Anda di halaman 1dari 21

PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN REGIONAL ANESTESI TERHADAP KEJADIAN


HIPOTERMI PADA PASIEN PASCA OPERASI DI RUANG
PEMULIHAN KAMAR OPERASI RUMAH SAKIT “JIH”
YOGYAKARTA

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana


Keperawatan pada Program Studi Keperawatan Program Sarjana Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Guna Bangsa Yogyakarta

Disusun oleh :
MARFUAH
19110015

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN GUNA BANGSA
YOGYAKARTA
2020
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

1 Latar belakang

Seiring perkembangan zaman pasien yang mendapat tindakan

operasi bedah semakin meningkat. Pembedahan merupakan semua

tindakan pengobatan yang menggunakan cara infasif dengan membuka atau

menampilkan sebagian tubuh yang akan ditangani (Sjamsu Hidajat & Win De

Jong, 2005 dalam Praditha, 2016).

World Health Organization (WHO) menunjukan bahwa selama lebih dari

satu abad perawatan bedah telah menjadi komponen penting dari perawatan

kesehatan di seluruh dunia. Diperkirakan setiap tahun ada 230 juta tindakan

bedah dilakukan di seluruh dunia (Hasri, 2012 dalam Kusumayanti dkk,

2013). Data Tabulasi Nasional Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Tahun 2009, menjabarkan bahwa tindakan bedah menempati urutan ke 11

dari 50 pola penyakit di Indonesia dengan presentase 12,8 %. Pasien yang

sudah dilakukan tindakan pembedahan kemudian dirawat di ruang

pemulihan sampai kondisi baik dan di lakukan transport pasien kembali ke

ruang rawat inap.

Nyeri pasca bedah merupakan satu dari masalah dan keluhan pasien

tersering di rumah sakit. Anestesi adalah hilangnya seluruh modalitas dari

sensasi yang meliputi sensasi sakit/nyeri, rabaan, suhu, posisi selama

pra anestesi, intra anestesi dan pasca anestesi. Secara umum fungsi

anestesi adalah menghilangkan rasa nyeri, menidurkan, relaksasi otot dan

stabilitas otonom (Puruhito, 2007; Wim dan Sjamsuhidajat, 2005;


Pramono, 2015; Mangku, 2009; Soenarjo, 2010).

Jenis anestesi digolongkan menjadi anestesi umum, anestesi lokal

dan anestesi regional. Anestesi umum adalah membuat sebuah keadaan

tidak sadar yang terkontrol selama keadaan di mana pasien tidak

merasakan apapun dan digambarkan sebagai terbius. Anestesi lokal

merupakan hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan

(sebagian kecil daerah tubuh) sedangkan Anestesi regional spinal

adalah hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh

blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan

dengannya (Zunilda, 2007).

Salah satu komplikasi yang muncul setelah tindakan anestesi adalah

hipotermi (Setiyanti, 2016). Setiap obat anestesi, baik opioid maupun obat

sedasi, menyebabkan vasodilatasi dan menurunkan kontrol otonom

termoregulasi, hal ini memfasilitasi terjadinya hipotermia (Mathews, 2002

dalam Pamuji, 2008). Hipotermia adalah keadaan suhu inti tubuh

dibawah 36ºC (normotermi: 36,6º C-37,5ºC) (Guyton & Hall, 2008).

Tamsuri (2007) menambahkan Hipotermi dapat diartikan suhu tubuh kurang

dari 360C. Setiap pasien yang menjalani operasi berada dalam risiko

mengalami kejadian hipotermi (Setiyanti, 2016). Menurut Fauzi Akbar

(2014) kejadian hipotermi 33-65% dari keseluruhan post operasi dengan

anastesi umum dan 33-56,7% dari keseluruhan post operasi dengan

anastesi spinal di RSUD Karawang. Marta (2013) menambahkan kejadian

hipotermia terjadi 60%-90% dari keseluruhan pasien post operasi yang

menggunakan anastesi spinal.

