Anda di halaman 1dari 64

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Desa adalah pembagian wilayah administratif dibawah kecamatan

yang dipimpin oleh seorang kepala desa. Menurut Peraturan Pemerintah (PP)

nomor 72 tahun 2005 tentang Desa dalam penelitian Setiawan et al. (2007),

disebut bahwa Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-

batas wilayah, berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan

masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang

diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik

Indonesia. Setelah terbitnya Undang-undang No. 6 tahun 2014 Tentang Desa,

Desa diharapkan mampu menjalankan pemerintahannya dengan mandiri.

Berdasarkan Undang-undang tersebut, Desa diberikan kewenangan mutlak

untuk mengatur dan mengelola tata pemerintahannya sendiri tanpa bantuan dai

pihak manapun. Sebagai sistem pemerintahan terkecil, desa diharapkan dapat

berkembang menjadi wilayah yang maju, mandiri dan demokratis.

Pemerintah pusat memberikan anggaran kepada pemerintah desa

sebagai bentuk bantuan dalam pelaksanaan dan pembangunan desa. Anggaran

tersebut diatur dalam PP (Peraturan Pemerintah) No. 60 Tahun 2014 tentang

Dana Desa yang menyebutkan bahwa dana desa adalah dana yang bersumber

dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yang diperuntukkan

bagi desa yang ditransfer melalui APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja
2

Daerah) Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan

pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan

pemberdayaan masyarakat (Makalalag, 2016). Menurut Peraturan Menteri

Dalam Negeri no. 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan

Desa (selanjutnya disingkat Permendagri No. 37/2007) dalam Pasal 1 ayat 2,

pengelolaan keuangan desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi

perencanaan, penganggaran, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban

dan pengawasan keuangan desa. Semua proses pengelolaan dana desa harus

didasari asas transparansi, akuntabel dan partisipatif (Makalalag, 2016).

Seluruh desa yang ada di Kabupaten Wonosobo sudah menerima dana

transfer desa dari tahun 2015. Pengelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo

untuk tahun anggaran 2017 mengacu pada Peraturan Bupati No. 2 Tahun 2017

tentang Pedoman Pelaksanaan Dana Transfer ke Desa Tahun 2017 dan

Peraturan Bupati No. 3 Tahun 2017 tentang Penetapan Besaran Dana Transfer

ke Desa Tahun Anggaran 2017.


3

Berdasarkan sumber http://www.wawasan.co/home/detail/1399/Dana-Desa-

Wonosobo-Tahun-2018-Anjlok-Rp-7-Miliar jumlah dana tranfer desa yang diterima

Kabupaten Wonosobo yaitu :

Tabel 1 Jumlah Dana Transfer Desa Kabupaten Wonosobo dari Tahun

2015-2017

Tahu
Jumlah Dana Transfer Desa
n
2015 Rp 66.800.000.000,-
2016 Rp 150.000.000.000,-
2017 Rp 191.000.0000.000,-

Akuntabilitas yaitu salah satu prinsip dari pemerintahan yang baik.

Mardiasmo (2009:20) dalam Setiawan et al. (2017) menyebutkan bahwa

akuntabilitas merupakan kewajiban dari tanggungjawab seorang pemegang

amanah untuk mengelola, menyajikan, melaporkan serta menyampaikan segala

aktivitas yang dilaksanakan kepada pemberi amanah. Dalam hal ini,

pemerintah desa harus bisa menerapkan prinsip akuntabilitas dalam

pengelolaan dana desa, dimana semua kegiatan pengelolaan dana desa dari

awal sampai akhir harus dapat dipertanggungjawabkan, sehingga terwujud tata

kelola pemerintahan desa yang baik (Good Governance). Dalam mengelola

dana desa tersebut, Kepala Desa dan aparatur desa dituntut untuk memiliki

pengetahuan, keterampilan dan keahlian atau biasa disebut dengan kompetensi.

Dalam penelitian Indrajaya (2017) pada dasarnya kompetensi aparat

pemerintahan desa tidak cukup hanya diukur dengan peningkatan pendidikan


4

dan pelatihan saja, tetapi juga dapat diukur melalui peningkatan motivasi serta

pengalaman kerja sebagai kepala desa dan aparatur desa lainnya.

Selanjutnya penelitian Mada et al. (2017) menyebutkan :

“Beberapa permasalahan terkait dengan pengelolaan dana desa, antara


lain: keterlambatan penyampaian laporan, laporan pertanggungjawaban yang
dibuat belum sesuai, penggunaan dana desa melewati batas cut off 31
Desember tahun anggaran yang berjalan, belum tertibnya administrasi
keuangan, meningkatnya temuan desa, keterlambatan dalam penyusunan
anggaran, dan belum optimalnya penyerapan anggaran”.

Robert Klitgaard (2001) dalam Yudianto (2016) menyatakan bahwa monopoli

kekuatan oleh pimpinan (monopoly of power) dan tingginya kekuasaan yang

dimiliki seseorang (discretion of official) tanpa adanya pengawasan yang

memadai dari aparat pengawas (minus accountability), menyebabkan dorongan

melakukan tindak pidana korupsi. Terbukti pada Januari 2017, yang dirujuk

dari berita Krjogja.com, Kades Karangrejo Kecamatan Selomerto Kabupaten

Wonosobo tertangkap polisi karena kasus korupsi dana desa sebesar Rp

67.000.000,-. Dana yang dikorupsi tersebut seharusnya digunakan untuk Pos

Penyertaan Modal BUMDes sebesar Rp 50.000.000,- dan Fasilitas Kegiatan

Pemuda dan Olahraga sebesar Rp 17.000.000,-

Adanya permasalahan-permasalahan yang dihadapi pemerintah desa

dalam penerapan prinsip akuntabilitas pengelolaan dana desa salah satunya

dapat muncul karena praktik pengendalian internal pada pemerintah desa

belum optimal. Pengendalian internal berguna untuk mengendalikan

pengelolaan keuangan, khususnya dana desa agar tidak terjadi

penyelewengan/kecurangan yang dilakukan oleh aparat desa. Permasalahan


5

lainnya yaitu kompetensi aparat desa dan komitmen organisasi pemerintah desa

yang masih rendah.

Ada beberapa penelitian terdahulu mengenai akuntabilitas pengelolan

dana desa. Dari hasil penelitian terdahulu, variabel Kompetensi Aparat

Pengelola Dana Desa berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan

dana desa. Hal tersebut didukung oleh penelitian Sugiarti dan Ivan (2017),

Mada et al. (2017), Makakalag et al. (2016) dan Rulyanti (2016), namun

ditolak oleh penelitian Setiana dan Nur (2017) yang menyatakan bahwa

variabel kompetensi aparat dana desa tidak berpengaruh terhadap akuntabilitas

dana desa. Selanjutnya untuk variabel Komitmen Organisasi menurut

penelitian Mada et al. (2017), Rulyanti (2016), Zeyn (2011) dan Fitriana

(2016), semuanya menyatakan bahwa variabel tersebut berpengaruh positif dan

signifikan terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa. Sementara untuk

variabel praktik pengendalian internal, penelitian terdahulu menyatakan vahwa

variabel praktik pengendalian internal berpengaruh positif terhadap

akuntabilitas pengelolaan dana desa. Hal ini didukung oleh penelitian Wardana

(2016), Widyatama et al. (2017) dan Nahruddin (2014), namun ditolak oleh

penelitian Dewi et al. (2016) yang menyatakan bahwa variabel pengendalian

internal tidak berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa.

Penelitian terdahulu mengenai akuntabilitas pengelolaan jarang yang

menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Kebanyakan dari mereka masih

menggunakan jenis penelitian kualitatif, dikarenakan topik mengenai dana

desa ini masih cukup baru dan hasil penelitiannya sebagian besar masih
6

digunakan untuk bahan penilaian penerapan program dana desa tersebut. Untuk

itu penulis berusaha melakukan penelitian mengenai dana desa dengan metode

kuantitatif, yaitu untuk menguji faktor yang mempengaruhi akuntabilitas

pengelolaan dana desa.

Selanjutnya, penelitian ini mereplikasi penelitian yang dilakukan oleh

Mada et al. (2017). Perbedaan dari penelitian sebelumnya yaitu variabel

partisipasi masyarakat diubah menjadi variabel praktik pengendalian internal

dan tempat penelitian yang berbeda, yaitu di Kabupaten Wonosobo. Alasan

penelitian ini mengambil variabel prinsip pengendalian internal karena suatu

pemerintahan yang memiliki pengendalian internal yang baik akan mampu

melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan terhindar dari

penyelewengan/kecurangan. Selain itu adanya pengembangan sistem baru

berupa Open Data Desa di Wonosobo sebagai salah satu wujud prinsip

akuntabilitas pengelolaan dana desa mendorong peneliti untuk melakukan

penelitian tersebut.

B. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan masalah

penelitian sebagai berikut :

1. Apakah komptensi aparat pengelola dana desa berpengaruh positif terhadap

akuntabilitas pegelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo?

2. Apakah komitmen organisasi pemerintah desa berpengaruh positif terhadap

akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo?


7

3. Apakah praktik pengendalian internal berpengaruh positif terhadap

akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo?

4. Apakah kompetensi aparat pengelola dana desa, komitmen organisasi

pemerintah desa dan praktik pengendalian internal secara bersama-sama

berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di

Kabupaten Wonosobo?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijabarkan sebelumnya

maka disusun tujuan penelitian sebagai berikut :

1. Untuk menguji secara empiris pengaruh kompetensi aparat pengelola dana

desa terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo.

2. Untuk menguji secara empiris pengaruh komitmen organisasi pemerintah

desa terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo.

3. Untuk menguji secara empiris pengaruh praktik pengendalian internal

terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo.

4. Untuk menguji secara empiris pengaruh simultan antara kompetensi aparat

pengelola dana desa, komitmen organisasi pemerintah desa dan praktik

pengendalian internal terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di

Kabupaten Wonosobo.
8

D. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini meneliti tentang akuntabilitas pengelolaan dana desa

yang ada di Kabupaten Wonosobo. Variabel independen yang digunakan yaitu

sebatas kompetensi aparat pengelola dana desa, komitmen organisasi

pemerintah desa dan praktik pengendalian internal. Indikator untuk mengukur

kompetensi aparat dana desa antara lain pengetahuan, kemampuan dan sikap

kerja aparat pengelola dana desa. Indikator komitmen organisasi pemerintah

desa antara lain komitmen afektif, komitmen keberlanjutan dan komitmen

normatif. Sedangkan indikator yang digunakan untuk mengukur variabel

praktik pengendalian internal yaitu lingkungan pengendalian, penaksiran

resiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan.

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai

berikut:

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini yaitu diharapkan dapat memperkuat

bukti empiris mengenai pengaruh kompetensi aparat pengelola dana desa,

komitmen organisasi pemerintah desa dan praktik pengendalian internal

terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa.


