutama terjdi pada NIDDM
c. Koma hipoglikemia akibat terapi insulin yang berlebihan atau tidak
terkontrol.
2. Komplikasi kronis
a. Mikroangiopati (kerusakan pada saraf-saraf prifer) pada organ-
organ yang mempunyai pembuluh darah kecil seperti pada:
1) Retinopati deabetika (kerusakan saraf retina mata) sehingga
menjadi kebutaan

19
2) Neuropati deabitika (kerusakan saraf-saraf perifer)
mengakibatkan baal/gangguan sensoris pada tubuh.
3) Nefropati deabetika (kelainan/kerusakan pada ginjal)dapat
mengakibatkan gagal ginjal
3. Makroangiopati
a. Penyakit vaskuler perifer
b. Kelainan pada jantung dan pembuluh darah
c. Gangguan sistem pembuluh darah otak atau stroke
4. Gangguan diabetika karna adanya neoropati dan terjadi luka yang
tidak sembuh-sembuh.
5. Difungsi erektil deabetika angka kematian dan kesakitan dari
deabetes terjadi akibat komplikasi seperti karena:
a. Hiperglikemia atau hipoglikemia
b. Meningkatnya resiko infeksi
c. Komplikasi mikrovaskuler seperti retinopati, nefropati
d. Komplikasi neurofatik
e. Komplikasi makrovaskuler seprti penyakit jantung koroner,
stoke. (Subekti, 2005).

II. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


Perawatan adalah pelayanan esensial yang diberikan oleh perawat
terhadap individu, keluarga dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan
(Efendi, 2007).
A. Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang
bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien agar
dapat mengidentifikasi, masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan
keperawatan pasien baik fisik, mental, sosial maupun lingkungan.( Efendi,
2007 )
1. Data Biografi
Identitas klien : Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku

20
bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, alamat, tanggal
masuk Rumah Sakit, nomor Rekam Medik, diagnosa medis dan
sumber biaya, penanggung jawab.
2. Keluhan Utama
Pada keluhan utama ditanyakan adalah keluhan atau gejala apa
yang manyebabkan klien datang berobat, yang akan muncul saat awal
dilakukan pengkajian pertama kali, Biasanya pada kasus Diabetes
Melitus, klien datang ke rumah sakit setelah terjadi komplikasi,
sehingga keluhan utamanya seperti tidak ada nafsu makan, kuat
minum dan kuat kencing, badan lemas, luka yang tidak sembuh-
sembuh, kesemutan.
3. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat mengenai penyakit saat ini, yang dimulai dari akhir masa
sehat yang ditulis secara kronologis sesuai urutan waktu, dicatat
perkembangan dan perjalanan penyakitnya, keluhan utama, dan gejala
yang muncul seperti polifagia, polidipsia, poliuria umumnya dialami
oleh penderita Diabetes Melitus, tetapi hal itu jarang diperhatikan
sehingga klien yang diopname di rumah sakit biasanya yang sudah
mengalami komplikasi TBC, Gangren, dan lain-lain, dan keluhan
utamanya biasanya keluhan yang lanjut dari Diabetes Melitus seperti
tidak ada nafsu makan, kuat minum dan kencing, badan lemas, luka
tidak sembuh-sembuh dan lain-lain.
4. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit dahulu mencakup anamnesis tentang penyakit
sistem cardiovaskular, sistem pernafasan, sistem pencernaan, kulit,
adanya penyakit infeksi dll, yang dicatat adalah keterangan terperinci
mengenai semua penyakit dan komplikasi yang pernah dialami, dan
sedemikian mungkin dicatat menurut urutan waktu.
5. Riwayat penyakit keluarga
Pada pengumpulan data tentang riwayat penyakit keluarga
adalah bagaimana riwayat kesehatan dan keperawatan yang dimiliki

