Anda di halaman 1dari 55

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Typus Abdominalis masih merupakan penyakit endemik di Indonesia. Penyakit ini
termasuk penyakit menular yang dapat menular pada siapa saja dan menyerang banyak
orang sehingga dapat menimbulkan wabah.
Typhus Abdominalis terdapat di seluruh dunia dan penyebarannya tidak tergantung
pada iklim, tetapi lebih banyak di jumpai pada negara-negara berkembang di daerah
tropis. Penyakit ini disebabkan oleh Salmonella Thyphosa dan hanya didapatkan pada
manusia, penularan penyakit ini hampir selalu terjadi melalui makanan dan minuman
yang terkontaminasi, biasanya Thypus Abdominalis dialami oleh seseorang yang
kurang menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar (T.H. Rampengan, 46 : 2007).
Beberapa literatur menyebutkan bahwa penyakit in dapat mengenai siapa saja, tidak
ada perbedaan mengenai jenis kelamin antarara laki-laki dan perempuan. Umumnya
enyakit ini sering di derita anak-anak. Sedangkan orang dewasa sering mengalami
dengan gejala yang tidak khas, kemudian menghilang dan sembuh sendiri ( Depkes,
2007 ).
Profil pengendalian penyakit dan penyebaran lingkungan pada tahun 2007,
melaporkan bahwa Thypus Abdominalis menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hal ini
dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian karena Thypus Abdominalis.
Angka kesakitan Thypus Abdominalis adalah 500/100.000 penduduk, dengan kematian
0,65%. Masalah Thypus Abdominalis di Indonesia disebabkan antara lain karena faktor
kebersihan ( makanan, kebersihan pribadi maupun lingkungan ), maupun masalah klinis
seperti koinfeksi dengan penyakit lain, resistensi antibiotika, serta belum adanya vaksin
yang efektif ( Depkes, 2007 ).
Thypus Abdominalis merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan
gejala demam satu minggu atau lebih dan disertai gangguan pada saluran pencernaan
dengan atau tanpa gangguan kesadaran. (Rahayuningsih,110:2010). Lain halnya
menurut (Smeltzer, 2001)

1
Penyakit Thypus Abdominalis ditularkan oleh Salmonella Thypii yang dapat
ditularkan berbagai cara yang dikenal dengan 5F yaitu Food ( makanan ), Fingers
(jari tangan/ kuku ), Fly ( lalat ), Fomitus ( muntah ), dan Feses. Organisme
Salmonella Thypi ini masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi
oleh feses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman Salmonella.
Data rekam medis tahunan kunjungan rawat inap penyakit Thypus
Abdominalis di RSUD Ungaran pada orang dewasa nyatanya masih banyak
ditemukan Pada tahun 2010 terdapat 129 penderita. Dimana penderita perempuan
lebih banyak di banding dengan penderita laki-laki yakni 58,9% sedangkan
penderita laki-laki sebanyak 41,1 % dan mengalami penurunan penyakit pada
tahun 2011 namun masih di dominasi oleh perempuan yaitu 60,4% dan penderita
laki-laki 39,6%.
Dengan adanya jumlah pasien yang mempunyai kasus seperti ini penulis
tertarik untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang kasus Thypus Abdominalis dan
bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada penderita Thypus
Abdominalis.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Setelah melakukan asuhan keperawatan Thypus Abdominalis
diharapkanmengetahui gambaran pengelolaan pasien dengan Thypus
Abdominalis serta mampu mengaplikasikan asuhan keperawatan pada pasien
Thypus Abdominalis.
2. Tujuan khusus
Tujuan khusus dalam penulisan karya tulis ilmiah ini antara lain:
a. Penulis mampu menemukan data fokus selama melakukan asuhan
keperawatan pada Ny. F dengan penyakit Thypus Abdominalis.
b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan selama melakukan
asuhan keperawatan pada Ny. F dengan penyakit Thypus Abdominalis.

2
c. Penulis mampu menetapkan rencana keperawatan selama melakukan asuhan
keperawatan pada Ny. F dengan penyakit Thypus Abdominalis.
d. Penulis mampu melakukan tindakan keperawatan sesuai rencana
keperawatan selama melakukan asuhan keperawatan pada Ny. F dengan
penyakit Thypus Abdominalis.
e. Penulis mampu mengevaluasi tindakan keperawatan untuk mengatasi
masalah keperawatan selama melakukan asuhan keperawatan pada Ny. F
dengan penyakit Thypus Abdominalis.

C. Manfaat

1. Bagi Institusi Rumah Sakit Memberikan informasi kepada rumah sakit


selaku pemberi pelayanan kesehatan mengenai penyakit Typus Abdominalis
2. Bagi Institusi Pendidikan Sebagai informasi lebih lanjut dalam memberikan
asuhan keperawatan pada klien mengenai gastroenteritis.
3. Bagi keluarga Dapat digunakan sebagai ilmu pengetahuan dan mampu
memahami tentang penyakit Typus Abdominalis dan yang bisa dilakukan
keluarga untuk menanganinya.
4. Bagi peneliti Meningkatkan wawasan, pengetahuan serta sikap didalam
memberikan asuhan keperawatan pada klien Typus Abdominalis untuk
mempercepat proses penyembuhan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

3
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM


PENCERNAAN PADA KASUS TYPUS ABDOMINALIS

2.1 Konsep Dasar Penyakit

2.1.1 Definisi

Thypoid adalah penyakit infeksi akut usus halus (Suparman, 2007).

Thypoid adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh salomella thypy

atau salmonella paratipi A,B dan C (Ngastiyah, 2005).

Thypoid adalah suatu penyakit infeksi pada usus yang menimbulkan

gejala sistemik yang disebabkan oleh Salmonella Thyposa, Salmonella

Parathyfy A, B dan C. (Suparman, 2003).

Demam Thypoid adalah suatu penyakit infeksi akut usus halus yang

menimbulkan gejala sistemik yang disebabkan oleh kuman Salmonella

Thyposa. Penularannya terjadi secara fekal oral melalui makanan dan

minuman yang terkontaminasi (Junaidi, 2003).

Thypus Abdominalis adalah infeksi berat pada usus, yang menyebabkan

tubuh kehilangan cairan dan bahan mineral dalam jumlah banyak. Thypus

Abdominalis disebabkan oleh bakteri Salmonella Thyposa atau sejenis

bakteri lain yang hampir sejenis. Penularannya bisa melalui kontak antara

manusia atau melalui makanan yang masuk kedalam tubuh seperti susu, dan

air minum yang tidak bersih. (Ngastiyah, 2005).

4
2.1.2 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan

1. Anatomi Sistem Pencernaan

Gambar 2.1. Anatomi Sistem Pencernaan (Price, 2005).

a. Anatomi Usus Halus

Usus halus ( intestinum minor ) merupakan bagian dari sistem

perncernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada

sekum, panjangnya ± 6 m, dan merupakan saluran pencernaan yang

paling panjang dari tempat proses pencernaan dan absorbsi pencernaan.

5
Bentuk dan susunannya berupa lipatan-lipatan melingkar. Makanan

dalam instetinum minor dapat masuk karena adanya gerakan yang

memberikan permukaan yang lebih halus, banyak jonjot-jonjot tempat

absorbsi dan memperluas permukaannya. Pada ujung dan pangkalnya

terdapat katub. Intestenum minor terletak dalam rongga abdomen dan

dikelilingi oleh susu halus ( Evelyn, 2005 ).

