Anda di halaman 1dari 12

TUGAS KELISTRIKAN BIOMEDIK

RESUME
“ SINGLE PHASE CIRCUIT ”

Disusun oleh :
Septiani Dita Indahsari / 07311840000018
Kelistrikan Biomedik Kelas A

Departemen Teknik Biomedik


Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
2020
RESUME
Pembangkitan tegangan tinggi terbagi menjadi pembangkitan tegangan tinggi bolak-
balik, pembangkitan tegangan tinggi searah, dan pembangkitan tegangan tinggi impuls. Untuk
menguji suatu tegangan tembus dari udara, gas, minyak atau zat padat, dibutuhkan pembangkit
tegangan tinggi. Salah satu jenis tegangan tinggi yang biasa digunakan untuk pengujian adalah
tegangan tinggi AC dapat juga digunakan karakteristik tegangan berbeda, tegangan tinggi DC.

Figure 1. Rangkaian Pembangkitan Tegangan

Pembangkitan Tegangan AC
Tegangan tinggi AC dapat dibangkitkan dengan menggunakan trafo tegangan tinggi.
Trafo uji hanya digunakan untuk daya yang kecil tetapi dengan nilai tegangan yang besar, trafo
ini biasanya digunakan untuk pengujian jangka pendek untuk peralatan tegangan tinggi. Design
dari trafo uji ini mirip dengan trafo tegangan yamg digunakan untuk mengukur daya dan
tegangan pada saluran transmisi, kerapatan fluks yang rendah dipilih agar tidak menimbulkan
arus magnetisasi besar yang akan memenuhi inti besi dan menimbulkan harmonisa yang tinggi.
Tegangan tinggi AC banyak digunakan untuk pengujian peralatan listrik, untuk pengujian,
pembangkitan tegangan searah dan impuls. Pembangkitan tegangan tinggi AC dapat
mempergunakan trafo dengan perbandingan belitan yang tinggi jenis dua belitan dan jenis tiga
belitan (untuk keperluan rangkaian cascade).  Trafo tegangan tinggi AC untuk keperluan
pengujian mampu menghasilkan tegangan yang sangat tinggi namun menghasilkan daya yang
kecil. Untuk membangkitkan tegangan tinggi AC dibutuhkan banyak peralatan, antara lain
sumber tegangan AC 220 V, Regulator tegangan, Trafo Tegangan Tinggi, Resistor Tegangan
Tinggi, Capacitor, Konektor, Elektroda Bola-Bola, Operating Terminal, Digital Measuring
Instrument (DMI), dan Jumper. 
Tegangan supply 220 V AC dihubungkan dengan regulator tegangan yang berfungsi
untuk menaikkan dan menurunkan tegangan. Karena kinerja dari regulator tegangan ini tidak
dapat dioperasikan dengan tangan secara langsung, maka kita dapat gunakan operating
terminal, operating terminal ini dapat menaikkan dan menurunkan tegangan input dan regulator
sehingga tegangan tersebut sesuai dengan yang diinginkan. Setelah keluar dari regulator,
tegangan mulai mensupply trafo. Keluaran dari trafo ini adalah tegangan AC yang memiliki
tegangan dengan nilai tinggi. Sekeluarnya dari trafo, akan melalui resistor. Resistor ini
berfungsi untuk menghindari arus balik yang besar menuju sumber ketika terjadi short circuit
sehingga tidak terjadi kerusakan pada trafo. Setelah itu, tegangan sumber akan menyuplai
kapasitor pembangkitan sehingga kapasitor tersebut akan terisi. Tegangan pada kapasitor
pembangkitan ini akan dicuplik dengan menggunakan jumper yang terdapat pada kapasitor
ujinya, sehingga tegangan dapat terukur melalui Digital Measuring Instrument (DMI),
Tegangan AC maksimal dan tegangan AC efektir dapat diukur. 
Untuk lebih mengamankan trafo agar tidak terjadi kerusakan ketika ada tegangan lebih,
maka digunakanlah elektroda bola-bola yang disetting memiliki celah yang besar. Sehingga
ketika terjadi kelebihan tegangan yang berpotensi merusak trafo, dapat diatasi dengan flash
2
yang terjadi antar elektroda bola-bola. Untuk menghubungkan elektroda bola-bola dengan
kapasitor, dapat digunakan konektor. Masing - masing sisi ground dari komponen - komponen
tersebut dapat dijadikan satu menggunakan jumper kemudian disambungkan dengan grounding
yang tertancap di dalam tanah. Pastikan sebelum memulai menggunakan peralatan - peralatan
yang ada untuk digrounding terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan tegangan kerja dari peralatan
yang tinggi, sehingga memungkinkan arus sisa dari komponen tinggi. Sehingga berbahaya jika
kita menyentuh peralatan - peralatan tersebut secara langsung.