9

2. Manfaat praktis

a. Bagi Akademisi

Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi

dan memberikan kontribusi pada pengembangan teori, khususnya terkait

dengan pengaruh kompetensi aparat pengelola dana desa, komitmen

organisasi pemerintah desa dan praktik pengendalian internal terhadap

akuntabilitas pengelolaan dana desa.

b. Bagi Pemerintah Desa

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan oleh pemerintah desa dalam pengambilan keputusan terkait

dengan pengelolaan dana desa untuk lebih meningkatkan lagi kompetensi

aparat desa, komitmen organisasi pemerintah desa dan menerapkan

praktik pengendalian internal secara optimal guna memperbaiki

pengelolaan dana desa, khususnya mengenai akuntabilitas pengelolaan

dana desa.
10

BAB II

TELAAH PUSTAKA DAN PERUMUSAN MODEL PENELITIAN

A. Telaah Pustaka

1. Teori Agensi (Agency Theory)

Teori Agensi yaitu konsep kontrak atau hubungan antara Principal

dan Agent. Pihak principal adalah pihak yang bertugas untuk memberikan

mandat kepada pihak lain, yaitu agent, untuk melakukan semua kegiatan

atas nama principals dalam kapasitasnya sebagai pengambil keputusan

(Jensen dan Smith : 1984 dalam Ismail et al. : 2016). Dalam teori agensi,

salah satu pihak (principal) membuat suatu kontrak dengan pihak lain

(agent), dengan harapan agen tersebut akan melakukan pekerjaan seperti

yang dinginkan oleh pihak prinsipals. Pemerintahan daerah di Indonesia

sebagian besar telah menerapkan teori agensi dalam pelaksanaan

pemerintahannya.

Dalam penelitian ini, yang menjadi prinsipal dalam penelitian ini

adalah rakyat/masyarakat desa dan yang menjadi agen adalah Pemerintah

Desa. Dalam hal ini, pemerintah desa diberikan kewenangan untuk

menjalankan pemerintahan desa dengan baik, salah satunya yaitu harus

menerapkan prinsip akuntabilitas, khususnya dalam mengelola dana desa

yang diberikan secara langsung oleh pemerintah pusat untuk kemajuan desa.
11

2. Pengertian Desa

Berdasarkan UU No. 6 tahun 2014 Tentang Desa, Desa adalah desa

dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa,

adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang

berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan,

kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak

asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem

pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Edi Indriza (2006) dalam Sutrawati (2016) memberikan penjelasan

bahwa desa dalam pengertian umum adalah suatu gejala yang bersifat

universal, terdapat dimanapun didunia ini, sebagai suatu komunitas kecil,

yang terlibat pada lokalitas tertentu baik sebagai tempat tinggal (secara

menetap) maupun bagi pemenuhan kebutuhannya dan terutama yang

tergantung pada sektor pertanian.

Desa berkedudukan dibawah wilayah Kabupaten/Kota dan dibawah

kecamatan. Desa memiliki beberapa kewenangan, anatara lain : Bidang

Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Pelaksanaan Pembangunan Desa,

Pembinaan Kemasyarakatan Desa, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa

berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan adat istiadat desa.

Kewenangan desa yang secara lebih rinci bersumber dari penelitian

Sutrawati (2016) meliputi :


12

a. Kewenangan berdasarkan hak asal usul, yang terdiri dari sistem

organisasi masyarakat adat, kelembagaan, pranata dan hukum adat, tanah

kas desa, serta kesepakatan dalam kehidupan masyarakat Desa.

b. Kewenangan lokal berskala Desa, yaitu mengatur dan mengurus

kepentingan masyarakat desa yang telah dijalankan oleh desa atau

mampu dan efektif dijalankan oleh desa atau yang muncul karena

perkembangan desa dan prakasa masyarakat desa.

c. Kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah

Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota; dan

d. Kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah

Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang berdasarkan

ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Pemerintahan Desa

Dalam penyelenggaraan Desa, desa dipimpin oleh seorang Kepala

Desa. Kepala Desa tersebut dipilih langsung secara demokratis oleh

masyarakatnya dengan masa jabatan selama 6 tahun dan boleh dipilih

kembali maksimal satu kali pada masa jabatan berikutnya. Menurut UU

Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dijelaskan bahwa, dalam

penyelenggaraan Pemerintahan Desa, dibentuk Badan Permusyawaratan

Desa (BPD). Badan ini berfungsi sebagai legislatif yang melakukan

pengawasan terhadap kinerja Kepala Desa dan menetapkan peraturan-

peraturan bersama Kepala Desa, selain itu juga berfungsi menampung dan
13

menyalurkan aspirasi masyarakat serta melindungi berbagai nilai dan adat-

istiadat yang ada pada masyarakat (Ferina, 2016).

Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah No.113 Tahun 2014

dalam penelitian Sutrawati (2016) Pemerintahan Desa adalah

penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat

setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Konsep Dana Desa

Dana Desa yaitu dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan

dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa dan Desa Adat yang

ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaran

pemerintahan, pembangunan, serta pemberdayaan masyarakat, dan

kemasyarakatan (sumber: https://simperdededemak.wordpress.com/anggaran-dd-2/ ).

Pengalokasian dana desa yang dilakukan oleh pemerintah pusat

kepada Kabupaten/Kota berdasarkan pada UU No. 6 Tahun 2014 Tentang

Desa. Kemudian pemerintah Kabupaten/Kota membagikan Dana ke seluruh

desa yang ada di Kabupaten/Kota dengan jumlah dana dihitung berdasarkan

pertimbangan jumlah penduduk (30%), luas wilayah (20%) dan angka

kemiskinan (50%). Hasil perhitungan tersebut juga disesuaikan dengan

kesulitan geografis masing-masing desa. Sementara, besaran alokasi

anggaran yang peruntukannya langsung ke Desa ditentukan 10% (sepuluh

perseratus) dari dan di luar dana Transfer Daerah (on top) secara bertahap

(sumber: https://simperdededemak.wordpress.com/anggaran-dd-2/ ).
14

Tujuan dari alokasi dana desa tersebut yaitu untuk mengefektifkan

program yang berbasis Desa secara merata dan berkeadilan yang

dilaksanakan oleh pemerintah pusat, dan hal ini sejalan dengan kewenangan

desa untuk mengelola pemerintahannya sendiri sesuai yang diamanatkan

oleh UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Dalam pengelolaan dana tesebut,

Desa harus tetap memprioritaskan pembangunan dan kesejahteraan

masyarakat desa.

Penganggaran, pengalokasian, dan penyaluran dana desa secara rinci

diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.07/2016 tentang

Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan dan

Evaluasi Dana Desa (“Permenkeu 49/2016”) dan PP 60/2014 beserta

perubahannya:

a. Penganggaran Dana Desa Setiap Kabupaten/Kota

b. Pengalokasian Dana Desa Setiap Desa

c. Penyaluran Dana Desa, dengan tahapan penyaluran sebagai berikut :

1) Tahap I, pada bulan Maret sebesar 60% (enam puluh persen); dan

2) Tahap II, pada bulan Agustus sebesar 40% (empat puluh persen).

5. Kompetensi

Kompetensi merupakan kemampuan seseorang dalam menghadapi

situasi dan keadaan di dalam pekerjaannya. Secara umum, kompetensi

diartikan sebagai bentuk ketrampilan, pengetahuan dan kemampuan serta

perilaku dari seseorang dalam melaksanakan tugasnya. Gibson (2014) dalam

Indrajaya (2017) menyatakan bahwa kompetensi adalah kombinasi dari


15

motif, sifat, keterampilan, aspek citra diri seseorang atau peran sosial, atau

suatu bagian dari pengetahuan yang relevan.

Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 8 Tahun 2013

tentang Perumusan Standar Kompetensi Teknis Pegawai Negeri Sipil dalam

penelitian Indrajaya (2017), menyebutkan bahwa kompetensi teknis adalah

kemampuan kerja yang dimiliki oleh setiap pegawai negeri sipil yang

mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang mutlak

diperlukan dalam melaksanakan tugas-tugas jabatannya.

Unsur-unsur kompetensi teknik menurut Peraturan Kepala Badan

Kepegawaian Negara Nomor 8 Tahun 2013 tentang Perumusan Standar

Kompetensi Teknis Pegawai Negeri Sipil antara lain:

a. Pengetahuan kerja adalah pengetahuan yang dimiliki pegawai negeri sipil

berupa fakta, informasi, keahlian yang diperoleh seseorang melalui

pendidikan dan pengalaman, baik teoritik maupun pemahaman praktis,

dan berbagai hal yang diketahui oleh PNS terkait dengan pekerjaannya

serta kesadaran yang diperoleh PNS melalui pengalaman suatu fakta atau

situasi dalam konteks pekerjaan.

b. Keterampilan kerja adalah keterampilan PNS untuk melaksanakan tugas

sesuai dengan tuntutan pekerjaan.

c. Sikap kerja adalah perilaku PNS yang menekankan aspek perasaan dan

emosi, berupa minat, sikap, apresiasi dan cara penyesuaian diri terhadap

pekerjaan.
16

Indrajaya (2017) mengungkapkan tiga hal pokok yang tercakup dalam

pengertian kompetensi, yaitu:

a. Kompetensi merupakan gabungan dari karaktersitik individu,

pengetahuan, keterampilan, inovasi dan sikap individu.

b. Kompetensi selalu berhubungan dengan kinerja/perilaku.

c. Kompetensi merupakan kriteria yang dapat membedakan antara mereka

yang memiliki kinerja yang unggul maupun yang memiliki kinerja

sebatas rata-rata. Kompetensi dijadikan sebagai penetuan optimalitas

keberhasilan kinerja.

Indrajaya (2017) menarik kesimpulan bahwa kompetensi merupakan

suatu kemampuan yang berhubungan dengan kegiatan mental, kegiatan

berpikir dan sumber perubahan yang dilaksanakan dalam pemecahan

masalah, perubahan sosial dan penggerak untuk berbuat yang berkaitan

dengan pelaksanaan tugas kerja.

6. Komitmen Organisasi

Ada beberapa pendapat mengenai pengertian komitmen organisasi,

yaitu:

a. Menurut Griffin dan Michael (2015) dalam Khozanah (2017) Komitmen

organisasi (organizational commitment) adalah sikap yang

mencerminkan sejauh mana seseorang individu mengenal dan terikat

pada organisasinya.

b. Menurut Indriasari (2008) dalam Khozanah (2017) komitmen organisasi

adalah sebagai keadaan dimana seseorang memihak pada suatu


17

organisasi tersebut dan tujuan-tujuannya, serta berniat untuk memelihara

keanggotanya dalam organisasi tersebut.

c. Ferina et al. (2016) dalam penelitiannya memberikan kesimpulan

mengenai pengertian komitmen organisasi. Komitmen organisasi yaitu

keadaan dimana seorang sangat tertarik dan mengidentifikasikan dirinya

dalam sebuah organisasi sesuai dengan tujuan, nilai-nilai serta sasaran

organisasi tersebut yang kemudian membuat seseorang ingin tetap

tinggal didalam organisasi.