1) Lapisan Usus Halus

a) Tunika Mukosa

Lapisan ini banyak memiliki lipatan yang membentuk plika

sirkulasi dan villi intestinal ( jonjot – jonjot ) yang selalu bergerak

karena pengaruh hormon jaringan villi kinnin. Villi ini banyak

mengandung pembuluh darah dan limfe. Pada bagian ini terjadi

penyerapan lemak yang telah diemulsi. (Asih, 2003).

b) Tunika Propia

Pada bagian dalam dari tunika mukosa terdapat jaringan

limfoid nodula limpatis dalam bentuk sendiri – sendiri dan

berkelompok. Tiap ± 20 nodula limpatisi. Kumpulan ini disebut

pleque peyeri yang merupakan tanda khas dari illium. Pada

penyakit Thypus Abdominalis, pleque peyeri ini sering meradang

karena infasi kuman Salmonella Thyposa. (Asih, 2003).

c) Tunika Submukosa

Pada lapisan ini terdapat anyaman pembuluh darah syaraf

yang merupakan anyaman saraf simpatis. (Asih, 2003).

6
d) Tunika Muskularis

Lapisan ini terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan otot sirkuler

dan otot longitudinal. Diantara keduanya terdapat anyaman

serabut yang disebut pleksus mienterikus Auerbachi. (Asih,

2003).

e) Tunika Serosa

Lapisan ini meliputi seluruh jejenum dan ileum. (Asih, 2003).

2) Struktur Usus Halus

a) Duodenum

Bentuknya melengkung seperti kuku kuda. Pada lengkungan

ini terdapat pancreas. Pada bagian kanan duedenum terdapat

bagian yang membuka tempat bermuaranya saluran empedu

(duktus kolekdukus) dan saluran pancreas (duktus pankreatikus)

yang dinamakan papila vateri. Dinding duedenum mempunyai

lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar Brunner

memproduksi getah intestinum. (Asih, 2003).

b) Jejenum

Panjangnya 2-3 meter, berkelok-kelok, terdapat disebalah kiri

atas intenium minor dengan perantaraan lipatan peritonium yang

membentuk kipas (masentrium). Akar mesentrium

memungkinkan keluar masuknya arteri dan vena mesentrika

superior dan pembuluh limfe dan saraf keruang antara lapisan

7
peritonium yang membentuk mesentrium. Penampang jejenum

yang lebar, dindingnya lebih tebal dan banyak mengandung

pembuluh darah. (Asih, 2003).

c) Ileum

Ujung batas antara illeum dan jejenum tidak jelas, panjangnya

± 4-5 meter. Ileum merupakan usus halus yang terletak disebalah

kanan bawah yang berhubungan dengan sekum perantaraan

lubang yang disebut orifisum ileosekalis yang diperkuat oleh

sfingter dan dilengkapi oleh sebuah katub valvula ceices (valvula

bauchini) yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam kolon

asenden agar tidak masuk kembali kedalam ileum. (Asih, 2003).

d) Mukosa usus halus

Mukosa usus halus merupakan permukaan yang sangat halus.

Lipatan mukosa dan mikrovili memudahkan pencernaan dan

absorbsi. Lipatan ini dibentuk oleh mukosa yang dapat

memperbesar permukaan usus halus. Membran mukosa berupa

lipatan sirkuler dan semi sirkuler (spiral) yang seluruh

permukannya terdapat berjuta – juta villi yang ditutupi oleh

selapis sel yang mengandung pembuluh darah, yaitu pembuluh

darah limfe dan saraf. Penampang melintang villi dilapisi oleh

epitel dan kripta yang menghabiskan bermacam-macam hormon

jaringan dan enzim yang memegang peranan penting dalam

proses pencernaan. (Asih, 2003).

8
Pada mukosa usus halus terdapat sekresi kelenjar Brunner

dan kelenjar intestinal. Kelenjar Brunner (dalam duodenum)

menghasilkan mucus dan larutan NaHCO3 dengan pH 7,5

mengandung enzim dan melindungi mukosa duoedenum dari

keaktifan asam lambung dan pepsin. Sekresi kelenjar ini

dirangsang oleh saraf (nervus vagus). Kelenjar intestinal

menghasilkan sukus entrikus, enzim enteropeptidase, disakarida,

peptidase, fosfatase alaklis, mukus dan cairan isotonik dengn pH

(Evelyn, 2005).

2. Fisiologi Sistem Pencernaan

Usus halus dan kelenjarnya merupakan bagian yang sangat

penting dari saluran pencernaan karena disinilah terjadinya proses

pencernaan yang terbesar dan penyerapan ± 85% dari seluruh

absorbsi.

Fungsi usus halus sebagai berikut:

a. Mensekresi cairan usus untuk menyempurnakan pengolahan zat

makanan di usus halus.

b. Menerima cairan empdeu dan pancreas melalui duktus koledukus

dan duktus pankreatikus.

c. Mencerna makanan. Getah usus dan pancreas mengandung enzim

yang mengubah protein menjadi asam amino, kerbohidrat

menjadi glukosa, lemak menjadi asam lemak dan gliserol.

Dengan bantuan garam empedu, getah usus dan pankreas masuk

9
ke duodenum. Makanan disempurnakan oleh kontraksi kelenjar

empedu pencernaan. Zat makanan dipecah menjadi bentuk-bentuk

yang lebih sederhana yang dapat diserap melalui dinding usus

halus kedalam aliran darah dan limfe. (Ngastiyah, 2005).

d. Mengabsorbsi air garam dan vitamin, protein dalam bentuk asam

amino dan karbohidrat dalam bentuk monoksida. Makanan yang

telah diserap akan terkumpul didalam vena – vena halus

kemudian berkumpul dalam vena yang besar, bermuara kedalam

vena porta, dan langsung dibawa kehati. Disamping itu, ada juga

yang melalui sistem saluran limfe. Dari saluran limfe yang besar

(duktus torasikus) dan masuk kedalam vena jugularis. (Ngastiyah,

2005).

e. Menggerakkan kandungan usus sepanjang usus halus oleh

kontraksi segmental pendek dan gelombang cepat yang

menggerakkan kandungan usus sepanjang usus menjadi lebih

cepat. (Ngastiyah, 2005).

10
2.1.3 Etiologi

Etiologi Typhoid adalah Salmonella Typhi. Salmonella Para Typhi A. B

dan C. ada dua sumber penularan Salmonella Typhi yaitu pasien dengan

demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh

dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja

dan air kemih selama lebih dari 1 tahun. (Ngastiyah, 2005).

2.1.4 Tanda dan Gejala

1. Minggu pertama keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut

pada umumnya; demam, nyeri, kepala pusing dan sakit, nyeri otot,

anoreksia, mual, muntah, obstipasi, atau diare, perasaan tidak enak diperut,

batuk dan epistaksis. (Mansjoer, 2005).

2. Minggu kedua gejala menjadi lebih berat berupa demam, bradikardi relatif,

lidah yang khas, kotor ditengah, tepi ujung merah serta tremor,

hepatomegali, splenemegali, meteorismus, gangguan mental berupa

samnollen, stupor, koma, delirium atau psikosis. (Mansjoer, 2005).

3. Pada awal minggu ketiga ditandai dengan diare mirip bubur, yang diiringi

perdarahan usus dan luka pada usus (Mansjoer, 2005).

2.1.5 Patofisiologi

Salmonella Thyposa kuman gram negative, dapat hidup lama dalam air

kotor, makanan yang tercemar dan alas tidur yang kotor. Setelah penularan per

oral salmonella thyposa berkembang biak disusu halus dan kolon,

menyebabkan radang plaque payer dan menjalar melalui saluran limfe ke

11
aliran darah. Setelah bakteremi pertama Salmonella Thyposa berkembang biak

di sistem retikuloendotelial, menyebabkan bakteremi kedua menimbulkan

gejala – gejala penyakit. (Mansjoer, 2005).

Salmonella Thyposa masuk tubuh manusia melalui makanan dan air

yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan

sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque peyeri

di ilium terminalis yang hipertrofi. Bila terjadi komplikasi perdarahan dan

perforasi intestinal, kuman menembus lamina propia, masuk aliran limfe

mencapai kelenjar limfe mesentrial, dan masuk aliran darah melalui duktus

torasikus. Salmonella Thyposa lain dapat mencapai hati melalui sirkulasi portal

dari usus. Salmonella Thyposa bersarang di pluque peyeri, limfe, hati dan

bagian – bagian lain sistem retikulo endothelial endotoksin Salmonella

Thyposa berperan dalam proses inflamasi lokal pada jaringan tempat kuman

tersebut berkembang biak. Salmonella Thyposa dan endotoksinnya

merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen dan leukosit jaringan yang

meradang, sehingga terjadi demam. (Mansjoer, 2005).