Pembangkitan Tegangan DC
Tegangan tinggi DC banyak digunakan untuk pengujian dan penelitian susunan isolator
dengan kapasitansi fungsi seperti kabel dan kapasitor. Pemanfaatan tegangan tinggi DC banyak
dijumpai pada instalasi elektrostatik (penyaring gas buang, peralatan pengecatan), peralatan
kedokteran (alat rontgen) dan pada fisika inti (pemercepat muatan). Pada umumnya
pembangkitan tegangan tinggi searah dilakukan dengan penyearahan tegangan tinggi AC
melalui diode. Kemudian dapat dilipat gandakan tingginya. Sedangkan generator elektrostatis
sangat jarang digunakan. Sebagai diode penyearah digunakan bahan Selenium, Germanium dan
Silizium. Diode Selenium memiliki volume yang lebih besar, efisiensi yang redah dan kapasitaa
penyaluran arus yang rendah. Akan tetapi diode ini dapat menahan tegangan AC sampai 600 kV
tanpa kondensator pengarah tegangan, karena kapasitansi lapisan diodenya yang tinggi. Ada
beberapa macam rangakaian pelipat ganda tegangan antara lain Vilard, Greincher, Kaskade
Greincher. 
 
Rangkaian pembangkit tegangan tinggi DC pada dasarnya sama dengan rangkaian
pembangkit tegangan tinggi AC. Yang membedakan disini adalah digunakannya diode untuk
menyearahkan tegangan tinggi AC yang dihasilkan oleh trafo dan juga digunakan resistor
tegangan tinggi untuk mengganti kapasitor tegangan tinggi untuk mencuplik tegangan sehingga
dapat terukur oleh Digital Measuring Instrument (DMI). Untuk membangkitkan tegangan tinggi
DC, dibutuhkan banyak peralatan yaitu sumber tegangan AC 220 V, Regulator Tegangan, Trafo
Tegangan Tinggi dengan perbandingan 220/100000 V, Diode, Resistor Tegangan Tinggi 280
MOhm, Konektor, Elektroda Bola - Bola, Operating Terminal, Digital Measuring Instrument
(DMI) dan Jumper.
 
Tegangan supply 220 V AC dihubungkan dengan regulator tegangan yang berfungsi
untuk menaikkan dan menurunkan tegangan. Karena kinerja dari regulator tegangan ini tidak
dapat dioperasikan dengan tangan secara langsung, maka digunakan operating terminal.
Operating terminal dapat menaikkan dan menurunkan tegangan input dari regulator sehingga
tegangan tersebut sesuai dengan yang kita inginkan. Setelah keluar dari regulator, tegangan
mulai menyuplai trafo. Trafo yang digunakan disini memiliki perbandingan 220 V/ 100.000 V.
Keluaran dari trafo ini adalah tegangan AC yang memiliki tegangan maksimal sebesar 100 kV.
Sekeluarnya dari trafo, tegangan AC disearahkan dengan diode sehingga menghasilkan
tegangan DC setengah gelombang yang digunakan untuk menyuplai resistor uji yang memiliki
nilai 280 MOhm yang bertindak sebagai beban sekaligus pencuplik tegangan. Tegangan pada
resistor uji ini akan dicuplik dengan menggunakan jumper yang pada ujung jumper terdapat
resistor ukur, sehingga tegangan dapat terukur melalui Digital Measuring Instrument (DMI).
Dengan adanya Digital Measuring Instrument (DMI), tegangan AC maksimal dan tegangan AC
efektif dapat diukur. Resistor ukur itu sendiri adalah untuk menyesuaikan tegangan yang akan
masuk ke DMI.
Sebelumnya, penempatan diode dengan konektor dapat dibolak - balik sesuai dengan keinginan.
Namun, alangkah lebih baiknya jika dioda diletakkan diantara trafo dan resistor. Sedangkan
konektor diletakkan diantara resistor dan elektroda bola - bola.

