Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Ilmu Komunikasi. JIKA. Vol.1 No.

1 April 201

STUDI KOMUNIKASI BUDAYA TENTANG UPACARA


RITUAL CONGKO LOKAP DAN PENTI SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI
DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA DAERAH MANGGARAI
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Ferdinandus Ngare
Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas BSI
Jl. Sekolah Internasional No. 1-6 Antapani Bandung 40282
ferdinan.fng@bsi.ac.id

ABSTRAK

Penelitian ini menyoroti peran budaya dalam upacara ritual congko lokap dan penti di Kabupaten
Manggarai serta makna yang terkandung di dalamnya baik bahasa, tarian dan musik dalam
keberhasilan perkembangan pariwisata budaya Manggarai. Penelitian mengenai upacara ritual
congko lokap dan penti sebagai media komunikasi tradisional dalam mengembangkan pariwisata
daerah Manggarai ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi.
Upacara ritual congko lokap dan penti yang dirayakan oleh masyarakat Manggarai selain upacara-
upacara ritual yang lain di sana mempunyai peran sosial dalam rangka menjalin hubungan dengan
sesama manusia, serta berperan religius yaitu menjalin hubungan manusia dengan Tuhan Yang
Maha Kuasa. Bahasa Manggarai berperan sebagai salah satu media penyampaian pesan-pesan adat
dari para tetua adat kepada masyarakatnya dan juga sebagai media pemersatu masyarakat
Manggarai dan masyarakat Manggarai dengan Tuhan Yang Maha Kuasa secara adat, sebagai
sarana dalam menyapa para leluhur dan masyarakat. Selain bahasa sebagai media; musik dan
tarian adat juga berperan sebagai penyempurna di dalam upacara ritual. Makna komunikasi
simbolik yang terlihat dan tak terlihat dalam ritual adat yang ada di lokasi penelitian senantiasa
diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat Manggarai sehari-hari. Perilaku simbolis
masyarakat nampak melalui tindakan simbolis dalam situasi religius, dalam tradisi dan dalam seni
yang kaya akan makna. Upacara ritual congko lokap dan penti, merupakan titik puncak cerminan
kebersamaan masyarakat Manggarai, yang turut berperan dalam upaya pelestarian,
pengembangan, juga pemanfaatan kekayaan budaya menjadi daya tarik wisata selain keindahan
panorama alam di bumi Manggarai.

Kata kunci : Congko Lokap, Penti, Manggarai, Komunikasi.

40
Jurnal Ilmu Komunikasi. JIKA. Vol.1 No.1 April 201

ABSTRACT

The purpose of this research was to discover the culture roles in ritual ceremonies of Penti and
Congko Lokap in Kabupaten Manggarai and the meaning contained in it either language,
dancing, and music in the successful development of cultural tourism in Manggarai. Research on
the Congko Lokap and Penti ritual ceremonies in Manggarai as a traditional communication
media in developing tourism using qualitative methods with ethnographic communication
approach. Visible and invisible symbolic communication meaning in traditional rituals at the
research site are always implemented in everydat lives of the Manggaraians. Symbolic behaviours
of the people are visible through the symbolic actions in the religious situation, traditions, and in
the rich artistic meaning.This research concluded that the Congko Lokal and Penti ritual
ceremonies celebrated by the Manggaraians beside any other rituals there had a social role in
order to establish the relationships with fellow human beings, as well as religious role in
establishing human relationship with God Almighty. Manggarai language takes the role in serving
as a media to deliver custom messages from the community elders to the Manggaraians as well as
unifying the people of Manggarai. The language is used customary as a liaison between the
Manggaraians and God Almighty, as a media in addressing the ancestors and the community. In
addition to language as a media; music and traditional dance are also take the role as a
complement in the rituals. Congko Lokap dan Penti rituals, are the culmination point of reflection
from the togetherness of Manggaraians community, which taking the role in conservation,
development, and also utilization of cultural assets to become tourist attraction in addition to the
beauty of Manggarai natural scenery.

Keywords : Congko Lokap, Penti, Manggarai, Communication.