Infeksi terjadi pada saluran pencernaan. Basil diserap di usus halus

melalui pembuluh limfe masuk kedalam peredaran darah sampai ke organ-

organ terutama hati dan limfe. Salmonella Thyposa masuk melalui mulut

dengan perantaraan makanan dan minuman yang tercemar. Sebagian hasil yang

tidak baik dapat dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limfe disertai

nyeri pada perabaan. Disamping itu sebagian kuman yang tidak dapat

dimusnahkan tadi masuk kedalam usus halus. Kemudian menembus epitel-

12
epitel pada bagian proksimal usus halus tanpa memiliki kemampuan

menghambat fagosit terhadap kuman. Salmonella tidak dapat dihancurkan

malah tetap hidup tumbuh dan berkembang atau memperbanyak diri didalam

sel leukosit. Hal ini terjadi dalam lipo polikel yang terdapat pada lumen usus

halus. (Evelyn, 2005).

Dalam waktu 24-27 jam post infeksi, kuman sudah masuk kedalam

darah (bakterimia I), setelah melewati limfe, usus, dan torajtikus bakteri

pertama ini masa inkubasinya menjadi singkat dan jumlahnya sangat kecil

sehingga sulit untuk dideteksi karena pembersihnya dilakukan oleh sistem

retikulo toksin serta masuk kembali kedalam sirkulasi darah kemudian terjadi

bakterimia, dengan jumlah yang lebih besar dalam waktu yang lebih lama

sehingga menimbulkan infeksi, metastase pada berbagai organ tubuh lainnya

seperti hati, kandung empedu, limfe, sum-sum tulang, jantung dan syaraf.

(Ngastiyah, 2005).

Endotoksin yang dikeluarkan oleh kuman Salmonella Thyposa bersifat

menetap erta merangsang sehingga melepaskan bahan – bahan pakokoagulan

yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya gangguan darah disamping itu

dapat menyebabkan syock. (Mansjoer, 2005).

13
2.1.6 Pathway Typus Abdominalis
Kuman Salmonella Thyposa

Masuk bersama makanan dan minuman


yang terkontaminasi

Masuk kelambung

Mati karena asam lambung


Tidak mati karena asam lambung

Menuju ke usus halus

Anoreksia
Menyebabkan peradangan pada usu halus

Kuman lewat pembuluh limfe masuk Kebutuhan nutrisi


kedarah ( bakterimia I ) kurang dari
kebutuhan tubuh
Masuk dan berkembang biak di hati
Pembengkakan hati dan
dan limfe ( masa inkubasi 5-9 hari )
limfe

Kuman masuk ke pembuluh darah

Menyebar keseluruh tubuh


Kuman mengeluarkan ( bekterimia II )
endotoksin
Mempengaruhi pusat termoregulator
di hipotalamus

Menimbulkan demam intermiten

Keringat banyak dan merasa haus


Gangguan pengaturan suhu tubuh
Cairan tubuh banyak yang hilang

Terjadi iritasi pada mukosa usus


Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan

Menimbulkan nyeri pada usus


Nyeri

Kelemahan Intoleransi aktivitas

Aktivitas terganggu

14
MRS

Hospitalisasi Family Centre Problem

Tindakan Infasif Perpisahan Lingkungan Kurang Situasi


Baru Informasi Krisis

Cemas,Gangguan Kurang
Fungsi Peran Pengetahuan

Sumber: Pathway Typus Abdominalis (Modifikasi Evelyn, 2005 dan Nanda, 2006).

2.1.7 Komplikasi

Komplikasi demam Thypoid dapat dibagi dalam :

1. Komplikasi intestinal

a. Perdarahan usus

b. Perforasi usus

c. Ilius paralitik

2. Komplikasi ekstra intestinal

a. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (ranjatan, sepsis),

miokarditis, trombosis, dan tromboflebitis.

b. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia dan atau koagulasi

intravaskuler diseminata, dan sindrom uremia hemolitik.

c. Komplikasi paru : pneumonia, empiema dan pleuritis

d. Komplikasi hepar dan kandung kemih : hepatitis dan kolitiasis

e. Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis dan perinefritis.

f. Komplikasi tulang : osteomielitis, periotitis, spondilitis dan arthritis.

15
g. Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningsimus, meningitis, pelineuritis

perifer, sindrom Guillain-Barre, psikosis dan sindrom katatonia.

h. Pada anak-anak dengan demam parathypoid, komplikasi jarang terjadi.

Komplikasi lebih sering terjadi pada keadaan tokesmia berat dan kelemahan

umum, bila perawatan pasien kurang sempurna (Mansjoer, 2005).

Komplikasi yang dapat terjadi antara lain: perforasi usus, perdarahan, toksemia

dan kematian. (Ngastiyah, 2005).

2.1.8 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang untuk demam thypoid adalah laboratorium yang terdiri

dari :

1. Jumlah leuksit normal, leucopenia, leukositosis, anemia ringan, LED

meningkat, SGOT, SGPT, dan fosfatase alkali meningkat.

2. Biakan darah salmonella thypoid positif dalam minggu pertama dan biakan

tinja positif pada minggu kedua dan ketiga. Biakan sumsum tulang sering kali

positif, walaupun biakan darah negatif.

3. Pada reaksi widal titer aglutinin O dan H meningkat sejak minggu kedua dan

tetap positif selama beberapa bulan dan tahun. Satu diantara tiga penderita

demam thypoid tidak menunjukkan kenaikan titer widal. (Ignativicius, 2006).

16
2.1.9 Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan Medis

Pemberian antibiotik : untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran

kuman. Obat pilihan kloramfenikol, kecuali bila penderita tidak serasi/ tidak

cocok dapat diberikan obat lain misalnya : Ampicillin , kotrimoksazol dan lain –

lain. Dianjurkan pemberian kloramfenikol dengan dosis tinggi, yaitu 100 mg/ kg

BB/ hari diberikan selama empat kali sehari per oral atau intramuskuler atau

intravena bila diperlukan. Pemberian kloramfenikol dosis tinggi tersebut

memberikan manfaat yaitu : waktu perawatan dipersingkat dan kolaps tidak

terjadi. Akan tetapi mungkin pembentukan zat anti kurang, oleh karena basil

terlalu cepat dimusnahkan. (Mansjoer, 2005).

2. Penatalaksanaan Keperawatan

a. Istirahat dan perawatan profesional.

Bertujuan mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Pasien

harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau ± selama

14 hari. Mobilisasi dilakukan bertahap, yaitu istirahat selama demam sampai

dengan dua minggu normal kembali yaitu istirahat mutlak, berbaring terus di

tempat tidur. Seminggu kemudian boleh duduk dan selanjutnya boleh dijaga

hygiene perseorangan, kebersihan tempat tidur, pakaian, dan peralatan yang

dipakai oleh pasien. Pasien dengan kesadaran menurun, posisinya perlu

diubah-ubah untuk mencegah dekubitus dan pneumonia hipostatik, defekasi

dan buang air kecil perlu diperhatikan, karena kadang-kadang terjadi

obstipasi dan retensi urine. (Suriadi, 2003).

17
b. Diet dan terapi penunjang (simtomatis dan suportif)

Pertama pasien diberi diet bubur saring, kemudian bubur kasar, dan

akhirnya nasi sesuai tingkat kesembuhan pasien. Namun beberapa penelitian

menunjukkan bahwa pemberian makanan padat dini, yaitu nasi dengan lauk

pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan

dengan aman. Juga diperlukan pemberian vitamin dan mineral yang cukup

untuk mendukung keadaan pasien. (Ngastiyah, 2005).

