Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

ETIKA AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR


“Di susun Sebagai Tugas Mata Kuliah Etika Dakwah”
Dosen : Chotib Amrullah, drs., M.Ag

Di susun Oleh :

Dea Halimatu Syadiah Z 2103 0801 17 1017

Robiatul Adawiyah

PRODI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas Ridho-Nya
makalah ini dapat selesai tepat waktu. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah
satu tugas mata kuliah “ETIKA DAKWAH”.
Kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri kami merupakan hambatan
yang serius dalam penyusunan makalah ini. Namun berkat bantuan, dorongan dan
bimbingan dari semua pihak, dan akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.
Selanjutnya dengan segala keterbatasan, kam menyadari bahwa dalam
penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, penulis mengharapkam berbagai saran, masukan dan kritikan
yang bersifat membangun dari semua pihak demi perbaikan dan penyempurnaan
makalah ini.
Besar harapan agar tulisan ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami dan
umumnya bagi rekan-rekan semua. Semoga Allah SWT membalas semua amal
baik dan melimpahkan hidayah-Nya pada kita. Aamiin

Penyusun

i
Daftar Isi

Kata pengantar .............................................................................i


Daftar isi.........................................................................................ii
BAB I Pendahuluan .....................................................................1
a. Latar belakang.....................................................................1
b. Rumusan masalah ..............................................................1
c. Tujuan penulisan ................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
a. Pengertian Etika..................................................................2
b. Pengertian Amar ma’ruf nahi Mungkar .............................2
c. Etika amar ma’ruf nahi mungkar .......................................3
BAB III PENUTUP
a. Kesimpulan......................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Amar makruf nahi munkar merupakan salah satu pilar ajaran islam yang
sangat fundamental. Amar makruf nahi munkar ibarat dua sisi dari satu keping
mata uang yang sama. Amar makruf nahi munkar mengandung anasir nahi
munkar dan nahi munkar mengandung anasir amar makruf. Satu sama lain saling
mengisi, melengkapi, mengukuhkan dan menyempurnakan eksistensinya.
Aktifitas amar makruf niscaya diikuti dengan nahi munkar, sedangkan aktifitas
nahi munkar niscaya di tindak lanjuti dengan amar makruf.
Secara umum, etika dalam dakwah melakukan amar makruf nahi munkar
adalah mengikuti etika yag telah digariskan oleh Al-Qur’an dan hadis, yaitu
melakukan tindakan-tindakan terpuji dan menjauhkan diri dari perilaku-perilaku
yang tercela. Namun secara khusus terdapat beberapa etika yang merupakan
rambu-rambu etis juru dakwah, agar dapat menghasilkan dakwah yang bersifat
responsif.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian etika?
2. Bagaimana penegertian Amar Ma’ruf nahi mungkar?
3. Bagaimana beretika amar ma’ruf nahi mungkar?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian etika.
2. Untuk mengetahui pengertian amar ma’ruf nahi mungkar.
3. Untuk mengetahui beretika amar ma’ruf nahi mungkar.

