Anda di halaman 1dari 4

Jawaban UTS Evaluasi Pembelajaran Fisika

Nama : Langgeng Kanugrahan


NPM : 172153008
Mata Kuliah : Evaluasi Pembelajaran Fisika

1. Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai “the process


of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision
alternatives," Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan
menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.
Penilaian (assessment) adalah proses sistematis meliputi pengumpulan informasi
(angka atau deskripsi verbal), analisis, dan interpretasi untuk mengambil keputusan.
Sedangkan penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi
untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Untuk itu, diperlukan data
sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Pengukuran (measurement) adalah proses membandingkan sesuatu melalui suatu
kriteria baku (meter, kilogram, takaran dan sebagainya), dan pengukuran bersifat
kuantitatif. Jika dikaitkan dengan masalah pembelajaran maka pengukuran
(measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik
dari suatu tingkatan di mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.
Evaluasi yang baik harus terdiri atas kegiatan pengukuran dan penilaian. kegiatan
evaluasi harus melibatkan kedua hal tersebut karena tujuan evaluasi adalah
mendeskripsikan kemampuan belajar para pelajar, dalam usaha mendeskripsikan belajar
para pelajar seorang penddik harus mempunyai dan menetapkan satuan penilaian yang
sesuai sehingga mudah dipahami oleh orang lain. Dalam sebuah nilai  ada standar yang
menjadi acuan bagi hasil belajar pelajar dengan skor tertinggi yang menyatakan sangat
baik, baik dan cukup. Dan dalam evaluasi ini terdapat  judgement  yang digunakan untuk
menentukan nilai suatu program yang mengandung unsur subjektif. Dan evaluasi ini
memerlukan data sebagai  hasil pengukuran serta terdapat informasi dari hasil penilaian
yang memiliki banyak kategori seperti kemampuan kreativitas, sikap dan minat,
keterampilan dan lain sebagainya.
2. Pengetahuan mengenai daya serap begitu penting dalam pelaksanaan evaluasi
karena daya serpa siswa merupakan aspek dasar yang harus diktahui oleh guru sebelum
melanjutkan pada materi sebelumnya, hal ini agar tidak terjadi kesenjangan yang terlalu
jauh antar siswa dan hal ini pun sangat penting dalam melanjutkan materi pembelajaran.
Jika saja seorang guru lebih menitikberatkan pada penyelesaian kurikulum dibandingkan
dengan daya serap siswa maka sangat dimungkinkan akan terjadi kesenjangan yang
signifikan antara siswa yang memiliki daya serap tinggi dan siswa yang memiliki daya
serap rendah. oleh karena itu, untuk menghindari kesenjangan tersebut sebagai salahsatu
alternative dalam penentuan langkah kebijakan dalam evaluasi pendidikan adalah dengan
mengubah metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru, yaitu melibatkan siswa yang
mempunyai daya serap tinggi menjadi tutor bagi teman sekelasnya yang mempunyai daya
serap tinggi. Sehingga dengan metode ini diharapkan setiap siswa memiliki pengalaman
belajar yang berbeda serta menerapkan system belajar social learning dan memudahkan
dalam pengambilan kebijakan ketika dilaksanakan evaluasi.
3. Evaluasi harus dilakukan secara berkesinambungan karena evaluasi merupakan
rangkaian dari proses pendidikan yang dilaksanakan, evaluasi tidak boleh dilaksanakan
hanya sementara, jika evaluasi dilaksanakan sementara dan tidak ada tindak lanjut maka
tidak akan diketahui sejaumana perkembangannya dan sejauhmana prospek serta
program yang telah berjalan sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah ditetapkan.
Evaluasi yang dilaksanakan secara berkesinambungan berfungsi pula untuk
meningkatkan kualitas kinerja serta kualitas proses pembelajaran baik bagi siswa, tenaga
pendidik dan sebagai landasan untuk menetukan kebijakan bagi Pimpinan Lembaga
Pendidikan/Kepala Sekolah. Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan
satuan pendidikan dalam mengelola proses pembelajaran. Evaluasi merupakan bagian
yang penting dalam pembelajaran. Dengan melakukan evaluasi, pendidik sebagai
pengelola kegiatan pembelajaran dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki peserta
didik, ketepatan metode mengajar yang digunakan, dan keberhasilan peserta didik dalam
meraih kompetensi yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil penilaian, pendidik dapat
mengambil keputusan secara tepat untuk menentukan langkah yang harus dilakukan
selanjutnya. Hasil penilaian juga dapat memberikan motivasi kepada peserta didik untuk
berprestasi lebih baik.
4. Kriteria Ketuntasan Minimal merupakan bentuk penilain yang memiliki standar
tertentu pada suatu pada mata pelajaran yang senantiasa disesuaikan dengan kemampuan
atau daya serap siswa terhadap materi yang diajikan dalam proses pembelajaran ini.
Dalam menentukan KKM biasanya terdapat beberapa hal yang perlul diperhatikan oleh
pendidik, diantara adalah; tingkat pemahaman siswa, bobot materi dan soal, waktu
pembelajaran, aspek-aspek penilaian, dan penilaian tersebut merupakan akumulasi dari
penilaia terhadap domain afektif, kognitif dan psikomotor. Jadi, ketika menentukan KKM
ini yang paling penting adalah daya serap siswa terhadap materi yang disajikan oleh guru
serta usaha siswa dalam memahami materi tersebut (self assessment).
5. Taksonomi Bloom ranah kognitif merupakan salah satu kerangka dasar untuk
pengkategorian tujuan-tujuan pendidikan, penyusunan tes, dan kurikulum. Tingkatan
taksonomi Bloom yakni: (1) pengetahuan (knowledge); (2) pemahaman (comprehension);
(3) penerapan (application); (4) analisis (analysis); (5) sintesis (synthesis); dan (6)
evaluasi (evaluation). Tingkatan-tingkatan dalam taksonomi tersebut telah digunakan
hampir setengah abad sebagai dasar untuk penyusunan tujuan-tujuan pendidikan,
penyusunan tes dan kurikulum. Revisi dilakukan terhadap Taksonomi Bloom, yakni
perubahan dari kata benda (dalam Taksonomi Bloom) menjadi kata kerja (dalam
taksonomi revisi). Perubahan ini dibuat agar sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.
Tujuan-tujuan pendidikan mengindikasikan bahwa siswa akan dapat melakukan sesuatu
(kata kerja) dengan sesuatu (kata benda). Revisi dilakukan oleh Kratwohl dan Anderson,
taksonomi menjadi: (1) mengingat (remember); (2) memahami (understand); (3)
mengaplikasikan (apply); (4) menganalisis (analyze); (5) mengevaluasi (evaluate); dan
(6) mencipta (create).
6. Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam
mengkomunikasikan disiplin akademik, pemahaman, dan penyusunan dimensi
pengetahuan secara sistematis. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang
yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi
ke aplikasi lain. Sedangkan Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan
klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit, dalam bentuk
pengetahuan yang tersusun. Seperti, skema, model mental, atau teori implisit atau
eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda.
Karena metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak
diketahui. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran
mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. Apabila kesedaran ini wujud,
seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang, memantau dan menilai apa
yang dipelajari. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian
umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri

7. Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan
peserta didik dalam melakukan suatu pekerjaan/tugas. Penilaian sikap adalah penilaian
terhadap kecenderungan perilaku peserta didik sebagai hasil pendidikan, baik di dalam
kelas maupun di luar kelas.
Penilaian proyek adalah penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan dalam
periode/waktu tertentu. Tugas berupa suatu investigasi sejak pengumpulan,
pengorganisasian, pengevaluasian hingga penyajiaa data. Penilaian proyek ini dilakukan
sejak perencanaan, proses selama pengerjaan tugas, sampai hasil akhir proyek.
Penilaiannya dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek atau skala rentang.
Penilaian produk adalah penilaian terhadap keterampilan siswa dalam menggunakan alat
serta prosedur kerja dalam menghasilkan suatu produk (karya); dan aspek kualitas teknis
dan estetik produk (karya) tersebut. Tidak hanya diperoleh dari hasil akhir, namun juga
proses pembuatannya.
Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja siswa.Hasil kerja itu sering disebut artefak.
Artefak-artefak itu dihasilkan dari pengalaman belajar atau proses pembelajaran siswa
dalam periode waktu tertentu. Artefak-artefak itu diseleksi dan disusun menjadi satu
portofolio. Dengan kata lain, portofolio adalah suatu koleksi pribadi hasil pekerjaan
seorang siswa (bersifat individual) yang menggambarkan (merefleksi) taraf pencapaian,
kegiatan belajar, kekuatan, dan pekerjaan terbaik siswa tersebut.
8. Skala Interval merupakan skala pengukuran yang bisas digunakan untuk menyatakan
peringkat untuk antar tingkatan. Jarak atau interval antar tingkatan pun sudah jelas, hanya
saja tidak memiliki nilai 0 (nol) mutlak. Sedangkan skala rasio adalah skala pengukuran
yang ditujukan pada hasil pengukuran yang bisa dibedakan, diurutkan, memiliki jarak
tertentu, dan bisa dibandingkan. Skala rasio merupakan tingkatan skala paling tinggi dan
paling lengkap dibanding skala-skala lainnya. Jarak atau interval antar tingkatan sudah
jelas, dan memiliki nilai 0 (nol) yang mutlak. Nilai nol mutlak berarti benar-benar
menyatakan tidak ada.
Contoh Skala Interval
Contoh pertama, contoh yang paling umum pada skala interval adalah suhu. Misalkan
suatu ruangan memiliki suhu 0C, ini bukan berarti bahwa ruangan tersebut tidak ada
suhunya. Angka 0C disini merupakan suhu, hal ini dikarena pada skala interval 0 (nol)
bukanlah nilai yang mutlak.
Contoh kedua, jam 00.00 bukan berarti waktunya kosong atau tidak ada nilainya, karena
jam 00.00 sendiri masih menunjukkan waktu dimana jam 00.00 sama dengan jam 12
malam.
Contoh Skala Rasio
Contoh pertama, misal tinggi badan Agung adalah 190 cm sedangkan tinggi badan
Vatinson adalah 95 cm. Pada situasi ini dapat dikatakan bahwa jarak tinggi badan
Vatinson dengan Agung adalah 95 cm. Bisa juga dikatakan bahwa tinggi badan Agung 2
kali tinggi badan Vatinson.
Contoh kedua, misalkan nilai ujian matematika Tono adalah 50, sedangkan nilai Toni
adalah 100. Ukuran rasionya dapat dinyatakan bahwa nilai Toni adalah 2 kali nilai Tono.
9.