Diharapkan dengan menjaga keseimbangan dan homeostatis sistem

imun akan teta berfungsi dengan optimal. Pada kasus perforasi intestinal dan

renjatan septik diperlukan perawatan intensif dengan nutrisi parenteral oral.

Spektrum antibiotik maupun kombinasi beberapa obat yang bekerja secara

sinergis maupun kombinasi beberapa obat yang bekerja secara sinergis dapat

dipertimbangkan. Kortikostiroid selalu perlu diberikan pada renjatan septik

(Mansjoer, 2005).

2.2 Konsep Asuhan Dasar Keperawatan

Asuhan keperawatan adalah pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh

seorang perawat dengan pendekatan keperawatan. (Mansjoer, 2005).

Proses keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara

sistematis dan menggunakan pemikiran, pengetahuan dan pengalaman yang

dipergunakan oleh perawat dalam membantu pemecahan masalah pasien.

Kegiatan ini terdiri dari lima tahap yaitu tahap pengkajian, tahap penyusunan

diagnosa keperawatan, perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi.

(Nursalam, 2008).

18
Proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang sistematis

dalam melakukan asuhan keperawatan pada individu, kelompok, dan masyarakat

yang berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah dan respons klien

terhadap penyakitnya. (Wartonah, 2006).

2.2.1 Pengkajian

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan

merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari

berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status

kesehatan klien (Smeltzer, 2002).

Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan

asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Oleh karena itu

pengkajian yang akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran data

sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan

memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan respon individu,

sebagaimana yang telah ditentukan dalam standar praktik keperawatan dari

ANA (American Nursing Association) (Nursalam, 2008).

Adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan

menganalisanya sehingga dapat diketahui maslah dan kebutuhan

perawatan seorang klien (Effendy, 2003). Pengkajian kepada klien demam

thypoid dimulai dari pengumpulan data yang meliputi :

19
1. Biodata

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan,

pekerjaan, bangsa, suku, status perkawinan, alamat, tanggal masuk,

cara masuk, no. register, diagnosa medis dan sumber biaya.

2. Riwayat Keperawatan Sekarang

a. Keluhan Utama

Pada klien dengan Typus Abdominalis keluhan utama yang

dirasakan adalah badan panas, mual muntah, nyeri tekan pada

daerah perut bagian atas, pusing dan sakit kepala.

b. Riwayat Penyakit Sekarang

Tanda-tanda dan keluhan yang dirasakan, tindakan yang

dilakukan sebelum dibawa kerumah sakit sampai tindakan yang

telah diberikan setelah berada di rumah sakit.

c. Riwayat Penyakit Dahulu

Apakah klien pernah sebelumnya menderita atau sering

menderita sakit saluran pencernaan, gangguan eliminasi dan

apakah ada riwayat penyakit kencing manis. Dan yang perlu

ditanyakan adalah apakah sebelumnya anak mengalami gangguan

dalam pertumbuhan dan perkembangan.

d. Riwayat Kesehatan Keluarga

Meliputi kesehatan diri para anggota keluarga yang dapat

mempengaruhi kesehatan penderita dalam riwayat kesehatan

keluarga, thypus abdominalis bukan merupakan penyakit herediter

20
dan seandainya didalam satu keluarga yang ada sedang atau pernah

terkena hal ini di pengaruhi oleh sanitasi atau personal hygiene.

e. Riwayat Kesehatan Lingkungan

Lingkungan yang kurang sehat dan kurang bersih, adanya

genangan air atau pembangunan menyebabkan atau dapat menjadi

faktor pencetus penyakit demam thypoid, oleh karena itu kesehatan

lingkungan berpengaruh terhadap penyakit demam thypoid.

3. Riwayat Keperawatan Sebelumnya

a. Prenatal

Yang perlu dikaji yaitu kesehatan ibu pada masa hamil,

pemeriksanaan kehamilan, pernah mendapat imunisasi atau tidak,

pernah mengalami infeksi saat hamil, gizi ibu hamil, dan

pengobatan yang pernah dialami oleh ibu, apakah ibu mempunyai

kebiasaan merokok, ketergantungan obat-obatan, atau dengan

penyakit seperti Diabetes Melitus, paru, kehamilan dengan resiko

tinggi, persalinan preterm seperti hidramnion, multiple kelainan

kongenital. Pemeriksaan yang tidak kontinuitas atau pemeriksaan

yang tidak teratur atau periksa tidak pada petugas kesehatan.

Gerakkan janin selama kehamilan aktif atau semakin menurun.

b. Natal

Komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan erat dengan

permasalahan bayi baru lahir. Yang perlu dikaji pada masa

intranatal ini yaitu adannya ketuban keruh, berbau nekoneal,

21
perdarahan saat persalinan seperti solusio plasenta maupun

plasenta preveria, persalinan lama, fetal distres, ibu kelelahan,

persalinan dengan tindakan vakum ekstraksi dan forcep ekstraksi,

persalinan dengan tindakan bedah cesar karena pemakaian obat

penenang (narkose) yang dapat menekan sistem pusat pernapasan

c. Post Natal

Yang perlu dikaji antara lain yaitu Apgar score bayi baru lahir

satu menit pertama dan lima menit

d. Tumbuh Kembang

Pada umumnya pada pasien dengan Typus Abdominalis

mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan,

dikarenakan pada pasien itu sendiri akan mengalami nafsu makan

menurun sehingga terjadinya penurunan berat badan.

22
e. Imunisasi

Tabel 2.2 Dosis dan Cara Pemberian Imunisasi

No Vaksin Dosis Pemberian Jumlah Interval Waktu


pemberia pemberian
n
1 BCG 0,05 IC 1x - 0-11 bulan
2 DPT cc IM 3x 4 mgg 2-11 bulan
3 Hepatitis 0,5 cc IM 3x 4 mgg 0-11bulan
4 B 0,5 cc Oral 4x 4 mgg 0-11 bulan
5 Polio 2 tetes IM 1x - 9-11 bulan
6 Campak 0,5 cc IM - - -
TT 0,5 cc

(Depkes, 2006)

f. Status Gizi

Pada status gizi, biasanya anak dengan Typus Abdominalis

mengalami perubahan status gizi yakni penurunan berat badan.

g.g. Psikososial
Psikososial
Pada umumnya anak dengan Typus Abdominalis mengalami

adanya gangguan psikologis karena proses penyakit yang

dialaminya, klien biasanya merasa gelisah atau rewel.

h. Psiko Seksual

Pada tahap anak, kehidupan anak berpusat pada genetalia dan

area tubuh yang sensitive, dan anak mulai suka pada lain jenis.

i. Interaksi

Pada anak dengan Typus Abdominalis, biasanya mengalami

gangguan interaksi dengan teman sebaya atau kalangan

keluarganya sendiri.

23
4. Pemeriksaan Fisik

a. Pemeriksaan fisik

1) Keadaan umum :

Pada anak dengan Typus Abdominalis menunjukkan

tingkat kesadaran yang bisa menurun.

2) Tanda-Tanda Vital

Pada pasien dengan Typus Abdominalis menunjukkan

perubahan tanda-tanda vital, terjadinya peningkatan pada

suhu tubuh (hipertermi).

3) Pemeriksaan Head to toe

(a) Kepala :

(1) Inspeksi

Bentuk kepala, ada kelainan tidak, kemungkinan

ditemukan caput succedaneum atau cephal

haematom, ubun-ubun besar cekung atau cembung.

(2) Palpasi

Palpasi daerah kepala, ubun-ubun besar cekung atau

cembung

(b) Mata

(1) Inspeksi

Yang perlu diperhatikan pada pasien dengan typus

abdominalis adalah apakah warna konjungtiva

anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding

24
konjungtiva atau tidak, warna sklera tidak kuning,

pupil menunjukan refleksi terhadap cahaya.