3
Generator

Generator adalah suatu sistem yang menghasilkan tenaga listrik dengan masukan tenaga
mekanik. Jadi generator berfungsi untuk mengubah tenaga mekanik menjadi tenaga listrik yang
mempunyai prinsip kerja sebagai berikut:

“Jika rotor diputar maka belitan kawat akan memotong gaya - gaya magnet pada kutub magnet,
sehingga terjadi perbedaan tegangan, dan timbullah arus listrik. Arus melalui kawat yang ke dua
ujungnya dihubungkan dengan cincin geser. Pada cincin - cincin tersebut menggeser sikat -
sikat sebagai terminal penghubung keluar.”

Bagian – bagian generator :


1. Rotor, bagian yang berputar dan terdiri dari poros inti, kumparan, cincin geser, dan sikat
– sikat.
2. Stator, bagian yang diam dan terdiri atas rangka stator yang merupakan bagian utama
dari generator yang terbuat dari besi tuang dan merupakan rumah dari bagian – bagian
generator. Kutub utama beserta belitannya, kutub – kutub pembantu beserta belitannya,
dan bantalan – bantalan poros.

A. Generator DC
Generator DC merupakan sebuah perangkat motor listrik yang mengubah energi
mekanis menjadi energi listrik. Generator DC menghasilkan arus searah (DC). Generator DC
dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan dari rangkaian belitan magnet atau penguat
eksitasinya terhadap jangkar (anker).
Konstruksi Generator DC 
Pada umumnya generator DC dibuat dengan
menggunakan magnet permanent dengan 4 kutub rotor,
regulator tegangan digital, proteksi terhadap beban lebih,
starter eksitasi, penyearah, bearing dan rumah generator
atau casis, serta bagian rotor. Generator DC terdiri dua
bagian, yaitu stator bagian mesin DC yang diam dan
rotor, bagian mesin DC yang berputar. Bagian stator
terdiri dari: rangka motor, belitan stator, sikat arang,
bearing dan terminal box. Sedangkan bagian rotor terdiri
dari: komutator, belitan rotor, kipas rotor dan poros
rotor.
Figure 2. Irisan melintang Generator DC
Prinsip kerja Generator DC

Pembangkitan tegangan induksi oleh sebuah generator diperoleh melalui dua cara:

1. Menggunakan cincin seret akan menghasilkan tegangan induksi bolak-balik.


2. Menggunakan komutator akan menghasilkan tegangan DC.

4
Figure 3. Proses Pembangkitan Tegangan Induksi
Jika rotor diputar dalam pengaruh medan magnet, maka akan
terjadi perpotongan medan magnet oleh lilitan kawat pada rotor. Hal ini akan menimbulkan
tegangan induksi. Tegangan induksi terbesar terjadi saat rotor menempati posisi seperti gambar
3 (a) dan (c). Pada posisi ini terjadi perpotongan medan magnet secara maksimum oleh
penghantar. Sedangkan posisi jangkar pada gambar 3 (b), akan menghasilkan tegangan induksi
nol karena tidak adanya perpotongan medan magnet dengan penghantar pada jangkar atau rotor.
Daerah medan ini disebut daerah netral.