Dari beberapa pengertian komitmen organisasi menurut para ahli,

dapat disimpulkan bahwa komitmen organisasi adalah sikap yang

mencerminkan individu tentang sejauh mana individu mengenal dan terikat

pada organisasinya, memiliki rasa faithful yang tinggi terhadap

organisasinya, sangat yakin terhadap pencapaian tujuan organisasi dan

selalu memihak terhadap organisasi dan tujuan-tujuannya. Dengan adanya

komitmen organisasi individu dapat mengidentifikasikan dirinya dalam

sebuah organisasi sesuai dengan tujuan, nilai-nilaii serta sasaran organisasi

tersebut. Tanpa adanya komitmen, akan sangat sulit menghasilkan

partisipasi aktif dari sumber daya yang dimiliki.

Untuk dapat menumbuhkan komitmen organisasi guna

meningkatkan partisipasi anggota organisasi, maka ada tiga aspek yang

perlu diperhatikan yaitu:

a. Identifikasi, indentifikasi yang berwujud dalam bentuk kepercayaan

anggota organisasi. Dengan identifikasi inilah akan timbul suasana


18

saling mendukung diantara para anggota dengan organisasi. Selain itu

membuat anggota dengan rela menyumbangkan tenaga, waktu, dan

pikiran demi tercapainya tujuan organisasi.

b. Keterlibatan, karena dengan adanya keterlibatan anggota menyebabkan

mereka dapat bekerjasama, baik dengan pimpinan maupun rekan kerja.

c. Loyalitas terhadap organisasi, yaitu kesediaan seseorang untuk

melanggengkan hubungannya dengan organisasi dan bisa dengan

mengorbankan kepentingan pribadinya tanpa mengharapkan apapun

dari organisasi tersebut.

7. Pengendalian Internal

Ada beberapa pendapat mengenai pengertian pengendalian internal.

AICPA (American Institute of Certified Public Accountants)

mengungkapkan bahwa pengendalian internal meliputi struktur organisasi

dan semua cara-cara serta alat-alat yang dikoordinasikan yang digunakan di

dalam perusahaan dengan tujuan untuk menjaga keamanan harta milik

perusahaan, memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi, memajukan

efisiensi di dalam usaha, dan membantu mendorong dipatuhinya kebijakan

manajemen yang telah ditetapkan lebih dahulu. Sedangkan menurut

Mulyadi (2008) sistem pengendalian internal adalah suatu proses yang

dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel lain, yang

didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga

golongan tujuan yakni keandalan pelaporan keuangan, kepatuhan terhadap

hukum dan peraturan yang berlaku, efektivitas dan efisiensi operasi.


19

Berdasarkan pengertian-pengertian sistem pengendalian internal

diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengendalian internal adalah suatu

proses yang terdiri dari kebijakan dan prosedur, untuk memberikan

keyakinan yang memadai dalam mencapai tujuan tertentu yang tujuan-

tujuan tersebut saling berkaitan.

Ciri – ciri Pokok Sistem Pengendalian Internal menurut Mulyadi

(2008):

1) Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara

tegas.

2) Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan

perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan

biaya.

3) Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit dan

organisasi.

4) Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya.

Selain ciri-ciri pokok, ada juga fungsi penting pengendalian internal,

antara lain : Preventive control, yaitu pengendalian untuk pencegahan

timbulnya masalah, sebelum masalah muncul; Detective control,

pengendalian untuk pemeriksaan, mengungkap suatu masalah ketika

masalah itu muncul; Corrective control, pengendalian korektif,

memecahkan masalah yang ditemukan oleh pengendalian untuk

pemeriksaan.
20

Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway

Commission (2013) mengungkapkan lima komponen pengendalian yang

saling terkait, antara lain:

1) Lingkungan Pengendalian, Menetapkan corak organisasi, memengaruhi

kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan pengendendalian

menyediakan disiplin dan struktur dan merupakan dasar dari

pengendalian itu sendiri.

2) Penaksiran resiko, adalah analisis terhadap resiko yang relevan untuk

mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar untuk menentukan

bagaimana resiko harus dikelola.

3) Aktivitas Pengendalian, adalah kebijakan dan prosedur yang membantu

menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan.

4) Informasi dan komunikasi, adalah pengindentifikasian, penangkapan,

dan pertukaran informasi dalam suatu bentuk dan waktu yang

memungkinkan orang melaksanakan tanggung jawab mereka.

5) Pengawasan adalah proses yang menentukan kualitas kinerja

pengendalian intern sepanjang waktu.

8. Konsep Akuntabilitas

Menurut Supriyono (2001:23) dalam Husna dan Syukri Abdullah

(2016) akuntabilitas adalah perwujudan kewajiban untuk

mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi

organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui
21

suatu media pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik.

Mardiasmo (2010 : 20) mengatakan

“akuntabilitas publik adalah kewajiban pihak pemegang amanah


untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan dan mengungkapkan
segala aktivitasnya dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada
pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan
untuk meminta pertanggungjawaban tersebut”.

Menurut Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawasan

Keuangan dan Pembangunan RI (2000:12) dalam penelitian Subroto (2009):

“Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan


pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan
seseorang/pimpinan suatu unit organisasi kepada pihak yang memiliki hak
atau yang berwenang meminta pertanggungjawaban. Akuntabilitas adalah
hal yang penting untuk menjamin nilai-nilai seperti efisiensi, efektifitas,
reliabilitas dan prediktibilitas. Suatu akuntabilitas tidak abstrak tapi kongkrit
dan harus ditentukan oleh hukum melalui seperangkat prosedur yang sangat
spesifik mengenai masalah apa saja yang harus dipertanggungjawabkan.”

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa

pengertian akuntabilitas yaitu suatu kewajiban untuk

mempertanggungjawabkan segala aktivitas pada suatu organisasi dalam

mencapai tujuan organisasinya melalui media pertanggungjawaban yang

berupa laporan keuangan kepada pihak yang memiliki hak atau yang

berwenang menerima pertanggungjawaban.

Sebagai salah satu prinsip Good Governance akuntabilitas juga

memiliki beberapa prinsip, yang dikutip dari Citizen’s Circle of

Accountability dalam Andangatmadja (2011) dalam Stewart dalam Husna

dan Syukri Abdullah (2016), meliputi:


22

a. Intensions Disclosure / Keterbukaan

Organisasi wajib menyampaikan/melaporkan hasil-hasil kegiatan

kepada publik tentang kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi publik

dengan pengungkapan yang realistis dan disertai dengan alasan yang

logis.

b. Directing Man Visibility / Mengarahkan Visibilitas Seseorang

Laporan tersebut dipublikasikan untuk melaporkan kegiatan apa yang

telah dilakukan oleh anggota organisasi, baik yang benar-benar telah

dilakukan atau yang gagal dilaksanakan.

c. Performance Visibility / Visibilitas Kinerja

Kinerja aktual harus diungkapkan melalui akuntabilitas publik yang

memadai. Dalam hal ini, kinerja-kinerja beserta pembelajaran dan

penerapannya dilaksanakan dengan tepat waktu.

d. Reciprocal Accountability / Akuntabilitas Timbal Balik

Para senior atau pejabat tertinggi dalam suatu organisasi harus

menyampaikan akuntabilitas kepada anggota organisasi yang lain.

e. The Balance of Power, Duties and Accountibility / Keseimbangan

Kekuasaan, Tugas dan Pertanggungjawaban

Kekuasaan, tugas dan akuntabilitas harus memiliki keseimbangan.

Sehingga pemberian pertanggungjawaban dapat dilaksanakan secara

wajar dan diharapkan dapat mengatasi segala hambatan dalam suatu

organisasi.
23

f. Answering for Precaution Taken / Menjawab Tindakan Pencegahan

Kewajiban bagi para pengambil keputusan untuk memberikan informasi

yang memadai tentang resiko-resiko serta apa saja yang bisa dilakukan

untuk meminimalkan resiko-resiko bahkan untuk menghindari resiko

tersebut.

g. Corporate Fairness / Keadilan Perusahaan

Pertanggungjawaban ini dapat mengurangi kemungkinan suatu

organisasi berlaku tidak wajar dan merugikan publik.

h. Citizen Caution / Kewaspadaan warga

Masyarakat berperan aktif dalam meminta haknya untuk

pertanggungjawaban dan menggunakan pertanggungjawaban tersebut

secara wajar.

i. Validation of Assertions / Penegasan Validasi

Kinerja-kinerja yang telah dilaksanakan oleh organisasi harus memiliki

pertanggungjawaban validasi dari kelompok publik yang berminat dan

memiliki pengetahuan, atau para praktisi yang profesional atau

keduanya.

j. Rights Roles / Peran Hak

Seluruh organisasi atau para pengembang tanggung jawab harus

mempertanggungjawabkan segala aktivitas yang dilakukan dan tidak

dapat dialihkan kepada inspektur eksternal, pemeriksa komisaris dan

pemeriksa lainnya.
24

k. Governing Body and Citizen Responsibility / Mengatur Tanggung

Jawab Badan dan Warga Negara

Seluruh organisasi melakukan pertanggungjawaban secara wajar, jujur

dan bertanggungjawab, baik kepada pemerintah maupun kelompok

masyarakat yang berkepentingan.

l. Wage of Abdications / Pencabutan Upah

Akuntabilitas memberikan orientasi untuk menindaklanjuti

penyalahgunaan wewenang, serta menunjuk warga negara lain yang

lebih kompeten.

Mardiasmo (2002:21) dalam Andangatmadja (2012) dalam Husna

dan Syukry Abdullah (2016) menjelaskan bahwa ada empat indikator

akuntabilitas yang harus dipenuhi oleh organisasi sektor publik, antara lain:

a. Accountability for probity and legality (Akuntabilitas Kejujuran dan

Akuntabilitas Hukum), hal ini terkait dengan kepatuhan birokrat terhadap

hukum dan jaminan penegakan hukum, serta peraturan lain yang

disyaratkan dalam penggunaan sember daya publik. Ukuran dari

akuntabilitas hukum adalah peraturan perundang-undangan yang berlaku.

b. Process accountability (akuntabilitas proses), terkait dengan memadai

atau tidaknya prosedur dalam rangka pelaksanaan tugas. Akuntabilitas

proses ini mencakup kecukupan sistem informasi akuntansi, sistem

informasi manajemen, dan prosedur administrasi. Akuntabilitas proses

diwujudkan melalui pemberian pelayanan publik yang cepat, responsif

dan biaya yang murah.


25

c. Program accountability (Akuntabilitas Program), terkait dengan

pertimbangan-pertimbangan mengenai program pencapaian tujuan.

d. Policy Accountability (Akuntabilitas Kebijakan), hal ini terkait dengan

pertanggungjawaban pemerintah baik pusat maupun daerah atas

kebijakan- kebijakan yang diambil pemerintah terhadap legislatif dan

masyarakat luas.