Tindakan anastesi spinal merupakan salah satu cara untuk


menghilangkan sensasi motorik dengan jalan memasukkan obat anastesi ke

ruang subarachnoid (Fauzi, 2014). Frank, El- Rahmany, etc (2000)

mengemukakan korelasi antara blokade spinal di tingkat dermatom tinggi

dan penurunan suhu tubuh inti selama anestesi spinal konsisten dengan

efek fisiologis dari anestesi spinal. Tonis vasomotorik dan shivering menjadi

terhambat pada tingkat di bawah blokade spinal melalui blokade neural

simpatis dan somatis. Semakin luas proporsi tubuh yang diblokir maka fungsi

termoregulasi akan semakin terganggu. Leslie dan Sessler menunjukkan

penurunan ambang batas shiverng yang sebanding dengan tingkat blokade

spinal. Para peneliti ini menunjukkan bahwa ambang batas suhu tubuh

menurun hingga 0,06oC untuk setiap tingkat dermatom yang dibloir.

Penelitian kami juga menunjukkan bahwa tingkat dermatom blokade yang

tinggi merupakan faktor risiko untuk hipotermia. Menurut analisis kami, setia

tingkat dermatom blokade spinal menurunkan suhu 0,15oC suhu tubuh saat

admisi ke PACU.

Anestesi regional atau spinal dapat mengganggu otonomi normal

kontrol termoregulasi karena efek vasodilatasi. Sebagian besar narkotik

mengurangi mekanisme vasokonstriksi, hal ini adalah cara menghemat

kehilangan panas karena efek simpatolitiknya. Anestesi regional

menghasilkan blok simpatis, relaksasi otot, dan blok sensoris terhadap

reseptor suhu perifer sehingga menghambat respon kompensasi terhadap

suhu (Mirza, 2011). Tindakan anastesi spinal terjadi blok pada system

simpatis sehingga terjadi vasodilatasi ini yang mengakibatkan perpindahan

panas dari kompartemen sentral ke perifer, hal ini menyebabkan hipotermia

(Fauzi, 2014).
Hipotermi post operasi ini ditimbulkan oleh tindakan anestesi dan

paparan suhu lingkungan yang rendah, suhu ruangan yang dingin dapat

mempengaruhi kejadian hipotermi pada pasien post operasi. Selain

pengaruh suhu ruangan kamar yang dingin, yang mengakibatkan kulit tidak

dapat mempertahankan keluarnya panas tubuh sehingga terjadi hipotermi

adalah cairan intravena yang dingin saat tindakan intraoperative (Harahap,

2014). Secara garis besar mekanisme penurunan suhu selama anestesi,

melalui kehilangan panas pada kulit oleh karena proses radiasi, konveksi,

konduksi, dan juga evaporasi, yang lebih lanjut menyebabkan redistribusi

panas dari inti tubuh ke perifer, dan produksi panas tubuh yang menurun

oleh karena penurunan laju metabolisme (Harahap, 2014). Penyebab lain

menurut mubarokah (2017) yaitu faktor luasnya luka yang terbuka dan tidak

tertutup kain selama di ruang operasi dan dilihat dari hubungan faktor lama

operasi, dan faktor Indeks Massa Tubuh (IMT) yang kurus dapat menjadi

pendukung dari terjadinya hipotermi. Selain itu menrut Hanifa (2017)

penggunaan agen inhalasi dan lama operasi turut menjadi faktor penyebab

hipotermi.

Hipotermi post operasi adalah suhu inti lebih rendah dari suhu tubuh

normal yaitu 36ºC setelah pasien dilakukan operasi. Dalam keadaan

normal, tubuh manusia mampu mengatur suhu di lingkungan yang

panas dan dingin melalui refleks pelindung suhu yang diatur oleh

hipotalamus. Selama anastesi regional atau anestesi spinal, reflek

tersebut berhenti fungsinya sehingga pasien akan rentan sekali

mengalami hipotermia. Kejadian ini didukung dengan suhu ruangan

operasi dan ICU di bawah suhu kamar. Hipotermia postoperasi sangatlah


merugikan bagi pasien.