21
pada salah satu anggota keluarga, pada klien dengan Diabetes Melitus
ditanyakan apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama
dengan klien, penyakit kronis atau penyakit degeneratif lainnya, serta
upaya apa yang dilakukan jika mengalami sakit.
6. Riwayat Bio-Psiko-Sosial-Spiritual, menurut
Virginia
Handerson
a. Pola Pernafasan
Pada pola pernafasan diperhatikan adalah frekwensi
pernafasan, gerakan dinding dada, pernafasan cuping hidung,
apakah klien merasa sesak, pada klien dengan Diabetes Melitus
biasanya tidak mengalami gangguan pada sistem pernafasan.
b. Pola Nutrisi
Pada pola nutrisi yang ditanyakan adalah diet khusus,
suplement yang dikonsumsi, instruksi diet sebelumnya, nafsu
makan, jumlah cairan dan makanan yang masuk perhari, ada
tidaknya mual, muntah, kesulitan menelan, penggunaan gigi palsu,
riwayat penyembuhan kulit, ada tidaknya masalah dalam status
gizi dll, pada klien dengan Diabetes Melitus mengalami gangguan
atau perubahan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi. Klien
mengalami peningkatan nafsu makan, klien sering merasa lapar
dan haus, sehingga klien menjadi banyak makan dan banyak
minum.
c. Eliminasi
Pada pola ini yang perlu ditanyakan adalah jumlah kebiasaan
defekasi perhari, ada tidaknya konstipasi, diarhea, inkontinensia,
kebiasaan berkemih, ada/tidaknya disuria, nocturia, urgensi,
hematuri, retensi, inkontinentia, ada/tidaknya terpasang kateter,
Pada klien dengan Diabetes Melitus mengalami gangguan dalam
BAK, karena efek peningkatan asupan cairan melalui Diit yang
juga berhubungan dengan efek peningkatan kadar gula dalam

22
darah, sehingga ginjal akan menghasilkan urin dalam jumlah
berlebih,yang menjadikan klien menjadi sering BAK.
d. Gerak dan Keseimbangan Tubuh
Pada Aktivitas dibatasi untuk bergerak dan harus tirah baring
untuk mengurangi nyeri, klien dengan Diabetes Melitus klien akan
mengalami gangguan gerak atau aktivitasnya dapat diakibatkan
karena kelemahan, atau akibat salah satu bagian ekstrimitasnya
mengalami gangguan, misalnya kelemahan otot, atau adanya luka
Ulkus atau gangren.
e. Istirahat Tidur
Pengkajian pola istirahat tidur ini yang ditanyakan adalah
jumlah jam tidur pada malam hari, pagi, siang, merasa tenang
setelah tidur, masalah selama tidur, adanya terbangun dini,
insomnia atau mimpi buruk. Pada klien dengan Diabetes Melitus
kien biasanya mengalami kesulitan dalam istirahat dan tidurnya
karena merasa lapar, haus, atau ingin berkemih.
f. Kebutuhan berpakaian
Tidak mengalami gangguan dalam memenuhi kebutuhan
berpakain.
g. Mempertahankan temperatur tubuh dan
sirkulasi
Pada klien dengan Diabetes Melitus tidak terjadi gangguan
dalam hal temperatur atau sirkulasi.
h. Hygiene
Pada pengumpulan data, klien tidak mengalami hambatan
untuk melakukan (menjaga) kebersihan dirinya, kemungkinan
klien mengalami hambatan dalam pemenuhan personal
hygienenya, pada klien Diabetes Melitus dengan luka gangren
mengalami gangguan dalam hygienenya, hal itu berhubungan
dengan kebersihan dan bau yang ditimbulkan oleh luka gangren
tersebut.