Jika ujung belitan rotor dihubungkan dengan


slip - ring berupa dua cincin (cincin seret),
seperti gambar 4 (1), maka dihasilkan listrik
AC berbentuk sinusoidal. Bila ujung belitan
rotor dihubungkan dengan komutator satu
cincin Gambar 4(2) dengan dua belahan,
maka dihasilkan listrik DC dengan dua
gelombang positif.
Rotor dari generator DC akan menghasilkan

tegangan induksi bolak - balik. Sebuah Figure 4. Tegangan Rotor yang dihasilkan melalui
komutator berfungsi sebagai penyearah cincin-seret dan komutator
tegangan AC. Besarnya tegangan yang dihasilkan oleh sebuah generator DC, sebanding dengan
banyaknya putaran dan besarnya arus eksitasi (arus penguat medan).

Jangkar Generator DC

Jangkar adalah tempat lilitan pada rotor yang


berbentuk silinder beralur. Belitan tersebut
merupakan tempat terbentuknya tegangan induksi.
Pada umumnya jangkar terbuat dari bahan yang
kuat mempunyai sifat feromagnetik dengan
permeabilitas yang cukup besar.
Permeabilitas yang besar diperlukan agar lilitan
jangkar terletak pada derah yang induksi
magnetnya besar, sehingga tegangan induksi yang
ditimbulkan juga besar. Belitan jangkar terdiri dari
beberapa kumparan yang dipasang di dalam alur
jangkar. Tiap-tiap kumparan terdiri dari lilitan Figure 5. Jangkar Generator DC
kawat atau lilitan batang.

Reaksi Jangkar

5
Fluks magnet yang ditimbulkan oleh kutub
- kutub utama dari sebuah generator saat
tanpa beban disebut Fluks Medan Utama
(Gambar 6). Fluks ini memotong lilitan
jangkar sehingga timbul tegangan induksi.

Bila generator dibebani maka pada


penghantar jangkar timbul arus jangkar. Arus
jangkar
Figure 6. ini menyebabkan
Medan Eksitasi timbulnya fluks
pada penghantar
Generator DC jangkar tersebut dan biasa
disebut FIuks Medan Jangkar.
Figure 7. FIuks
Medan Jangkar
Munculnya medan jangkar akan memperlemah medan utama yang
terletak disebelah kiri kutub utara, dan akan memperkuat medan utama yang
terletak di sebelah kanan kutub utara. Pengaruh adanya interaksi antara medan utama dan
medan jangkar ini disebut reaksi jangkar. Reaksi jangkar ini mengakibatkan medan utama tidak
tegak lurus pada garis netral n, tetapi bergeser sebesar sudut α. Dengan kata lain, garis netral
akan bergeser. Pergeseran garis netral akan melemahkan tegangan nominal generator.
Untuk mengembalikan garis netral ke posisi awal, dipasangkan medan magnet bantu (interpole
atau kutub bantu).
Figure 6. Reaksi Jangkar

Figure 7. Generator dengan Kutub Bantu (a) dan Generator Kutub Utama, Kutub Bantu, Belitan Kompensasi (b)

Lilitan magnet bantu berupa kutub magnet yang ukuran fisiknya lebih kecil dari kutub
utama. Dengan bergesernya garis netral, maka sikat yang diletakkan pada permukaan komutator
dan tepat terletak pada garis netral n juga akan bergeser. Jika sikat dipertahankan pada  posisi
semula (garis netral), maka akan timbul percikan bunga api, dan ini sangat berpotensi
menimbulkan kebakaran. Oleh karena itu, sikat juga harus digeser sesuai dengan pergeseran
garis netral. Bila sikat tidak digeser maka komutasi akan jelek, sebab sikat terhubung dengan
penghantar yang mengandung tegangan. Reaksi jangkar ini dapat juga diatasi dengan
kompensasi yang dipasangkan pada kaki kutub utama baik pada lilitan kutub utara maupun
selatan, seperti ditunjukkan pada gambar 9 (a) dan (b), generator dengan komutator dan lilitan
kompensasinya. 

