Anda di halaman 1dari 7

Audit (PLPBK)

Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) adalah bagian dari
program PNPM Mandiri Perkotaan sebagai wahana transformasi sosial masyarakat menuju
terciptanya lingkungan permukiman yang sehat, produktif, berjati diri, dan berkelanjutan.
Dalam cakupan nasional, ada 276 Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang menerima program
PLPBK, terdiri atas 18 kelurahan lokasi pilot, 255 kelurahan lokasi tahun 2009, dan 3 kelurahan
lokasi tahun 2010.
Masing-masing BKM menerima dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PLPBK sebagai
stimulan yang cukup besar, Rp1 miliar rupiah. Pemanfaatannya terbagi ke dalam tiga tahapan. BLM I,
Rp200 juta untuk aktivitas perencanaan. BLM II, Rp500 juta, terdiri atas Rp100 juta untuk kegiatan
pemasaran dan Rp400 juta untuk pembangunan fisik I. BLM III Rp300 juta untuk pembangunan fisik
II.
Kini BKM-BKM beserta gugus tugas di seantero Nusantara telah dan sedang diaudit oleh auditor
independen untuk tahun buku 2011. Tak terkecuali gugus tugas yang menangani Program PLPBK.
Hasil audit, selanjutnya, merupakan justifikasi terhadap tanggung jawab kunci BKM terhadap tiga
hal: Apakah asset organisasi (dana BLM) digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan?
Apakah pelaporan dan catatan tahunan disajikan sesuai ketentuan pencatatan akuntansi yang berlaku?
Apakah ada ketaatan terhadap sistem dan prosedur keuangan organisasi termasuk kewajiban
pelaporan terhadap terjadinya perubahan atau penyimpangan?
Singkatnya, BKM sebagai pelaksana dan pengemban amanah masyarakat perlu justifikasi pihak luar
untuk membuktikan telah dijalankannya prinsip transparasi dan akuntabilitas dalam mengelola dana
PLPBK tersebut.
Tuntutan hasil opini audit bagi BKM penerima PLPBK sangat progresif,unqualified opinion (UO),
artinya wajar tanpa pengecualian. Ibarat sebuah ujian, harus lulus dengan nilai kelulusan (passing
grade) yang tinggi. Meski demikian, bagi penulis kebijakan tersebut belumlah cukup. Audit PLPBK
justru akan banyak bermakna dan berkontribusi bila dilakukan secara . Ada beberapa alasan yang
mendasarinya yang coba dikupas dalam tulisan ini.