9. Pengelolaan Dana Desa

Akibat disahkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014

Tentang Desa dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun

2014 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa, pemerintah desa dalam

mengelola keuangan desa, khususnya mengenai Dana Desa harus sesuai

dengan peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan. Salah satu

peraturannya yaitu harus menggunakan asas pengelolaan dana desa.

Dalam penelitian Indrajaya (2017) disebutkkan beberapa asas

pengelolaan keuangan desa, meliputi : transparan, akuntabel dan partisipatif.

Transparan yaitu prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat

untuk dapat mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-luasnya

tentang pengelolaan dana desa. Prinsip akuntabel yaitu kewajiban

seseorang/organisasi untuk mempertanggungjawabkan segala aktivitas

dalam pengelolaan dana desa, dan meyakinkan bahwa informasi tersebut

benar dan realistis. Prinsip selanjutnya adalah prinsip partisipatif, dalam hal

ini penyelenggaraan pemerintah desa harus melibatkan kelembagaan desa


26

dan masyarakat desa. Prinsip yang terakhir yaitu prinsip Teori dan Disiplin

Anggaran, yaitu pengelolaan keuangan desa harus mengacu pada

aturan/pedoman yang melandasinya (Indrajaya, 2017).

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014

dalam Indrajaya (2017) kekuasaan pengelolaan dana desa dipegang oleh

kepala desa. Pengelolaan dana desa biasanya dikelola dalam masa satu

tahun anggaran, yaitu dari 1 Januari sampai 31 Desember 2017. Dalam

pengelolaan dana desa, kepala desa dibantu oleh sekretaris desa, kepala

seksi dan bendahara desa yang tergabung ke dalam Pelaksana Teknis

Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD).

Selanjutnya ada beberapa tahapan dalam pengelolaan dana desa,

antara lain :

a. Tahap Perencanaan

Pemerintah desa menyusun perencanaan desa sesuai dengan

kewenangannya dan mengacu pada perencanaan pembangunan

kabupaten/kota (Sujarweni, 2015 : 18 dalam Sutrawati, 2016).

Mekanisme perencanaan menurut Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

dalam Sutrawati (2016) adalah sebagai berikut :

1) Sekretaris desa menyusun Rancangan Peraturan Desa tentang

APBDesa berdasarkan RKPDesa.

2) Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa disampaikan Kepala

Desa kepada Badan Permusyawaratan Desa untuk pembahasan

lebih lanjut.
27

3) Rancangan tersebut disepakati bersama dan kesepakatan tersebut

paling lama bulan Oktober.

4) Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa yang telah disepakati,

kemudian disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati/Walikota

melalui Camat paling lambat tiga hari sejak disepakati untuk

dievaluasi.

5) Bupati/Walikota menetapkan hasil evaluasi Rancangan APBDesa

paling lama 20 hari kerja sejak diterimanya Rancangan Peraturan

Desa tentang APBDesa.

6) Kepala desa melakukan penyempurnaan paling lama 7 hari kerja

terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi.

7) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Kepala Desa dan

Kepala Desa tetap menetapkan Rancangan Peraturan Desa tentang

APBDesa menjadi peraturan Desa, Bupati/Walikota membatalkan

Peraturan Desa dengan Keputusan Bupati/Walikota.

8) Pembatalan Peraturan Desa, sekaligus menyatakan berlakunya

pagu APBDesa tahun anggaran sebelumnya.

9) Kepala Desa memberhentikan pelaksanaan Peraturan Desa paling

lama 7 hari kerja setelah pembatalan dan selanjutnya Kepala Desa

bersama BPD mencabut Peraturan Desa dimaksud.

b. Tahap Pelaksanaan

Dalam tahap pelaksanaan anggaran yang sudah ditetapkan

sebelumnya timbullah transaksi penerimaan dan pengeluaran kas desa.


28

Semua penerimaan dan pengeluaran desa harus didukung oleh bukti

yang lengkap dan sah (Sujarweni, 2015:19 dalam Sutrawati, 2016).

Aturan-aturan dalam tahap pelaksaan dana desa sesuai dengan yang

dikutip dari penelitian Sutrawati (2016) meliputi :

1) Pemerintah desa dilarang melakukan pemungutan selain yang diatur

dalam pemerintah desa.

2) Bendara dapat menyimpan uang dalam kas desa pada jumlah tertentu

saja.

3) Pengaturan jumlah uang dalam kas desa ditetapkan dalam peraturan

Bupati/Walikota.

4) Pengeluaran desa tidak termasuk untuk belanja pegawai yang

bersifat mengikat dan operasional perkantoran.

5) Pengadaan kegiatan yang mengajukan pendanaan untuk

melaksanakan kegiatan harus disertai dengan dokumen antara lain

Rencana Anggaran Biaya.

6) Bendahara desa sebagai wajib pungut Pajak Penghasilan (PPh) dan

pajak lainnya, wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan

pajak yang dipungutnya ke rekening kas Negara sesuai dengan

peraturan perundang-undangan.

c. Tahap Penatausahaan

Penatausahaan merupakan kegiatan pencatatan yang

khususnya dilakukan oleh bendahara desa. Media penatausahaan berupa

buku kas umum, buku pajak, buku bank serta setiap bulan membuat
29

laporan pertanggungjawaban bendahara (Sutrawati, 2016). Yang

melaksanakan penatausahaan dana desa yaitu bendahara desa.

Bendahara wajib membuat laporan keuangan sebagai bentuk

pertanggungjawaban atas penerimaan dan pengeluaran desa. Menurut

Permendangri No 113 Tahun 2014 laporan pertanggungjawaban yang

wajib dibuat oleh bendahara desa adalah:

1) Buku Kas Umum

2) Buku Kas Pembantu Pajak

3) Buku Bank

d. Tahap Pelaporan

Berdasarkan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014, kepala desa

wajib menyampaikan realisasi anggaran APBDesa kepada

Bupati/Walikota berupa : Laporan semester pertama berupa laporan

realisasi APBDesa, disampaikan paling lambat pada akhir bulan Juli

tahun berjalan dan Laporan semester akhir tahun, disampaikan paling

lambat pada akhir bulan januari tahun berikutnya. Selain itu, kepala

desa juga wajib menyampaikan Laporan Penyelenggaraan

Pemerintahan Desa (LPPD) setiap akhir tahun anggaran kepada

Bupati/Walikota, menyampaikan Laporan Penyelenggaraan

Pemerintahan Desa pada akhir masa jabatan kepada Bupati/Walikota,

menyampaikan laporan keterangan penyelenggaraan pemerintah desa

secara tertulis kepada BPD setiap akhir tahun anggaran.


30

e. Tahap Pertanggungjawaban

Dalam tahap pertanggungjawaban Kepala desa menyampaikan

laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa kepada

Bupati/Walikota melalui camat setiap akhir tahun anggaran dan

Laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa tersebut,

disampaikan paling lambat 1 (satu) bulan setelah akhir tahun anggaran

berkenaan.

B. Perumusan Model Penelitian

1. Penelitian Terdahulu

Tabel 2 Penelitian Terdahulu

No Nama Penulis Judul Hasil


1 Sarifudin Mada, Pengaruh Kompetensi Ketiga variabel yaitu
Lintje Kalangi dan Aparat Pengelola Dana Kompetensi aparat
Hendrik Gamaliel Desa, Komitmen pengelola dana desa,
(2017) Organisasi Pemerintah komitmen organisasi
Desa dan Partisipasi pemerintah desa dan
Masyarakat terhadap partisipasi masyarakat
Akuntabilitas berpengaruh positif dan
Pengelolaan Dana Desa signifikan terhadap
di Kabupaten Gorontalo akuntabilitas pengelolaan
dana desa di Kabupaten
Gorontalo.
2 Ekasari Sugiarti Analisis Faktor Variabel kompetensi sumber
dan Ivan Yudianto Kompetensi Sumber daya manusia, pemanfaatan
(2017) Daya Manusia, teknologi informasi dan
Pemanfaatan partisipasi anggaran
Teknologi Informasi, ketiganya berpengaruh
dan Partisipasi signifikan terhadap
Penganggaran Terhadap akuntabilitas pengelolaan
Akuntabilitas dana desa.
Pengelolaan Dana Desa
(Survei pada Desa-desa
31

di Wilayah Kecamatan
Klari, Kecamatan
Karawang Timur,
Kecamatan Majalaya
dan Kecamatan
Rengasdengklok
Kabupaten Karawang)
3 Astri Juainita Akuntabilitas Akuntabilitas dalam
Makakalag, Grace Pengelolaan Dana Desa pelaporan dan
B Nangoi, Herman di Kecamatan pertanggungjawaban dana
Caramoy (2016) Kotamobagu Selatan desa dilaksanakan sesuai
Kota Kotamobagu dengan mekanisme
berdasarkan ketentuan
walaupun masih terdapat
kelalaian aparat desa dan
tim pengelola kegiatan.
Namun kompetensi sumber
daya manusia masih
menjadi kendala utama
sehingga masih perlu
pendampingan dari aparat
pemerintah daerah.
(Kompetensi sumber daya
manusia berpengaruh
terhadap akuntabilitas
pengelolaan dana desa di
kecamatan Kotamobagu
Selatan Kota Kotamobagu.)

4 Dina Rulyanti, Faktor-faktor yang Komitmen organisasi dan


Raden Andi Mempengaruhi Kinerja sumber daya manusia
Sularso dan Pemerintah Desa berpengaruh positif
Yosefa Sayekti melalui Pengelolaan signifikan terhadap
(2017) Keuangan Desa sebagai pengelolan keuangan desa
Variabel Intervening. dan kinerja pemerintah desa.
Sedangkan regulasi dan
komunikasi tidak
berpengaruh signifikan
terhadap pengelolan
keuangan desa dan kinerja
pemerintah desa.

5 Elvira Zeyn (2011) Pengaruh Good Penerapan good governance


Governance dan Standar dan standar akuntansi
Akuntansi Pemerintahan pemerintahan dengan
terhadap komitmen organisasi yang
32

Akuntabilitas Keuangan tinggi mempunyai pengaruh


dengan Komitmen terhadap akuntabilitas
Organisasi sebagai keuangan Pemerintah Kota
Pemoderasi Bandung sebesar 92.4%
yang artinya komitmen
organisasi
yang merupakan variabel
kontinjensi sangat
mempengaruhi akuntabilitas
keuangan yang mana
pemahaman dan
penggunaan SAP mutlak
dilakukan agar
laporan keuangan
berkualitas dan dapat
menilai kinerja aparatur
pemerintah
yang bersih dan berwibawa.

6 Ibnu Wardana Akuntabilitas dalam Penyajian laporan keuangan.


(2016) Pengelolaan Keuangan Aksesibilitas laporan
Desa (Studi pada keuangan dan sistem
Pemerintah Desa di pengendalian internal
Kabupaten Magelang) berpengaruh positif terhadap
akuntabilitas pengelolaan
dana desa.