Hipotermia post operasi dapat menyebabkan disritmia jantung,

memperpanjang penyembuhan luka operasi, menggigil, syok, dan

penurunan tingkat kenyamanan pasien (Marta, 2013).Gambaran klinis pada

pasien hipotermi seperti penurunan suhu tubuh <35º C, rasa baal atau

kesemutan di kulit atau ekstremitas, kulit pucat dan kebiruan serta

dingin apabila diraba, menggigil pada awalnya kemudian kaku pada kondisi

yang memburuk, penurunan tingkat kesadaran, mengantuk dan konfusi

(Corwin, 2009). Bila terjadi hipotermi, maka kompensasi tubuh untuk

meningkatkan temperature inti tubuh adalah dengan menggigil (Nazma,

2008).

Hipotermian post operasi sangat mengganggu kenyamanan

pasien dalam proses pemulihan. Hipotermia ini disebabkan karena

ruang operasi dan ruang ICU memiliki suhu yang rendah. Hipotermia

post operasi juga dapat terjadi karena luka terbuka, aktifitas otot-otot

inhalasi gas-gas yang dingin infus dengan cairan yang dingin,

agens obat-obatan (bronkodilator, fenotiasin, anesthesia), usia lanjut

dan neonatus (Black, 2009). Bila tidak ditangani dengan segera, orang

yang terpajan dingin yang ekstrim selama hampir 20-30 menit biasanya

akan meninggal karena henti jantung ataufibrilasi jantung (Guyton, 2008).

Pemberian anastesi umum ataupun spinal sangat mempengaruhi

terjadinya hipotermia.

Indonesia ataupun di Yogyakarta belum ditemukan data konkrit

tentang angka kejadian hipotermia, karena selama ini belum ada

pencatatan tentang angka kejadian hipotermia post operasi. Pada


penelitian yang dilakukan oleh Harahap (2014) di RS Hasan Sadikin

Bandung, telah membuktikan dampak negatif hipotermi terhadap pasien,

antara lain risiko perdarahan meningkat, iskemia miokardium, pemulihan

pasca anestesi yang lebih lama, gangguan penyembuhan luka, serta

meningkatnya risiko infeksi.

Studi pendahuluan yang telah dilakukan di rumah sakit “JIH”

Yogyakarta di bulan Desember 2019, dari sejumlah 123 pasien operasi

dengan regional anastesi, sejumlah 40-45% mengalami hipotermi di ruang

pemulihan kamar operasi rumah sakit “JIH” Yogyakarta.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai hubungan regional anestesi terhadap kejadian hipotermi

pada pasien pasca operasi di ruang pemulihan kamar operasi rumah sakit

“JIH” Yogyakarta.

2 Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan diatas, maka

dapat diambil perumusan masalah “apakah ada hubungan regional anestesi

terhadap kejadian hipotermi pada pasien pasca operasi di ruang pemulihan

kamar operasi rumah sakit “JIH” Yogyakarta?”

3 Tujuan penelitian

1. Tujuan umum

Mengetahui hubungan regional anestesi terhadap kejadian

hipotermi pada pasien pasca operasi di ruang pemulihan kamar operasi

rumah sakit “JIH” Yogyakarta

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui gambaran kejadian hipotermi di ruang pemulihan pasca


regional anestesi

b. Menganalisis hubungan umur dengan kejadian hipotermi pasca

regional anestesi

c. Menganalisis frekuensi jenis pembedahan dengan kejadian

hipotermi pasca regional anestesi

d. Menganalisis frekuensi lama anestesi dengan kejadian hipotermi

pasca regional anestesi

4 Manfaat penelitian

1. Bagi institusi pendidikan ilmu eperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber pembaharuan ilmu

pengetahuan dan menambah wawasan dalam bidang asuhan

Keperawatan Medikal Bedah (KMB) terkait penatalaksanaan khususnya

di bagian perencanaan keperawatan.

