Anda di halaman 1dari 7

PERUBAHA

N POLA
PERILAKU
SOSIAL
MASYARAK
AT DI ERA
REVOLUSI
INDUSTRI
4.0

Mata Kuliah : Sosiologi


Dosen Pengampu : Tutik Sulistyowati, Dr.,M.Si
Kelas/Semester : F/I
Jurusan : Hubungan Internasional
Penulis : Muhammad Ramadhani Dimyati
NIM : 201910360311287

FAKULTAS
UNIVERSITAS
ILMU MUHAMMADIYAH MALANG
SOSIAL DAN 2019
ILMU
POLITK
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa, karena atas
limpahan rahmat dan hidayah-Nya, Paper yang berjudul “PERUBAHAN POLA PERILAKU
SOSIAL MASYARAKAT DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0” dapat saya selesaikan.
Penyusunan paper ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang perubahan atau
permasalahan perilaku sosial masyarakat di era revolusi industry 4.0 dan macam – macam
cara penyelesaiannya.

Dalam pembuatan paper ini, saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Tutik
Sulistyowati, Dr.,M.Si, selaku dosen pengampu Sosiologi yang telah berkenan mengizinkan
pembuatan makalah ini. Selain itu, ucapan terima kasih juga saya tujukan kepada kedua
orang tua dan teman-teman saya yang telah memberikan doa, dorongan, serta bantuan kepada
saya sehingga paper ini dapat saya selesaikan.

Demikian, paper ini saya hadirkan dengan segala kelebihan dan kekurangan. Oleh
sebab itu, kritik dan saran yang membangun demi perbaikan paper ini, sangat saya harapkan.
Semoga paper ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan bagi pembaca.

Malang, 22 Oktober 2019

MUHAMMAD RAMADHANI DIMYATI


DAFTAR ISI
BAB I

1.1. ABSTRAK

Sebagai mahasiswa, saya akan mencoba


mengulas perubahan pola perilaku sosial
masyarakat pada era Revolusi Industri 4.0.
Dimana, nilai kearifan lokal budaya, humanisme,
dan sosialisme semakin terkikis karena derasnya
arus pengaruh globalisasi, yakni sebuah zaman
yang ‘mengetuhankan’ teknologi. Itu dikarenakan
teknologi menjanjikan kemudahan, kemajuan,
kecepatan, popularitas, bahkan produktivitas. Era
modern memang diidentikkan dengan era
masyarakat digital. Setiap aktivitas manusia akan digerakkan melalui serangkaian teknologi
digital. Teknologi ini dioperasikan dengan menekan beberapa digit (angka) yang disusun
dengan berbagai urutan. Relasi yang terbangun di antara individu adalah relasi pertukaran
digital, setiap manusia hanya melakukan serangkaian transaksi atau interaksi melalui simbol-
simbol digital. Mulai dari transaksi perdagangan, komunikasi, interaksi dan lain−lain. Itu
semua digerakkan secara digital. Tentu kenyataan ini sangat mengkhawatirkan untuk
kehidupan yang akan datang. Misalnya, dalam relasi hubungan sosial, melalui media sosial
seperti Facebook, WhatsApp, Instagram dan Twitter, yang dianggap sebagai representasi
interaksi sosial layaknya di dunia nyata.

1.2. PENDAHULUAN

Perkembangan dunia industri terus


bergelora dengan diikuti juga perkembangan
berbagai sektor kehidupan, seperti sosial, politik
dan ekonomi. Dalam setiap perkembangan dunia
industri, banyak perubahan di mulai sejak
keberadaan manusia yang bekerja untuk memenuhi
kebutuhan industri, lalu ditemukannya mesin uap
untuk menggantikan setengah dari tenaga manusia
yang ada, hingga kegiatan industrialisasi berbasis
mesin, dan sekarang dunia industri mengalami
perubahan dengan memanfaatkan internet sebagai pola baru dalam mengelola dunia industri,
ini didasari dengan banyaknya penemuan teknologi yang dapat menjadi 'otak' dalam
mengatur sebuah m esin, seperti Artificial Intellegent (AI), Internet of Things (IoT), dll.