I. PENDAHULUAN dalam bentuk pertunjukan sebagai media


komunikasi tradisional adalah suku
Kemajuan teknologi dewasa ini Manggarai. Suku Manggarai merupakan
membuat arus informasi mengalir dengan salah satu masyarakat adat yang tepatnya
cepat, sehingga memberi banyak pengaruh berada di Kabupaten Manggarai Propinsi
dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Nusa Tenggara Timur. Secara adminstratif,
Salah satunya kemudahan berkomunikasi Manggarai sekarang sudah terbagi menjadi
dengan menembus batas jarak, ruang, dan tiga kabupaten, yaitu Manggarai, Manggarai
waktu. Manusia dari berbagai belahan dunia Barat dan Manggarai Timur. Namun secara
dapat melakukan pertukaran berbagai kultur, Manggarai tetap satu: Selat Sapen
macam pesan atau simbol, baik itu Sale di ujung barat dan Wae Mokel awo di
berkenaan dengan pengetahuan, ujung timur. Satu kesatuan kultur dan
keterampilan atau keahlian, maupun warisan budaya masa lalu akan terus ditenun
informasi lainnya. Peristiwa yang sedang ke depan untuk membentuk jati diri.
terjadi atau berlangsung di belahan dunia Congko Lokap merupakan sebuah
lain dapat kita ketahui pada saat yang nama upacara ritual adat di Kabupaten
bersamaan. Manggarai. Pesta congko lokap itu
Arus informasi dapat menyebar dirayakan dalam rangka peresmian sebuah
melalui pemanfaatan berbagai kesenian rumah adat atau mbaru gendang/ mbaru
tradisional (media tradisional), masyarakat tembong. Dalam bahasa adatnya disebut
dapat mengkomunikasikan secara verbal Rame Congko Lokap Mbaru Gendang.
maupun nonverbal tentang berbagai aspek (rame : perayaan/ pesta, congko :
yang terjadi dalam kehidupannya. Media mengangkut sampah, lokap : sisa potongan-
tradisional berasal dari rakyat dan telah ada potongan kulit kayu sewaktu mengerjakan
jauh sebelum media massa modern. Media rumat adat. mbaru : rumah, gendang :
rakyat ini memiliki daya tarik secara gendang). Dengan demikian arti dari pesta
historis. Bentuk-bentuk media tradisional congko lokap itu adalah pesta membersihkan
ini, baik yang populer maupun yang klasik, rumah adat dari segala kotoran agar layak
memiliki tujuan yang hampir sama yaitu dihuni oleh manusia dan di dalamnya dapat
selain untuk menghibur, mendidik, juga digantung gendang sebagai simbol
menguatkan nilai-nilai dan adat kebiasaan kekuasaan atas tanah-tanah adat (ulayat).
yang ada. Karena itu sering dikatakan bahwa congko
Salah satu suku bangsa di Indonesia lokap itu pesta resmi sebuah rumah adat
yang memanfaatkan kesenian tradisional sebelum dipakai. Pesta ini hanya dapat

41
Jurnal Ilmu Komunikasi. JIKA. Vol.1 No.1 April 201

dirayakan pada waktu rumah adat (mbaru kajian budaya mengenai upacara ritual
gendang) mulai dihuni. Bila kelak rumah congko lokap dan upacara penti, karena
adat ini dibongkar atau diperbaiki karena kedua adat budaya ini sudah tergolong
ada kerusakan atau bencana maka rumah langka, upacara ritual congko lokap dan
baru tetap dibangun di atas tanah yang sama upacara penti pun merupakan upacara ritual
(bangka). Dan harus diadakan upacara atau yang paling khas di daerah Manggarai.
ritual adat congko lokap. Selain itu, Pemilihan penelitian ini didasari
Upacara Penti adalah upacara pada pertimbangan bahwa kedua objek
pengucapan syukur atas segala hasil panen tersebut dapat digunakan sebagai media
kepada Tuhan Yang Maha Esa (Mori komunikasi budaya dalam masyarakat adat
Kraeng) dan para leluhur (empo). Upacara Manggarai sejak jaman dahulu hingga kini
penti juga merupakan upacara syukur dapat diterima, dipelihara, diwariskan dan
karena pergantian musim kerja. Karena itu dikembangkan secara turun-temurun dan
sering dikatakan sebagai pesta tahun baru terus-menerus. Dengan demikian, pada saat
orang Manggarai. Perayaan syukur dan dilaksanakan perayaan upacara ritual congko
tahun baru orang Manggarai ini datangnya lokap dan upacara penti , selalu menjadi
dari seluruh warga masyarakat kampung pusat perhatian semua kalangan masyarakat
adat. Seperti yang diungkapkan dalam go‟et Manggarai maupun orang dari luar
(syair/pantun) : penti weki – peso beode weki Manggarai dan ini merupakan peluang
pa‟ang olo-ngaung musi, ce‟e lawang weki, pariwisata yang potensial.
pe‟ang lawak anak wina agu anak rona ( Berdasarkan latar belakang yang
penti dari seluruh warga kampung, mulai telah dipaparkan, peneliti tertarik untuk
dari depan hingga belakang, dari dalam meneliti mengenai budaya di kabupaten
hingga anak wanita dan anak pria). Manggarai yang lebih menitikberatkan
Sebelum perayaan penti telah kepada upacara ritual congko lokap dan
dilaksanakan mbata dan sanda di rumah penti di dalam hubungannya sebagai media
adat (mbaru gendang). Lagu-lagu sanda dan komunikasi yang dipakai dalam
mbata pada umumnya melambungkan puji pengembangan pariwisata daerah di
dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa Kabupaten Manggarai.
(Jari agu Dedek) dan juga kepada para Penelitian ini menggunakan
leluhur(empo). Mbata dan sanda di rumah perspektif kualitatif dengan paradigma kritis.
adat itu biasanya lima malam sebelum Paradigma berpikir yang melihat media
perayaan puncak. Pada malam puncak itu komunikasi sebagai penghubung antara
pun selalu didahului oleh lagu-lagu yang budaya dan pariwisata yang ada di lokasi
bernuansa syukur dan pujian kepada Tuhan penelitian sehingga menghasilkan sebuah
Yang Maha Esa dan para leluhur. industry pariwisata yang dapat mencipta
Berbicara pesona pariwisata lapangan pekerjaan, pengembangan
Manggarai, seolah tak ada habisnya. Sebab investasi, perkembangan pendapatan daerah
semua wilayah di bagian barat pulau Flores dan pelestarian kebudayaan.
ini memiliki pesona kekayaan alam dan Penelitian juga menggunakan
khazanah budaya yang luar biasa. Di metode etnografi komunikasi dengan
Kabupaten Manggarai terdapat potensi daya pendekatan subjektif (kualitatif) secara luas
tarik wisata, baik menyangkut wisata alam, menggunakan pendekatan interprentif dan
budaya, maupun wisata religi/rohani. kritis pada masalah-masalah sosial. Dalam
Merujuk inventarisasi objek wisata yang penelitian yang dilakukan, yaitu meneliti
dilakukan oleh Dinas Pariwisata Manggarai mengenai kebudayaan upacara ritual Congko
menyebutkan, setidaknya terdapat 56 objek Lokap dan Penti menjadi media komunikasi
wisata alam, 19 objek wisata budaya dan 48 dalam pengembangan pariwisata daerah
objek wisata kelautan. Objek-objek wisata Manggarai.
tersebut tersebar di berbagai lokasi. Objek- Mulyana (2002:180-195)
objek wisata di Manggarai ini sangat Menyatakan bahwa ―penentuan nara sumber
potensial dikembangkan dalam rangka kunci (key informant) atau disebut sebagai
membuka peluang bagi terciptanya lapangan nara sumber sebagai subjek penelitian
pekerjaan, pengembangan investasi, merupakan langkah yang sangat penting‖.
peningkatan pendapatan masyarakat, Hal ini terutama dalam mempertimbangkan
penerimaan daerah. tingkat representatif para nara sumber yang
Dari sekian banyak potensi wisata akan diwawancarai. Sedangkan teknik
budaya yang terdapat di Manggarai, peneliti pengumpulan data dilakukan dengan teknik
lebih cenderung memilih tema penelitian observasi peristiwa ritual yang sudah