B. Generator AC

Generator arus bolak-balik berfungsi mengubah


tenaga mekanis menjadi tenaga listrik arus bolak-
balik.  Generator ini sering disebut juga seabagai
alternator, generator AC (alternating current), atau
generator sinkron. Dikatakan generator sinkron
karena jumlah putaran rotornya sama dengan jumlah
putaran medan magnet pada stator. Kecepatan

6
sinkron ini dihasilkan dari kecepatan putar rotor dengan kutub - kutub magnet yang berputar
dengan kecepatan yang sama dengan medan putar pada stator. Mesin ini tidak dapat dijalankan
sendiri karena kutub - kutub rotor tidak dapat tiba - tiba mengikuti kecepatan medan putar pada
waktu sakelar terhubung dengan jala - jala.

Figure 8. Rangkaian Equivalent Generator AC

Berdasarkan sistem pembangkitannya generator AC


dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

1) Generator 1 fasa

Generator yang dimana dalam sistem melilitnya hanya terdiri dari satu kumpulan kumparan
yang dilukiskan dengan satu garis dan tidak diperhatikan banyaknya lilitan. Ujung kumparan
atau fasa yang satu dijelaskan dengan huruf besar X dan ujung yang satu lagi dengan huruf U.

2) Generator 3 fasa

Generator yang dimana dalam sistem melilitnya terdiri dari tiga kumpulan kumparan yang mana
masing-masing kumparan dinamakan lilitan fasa. Jadi pada statornya ada lilitan fasa yang ke
satu ujungnya diberi tanda U – X, lilitan fasa yang ke dua ujungnya diberi tanda dengan huruf V
– Y dan akhirnya ujung lilitan fasa yang ke tiga diberi tanda dengan huruf W – Z.

Konstruksi Generator AC

Konstruksi generator arus bolak-balik ini terdiri dari dua bagian utama yaitu stator,


bagian diam yang mengeluarkan tegangan bolak - balik dan rotor, bagian bergerak yang
menghasilkan medan magnet yang menginduksikan ke stator. Stator terdiri dari badan generator
yang terbuat dari baja yang berfungsi melindungi bagian dalam generator, kotak terminal, dan
name plate pada generator. Inti Stator yang terbuat dari bahan ferromagnetik yang berlapis -
lapis dan terdapat alur - alur tempat meletakkan lilitan stator. Lilitan stator merupakan tempat
untuk menghasilkan tegangan. Sedangkan, rotor berbentuk kutub sepatu (salient) atau kutub
dengan celah udara sama rata (rotor silinder).

Prinsip Kerja Generator AC

Prinsip dasar generator AC menggunakan hukum Faraday yang menyatakan, “Jika sebatang
penghantar berada pada medan magnet yang berubah - ubah, maka pada penghantar tersebut
akan terbentuk gaya gerak listrik”. Prinsip generator ini secara sederhana dapat dijelaskan
bahwa tegangan akan diinduksikan pada konduktor apabila konduktor tersebut bergerak pada
medan magnet sehingga memotong garis - garis gaya magnet. Hukum tangan kanan berlaku
pada generator yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara penghantar bergerak, arah
medan magnet, dan arah resultan dari aliran arus yang terinduksi. Apabila ibu jari menunjukkan
arah gerakan penghantar, telunjuk menunjukkan arah fluks, jari tengah menunjukkan arah aliran
elektron yang terinduksi. Hukum ini juga berlaku apabila magnet sebagai pengganti penghantar
yang digerakkan.

7
Besar tegangan generator bergantung pada :
o Kecepatan putaran (N)
o Jumlah kawat pada kumparan yang memotong fluk (Z)
o Banyaknya fluk magnet yang dibangkitkan oleh medan magnet (f)
o Konstruksi Generator
Jumlah kutub generator arus bolak - balik tergantung dari kecepatan rotor dan frekuensi dari ggl
yang dibangkitkan.

Listrik adalah sumber energi yang disalurkan melalui kabel atau pengantar lainnya. Di
dalam kabel akan timbul arus listrik yaitu muatan aliran electron yang mengalir tiap satuan
waktu. Listrik merupakan pembantu bahkan serbagai penopang utama aktivitas manusia
modern.

