Anda di halaman 1dari 9

TUGAS TERSTRUKTUR

(KE-1)
MK METODE ILMIAH
PS. TNH 2019/2020

Oleh:
Ananda Ika Kurnia
1714181005
01

Dosen Pengampu
Dr. Ir. M.A Syamsyul Arif, M.Sc.

JURUSAN ILMU TANAH


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2020
FILSAFAT ILMU

Filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara
mendalam dan menyeluruh. Filsafat didefinisikam sebagai ilmu pengetahuan yang
mengkaji tentang masalah yang berkaitan dengan segala sesuatu, baik bersifat materi
maupun immateri. Hal ini dilakukan dengan berpikir secara rasional dan logis, mendalam
dan bebas, sehingga dapat dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan berbagai
permasalahan kehidupan manusia. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan
yang tersusun secara sistematis mengenai Sebagai cabang dari filsafat, filsafat ilmu
merupakan refleksi pemikiran secara kritis mengenai ilmu pengetahuan. Menurut Dalton
dkk (2007), filsafat ilmu mengacu pada keyakinan seseorang tentang esensi pengetahuan
ilmiah, esensi metode dalam pencapaian pengetahuan ilmiah, dan hubungan antara ilmu
dan perilaku manusia.

Filsafat ilmu dibagi menjadi filsafat ilmu umum dan filsafat ilmu khusus. Filsafat ilmu
umum lebih menekankan konsep-konsep filosofis ilmu dan ciri-ciri umum metode ilmiah
yang digunakan oleh semua ilmu. Menurut Psillos dan Curd (2008), dalam filsafat ilmu
umum yang menjadi objek kajian adalah semua ilmu. Sedangkan dalam filsafat ilmu
khusus lebih menekankan pada kajian konsep-konsep filosofis pada ilmu-ilmu tertentu
dan ciri-ciri metode ilmiah yang digunakan oleh ilmu-ilmu khusus (matematika, biologi,
ekonomi, psikologi, fisika, dan ilmu pendidikan.

I. FILSAFAT THALES

Sejarah filsafat mulai muncul ketika Thales pertama kali berfilsafat tentang apa
sebenarnya yang menjadi bahan dasar bumi. Dari pemikiran itu dia menganggap bahwa
bahan dasar bumi ini adalah air. Oleh karena itu Thales disebut Bapak Filsafat karena
Thales adalah filsuf pertama yang memikirkan tentang pertama kali terjadinya alam
semesta. Menurut Hanurawan (2012), Thales menyatakan bahwa air adalah prinsip dasar
segala sesuatu. Air menjadi pangkal, pokok, dan dasar dari segala sesuatu yang ada di
alam semesta. Argumentasi Thales terhadap pandangan tersebut adalah bagaimana
bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana semua makhluk
hidup juga memerlukan air untuk hidup. Thales juga mengemukakan pandangan bahwa
bumi terletak diatas air. Bumi dipandang sebagai bahan yang keluar dari laut kemudian
terapung-apung diatasnya.

Pandangan tentang jiwa menurut Thales yaitu bahwa segala sesuatu dijagat raya memiliki
jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di dalam hidup, tetapi juga terdapat pada benda mati.
Menurut Juhaya (2005), teori tersebut dikenal dengan hylezoisme. Argumentasi ini
didasarkan pada magnet yang dikatakan memiliki jiwa karena mampu menggerakkan besi.
selanjutnya pandangan Thales tentang politik yaitu Thales menyarankan bahwa untuk
mempertahankan Negara dari ancaman serangan Negara lain yaitu dengan membentuk
pusat pemerintahan dan administrasi bersama di kota yang memiliki sentral di Negara
tersebut.

I.1 Kosmologi

Kosmologi berasal dari kata Yunani kosmos dan logos. Kosmos berarti susunan, atau
ketersusunan yang baik dan logos berarti keteraturan. Kosmologi dimengerti sebagai
sebuah cabang filsafat yang membicarakan asal mula dan susunan alam semesta. Thales
mengembangkan filsafat alam kosmologi yang mempertanyakan asal mula, sifat
dasar, dan struktur komposisi dari alam semesta. Menurut pendapatnya, semua yang
berasal dari air sebagai materi dasar kosmis. Sedangkan menurut Hawking (2004), Plato
beranggapan bahwa dunia adalah sesuatu yang kasat mata, tak mungkin abadi, dan tentu
diciptakan oleh Tuhan. Plato juga menjelaskan bahwa Tuhan menyusun kembali bahan
yang telah ada sebelumnya. Sedangkan menurut Aristoteles adanya alam semesta
disebabkan oleh causa prima (sebab yang tak tersebabkan). Dalam bukunya On the
Heavens, Aristoteles mengemukakan argumen untuk meyakini bahwa bumi lebih seperti
bola bundar dari pada sebuah lempengan datar.

