Anda di halaman 1dari 15

KONSEP FITRAH DALAM KONSEP PENDIDIDKAN

ISLAM
Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok Filsafat dan
Ilmu Pendidikan (Kelompok 5 - Selasa, 23 Oktober 2018)

Disusun Oleh:
Mia Miftahun Nikmah : 11170120000048
Muhammad Fahmi Khatami : 11170120000038
Ahmad Mifta : 11170120000001

Dosen pengampu:
Bpk. Dazrizal, M.A.

Jurusan Pendidikan Bahasa Arab


Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2018

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI …………………………………………………….……... i
KATA PENGANTAR............................................................................... ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ………………………………………………....……. 1
B. Rumusan Masalah ………………..…………………………….……. 1
C. Tujuan Penulisan …………………….………………………….……. 1

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Fitrah …………………………………………………… 2

B.    Macam – Macam Fitrah…………………………….……….............. 3

C. Konsep Fitrah dalam Pendidikan Islam ..…………………………… 5

D. Implikasi Fitrah dalam Pendidikan Islam…………………………… 7

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan………………………………………………………… 11

B. Saran………………………………………………………………... 11

DAFTAR PUSTAKA …………………..………………………………. 12


KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahiim
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
limpahan Rahmat sehingga kami dapat menyusun makalah yang membahas tentang
Konsep Fitrah dalam Pendidikan Islam. Penulisan makalah bertujuan untuk
memenuhi tugas mata kuliah “Filsafat dan Ilmu Pendidikan” di jurusan Pendidikan
Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kami juga mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing Bpk.
Dazrizal, M.A dan teman-teman yang telah membantu kami untuk menyelesaikan
makalah ini
Semoga makalah dapat memberi wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Seperti kata pepatah “Tak ada gading yang tak retak” begitu halnya dengan
pembuatan makalah ini. Untuk itu, kami mohon maaf atas segala kekurangan dan
kesalahan dari makalah ini.
Saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan untuk menjadikan
makalah ini menjadi lebih baik lagi. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk
kita semua. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin...
BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Manusia merupakan makhluk yang istimewa. Hal ini dikarenakan
manusia dikaruniai akal sebagai keistimewaan dibandingkan makhluk lainnya.
Manusia merupakan makhluk mulia dari segenap makhluk yang ada di alam
raya ini. Allah telah membekali manusia dengan berbegai keutamaan sebagai
siri khas yang membedakan denngan makhluk yang lain. Untuk mengetahui
komponen yang ada dalam manusia, hal ini bisa dilihat pengertian manusia
dari tinjauan al qur’an.
Keistimewaan manusia juga dikarenakan manusia memiliki potensi
yang dikenal dengan istilah fitrah. Banyak persepsi mengenai makna fitrah.
Sehingga kadang melenceng dari konsep fitrah yang sesuai dengan yang
dimaksudkan dalam al Qurr’an dan hadis nabi. Selain itu bagaimana fitrah
manusia dikaitkan dengan konsep pendidikan islam.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Pengertian Fitrah Manusia?
2. Apa Macam-Macam Fitrah?
3. Bagaimana Konsep Fitrah dalam Pendidikan Islam?
4. Bagaimana Implikasi Fitrah dalam Pendidikan Islam?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui Pengertian Fitrah dalam Pendidikan Islam
2. Mengetahui Macam-Macam Fitrah
3. Memahami Konsep Fitrah dalam Pendidikan Islam
4. Memahami Implikasi Fitrah dalam Pendidikan Islam

BAB 2
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN FITRAH
Secara etimologi fitrah berasal dari kata fathara yang artinya
“menjadikan”, secara terminologi fitrah adalah mencipta / menjadikan sesuatu
yang sebelumnya belum ada dan merupakan pola dasar yang perlu
penyempurnaan. Fitrah adalah suatu istilah dari Bahasa Arab yang berarti
tabiat yang suci atau baik, yang khusus diciptakan Tuhan bagi manusia. Fitrah
kiranya merupakan modal dasar bagi manusia agar dapat memakmurkan bumi
ini. Fitrah juga merupakan potensi kodrati yang dimiliki manusia agar
berkembang menuju kesempurnaan hidup. Keberhasilan manusia dalam hal ini
dapat dilihat dari kemampuannya untuk mengembangkan fitrah ini.