7 Arif Widyatama, Pengaruh Kompetensi Variabel kompetensi


Lola Novita dan dan Sistem aparatur tidak berpengaruh
Diarespati (2017) Pengendalian Internal signifikan terhadap
terhadap Akuntabilitas akuntabilitas dalam
Pemerintah Desa dalam Pengelolaan ADD,
Mengelola Alokasi sedangkan variabel sistem
Dana Desa (ADD) pengendalian internal
memberikan pengaruh
positif terhadap
akuntabilitas dalam
pengelolaan ADD.

8 Zulfan Nahruddin Akuntabilitas dan Akuntabilitas pengelolaan


(2014) Transparansi dana alokasi berjalan
Pengelolaan Dana dengan baik dari
Alokasi Desa keseluruhan dimensi,
di Desa Pao-pao termasuk dalam dimensi
Kecamatan Tanete Rilau transparansi yang
Kabupaten Barru menunjukkan pengelolaan
33

dana alokasi desa berjalan


trasparan. Selanjutnya pada
dimensi reability,
responsibilitas dan
responsivitas berjalan
dengan baik tetapi pada
dimensi
control/pengendalian masih
termasuk kategori cukup
baik dan perlu dioptimalkan
untuk menunjang
akuntabilitas pengelolaan
dana desa. (Dimensi
kontrol/pengendalian
mempengaruhi akuntabilitas
dan transparansi
pengelolaan alokasi dana
desa.)
Sumber : Data diolah

2. Perumusan Model Penelitian dan Pengembangan Hipotesis

a. Model Penelitian

Penelitian ini mengambil tiga variabel yang diduga dapat

mempengaruhi akuntabilitas pengelolaan dana di Kabupaten Wonosobo.

Variabel tersebut antara lain kompetensi aparat pengelola dana desa,

komitmen organisasi pemerintah desa dan praktik pengendalian internal.

Secara skematis model penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Kompetensi aparat pengelola


dana desa
H1
Komitmen organisasi
Akuntabilitas Pengelolaan
pemerintah desa H2
Dana Desa

H3

Praktik pengendalian internal


34

Gambar 2.1 Model Penelitian

b. Pengembangan Hipotesis Penelitian

Berdasarkan telaah pustaka dan penelitian terdahulu yang telah

dijelaskan sebelumnya, maka perumusan hipotesis untuk menunjukkan

pengaruh kompetensi aparat pengelola dana desa, komitmen organisasi

pemerintah desa dan praktik pengendalian internal terhadap akuntabilitas

pengelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo, yaitu sebagai berikut:

1) Pengaruh Kompetensi Aparat Pengelola Dana Desa terhadap


Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa

Gibson (2014) dalam Indrajaya (2017) menyatakan bahwa

kompetensi adalah kombinasi dari motif, sifat, keterampilan, aspek

citra diri seseorang atau peran sosial, atau suatu bagian dari

pengetahuan yang relevan. Aparat pengelola dana desa yang memiliki

kompetensi yang baik maka akan dapat meningkatkan kualitas

pengelolaan dana desa.

Hasil penelitian Mada et al. (2017), Sugiarti dan Ivan (2016)

serta Makakalag (2016) menyatakan bahwa kompetensi aparat

pengelola dana desa berpengaruh positif dan signifikan terhadap

akuntabilitas pengelolaan dana desa. Hal ini sejalan dengan penelitian

yang dilakukan oleh penelitian Husna dan Syukriy Abdullah (2016),


35

Indrajaya (2017), Subroto (2009) dan Rulyanti (2016) yang

menyatakan bahwa kompetensi aparat desa berpengaruh positif

terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa. Dari penjelasan

pengaruh di atas maka dirumuskan Hipotesis pertama sebagai berikut:

H 1 : Kompetensi aparat pengelola dana desa berpengaruh


positif terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di
Kabupaten Wonosobo.

2) Pengaruh Komitmen Organisasi Pemerintah Desa terhadap


Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa

Menurut Griffin dan Michael (2015) dalam Khozanah (2017)

Komitmen organisasi (organizational commitment) adalah sikap yang

mencerminkan sejauh mana seseorang individu mengenal dan terikat

pada organisasinya. Selanjutnya menurut Indriasari (2008) komitmen

organisasi adalah sebagai keadaan dimana seorang karyawan

memihak pada suatu organisasi tersebut dan tujuan-tujuannya, serta

berniat untuk memelihara keanggotanya dalam organisasi tersebut.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa

komitmen organisasi adalah sikap yang mencerminkan individu

tentang sejauh mana individu mengenal dan terikat pada

organisasinya, memiliki rasa faithful yang tinggi terhadap

organisasinya, sangat yakin terhadap pencapaian tujuan organisasi dan

selalu memihak terhadap organisasi dan tujuan-tujuannya. Komitmen

harus tetap tumbuh dan dipelihara oleh seluruh perangkat desa dan
36

juga masyarakat desa guna meningkatkan partisipasi aktif dari

perangkat desa dalam menjalankan pemerintahan di desanya.

Penelitian Mada et al. (2017) menyimpulkan bahwa

Komitmen organisasi pemerintah desa berpengaruh positif dan

signifikan terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten

Gorontalo. Selanjutnya, penelitian Zeyn (2011) menyimpulkan bahwa

komitmen organisasi berpengaruh terhadap akuntabilitas keuangan.

Kedua penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Rulyanti et al.

(2017) yang menyatakan bahwa komitmen organisasi berpengaruh

positif signifikan terhadap pengelolaan keuangan desa dan kinerja

pemerintah desa. Dari penjelasan pengaruh di atas maka dapat

dirumuskan hipotesis kedua yaitu:

H2 : Komitmen organisasi pemerintah desa berpengaruh


positif terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di
Kabupaten Wonosobo.

3. Pengaruh Praktik Pengendalian Internal terhadap Akuntabilitas


Pengelolaan Dana Desa

AICPA (American Institute of Certified Public Accountants)

mengungkapkan bahwa pengendalian internal meliputi struktur

organisasi dan semua cara-cara serta alat-alat yang dikoordinasikan

yang digunakan di dalam perusahaan dengan tujuan untuk menjaga

keamanan harta milik perusahaan, memeriksa ketelitian dan

kebenaran data akuntansi, memajukan efisiensi di dalam usaha, dan


37

membantu mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen yang telah

ditetapkan lebih dahulu.

Penelitian Wardana (2016) menyimpulkan bahwa sistem

pengendalian internal berpengaruh positif terhadap akuntabilitas

pengelolaan dana desa. Penelitian ini juga didukung oleh Widyatama

et al. (2017) yang menyatakan bahwa sistem pengendalian internal

berpengaruh terhadap akuntabilitas pemerintah desa dalam mengelola

Alokasi Dana Desa (ADD). Selanjutnya, hasil penelitian Nahruddin

(2014) juga menyimpulkan bahwa pengendalian mempengaruhi

akuntabilitas dan transparansi pengelolaan alokasi dana desa. Dari

penjelasan pengaruh di atas maka dapat diperoleh hipotesis ketiga

yaitu:

H3 : Praktik pengendalian internal berpengaruh positif


terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di
Kabupaten Wonosobo.

4. Pengaruh Kompetensi Aparat Pengelola Dana Desa, Komitmen


Organisasi Pemerintah Desa dan Praktik Pengendalian Internal
terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa

Beberapa penelitian mengenai kompetensi aparat pengelolaan

dana desa telah dilakukan sebelumnya, misalnya penelitian yang

dilakukan oleh Mada et al. (2017), Sugiarti dan Ivan (2016) serta

Makakalag (2016). Mereka menyatakan bahwa kompetensi aparat

pengelola dana desa berpengaruh positif dan signifikan terhadap

akuntabilitas pengelolaan dana desa. Hal tersebut diperkuat oleh

penelitian Husna dan Syukriy Abdullah (2016), Indrajaya (2017),


38

Subroto (2009) dan Rulyanti (2016) yang menyatakan bahwa

kompetensi aparat desa berpengaruh positif terhadap akuntabilitas

pengelolaan dana desa. Selanjutnya, penelitian mengenai komitmen

organisasi pemerintah desa yang dilakukan oleh Mada et al. (2017),

Zeyn (2011) dan Rulyanti et al. (2017) menyimpulkan bahwa

komitmen organisasi pemerintah desa berpengaruh terhadap

akuntabilitas pengelolaan dana desa.

Untuk penelitian praktik pengendalian internal juga telah

dilakukan oleh Wardana (2016) dan Widyatama et al. (2017). Mereka

menyatakan bahwa pengendalian internal berpengaruh terhadap

akuntabilitas pemerintah desa dalam mengelola dana desa. Penelitian

tersebut juga didukung oleh penelitian Nahruddin (2014) yang

menyimpulkan bahwa pengendalian mempengaruhi akuntabilitas dan

transparansi pengelolaan alokasi dana desa. Dari penjelasan pengaruh

di atas maka dapat diperoleh hipotesis keempat yaitu:

H4 : Kompetensi aparat pengelola dana desa, komitmen


organisasi pemerintah desa dan praktik pengendalian
internal berpengaruh positif terhadap akuntabilitas
pengelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo.
39

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian

kuantitatif yaitu penelitian yang digunakan pada populasi atau sampel

tertentu dengan menggunakan instrumen penelitian biasanya berbentuk

kuesioner, dan analisis datanya bersifat kuantitatif/statistik. Penelitian

kuantitatf ini bertujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada beberapa desa yang berada di wilayah

Kabupaten Wonosobo.

3. Waktu Pelaksanaan

Pelaksanaan waktu penelitian ini yaitu pada bulan Maret 2018,

selama 30 hari dengan cara menyebarkan kuesioner ke kantor desa yang ada

di Kabupaten Wonosobo. Penyebaran kuesioner dilakukan pada saat jam

kerja kantor desa. Jam kerja kantor desa setiap hari yaitu pukul 07.00 –

13.00, kecuali hari Sabtu dan Minggu.

4. Populasi dan Sampel

a. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh desa yang ada di

Kabupaten Wonosobo yang berjumlah 236 desa. Untuk menghasilkan


40

sample yang representatif, maka penelitian ini dilakukan dengan cara

membagi beberapa bagian lokasi penelitian. Pembagian lokasi penelitian

tersebut antara lain : bagian utara kecamatan Mojotengah, bagian selatan

kecamatan Selomerto, bagian barat kecamatan Sukoharjo, bagian timur

kecamatan Kalikajar dan bagian tengah kecamatan Wonosobo.

Selanjutnya beberapa desa yang ada di kecamatan tersebut akan dijadikan

sebagai sample penelitian. Sementara yang akan dijadikan responden

dalam penelitian ini yaitu Kepala Urusan Keuangan, atau yang mewakili

yang berkaitan dengan pengelolaan dana desa.

b. Sampel

Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan

metode Purposive Sampling, dimana peneliti mempunyai beberapa

kriteria dalam pengambilan sampel. Kriteria pengambilan sampel dalam

penelitian ini antara lain :

i. Desa di Wonosobo yang berada di Kecamatan Wonosobo, Kecamatan

Selomerto, Kecamatan Sukoharjo, Kecamatan Kalikajar dan

Kecamatan Mojotengah.

ii. Desa yang telah menerapkan sistem Open Data Desa secara optimal.

iii. Desa yang telah melaporkan realisasi anggaran APBDes tahun

anggaran 2017 dan 2018 pada sistem Open Data Desa.

iv. Perangkat desa yang menjabat sebagai kepala urusan keuangan atau

bendahara desa atau yang mewakili yang berkaitan dengan

pengelolaan dana desa.