Dasar Kewajiban Audit  


Secara umum, audit adalah proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara
obyektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan
untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang
telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.
Sedangkan dari sudut pandang akuntan publik, audit sebagai pemeriksaan (examination) secara
objektif atas laporan keuangan suatu perusahaan atau organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan
apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan, dan hasil usaha perusahaan atau organisasi tersebut.
Sementara itu ada pihak lain yang memberikan definisi sebagai penilaian atas suatu perusahaan atau
badan hukum lainnya (termasuk pemerintah) sehingga dapat dihasilkan pendapat yang independen
tentang laporan keuangan yang relevan, akurat, lengkap, dan disajikan secara wajar. Audit keuangan
biasanya dilakukan oleh firma-firma akuntan karena pengetahuannya akan laporan keuangan.
(Sumber: id.wikipedia.org)
Audit bagi program BKM dan PLPBK diatur dalam Buku Pedoman Pelaksanaan PLPBK (2010:36)
yang menggariskan bahwa BKM/LKM dengan unit-unitnya harus selalu siap untuk dilakukan audit
oleh pihak luar (audit external) yang mendapat tugas dari proyek. Audit eksternal ini adalah
pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak luar, seperti dari BPKP, misi supervisi dari program, dan lain-
lain. Mekanisme audit dilakukan baik secara acak maupun diarahkan pada lokasi/kejadian tertentu.
Kegiatan audit internal akan mengikuti audit tahunan BKM/LKM”.
Secara lebih Pedoman Pembukuan PLPBK (No Date: 21, Point d) mengatur tentang cakupan, opini
dan tindaklanjutnya: “Pelaksanaan audit independen BKM/LKM, mencakup audit pengelolaan dana
di TIPP, TP, TPP, dan KSM. Opini audit yang dihasilkan adalah UO atau unqualified opinion.
Apabila opini yang dihasilkan QO atau qualified opinion (wajar dengan catatan), maka catatan dari
temuan audit tersebut ditindaklanjuti dan dilaporkan ke KMW dan KMP.
Tuntutan bahwa hasil opini audit yang harus UO ini barangkali berlandaskan pada asumsi bahwa
penerima PLPBK adalah sebagai BKM/LKM kategori madani yang nilai kerelawanannya telah
melampaui ketentuan pemanfaatan dana dan pelaporan keuangan dengan kinerja pembukuan yang
baik.
Tujuan audit oleh pihak auditor adalah memberikan opini atas kewajaran pelaporan keuangan
lembaga dan organisasi, terutama dalam penyajian posisi keuangan dan hasil operasi dalam suatu
periode. Auditor juga menilai apakah laporan keuangan lembaga dan organisasi disajikan sesuai
dengan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum di PNPM Mandiri perkotaan, diterapkan
secara konsisten dari periode ke periode, dan seterusnya.
Sedangkan bagi para pengguna laporan keuangan, baik itu BKM maupun organisasi terlebih di luar
BKM, bermanfaat untuk melihat seberapa besar tingkat reliabilitas laporan keuangan sehubungan
dengan kemungkinan penyertaan investasi, pemberian bantuan, dan lain-lain.
Dengan merujuk pada kemanfatannya, audit sesungguhnya merupakan kebutuhan masyarakat yang
melaksanakan program. Pertama, menambah kredibilitas laporan keuangannya sehingga laporan itu
dapat dipercaya untuk kepentingan pihak luar seperti pemerintah dan pemberi program termasuk
pihak sponsor. Kedua, mencegah dan menghindari penyelewengan dana (fraud) yang dilakukan oleh
pelaku maupun pelaksana program. Ketiga, memberikan kesempatan bagi program lain untuk
membuka pintu bagi sebagai sumber pembiayaan. Keempat, menyingkap kesalahan dan
penyimpangan moneter dalam catatan keuangan.
Sementara itu ada yang menyatakan bahwa audit BKM memberikan delapan manfaat berikut: (1).
Naiknya kepercayaan (kredibilitas) pihak luar kepada BKM, termasuk kepercayaan BKM
selaku owner kepada unit pengelola; (2). Sebagai penengah dari perbedaan kepentingan (Conflict of
Interest); (3). Antisipasi kasus ; (4). Kepuasan pengurus/pengelola BKM ; (5). Alat bantu pengawasan
terhadap manajemen (BKM); (6). Mengurangi resiko ketidaktepatan informasi (information risk ),
misalnya karena proses menghasilkan informasi yang tidak ditangani sendiri, keterpihakan penyusun
informasi atau yang disebabkan kompleksnya transaksi; (7). Momentum untuk konsultasi pembukuan,
atau konsultasi lainnya yang berhubungan dengan laporan keuangan; (8). Membantu BKM dalam
melancarkan rembug warga tahunan (RWT).

Audit, Mengapa?
Ada tiga alasan mendasar menurut penulis, mengapa program PLPBK perlu mendapatkan audit.