Dalam Al-Qur’an, dalam surat Ar rum ayat 30 dijelaskan, yaitu :

ِ ‫يل لِ َخ ْل‬
ِ ‫ق هَّللا‬ َ َّ‫ت هَّللا ِ الَّتِي فَطَ َر الن‬
َ ‫اس َعلَ ْيهَا ۚ اَل تَ ْب ِد‬ ْ ِ‫ِّين َحنِيفًا ۚ ف‬
َ ‫ط َر‬ ِ ‫ك لِلد‬ َ َ‫فَأَقِ ْم َوجْ ه‬
ٰ َ ِ‫ۚ ٰ َذل‬
‫ون‬ ِ َّ‫ِّين ْالقَيِّ ُم َولَ ِك َّن أَ ْكثَ َر الن‬
َ ‫اس اَل يَ ْعلَ ُم‬ ُ ‫ك الد‬
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut
fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa fitrah adalah suatu perangkat
yang diberikan oleh Allah yaitu kemampuan dasar yang memiliki
kecenderungan berkarya yang disebut dengan potensialitas dan manusia
diciptakan Allah dalam struktur yang paling tinggi, yaitu memiliki struktur
jasmaniah dan rohaniah yang membedakannya dengan makhluk lain.
Berkenaan dengan fitrah (potensi) yang dibekalkan Tuhan kepada
manusia, para ahli filsafat telah memberikan berbagai predikat kepada
manusia. Predikat – predikat ini adalah sebagai berikut.
a. Manusia adalah homo sapiens, artinya makhluk yang mempunyai
budi pekerti.
b. Manusia adalah animale rationale, artinya binatang yang dapat
berpikir
c. Manusia adalah homo laquen, artinya makhluk yang pandai
menciptakan Bahasa
d. Manusia adalah homo faber, artinya makhluk yang pandai
membuat perkakas
e. Manusia adalah zoon politicon, artinya makhluk yang pandai
perkakas.
f. Manusia adalah homo economicus, artinya makhluk yang tunduk
kepada prinsip – prinsip ekonomi
g. Manusia adalah homo religious, artinya makhluk yang beragama.
h. Manusia adalah homo planemanet, artinya makhluk yang di
antaranya terdiri dari unsur ruhaniah – spiritual.
i. Manusia adalah homo educandum (educable), artinya makhluk
yang dapat menerima pendidikan.

B. MACAM – MACAM FITRAH

Macam – macam fitrah (potensi) ada empat, yaitu sebagai berikut:

1. Potensi Fisik (Psychomotoric)


Merupakan potensi fisik manusia yang dapat diberdayakan sesuai
fungsinya untuk berbagai kepentingan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan hidup.
2. Potensi Mental Intelektual (IQ)
Merupakan potensi yang ada pada otak manusia fungsinya : untuk
merencanakan sesuatu untuk menghitung, dan menganalisis, serta
memahami sesuatu tersebut.
3. Potensi Mental Spritual Question (SP)
Merupakan potensi kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri
manusia yang berhubungan dengan jiwa dan keimanan dan akhlak
manusia.
4. Potensi Sosial Emosional
Yaitu merupakan potensi yang ada pada otak manusia fungsinya
mengendalikan amarah, serta bertanggung jawab terhadap sesuatu.

C. KONSEP FITRAH DALAM PENDIDIKAN ISLAM


Pada kesempatan kali ini, makalah dibuat bertujuan untuk
menguraikan konsepsi fitrah manusia dan persepektif pendidikan islam dalam
keterkaitannya.

Kaum Nashrani menyatakan bahwa manusia lahir dengan seperangkat


dosa waris, yakni dosa asal sebagai akibat dari perbuatan durhaka Adam. Di
lain pihak, aliran Behaviorisme memandang bahwa manusia lahir tidak
mempunyai kecenderungan baik maupun buruk. Teori ini terkenal dengan
teori tabularasa. Sedangkan Islam menawarkan sebuah konsep tentang hakikat
manusia yang tercermin dalam konsep fitrahnya. Para pakar Islam mencoba
memformulasikan makna fitrah, dan tiap-tiap formulasi yang dihasilkan
melalui kajian dan argumentasi yang kuat. Landasan dari tiap formulasi
tersebut adalah firman Allah SWT surat Ar – Rum ayat 30. Dari ayat tersebut
timbullah berbagai interpretasi tentang makna fitrah yaitu :

a. Fitrah berarti suci 


b. Fitrah berarti Islam 
c. Fitrah berarti mengakui ke-Esa-an Allah 
d. Fitrah berarti murni 
e. Fitrah berarti kondisi penciptaan manusia yang mempunyai
kecenderungan untuk menerima kebenaran. 
f. Fitrah berarti potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan
ma’rifatullah 
g. Fitrah berarti ketetapan atau kejadian asal manusia mengenai
kebahagiaan dan kesesatannya. 
h. Fitrah berarti tabi’at alami yang dimiliki manusia (human nature). 