42
Jurnal Ilmu Komunikasi. JIKA. Vol.1 No.1 April 201

pernah dilakukan peneliti, wawancara apa yang terjadi pada pengamalan


mendalam dengan para nara sumber yang upacara yang sama yaitu untuk suatu
diwawancarai oleh peneliti, dan studi komunitas yang berbeda akan
dokumentasi data-data yang terdapat di mempunyai tujuan atau sebab yang
koleksi para nara sumber. berbeda pula. Demikian pula dengan
pemaknaan yang mengikuti dari
II. KAJIAN LITERATUR pelaksanaan ritual tersebut, pada
dasarnya masyarakat pendukung ritual
a. Upacara Ritual akan lebih mudah dan transaparan
Secara etimologis, upacara dalam memahami makna aktivitas
ritual dapat dibagi atas dua kata yakni ritualnya.
upacara dan ritual. Upacara adalah
suatu kegiatan yang dilaksanakan b. Komunikasi
sekelompok orang serta memiliki Komunikasi secara etimologis
tahapan yang sudah diatur sesuai berasal dari kata bahasa Latin
dengan tujuan acara. Sedangkan yang ―communicatio‖, berasal dari kata
dimaksud dengan ritual adalah suatu ―communis‖ yang berarti sama. Sama di
hal yang berhubungan terhadap sini maksudnya sama makna atau sama
keyakinan dan kepercayaan spritual arti. Jadi komunikasi terjadi apabila
dengan suatu tujuan tertentu. terdapat kesamaan makna mengenai
(Situmorang, 2004: 175) Maka suatu pesan oleh peserta komunikasi
Situmorang dapat menyimpulkan bahwa (Schramm dalam Effendy, 1993 : 30).
pengertian upacara ritual adalah sebuah Sebagai tambahan defenisi di
kegiatan yang dilakukan sekelompok atas, Carey (1989) menyatakan bahwa
orang yang berhubungan terhadap komunikasi merupakan suatu proses
keyakinan dan kepercayaan spritual ―ritual‖ yang menggunakan informasi
dengan suatu tujuan tertentu. melalui dua model, yaitu:
(Situmorang, 2004: 175). a) Model transmisi, yakni model
Menurut Kamus Besar Bahasa yang secara tidak langsung
Indonesia (KBBI) pengertian upacara mengutamakan perluasan
adalah sebagai berikut: pesan dalam ruang, tetapi
a) Rangkaian tindakan atau perbuatan diarahkan untuk mengelola
yang terikat kepada aturan-aturan masyarakat dalam satuan
tertentu menurut adat atau agama, waktu, model yang tidak
b) Perbuatan atau perayaan yang mengutamakan tindakan untuk
dilakukan atau diadakan mengambil bagian dalam
sehubungan dengan peristiwa informasi, tetapi representasi
penting. dari pertukaran keyakinan.
Menurut Koentjaraningrat b) Sebagai pola dasar suatu
pengertian upacara ritual atau ceremony ―ritual‖ untuk menarik orang
adalah: sistem aktifitas atau rangkaian lain agar turut serta dalam
tindakan yang ditata oleh adat atau kebersamaan (Liliweri, 2003 :
hukum yang berlaku dalam 4).
masyarakat yang berhubungan dengan Liliweri (2002:59)
berbagai macam peristiwa yang menjelaskan yang dimaksudkan
biasanya terjadi dalam masyarakat yang kebudayaan adalah komunikasi,
bersangkutan. (Koentjaraningrat, 1990: hanya karena kompleksitas total,
190). pikiran, perasaan, dan perbuatan
Memahami tujuan atau sebab- manusia merupakan bentuk pernyataan
sebab mengenai ritual congko lokap manusia yang mewakili individu
dan penti itu dilaksanakan, kiranya maupun kelompok. Akibatnya
dapat memberi informasi mengenai kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari
motif yang mendasari perilaku ritual- komunikasi. Mulyana (2004 : 14)
ritual tersebut. Apakah terarah pada menjelaskan hubungan antara
tujuan praktis atau tidak, ditujukan komunikasi dengan kebudayaan,
untuk kepentingan kehidupan duniawi sebagai berikut :
atau akhirat, dan hal apa yang akan ―Budaya dan komunikasi
menjadi informasi yang amat akurat berinteraksi secara erat dan
untuk mempelajari perilaku ritual, sebab dinamis, inti budaya adalah