1
BAB II
Pembahasan

A. Pengertian Etika
Secara bahasa, kata etika asalnya adalah dari bahasa Yunani
Kuno, Ethikos. Arti dari kata ini adalah sesuatu yang timbul dari adanya
kebiasaan. Sehingga, etika memiliki sudut pandang yang normatif dengan objek
berupa manusia serta perbuatan manusia itu sendiri.
Secara umum, etika adalah suatu aturan atau norma yang digunakan
sebagai pedoman seseorang dalam bertingkah laku. Penggunaan norma ini sangat
berkaitan dengan sifat baik dan sifat buruk yang terdapat di masyarakat.
Ada juga yang mengartikan etika sebagai sebuah ilmu mengenai
kesusilaan dan juga perilaku manusia. Ini sangat berhubungan
dengan pergaulan manusia sehari-hari dengan sesamanya. Selain itu, juga
berhubungan dengan aturan serta prinsip mengenai perbuatan yang benar.
Akhirnya, etika bisa dimaknai sebagai suatu tanggung jawab dan
kewajiban moral seseorang dalam berbuat sesuatu.
Etika dicirikan dengan beberapa hal. Misalnya etika akan senantiasa
berlaku sekalipun tidak ada orang yang melihat. Etika juga memiliki sifat yang
sangat mutlak dan memiliki cara pandang dari segi batiniah manusia itu sendiri.
Selain itu, etika juga sangat berhubungan dengan perilaku kehidupan keseharian
manusia.
B. Pengertian Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Amar ma’rūf artinya menyuruh atau memerintahkan kepada yang ma’rūf
(kebaikan atau kebajikan). Sedangkan nahi munkar artinya mencegah atau
melarang dari yang munkar. Secara bahasa (etimologi), ma’rūf artinya kebajikan
atau sesuatu yang sudah dikenal orang banyak dan tidak diingkari. Ia adalah lawan
kata dari munkar. Dan secara istilah (terminologi), ma’rūf adalah apa saja yang
dikenal dan diperintahkan oleh syariat, serta orang yang melakukannya akan
terpuji.  Sedangkan munkar, secara etimologi artinya perkara-perkara yang tidak
dikenal orang serta diingkari oleh mereka. Dan secara terminologi, munkar adalah
perkara-perkara yang diingkari dan dilarang oleh syariat, serta dicela orang yang

2
melakukannya.  Amar ma’rūf dan nahi munkar adalah salah satu pilar agama
Islam yang sangat penting. Tegaknya amar ma’rūf nahi dan munkar akan
menjamin tegaknya Islam dan baiknya masyarakat. Sebaliknya, diabaikannya
amar ma’rūf dan nahi munkar akan menyebabkan maraknya kemunkaran.
Di antaranya Alloh   berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kalian
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’rūf
dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS.
Ali ‘Imran [3]: 104) “Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil lewat  lisan
Nabi Dawud dan Isa putera Maryam. Hal itu, disebabkan mereka durhaka dan
melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak saling melarang tindakan munkar
yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka perbuat itu.”
(QS. al-Ma’idah [5]: 78-79) Ayat di atas menjelaskan bahwa penyebab
dilaknatnya Bani Israil adalah karena mereka tidak saling mencegah kemunkaran
yang terjadi di tengah-tengah mereka. Kita kaum Muslimin wajib mengambil
i’tibār (pelajaran) bahwa apa yang menimpa Bani Israil tersebut juga akan
menimpa kita apabila kita melakukan seperti yang mereka lakukan, yaitu
meninggalkan amar ma’rūf dan nahi munkar.

C. Etika Amar Ma’ruf Nahi Munkar


Etika ini merupakan salah satu kewajiban seluruh kaum muslimin, ciri
khas mereka, dan sarana untuk mencapai kebaikan mereka. Allah swt, berfirman,
Kamu adalah umat yang terbaik yang di lahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
allah.
(Ali ‘Imran [3]: 110)
Perintah ini adalah merupakan kewajiban setiap muslim sebatas
kemampuan mereka, dan dia memiliki beberapa etika yang berkaitan dengan di
antaranya :

1. Niat Yang Baik


Hendaklah orang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari
kemungkaran berniat bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk allah saja,

3
tujuannya adalah keridhaan-nya, yang di dasari oleh keinginan untuk memberi
petunjuk pada masyarakat.
Dengan niat yang ikhlas itu, dia akan mendapatkan pahala yang sempurna dan
Allah akan terus mengalir pahala untuknya, karena telah kita memahami bahwa
semua amal perbuatan tergantung pada niatnya.
Diantara bagian dari niat yang suci ialah selalu mengingat niat dalam semua
perbuatan, walaupun seseorang itu beramar ma’ruf nahi mungkar atas perintah
atasan atau perintahnya serta dia mendapatkan upah atau gaji atas apa yang dia
perbuat. Hendaknya dia selalu mensucikan niatnya dari nistanya gemerlap dunia,
sebelum melangkah untuk melaksanakan tugasnya, dengan begitu dia tidak akan
berniat hanya untuk mendapatkan gaji atas pekerjaannya, tetapi dia selalu ingin
mendapatkan ridha Allah. Adapun gaji yang dia ambil setelah itu adalah
kemurahan Allah SWT kepadanya.