Kosmologi juga ikut dalam menelaah ruang dan waktu, menyelidiki asal-usul alam
semesta beserta isinya, dan mempelajari peristiwa di ruang angkasa, termasuk asal mula
kehidupan. Menurut Dalton dkk (2007), kosmologi harus dibedakan dengan kosmogoni.
Walaupun antara kosmologi dan kosmogoni nampak hubungan yang saling kait kelindan.
Kosmogoni sendiri berarti cerita mengenai asal usul alam semesta. Dalam kosmogoni,
tidak dijelaskan bagaimana hubungan keterkaitan antara logika, historisitas, ataupun
penjelasan filosofis mengenai asal usul alam semesta itu sendiri. Hubungan antara
kosmogoni dan kosmologi itu sendiri ada pada peran mereka yaitu, sama-sama menelaah
gambaran dunia, serta model-model alam semesta yang berubah dari waktu ke waktu.

Dalam kosmologi Aristoteles terdapat konsep tentang tatanan yang baik yang selalu
dijelaskannya dari waktu ke waktu. Dalam Metaphysics, Aristoteles membuat analogi
antara komandan dalam tentara dengan Tuhan (supreme deity) yang memimpin alam
semesta. Artinya bahwa Tuhan atau para dewa secara langsung menjamin
keberlangsungan gerak abadi semua lapisan langit yang berarti pula menjamin prinsip
saling mempengaruhi antara hal-hal yang bertentangan di dalam alam bawah bulan dan
keberlangsungan kekal semua spesies yang hidup di dalamnya. Kosmologi Aristoteles
kemudian dipahami sebagai salah satu bukti adanya Tuhan yang menciptakan dalam arti
menggerakkan alam semesta atau menjamin keabadian geraknya.

Secara spesifik, kosmologi dapat diartikan sebagai ilmu mengenai alam semesta. Ilmu
disini dapat berarti keteraturan alam, maupun unsur-unsur beserta struktur alam
semesta. Dalam prakteknya, makna kosmologi terbagi menjadi dua hal yaitu kosomologi
saintifik dan kosmologi metafisik. Kosmologi saintifik dilandasi dengan model berpikir
yang relative dan eksperimental. Sedangkan kosmologi metafisik dilandasi dengan model
berpikir yang spekulatif dan filosofis. Kosmologis yang muncul pertama kali adalah
kosmologi metafisik hal ini didasarkan pada cerita kuno perihal asal mula alam semesta
yang muncul dalam prosen kultural di dalam masyarakat. Tujuan dari kosmologi metafisik
ini adalah mencari penjelasan yang lebih masuk akal, dari pada sekedar cerita kuno yang
penuh dengan mistis dan misteri (Noeng, 2001).

II. ILMU THALES

Thales merupakan seorang saudagar yang sering berlayar ke negeri Mesir. Dari
perjalanannya itulah ia menemukan sebuah ilmu ukur dan membawanya ke Yunani.
Thales memiliki ilmu tentang cara mengukur tinggi pirmid dari bayangannya. Selain itu
Thales memiliki ilmu cara mengukur jauhnya kapal di laut dari sebuah pantai serta
mempunyai teori tentang banjir tahunan Sungai Nil di Mesir. Psillos dan Curd (2008)
berpendapat bahwa Thales berhasil meramal terjadinya gerhana matahari pada tanggal
28 mei 585 SM. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai ahli astronomi dan metafisika.
Berbagai penemuan Thales mengiring cara berpikir manusia dari mitos-mitos kepada alam
nyata yang empirik.