43
Jurnal Ilmu Komunikasi. JIKA. Vol.1 No.1 April 201

komunikasi, karena budaya muncul ketangguhan media tradisional sungguh tak


melalui komunikasi. Akan tetapi terkira pentingnya.
pada gilirannya budaya yang Ketangguhan media tradisional
tercipta pun akan mempengaruhi dimungkinkan karena adanya ikatan
cara berkomunikasi anggota emosional yang sangat kuat dan mendalam
budaya yang bersangkutan. antara media tradisional dengan masyarakat.
Hubungan antara budaya dan Dalam pemahaman bahwa media tradisional
komunikasi adalah timbale balik. mengandung nilai-nilai budaya dan tradisi
Budaya tidak akan eksis tanpa yang luhur. Nilai-nilai adat ini telah ada
komunikasi dan komunikasi pun sejak dahulu, diterima dan diwariskan secara
tidak akan eksis tanpa budaya‖. turun-temurun serta hidup dan berkembang
Penelitian pada upacara ritual di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk
congko lokap dan penti menggambarkan kesenian tradisional.
pentingnya komunikasi di dalam budaya Masyarakat Manggarai memakai
Manggarai tersebut sebagai media media tradisional dalam menyampaikan
tradisional dalam pengembangan pesan-pesan komunikasi yang terdapat di
pariwisata daerah yang dapat menarik dalam upacara ritual congko lokap dan penti
perhatian para wisatawan untuk sebagai perekat komunitas yang harus
berkunjung ke Manggarai. senantiasa dijaga dan dilestarikan.

c. Media Tradisional d. Pariwisata


Media tradisional dikenal juga Menurut Yoeti, kata pariwisata
sebagai media rakyat. Dalam pengertian ditinjau dari etimologis, berasal dari bahasa
yang lebih sempit, media ini sering juga Sanskerta, sesungguhnya bukanlah berarti
disebut sebagai kesenian rakyat. Dalam ―tourisme‖ (bahasa Belanda) atau ―tourism‖
hubungan ini Coseteng dan Nemenzo (bahasa Inggris). Kata pariwisata, menurut
(dalam Jahi, 1988) mendefinisikan pengertian ini, sinonim dengan pengertian
media tradisional sebagai bentuk-bentuk ―tour‖. Pendapat ini berdasarkan pemikiran
verbal, gerakan, lisan dan visual yang sebagai berikut: kata pariwisata terdiri dari
dikenal atau diakrabi rakyat, diterima dua suku kata yaitu masing-masing kata
oleh mereka, dan diperdengarkan atau ―pari‖ dan ―wisata‖.
dipertunjukkan oleh dan atau untuk 1) Pari : Banyak, berkali-kali,
mereka dengan maksud menghibur, berputar-putar lengkap.
memaklumkan, menjelaskan, mengajar, 2) Wisata : perjalanan, bepergian
dan mendidik. Sejalan dengan definisi yang dalam hal ini
ini, maka media rakyat tampil dalam sinonim dengan kata
bentuk nyayian rakyat, tarian rakyat, ―travel‖ dalam bahasa
musik instrumental rakyat, drama Inggris.
rakyat, pidato rakyat- yaitu semua Atas dasar itu, maka kata
kesenian rakyat apakah berupa produk ―pariwisata‖ seharusnya diartikan sebagai
sastra, visual ataupun pertunjukkan- perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau
yang diteruskan dari generasi ke berputar-putar dari satu tempat ke tempat
generasi (Clavel dalam Jahi, 1988). lain, yang dalam bahasa Inggris disebut
Menurut Jacson dalam Oepen dengan ―tour‖, sedangkan untuk pengertian
(1988 : 14), media tradisional pun jamak, kata ―pariwisata‖ dapat digunakan
merupakan tali pengikat dan sarana kata ―tourisme‖ atau ―tourism‖.
pemersatu bagi masyarakat desa. Artinya Pariwisata budaya (congko
pentingnya media tradisional hampir sama lokap, penti dan pagelaran budaya
dengan arti pentingnya pendidikan non Manggarai lainnya), pariwisata alam
formal menyangkut agama, etika, dan rohani merupakan langkah terbaik
kesejahteraan keluarga, ekonomi rumah yang dapat digunakan pemerintah
tangga, norma-norma kemasyarakatan dan daerah yang berkerja sama dengan
nilai-nilai budaya. Dalam konteks seperti ini, warga masyarakat Manggarai dalam
melalui berbagai pertunjukan drama, memajukan kabupaten Manggarai
nyanyian atau tarian, diangkat berbagai menjadi salah satu ikon dalam dunia
peristiwa kemasyarakatan yang mana industri pariwisata nasional dan
hiburan, penerangan, rencana dan internasional.
keputusan-keputusan dilaksanakan secara
bersama-sama. Singkatnya, popularitas dan III. METODE PENELITIAN