23
i. Keamanan dan kenyamanan
Pada pengumpulan data akan ditemukan gangguan rasa aman
dan nyaman karna rasa nyeri akan timbul saat klien melakukan
aktivitas yang berat, dalam kebutuhan keamanan ini perlu
ditanyakan apakah klien tetap merasa aman dan terlindungi oleh
keluarganya.
j. Status sosial
Bagaimana hubungan klien dengan keluarga, tetangga maupun
orang lain, serta begaimana klien berinteraksi dengan
lingkungannya.
k. Spiritual
Yang perlu diperhatikan adakah perubahan saat klien masih
sehat dengan saat kilen sakit, biasanya tidak mengalami hambatan
dalam melakukan ibadah, pada keadaan spiritual ini perlu
diketahui tentang agama yang dianut klien apakah tetap
melakukan ajaran agama yang dianutnya atau terganggu karena
penyakit yang dialami.
l. Aktivitas
Pada pengumpulan data ini yang perlu ditanyakan adalah pola
aktivitas klien mengalami gangguan, karena pada klien Diabetes
Melitus aktivitasnya terganggu karena kebiasaan sehari tidak dapat
dilakukan atau tidak dapat terpenuhi dengan baik jika keadaan
umumnya sudah memburuk.
m. Kebutuhan bermain dan rekreasi
Pada pengumpulan data hal yang perlu diperhatikan adalah hal-
hal apa saja yang membuat klien merasa tenang, biasanya klien
tidak bisa memenuhi kebutuhan bermain dan rekreasi karena harus
istirahat yang cukup, pada klien dengan Diabetes Melitus tidak
dapat memenuhi kebutuhan, bermain dan rekreasi karena dalam
kondisi lemah
n. Kebutuhan Bekerja

24
Klien dengan Diabetes Melitus mengalami gangguan dalam
bekerja jika keadaan umumnya sudah lemah dan buruk, disertai
dengan komplikasi.
(Doenges, 2000)
7. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Umum :

Data Biologis : Biasanya klien dengan gejala awal akan mengeluh


kuat makan, kuat minum, kuat kencing, dan jika telat berobat maka
keluhan klien menjadi nafsu makan menurun bahkan hilang,
kesemutan, mata kabur, luka yang sulit sembuh, gatal-gatal, porsi
makan yang tidak habis, pusing bila duduk lama, mengeluh cepat
lapar dan cepat kenyang, ADL dibantu.
Data Psikologis : ketakutan, stress, kecemasan, kebingungan,
sering bertanya tentang penyakit dan kesembuhan lukanya,
mengeluh tidak bisa tidur, tatapan mata kosong, tegang.

b. Pemeriksaan Fisik
Metode yang dapat digunakan untuk pemeriksaan fisik, yaitu
inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi, meliputi pengkajian keadaan
umum dan status generalis (Head to toe)
1) Inspeksi: sering dijumpai status
dehidrasi, gelisah, keringat dingin, katarak, bintik-bintik coklat
pada tulang kering, meringis, gugup, ngantuk, gemetar.
2) Palpasi: nadi cepat, terdapat
pembesaran hati, bila disertai neuropatik maka akan ada sensasi
terhadap jarum, rasa getar serta reflek pergerakan kaki akan hilang.
3) Auskultasi: diketahui adanya gagal
jantung, radang paru-paru, hipertensi atau hipotensi.
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan Darah

25
Glukosa Darah Puasa (GDP) : Diatas 120 mg / dl
Glukosa Darah 2 Jam PP : Diatas 200 mg / dl
Glukosa Darah Acak : Diatas 200 mg / dl
2) Urin
Pemeriksaan reduksi biasanya 3 kali sehari dilakukan 30 menit
sebelum makan, dapat juga 4 kali sehari, tetapi lebih lazim
dilakukan 3 kali sehari sebelum makan. Urin reduksi normal warna
biru, bila terdapat glukosa dalam urin :
Warna hijau : +
Warna kuning : ++
Warna merah : +++
Warna merah bata / coklat : ++++

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya /
menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi
pembuluh darah.
2. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya
gangren pada ekstrimitas.
3. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik
jaringan.
4. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada
luka.
5. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake makanan yang kurang.
6. Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis ) berhubungan
dengan tingginya kadar gula darah.

26
7. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
penyakitnya.
8. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan
dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
9. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk
salah satu anggota tubuh.

