Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH SOSIAL BUDAYA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

DISUSUN OLEH:
1.Kurniawati (135150079)
2.Atika Wulansari (135150085)
3.Mohammad Jihan Ar Rasyid (135150089
4. Made Dwi Ayu (135150096)

AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran: Yogyakarta
2015
1. Letak Geografis

DIY terletak di bagian tengah-selatan Pulau Jawa, secara geografis


terletak pada 8º 30' - 7º 20' Lintang Selatan, dan 109º 40' - 111º 0' Bujur Timur.
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Daerah Istimewa setingkat Provinsi di
Indonesia yang meliputi [Negara] Kesultanan Yogyakarta dan [Negara]
Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian
selatan Pulau Jawa bagian tengah dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah
dan Samudera Hindia. Daerah Istimewa yang memiliki luas 3.185,80 km2 ini
terdiri atas satu kota dan empat kabupaten, yang terbagi lagi menjadi 78
kecamatan dan 438 desa/kelurahan. Menurut sensus penduduk 2010 memiliki
jumlah penduduk 3.452.390 jiwa dengan proporsi 1.705.404 laki-laki dan
1.746.986 perempuan, serta memiliki kepadatan penduduk sebesar 1.084 jiwa per
km2[5].
Penyebutan nomenklatur Daerah Istimewa Yogyakarta yang terlalu
panjang menyebabkan sering terjadinya penyingkatan nomenkaltur menjadi DI
Yogyakarta atau DIY. Daerah Istimewa ini sering diidentikkan dengan kota
Yogyakarta sehingga secara kurang tepat disebut dengan Jogja, Yogya,
Yogyakarta, Jogjakarta. Walaupun memiliki luas terkecil kedua setelah Provinsi
DKI Jakarta, Daerah Istimewa ini terkenal di tingkat nasional dan internasional.
Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi tempat tujuan wisata andalan setelah
Provinsi Bali. Selain itu Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi daerah terparah
akibat bencana gempa pada tanggal 27 Mei 2006 dan erupsi Gunung Merapi pada
medio Oktober-November 2010.

2. Sejarah Provinsi DIY

Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada


Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda
tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi
Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak
Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam
perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah
daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono
Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.
Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram
(Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah
mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro,
Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu,
Wonosari, Grobogan.

Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang


bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram
yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan
beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada
tanggal 13 Maret 1755.

Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang
disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan,
sedang disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh
Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi
Ayodya. Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku
Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk
didirikan Kraton.

Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati


pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga.
Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755.
Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton
yang sedang dikerjakan.

Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru


sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan
nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan
Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah
menetap di Kraton yang baru. Peresmian mana terjadi Tanggal 7 Oktober 1756

Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan


dibangunnya Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku
Buwono I di Hutan Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai
Code dimana lokasi tersebut nampak strategi menurut segi pertahanan keamanan
pada waktu itu
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku
Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menerima piagam pengangkatan
menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi DIY dari Presiden RI,
selanjutnya pada tanggal 5 September 1945 beliau mengeluarkan amanat yang
menyatakan bahwa daerah Kesultanan dan daerah Pakualaman merupakan Daerah
Istimewa yang menjadi bagian dari Republik Indonesia menurut pasal 18 UUD
1945.  Dan pada tanggal 30 Oktober 1945, beliau mengeluarkan amanat kedua
yang menyatakan bahwa pelaksanaan Pemerintahan di Daerah Istimewa
Yogyakarta akan dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka
Paku Alam VIII bersama-sama Badan Pekerja Komite Nasional