II.1 Astronomi

Thales mengemukakan proposisi yang dikenal dengan theorema Thales, yaitu: Lingkaran
dibagi dua oleh garis yang melalui pusatnya yang disebut dengan diameter. Thales
berbicara tentang garis, lingkaran dan bentuk-bentuk lainnya dengan cara
membayangkan. Tulisan Thales dalam bidang astronomi lebih dikenal daripada karyanya
dalam bidang geometri. Landasan matematika sebagai ilmu terapan rupanya sudah
diterapkan oleh Thales, sebelum muncul teori Pythagoras yang membuat bilangan adalah
sesuatu yang sakral, selain memanfaatkan imajinasi. Thales mengembangkan filsafat alam
kosmologi yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar, dan struktur komposisi dari alam
semesta. Menurutnya semua yang berasal dari air sebagai materi dasar kosmis. Sebagai
ilmuwan pada masa itu ia mempelajari magnetisme dan listrik yang merupakan pokok
soal fisika. Juga mengembangkan astronomi dan matematika dengan mengemukakan
pendapat bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari, menghitung
terjadinya gerhana matahari, dan adalah bahwa kedua sudut alas dari suatu segi tiga
sama kaki adalah sama besarnya (Juhaya, 2005).

II.2 Fisika

Ilmu bersifat majemuk karena mencerminkan aneka kemampuan manusiawi. Misalnya,


ilmu alam berawal dari kemampuan akal, sementara sejarah berasal dari kemapuan
ingatan. Galileo-Galilei menjalankan sepenuhnya metode yang digariskan oleh Roger
Bacon. Menurut Galileo, ilmu berkembang dari filasafat alam, yang lebih dikenal sebagai
ilmu alam, melalui pengukuran kecepatan cahaya sampai penimbangan obor udara.
Sebagai ilmuwan matematika, ia mengajarkan sebuah ucapannya yang sangat terkenal,
yaitu, Filsafat ditulis dalam sebuah buku besar, tetapi buku itu tidak dapat dibaca dan
dimengerti bila orang tidak lebih dahulu belajar memahami bahasa dan membaca huruf-
huruf yang dipakai untuk menyususnnya, yaitu matematika.

Perkembangan ilmu mencapai puncak kejayaannya pada masa Ishak Newton. Menurut
Newton, inti keilmuan adalah pada pencarian pola data matematis, karena itu Newton
berusaha membongkar rahasia alam dengan menggunakan matematika. Newton berhasil
merumuskan sebuah teori tantang gaya berat dan kaidah-kaidah mekanika yang
semuanya tertulis melalui karyanya yang berjudul Philosophiae Naturalis Principia
Mathematica (azas-azas matematika dari filsafat alam), yang diterbitkan tahun 1687.
Pada perkembangan yang ada , ternyata Philosophia Naturalis memisahkan diri dari
filsafat dan para ahli menyebutnya dengan nama Fisika (Hawking, 2014).

III. MATEMATIKA THALES

III.1 Geometri

Di dalam geometri, Thales dikenal karena menyumbangkan apa yang disebut teorema
Thales. Menurut Psillos dan Curd (2008), teorema Thales berisi sebagai berikut:
Jika AC adalah sebuah diameter, maka sudut B adalah selalu sudut siku-siku

Teorema Thales : = =
a. Sebuah lingkaran terbagi dua sama besar oleh diameternya
b. Sudut bagian dasar dari sebuah segitiga samakaki adalah sama besar.
c. Jika ada dua garis lurus bersilangan, maka besar kedua sudut yang saling
berlawanan akan sama.
d. Sudut yang terdapat di dalam setengah lingkaran adalah sudut siku-siku.
e. Sebuah segitiga terbentuk bila bagian dasarnya serta sudut-sudut yang
bersinggungan dengan bagian dasar tersebut telah ditentukan.

Thales menggunakan teorema tersebut untuk mengukur tinggi piramid dengan cara
mengukur bayangan piramid yang terjadi akibat sinar matahari.

IV. LOGIKA ARISTOTELES

Aristoteles adalah orang yang paling berjasa dalam membedah logika menjadi suatu
kajian keilmuan tertentu. Aristoteles memaknai logika dengan istilah Analitika dan
Dialektika. Menurut Dalton dkk (2007), Aristoteles menggunakan analitika untuk
menyelidiki berbagai argumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar.
Sedangkan dilektika digunakan untuk menyelidki argumentasi-argumentasi yang bertitik
tolak dari hipotesis-hipotesis. Dalam perkembangannya logika dipandang sebagai salah
satu cabang ilmu filsafat. Hal ini telah banyak dilakukan oleh ahli filsafat modern yang
mendudukkan logika sebagai disiplin ilmu yang merupakan cabang dari filsafat.