C. Perencanaan Keperawatan
Perencanaan adalah perumusan tindakan yang harus dilaksanakan
berdasarkan diagnosa pasien (Ali, 2008)
Table 2.4 Rencana Tindakan Keperawatan
No Hari/tanggal No Rencana Tindakan
Tujuan/kriteria Rencanaan Rasional
Diagnosa
hasil
keperawatan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

27
1 1 Setelah 1.Ajarkan pasien R/ dengan
dilakukan untuk mobilisasi
tindakan melakukan meningkatkan
keperawatan mobilisasi sirkulasi darah
selama…x24 jam
di harap klien 2.Tinggikan kaki R/
dapat sedikit lebih meningkatkan
mempertahankan rendah dari melancarkan
sirkulasi perifer jantung ( posisi aliran darah
tetap normal elevasi pada balik sehingga
dengan krioteria waktu tidak terjadi
hasil istirahat ), oedema
1. Denyut nadi hindari
perifer teraba penyilangkan
kuat dan reguler kaki, hindari
balutan ketat,
2.Warna kulit hindari
sekitar luka tidak penggunaan
pucat/sianosis bantal, di
belakang lutut
3. Kulit sekitar dan sebagainya.
luka teraba R/ kolestrol
hangat. 3.Hindari diet tinggi dapat
tinggi kolestrol, mempercepat
4. Oedema tidak teknik relaksasi, terjadinya
terjadi dan luka menghentikan arterosklerosis,
tidak bertambah kebiasaan merokok dapat
parah. merokok, dan menyebabkan
penggunaan terjadinya
obat vasokontriksi
vasokontriksi. pembuluh

28
darah, relaksasi
untuk
mengurangi
efek dari stres.

R/ pemberian
4.Kerja sama vasodilator
dengan tim

No Hari/Tangg No. Tujuan/Kriteria Rasional


al Diagnosa Hasil Rencana
Keperawata
n
akan
kesehatan lain meningkatkan
dalam dilatasi
pemberian pembuluh darah
vasodilator, sehingga
pemeriksaan perfusi jaringan
gula darah dapat
secara rutin dan diperbaiki.
terapi oksigen

2 2 Setelah R/ Pengkajian
dilakukan 1.Kaji luas dan yang tepat
tindakan keadaan luka terhadap luka
keperawatan serta proses dan proses
selama…x24 jam penyembuhan. penyembuhan
di harapkan klien akan membantu
dapat dalam
pemberian menentukan

29
vasodilator akan tindakan
meningkatkan selanjutnya.
dilatasi pembuluh
darah sehingga R/ Merawat
perfusi jaringan 2.Rawat luka luka dengan
dapat diperbaiki dengan baik teknik aseptik,
dengan criteria dan benar : dapat menjaga
hasil membersihkan kontaminasi
1. Berkurangnya luka secara luka dan larutan
oedema sekitar abseptik yang iritatif
luka. menggunakan akan merusak
larutan yang jaringan
2. pus dan tidak iritatif, granulasi tyang
jaringan angkat sisa timbul, sisa
berkurang balutan yang balutan jaringan
menempel pada nekrosis dapat
3. Adanya luka dan menghambat
jaringan nekrotomi proses
granulasi. jaringan yang granulasi.
mati.

R/ Insulin akan
3.Kolaborasi menurunkan
No Hari/Tangg No. Tujuan/Kriteria dengan dokter kadar gula
al Diagnosa hasil untuk darah,
Keperawata pemberian Rasional
n Rencana

pemeriksaan
insulin, kultur pus
pemeriksaan untuk

30
kultur pus mengetahui
pemeriksaan jenis kuman
gula darah dan anti biotik
pemberian anti yang tepat
biotik. untuk
pengobatan,
pemeriksaan
kadar gula
darahuntuk
mengetahui
perkembangan
penyakit

3 3 Setelah R/ Untuk
dilakukan 1.Kaji tingkat, mengetahui
tindakan frekuensi, dan berapa berat
keperawatan reaksi nyeri nyeri yang
selama…x24 jam yang dialami dialami pasien.
di harapkan pasien.
Rasa nyeri R/ Pemahaman
hilang/berkurang 2.Jelaskan pada pasien tentang
dengan kriteria pasien tentang penyebab nyeri
hasil sebab-sebab yang terjadi
1.Penderita secara timbulnya akan
verbal nyeri. mengurangi
mengatakan nyeri ketegangan
berkurang/hilang pasien dan
2. Penderita dapat memudahkan
melakukan pasien untuk
metode atau diajak

31
tindakan untuk bekerjasama
mengatasi atau dalam
mengurangi nyeri melakukan
3. Pergerakan tindakan.
penderita
bertambah luas. R/
3.Ciptakan Rangasangan
lingkungan yang berlebihan
yang tenang. dari lingkungan
akan
memperberat
rasa nyeri
R/ Teknik
4.Ajarkan teknik distraksi dan
distraksi dan relaksasi dapat
relaksasi mengurangi
rasa nyeri yang
dirasakan
pasien.