44
Jurnal Ilmu Komunikasi. JIKA. Vol.1 No.1 April 201

IV. PEMBAHASAN
Paradigma Penelitian
Penelitian ini menggunakan Ritual Adat dalam Kehidupan
perspektif kualitatif dengan paradigma Masyarakat Manggarai
kritis. Paradigma berpikir yang melihat Upacara ritual dapat dimaknai
media komunikasi sebagai penghubung sebagai proses pemaknaan pesan
antara budaya dan pariwisata yang ada di masyarakat Manggarai terhadap aktifitas
lokasi penelitian sehingga menghasilkan religi dan sistem kepercayaan yang
sebuah industri pariwisata yang dapat dianutnya. Dalam prosesnya selalu terjadi
mencipta lapangan pekerjaan, pemaknaan simbol-simbol tertentu yang
pengembangan investasi, perkembangan menandakan berlangsungnya proses
pendapatan daerah dan pelestarian komunikasi ritual tersebut. Kerap terjadi
kebudayaan. persinggungan dengan paham-paham
keagamaan formal yang kemudian ikut
Metode Penelitian mewarnai proses tersebut. Realitas ini juga
Penelitian ini menggunakan metode banyak terdapat di wilayah nusantara. Salah
etnografi komunikasi. Penelitian dengan satunya adalah di Nusa Tenggara Timur
pendekatan subjektif (kualitatif) secara luas tepatnya di Kabupaten Manggarai. Hal ini
menggunakan pendekatan interprentif dan menarik untuk dikaji karena memperlihatkan
kritis pada masalah-masalah sosial. Dalam bagaimana eksistensi budaya upacara ritual
penelitian yang dilakukan, yaitu meneliti congko lokap dan penti, sebagai sebuah
mengenai kebudayaan upacara ritual Congko tindakan komunikastif masyarakat di
Lokap dan Penti menjadi media komunikasi Kabupaten Manggarai.
dalam pengembangan pariwisata daerah Pandangan dan sikap hidup serta
Manggarai. adat masyarakat Manggarai yang sangat
dominan adalah keyakinan dan kepercayaan
Sumber Data mereka akan Tuhan Yang Maha Esa. Bagi
Mulyana (2002: 180-195) orang Manggarai hidup di dunia ini tidak
Menyatakan bahwa ―penentuan nara sumber lain daripada hidup dan tanggung jawabnya
kunci (key informant) atau disebut sebagai kapada Tuhan Yang Maha Esa, para luluhur,
nara sumber sebagai subjek penelitian sesama manusia dan bahkan
merupakan langkah yang sangat penting‖. tanggungjawabnya kepada lingkungan di
Hal ini terutama dalam mempertimbangkan sekitarnya.
tingkat representatif para nara sumber yang Adat istiadat dalam upacara ritual
diwawancarai. congko lokap dan penti sama saja seperti
Teknik Pengumpulan Data rambu lalu lintas hidup yang memberikaan
aba-aba, jalur dan tindakan serta memiliki
Teknik pengumpulan data kekuatan moril dan berdaya guna atas segala
dilakukan dengan teknik observasi perilaku orang Manggarai dalam kehidupan
peristiwa ritual yang sudah pernah bermasyarakat dan sebagai media
dilakukan peneliti, wawancara mendalam komunikasi dalam pengembangan pariwisata
dengan para nara sumber yang daerah.
diwawancarai oleh peneliti, dan studi Aplikasi Nilai, Norma, Kebiasaan dan
dokumentasi data-data yang terdapat di Ritual Adat dalam Kehidupan
koleksi para nara sumber. Masyarakat Manggarai
Dalam berinteraksi, masyarakat
Rencana Analisis Data Manggarai tidak terlepas dari aturan,
Untuk mendapatkan hasil analisis kebiasaan maupun tata krama masyarakat
yang mendalam, maka diperlukan data dari yang telah membudaya dalam proses
setiap tahapan penelitian. Analisis data yang kehidupan sehari-hari. Aturan dan tata
dilakukan merujuk pada pola yang krama tersebut merupakan landasan
dirumuskan oleh Miles dan Huberman kultural (kebiasaan masyarakat), yang
(dalam Prawito, 2007 : 104), melalui tahap- berpengaruh dalam berbagai aktivitas
tahap sebagai berikut; kategorisasi, kehidupan sehari-hari.
pembentukan narasi-narasi, interpretasi data, Jika dilihat dari sudut pandang ilmu
pengambilan kesimpulan, dan melakukan komunikasi, maka dalam pembahasan
verifikasi. tentang Aplikasi Nilai, Norma, Kebiasaan
dan Ritual Adat dalam Kehidupan
Masyarakat Manggarai dapat dikatakan