2. Memahami apa yang akan dilakukan


Sebagian ulama salaf berkata,”hendaklah tidak menyeru kepada kebaikan
kecuali orang yang tahu, kenal, dan paham atas apa yang dia serukan. Begitu pula
hendaknya tidak melarang dari satu kemungkaran kecuali orang yang tahu, kenal
dan paham atas apa yang dia larang”.
Dengan begitu, hendaklah seseorang yang akan memerintahkan suatu
perbuatan dia memahami hal itu dengan baik. Begitu pula sebaliknya, orang yang
hendak melarang suatu perbuatan hendaknya dia sangat memahami apa yang akan
dia larang. Dia pun tidak boleh melakukan keduanya hal itu berdasarkan sesuatu
yang dia belum pahami, karena bisa jadi dia akan memerintahkan sesuatuyang
tidak diperintahkan oleh agama, atau melarang sesuatu yang tidak pernah dilarang
oleh agama. Dikhawatirkan, dia pun akhirnya akan menghalalkan apa yang
diharamkan oleh agama, atau sebaliknya mengharamkan sesuatu yang tidak
pernah diharamkan oleh agama. Itulah orang yang mendapat gelar sebagai
penyeru kepada kesesatan.
Orang tersebut juga harus memahami kondisi yang di hadapinya; kapan dia
menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dan kapan dia harus
menunda niatnya. Terkadang, seseorang melihat bahwa posisinya tidak berbahaya

4
dan apabila mencoba untuk memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari
kemungkaran, dia akan berhasil. Mungkin saja dia tidak yakin kemungkaran
tersebut akan hilang, tetapi dia yakin bahwa perbuatannya itu tidak
membahayakan dirinya, maka dia pun segera melaksanakan niatnya terkadang
pula dia harus mengurungkan niat nya saat melihat bahwa kemungkaran mungkin
akan hilang, tetapi dia akan menghadapi bahaya yang lebih besar. Selain itu,
kemungkaran itu tidak berkurang bahkan mungkin akan bertambah.
Kami tidak bermaksud bahwa seseorang yang hendak melangkah dalam
medan ini haruslah yang mengatahui segala hal mengenai agama, atau dia harus
seorang mujtahid (orang yang berhak untuk mencari hukum suatu masalah
agama) dalam segala bidang agama. Maksud kami adalah agar orang tersebut
memahami, paling tidak, perkara yang akan di sampaikan sehingga dia tidak
terjerumus untuk memerintahkan kepada sesuatu yang tidak baik atau melarang
perbuatan yang tidak termasuk dalam kemungkaran.

3. Lemah Lembut Dalam Menyeru atau Melarang


Hendaklah orang yang menyeru kepada kebaikan atau mencegah dari
kemungkaran menggunakan cara-cara yang lemah lembut sebisa mungkin. Karena
sifat ini, selain disukai Allah, disukai pula oleh seluruh manusia, bahkan kadang
ia bisa menjadi kunci sukses dalam berdakwah. Rasulullah saw bersabda ,
“sesungguhnya allah itu mahalembut; Dia suka akan kelembutan dalam segala
hal. Allah akan memberikan balasan akan kelembutan, apa yang tidak diberikan
atas sikap keras dan kasar, dan tidak pula atas sikap-sikap yang lainnya”.
Dia pun bersabda, “Barang siapa yang tidak mendapatkan sifat lemah lembut
maka dia tidak akan mendapatkan kebaikan”. Dalam sabda yang lainnya,
“Tidaklah sifat lemah lembut berada pada sesuatu kecuali ia akan
menghiasinya”. Hiasan amar ma’ruf nahi munkar ialah sifat lemah lembut.
Betapa seringnya kita mendengar orang yang menolak ajakan menuju
kebaikan hanya karena dia tidak suka dengan cara orang yang mengajaknya, yakni
dengan kekerasan atau cara kasar. Bahkan, hal itu bisa menyebabkan penolakan
yang lebih parah dan menuju kemaksiatan yang lebih besar lagi.