(2) Palpasi

Apakah bentuk simetris atau tidak, ada massa atau

tidak, dan apakah ada nyeri tekan atau tidak.

(c) Hidung

(1) Inspeksi

Pada pasien dengan Typus Abdominalis tidak

terdapat tanda-tanda pernapasan cuping hidung.

(2) Palpasi

Ada massa atau tidak dan ada nyeri tekan atau tidak.

(d) Mulut

(1) Inspeksi

Yang perlu diperhatikan adalah warna bibir apakah

pucat atau merah, ada lendir atau tidak. Dan apakah

lidah kotor atau bersih.

(e) Telinga

(1) Inspeksi

Perhatikan kebersihan dan adanya kelainan atau

adanya serumen pada telinga.

(2) Palpasi

25
Pada pemeriksaan palpasi, pada klien dengan typus

abdominalis, klien tidak mengalami gangguan.

(f) Leher

(1) Inspeksi

Perhatikan kebersihanya. Ada tanda-tanda

pembesaran kelenjar tiroid atau tidak

(2) Palpasi

Ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis

tidak.

(g) Kulit

(1) Inspeksi

Perhatikan warna kulit tubuh, tampak kotor atau

tidak.

(2) Palpasi

Pada klien typus abdominalis mengalami turgor

kulit tidak elastis.

(h) Thorax

(1) Inspeksi

Bentuk simetris atau tidak, terdapat tarikan

interkostal atau terdapat tarikan interkosta.

(2) Palpasi

Apakah ada massa tidak, ada pembesaran jantung

tidak.

26
(3) Auskultasi

Pada pasien dengan Typus Abdominalis tidak

mengalami tanda-tanda suara wheezing dan ronchi.

(4) Perkusi

Pada pasien dengan typus abdominalis tidak

terdengar suara redup.

(i) Abdomen

(1) Inspeksi

Pada pemeriksaan abdomen dengan pasien Typus

Abdominalis yang perlu diperhatikan adalah bentuk

abdomen, warna kulit abdomen, bersih atau tidak,

(2) Palpasi

Apakah ada massa atau tidak

(3) Auskultasi

Yang di auskultasikan adalah bising usus klien,

apakah terjadinya peningkatan atau penurunan.

(4) Perkusi

Lakukan perkusi, apakah terdapat suara timpani di

daerah perut atau tidak.

(j) Ekstremitas

(1) Inspeksi

Yang perlu diperhatikan adalah warna ekstremitas,

apakah terjadi gerakan lemah atau kuat.

27
(2) Palpasi

Apakah ada massa tidak, akral dingin.

5. Pemeriksaan Riwayat Biopsiko, Sosial Spiritual

Data biologi klien mengeluh panas, nyeri tekan pada perut

bagian atas, mual, muntah, pusing dan skepala. Data Psikologi

klien sering dijumpai gelisah. Data sosial mencakup antar dan

inter klien, hubungan dengan masyarakat dan lain -lain. Data

spiritual pada klien thypus abdominalis mengalami gangguan serta

hanya dapat berdo’a didalam hati.

Pola pengkajian Bio, Psiko, Sosial dan Spritual Menurut

Virginia Henderson.

Hal-hal yang perlu dikaji :

1) Pola Respirasi

Pada pola pernafasan yang perlu diperhatikan adalah

frekwensi, pernafasan, gerak dinding dada, pernafasan cuping

hidung, apakah anak merasa sesak, pada anak dengan Typus

Abdominalis tidak mengalami gangguan pada sistem

pernafasan.

2) Pola Nutrisi

Pada pola nutrisi yang ditanyakan adalah nafsu makan.

Diet khusus, supplement yang dikonsumsi, instruksi diet

sebelumnya, jumlah cairan dan makanan yang masuk perhari,

ada tidaknya mual, muntah dan kesulitan menelan. Pada anak

28
dengan Typus Abdominalis mengalami gangguan atau

perubahan dalam memenuhi kebutuhan . Klien biasanya mual

muntah, dan tidak ada nafsu makan.

3) Pola Eliminasi

Pada pola ini yang perlu ditanyakan adalah jumlah

kebiasaan defekasi perhari, ada tidaknya konstipasi, diare,

inkontinensia, kebiasaan berkemih, ada/tidaknya disuria,

nokturia, urgensi, hematuria, retensi dan inkontinenisia.

4) Pola Aktivitas

Pada aktivitas dibatasi untuk bergerak dan harus tirah

baring untuk mengurangi nyeri, anak dengan peyakit Typus

akan mengalami gangguan gerak atau aktifitasnya dapat

diakibatkan karena kelemahan atau akibat dari terjadinya

gangguan pencernaan.

5) Kebutuhan istirahat tidur

Pengkajian pada kebutuhan tidur ini yang ditanyakan

adalah jumlah jam tidur pada malam hari, pagi dan siang,

merasa tenang setelah tidur, masalah selama tidur. Pada anak

dengan Typus Abdominalsi biasanya mengalami masalah

dalam istirahat tidurnya karena suhu badan klien tinggi.

29
6) Mempertahankan temperatur suhu tubuh

Pada anak dengan Typus Abdominalis mengalami

gangguan dalam pengaturan suhu tubuh, anak biasanya

mengalami hipertermia.

7) Kebutuhan personal hygiene

Pada anak dengan Typus kemungkinan kebutuhan personal

hygienenya tidak terpenuhi, tergantung ibu dan keluarga dalam

menjaga personal hygenenya.

8) Kebutuhan rasa aman dan nyaman

Pada anak dengan Typus biasanya akan ditemukan

gangguan rasa aman dan nyaman, karena demam yang tinggi

akan timbul jika anak melakukan aktivitas, dalam kebutuhan

rasa aman ini perlu ditanyakan apakah anak tetap merasa aman

dan terlindungi oleh keluarganya, Anak biasanya rewel dan

gelisah. Anak akan merasa nyaman didekat ibunya.

9) Berkomunikasi dengan orang lain

Bagaimana hubungan anak dengan keluarga serta

bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

10) Kebutuhan bekerja

Pada anak kebutuhan bekerja tidak dikaji karena anak tidak

bekerja.

30
11) Kebutuhan bermain/rekreasi

Pada pengumpulan data ini, hal yang perlu diperhatikan

adalah hal-hal apa saja yang membuat anak merasa tenang dan

senang, biasanya tidak dapat terpenuhi karena anak harus

istirahat yang cukup.

12) Kebutuhan Berpakaian

Tidak mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan

berpakaian, pada anak dengan Typus kebutuhan berpakaian

biasa dilakukan oleh ibu atau keluarga.

13) Kebutuhan Belajar

Kebutuhan anak dalam memperoleh ilmu pengetahuan.

14) Kebutuhan spiritual

Kepercayaan dan keyakinan dalam beragama.

6. Pemeriksaan penunjang

Data pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam

menegakkan diagnosa atau kausal yang tepat sehingga kita dapat

memberikan obat yang tepat pula.

Pemeriksaan penunjang untuk demam thypoid adalah

laboratorium yang terdiri dari :

a. Jumlah leukosit normal, leucopenia, leukositosis, anemia

ringan, LED meningkat, SGOT, SGPT, dan fosfatase alkali

meningkat.

31
b. Biakan darah salmonella thypoid positif dalam minggu

pertama dan biakan tinja positif pada minggu kedua dan

ketiga. Biakan sumsum tulang sering kali positif, walaupun

biakan darah negatif.

c. Pada reaksi widal titer aglutinin O dan H meningkat sejak

minggu kedua dan tetap positif selama beberapa bulan dan

tahun. Satu diantara tiga penderita demam thypoid tidak

menunjukkan kenaikan titer widal. (Hiswani, 2003).

2.2.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan

respons manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari

individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat

mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga

status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah

(Carpenito, 2007).