Pagu Dana PLPBK Besar.
Seperti halnya di program PNPM Mandiri Perkotaan reguler, dana BLM PLBPK hanya berfungsi
sebagai dana stimulan bagi masyarakat untuk berpraktek menerapkan apa yang sudah mereka
rencanakan dan sepakati dalam pembangunan penataan kembali permukiman. Dalam pelaksanaannya,
pada BKM yang memiliki Tim Ahli Pemasaran yang mumpuni dana yang didapatkan
melalui channeling nilainya cukup signifikan. Organisasi pelaksanaan dan administrasi kegiatannya
pun dengan demikian semakin kompleks.
Capaian kemitraan di lokasi PLPBK D.I. Yogyakarta sebagai contoh menunjukkan nominal yang
signifikan. Desa Margokaton, Kab. Sleman dapat menyerap dana kemitraan sebesar Rp680 juta untuk
pengembangan kegiatan PLPBK lanjutan. Kelurahan Karangwaru, Kota Yogyakarta Rp1,1 miliar
untuk perbaikan RTLH wilayah kumuh. Desa Semugih Kabupaten Gunungkidul Rp25 juta untuk
pembinaan pengelolaan produk hasil pertanian. Desa Tirtonirmolo Kabupaten Bantul Rp800 juta
untuk pembangunan kawasan RTH. Desa Pleret Kabupaten Bantul Rp700 juta untuk pembuatan
bronjong (keranjang batu penahan air sungai). dan Desa Salamrejo ,Kabupaten Kulonprogo Rp92,972
juta untuk permukiman Batas Wilayah Desa (BWD) I dan Kawasan Industri Kerajinan BWD I.
Volume dan jenis kegiatan potensinya juga bisa bertambah seiring dengan lamanya dana PLPBK
mengendap di bank, senafas dengan ketentuan yang menyatakan: “Pendapatan bunga bank (bersih
setelah dikurangi biaya administrasi bank dan pajak) dari rekening PLPBK di BKM/ LKM dapat
digunakan untuk membiayai kegiatan PLPBK baik itu pengembangan pembangunan maupun kegiatan
yang berhubungan dengan PLPBK.” (Pedoman Pembukuan PLPBK, No Date: 6 Poin f).
Memang, realisasi pembangunan fisik kadang tertunda karena berbagai kendala sehingga perilaku
pencairan dari bank yang memakan waktu lebih dari tiga bulan dengan pendapatan bunga mencapai
belasan juta rupiah. Bukan karena unsur kesengajaan untuk diendapkan, namun lebih dikarenakan
proses administratif, dinamika, dan kesiapan masyarakat dalam pemanfaatan dana tersebut. Misalnya,
karena proses revisi dokumen mikro atau Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman
(RTPLP) sampai dengan Detail Engineering Design (DED) dari bukti empiris rekaman SIM
memakan waktu rata-rata delapan bulan.
Belum lagi tambahan dana yang dihimpun BKM dari swadaya masyarakat. Ketiadaan dana yang
dialokasikan secara dari dana BLM PLPBK untuk operasional mendorong dilahirkannya kebijakan,
agar pelaku di lapangan menggali potensi swadaya pemda maupun masyarakat untuk membiyai audit
independen, biaya transportasi ke bank, fasilitasi pertemuan-pertemuan di BKM/ LKM terkait
PLPBK, administrasi dan ATK. (Pedoman Pembukuan PLPBK, No Date: 6 Poin d).

Penyempurnaan Audit Era Sebelumnya.
Berkaca pada hasil audit yang ada, pemeriksaan kantor akuntan publik (KAP), kebanyakan hanya
sebatas pengujian administrasi di tingkat sekretariat BKM/LKM sebagai “pintu gerbang” dana BLM
PLPBK masuk. Dengan kata lain penilaian KAP hanya sebatas di tingkat permukaan, yakni
memeriksa aliran dana PLPBK yang masuk ke BKM, pemindahannya di rekening PLPBK di BKM
serta pencairannya ke tim pengendali—Tim Inti Perencanaan Partisipatif/TIPP, Tim Pemasaran/ TP,
dan Tim Pelaksana Pembangunan/TPP—atau KSM. Sedangkan pemanfaatan dana BLM PLPBK dan
pertanggungjawaban keuangan tim pengendali kebanyakan belum dirambah oleh auditor independen.
Guna menjawab amanah Pedoman Pembukuan PLPBK (No Date:21, Point d), semestinya penilaian
keuangan mencakup audit administrasi (pemeriksaan dokumen administrasi) maupun konfirmasi
lapangan (pemeriksaan fisik di lokasi pekerjaan) .
Dokumen awal pemeriksaan administrasi adalah RAB dan rencana kegiatan yang disajikan dalam
proposal dibandingkan dengan realisasi Kegiatan yg dilaporkan dalam Laporan Pertanggungjawaban
(LPJ) kegiatan. Dilanjutkan menghitung total pengeluaran yang terdiri dari Pengeluaran (Material,
Ongkos Tenaga Kerja) dari sumber pendanaan (APBN; APBD; dan swadaya masyarakat, dan lain-
lain). Kemudian menghitung dan membandingkan antara rencana pengeluaran dengan realisasi
pengeluaran untuk menentukan kualitas pekerjaan.
Sedangkan konfirmasi lapangan (pemeriksaan fisik di lokasi pekerjaan) dilaksanakan dari tingkat tim
pengendali hingga ke KSM melalui dua tindakan berikut: (1). Melakukan pemeriksaan fisik pekerjaan
yang telah diselesaikan (mengukur/menghitung realisasi pekerjaan); (2). Membandingkan rencana
pekerjaan dengan realisasi pekerjaan (analisa kenaikan/penurunan) anggaran dibandingkan dengan
kualitas pekerjaan.
Afdolnya, KAP juga menyertakan tenaga ahli infrastruktur untuk memberikan justifikasi kelayakan
fisik bangunan dalam kegiatan PLPBK. Penilaian kepada tim pengendali nya TIPP/perencanaan dan
TP pemasaran adalah bisa jadi hal yang mudah karena hanya sebatas pelaporan penggunaan dana,
partisipasi masyarakat, dan keberlanjutan dari program. Namun, pada tingkat TPP yang melibatkan
KSM dan fisik bangunan pastinya dibutuhkan keahlian yang berbeda. sehingga auditor harus
mempunyai SDM yang kompeten dalam bidang infrastruktur supaya dapat menilai kewajaran antara
penggunaan dana dengan volume serta kualitas fisik bangunan yang dihasilkan oleh kegiatan PLPBK.
Dari aktivitas ini diharapkan KAP dapat memberikan catatan-catatan penting berupa management
letter yang berguna bagi peningkatan kinerja PLPBK.