5
Dalam hal ini Allah swt, telah berfirman kepada Nabi Musa as dan Nabi
Harun as,
“berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut
mudah-mudahan dia ingat atau takut”
Dalam suatu riwayat di sebutkan bahwa ada seorang pemuda yang
memanjangkan kainnya di hadapan shilah bin usyaim, maka sahabat-sahabatnya
hendak menegurnya dengan keras, tetapi shilah berkata kepada mereka, “biarkan
aku yang menyelesaikan urusan kalian”. Dia pun berkata kepada pemuda tersebut,
“wahai anak muda, aku mempunyai keperluan denganmu”. Pemuda itu pun
menjawab, “Apa keperluan itu?” shilah berkata, “aku ingin engkau mengangkat
(meninggalkan) kainmu”. Pemuda itu berkata, “tentu dengan segala hormat”.
Shilah lalu berkata kepada sahabat-sahabatnya, “inilah yang kalian inginkan,
seandainya kalian menghardiknya, atau kalian menyakitiny, tentu dia akan
mencaci kalian.

4. Bijaksana
Seseorang yang turut andil dalam amal shalih ini hendaknya bersifat
bijaksana dan tidak pemarah. Jika tidak bijaksana, dia tidak akan bisa bersabar
mendengar argumentasi dan bantahnya orang-orang yang di hadapinya, bahkan
sebenarnya dia tidak sabar sama sekali menghadapi kemaksiatan mereka dengan
begitu, dia telah terjerumus dalam kemungkaran yang lain dan kadang
kemarahannya tersebut mengeluarkannya dari kebenara. Kemarahan akan
membuat orang-orang menjauh darinya dan menolak ajarannya.
Dalam menjalani dakwahnya, seseorang akan menemui banyak rintangan
serta bantahan yang menyakitkan. Jika tidak sabra, maka dia akan marah membela
dirinya, bukan justru karena menegakkan agama Allah. Dengan begitu, apa yang
telah dia lakukan dengan susah payah tidak akan menghasilkan pahala yang di
harapkan. Ibnu al-jauzi telah mengisyaratkan hal tersebut dalam etika ke-2.

5. Melaksanakan Apa yang Dikatakan


Hendaklah orang yang memerintahkan pada kebaikan dan mencegah pada
kemungkaran adalah orang bertaqwa kepada allah, menepati dan melaksanakan

6
perintah-Nya, apalagi jika perintah atau larangan tersebut adalah yang dia
sebarkan kepada orang banyak. Allah mencela orang-orang yang meninggalkan
apa yang Dia perintahkan atau melakukan apa yang Dia larang.
“ mengapa kamu manyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan,
sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca
al-qitab (taurat) ? tidakah kamu berfikir. “ (q.s albaqarah : 44)
Bisa di simpulkan bahwa seseorang yang mencegah kemungkaran
sedangkan dia belum bisa melakukannya atau dia menyeru kepada kebaikan
sedangkan dia belum bisa melakukannya, maka dia melakukan satu kesalahan
saja, yaitu meninggalkan kebaikan atau melakukan kemungkaran dan hendaklah
di khawatir akan akibatnya. Sebaliknya, apabila dia tidak melakukan suatu
kebaikan dan tidak menyeru orang lain untuk melakukannya atau dia melakukan
kemungkaran dan tidak mencegah orang lain dari kemungkaran tersebut, maka dia
melakukannya dua kesalahan.
6. Berakhlak Mulia
Diantaranya ialah lemah lembut, bijaksana telah kami bahas dahulu, pemaaf,
pemanis muka, dermawan, berani, berbakti jujur, amanah (bisa di percaya), dan
lain sebagainya. Semua itu akan sangat membantu seseorang dalam menyeru
kepada kebaikan atau mencegah kemungkaran, sebagai sarana mendapatkan
bimbingan dari Allah dan ucapannya di terima orang-orang yang mendengarnya.
Adapun akhlak yang buruk akan membuat orang-orang menjauhinya, tidak
mau mendengarkan perkataannya, dan kedua hal ini telah banyak kita lihat dalam
masyarakat kita