R/ Posisi yang
5.Atur posisi nyaman akan
pasien membantu
senyaman memberikan
mungkin sesuai kesempatan
keinginan pada otot untuk
pasien. relaksasi
seoptimal
mungkin.

R/ Massage

32
6.Lakukan dapat
massage dan meningkatkan
kompres luka vaskulerisasi
dengan BWC dan
saat rawat luka. pengeluaran
pus sedangkan
BWC sebagai
desinfektan
yang dapat
memberikan
rasa nyaman.
R/ Obat –obat
7.Kolaborasi analgesik dapat
dengan dokter membantu
untuk mengurangi
pemberian nyeri pasien.
analgesik.
4 4 Setelah R/ Untuk
dilakukan 1.Kaji dan mengetahui
tindakan identifikasi derajat
keperawatan tingkat kekuatan otot-
selama…x24 jam kekuatan otot otot kaki
di harapkan klien pada kaki pasien.
dapat mencapai pasien.
tingkat R/ Pasien
kemampuan 2.Beri penjelasan mengerti
aktivitas yang tentang pentingnya
optimal. pentingnya aktivitas
1. Pergerakan melakukan sehingga dapat
paien bertambah aktivitas untuk kooperatif
luas menjaga kadar dalam tindakan

33
2. Pasien dapat gula darah keperawatan.
melaksanakan dalam keadaan
aktivitas sesuai normal R/ Untuk
dengan 3.anjurkan melatih otot –
kemampuan pasien untuk otot kaki
( duduk, berdiri, menggerakan sehingg
berjalan ). ekstremitas berfungsi
3. Rasa nyeri sesuai dengan baik
berkurang kemampuan
R/ Agar
4. Bantu pasien kebutuhan
dalam pasien tetap
memenuhi dapat terpenuhi
kebutuhannya
R/ Analgesik
5. Kerja sama dapat
dengan tim membantu
kesehatan lain : mengurangi
dokter rasa nyeri,
(pemberian fisioterapi
analgesik) dan untuk melatih
tenaga pasien
fisioterapi. melakukan
aktivitas secara
bertahap dan
5 benar

5 Setelah R/ Untuk
dilakukan 1.Kaji status mengetahui
tindakan nutrisi dan tentang keadaan
keperawatan kebiasaan dan kebutuhan

34
selama…x24 jam makan nutrisi pasien
di harapkan sehingga dapat
Kebutuhan nutrisi diberikan
klien dapat tindakan dan
terpenuhi dengan pengaturan diet
kriteria hasil yang adekuat.
1. Berat badan
dan tinggi badan R/ Kepatuhan
ideal 2.Anjurkan terhadap diet
2. pasien pasien untuk mencegah
mematuhi dietnya mematuhi diet terjadinya
3. kadar gula yang telah komplikasi
darah normal diprogramkan.
R/ Mengetahui
3.Timbang berat perkembangan
badan setiap berat badan
seminggu sekali pasien ( berat
badan
merupakan
salah satu
indikasi untuk
menentukan
diet).

R/ Mengetahui
4.Identifikasi apakah pasien
perubahan pola telah
makan. melaksanakan
program diet
yang
ditetapkan.

35
R/ Pemberian
5.Kerja sama insulin akan
dengan tim meningkatkan
kesehatan lain pemasukan
untuk glukosa
pemberian
insulin dan diet
diabetik.
6 6 Setelah R/ Pengkajian
dilakukan 1.Kaji adanya yang tepat
tindakan tanda-tanda tentang tanda-
keperawatan penyebaran tanda
selama…x24 jam infeksi pada penyebaran
di harapkan luka infeksi dapat
Tidak terjadi membantu
penyebaran menentukan
infeksi (sepsis). tindakan
Dengan kriteria selanjutnya
hasil
1.Tanda-tanda R/ Kebersihan
infeksi tidak ada. 2.Anjurkan diri yang baik
kepada pasien merupakan
2. Tanda-tanda dan keluarga salah satu cara
vital dalam batas untuk selalu untuk
normal ( S : 36 – menjaga mencegah
37,5 0C ) kebersihan diri infeksi kuman.
selama
3. Keadaan luka perawatan. R/ untuk
baik dan kadar 3.Lakukan mencegah
gula darah normal perawatan luka kontaminasi

36
secara aseptik luka dan
penyebaran
infeksi.