IV.1 Analitika

Secara etimologi kata analitik berarti investigative, logis, mendalam, sistematis, tajam dan
tersusun. Menurut Kaelan (2006) terdapat beberapa pengertian tentang filsafat analitik
secara terminologi diantaranya yaitu sebagai berikut:
a) Menurut Rudolp Carnap, filsafat analitik adalah pengungkapan secara sistematik
tentang syntax logis (struktur gramatikal dan aturan-aturannya) dari konsep-konsep
dan bahasa khususnya bahasa ilmu yang semata-mata formal.
b) Menurut Roger Jones menjelaskan arti filsafat analitik bahwa baginya tindak
menganalisis berarti tindak memecah sesuatu kedalam bagian-bagiannya. Tepat
bahwa itulah yang dilakukan oleh para filosof analitik.
c) Didalam kamus popular filsafat, filsafat analitik adalah aliran dalam filsafat yang
berpangkal pada lingkaran Wina. Filsafat analitik menolak setiap bentuk filsafat yang
berbau metafisik.

Filsafat analitik sendiri, secara umum, hendak mengklarifikasi makna dari penyataan dan
konsep dengan menggunakan analisis bahasa. Menurut Kaelan (2006) terdapat empat
fase perkembangan pemikiran filsafat, sejak munculnya pemikiran yang pertama sampai
dewasa ini, yang menghiasi panggung sejarah umat manusia.
1. Kosmosentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan alam sebagai objek
pemikiran dan wacana filsafat, yaitu yang terjadi pada zaman kuno.
2. Teosentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan Tuhan sebagai pusat
pembahasan filsafat, yang berkembang pada zaman abad pertengahan.
3. Antroposentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan manusia sebagai objek
wacana filsafat, hal ini terjadi dan berkembang pada zaman modern.
4. Logosentris yaitu fase perkembangan pemikiran filsafat yang meletakkan bahasa
sebagai pusat perhatian pemikiran filsafat dan hal ini berkembang setelah abad
modern sampai sekarang. Fase perkembangan terakhir ini ditandai dengan
aksentuasi filosof pada bahasa yang disadarinya bahwa bahasa merupakan wahana
pengungkapan peradaban manusia yang sangat kompleks itu.

Filsafat analitik sendiri secara umum mengklarifikasi makna dari suatu pernyataan dan
konsep dengan menggunakan analisis bahasa. Oleh karena itu pemakaian istilah analisis
ini lebih mengacu pada pengertian yang bersifat umum, yaitu suatu upaya untuk
memeriksa konsep-konsep dalam rangka mengetahui benar atau tidak, logis atau tidak
logis, bermakna atau tidak bermaknanya konsep-konsep tersebut. Konsep dalam hal ini
adalah hasil pemikiran atau pandangan seseorang yang diungkapkan dalam bentuk
bahasa (Hanurawan, 2012).

4.2 Dialektika

Logika dialektik adalah logika gerak. Logika ini lebih menyatakan kenyataan bahwa benda-
benda, kehidupan, masyarakat selalu bergerak dan berubah secara konstan. Menurut
Hanurawan (2012), logika dialektik adalah perkembangan metode berpikir tingkat lanjut,
setelah metode logika formal. Namun, bukan berarti meniadakan logika formal dalam
metode berpikir sehari-hari. Metode dialektika yang menyebabkan bisa ditariknya
kesimpulan-kesimpulan dari penemuan-penemuan faktual yang dikatakan logiaka formal,
dan menunjukkan bahwa tidak ada kategori yang mutlak atau pasti, baik di alam ataupun
di masyarakat.

Metode logika formal mulai gugur dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan itu
sendiri. Di akhir abad ke-19, para ahli kimia menjadi sadar bahwa dapat dimungkinkan
satu unsur atom untuk berubah menjadi unsur lainnya. Artinya, atom tidaklah mutlak
bersifat khusus dan tertentu saja pada unsurnya sendiri. Hal ini diketahui bahwa banyak
atom dan unsur kimia lainnya yang tidak stabil. Sebagai contoh, uranium dan atom-atom
radioaktif lainnya akan pecah dalam proses perjalanan waktu, dan menghasilkan atom-
atom yang berbeda, dan dengan kandungan serta berat kimia yang berbeda pula.
Sementara seorang yang memakai logika formal mengatakan A sama dengan A, maka
seorang yang dialektis yang memakai logika dialektik akan mengatakan bahwa A belum
tentu sama dengan A. Contoh praktis yang digunakan Trotsky dalam tulisan-tulisannya
tentang hal ini yaitu satu ons gula pasir tidak akan tepat sama dengan satu ons gula pasir
lainnya. Ini adalah hal yang baik jika kita menggunakan patokan takaran tersebut untuk
membeli gula pasir di toko, tetapi jika kita lihat secara teliti, akan terlihat bahwa takaran
itu tidak tepat sama (Kaelan, 2006).