3. Simbol
 Landasan Idiil Pancasila, digambarkan dengan bintang emas bersegi
lima (Ketuhanan Yang Maha Esa), tugu dan sayap
mengembang (Kemanusiaan yang adil dan beradab), bulatan-bulatan
berwarna merah dan putih (Persatuan Indone
sia), ombak, batu penyangga saka guru/tugu(Kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan), danpadi-kapas (Keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).
 17 bunga kapas, 8 daun kapas dan 45 butir padi adalah
lambang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
 Bulatan (golong) dan tugu berbentuk silinder
(giling) adalah lambang tata kehidupan gotong royong.
 Nilai-nilai keagamaan, pendidikan dan kebudayaan,
digambarkan dengan bintang emas bersegi lima dan
sekuntum bunga melati di puncak tugu. Bunga melati dan
tugu yang mencapai bintang menggambarkan rasa sosial
dengan pendidikan dan kebudayaan luhur serta
ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bunga melati yang sering
digunakan dalam upacara sakral mengandung nilai seni, budaya dan religius.
 Warna-warna merah putih yang dominan, serta tugu yang tegak adalah
lambang semangat perjuangan dan kepahlawanan tatanan "mirong" pada
hiasan saka guru sebagai hiasan spesifik Yogyakarta, adalah lambang
semangat membangun.
 Sejarah terbentuknya Daerah Istimewa Jogjakarta dilukiskan dengan sayap
mengembang berbulu 9 helai di bagian luar dan 8 helai di bagian dalam,
menggambarkan peranan Sri sultan Hangmengkubuwono IX dan Sri Paku
alam VIII, yang pada tanggal 5 September 1945 mengeluarkan amanatnya
untuk menggabungkan daerah Kasultanan Jogjakarta dan Kadipaten
Pakualaman menjadi Daerah Istimewa Jogjakarta.
 Warna hijau tua dan hijau muda adalah lambang keadaan alam Daerah
Istimewa Jogjakarta dilukiskan dengan karena ada bagian ngarai yang subur
dan ada daerah perbukitan yang kering.
 Candrasengkala / Suryasengkala terbaca dalam huruf jawa adalah lambang
rasa Suka Ngesthi Praja, Yogyakarta Trus Mandhiri, yang artinya dengan
berjuang penuh rasa optimisme membangun Daerah Istimewa Jogjakarta
untuk tegak selama-lamanya: rasa (6) suka (7) ngesthi (8) praja (1) tahun jawa
1876, Jogja (5) karta (4) trus (9) mandhiri (1) tahun masehi 1945, yaitu tahun
de facto berdirinya Daerah Istimewa Jogjakarta.
 Tugu yang dilingkari dengan padi dan kapas adalah lambang persatuan, adil
dan makmur.
 Ukiran, sungging dan prada yang indah adalah lambang nilai-nilai peradaban
yang luhur digambarkan secara menyeluruh berwujud.
4. Bahasa

Bahasa Jawa DIY mempunyai 5 tingkatan bahasa, yaitu:

 Bahasa sangat halus (Krama Alus)


 Bahasa halus menengah (Krama Madya)
 Bahasa halus dasar (Krama Lugu)
 Bahasa biasa tinggi (Ngoko Alus)
 Bahasa biasa dasar (Ngoko Lugu)

5. Model Komunikasi
a. Sambatan

Sambatan merupakan kegiatan gotong royong yang biasa dilakukan oleh


masyarakat Jogja. Sambatan biasanya dilakukan pada saat membangun
rumah atau hajatan. pembuatan rumah dilakukan oleh semua penduduk
dusun tersebut dari berbagai usia bagi kepala keluarga yang sedang
bermaksud membangun atau memperbaiki rumah.

b. Proksimik (kedekatan)

Kedekatan jarak masyarakat Jogja juga tampak pada fenomena tradisi


setiap penduduk yang mempunyai hajat. Penduduk di sekitar desa itu akan
selalu langsung menuju ke dapur ketika berkunjung atau ”jagong” pada
hajat tersebut. Hal itu menujukkan sifat kekeluargaan kepada sesama
anggota masyarakat, karena dengan perlakuan semacam itu, meraka
menganggap semua anggota masyarakat adalah saudara.