Optimalisasi Pembelajaran Masyarakat.


Program PLPBK merupakan program baru, sehingga jasa KAP yang dibutuhkan tak sebatas
jasaassurance—audit laporan keuangan (general audit)—tetapi juga optimalisasi jasa non-
assurance berupa jasa konsultasi/pembinaan pembukuan sehingga sistem dan admintrasi pembukuan
menjadi kian mantap dan mempercepat akselerasi pelaksanaan kegiatan PLPBK.
Jasa assurance adalah jasa profesional independen untuk meningkatkan mutu informasi bagi
pengambil keputusan. Sedangkan Jasa non-assurance adalah jasa yang dihasilkan oleh akuntan publik
bukan berupa pemberian suatu pendapat, keyakinan negatif, ringkasan temuan atau bentuk lain
keyakinan, tetapi berupa jasa konsultasi/pembinaan pembinaan pembukuan, dan lain-lain yang
sejenis.

Penutup
Bagi KAP, program PLPBK merupakan ranah baru. Agar KAP dapat maksimal dalam menjalankan
tugasnya dan BKM/LKM memperoleh pembelajaran yang maksimal atas terlaksananya aktivitas
audit, maka KAP perlu dibekali mengenai substansi, proses dan pembukuan PLPBK dalam sebuah
media briefing atau coaching. Disamping itu pula KMW bertugas untuk melaksanakan penguatan
kapasitas kepada tim pendamping, tim kordinator Kabupaten/Kota, masyarakat agar audit berjalan
dengan lancar .
Dugaan sementara, meskipun KAP terikat oleh etika profesi, dengan honor 500 ribu rupiah sampai
dengan 750 ribu rupiah per BKM, KAP merasa keberatan jika harus mengaudit dengan cakupan yang
luas dan detail. Perhitungan cost-benefit menjadi sesuatu yang amat wajar dalam sebuah relasi kerja.
Mengingat format BLM PLPBK tahun 2012 ada porsi untuk BOP sebesar 10 juta rupiah--
sebagaimana tertuang dalam Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) yang dikirim oleh satker PBL
pusat keseluruh satker daerah baru-baru ini--maka dari sisi pembiayaan audit ke depan tak menjadi
soal. Pelaksanaan audit PLPBK secara layak dilaksanakan. Lantas apa komentar sidang pembaca?
[DIY]
Editor: Nina Firstavina
ANALISIS ARTIKEL