V. FILSAFAT MORAL DAN MENTAL

Filsafat moral merupakan kajian ilmu yang secara garis besar membahas tentang macam-
macam teori etika. Dalam teori etika terdapat dua pembagian diantaranya teleologis dan
deontologis. Menurut Noeng (2001), teori teleologis menentukan baik buruknya suatu
tindakan dari baik buruknya akibat yang menjadi tujuannya. Berbeda dengan teleologis,
etika deontologis berpandangan bahwa moralitas suatu tindakan melekat pada tindakan
itu sendiri bukan finalitasnya. Etika, atau biasa disebut filsafat moral merupakan cabang
filsafat sistematik yang biasa disebut dengan aksiologi, membahas mengenai etikaa,
moral, serta nilai etis dan tidak etis dalam diri seorang manusia atau kehidupan
bermasyarakat. Etika sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu ethos yang berarti
kebiasaan, adat, atau watak kesusilaan. Dalam praktisnya, etika adalah ilmu yang
mempelajari akan hal baik dan buruk serta seberapa jauh nilai baik dan buruk tersebut.
Pada akhirnya jika semua nilai yang baik dan buruk telah diperoleh, maka manusia akan
mengetahui apa saja batasan dari etika yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh
dilakukan. Jika cabag filsafat lain membahas ada dan tiada, maka filsafat etika lebih
membahas apa yang harus dilakukan oleh seorang manusia.

V.1 Filsafat Analitik

Filsafat analitik adalah suatu gerakan filosof yang memusatkan perhatiannya pada bahasa
dan mencoba menganalisa pernyatan-pernyataan untuk menemukan bentuk-bentuk yang
paling logis dan singkat yang cocok dengan fakta-fakta atau makna-makna yang disajikan.
Yang pokok bagi filsafat analitik adalah pembentukan definisi baik yang linguistic (ilmu
tentang bahasa) atau nonlinguistic. Filsafat analitik secara umum mengklarifikasi makna
dari pernyataan dan konsep dengan menggunakan analisis bahasa (Kumara, 2010). Oleh
karena itu pemakaian istilah analisis ini lebih mengacu pada pengertian yang bersifat
umum, yaitu suatu upaya untuk menyelidiki atau memeriksa konsep-konsep dalam
rangka mengetahui benar atau tidak, logis atau tidak logis, bermakna atau tidak
bermaknanya konsep-konsep tersebut. Konsep dalam hal ini adalah hasil pemikiran atau
pandangan seseorang yang diungkapkan dalam bentuk bahasa.

Filsafat analitik secara umum mengklarifikasi makna dari penyataan dan konsep dengan
menggunakan analisis bahasa. Menurut Kaelan (2006), terdapat empat fase
perkembangan pemikiran filsafat, sejak munculnya pemikiran yang pertama sampai
dewasa ini, yang menghiasi panggung sejarah umat manusia, yaitu sebagai berikut:
1. Kosmosentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan alam sebagai objek
pemikiran dan wacana filsafat, yaitu yang terjadi pada zaman kuno.
2. Teosentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan Tuhan sebagai pusat
pembahasan filsafat, yang berkembang pada zaman abad pertengahan.
3. Antroposentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan manusia sebagai objek
wacana filsafat, hal ini terjadi dan berkembang pada zaman modern.
4. Logosentris yaitu fase perkembangan pemikiran filsafat yang meletakkan bahasa
sebagai pusat perhatian pemikiran filsafat dan hal ini berkembang setelah abad
modern sampai sekarang. Fase perkembangan terakhir ini ditandai dengan
aksentuasi filosof pada bahasa yang disadarinya bahwa bahasa merupakan wahana
pengungkapan peradaban manusia yang sangat kompleks itu.
VI. LOGIKA MODERN