Listrik Single Phase


Listrik 1
Phase adala
h jaringan
listrik yang hanya

Figure 9.Listrik Single Phase

menggunakan 2 kawat penghantar yang kesatu sebagai kawat phase (L) dan yang kedua sebagai
kawat neutral (N).  Umumnya listrik 1 phase bertegangan 220-240 Volt yang digunakan banyak
orang. Biasanya listrik 1 phase digunakan untuk listrik perumahan, namun listrik PLN di
jalanan itu memiliki 3 phase, tetapi yang masuk ke rumah hanya 1 phase karena tidak
memerlukan daya besar dan untuk peralatan dirumah hanya menggunakan listik 1 phase dengan
220-240 Volt. Jaringan 1 phase atau di sebut juga JTR (Jaringan Tegangan Rendah) jaringan ini
hanya melayani rumah rumah saja dan tegangan yang melalu ini hanya 220 Volt tegangan ini
untuk tegangan rumah rumah saja.
Kekurangan sistem 1 phase:
- Hanya terdiri dari 2 penghanatar saja yaitu Phase R dan Netral

- Beban yang besar di tampung oleh 1 penghantar saja

- Pada generator 1 phase, generator menjadi lebih besar.

Kelebihan sistem 1 phase:


 Lebih simpel karena terdiri hanya 2 penghantar saja dalam jaringan

8
 Ekonomis

Sistem listrik yang mengalir kerumah tinggal biasanya menggunakan sistem listrik 1 fase,
yang terdiri dari 2 buah kabel sebagai berikut:

Kabel Fasa (Stroom), merupakan kabel yang menjadi sumber listrik bolak-balik. Kabel inilah
yang membawa tegangan dari pembangkit tenaga listrik. Kabel Netral (0), disebut juga kabel
acuan tegangan nol yang biasanya di sambungkan ke tanah di lokasi pembangkit. Kabel Tanah
atau Arde, Ground (G), merupakan kabel yang berfungsi sebagai acuan nol di lokasi pemakai
yang biasanya disambungkan ke tanah dirumah pemakai.

Saat memasang instalasi listrik di rumah, perlukan diperhatikan pemasangan kabel tanah karena
apabila lalai terhadap pemasangan kabel tanah dapat mengakibatkan terjadi bahaya kejut listrik
yang dapat mengakibatkan kejadian fatal pada penghuninya, mengakibatkan rusaknya beberapa
peralatan elektronika yang sensitive karena terjadi induksi listrik yang muncul pada chasis-nya.

Masuknya Listrik ke Dalam Rumah Tinggal


Perjalanan listrik ke rumah tinggal dilalui oleh beberapa tahapan. Adanya tahapan ini
berfungsi untuk mereduksi tegangan sehingga tegangan yang diterima instalasi listrik rumah
tinggal tidak terlalu besar. Beberapa tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

 Listrik dibangkitkan melalui PLTA/PLTU sebagai sumber energi.


 Dari pembangkit listrik kemudian disalurkan menuju GITET (Gardu Induk Tegangan
Ekstra Tinggi)
 Dari GITET, listrik disalurkan melalui SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi)
menuju GITET berikutnya.
 Dari GITET, listrik disalurkan melalui SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi) menuju
gardu induk atau bisa langsung menuju ke konsumen industri besar.
 Dari gardu induk, listrik kemudian disalukan melalui JTM (jaringan tegangan menengah)
menuju gardu distribusi atau bisa juga langsung menuju konsumen industri.
 Dari gardu distribusi inilah listrik masuk ke konsumen rumah tangga, melalui JTR
(jaringan tegangan rendah).
 Dari JTR, listrik masuk kerumah tinggal melalui bargainser (kWh meter) yang juga
dipasang meter listrik untuk mengukur pemakain konsumen.