2. Bagi rumah sakit

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan perawat kamar

operasi dan meningkatkan kualitas pelayanan asuhan keperawatan di

Kamar Operasi Rumah Sakit "JIH"

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan sebagai data dasar untuk meneliti

pengembangan asuhan keperawatan khususnya di kamar operasi.


5 Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian ini dijelaskan pada Tabel 1.

Tabel 1. Keaslian Penelitian

No Nama Peneliti Judul Penelitian Metode Populasi & Hasil Penelitian Persamaan & Perbedaan
Sample
Amila Hanifa Hubungan Hipotermi Desain penelitian: cross Hasil uji chi squre perberdaan terletak pada
Dengan Waktu Pulih sectional didapat p value anastesi yang dilakukan
Sadar Pasca General Teknik sampling: (0,026<0,05), terdapat yaitu general anastesi.
Anestesi Di Ruang consecutive sampling hubungan hipotermi persamaannya adalah
Pemulihan RSUD Wates Lokasi di Intalasi Bedah dengan waktu pulih kejadian hipotermi pada
1
Sentral RSUD Wates sadar pasca general pasien post operasi
Teknik pengambilan anestesi.
sampel : consecutive
sampling dengan uji chi
squre
2 Anggita Marissa Angka Kejadian metode prospektif Angka kejadian persamaan penelitain
Harahap, Rudi K. Hipotermia dan Lama observasional dengan hipotermia adalah mengetahui kejadian
Kadarsah, Ezra Perawatan di Ruang rancangan penelitian pada pasien geriatri hipotermi
Oktaliansah Pemulihan pada Pasien deskriptif kasus kontrol pascaanestesi di perbedaan penelitian terletak
Geriatri Pascaoperasi terhadap 129 orang ruang pemulihan pada fokus responden
Elektif Bulan Oktober pasien sebanyak pasien geriartri, lokasi rumah
2011–Maret 2012 di (p≤0,05). Terdapat sakit, dan lama perawatan
Rumah Sakit Dr. Hasan hubungan
Sadikin Bandung bermakna kejadian
hipotermia dengan
lama perawatan di
ruang pemulihan pada
pasien geriatri yang
telah menjalani
operasi elektif. angka
kejadian hipotermia
pascaoperatif geriatric
adalah 87,6% dan
pasien dengan
hipotermia
mendapatkan
perawatan lebih lama
di ruang pemulihan.
Nur Abar Fauzi, Gambaran Kejadian Design penelitian: hasil penelitian 19 perbedaan: lokasi penelitian,
Santun Bekti Menggigil (Shivering) deskriptif dengan cross kejadian menggigil kejadian menggigil
Rahimah, arief budi pada pasien dengan sectional dari jumlah sample 65
yulianti tindakna operasi yang dengan sumber dari orang dalam persamaan penelitian
menggunakan anastesi rekamedis dan format penelitian ini. terletak pada jenis spinal
3 spinal di RSUD isian data yang dibuat anastesi yang dilakukan
Karawang periode Juni peneliti
2014 sample yang diteliti
adalah pasien yang
dilakukan operasi dengan
spinal anastesi
Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu sama sama

meneliti tentang sebab kejadian hipotermi pada saat dilakukan pembedahan,

masing – masing penelitian menggunakan design penelitian cross sectional.

Perbedaan pada penelitian sebelumnya yaitu pada teknik pengambilan sampel,

lokasi penelitian, waktu penelitian dan jumlah responden yang diteliti. Penelitian

ini akan meneliti tentang hubungan regional anestesi terhadap kejadian hipotermi

pada pasien pasca operasi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan

metode cross sectional dan teknik sampling yang digunakan yaitu yaitu

purposive sampling.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan teori

a. Pengertian anestesi

Anestesia adalah suatu keadaan narcosis, analgesia, relaksasi

dan hilangnya reflek (Smeltzer, S C, 2002). Anestesi adalah

menghilangnya rasa nyeri, dan menurut jenis kegunaannya dibagi

menjadi anestesi umum yang disertai hilangnya kesadaran, sedangakan

anestesi regional dan anestesi local menghilangya rasa nyeri disatu

bagian tubuh saja tanpa menghilangnya kesadaran (Sjamsuhidajat & De

Jong, 2012).