R/ Diet yang
4.Anjurkan pada tepat, latihan
pasien agar fisik yang
menaati diet, cukup dapat
latihan fisik, meningkatkan
pengobatan daya tahan
yang tubuh,
ditetapkan. pengobatan
yang tepat,
mempercepat
penyembuhan
sehingga
memperkecil
kemungkinan
terjadi
penyebaran
infeksi.

R/ Antibiotika
5.Kolaborasi dapat
dengan dokter menbunuh
untuk kuman,
pemberian pemberian
antibiotika dan insulin akan
insulin. menurunkan
kadar gula
dalam darah

37
sehingga proses
penyembuhan

7 7 Setelah R/ Untuk
dilakukan 1.Kaji tingkat menentukan
tindakan kecemasan tingkat
keperawatan yang dialami kecemasan
selama…x24 jam oleh pasien. yang dialami
di harapkan Rasa pasien sehingga
cemas perawat bisa
berkurang/hilang. memberikan
Dengan kriteria intervensi yang
hasil cepat dan tepat.
1. pasien dapat
mengindikasikan R/ Dapat
sebab kecemasan 2.Beri meringankan
2. emosi stabil kesempatan beban pikiran
3. istirahat cukup pada pasien pasien.
untuk
mengungkapkn
rasa cemasnya.
R/ Agar terbina
3.Gunakan rasa saling
komunikasi percaya antar
terapeutik. perawat-pasien
sehingga pasien
kooperatif
dalam tindakan
keperawatan.

38
R/ Informasi
4.Beri informasi yang akurat
yang akurat tentang
tentang proses penyakitnya
penyakit dan dan
anjurkan pasien keikutsertaan
untuk ikut serta pasien dalam
dalam tindakan melakukan
keperawatan. tindakan dapat
mengurangi
beban pikiran
pasien
.
R/ Sikap positif
5.Berikan dari
keyakinan pada timkesehatan
pasien bahwa akan membantu
perawat, dokter, menurunkan
dan tim kecemasan
kesehatan lain yang dirasakan
selalu berusaha pasien.
memberikan
pertolongan
yang terbaik
dan seoptimal
mungkin.
R/ Lingkungan
6.Ciptakan yang tenang
lingkungan dan nyaman
yang tenang dan dapat

39
nyaman. membantu
mengurangi
rasa cemas
pasien.

8 8 Setelah R/ Untuk
dilakukan 1.Kaji tingkat memberikan
tindakan pengetahuan informasi pada
keperawatan pasien/keluarga pasien/keluarga
selama…x24 jam tentang , perawat perlu
di harapkan penyakit DM mengetahui
Pasien dan gangren. sejauh mana
memperoleh informasi atau
informasi yang pengetahuan
jelas dan benar yang diketahui
tentang pasien/keluarga
penyakitnya. .
Dengan kriteria R/ Agar
hasil 2.Kaji latar perawat dapat
1. pasien belakang memberikan
mengetahui pendidikan penjelasan
tenrang keadaan pasien. dengan
penyakitnya menggunakan
2. pasien dapat kata-kata dan
melakukan kalimat yang
perawatan diri dapat
sendiri dimengerti
pasien sesuai
tingkat
pendidikan
pasien.

40
R/ Agar
3.Jelaskan informasi dapat
tentang proses diterima dengan
penyakit, diet, mudah dan
perawatan dan tepat sehingga
pengobatan tidak
pada pasien menimbulkan
dengan bahasa kesalahpahama
dan kata-kata n.
yang mudah
dimengerti.
R/ Dengan
4.Jelasakan penjelasdan
prosedur yang yang ada dan
kan dilakukan, ikut secra
manfaatnya langsung dalam
bagi pasien dan tindakan yang
libatkan pasien dilakukan,
didalamnya. pasien akan
lebih kooperatif
dan cemasnya
berkurang.