Gordon (2000) mendefinisikan bahwa diagnosa keperawatan adalah

“masalah kesehatan aktual dan potensial dimana berdasarkan pendidikan

dan pengalamannya, dia mampu dan mempunyai kewenangan untuk

memberikan tindakan keperawatan”.

1. Analisa Data

Analisa data adalah kemampuan mengkaitkan data dan

menghubungkan data tersebut dengan konsep teori dan prinsip yang

32
relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah

kesehatan dan keperawatan klien. (Wartonah, 2006).

Tabel 2.2 Analisa Data pada Anak dengan Typus Abdominalis

No Symptom Etiologi Problem


1 Ds Kuman S. Thypi Hipertermia
- Klien menyebar keseluruh
biasanya mengeluh tubuh melalui
badannya panas dan pembuluh darah
berkeringat banyak
- Klien Kuman mengeluarkan
biasanya mengeluh lidahnya endotoksin
terasa pahit
DO Mempengaruhi
- Klien sistem termoregulasi
tampak lemah di hipotalamus
- Tanda –
tanda vital : Demam
Suhu tubuh 380c, N ; 96x/
No mnt, Etiologi Problem
2 RR ; 18x/ mnt, TD; 130/90
mmHg
- Mukosa
bibir kering, bibir
Symptom Kuman S. Thypi Nyeri akut
pecah – pecah, lidah kotor
di tengahnya, tepi dan ujung Menimbulkan
berwarna putih peradangan pada usus
halus
DS
- Klien Infeksi pada usus

33
biasanya mengeluh nyeri halus
pada daerah perut
- Klien Nyeri
biasanya mengeluh pusing
dan sakit kepala
- Klien
biasanya mengatakan kalau
rasa nyerinya datang ia
biasanya miring ke kiri
karena dengan posisi itu
nyerinya agak berkurang
DO
- K/u lemah
- Ekspresi
wajah meringis
- Nyeri
tekan pada daerah
perut
- Tanda –
No tanda vital Etiologi Problem
dx Suhu tubuh 380c, N ; 96x/o
3 mnt, RR ; 18x/ mnt, TD; Kuman S. Thypi Perubahan
130/90 mmHg pola nutrisi
- Skala nyeri Mengeluarkan kurang dari
4-5 (1-10 ) endotoxin kebutuhan
- Emosi tubuh
klien labil Lidah kotor, lidah
- Klien terasa pahit
tampak miring kiri
Intake kurang

34
Symptom

DS
- Klien
biasanya mengeluh nafsu
makan menurun
- Lidah
terasa pahit
4 - Klien Kuman S. Thypi Intoleransi
biasanya mengeluh aktivitas
badannya lemah Peradangan pada usus
- Klien halus
mengatakan hanya
menghabiskan sepertiga dari Kelemahan
porsi yang disediakan
3- Klien Bedress total
biasanya mengeluh mual
DO Aktivitas terbatas
No - Diit TKTP Etiologi Problem
5 bubur rendah serat
Symptom
- Klien
tampak lemah
- Bibir pecah
– pecah
- Penurunan Kuman Gangguan
nafsu makan Salmonella Typosa pemenuhan
- Penurunan kebutuhan

35
BB Menyebar keseluruh cairan
DS tubuh (bakterimia II)
- Klien
biasanya mengeluh badan Mempengaruhi pusat
lemah dan tidak mampu termoregulator di
memenuhi hipotalamus
kebutuhannya
DO Menimbulkan demam
- Klien intermiten
tampak lemah
- Klien Keringat banyak
tampak berbaring diatas
tempat tidur Kebutuhan cairan
- ADL Banyak yang keluar
dibantu keluarga

- Kekuatan
otot 5/5
- Nilai
tingkat kemandirian 2
No (dengan menggunakan Etiologi Problem
dx bantuan dari orang lain)
6 Kurang informasi Kurang
DS pengetahuan
- Klien Kurang pengetahuan
biasanya mengeluh lemah,
3 tidak ada tenaga
- Klien
3 mengeluh banyak keluar

36
keringat
DO
- Mukosa
bibir klien kering
- Turgor
kulit tidak elastis
- Klien
tampak lemah
- Konjungtiv
a pucat

Symptom

DS :
- Klien dan
keluarga mengatakan tidak
terlalu paham tentang

37
penyakit yang diderita oleh
klien
DO
- Keluarga
banyak bertanya kepada
perawat tentang penyakit
klien
- Keluarga
klien tampak bingung

2. Rumusan Diagnosa

Adapun Diagnosa yang bisa muncul pada anak dengan penyakit

Typus Abdominalis adalah sebagai berikut:

a. Gangguan pengaturan suhu tubuh berhubungan dengan adanya

peradangan di usus halus ditandai dengan klien mengeluh badan panas,

suhu tubuh 380C – 400C, bibir kering, lidah kotor ditengahnya, nadi

cepat.

b. Nyeri akut berhubungan dengan adanya efek infeksi usus halus ditandai

dengan klien mengeluh nyeri tekan pada daerah perut bagian atas dan

sakit kepala, klien gelisah wajah klien meringis/ kesakitan nyeri bila

ditekan.

c. Perubahan pola nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan klien mengeluh mual, muntah, nafsu makan menurun. Lidah

38
terasa pahit, keadaan umum lemah, berat badan menurun, makanan

yang disediakan habis ¼ porsi ( sedikit )

d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring yang lama

ditandai dengan klien mengeluh tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-

hari, klien berbaring ditempat tidur, pasien dibantu oleh perawat dan

keluarga, badan lemah

e. Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan berhubungan dengan intake

yang kurang ditandai dengan klien mengeluh badan lemah dan keringat

banyak, nafsu makan menurun, mukosa bibir kering, turgor kulit tidak

elastis.

f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi ditandai

dengan Klien dan keluarga mengatakan tidak terlalu paham tentang

penyakit yang diderita oleh klien, keluarga banyak bertanya kepada

perawat tentang penyakit klien, keluarga klien tampak bingung.

2.2.3 Perencanaan Keperawatan

Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk

mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang

diidentifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah

menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana

dokumentasi (Nursalam, 2008).

Secara tradisional, rencana keperawatan diartikan sebagai suatu

dokumen tulisan tangan dalam menyelesaikan masalah, tujuan dan

intervensi. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, rencana keperawatan

39
merupakan metode komunikasi tentang asuhan keperawatan kepada klien.

Setiap klien yang memerlukan asuhan keperawatan perlu suatu

perencanaan yang baik. (Wartonah, 2006).

1. Prioritas Masalah

a. Gangguan pengaturan suhu tubuh berhubungan dengan adanya

peradangan di usus halus ditandai dengan klien mengeluh badan

panas, suhu tubuh 380C– 400C, bibir kering, lidah kotor

ditengahnya, nadi cepat.

b. Nyeri akut berhubungan dengan adanya efek infeksi usus halus

ditandai dengan klien mengeluh nyeri tekan pada daerah perut

bagian atas dan sakit kepala, klien gelisah wajah klien meringis/

kesakitan nyeri bila ditekan.

c. Perubahan pola nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan klien mengeluh mual, muntah, nafsu makan menurun.

Lidah terasa pahit, keadaan umum lemah, berat badan menurun,

makanan yang disediakan habis ¼ porsi ( sedikit )

d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring yang lama

ditandai dengan klien mengeluh tidak bisa memenuhi kebutuhan

sehari – hari, klien berbaring ditempat tidur, pasien dibantu oleh

perawat dan keluarga, badan lemah

e. Gangguan pemenuhankebutuhan cairan berhubungan dengan intake

yang kurang ditandai dengan klien mengeluh badan lemah dan

keringat banyak, nafsu makan menurun.

40
f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

ditandai dengan Klien dan keluarga mengatakan tidak terlalu

paham tentang penyakit yang diderita oleh klien, keluarga banyak

bertanya kepada perawat tentang penyakit klien, keluarga klien

tampak bingung.