41

Teknik pengambilan jumlah sampel dalam penelitian ini

berdasarkan pada Roscoe (1975) dalam Sekaran (2006:160), yaitu sampel

yang digunakan dalam penelitian kuantitatif adalah 30-500 sampel.

5. Jenis dan Sumber Data

a. Data Primer

Data primer merupakan yaitu data yang diperoleh dari hasil

pengisian kuesioner pengaruh kompetensi aparat pengelola dana desa,

komitmen organisasi pemerintah desa dan praktik pengendalian internal

terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo.

Data primer dalam penelitian ini didapat dari observasi, wawancara tidak

terstruktur dan pemberian kuesioner kepada responden di beberapa desa

yang terletak di Kabupaten Wonosobo.

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang didapat dari literatur-

literatur dan referensi yang berhubungan dengan kompetensi aparat

pengelola dana desa, komitmen organisasi pemerintah desa, praktik

pengendalian internal dan akuntabilitas pengelolaan dana desa. Data

pendukung atau data sekunder dari penelitian ini yaitu berupa referensi

penelitian terdahulu, jurnal, artikel dan informasi yang didapat dari objek

penelitian.
42

6. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan penejelasan tentang

bagaimana cara mengumpulkan data penelitian. Metode pengumpulan data

yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

a. Teknik Observasi

Penelitian ini menggunakan teknik observasi dengan

mengunjungi lokasi penelitian dan melakukan pengamatan secara

langsung.

b. Wawancara

Menurut Suliyanto (2005) dalam Khozanah (2017), wawancara

adalah teknik pengambilan data dimana peneliti melakukan dialog secara

langsung dengan responden untuk menggali informasi dari responden.

Wawancara dilakukan dengan kepala urusan keuangan selaku responden

untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai pengelolaan dana desa yang

menjadi objek penelitian. Dalam penelitian ini meggunakan wawancara

tidak terstruktur karena peneliti hanya ingin mendapatkan informasi

tambahan atau garis besar permasalahan dari responden yang telah

mengisi kuisioner.

c. Teknik Angket

Metode angket yaitu memberikan daftar pertanyaan dalam

kuesioner yang diisi atau dijawab oleh responden yaitu kepala urusan

keuangan yang mana desa tersebut telah menerima dana desa dari

pemerintah. Kuesioner diberikan secara langsung kepada responden.


43

Responden diminta untuk mengisi kuesioner tersebut bersamaan dengan

peneliti membaca ulang dan menjelaskan tiap pernyataan yang diajukan.

Variabel dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan skala Likert.

B. Definisi Konseptual dan Operasional Variabel

Penelitian ini terdiri dari satu variabel dependen dan tiga variabel

independen yang dijelaskan sebagai berikut:

1. Variabel Dependen (Y)

Variabel dependen yaitu variabel yang disebabkan atau dipengaruhi oleh

adanya variabel bebas atau variabel independen. Variabel dependen dalam

penelitian ini adalah akuntabilitas pengelolaan dana desa.

a. Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa (Y)

Menurut Supriyono (2001:23) dalam Husna dan Syukri

Abdullah (2016) akuntabilitas adalah perwujudan kewajiban untuk

mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan

misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah

ditetapkan melalui suatu media pertanggungjawaban yang

dilaksanakan secara periodik. Sedangkan Mardiasmo (2010 : 20)

mengatakan :

“akuntabilitas publik adalah kewajiban pihak pemegang


amanah untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan dan
mengungkapkan segala aktivitasnya dan kegiatan yang menjadi
tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah (principal) yang
memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban
tersebut”.
44

Akuntabilitas merupakan salah satu asas pengelolaan dana

desa yang berguna untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang

baik (Good Governance). Indikator akuntabilitas pengelolaan dana

desa yang akan digunakan dalam penelitian ini mengutip dari

penelitian Yudianto dan Ekasari (2016), meliputi:

1) Akuntabilitas kejujuran dan hukum : secara rata-rata aparatur desa

menggunakan jabatannya dengan baik, tanpa adanya

penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan pribadi; aparatur desa

cukup memenuhi dan mematuhi aturan hukum yang berlaku dalam

pembuatan anggaran perencanaan dana desa; pengajuan anggaran

dana desa sudah dilengkapi dengan dokumen dan bukti pendukung

anggaran sebagai kepatuhan terhadap akuntansi.

2) Akuntabilitas proses : dalam pelaksanaan program dana desa secara

rata-rata didasarkan pada prinsip ekonomis, efisien dan efektif;

aparatur desa sering memberikan informasi kepada masyarakat

mengenai kegiatan yang dibiayai oleh dana desa danaparatur desa

selalu memberikan laporan mengenai pencapaian kinerja keuangan

secara wajar setiap 3 bulan sekali.

3) Akuntabilitas program : aparatur desa secara rata-rata sering

melakukan evaluasi mengenai pencapaian kinerja yang telah

dilakukan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan; dan secara

rata-rata aparatur desa sering melakukan pencatatan akuntansi pada

saat adanya transaksi yang menggunakan dana desa.


45

4) Akuntabilitas kebijakan : aparatur desa secara rata-rata

seringmenyampaikan laporan keuangan kepada daerah melalui

Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah (PPKD) selambat-

lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir dan

aparatur desa juga sering menyusun laporan keuangan berdasarkan

standar akuntansi Pemerintahan.

2. Variabel Independen

Variabel independen adalah tipe variabel yang menjelaskan atau

memengaruhi variabel yang lain. Variabel independen yang digunakan

dalam penelitian ini yaitu:

a. Kompetensi Aparat Pengelola Dana Desa (X1)

Kompetensi yaitu kemampuan seseorang dalam

menghadapi situasi dan keadaan di dalam pekerjaannya. Gibson

(2014) dalam Indrajaya (2017) menyatakan bahwa kompetensi adalah

kombinasi dari motif, sifat, keterampilan, aspek citra diri seseorang

atau peran sosial, atau suatu bagian dari pengetahuan yang relevan.

Dalam suatu organisasi pemerintah desa, kompetensi aparat pengelola

dana desa berarti kemampuan aparat desa dalam mengelola dana desa

yang sesuai dengan Undang-Undang yang telah ditetapkan. Indikator

yang digunakan untuk mengukur kompetensi aparat pengelola dana

desa (Edison et al., 2016 dalam Mada et al., 2017 ), meliputi:

1) Pengetahuan (Knowledge) : pengetahuan aparat desa tentang

akuntansi desa dan Standar Akuntansi Pemerintahan; pengetahuan


46

aparat desa mengenai dana desa; pengetahuan aparat desa

mengenai pengelolaan dana desa; dan kemampuan aparat desa

dalam meningkatkan pengetahuan tentang pengelolaan dana desa.

2) Kemampuan (Skills) : keahlian teknis aparat desa mengenai

pencatatan akuntansi desa; kehalian teknis aparat terkait dengan

pembuatan RPJM Desa, APBDes, dan laporan keuangan desa;

aparat desa mampu mencari solusi terkait dengan masalah-masalah

yang ada dalam pengelolaan dana desa.

3) Sikap (Attitude) : aparat desa secara rata-rata memiliki sikap

inisiatif dalam bekerja; aparat desa saling membantu dan bekerja

sama dalam pengelolaan dana desa untuk mencapai tujuan visi dan

misi desa; dan aparat desa memiliki sikap yang ramah dan sopan

baik terhadap sesama aparat desa maupun terhadap masyarakat

desa.

b. Komitmen Organisasi Pemerintah Desa (X2)

Menurut Griffin dan Michael (2015) dalam Khozanah

(2017) Komitmen organisasi (organizational commitment) adalah

sikap yang mencerminkan sejauh mana seseorang individu mengenal

dan terikat pada organisasinya. Seseorang individu yang memiliki

komitmen tinggi kemungkinan akan melihat dirinya sebagai anggota

sejati organisasi. Sedangkan menurut Indriasari (2008) komitmen

organisasi adalah sebagai keadaan dimana seorang karyawan


47

memihak pada suatu organisasi tersebut dan tujuan-tujuannya, serta

berniat untuk memelihara keanggotanya dalam organisasi tersebut.

Pengertian komitmen organisasi secara umum adalah sikap

yang mencerminkan individu, dalam hal ini pemerintah desa tentang

sejauh mana pemerintah desa mengenal dan terikat pada

organisasinya, memiliki rasa faithful yang tinggi terhadap

organisasinya, sangat yakin terhadap pencapaian tujuan organisasi dan

selalu memihak terhadap organisasi dan tujuan-tujuannya. Dengan

komitmen organisasi inilah individu/pemerintah desa dapat

mengidentifikasikan dirinya dalam sebuah organisasi/desa sesuai

dengan tujuan, nilai-nilai serta sasaran organisasi tersebut. Tanpa

adanya komitmen, partisipasi aktif dan mendalam dari sumber daya

manusia akan sulit didapatkan. Sehingga komitmen harus tetap

tumbuh dan dipelihara oleh seluruh perangkat desa dan juga

masyarakat desa.

Robbins (2009) dalam penelitian Khozanah (2017)

mengemukakan tiga dimensi komitmen organisasi, dan ketiganya

dijadikan sebagai indikator penelitian. Dimensi-dimensi tersebut

antara lain:

1) Affective Commitment (Komitmen Afektif), merupakan keyakinan

individu dalam nilai-nilai dan perasaan yang emosional individu

untuk organisasi.
48

2) Continuance commitment (Komitmen Keberlanjutan), individu

akan merasakan nilai-nilai ekonomi sehingga individu akan tetap

bertahan pada organisasi tersebut, dan tidak akan meninggalkan

organiasasi tersebut.

3) Normative commitment(Komitmen Normatif), merupakan individu

wajib bertahan pada organisasi berdasarkan nilai-nilai etis.

c. Praktik Pengendalian Internal (X3)

Pengertian Sistem Pengendalian Internal Pemerintah

berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 yaitu Sistem

Pengendalian Intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di

lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Tujuan dibentuknya pengendalian internal adalah sebagai

bentuk pelaksanaan pengelolaan keuangan pemerintah menuju Good

Governance atau tata kelola pemerintahan yang baik dan Good

Government. Hindriani (2012) menyatakan Sistem Pengendalian

Intern Pemerintah diadopsi dari konsep internal control yang

dikeluarkan oleh COSO (The Committee of Sponsoring Organizations

of the Treadway Commission) yang berusaha meningkatkan kinerja

dan tata kelola organisasinya menggunakan Manajemen Risiko

Terpadu (Enterprise Risk Management), Pengendalian Intern (Internal

Control) dan Pencegahan Kecurangan (Fraud Detterence).