Anestesi merupakan tindakan menghilangkan rasa sakit ketika

melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lain yang menimbulkan

rasa sakit pada tubuh (Morgan, 2011)

2. Tujuan anestesi

Menurut Brunton, dkk tahun 2011 perkembangan senyawa -

senyawa anestesi disebabkan oleh tiga tujuan umum :

a. Meminimalkan potensi efek membahayakan dari senyawa dan

teknik anestesi

b. Mempertahankan homeostatis fisiologis selam dilakukan prosedur

pembedahan yang mungkin melibatkan kehilangan darah, iskemia

jaringan, reperfusi jaringan yang mengalami iskemia, pergantian

cairan, pemaparan terhadap lingkungan dingin, dan gangguan

koagulasi.
c. Memperbaiki hasil pascaperasi dengan memilih teknik yang

menghambat tau mengatasi komponen - komponen respons stress

pembedahan, yang dapat menyebabkan konsekuensi lanjutan jangka

pendek ataupun panjang.

3. Macam - macam anestesi

Menurut Potter & Perry tahun 2006, pasien yang mengalami

pembedahan akan menerima anestesi dengan salah satu dari tiga cara

sebagai berikut:

a. Anestesi umum

Klien yang mendapat anestesi umum akan kehilangan seluruh

sensasi dan kesadarannya. Relaksasi otot mempermudah manipulasi

anggota tubuh.Pembedahan yang menggunakan anestesi umum

melibatkan prosedur mayor, yang membutuhkan manipulasi jaringan

yang luas.

b. Anestesi regional

Induksi anestesi regional menyebabkan hilangnya sensasi

pada daerah tubuh tertentu. Anestesi regional terdiri dari spinal

anestesi, epidural anestesi, kaudal anestesi. Metode induksi

mempengaruhi bagian alur sensorik yang diberi anestesi.Ahli

anestesi memberi regional secara infiltrasi dan lokal. Pada bedah

mayor, seperti perbaikan hernia, histerektomi vagina, atau perbaikan

pembuluh darah kaki, anestesi regional atau spinal anestesi

dilakukan dengan induksi infiltrasi. Blok anestesi pada saraf

vasomotorik simpatis, serat saraf nyeri dan motorik menimbulkan

vasodilatasi yang luas sehingga klien dapat mengalami penurunan


tekanan darah yang tiba - tiba.

c. Anestesi lokal

Anestesi lokal menyebabkan hilangnya sensasi pada tempat

yang diinginkan.Obat anestesi menghambat konduksi saraf sampai

obat terdifusi ke dalam sirkulasi.Anestesi lokal umumnya digunakan

dalam prosedur minor pada tempat bedah sehari.

4. Konsep spinal anestesi

a. Pengertian spinal anestesi

Anestesi spinal adalah injeksi agen anestesi ke dalam ruang

intratekal, secara langsung ke dalam cairan serebrospinalis sekitar

region lumbal di bawah level L1/2 dimana medulla spinalis berakhir

(Keat, 2013)

Spinal anestesi merupakan anestesia yang dilakukan pada

pasien yang masih dalam keadaan sadar untuk meniadakan proses

konduktifitas pada ujung atau serabut saraf sensori di bagian tubuh

tertentu (Rochimah, 2011)

b. Tujuan spinal anestesi

Menurut Sjamsuhidayat & De Jong tahun 2010 Spinal

anestesi dapat digunakan untuk prosedur pembedahan, persalinan,

penanganan nyeri akut maupun kronik.

c. Indikasi spinal anestesi

Menurut Keat tahun 2013, indikasi pemberian spinal anestesi

ialah untuk prosedur bedah di bawah umbilicus


d. Kontraindikasi spinal anestesi

Menurut Sjamsuhidayat & De Jong tahun 2010 anestesi

regional yang luas seperti spinal anestesi tidak boleh diberikan pada

kondisi hipovolemia yang belum terkorelasi karena dapat

mengakibatkan hipotensi berat.