c. Budaya Sungkeman

Tradisi sungkeman ini menjadi ciri khas bagi masyarakat Jawa. Arti
sungkeman sendiri berasal dari kata sungkem yang bermakna bersimpuh
atau duduk berjongkok sambil mencium tangan orang tua atau
eyang.Sungkem bukannya simbol kerendahan derajat, melainkan justru
menunjukkan perilaku utama. Tujuan sungkem, pertama, adalah sebagai
lambang penghormatan, dan kedua, sebagai permohonan maaf,
ataunyuwun ngapura. Istilah ngapura tampaknya berasal dari bahasa
Arabghafura.

d. Strereotipe masyarakat jawa
Orang Jawa terkenal sebagai sukubangsa yang pekerja keras, sopan dan
halus. Tetapi mereka juga terkenal sebagai sukubangsa yang tertutup dan
tidak mau terus terang. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa
yang ingin menjaga keharmonisan atau keserasian dan menghindari
konflik, karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah
apabila terjadi perbedaan pendapat.

6. Mata pencaharian

Mata pencaharian masyarakat di Yogyakarta adalah bercocok tanam,


berdagang, kerajinan (kerajinan perak, kerajinan wayang kulit, dan kerajinan
anyaman), dan wisata. Yogyakarta lebih terkenal sebagai daerah pariwisata,
karena mempunyai banyak peninggalan budaya. Selain itu Yogyakarta juga
terkenal sebagai kota pendidikan. Karena itu sebagian masyarakat kota
mempunyai usaha rumah kost yang disewa oleh mahasiswa yang berasal dari
Yogyakarta atau dari daerah lain.

7. Pakaian Adat

Pakaian adat tradisional masyarakat


Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari
seperangkat pakaian adat tradisional yang
memiliki unsur-unsur yang tidak dapat
dipisahkan satu dengan lainnya.
Kelengkapan berbusana tersebut
merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi
pemakainya yang meliputi fungsi dan
peranannya. Oleh karena itu, cara
berpakaian biasanya sudah dibakukan
secara adat, kapan dikenakan, di mana
dikenakan, dan siapa yang mengenakannya.

8. Nilai Budaya

Upacara Labuhan : Parang Tritis, Parang Kusumo, Gunung Merapi, Gunung


Lawu, dan Dlepih Kayangan
Upacara Grebeg : Grebeg Poso pada tanggal 1 Syawal, Grebeg Besar pada
tanggal 10 Besar, Grebeg Mulud pada tanggal 12
Rabbiulawal
Upacara Saparan : Bulan Sapar di Gamping Sleman
Upacara Metri : Di semua desa di wilayah Daerah Istimewa Jogjakarta
Desa (Bersih
Desa)