49

Indikator atau alat ukur variabel praktik pengendalian

internal seperti yang diungkapkan oleh Yudianto dan Ekasari (2016),

meliputi:

1) Lingkungan pengendalian: Menetapkan corak organisasi,

memengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya.

2) Penaksiran resiko: aparatur desa telah mengidentifikasikan risiko

untuk setiap kegiatan sebagai bagian dari perancangan dan

pengoperasian pengendalian internal dan memprioritaskan risiko

berdasarkan tingkat kesulitan terhadap pembuatan laporan

keuangan. Aparatur desa juga telah mempertimbangkan faktor

eksternal dan internal pada masing-masing kegiatan yang dapat

mempengaruhi pembuatan laporan keuangan, serta melakukan

perhatian khusus terhadap risiko yang mempunyai pengaruh yang

sulit terhadap kinerja pemerintahan desa.

3) Aktivitas Pengendalian: Kepala desa selalu melakukan rivew

kinerja yang dibandingkan dengan tolak ukur kinerja; telah

melaksanakan pemisahan fungsi dari setiap tugas mengenai

kegiatan yang sedang dilakukan; terdapat 4 pegawai yang

memiliki fungsi yang berbeda terhadap pencatatan, penghapusan

dan otorisasi transaksi serta mempunyai akses verifikasi dan

pembayaran transaksi; melakukan pengamanan aset yang dimiliki

untuk menghindari adanya fraud (kesalahan yang disengaja);

memiliki bukti pendukung sebelum dilakukannya pencatatan atas


50

suatu transaksi; dalam pencaktatan transaksi, kode akun yang

digunakan adalah kode akun yang sesuai dengan tansaksi yang

dimaksud; pemerintah desa telah memiliki pejabat yang

berwenang untuk setiap transaksi yang berjalan; terdapat 4

pegawai yang memiliki wewenang yang berbeda terhadap

pencatatan, penghapusan dan otorisasi transaksi serta mempunyai

akses verifikasi dan pembayaran transaksi; pemerintah desa selalu

melakukan pembatasan akses terhadap pegawai desa yang akan

mengelola sumber daya yang dimiliki.

4) Informasi dan komunikasi:pemerintah desa telah menyediakan

alat pendukung untuk berbagai transaksi dan penyajian laporan

keuangan seperti perangkat keras (hardware) dan telah

mengimplementasikan sistem informasi manajemen pemerintah

dalam bentuk sistem aplikasi yang dapat menunjang penyajian

laporan keuangan.

5) Pemantauan adalah pemerintah desa selalu melakukan evaluasi

tentang kelebihan dan kelemahan serta membuat rekomendasi

untuk memperbaiki pengendalian internal.


51

Pengukuran semua variabel di atas menggunakan instrument kuesioner

skala likert dengan skor 1-5 dengan jawaban sebagai berikut:

Tabel 3 Jawaban dan Skor Kuesioner


Pernyataa Pilihan Skor Pernyataa Pilihan Skor
n Jawaban n Jawaban
Positif Sangat setuju 5 Negatif Sangat setuju 1
Setuju 4 Setuju 2
Netral 3 Netral 3
Tidak setuju 2 Tidak setuju 4
Sangat tidak 1 Sangat tidak 5
setuju setuju

Tabel 4 Operasional Variabel


Skala
Variabel Definisi Operasional Dimensi Indikator Penguku
ran
Variabel Kewajiban Akuntabilitas Secara rata-rata aparatur desa Skala
Dependen seseorang/organisasi kejujuran dan menggunakan jabatannya dengan Likert
Akuntabilitas untuk hukum baik, tanpa adanya penyalahgunaan 1, 2, 3
Pengelolaan mempertanggungjawab jabatan untuk kepentingan pribadi; dan 4
Dana Desa kan aktivitas-aktivitas aparatur desa cukup memenuhi dan
(Y) yang dijalankan dalam mematuhi aturan hukum yang
mengelola dana desa, berlaku dalam pembuatan
meyakinkan bahwa anggaran perencanaan dana desa;
informasi tersebut pengajuan anggaran dana desa
benar dan realistis. sudah dilengkapi dengan dokumen
Indrajaya (2017) dan bukti pendukung anggaran
sebagai kepatuhan terhadap
akuntansi.

Akuntabilitas Dalam pelaksanaan program dana Skala


proses desa secara rata-rata didasarkan Likert
pada prinsip ekonomis, efisien dan 5
efektif; aparatur desa sering
memberikan informasi kepada
masyarakat mengenai kegiatan
yang dibiayai oleh dana desa.
Akuntabilitas Secara rata-rata aparatur desa Skala
program sering melakukan pencatatan Likert
akuntansi pada saat adanya 6
transaksi yang menggunakan dana
desa.

Akuntabilitas Aparatur desa secara rata-rata Skala


kebijakan sering menyampaikan laporan Likert
keuangan kepada daerah melalui 7
52

Pejabat Pengelolaan Keuangan


Daerah (PPKD) selambat-
lambatnya 2 (dua) bulan setelah
tahun anggaran berakhir dan
aparatur desa juga sering
menyusun laporan keuangan
berdasarkan Standar Akuntansi
Pemerintahan.

Variabel Kompetensi teknis 1) Penentuan kriteria minimal Skala


Independen adalah kemampuan Pengetahuan pendidikan pada saat rekruitmen Likert
Kompetensi kerja setiap pegawai (Knowledge) aparat desa yang baru; 1, 2, 3
Aparat negeri sipil yang pengetahuan aparat desa mengenai dan 4
Pengelola mencakup aspek peraturan yang berlaku di
Dana Desa pengetahuan, pemerintah desa baik tertulis
(X1) keterampilan dan sikap maupun tidak tertulis; pekerjaan
kerja yang mutlak yang diberikan kepada aparat desa
diperlukan dalam sudah sesuai dengan latar belakang
melaksanakan tugas- pendidikan aparat desa; jabatan
tugas jabatannya. aparat desa sesuai dengan tingkat
Peraturan Kepala pendidikan yang dimiliki.
Badan Kepegawaian
Negara Nomor 8 Tahun
2013 tentang Keahlian teknis aparat desa Skala
Perumusan Standar mengenai pencatatan akuntansi Likert
Kompetensi Teknis Kemampuan desa; kehalian teknis aparat terkait 5 dan 6
Pegawai Negeri Sipil (skills) dengan pembuatan RPJM Desa,
dalam Indrajaya (2017) APBDes, dan laporan keuangan
desa; aparat desa mampu mencari
solusi terkait dengan masalah-
masalah yang ada dalam
pengelolaan dana desa.

Aparat desa secara rata-rata Skala


Sikap memiliki sikap inisiatif dalam Likert
(Attitude) bekerja; aparat desa saling 7 dan 8
membantu dan bekerja sama
dalam pengelolaan dana desa
untuk mencapai tujuan visi dan
misi desa; dan aparat desa
memiliki sikap yang ramah dan
sopan baik terhadap sesama aparat
desa maupun terhadap masyarakat
desa.

Komitmen Keadaan dimana Komitmen Aparat desa memiliki keyakinan Skala


Organisasi seorang sangat tertarik Afektif (Affective bahwa tujuan organisasi (desa), Likert
Pemerintah dan Commitment) baik visi maupun misi dapat 1 dan 2
Desa mengidentifikasikan tercapai dengan baik; aparat desa
(X2) dirinya dalam sebuah memiliki perasaan memiliki
organisasi sesuai organisasi (desa), sehingga akan
dengan tujuan, nilai- timbul kesadaran dalam
nilai serta sasaran melaksanakan tugasnya dalam
organisasi tersebut mengelola pemerintah desa.
53

yang kemudian
membuat seseorang
ingin tetap tinggal Komitmen Aparat desa secara rata-rata Skala
didalam organisasi. Keberlanjutan mampu mempertahankan Likert
Ferina et al. (2016) (Continuance keanggotaan dalam organisasi; dan 3, 4 dan
Commitment) secara rata-rata aparat desa 5
memiliki perasaan setia terhadap
organisasinya.

Komitmen Secara rata-rata aparatur desa Skala


Normatif bersedia melakukan upaya atas Likert
(Normative nama organisasi. 6 dan 7
Commitment)

Praktik Sistem Pengendalian Lingkungan Menetapkan corak organisasi, Skala


Pengendalian Intern yang pengendalian memengaruhi kesadaran Likert
Internal diselenggarakan secara pengendalian orang-orangnya. 1 dan 2
(X3) menyeluruh di
lingkungan pemerintah Penaksiran Aparatur desa telah Skala
pusat dan pemerintah resiko mengidentifikasikan risiko untuk Likert
daerah. setiap kegiatan sebagai bagian dari 3
Peraturan Pemerintah perancangan dan pengoperasian
Nomor 60 Tahun 2008 pengendalian internal; aparatur
desa juga telah
mempertimbangkan faktor
eksternal dan internal pada
masing-masing kegiatan yang
akan dilaksanakan, serta
melakukan perhatian khusus
terhadap risiko yang mempunyai
pengaruh yang sulit terhadap
kinerja pemerintahan desa.

Aktivitas Kepala desa selalu melakukan Skala


Pengendalian review kinerja yang dibandingkan Likert
dengan tolak ukur kinerja; Telah 4, 5 dan
melaksanakan pemisahan fungsi 6
dari setiap tugas mengenai
kegiatan yang sedang dilakukan;
Terdapat 4 pegawai yang memiliki
fungsi yang berbeda terhadap
pencatatan, penghapusan dan
otorisasi transaksi serta
mempunyai akses verifikasi dan
pembayaran transaksi; Melakukan
pengamanan aset yang dimiliki
untuk menghindari adanya fraud;
Memiliki bukti pendukung
sebelum dilakukannya pencatatan
atas suatu transaksi; Pemerintah
desa telah memiliki pejabat yang
berwenang untuk setiap transaksi
yang berjalan; Terdapat 4
pegawai yang memiliki wewenang
54

yang berbeda terhadap pencatatan,


penghapusan dan otorisasi
transaksi serta mempunyai akses
verifikasi dan pembayaran
transaksi; Pemerintah desa selalu
melakukan pembatasan akses
terhadap pegawai desa yang akan
mengelola sumber daya yang
dimiliki.

Informasi dan Pemerintah desa telah Skala


Komunikasi menyediakan alat pendukung Likert
untuk berbagai transaksi dan 7 dan 8
penyajian laporan keuangan seperti
perangkat keras (hardware) dan
telah mengimplementasikan sistem
informasi manajemen pemerintah
dalam bentuk sistem aplikasi yang
dapat menunjang penyajian
laporan keuangan.

Pemantauan Pemerintah desa selalu melakukan Skala


evaluasi tentang kelebihan dan Likert
kelemahan serta membuat 9
rekomendasi untuk memperbaiki
pengendalian internal.