9
 Setelsh melalui bargainser, barulah listri menuju ketitik energi berupa fiting lampu atau
titik daya untuk pembangkit daya alat-alat listrik yang digunakan di rumah.
Selain menggunakan PLN, listrik juga bisa dibangkitkan sendiri dengan
menggunakan genset. Cara kerjanya sangat sederhana. Listrik yang dibangkitkan oleh
genset dialirkan langsung ke panel listrik dan kemudian disalurkan lagi ke setiap titik energi
di dalam rumah yang berupa fiting lampu dan stop kontak.

Beban Listrik
Beban Listrik adalah segala sesuatu yang membutuhkan daya listrik. Dalam kehidupan
Figure 10. Tahapan Aliran Listrik ke dalam Rumah Tinggal sehari
- hari
contoh beban listrik adalah setrika listrik, lampu listrik, televisi, kompor listrik, dan lainnya.
Beban listrik dikatakan juga sebagai hambatan / resistance yang dalam ilmu listrik dapat
dirumuskan dengan hukum Ohm : V = I . R
Hukum Ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang mengalir melalui sebuah
penghantar selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan kepadanya. Sebuah
benda penghantar dikatakan mematuhi hukum Ohm apabila nilai resistansinya tidak bergantung
terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan kepadanya.
Ada 2 jenis beban listrik berdasarkan sumbernya yaitu:
1. Beban Listrik Tegangan Searah (DC), semua beban adalah resistif (tidak ada pergeseran
phase atau sudut) maka rumus yang digunakan hukum Ohm.
2. Beban Listrik Tegangan bolak-balik.
Karakteristik Beban pada Listrik AC
Dalam sistem listrik arus AC, jenis beban dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu :
(1) Beban Resistif (R)
Beban resistif (R) yaitu beban yang terdiri dari
komponen resistance saja, seperti elemen pemanas
(he
ati
ng

10
element) dan lampu pijar. Beban ini hanya mengkonsumsi beban aktif saja dan mempunyai
faktor daya = satu. Tegangan dan arus sefasa. Persamaan daya sebagai berikut :
P = VI
NB: P = daya aktif yang diserap beban (Watt)
V = tegangan yang mencatu beban (Volt)
I = arus yang mengalir pada beban (A)
(2) Beban Induktif (L)
Beban induktif (L) yaitu beban yang terdiri dari
kumparat kawat yang dililitkan pada suatu inti, seperti coil,
transformator, dan solenoide. Beban ini dapat mengakibatkan
phase shift pada arus sehingga bersifat lagging. Hal ini
disebabkan oleh energi yang tersimpan berupa medan
magnetik akan mengakibatkan phase arus bergeser menjadi
tertinggal terhadap tegangan. Beban ini menyerap daya aktif
dan daya reaktif. Persamaan daya aktif untuk beban induktif
adalah sebagai berikut :
P = VI cos φ
Dengan :
P = daya aktif yang diserap beban (Watt)
V = tegangan yang mencatu beban (Volt)
I = arus yang mengalir pada beban (A)
φ = sudut antara arus dan tegangan
Untuk menghitung besarnya rektansi induktif (XL), dapat digunakan rumus :
XL = 2 π f L
Dengan :
XL = reaktansi induktif
F   = frekuensi (Hertz)
L   = induktansi (Henry)
(3) Beban Kapasitif (C)
Beban kapasitif (C) yaitu beban yang memiliki kemampuan untuk menyimpan energi
yang berasal dari pengisian elektrik (electrical discharge) pada suatu sirkuit. Komponen ini
dapat menyebabkan arus leading terhadap tegangan. Beban ini menyerap daya aktif dan
mengeluarkan daya reaktif. Persamaan daya aktif untuk
beban induktif adalah sebagai berikut :
P = VI cos φ
Dengan :
P = daya aktif yang diserap beban (Watt)

11
V= tegangan yang mencatu beban (Volt)
I  = arus yang mengalir pada beban (A)
φ = sudut antara arus dan tegangan
Untuk menghitung besarnya rektansi kapasitif (XC), dapat digunakan rumus seperti berikut:
1
XC =
2 πfC
Dengan :
XC = reaktansi kapasitif
f = frekuensi (Hertz)
C = kapasitansi (Farad)

12