45
Jurnal Ilmu Komunikasi. JIKA. Vol.1 No.1 April 201

bahwa nampak jelas penggunaan jenis oleh seni keindahan dan kehalusan budi,
komunikasi vertikal dan horizontal antara melalui bahasa, tarian dan musik. Dalam
masyarakat Manggarai dengan Mori Kraeng konsep spiritual, komunikasi ritual
dan antara masyarakat Manggarai dengan merupakan komunikasi antara yang
sesamanya dan lingkungan alamnya sangat diciptakan untuk mensyukuri Rahmat Yang
erat dan tidak bisa dipisahkan; malah Maha Pencipta. Karena kehalusan budi
senantiasa dipelihara dan dilestarikan serta manusia Manggarai, maka ritual tidak
dilindungi dalam naungan norma-norma cukup hanya dengan bahasa lisan saja, tetapi
adat yang kalau dilanggar dipercaya akan juga dibarengi dengan bahasa tubuh maupun
mendatangkan bencana. bahasa rasa yang ditunjukkan lewat musik
Nilai budaya harus ditempatkan dan tarian di dalam upacara ritual congko
sebagai spiritualitas dan pegangan hidup lokap dan penti.
masyarakat Manggarai yang dikemas Melalui upacara ritual congko lokap
sedemikian rupa dalam nuansa budaya agar dan penti yang selalu diadakan sebagai salah
dapat menarik perhatian wisatawan yang satu rangkaian pesona budaya dalam
berkunjung ke Kabupaten Manggarai. meningkatkan perkembangan pariwisata di
Khusus dilokasi penelitian, peneliti melihat Manggarai, diharapkan supaya budaya lokal
bahwa aplikasi nilai-nilai, norma, kebiasaan Manggarai dapat terus dijaga dan
dan adat masyarakat secara umum telah dilestarikan oleh kaum muda Manggarai
berjalan sesuai dengan ajaran budaya dan sebagai penerus budaya lokal Manggarai.
agama yang ada.
Makna Simbolis Dalam Ritual Congko
Tingkah laku, Motif dan Tujuan Lokap dan Penti
Masyarakat Manggarai Melakukan
Upacara Adat Congko Lokap dan Penti Makna Simbolis Dalam Ritual Congko
Tradisi, nilai-nilai, kepercayaan, Lokap
standar perilaku, motif dan tujuan budaya Upacara Congko Lokap dimaknai
semuanya diciptakan oleh kreasi manusia oleh masyarakat Manggarai sebagai sebuah
dan bukan sekedar diwarisi secara instink, nama perayaan adat yang dirayakan dalam
melainkan melalui proses pendidikan dan rangka peresmian sebuah rumah adat atau
pertukaran sampai pada perkembangannya mbaru gendang/mbaru tembong. Dalam
sesuai dengan cara-cara tertentu menurut bahasa adatnya disebut Rame Congko Lokap
budayanya masing-masing. Mbaru Gendang yang artinya pesta
Budaya adalah sikap dan perilaku pembersihan rumah adat dari segala kotoran
yang sudah membaku dalam kehidupan agar layak dihuni oleh manusia dan di
suatu komunitas. Di dalam suatu komunitas dalamnya dapat digantung sebuah gendang
tertentu terdapat sifat-sifat religious, etika sebagai simbol kekuasaan atas tanah-tanah
dan estetika maupun kreativitas yang adat.
mengarah kepada kemajuan teknologi. Di dalam upacara ritual Congko
Kabupaten Manggarai sebagai salah satu Lokap terdapat berbagai ritual yang
wilayah dalam kesatuan Negara Republik dilakukan sebagai simbol kebersamaan,
Indonesia mempunyai beragam budaya, penghormatan kepada Tuhan dan sesame
membuat negeri kita kaya akan ritual dan serta kekuasaan.
upacara adat. Aktifitas interaksi sosial dan
tindakan komunikasi masyarakat Manggarai Makna Simbolis Dalam Ritual Penti
itu dilakukan baik secara verbal, non verbal Pesta penti adalah salah satu dari
maupun simbolis. sekian banyak perayaan adat Manggarai (tae
adak Manggarai). Penti adalah pesta syukur
Peranan Bahasa, Tarian dan Musik kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil
dalam Upacara Ritual Congko Lokap dan panen.
Penti Seperti halnya upacara-upacara
Peranan bahasa, tarian dan musik adat Manggarai yang lain, pesta penti
dalam upacara ritual congko lokap dan penti mempunyai norma yang mengatur hubungan
tidak dapat dipisahkan antara satu sama antara Sang Pencipta ( Jari Agu Dedek)
lainnya karena ketiganya merupakan unsur dengan ciptaannya. Memiliki norma yang
terpenting dalam upacara ritual congko mengatur hubungan antara sesama manusia
lokap dan penti dan juga upacara-upacara dan antara manusia dengan lingkungannya.
ritual lainnya di Manggarai. Dalam Boleh dikatakan bahwa pesta penti itu
komunikasi ritual, budaya spiritual diwarnai memiliki dimensi vertikal, horizontal dan