Logika Modern atau yang juga dikenal dengan nama logika simbolik atau logika
matematik adalah motif baru dalam logika. Logika ini membahas argumen-argumen yang
memungkinkan sesuatu dapat dimasukkan ke dalam bentuk yang lebih luas dari pada
hanya bentuk silogistik. Menurut Hurley (2000), logika modern ini mengenalkan symbol-
simbol untuk kalimat yang lengkap dan perangkai-perangkai yang akan merangkainya,
misalnya “and”, “or”, “if…then….”dan lainnya. Logika modern termasuk dalam logika
deduktif, di mana premis-premis dari suatu argument harus memiliki kesimpulan, atau
kebenaran suatu kesimpulan harus mengikuti premis-premisnya. Menurut Bakry (2002),
terdapat beberapa tokoh-tokoh yang berjasa dalam mengembangkan Logika Modern
yaitu sebagai berikut:
1. Raymundus Lullus mengembangkan metoda Ars Magna, semacam aljabar pengertian
dengan maksud membuktikan kebenaran-kebenaran tertinggi.
2. Francis Bacon mengembangkan metoda induktif dalam bukunya Novum Organum
Scientiarum .
3. Emanuel Kant menemukan Logika Transendental yaitu logika yang menyelediki
bentuk-bentuk pemikiran yang mengatasi batas pengalaman.
4. George Boole yang mengembangkan aljabar Boolean.

Banyak bagian dari logika, khususnya logika modern yang sulit diakses dengan akal sehat
semata Akal sehat diperlukan tetapi tidak cukup jika tidak diimbangi dengan latihan
berpikir formal. Berbagai temuan logika modern bertentangan dengan akal sehat. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Bakry (2002) bahwa banyak kasus sistem logika modern, mulai
dari logika intuisionis, parakonsisten dan nilai-jamak yang menggugat hukum-hukum
pemikiran paling mendasar. Dengan munculnya logika modern muncul pula kesadaran
tentang berbagai macam sistem logika yang masing-masing memiliki hukum dasar dan
lingkup keberlakuannya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, tidak tepat bila dikatakan bahwa
logika bertumpu pada sehimpun hokum pemikiran yang universal dan abadi.

Berbagai sistem dalam logika modern diciptakan untuk mencermati sifat-sifat dan
perilakunya untuk menarik kesimpulan umum tentang logika itu sendiri. Logika modern
lebih banyak berurusan dengan penciptaan masalah daripada dengan penyelesaian
masalah. Logika memang berpedoma pada kesesuaian dengan aturan penyimpulan yang
diperbolehkan dengan bertolak dari sehimpun aksioma atau postulat. Demikian dalam
logika modern, setiap penyimpulan harus dapat dicari buktinya melalui apa yang biasa
disebut teori bukti atau proof theory. Teori bukti atau proof theory merupakan sehimpun
tahapan yang harus dilalui agar sebuah proporsi dapat dikatakan telah diturunkan dari
aksioma (Bakry, 2002).
DAFTAR PUSTAKA

Bakry, M. N. 2002. Logika Praktis, Bagian II. Edisi 2. Liberty. Yogyakarta.

Dalton, J.H. Elias, M.J., & Wandersman, A. 2007. Community Psychology: Linking
Individuals and Communities.Thomson. Belmont CA.

Hanurawan, F. 2012. Filsafat Ilmu Psikologi. Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas


Negeri Malang. Malang.

Hawking, S. 2014. Teori Segala Sesuatu. Pustaka Belajar. Yogyakarta.

Hurley, P.J. 2000. A Concise Introduction to Logic. 7th ed. Prentice-Hall, Englewood Cliffs.
New Jersey.

Juhaya,S.P. 2005. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Kencana. Jakarta.

Kaelan M.S. 2006. Perkembangan Filsafat Analitika Bahasa dan Pengaruhnya Terhadap
Ilmu Pengetahuan. Paradigma. Yogyakarta.

Kumara, A.Y. 2010. The Greatest Philosophers. CV. Andi Offset. Yogyakarta

Noeng, M. 2001. Filsafat Ilmu Positivisme, PostPositivisme, dan PostModernisme.


Rakesarasin . Yogyakarta.

Psillos, S. dan Curd, M. 2008. Introduction. S. Psillos & M. Curd (Eds.) The Routledge
Companion to Philosophy of Science (XIX – XXVII). Routledge. London.