2. Rencana

Keperawatan

Tabel 2.4 Perencanaan Keperawatan Anak dengan Typus Abdominalis

Hari N Tujuan dan Rencana Rasional


/Tgl o Kriteria Hasil
1 Setelah dilakukan 1) 1)
tindakan penderita masalah yang
keperawatan timbul juga
kepada klien mempermudah
diharapkan dalam
kembalinya suhu merencanakan
normal sehingga asuhan
fungsi keperawatan.
metabolisme tidak 2) 2)
terganggu dengan kepada keluarga menjadi tahu
kriteria hasil: penyebab panas tentang penyebab
a) klien tidak penderita dan panas sehingga
mengeluh tindakan yang harus dapat diajak kerja
demam lagi dilakukan sama dalam asuhan
b) suhu tubuh keperawatan
klien dalam 3) 3)
batas normal. dingin pada dahi pusat panas di
c) Klien tidak hypothalamus,
menggigil sehingga terjadi
d) Klien merasa perpindahan panas
nyaman dari tubuh keluar

41
dengan disamping
kondisinya mengurangi rasa
e) Suhu dalam sakit di kepala dan
batas normal : memberi rasa
36-37oC nyaman.
4) 4)
timbulnya
komplikasi lebih
lanjut
5) 5)
- 2 liter per 24 jam cairan karena
penderita yang
panas mudah
terjadi kekurangan
cairan dan
elektrolit sebagai
akibat pelebaran
pembuluh darah
Rencana dan kapiler
Hari N Tujuan dan Rasional
/Tgl o Kriteria Hasil
6)
yang basah 6)
dapat
menyebabkan
biang keringat dan
mencegah infeksi
serta memberikan
7) rasa nyaman.
tanda vital 7)
perkembangan dan
mengetahui
kelainan yang akan
8) timbul.
sesuai program 8)
therapi Dokter serta akhirnya
menyebabkan
turunnya suhu
tubuh kearah
normal sesuai
dengan efek obat
tersebut.

42
2 Setelah dilakukan 1) 1)
tindakan klien tingkat nyeri klien
keperawatan 2) 2)
kepada klien ringan untuk mengurangi
diharapkan rasa rasa nyeri.
nyeri berkurang 3) 3)
dengan kriteria yang stimulasi pencetus
hasil: menyenangkan yang menyebabkan
a) Klien klien sakit
menyatakan 4) 4)
nyeriberkura terhadap penyebab
timbulnya rasa dihubungkan
ng/tulag,
nyeri dan yang dengan penghilang
b) Klien mengurangi nyeri
mampu 5) 5)
berpartisipasi mengurangi kuman
dalam dan inflamasi
aktivitas, dalam usus
c) Klien bisa
Hari N Rencana Rasional
/Tgl o Tujuan dan
Kriteria Hasil

beristirahat
dengan
santai,
d) Klien dapat
menunjukkan
penggunaan
keterampilan
relaksasis
e) Skala nyeri 0
(0-5)
f) Tidak
meringis
kesakitan

3 Setelah dilakukan 1) 1)
tindakan frekuensi kebutuhan pola
keperawatan kebutuhan klien nutrisi klien setiap
kepada klien hari
diharapkan 2) 2)

43
kebutuhan nutrisi manfaat makanan keluarganya
klien bagi tubuh pada mengerti sehingga
terpenuhi dengan klien penderita dan mudah untuk
kriteria hasil: keluarha serta diajak bekerja
a) menganjurkan sama dalam asuhan
berat badan pada klien untuk keperawatan.
status gizi menghabiskan
membaik porsi makanan
sesuai dengan yang telah
standa disediakan.
b)
normal (15-20 3) 3)
kali/menit) kalori dan protein dalam keadaan
c) tetapi rendah serat lemah
meningkat dan menyajikan membutuhkan
dalam bentuk yang lebih banyak
menarik dan protein kalori
hangat untuk memperkuat
daya tahan
tubuhnya dan
penyajian yang
Rencana menarik akan
Hari N Tujuan dan Rasional
/ Tgl o Kriteria Hasil
mersangsang/
menimbulkan nafsu
4) makan.
dalam porsi kecil 4)
tapi sering kesempatan usus
halus untuk
mengabsorbsi
secara perlahan –
lahan karena
gastrointestinal
yang bila
terangsang
makanan yang
terlalu banyak akan
menimbulkan mual
5) muntah
makanan setiap 5)
hari intake dan
peningkatan nafsu
6) makan klien
yang nyaman, 6)

44
terhindar dari bau membantuk nafsu
– bauan/ aroma makan
yang kurang
sedap.

7)
7)
infeksi mulut oleh
pembusukan
makanan

4 Setelah dilakukan 1) Kaji tingkat 1)


keperawatan aktivitas, pola dasar sebagai
kepada klien kegiatan sehari – pedoman untuk
diharapkan klien hari melakukan proses
dapat perawatan.
mempertahankan 2) Anjurkan klien 2)
kemampuan untuk istirahat untuk mencegah
secara adequate yang cukup lama kelelahan
untukpemenuhan dan latihan sedangkan latihan
kebutuhan sehari sesuai dengan yang sesuai untuk
– hari dengan keadaan pasien melatih otot dan
kriteria hasil: Rasional
Hari N Tujuan dan Rencana
/ Tgl o Kriteria Hasil pergerakannya

a) Dapat 3)
mempertahank 3) Berikan latihan perawatan diri
anposisi kepada ADL
sebagaimana
fungsional,
dibutuhkan
b) Dapat untuk menjaga
melakukan perawatan diri
aktivitas, 4)
c) Meningkatkan 4) Beri tahu sama dengan
kekuatan otot keluarga untuk keluarga
d) Klien bebas selalu mengurangi
mendampingi kemungkinan
bergerak
klien selama klien untuk tidak
perawatan. selalu ditemani

5 Setelah dilakukan 1) Kaji tingkat 1)


tindakan kebutuhan cairan diberikanetahui
keperawatan dan elektrolit klien pemantauan
kepada klien jumlah

45
diharapkan kebutuhan
volume cairan cairan dan
akan seimbang elektrolit yang
dengan intake dan har
output dan dalam/
batas normal 2)Berikan cairan 2)
dengan kriteria elektrolit elektrolit yang
hasil: hilang
a) Turgor
kulit 3)Beri minum yang 3)
membaik banyak Rasional
b) Jumlah
cairan yang cairan yang
masuk keluar
seimbang
dengan 4)
yang keluar 4)Monitor vital sign perkembangan
c) Membrane klien
mukosa
lembab
d) Tanda
vital dalam Rasional
batas
Hari N normal Rencana
/ Tgl o
Tujuan dan
Kriteria Hasil
6 Setelah dilakukan 1. Tentukan tingkat 1 Untuk mengetahui
tindakan pengetahuan klien sejauh mana
keperawatan tentang penyakitnya tingkat
diharapkan klien pengetahuan klien
dan keluarga tentang
klien mengerti penyakitnya
tentang penyakit 2. Berikan informasi 2 Agar klien dan
yang dialami menyangkut keluarga mengerti
klien dengan penyakit klien penyakit yang
kriteria : diderita oleh klien
a. Klien dan 3. Review informasi 3 Untuk mengetahui
keluarga tidak yang telah diberikan tingkat
bertanya lagi pemahaman klien.
kepada
perawat
tentang
penyakit klien
b. Klien dan

46
keluarga
tampak tenang
(Smeltzer, 2002)
2.2.4 Pelaksanaan/ Tindakan Keperawatan

Tindakan / pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk

mencapai tujuan yang spesifik (Wartonah, 2006). Tahap pelaksanaan

dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing oders

untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu

rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodofikasi faktor-

faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien. (Nursalam, 2008).

Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai

tujuan yang telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan,

pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping.

Perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik,

jika klien mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan

tindakan keperawatan. Selama tahap pelaksanaan, perawat harus

melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang

paling sesuai dengan kebutuhan klien. Semua tindakan keperawatan

dicatat ke dalam format yang telah ditetapkan oleh institusi (Nursalam,

2008)

Pelaksanaan adalah proses untuk melakukan kegiatan yang telah

direncanakan untuk mencapai tujuan dan untuk menanggulangi masalah

yang dihadapi oleh klien. (Dongoes, 2003).