46
Jurnal Ilmu Komunikasi. JIKA. Vol.1 No.1 April 201

sosial. Dalam kamus bahasa Manggarai Model Komunikasi Budaya Upacara


yang ditulis oleh P.J. Verheijen, SVD; penti Ritual Congko Lokap dan Penti Sebagai
diartikan sebagai pesta tahun baru orang Media Komunikasi dalam Pengembangan
Manggarai. Pengertian ini diangkat dari Pariwisata Daerah Manggarai.
bahasa Manggarai yang berbentuk go‟et : Model komunikasi budaya dibuat
penti weki – peso beso reca rangga – wali dengan tujuan untuk mempermudah
ntaung; na‟a cekeng manga – curu cekeng pemahamanrealistis dan fenomena
weru (syukur dari penduduk desa kepada komunikasi yang diteliti. Mulyana (2000 :
Tuhan Yang Maha Esa dan para leluhur 121).
karena telah berganti tahun, telah melewati Model komunikasi upacara ritual
musim kerja yang lama dan menyongsong congko lokap dan penti sebagai media
musim kerja yang baru). Pesta penti komunikasi dalam pengembangan pariwisata
dirayakan bersama-sama oleh seluruh warga daerah Manggarai. Kabupaten Manggarai
desa ( weki pa‟ang olo – ngaung musi, wan memiliki banyak jenis upacara ritual yang
koe – etan tu‟a). Penti dirayakan setiap sering dilakukan sebagai bentuk
tahun pada permulaan musim tanam atau penghormatan kepada Tuhan Yang Maha
sesudah memetik hasil dari kebun. Esa dan kepada para leluhur dengan
Penti merupakan sebuah paket menggunakan berbagai media komunikasi
budaya yang dirayakan secara berurutan dan tidak lepas dari simbol-simbol
mulai dari luar mbaru gendang dan kembali komunikasi baik yang menggunakan simbol
kepada perayaan di sekitar mbaru gendang. verbal maupun nonverbal.
Ritus penti seperti ini diangkat dari falsafah
hidup orang Manggarai yakni : “ gendang V. PENUTUP
one – lingko pe‟ang, mbaru bate ka‟eng –
uma bate duat. Wae bate teku – natas bate Kesimpulan
labar, compang tara dari”. 1. Komunikasi dan budaya secara timbal
balik saling berpengaruh satu sama lain.
Peranan Upacara Ritual Conko Lokap Budaya dimana secara individu-
dan Penti dalam Pengembangan individu disosialisasikan, akan
Pariwisata Daerah berpengaruh terhadap cara mereka dalam
Upacara ritual Congko Lokap dan berkomunikasi. Dan cara bagaimana
Penti yang rutin dilakukan masyarakat individu-individu itu berkomunikasi,
Manggarai, selain berperan sebagai upaya dapat mengubah budaya yang mereka
pelestarian budaya juga dapat berperan miliki dari waktu ke waktu. Ritual
sebagai salah satu upaya pengembangan merupakan salah satu cara dalam
pariwisata daerah Kabupaten Manggarai. berkomunikasi. Semua bentuk ritual
Kabupaten Manggarai sangat adalah komunikatif. Ritual selalu
memungkinkan dapat menjadi industri merupakan perilaku simbolik dalam
pariwisata, karena di daerah Manggarai ini situasi-situasi sosial. Karena itu, ritual
selain terdapatnya kebudayaan Congko selalu merupakan suatu cara untuk
Lokap dan Penti yang menjadi daya tarik meyampaikan sesuatu. Komunikasi
wisatawan, juga didukung dengan potensi budaya masyarakat Manggarai dalam
alam yang sangat mempesona. Berbicara penelitian ini dapat dilihat pada upacara
pesona pariwisata Manggarai, seolah tidak ritual congko lokap dan penti.
ada habisnya, sebab hampir semua wilayah 2. Ada beberapa budaya positif yang
di bagian barat Pulau Flores ini memiliki terdapat di dalam kehidupan masyarakat
pesona kekayaan alam dan khazanah Manggarai yang secara langsung
budaya yang luar biasa. maupun tidak langsung ikut berperan
Potensi alam yang mempesona dalam meningkatkan kemajuan budaya
memungkinkan menjadi objek pariwisata dan pembangunan di Manggarai, di
yang akan banyak menarik minat wisatawan antaranya:
baik lokal maupun asing. Objek pariwisata a. Masyarakat Manggarai menjunjung
yang ada di kabupaten Manggarai meliputi tinggi musyawarah dan mufakat “
objek pariwisata alam, pariwisata budaya, Lonto Leok, Padir wa‟i rentu sa‟i (
dan objek wisata religi atau rohani. duduk megitar untuk mencapai
mufakat). Musyawarah dan
mufakat tersebut harus dipatuhi
oleh semua warga , siapa saja yang
melanggar akan dikenakan sanksi.