9. Makanan Khas
a) Gudeg

Gudeg adalah makanan khas Jogja. Bahan baku gudeg adalah nangka
muda dimasak dengan santan kelapa, daun jati, salam, lengkuas dan
bumbu-bumbu lainnya direbus di atas tungku sekitar 100 derajat celcius
selama 24 jam. Biasanya gudeg Jogja yang komplit disajikan dengan tahu,
tempe, telur bebek, suwiran daging ayam, dan tentu saja nasi putih.
Konon, sejarah gudeg dimulai dari saat dibukanya Alas (hutan)
Mentaok untuk dibangun Kraton Mataram. Di hutan tersebut banyak
tumbuh pohon nangka, di samping itu banyak juga pohon kelapa yang
tumbuh di pinggir hutan dan tepi sungai. Alhasil dengan kreasi para
perintis Mataram terciptalah gudeg; dan menjadi menu utama masyarakat
Mataram kala itu.
Ada beberapa bahan baku gudeg antara lain gudeg manggar (bunga
pohon kelapa), gudeg nangka, dan gudeg rebung (anakan pohon bamboo
yang masih muda). Namun karena bahan baku gori atau nangka muda
lebih mudah diperoleh di kebun-kebun milik masyarakat Jogja sehingga
gudeg ini lebih mudah dijumpai di Jogja. Jaman dulu orang Jogja hanya
mengenal satu jenis gudeg, yakni gudeg basah. Gudeg kering dikenal
setelahnya, sekitar 1950-an tahun. Hal ini setelah orang-orang dari luar
Jogja mulai membawanya sebagai oleh-oleh.
Makanan ini bisa dengan mudah Anda jumpai di sepanjang Jalan
Wijilan, timur kraton Jogja. Sebagai oleh-oleh. Anda bisa memilih gudeg
kering yang tahan selama 3 hari dengan kemasannya menggunakan 
'besek' (tempat dari anyaman bambu) atau menggunakan 'kendil' (guci dari
tanah liat yang dibakar). Yang lebih unik, beberapa penjual gudeg Wijilan
ini dengan senang hati akan memperlihatkan proses pembuatan gudegnya
jika pengunjung menghendaki. Selain di Wijilan Anda pun bisa
menemukan menu ini di beberapa restoran, pasar-pasar dan banyak tempat
lainnya.
b) Pecel
Pecel adalah salah satu makanan asli Jogja yang berbahan utama daun
bayam, kecambah, kol, kangkung atau sayuran lainnya tanpa bahan
pengawet. Sayuran ini biasanya dibuat layu dengan cara direndam dalam
air panas untuk beberapa saat. Sedangkan bahan bumbu pecel antara lain
kacang tanah, cabe rawit yang dicampur dengan bahan lainnya seperti
daun jeruk purut, bawang, asam jawa, merica dan garam. Pecel lebih
nikmat dimakan dengan peyek, nasi putih, dan daging ayam atau jerohan.
Cara penyajian bisa dalam piring atau dalam daun yang dilipat yang
disebut pincuk.
Berdasarkan literatur sejarah Mataram Islam yang ditulis oleh De
Graaf memberikan bukti bahwa pecel telah ada di daerah Jogja pada abad
ke -16. Diceritakan saat itu Ki Ageng Pemanahan melakukan bedhol desa
atas perintah Sultan Hadiwijaya dari wilayah Surakarta ke Alas Mentaok.
Rombongan Ki Ageng Pemanahan dijemput Ki Gede Karanglo pinggir
Sungai Opak. Setelah sampai di kediaman Ki Gede Karanglo, mereka
dijamu makanan nasi, sayur pecel, peyek atau rempeyek kacang, dan sayur
kenikir.  Jadi keberadaan pecel di Jogja ini telah ada berabad-abad tahun
yang lalu. Saat ini makanan pecel mudah dijumpai di pasar-pasar
tradisional. Di Jogja ada  pecel yang cukup popular yaitu pecel turi
Imogiri.
c) Peyek kacang
Peyek kacang adalah makanan ringan yang berbahan baku tepung
beras dan kacang tanah dicampur dengan santan, telur dan bumbu dapur
lainnya. Makanan ini sangat popular di masyarakat Jawa umumnya  dan
Jogja khususnya. Berdasarkan literatur sejarah Mataram Islam yang ditulis
oleh De Graaf, pada abad ke-16 makanan ini sudah ada di Jogja.
Disebutkan Ki Ageng Pemanahan melakukan bedhol desa atas perintah
Sultan Hadiwijaya dari wilayah Surakarta ke Alas Mentaok. Sebelum
masuk ke Kotagede, rombongan Ki Ageng Pemanahan dijemput Ki Gede
Karanglo di pinggir Sungai Opak. Rombongan tamu diminta menyeberang
sekalian berbasuh di sungai itu, yang diyakini akan segera membuang
lelah dan penat. Selanjutnya rombongan diterima di kediaman Ki Gede