2.2.5 Evaluasi

47
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan, dimana proses

evaluasi ini dilakukan terus menerus, diperlukan untuk menentukan

seberapa baik rencana keperawatan bekerja. Evaluasi merupakan proses

yang interaktif dan kontinyu, karena setiap tindakan keperawatan yang

dilakukan, respon klien dicatat dan di evaluasi dalam hubungannya dengan

hasil yang diharapkan. Kemudian, berdasarkan pada respon klien tersebut

dilakukan revisi intervensi keperawatan dan atau revisi hasil, mungkin

diperlukan. (Nursalam, 2008).

Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses

keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan,

rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Melalui

evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor “kealpaan” yang terjadi

selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan pelaksanaan tindakan

(Ignatavicius & Bayne, 2006).

Menurut Griffith & Christensen (2007) evaluasi sebagai sesuatu yang

direncanakan, dan perbandingan yang sistematik pada status kesehatan

klien. Dengan mengukur perkembangan klien dalam mencapai suatu

tujuan, maka perawat bisa menentukan efektifitas tindakan keperawatan.

Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan yang

merupakan kegiatan sengaja dan terus menerus yang melibatkan klien

perawat dan anggota tim kesehatan lainnya.

Evaluasi di klasifikasikan sebagai berikut

48
1. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang diberikan pada saat intervensi

dengan respons segera

2. Evaluasi sumatif merupakan rekapitulassi dari hasil observasi dan

analisis status pasien pada waktu tertentu berdasarkan tujuan yang

direncanakan pada tahap perencanaan. (Wartonah, 2006).

Tujuan evaluasi adalah :

1. Untuk menilai apakah tujuan dalam rencana perawatan tercapai atau

tidak

2. Untuk melakukan pengkajian ulang

Untuk dapat menilai apakah tujuan ini tercapai atau tidak dapat

dibuktikan dengan prilaku klien

1. Tujuan tercapai jika klien mampu menunjukkan prilaku sesuai

dengan pernyataan tujuan pada waktu atau tanggal yang telah

ditentukan

2. Tujuan tercapai sebagian jika klien telah mampu menunjukkan

perilaku, tetapi tidak seluruhnya sesuai dengan pernyataan tujuan yang

telah ditentukan

3. Tujuan tidak tercapai jika klien tidak mampu atau tidak mau sama

sekali menunjukkan prilaku yang telah ditentukan.

Menurut Alimul, (2006) catatan perkembangan merupakan

catatan tentang perkembangan keadaan klien yang didasarkan pada

setiap masalah yang ditemui pada klien. Modifikasi rencana dan

tindakan mengikuti perubahan keadaan klien.

49
Adapun metode yang digunakan dalam catatan perkembangan adalah

sebagai berikut :

S : Data subjektif

Perkembangan keadaan didasarkan pada apa yang dirasakan,

dikeluhkan, dan dikemukakan klien.

O : Data objektif

Perkembangan yang bisa diamati dan diukur oleh perawat atau tim

kesehatan lain.

A : Analisis

Kedua jenis data tersebut, baik subjektif maupun objektif dinilai

dan dianalisis, apakah perkembangan kearah perbaikan atau

kemunduran. Hasil analisis dapat menguraikan sampai dimana

masalah yang ada dapat diatasi atau adakah perkembangan masalah

baru yang menimbulkan diagnosa keperawatan baru.

P : Perencanaan

Rencana penanganan klien dalam hal ini didasarkan pada hasil

analisa di atas yang berisi malanjutkan rencana sebelumnya apabila

keadaan atau masalah belum teratasi dan membuat rencana baru bila

rencana awal tidak efektif.

I : Implementasi

Tindakan yang dilakukan berdasarkan rencana.

E : Evaluasi

50
Evaluasi berisi tentang sejauh mana rencana tindakan dan evaluasi

telah dilaksanakan dan sejauh mana masalah pasien teratasi.

R : Reassesment

Bila berhasil evaluasi menunjukkan masalah belum teratasi,

pengkajian ulang perlu dilakukan kembali melalui proses

pengumpulan data subjektif, data objektif, dan proses analisisnya.

Rencana evaluasi tindakan yang akan digunakan pada kasus

kelolaan adalah SOAP.

2.2.6 Dokumentasi Keperawatan

Dokumentasi keperawatan adalah pencatatan yang lengkap dan

akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan. Dokumentasi

dilakukan segera setelah setiap kegiatan atau tindakan dalam setiap

langkah proses keperawatan dari pengkajian sampai dengan evaluasi.

(Nursalam, 2008).

Sebagai dokumentasi yang mencatat semua pelayanan keperawatan

klien, dokumentasi tersebutdapat diartikan sebagai suatu catatan bisnis

dan hokum yang mempunyai banyak manfaat dan penggunaan.

Tujuan utama dari pendokumentasian adalah untuk:

1. Mengidentifikasi status kesehatan klien dalam rangka mencatat

kebutuhan klien, merencanakan, melaksanakan tindakan keperawatan

dan mengevaluasikan tindakan.

2. Dokumentasi untuk Penulisan, keuangan, hokum dan etika.

Sedangkan manfaat dan pentingnya dokumentasi dapat dilihat dari

51
berbagai aspek seperti hukum, jaminan mutu pelayanan, komunikasi,

keuangan, pendidikan, penulisan dan akreditasi. (Nursalam, 2008).

BAB IV: PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari makalah di atas dapat di simpulkan bahwa pengertian penyakit Typhus


adalah penyakit infeksi menular yang dapat terjadi pada anak maupun orang dewasa.
Tetapi demam tifoid lebih sering menyerang anak. Walaupun gejala yang dialami anak
lebih ringan daripada orang dewasa.

Penyakit typhus abdominallis atau demam thypod merupakan problem atau


masalah yang serius bagi kesehatan masyarakat di Negara-negara yang berkembang
seperti halnya Indonesia yang memiliki iklim tropis banyak di temukan penyakit
infeksi salah satuhnya Typhus Abdominalis yang di temukan sepanjang tahun. Typhus
abdominalis di sebabkan oleh salmonella tyhpi.
B. Saran

Melalui makalah ini kami selaku penyusun makalah ini berharap agar pembaca
senantiasa memperdulikan akan kesehatannya sendiri, lingkungan dan sekitarnya agar
terhindar dari penyakit menular khususnya penyakit Typhus dengan melakukan
pencegahan sejak dini sehinnga penyakit ini tidak menjadi suatu Kejadian Luar Biasa
(KLB).

52
53
DAFTAR PUSTAKA

Gupte, S. 1990. Mikrobiologi Dasar. Alih bahasa Julius ES. Binarupa Aksara.
Edisi III.

Simanjuntak, C H. 1990. Masalah Demam Tifoid di Indonesia. Cermin Dunia


Kedokteran No.60

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran UI, “Mikrobiologi Kedokteran”, P.T. Binarupa


Aksara, Jakarta, 1993.

Staf pengajar FKUNDIP. 1996. Pengendalian Demam Tifoid. Jen. I.

Sudibjo, HR, “Jurnal Kedokteran YARSI”, Vol.4 No. 1 Jakarta, 1996, Januari.

Suzzane C. Smeltzer, Brenda G. Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol.1.


Jakarta : EGC.

Soepaman, Sarwono Waspadji. 2001. Ilmu Penyakit dalam Jilid II Edisi 3.


Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Jevuska. 2008. Demam Tifoid (Typhoid Fever),


<http://www.jevuska.com/2008/05/10-/demam-tifoidtyphoid- fever, tanggal akses:
26 September 2009>.

http://www.mediastore.co.id/kesehatan/news/0602/08/095423.htm

http://www.infokesehatan.co.id

54
55