9 9 Setelah R/ Mengetahui
dilakukan 1.Kaji adanya rasa
tindakan perasaan/persep negatif pasien
keperawatan si pasien terhadap
selama…x24 jam tentang dirinya.
di harapkan perubahan

41
Pasien dapat gambaran diri
menerima berhubungan
perubahan bentuk dengan keadaan
salah satu anggota
anggota tubuhnya tubuhnya yang
secar positif. kurang
Dengan kriteria berfungsi secara
hasil normal
1. Pasien mau R/
berinteraksi dan 2.Lakukan Memudahkan
beradaptasi pendekatan dan dalm menggali
dengan bina hubungan permasalahan
lingkungan. saling percaya pasien.
Tanpa rasa malu dengan pasien.
dan rendah diri. R/ Pasien akan
2. Pasien yakin 3.Tunjukkan rasa merasa dirinya
akan kemampuan empati, di hargai.
yang dimiliki. perhatian dan
penerimaan
pada pasien.
R/ Dapat
4.Bantu pasien meningkatkan
untuk kemampuan
mengadakan dalam
hubungan mengadakan
dengan orang hubungan
lain. dengan orang
lain dan
menghilangkan
perasaan
terisolasi

42
R/ Untuk
5.Beri mendapatkan
kesempatan dukungan
kepada pasien dalam proses
untuk berkabung yang
mengekspresika normal.
n perasaan
kehilangan.
R/ Untuk
6.Beri dorongan meningkatkan
pasien untuk perilaku yang
berpartisipasi adiktif dari
dalam pasien.
perawatan diri
dan hargai
pemecahan
masalah yang
konstruktif dari
pasien.

1.

D. Pelaksanaan
Tindakan keperawatan merupakan langkah ke empat dalam tahap
proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan
(tindakan keperawatan) yang telah direncanakan dalam rencana tindakan
keperawatan (Hidayat. 2009).

43
Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam
rencana perawatan. Tindakan keperawatan mencakup tindakan mandiri
(independen) dan tindakan kolaborasi (wartonah,2006).
E. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap kelima dan terakhir dari proses perawatan
yang merupakan peruses penilaian pencapaian tujuan serta pengkjian ulang
rencana keperawatan. Karena kesimpulan yang didapatkan dasri evaluasi
menentukan apakah intervensi keperawatan dihentikan dilanjutkanatau
diubah.(Efendi, 2007).
Perkembangan respon klien dituangkan kedalam catatan
perkembangan klien dan diuraikan berdasarkan uraian SOAPIER:
S (subyektif) : keluhan-keluhan klien
O (obyektif) : apa yang dapat di lihat, dicium, diukur, dan
diraba.
A (analisa) : kesimpulan tentang kondisi klien.
P (plan of care) : rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi
dignosa
I (implementasi) : Tindakan yang dilakukan perawat untuk
memenuhi kebutuhan pasien
E (evaluasi) : Respon klien terhadap tindakan yang
dilakukan perawat
R (revisi) :Mengubah rencana tindakan keperawatan
yang di perlukan.

44
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall, (1998), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, EGC, Jakarta.

Doenges, E. Marylinn, dkk, (1994), Rencana Asuhan Keperawatan Dengan


Gangguan Sistem Endokrin, EGC Jakarta.

Doenges, E. Marylin, dkk, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan (edisi 3), EGC,
Jakarta.

Engram, Barbara, (1999), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, EGC,


Jakarta.

Guyton and Hall, (1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, EGC. Jakarta.

Long, C. Barbara, (1996), Perawatan Medikal Bedah , Ikatan Alumni Pendidikan


Padjajaran Bandung.

Purmoharjo, Hotma, SKp, (1994), Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan


Sistem Endokrin, EGC, Jakarta.

Price, A. Sylvia dan Lorraine M. Wilson, (1995), Patofisiologi, Edisi IV, EGC.
Jakarta.

Tjokronegoro, Arjatmo, Prof. dr. Ph.D, Hendra Utama,(1999), Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam, Edisi III, EGC. Jakarta.

45