7. Tidak Mengharapkan Imbalan dari Manusia


Jika seseorang yang bekerja dengan menyeru kebaikan dan mencegah
kemungkaran berharap mendapat imbalan dari manusia, maka dia akan menjadi
penjilat dalam agama Allah dan akan membiarkan kemungkaran-kemungkaran
yang dia lihat di dalam suatu kelompok masyarakat. Dalam kitab mukhtashar
minhaju al-Qasidin di dalam bab etika orang yang mengharapkan pahala di
katakana, “ di antara etikanya ialah mengurangi ketergantungan dan
mengihilangkan ketamakan terhadap (imbalan) manusia agar hilang sifat penjilat

7
darinya, … jika dia tidak bisa menghilangkan ketamakan tersebut, maka dia tidak
akan bisa mencegah kemungkaran mereka, di karenakan dua hal, yaitu, pertama
karena kelemah lembutan yang di terima dari masyarakat dan yang ke dua karena
mereka akan senang dengan sikapnya dan akan memujinya”.

8. Tidak mengharamkan suatu perkara yang di perselisihkan para ulama


Apalagi bila perbedaan atau perselisihan tersebut hanya berbentuk keaneka
ragaman (tidak saling menjatuhkan) dan masing-masing memiliki dalil dan
argument yang jelas, maka tidak boleh seseorang mengharamkannya atau
mengharamkannya. Larangan atau pengharaman berlaku pada masalah-masalah
yang di sepakati oleh para ulama akan keharamannya, atau masalah yang terdapat
dua pendapat di dalam nya tetapi pendapat yang ke-dua berasal dari orang yang
tidak berilmu atau dalil yang mengharamkannya sangat jelas, dan lain sebagainya.

9. Memilih saat yang tepat


Hendaklah orang yang mengingatkan orang lain memilih saat yang tepat untuk
berbicara. Kesalahan dalam memilih waktu kadang akan lebih memperparah
keadaan dan tidak malah memperbaikinya. Contohnya, seseorang yang
memperingatkan orang yang mempunyai kedudukan atau jabatan mengenai
masalah yang sepele di hadapan orang banyak atau dengan cara yang menyakitkan
hati, maka orang yang berkedudukan tersebut akan membencinya atau bahkan
menghukumnya. Contoh lainnya, seseorang yang ingin memperingatkan orang lain
yang sedang marah besar, apabila dia langsung di peringatkan saat itu, maka bisa
jadi kemarahannya malah akan membesar atau kadang sampai mencaci Allah yang
akan menjerumuskannya ke dalam jurang ke kafiran.
Seseorang seharusnya memilih saat yang tepat untuk berbicara. Tetapi, hal ini
jangan sampai alasan untuk membiarkan kemungkaran merajalela karena
menganggap saatnya belum tetap,

10. Bertahap
Jika seseorang bisa mencegah kemungkaran dengan tangannya tanpa
menimbulkan kerusakan, maka hendaklah dia mencegahnya. Jika dia khawatir

8
akan menimbulkan kerusakan atau bahaya maka hendaklah dia memberi nasihat
secara lisan kepada orang lain. Tetapi, jika dia tidak mampu mencegahnya dan
khawatir terhadap kerusakan atau bahaya yang ditimbulkan, maka hendaklah dia
mengingkarinya.