47
Jurnal Ilmu Komunikasi. JIKA. Vol.1 No.1 April 201

b. Orang Manggarai sangat patuh Manggarai. Selain itu juga, dorongan


terhadap orang yang dituakan atau dari para tetua adat agar semakin
pemimpin. Tapi, ini bukan berarti melibatkan para pemuda dan pemudi
bahwa masyarakat Manggarai Manggarai di dalam semua kegiatan
adalah masyarakat yang pasrah. upacara-upacara ritual adat Manggarai
Seringkali mereka secara langsung agar mereka ikut terlibat di dalam semua
atau tidak mengkritisi kegiatan inti upacara ritual adat –
pemimpinnya; sikap kritis ini walaupun kecil perannya - yang selama
biasanya mereka ungkapkan lewat ini hanya monoton dilakukan oleh
lagu atau kegiatan adat lainnya. orang-orang dewasa.
Bila pemimpin mendengar 2. Peningkatan penanaman investasi di
tersebut, mereka tidak marah, tetapi Kabupaten Manggarai dengan
dipahami di dalam hati dan menawarkan proyek-proyek investasi
ditindaklanjuti dalam perbaikan. dalam bidang pariwisata budaya,
Pada masa sekarang, dengar pariwisata alam dan pariwista rohani
berbagai media komunikasi modern secara akktif kapada para investor
yang ada sikap kritisi dilakukan potensial, baik di dalam negeri maupun
dengan demonstrasi. investor dari luar negeri. Adapun faktor
c. Orang Manggarai suka bergotong- penentu dalam menarik investasi besar
royong, baik untuk bekerja kebun, dan menengah yang berasal dari
membangun mbaru gendang Penanaman Modal Asing (PMA) dan
(rumah adat), membangun rumah, Penanaman Modal Dalam Negeri
ataupun untuk membiayai anak- (PMDN), antara lain diidentifikasikan
anak sekolah. Semua kegiatan yang sebagai berikut :
membebani seseorang ditanggung a. Penyediaan informasi yang jelas
secara bersama. Bahasa adatnya dan akurat melalui database
“Ndorik Olo Wenggol Musi” potensi dan peluang investasi
(bergotong-royong). pariwisata di wilayah Kabupaten
Upaya pengelolaan kesenian tradisional Manggarai.
Manggarai berupa upacara ritual congko b. Penyediaan pelayanan serta
lokap dan penti serta berbagai bentuk fasilitas yang menunjang secara
kesenian budaya dan sektor pariwisata baik dan transparansi sesuai
lainnya sangat memerlukan peran dengan kewenangan daerah, dengan
pemerintah daerah dan masyarakat perangkat aturan yang jelas dan
Manggarai supaya bisa berkembang menjadi dengan pelaksanaan aturan tersebut
sebuah industri pariwisata yang benar-benar secara jelas dan bertanggungjawab.
diolah secara profesional. Jadi, pesona Demi menghindarkan aspek subjektivitas
budaya Manggarai yang tertata dan terjaga peneliti dalam hasil penelitian ini, maka
dengan baik dapat dipakai sebagai media diperlukan penelitian sejenis atau pun
dalam pengembangan pariwisata daerah. penelitian lebih lanjut untuk meneliti fokus
penelitian yang sama dengan lebih
Saran mendalam, dari berbagai perspektif yang
1. Pengenalan secara lebih mendalam ada. Dengan demikian akan didapat
kepada orang-orang muda Manggarai kesimpulan dan saran yang lebih akurat
agar semakin lebih mengenal budaya untuk memantapkan usaha-usaha
sendiri dari pada terus berupaya untuk peningkatan manfaat upacara-upacara ritual
mengenal budaya-budaya lain; apalagi dan media komunikasi yang digunakan
budaya-budaya yang sangat bertentangan dalam pengembangan potensi pariwisata
dan tidak membawa pengaruh positif yang ada di lokasi penelitian.
dibandingkan dengan makna dan nilai-
nilai luhur yang ada dalam budaya
Manggarai. Hal ini dapat dilakukan
antara lain dengan menambah materi
kurikulum Bahasa Manggarai mulai dari
sekolah dasar hingga sekolah menengah;
selain itu juga tetap mempertahankan
kebiasaan pada hari-hari tertentu agar
semua sekolah dan instansi pemerintah
untuk menggunakan pakaian adat

48
Jurnal Ilmu Komunikasi. JIKA. Vol.1 No.1 April 201

DAFTAR PUSTAKA 2000. Komunikasi Antar

Rujukan Buku
Antonius, Darus. 1999. Pewujudan Sebuah
Obsesi: Pembangunan
Manggarai 1989 – 1999.
Kupang : Yayasan Momang
Mose.
Dagur, B. Antony. 1997. Kebudayaan
Manggarai sebagai Salah Satu
Khasanah Kebudayaan
Nasional. Surabaya : Ubhara
Press.
_. 2004. Prospek &
Strategi Pembangunan
Kabupaten Manggarai Dalam
Perspektif Masa Depan. Jakarta
: Indomedia.
_. 2008. Budaya Daerah
Dalam Konteks Komunikasi.
Ende : Nusa Indah.
Danesi, Marcel. 2010. Pegantar Memahami
Semiotika Media. Yogyakarta
: Jalasutra.
DeVito, Joseph, A. 1997. Komunikasi
Antarmanusia. Kuliah Dasar.
Edisi Kelima. Jakarta :
Professional Books.
Dewi, Sutrisna. 2007. Komunikasi Bisnis.
Yogyakarta : Andi.
Fiske, John. 2010. Cultural and
Communication Studies: Sebuah
Pengantar Paling Komprehensif.
Yogyakarta : Jalasutra.
Hemo, Doroteus. 1988. Sejarah Daerah
Manggarai. Ruteng.
Janggur, Petrus. 2008. Butir-Butir Adat
Manggarai Buku 1. Ruteng :
Artha Gracia.
. 2010. Butir-Butir Adat
Manggarai Buku 2. Ruteng :
Yayasan Siri Bongkok.
Jebadu, Alex. 2009. Bukan Berhala :
Penghormatan Kepada Leluhur.
Yogyakarta : CV. Titian Galang
Printika.
Koentjaraningrat. 1999. Manusia Dan
Kebudayaan Di Indonesia.
Jakarta : Penerbit Djambatan.
Koemala, Lukiati. 2009. Ilmu Komunikasi:
Perspektif, Proses, dan Konteks.
Bandung : Widya Padjadjaran.
Liliweri, Alo. 2003. Makna Budaya Dalam
Komunikasi Antar Budaya.
Yogyakarta. Lkis
Mulyana,Deddy & Rakhmat, Jalaluddin.

49
Jurnal Ilmu Komunikasi. JIKA. Vol.1 No.1 April 201

Budaya: Panduan Berkomunikasi : PT. Remaja Rosdakarya. Toda,


Dengan Orang-Orang Berbeda Dami N.1999. Manggarai Mencari
Budaya. Bandung : Rosdakarya. Pencerahan Histografis. Ende
. 2001. Ilmu Komunikasi Suatu : Nusa Indah.
Pengantar. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya. Sumber Rujukan Lain
. 2001. Metode Pedoman Penulisan Tesis/ Disertasi dan
Penelitian Kualitatif. Paradigma Baru Ilmu Penulisan Artikel Ilmiah Program
Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Pascasarjana tahun Akademik 2000 –
Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. 2008.
.2008. Metode Penelitian Bahan Seminar Inkulturasi Sebagai Proses
Komunikasi: Contoh-contoh Pembatinan Iman dan Nilai- nilai
Penelitian Kualitatif Dengan Kristiani.
Pendekatan Praktis. Bandung

50