A.     Kelebihan Artikel


      Dari segi penulisan
Menurut pendapat saya, kelebihan yang terdapat dalam artikel ini adalah
penulis menguraikan tentang audit yang dilakukan terhadap BKM demi
berjalannya PLPBK secara terperinci dan detail serta menguraikan dengan
jelas alasan-alasan mengapa audit BKM diperlukan yakni: Pagu Dana
PLPBK Besar, Penyempurnaan Audit Era Sebelumnya, serta sebagai
Optimalisasi Pembelajaran Masyarakat.
         Dari segi pembahasan
Fraud auditing termasuk dalam audit yang berbeda dengan audit umum
terutama dalam hal tujuan yaitu fraud auditing mempunyai tujuan yang
lebih sempit ( ) dan cenderung untuk mengungkap suatu kecurangan
yang diduga terjadi dalam pengelolaan asset/aktiva. Audit (Special Audit)
Audit adalah audit yang dilakukan atas lingkup audit yang bersifat .
Dengan demikian audit yang bertujuan menilai kasus tidak lancarnya
pelaksanaan pembangunan dapat digunakan istilah Audit atas Ketidak
Lancaran Pelaksanaan Pembangunan (KTLPP). Audit yang bertujuan
mengungkapkan kecurangan adalah Audit atas kecurangan. Audit ini
sangat berguna untuk menindaklanjuti berjalan atau tidaknya program-
program pemerintah secara baik dibandingkan audit umum dari segi
kecurangannya.

B.     Kekurangan Artikel


         Dari segi penulisan
Sedangkan kekurangan yang terdapat dalam artikel ini, menurut saya
adalah penulis menyarankan penerapan audit terhadap BKM tanpa
memberi informasi lebih lanjut tentang hambatan apa saja yang nantinya
mungkin akan dihadapi auditor serta penyelesaiannya sehingga pembaca
tidak dapat menemukan penjelasan lebih lanjut dari masalah yang
dipaparkan artikel tersebut.
         Dari segi pembahasan
Meskipun audit sangat baik diterapkan untuk menyelidiki kasus
kecurangan, namun terdapat beberapa faktot penghambat yang dapat
menyulitkan auditor dalam menjalankan tugasnya. diantaranya: Faktor
pertama yaitu karakteristik terjadinya kecurangan dan kemampuan
auditor menghadapinya merupakan faktor tersulit diatasi, Faktor kedua
yaitu kurangnya standar pengauditan yang memberikan arahan yang
tepat merupakan faktor yang relatif mampu ditanggulangi. Faktor ketiga
yang berkaitan dengan lingkungan pekerjaan audit yang mengurangi
kualitas audit merupakan faktor yang relatif dapat terkendalikan dan
mampu diperbaiki. Ketiga aspek ini pada intinya berujung pada
penekanan biaya atau efisiensi. Terdapat trade-off di sini di mana
penekanan efisiensi yang berlebihan akan mengorbankan efektivitas
audit.

C.     Saran
Audit merupakan bagian dari manajemen kontrol yang dilaksanakan
dalam kegiatan internal audit, di samping audit lainnya, seperti audit
keuangan dan audit kepatuhan atau complience audit. Dalam tata cara
pemeriksaan dan sifat pemeriksaannya, audit lebih dikenal dengan
istilah fraud audit atau pemeriksaan kecurangan. Fraud audit adalah
kombinasi aspek audit forensik/investigasi forensik/uji menyeluruh semua
materi pemeriksaan dengan teknik internal kontrol dalam tata cara
internal audit.
Saya setuju dengan pendapat penulis diatas, Menurut saya audit sangat
perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya suatu masalah dalam hal
keuangan terutama sebagai tindakan pencegahan untuk yang dapat
menimbulkan kerugian bagi banyak pihak. Oleh karena itu audit perlu
dilakukan terhadap BKM.
Audit kecurangan dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
         Pengujian Dokumen
         wawancara terhadap Saksi Pihak Ketiga yang Netral
         wawancara terhadap Pihak-pihak yang dicurigai terlibat
         Menginvestasikan dan melaporkan rencana membongkar kecurangan
         Menemukan kecurangan
         Tindakan awal (kecurangan yang potensial harus ditangani terutama
sebagai masalah bisnis, dari pada sebagai masalah hukum, yang mungkin
nanti ada.)
         mendokumentasin kejadian kecurangan.
         Tidakan perbaikan (bagaimana kejadian ini dapat dihindari ? Kebijakan
keamanan dan audit apa, prosedur, personalia atau peralatan apa yang
harus ditingkatkan atau ditambah untuk menjaga timbulnya kejadian ini
lagi dimasa depan ?)