Komplikasi yang dapat terjadi pada spinal anestesi menurut

Sjamsuhidayat & De Jong tahun 2010, ialah :

1) Hipotensi terutama jika pasien tidak prahidrasi yang cukup

2) Blokade saraf spinal tinggi, berupa lumpuhnya pernapasan

dan memerlukan bantuan napas dan jalan napas segera.

3) Sakit kepala pasca pungsi spinal, sakit kepala ini bergantung

pada besarnya diameter dan bentuk jarum spinal yang

digunakan.

e. Jenis - Jenis Obat Spinal Anestesi

Lidokain, Bupivakain, dan tetrakain adalah agen anestesi lokal

yang utama digunakan untuk blockade spinal. Lidokain efektif untuk

1 jam, dan bupivacaine serta tetrakain efektif untuk 2 j am sampai 4

j am (Reeder, S., 2011). Berikut ini uraian obat spinal anestesi :

1) Lidokain

1. Onset kerja: cepat

2. Dosis maksimum: 3-5mg/kg

3. Durasi kerja: Pendek 60-180 menit tergantung penggunaan

4. Efek samping: toksisitas kardiak lebih rendah dibanding

bupivakain.

5. Metabolisme: di hati, n-dealkylation yang diikuti dengan


hidrolisis untuk menghasilkan metablit yang dieksresikan di

urin. Lidocain sangat popular dan digunakan untuk blok

saraf, infitrasi dan anestesi regional intravena begitu juga

topical, epidural dan itratekal. Bagaimanapun juga ini

termasuk antiaritmik kelas 1B dan dapat digunakan untuk

terapi takikardi.

2) Bupivakain

1. Onset kerja: blok nervous 40 menit, epidural 15-20 menit,

intratekal 30 detik

2. Durasi kerja: blok saraf sampai 24 jam; pidural 3-4 jam;

intrakardial 2-3 jam

3. Efek samping: lebih cenderung mengakibatkan toksisitas

kardiak berupa penurunan tekanan darah dibandingkan

obat anestesi lokal lainnya

4. Eliminasi: N-dealkylation menjadi pipecolyoxylidine dan

metabolit lainnya yang diekskresikan di urin. Bupivakain

lazim digunakan untuk spinal anestesi. Menggunakan plain

bupivacaine membuatnya dapat naik ke atas atau turun ke

bawah, yang dapat mengakibatkan peningkatan blok yang

membahayakan fungsi respirasi dan kardio. Jika dekstrosa

ditambahkan akan menjadi berat (heavy) dan akan

mengalir lebih dapat diprediksi turun ke tulang belakang,

hanya memengaruhi saraf yang non esensial. Larutan plain

dapat menyebabkan hipotensi yang lebih sedikit tapi pasien

harus tidur terlentang (Keat, 2013)


3) Tetrakain

Tetrakain (pantocaine), suatu ester amino kerja - panjang,

secara signifikan lebih paten dan mempunyai durasi kerja lebih

panjang daripada anestetik lokal jenis ester lain yang umum

digunakan. Obat ini banyak digunakan pada spinal anestesi

ketika durasi kerja obat yang panjang diperlukan.Tetrakain juga

ditambahkan pada beberapa sediaan anestetik

topikal.Tetrakain jarang digunakan pada blokade saraf perifer

karena sering diperlukan dosis yang besar, onsetnya yang

lambat, dan berpotensi menimbulkan toksisitas (Brunton, dkk,

2011).

f. Teknik Pemberian Spinal Anestesi

Teknik pemberian spinal anestesi menurut Gruendemann

& Fernsebner, tahun 2006 ialah :