11. Sesuai dengan prioritas


Jika seseorang melihat orang lain memukul orang yang lemah dan perokok
maka dia mencegah agar tidak memukul orang lemah terlebih dahulu sebelum
mencegahnya agar tidak merokok. Begitu pula jika dia melihat seseorang mencaci
bapaknya yang mencukur jenggot, maka dia mencegahnya agar tidak mencaci
bapaknya terlebih dahulu sebelum mencegahnya agar tidak mencukur janggut,
maka dia memperingatkannnya agar tidak mengakhirkan shalatnya sebelum
memperingatkan agar tidak mencukur jenggot. Demikian selanjutnya, karena ada
beberapa orang yang lebih memperhatikan perkara-perkara yang kecil sebelum dia
memperhatikan perkara-perkara yang besar. Ini merupakan bentuk kekeliruan yang
lain.

12. Memperingatkan secara sembunyi-sembunyi


Menasihati dan mencegah kemungkaran dengan sembunyi-sembunyi sebisa
mungkin dilakukan, selama hal itu lebih baik daripada mencegahnya dengan cara
terang-terangan. Imam Syafi’I berkata, “barang siapa yang mengingatkan
saudaranya dengan sembunyi-sembunyi, maka dia telah menasihatinya dan
memperbaikinya, dan barang siapa yang mengingatkan saudaranya dihadapan
orang banyak, maka dia telah membuka aibnya dan menghancurkannya.” Hal ini
berlaku selama cara sembunyi-sembunyi lebih baik dari pada terang-terangan.
Tetapi, jika keadaaan mengharuskan untuk terang-terangan, sebagai misal apabila
dia ingin menyebarkan sunnah atau memberantas bid’ah, maka dia memerlukan
peringatan yang jelas dan diketahui orang banyak.

13. Tidak mencari-cari kesalahan

9
Hendaknya seseorang tidak mencegah atau memperingatkan kecuali perkara
kemungkaran yang telah dilakukan. Tidak perlu memata - matai untuk mencari
kesalahan yang lain karena perbuatan ini tidak dibenarkan dan tidak diperlakukan.
Hendaklah setiap orang yang bekerja di jalan amar ma’ruf nahi mungkar
memperhatikan dan mengindahkan etika-etika diatas.

14. Berhati-hati terhadap rasa tinggi hati


Hendaknya orang yang berjuang di medan ini berhati-hati terhadap sikap
bangga dengan diri sendiri atau merasa mempunyai kelebihan dibandingkan orang-
orang yang melakukan kemaksiatan atau kemungkaran. Apalagi jika dia
melakukan satu kesalahan dan mereka mengetahuinya, karena orang yang
tahu(hukum) tidak sama dengan orang yang tidak tahu.
Sifat bangga diri kadang membuat seseorang terlalu berani dan lancing untuk
memperingatkan seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi, yang pada
akhirnya perbuatan ini akan menghancurkan segala upaya yang telah dia usahakan
dengan susah payah.

10
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut:
Memerintahkan suatu kebajikan dan melarang suatu kemungkaran (Amar Ma’ruf
Nahi Mugkar) adalah perintah agama, karena itu ia wajib dilaksanakan oleh setiap umat
manusia sesuai dengan kemampuan dan kekuatannya.
Islam adalah agama yang berdimensi individual dan sosial, maka sebelum
memperbaiki orang lain seorang Muslim dituntut berintrospeksi dan berbenah diri, sebab
cara Amar Ma’ruf yang baik adalah yang diiringi dengan keteladanan.
Menyampaikan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar disandarkan kepada keihklasan
karena mengharap ridho Allah semata.

11
DAFTAR PUSTAKA

Salman al-Audah/Amar Ma’ruf nahi Mungkar/ Semarang/ ANEKA Ilmu

https://jagad.id/definisi-etika/

https://makalahnih.blogspot.com/2017/04/pengertian-amar-maruf.html

http://megasholihah33.blogspot.com/2015/07/amar-makruf-dan-nahi-munkar.html

12