Karanglo. Makanan yang disajikan antara lain nasi, sayur pecel, peyek
atau rempeyek kacang dan sayur kenikir. Sehingga berdasarkan literature
tersebut dapat diketahui bahwa keberadaan peyek kacang memang telah
berabad-abad  di Jogja ini. Peyek ini banyak dijual di warung-warung,
pasar-pasar ataupun pusat oleh-oleh di Jogja.
Peyek yang sangat popular di Jogja adalah peyek yang dibuat dengan
cara menyusun sehingga membentuk rangkaian peyek atau sering disebut
peyek mbok tumpuk. Meski bentuknya bongkahan namun adonan
tepungnya empuk mudah dikunyah. Rasanya renyah dan gurih dengan
kacang tanah bertaburan di atasnya
d) Jadah tempe (burger ala Kaliurang)
Jadah Tempe banyak terdapat di obyek wisata Kaliurang dan menjadi
ikon makanan khas daerah ini. Jadah tempe terdiri dari dua makanan,
yakni jadah dan tempe. Jadah terbuat dari ketan yang dikukus dengan
diberi santan kelapa, sebagai rangkaiannya adalah tempe bacem. Tempe
merupakan penganan terbuat dari kedelai pada umumnya disajikan dengan
cara dibacem yaitu dikukus dengan air kelapa yang dibumbui gula jawa.
Rasa jadah yang sangat gurih dan liat (tidak keras) digigit dan dikunyah
bersamaan dengan tempe bacem yang manis sangat lezat rasanya. Akan
lebih sensasional disantap dengan cabe rawit! Sangat pas di lidah
e) Yangko
Makanan khas daerah Kotagede ini terbuat dari bahan beras ketan,
daging kelapa  muda, dan gula. Yangko  merupakan makanan ringan yang
rasanya manis dan sangat tepat dijadikan oleh-oleh atau buah tangan.
Makanan ini mudah ditemukan di daerah Kotagede bagian selatan kota
Yogyakarta. Menurut sumber setempat yangko mulai diproduksi di
Kotagede sejak tahun 1920-an. Proses pembuatan yangko tidak terlalu
rumit. Hanya saja dibutuhkan ketekunan, ketelitian, dan keterampilan.
Yangko memiliki kekhasan rasa. Kecuali rasa manis yang dominan, di
dalam yangko Anda juga bisa merasakan wangi aromanya. Bentuknya
yang kecil menyebabkan kita tidak cepat ketika menyantapnya. Nuansa
kenyil-kenyil ketika Anda mengunyahkan mengundang sensasi
kenikmatan tersendiri.
f) Kipo
Kipo merupakan makanan khas Kotagede yang terbuat dari beras
ketan, berisi enten-enten atau parutan kelapa dicampur dengan gula jawa.
Bentuknya bulat lonjong kecil-kecil dengan penyajiannya selalu ditaruh di
atas daun pisang. Rasanya manis, gurih dan lezat. Warnanya yang
kehijauan bukan dari zat pewarna, tetapi alami dari daun pandan. Nama
kipo sendiri berasal ari singkatan “iki opo’ yang berarti “ini apa”. Yang
memberi nama sekaligus pembuat pertama makanan ini adalah Bu Djito
yang berdomisili di Kotagede. Tahun 1960-an beliau membuat makanan
untuk dijual di warungnya. Saat itu makanan ini belum ada namanya.
Ketika banyak pembeli melihat makanan unik ini kemudian mereka
bertanya “Iki Opo?’ Selanjutnya Bu Djito memberi nama makanan
buatannya itu dengan nama Kipo.
g) Geplak
Geplak adalah makanan khas Bantul, Yogyakarta. Makanan ini
rasanya sangat manis, terbuat dari kelapa muda yang diparut kemudian
dicampur dengan gula selanjutnya disangrai. Bentuknya ada yang bulat-
bulat ada juga lonjong tidak beraturan. Waktu memasak yang lama
membuat makanan ini menjadi awet dan tahan lama meski tanpa bahan
pengawet.
h) Bakpia
Bakpia Pathok adalah makanan khas Jogja yang bahan dasarnya
adalah tepung, kacang hijau dan gula. Rasa manis dan legit tercipta dari isi
kacang hijau yang berpadu dengan gula. Sedangkan rasa gurihnya berasal
dari kulit bakpia yang merupakan adonan tepung yang dicampur dengan
minyak nabati yang dipanggang. Anda akan  dapat dengan mudah
mendapatkannya di sepanjang jalan Pathok, sekarang bernama Jl. KS.
Tubun.
Makanan ini tidak sepenuhnya asli Jogja namun pengaruh dari China.
Di China namanya Tou Lu Pia (berasal dari dialek Hokkian) yang berarti
kue berisi daging. Namun bakpia yang di Jogja ini telah beradaptasi rasa
dengan  lidah lokal dengan isinya bukan daging tetapi kacang hijau.