Sumber : Data Diolah

C. Teknik Analisis Data

1. Uji Kualitas Data

Instrument kuesioner digunakan dalam penelitian ini, sehingga harus

dilakukan pengujian kualitas terhadap data yang diperoleh. Uji kualitas data

dilakukan untuk mengetahui apakah instrumen yang digunakan valid dan

reliable sebab kebenaran data yang diolah sangat menentukan kualitas hasil

penelitian.

a. Uji Validitas
55

Uji validitas diperlukan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu

kuisioner. Sebelum kuesioner dibagikan kepada responden, harus

dilakukan uji terhadap kuesioner. Untuk melakukan pengujian validitas,

digunakan rumus korelasi Product Moment, sebagai berikut (Suliyanto,

2011):

r N ( Σ XY ) − ( Σ Y ) ( Σ X )
xy=¿ 2 2 2 2
¿
√ N Σ X −(Σ X ) N Σ Y −(Σ Y )

Keterangan:

r xy = Koefisien Korelasi

N = Besar sampel

X = Variabel Bebas (X1, X2, X3, X4)

Y = Akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo

Kriteria pengujiannya yaitu jika nilai r hitung < r tabel, maka

nomor item tersebut tidak valid, sebaliknya jika nilai r hitung ≥ r tabel

maka item tersebut dinyatakan valid dan dapat digunakan untuk analisis

selanjutnya. Untuk item yang tidak valid, maka item yang memiliki nilai

r hitung yang paling kecil dikeluarkan dari analisis, selanjutnya

dilakukan analisis yang sama sampai semua item dinyatakan valid.

b. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur apakah jawaban

responden terhadap pernyataan dalam kuesioner penelitian ini konsisten

atau stabil dari waktu ke waktu. Suatu kuesioner dapat dikatakan reliable

jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil

dari waktu ke waktu. Untuk uji reliabilitas dalam penelitian ini


56

menggunakan rumus Cronbach’s Alpha, apabila nilai Cronbach’s Alpha

> 0,6 menunjukkan instrumen yang digunakan reliable (Ghozali, 2009

dalam Khozanah, 2017).

Rumus Cronbach’s Alpha (α) sebagai berikut (Ghozali, 2009 dalam

Khozanah, 2017):

2
k ∑σ b
r= ( )(
k −1
1− 2
σ t )
Keterangan:

r = Reliabilitas instrumen

k = Banyak butir pertanyaan

σ² = Varians total

∑ σ²b = Jumlah varians butir

Dimana diperoleh dengan rumus (Ghozali, 2009 dalam Khozanah, 2017):

∑2
2 X
σ2 = ∑ X n
n
Keterangan:

σ2 = Varians total

N = Jumlah responden

X = Nilai skor yang dipilih (total nilai dari nomor-nomor butir

pertanyaan)
57

2. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji dalam model regresi,

variabel pengganggu memiliki distribusi normal ataukah tidak. Untuk

menguji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji One Sample

Kolmogorov-Smirnov (Khozanah, 2017). Dasar pengambilan keputusan

yaitu berdasarkan probabilitas (Asymptotik Significance), yaitu jika nilai

signifikan atau nilai probabilitasnya < 0.05 maka distribusi tidak normal,

sementara jika nilai signifikan atau nilai probabilitasnya > 0.05 maka

distribusi normal.

b. Uji Multikolinieritas

Multikolinearitas yaitu adanya hubungan linear yang pasti antara

peubah-peubah bebasnya (Khozanah, 2017). Untuk mengetahui ada

tidaknya Multikolinearitas dalam penelitian ini, maka menggunakan nilai

VIF (Variance Inflation Factory). VIF ini didefinisikan sebagai berikut

(Hakim, 2002 dalam Khozanah, 2017):

1
VIF J =
1−R 2j

Dimana Rj2 mewakili koefisien determinasi ganda dari

variabel penjelas Xj. Jika satu set variabel penjelas adalah tidak

berkorelasi, maka VIFj akan sama dengan 1. Jika satu set variabel

penjelas tersebut berkorelasi dengan tingkat yang tinggi, maka VIFj bisa

melebihi 10.
58

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam

model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu

pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu

pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas

dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas.

Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau

tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi ada tidaknya

heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melakukan Uji Glejser.

Kriteria dari uji Glejser yaitu jika nilai probabilitasnya > alpha (0,05)

ataut hitung < t tabelpada nilai alpha (0,05) maka tidak terjadi

heteroskedastisitas. Sedangkan jika nilai probabilitasnya < alpha (0,05)

ataut hitung > t tabelpada nilai alpha (0,05) maka terjadi heteroskedastisitas.

3. Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif ini digunakan untuk mengetahui

tanggapan umum dari responden terhadap variabel-variabel yang digunakan

dalam penelitian ini. Statistik deskriptif dalam penelitian ini terdiri dari total

responden, minimal, maksimal, mean dan standar deviasi.

4. Analisis Pengaruh

a. Analisis Regresi Linier Berganda

Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel independen

terhadap variabel dependen maka penelitian ini menggunakan analisis

regresi linier berganda. Data diolah dengan bantuan perangkat lunak


59

SPSS. Persamaan model regresi berganda yang digunakan adalah

(Suliyanto, 2011):

Y =a+ β 1 X 1+ β 2 X 2 + β 3 X 3+ e

Keterangan :

Y = Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa

A = Konstanta

β1 = Koefisien regresi untuk kompetensi aparat pengelola dana desa

β2 = Koefisien regresi untuk komitmen organisasi pemerintah desa

β3 = Koefisien regresi untuk praktik pengendalian internal

X1 = Kompetensi aparat pengelola dana desa

X2 = Komitmen organisasi pemerintah desa

X3 = Praktik pengendalian internal

e = Koefisien error (nilai pengganggu)

b. Uji Koefisien Determinasi

Untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam

menerangkan variabel dependen penelitian ini menggunakan uji koefisien

determinasi ( R2 ¿. Nilai koefisien determinasi adalah di antara 0 dan 1.

Jika nilai koefisien determinasi semakin mendekati satu berarti variabel

independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk

memprediksi variabel dependen, dan begitu juga sebaliknya (Suliyanto,

2005). Untuk mengukur koefisien determinasi dianjurkan untuk

menggunakan Adjusted R2 karena nilai ini tidak akan naik/turun

meskipun terdapat penambahan variabel independen dalam model.


60

Adjusted R Square (R2adj) merupakan koefisien determinasi

yang telah terkoreksi dengan jumlah variabel dan ukuran sampel

sehingga dapat mengurangi unsur bias jika terjadi penambahan variabel

(Suliyanto, 2011). Koefisien determinasi dirumuskan sebagai berikut

(Suliyanto, 2011):

P(1−R 2)
R2adj =R2−
N −P−1

Keterangan :

R2 = Koefisien determinasi

N = Ukuran sampel

P = Jumlah variabel bebas

c. Pengujian Goodness of fit

Sebelum melakukan pengujian hipotesis, dilakukan pengujian

kelayakan model (Goodness of fit) terlebih dahulu dengan menggunakan

uji F. Uji F bermanfaat untuk mengidentifikasi model regresi yang

diestimasi layak atau tidak. Layak (andal) maksudnya adalah model yang

diestimasi layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel-

variabel bebas terhadap variabel terikat. Langkah-langkah adalah sebagai

berikut:

1) Merumuskan hipotesis
61

H0 : β1=β2=β3=0, Artinya kompetensi aparat pengelola dana desa,

komitmen organisasi pemerintah desa dan praktik pengendalian

internal secara simultan tidak berpengaruh terhadap akuntabilitas

pengelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo.

Ha : salah satu dari β1, β2, β3 ≠ 0, Artinya, kompetensi aparat pengelola

dana desa, komitmen organisasi pemerintah desa dan praktik

pengendalian internal secara simultan berpengaruh terhadap

akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo.

2) Menentukan level of significant α = 5% (0,05)

3) Menentukan Degree of fredoom (Suliyanto, 2011) = ( k −1 ) (n−k ),

dimana n adalah jumlah observasi/sampel pembentuk regresi dan k

adalah jumlah variabel (bebas + terikat).

4) Untuk mengetahui terdapat atau tidaknya pengaruh secara simultan,

perlu dihitung besarnya Fhitung dengan menggunakan rumus sebagai

berikut (Suliyanto, 2011) :

R2 /(k−1)
F=
(1−R 2)/(n−k )

Keterangan :

F = Nilai F hitung

R2 = Koefisien determinasi

k = Banyaknya variabel yang diamati

n = Banyaknya sampel penelitian

5) Kriteria Pengujian
62

H 0diterima : Jika Fhitung ≤ Ftabel. Artinya pengaruh kompetensi

aparat pengelola dana desa, komitmen organisasi pemerintah desa dan

praktik pengendalian internal secara simultan tidak berpengaruh

terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten

Wonosobo.

H 0ditolak : Jika Fhitung > Ftabel. Artinya kompetensi aparat

pengelola dana desa, komitmen organisasi pemerintah desa dan

praktik pengendalian internal secara simultan berpengaruh terhadap

akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten Wonosobo.

d. Uji t (t-test)

Uji t ini dilakukan untuk menguji variabel bebas penelitian

yang terdiri dari kompetensi aparat pengelola dana desa, komitmen

organisasi pemerintah desa dan praktik pengendalian intern. Pengujian

ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel

independen terhadap variabel dependen. Langkah-langkah uji

hipotesisnya adalah sebagai berikut:

1) Merumuskan hipotesis

a) Hipotesis pertama

H01:β1 ≤0, artinya kompetensi aparat pengelola dana desa tidak

berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di

Kabupaten Wonosobo.
63

Ha1:β1 >0, artinya kompetensi aparat pengelola dana desa

berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di

Kabupaten Wonosobo.

b) Hipotesis kedua

H02:β2 ≤0, artinya komitmen organisasi pemerintah desa tidak

berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di

Kabupaten Wonosobo.

Ha2:β2 >0, artinya komitmen organisasi pemerintah desa

berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di

Kabupaten Wonosobo.

c) Hipotesis ketiga

H03:β3 ≤0, artinya praktik pengendalian intern tidak berpengaruh

positif terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten

Wonosobo.

Ha3: β3 >0, artinya praktik pengendalian internberpengaruh positif

terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten

Wonosobo.

2) Menentukan level of significant α = 5% (0,05)

3) Menentukan Degree of fredoom (Suliyanto, 2011) =n−k, dimana n

adalah jumlah observasi/sampel pembentuk regresi dan k adalah

jumlah variabel (bebas + terikat).

4) Penghitungan nilai t (Suliyanto, 2011):

bj
t=
sbj
64

Keterangan:

t = Nilai t hitung

bj = Koefisien regresi

Sbj = kesalahan baku koefisien regresi

5) Kriteria pengujian

H0 diterima: Jika thitung ≤ttabel, atau tingkat signifikansi > α = 0,05 dan

koefisien regresi (β) negatif.

H0 ditolak: Jika thitung> ttabel, atau tingkat signifikansi ≤ α = 0,05 dan

koefisien regresi(β) positif.