Sejak Revolusi Industri 4.0 digaungkan dan diterapkan oleh hampir setiap negara,
teknologi juga menjadi modal penting dalam menjalankan revolusi industri tersebut.
Teknologi terus berkembang, sehingga manusia ikut menyesuaikan dengan perkembangan
tersebut, seperti yang kita ketahui banyak dari hasil perkembangan teknologi yang tercipta
sudah ada di sekeliling kita dan menjadi alat yang mempermudah kehidupan manusia, contoh
yang paling kita rasakan ialah berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi yang
mana internet dan smartphone yang saling terhubung untuk memudahkan seseorang dalam
berhubungan dengan dunia luar.

1.3. RUMUSAN MASALAH


Apa dampak dari Revolusi Industri 4.0 terhadap perubahan pola perilaku sosial
masyarakat pada saat ini?.

1.4. MANFAAT
Adapun yang menjadi manfaat dari pembuatan paper ini adalah sebagai berikut:
1.4.1. KEPADA PENELITI
Mengetahui lebih mendalam tantang dampak positif maupun negative dari
revolusi industry 4.0 terhadap perubahan perilaku sosial di masyarakat.
1.4.2. KEPADA PEMBACA
Menambah wawasan tentang perkembangan dan perubahan sosial di era
revolusi industry 4.0.
BAB II

.1 ISI
Revolusi industri sebenarnya sudah dimulai dari tahun 1784, dengan penemuan mesin
uap oleh negara Inggris, dan pada saat itu juga mekanisasi menggantikan pekerjaan manusia
yang menandakan revolusi industri pertama. Sedangkan revolusi industri kedua dan ketiga
terjadi pada akhir abad ke-19 dan tahun 1970 di mana mesin-mesin produksi yang ditenagai
oleh listrik digunakan untuk kegiatan produksi secara massal, serta penggunaan teknologi
komputer untuk otomasi manufaktur.

Saat ini, dunia


memasuki era baru yang
disebut dengan era revolusi
industri (4.0). Sebuah era
yang memanfaatkan
perkembangan teknologi
sensor, interkoneksi, dan
analisis data yang
memunculkan gagasan untuk
mengintegrasikan seluruh
teknologi tersebut ke dalam
berbagai bidang industri. Revolusi Industri 4.0 sebenarnya juga sudah mulai berjalan di
Indonesia. Terbukti dengan hadirnya beberapa startup baru seperti Traveloka, Go-Jek, Grab,
Tokopedia, Shopee dan lain-lain yang telah memudahkan masyarakat, karena bisa memesan
transportasi dan berbelanja hanya dalam satu genggaman smartphone. Namun, tidak semua
elemen masyarakat menyadari konsekuensi logis atau dampak dari perubahan-perubahan
yang ditimbulkannya pada saat ini.

Dalam hal ini terdapat dampak positif dimana teknologi dapat mendukung kehidupan
manusia, akan tetapi apabila teknologi tersebut bila disalahgunakan akan berdampak negatif
kepada penggunanya; Menciptakan ketergantungan. Teknologi terkadang menciptakan
ketergantungan, ini dikarenakan teknologi menghadirkan sebuah kemudahan dan kemewahan
yang dapat membuat penggunanya terlena dan ini membuat pengguna sulit untuk
menghindari ataupun mengurangi ketergantungan tersebut.

Hal ini membuat muncul ketimpangan perilaku sosial di kalangan masyarakat dan
pola interaksi antar manusia yang berubah. Masyarakat menjadi lebih individualis dan
cenderung konsumeris hedonis. Hal ini mungkin sangat menguntungkan bagi beberapa elite
ekonomi namun hal ini berdampak buruk bagi norma dan tatanan sosial di masyarakat,
terutama bagi Indonesia yang dikenal dengan Negara persatuan dan kesatuan, yang selalu
menjunjung tinggi budaya, adat istiadat, dan gotong royong.