10. Hasil Karya Manusia

Yogyakarta mempunyai beberapa hasil karya manusia , antara lain :

a) Batik di Kota Yogyakarta

b) Kerajinan Perak di Kotagede

c) Mebel di Pajangan (Kabupatan Bantul) dan Putat (Kabupaten Gunung


Kidul)

d) Kerajinan bambu bisa ditemui di Minggir, Kabupaten Sleman; Munthuk


Kabupaten Bantul; dan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul. 

e) Kerajianan gerabah terletak di Kasongan dan Pundong di Kabupaten


Bantul.

11. Pariwisata

a) Zona 1 Wilayah Sleman Utara di daerah lereng Gunung Merapi

Obyek Wisata Wisata alam dan pegunungan

Hutan wisata Kaliurang, bumi perkemahan, tempat pendakian, pemandian,


taman rekreasi anak-anak

b) Zona 2 Wilayah Sleman bagian Timur dan Gunungkidul bagian Utara

Obyek Wisata Wisata peninggalan purbakala

Candi-candi (Hindu dan Budha); situs purbakala

c) Zona 3 Wilayah (sebagian) Kabupaten Bantul dan (sebagian) Kabupaten


Gunungkidul

Obyek Wisata Wisata pendidikan dan alam pantai


Hutan Wanagama, Hutan Rancang Kencono, Goa Ngglanggeran, Pantai
Baron-Kukup-Krakal, Pantai Wediombo

d) Zona 4 Wilayah (sebagian) Kabupaten Bantul

Obyek Wisata Wisata rekreasi dan budaya di pantai

Pantai Parangtritis, Goa Langse)

e) Zona 5 Wilayah Kabupaten Kulonprogo bagian Selatan dan (sebagian)


Kabupaten Bantul

Obyek Wisata Wisata budaya, alam pantai, olahraga pantai

Pantai Congot, Pantai Glagah, Pantai Samas, Goa Selarong

f) Zona 6 Wilayah Kabupaten Kulonprogo bagian barat

Obyek Wisata Wisata alam, dan spiritual

Goa Kiskendo, Sendangsono, Pegunungan Samigaluh, Pegunungan


Kalibawang

Secara lebih terperinci, obyek-obyek tersebut digolongkan dalam tiga


kategori, (1) Obyek Wisata Alam, yang berupa obyek wisata pantai,
pegunungan, dan goa, (2) Obyek Wisata Sejarah, yang berupa peninggalan
sejarah kerajaan, petilasan, pemakaman, candi, dan lain sebagainya.
Sebagai contoh, Kraton Yogyakarta, Tamansari (Water Castle); Makam
Imogiri (makam raja-raja Mataram); Candi Prambanan, Candi Kalasan,
Petilasan Ratu Boko, dan lain-lain, (3) Obyek Wisata Budaya, yaitu
berupa obyek budaya publik yang sampai kini masih terpelihara, baik
yang berujud kesenian maupun adat istiadat, seperti Sendratari Ramayana,
Wayang Kulit, Wayang Golek, Sekaten, Grebeg Maulud, Grebeg Syawal,
Grebeg Besar, dan Labuhan.