1) Klien diletakkan pada satu dari beberapa posisi yang

memaksimalkan kemungkinan pungsi dicelah antara

vertebra lumbal kedua dan sakral pertama. Posisi paling

sering diambil adalah decubitus lateral, yang baik bagi klien

yang mendapat sedasi. Selain itu, posisi duduk diindikasikan

untuk klien gemuk apabila tanda - tanda patokan anatomis

sulit diidentifikasi. Kadang - kadang posisi ‘pisau lipat’

telungkup digunakan untuk klien yang menjalani

pembedahan rektum
2) Sewaktu klien diletakkan dalam posisi decubitus lateral, klien

akanberbaring pada salah satu sisinya, sangat dekat dengan

tepi tempat tidur. Panggul, punggung, dan bahu harus

sejajar dengan tepi tempat tidur. Apabila klien ditempatkan

dengan benar, sebuah garis imajiner anatar bagian atas

kedua krista iliaka akan berjalan melalui vertebra L4 atau

antar - ruang L4-5. Tanda petunjuk ini digunakan untuk

menentukan lokasi antar - ruang lumbal tempat pungsi

dilakukan.

3) Sebelum dilakukan pungsi, klien dibantu untuk menarik

kedua lututnya kearah dada dan menekuk kepala dan leher

kearah dada. Dengan demikian, punggung akan

melengkung, sehingga prosesus spinalis terbuka secara

maksimum.

4) Prosedur pungsi spinal pada dasarnya sama dengan

berbagai posisi klien, baik posisi duduk atau ‘pisau lipat’.

Klien dalam posisi duduk memerlukan penopang yang kuat

dibawah kaki mereka dan harus dibantu untuk condong ke

depan dengan lengan ditekuk agar punggung melengkung.

Dalam posisi ini, klien dapat ditopang oleh perawat atau oleh

sebuah cantelan mayo yang terpasang kuat.

5) Setelah pungsi dilakukan dan cairan serebrospinalis

mengalir melalui aspirasi lembut alat suntik yang

dihubungkan dengan jarum spinal, obat anestetik lokal dapat

disuntikan dengan kecepatan sekitar 1 ml sampai 5 sampai


10 detik. Penyebaran anestetik lokal melalui cairan

serebrospinalis dipengaruhi oleh dosis total yang

disuntidkkan, konsentrasi larutan, keadaan kanalis spinalis,

dan posisi klien selama dan segera, setelah suntikan

anestetik lokal.

6) Setelah obat disuntikkan di klien perlu diposisikan dengan

ketinggian anestesi yang dapat dicapai sehingga memblok

serabut yang menpersarafi kulit dan organ internal yang

akan dikenal oleh prosedur operasi.

g. Penatalaksanaan Pasien Post Operasi dengan Spinal

Anestesi

Ketika pasien sudah mencapai bangsal, maka hal yang

harus dilakukan menurut Effendy tahun 2005, yaitu :

1) Monitor tanda-tanda vital dan keadaan umum pasien,

drainage, tube/selang, dan komplikasi. Begitu pasien tiba di

bangsal langsung monitor kondisinya. Pemerikasaan ini

merupakan pemeriksaan pertama yang dilakukan di bangsal

setelah post operasi.

2) Manajemen Luka

Amati kondisi luka operasi dan jahitannya, pastikan

luka tidak mengalami perdarahan abnormal. Observasi

discharge untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Manajemen luka meliputi perawatan luka sampai dengan

pengangkatan jahitan
3) Mobilisasi dini

Mobilisasi dini yang dapat dilakukan meliputi Ring Of

Motion (ROM), nafas dalam dan juga batuk efektif yang

penting untuk memaksimalkan fungsi kardiovaskuler,

mengaktifkan kembali fungsi neuromuskuler dan

mengeluarkan sekret dan lendir.

4) Rehabilitasi

Rehabilitasi diperlukan oleh pasien untuk memulihkan

kondisi pasien kembali.Rehabilitasi dapat berupa berbagai

macam latihan spesifik yang diperlukan untuk memaksimalkan

kondisi pasien seperti sedia kala.

5) Discharge Planning

Merencanakan kepulangan pasien dan memberikan

informasi kepada klien dan keluarganya tentang hal-hal yang

perlu dihindari dan dilakukan sehubungan dengan

kondis/penyakitnya post operasi.