Di samping itu ada beberapa potensi obyek wisata yang masih dalam
pengembangan yang tersebar di setiap Dati II, yaitu :

Obyek Wisata Alam

a) Kabupaten Bantul
Goa Selarong, Pantai Pandansimo, Pantai Pandanpayung, Pantai
Samas, Gunung Pasirlanang, Pantai Parangtritis, Pantai
Parangkusumo, Pantai Parangwedang.

b) Kabupaten Kulonprogo

Goa Kiskendo, Pegunungan Samigaluh, Gunung Gajah, Sendangsono,


Pantai Congot, Pantai Pasir Mendit, Pantai Dukuh Bayeman, Pantai
Palihan, Pantai Glagah, Pantai Dukuh Trukan, Pantai Pandan Segegek

c) Kabupaten Gunungkidul

Goa Girijati, Goa Langse, Goa Grengseng, Goa Ngluaran, Goa Parang
Kencono, Pemandangan Ereng, Gunung Batur, Gunung Gambar,
Lokasi Olahraga Layang Gantung (bukit Kecamatan Pathuk dan
Kecamatan Panggang); Hutan pendidikan Wabagama, Hutan Bunder,
Pantai Langkap, Pantai Butuh, pantai Baron, Pantai Slili, Pantai
Krakal, Pantai Sungap, Pantai Wediombo, Pantai Sadeng, Pantai
Ngongap

d) Kabupaten Sleman

Lereng Gunung Merapi 

Obyek Wisata Buatan

a) Kotamadya Yogyakarta

Benteng Vrederburg, peninggalan-peninggalan kraton seperti


Panggung Krapyak, Kraton Pakualaman, Makam Kotagede

b) Kabupaten Bantul

Makam Imogiri

c) Kabupaten Gunungkidul

Situs Sokoliman, Situs Mangunan, Situs Beji, Situs Ngluweng,


Candirejo, Candi Risan

d) Kabupaten Sleman
Candi Gebang, Candi Sambisari, Candi Banyunibo, Petilasan Ratu
Boko, Candisari Sokogedhug, Candi Ijo, Candi Prambanan, Candi
Kalasan 

12. Kesenian Khas


a. Kethoprak

Kethoprak adalah kesenian tradisional di Yogyakarta yang


dipentaskan dalam bahasa Jawa. Bercerita tentang sejarah sampai cerita
fantasi dan didahului dengan tembang Jawa. Kostum dari pemain ketoprak
menyesuaikan dengan adegan dan jalan cerita serta selalu diiringi dengan
irama gamelan dan keprak.

b. Wayang kulit
Sesuai dengan namanya, wayang kulit biasanya dibuat dari kulit
kerbau atau kulit lembu. Wayang kulit saat ini telah menjadi warisan
budaya nasional dan sudah sangat terkenal di dunia sehingga banyak
orang asing yang datang dan mempelajari seni perwayangan. Sampai saat
ini wayang kulit  tetap digemari sebagai tontonan yang menarik, biasanya
disajikan semalam suntuk.

c. Wayang wong
Sesuai dengan namanya juga, wayang wong adalah wayang yang
diperankan oleh manusia. Ceritanya juga hampir sama dengan cerita-cerita
pada wayang kulit namun dalangnya disamping sebagai piñata cerita tetapi
juga sekaligus sebagai sutradara di atas panggung.

d. Wayang golek
Berbeda dengan wayang kulit dan wayang wong, wayang golek
adalah wayang yang terbuat dari dari kayu. ceritanya berasal dari kisah
Menak. Wayang ini banyak disukai karena gerakan-gerakan wayang yang
didandani seperti manusia ini sangat mirip dengan gerakan orang.

13. Potensi Daerah


 Ekonomi Kreatif
Kerajinan kulit : Manding Bantul
Kerajinan bambu : Minggir, Mlati Sleman
Kerajinan gerabah : Kasongan Bantul
Kerajinan mebel : Pajangan Bantul

 Pertanian
Salak pondoh : Turi, Sleman

Sawo kecik : Bantul

Manggis : Kulon Progo

 Wisata

Sejarah : Museum, Candi Prambanan, Candi Ratu Boko,dll

Wisata alam : Gunung Merapi, Gunung Api Purba, dll

Rekreasi Keluarga : Gembira Loka, Kids Fun, dll