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa fitrah merupakan


potensi-potensi dasar manusia yang memiliki sifat kebaikan dan kesucian
untuk menerima rangsangan dan pengaruh dari luar menuju pada
kesempurnaan dan kebenaran. Muhammad Fadhil al-Jamaly memandang
fitrah sebagai kemampuan dasar dan kecenderungan yang murni bagi setiap
individu. Fitrah ini lahir dalam bentuk yang paling sederhana dan terbatas,
kemudian saling mempengaruhi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga
tumbuh dan berkembang lebih baik, atau bahkan sebaliknya.

Pada faktor eksternal, lingkungan ikut mempengaruhi dinamika dan


arah pertumbuhan fitrah manusia. Semakin baik penempaan fitrah yang
dimiliki manusia, maka akan semakin baiklah kepribadiannya. Demikian pula
sebaliknya, penempaan dan pembinaan fitrah yang dimiliki tidak pada
fitrahnya maka manusia akan tergelincir dari tujuan hidupnya. Untuk itu salah
satu pembinaan fitrah dengan pendidikan.

Bila pengertian fitrah di atas dikaitkan dengan tugas dan fungsi


manusia dianalisa lebih lanjut, maka akan terlihat bahwa fitrah manusia
tersebut masih memerlukan beberapa upaya untuk merangsangnya
berkembang secara maksimal. Upaya tersebut adalah pendidikan.

Fitrah manusia bukan satu-satunya potensi manusia yang dapat


mencetak manusia sesuai dengan fungsinya, tetapi ada juga potensi lain yang
menjadi kebalikan dari fitrah ini, yaitu nafsu yang mempunyai kecenderungan
pada keburukan dan kejahatan (Q.S. 12:53). Untuk itulah fitrah harus tetap
dikembangkan dan dilestarikan. Fitrah dapat tumbuh dan berkembang secara
baik dan wajar apabila mendapat suplay yang dijiwai oleh wahyu Allah, tentu
saja hal ini harus didorong dengan pemahaman Islam secara kaffah dan
universal. Semakin tinggi tingkat interaksi seseorang dengan Islam, semakin
baik pula perkembangan fitrahnya.

Konsep fitrah menurut Islam tidak sama dengan teori Tabularasa John
Locke. Sebab dalam Islam, manusia sejak lahir telah memiliki berbagai bentuk
potensi yang bisa dikembangkan. Konsep fitrah manusia menurut Islam juga
berbeda jauh dengan teori nativisme A, Scopenhour, sebab dalam Islam
mengakui adanya pengaruh yang besar di luar diri manusia, baik insani
maupun non insani, dalam mengembangkan dan memodifikasi potensi yang
dimilikinya. Konsep fitrah menurut Islam juga berbeda dengan teori
konvergensi William Stern, sebab dalam pandangan Islam, perkembangan
potensi manusia itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh lingkungan semata
dan tidak bisa ditentukan melalui pendekatan kuantitas, sejauh mana peranan
keduanya (potensi dan lingkungan) dalam membentuk kepribadian manusia.
Ada kalanya potensi yang lebih dominan dalam membentuk kepribandian
manusia, tapi ada kalanya lingkungan yang lebih dominan, atau kedua-duanya
sama-sama dominan. Bahkan dalam Islam, di luar kedua pengaruh tersebut,
ada pengaruh lainnya yang juga ikut memberikan warna tersendiri bagi
pembentukan kepribadian manusia, yaitu faktor hidayah yang diberikan Allah
kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki.

Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa cakupan dari pengertian fitrah


manusia dalam perspektif pendidikan Islam sangat luas dibanding dengan
batasan yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan kontemporer dalam
melihat potensi manusia yang terkesan bersifat parsial dan lepas dari kerangka
bingkai religiusitas manusia yang sakral dan asasi.

D. IMPLIKASI FITRAH DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Pandangan Islam tentang fitrah ini memiliki implikasi bahwa


seandainya seseorang dibiarkan saja tidak menerima pendidikan maka ia
dengan sendirinya akan menjadi baik, sebab manusia diciptakan Tuhan
dengan dibekali potensi kebaikan. Lain halnya apabila manusia itu menerima
pendidikan, pendidikanlah yang dipandang sebagai factor pengaruh dan
penentu, apakah ia menjadi manusia baik atau buruk.

Permasalahannya adalah bahwa setiap manusia tidak dapat


melepaskan dirinya dari factor lingkungan. Lingkungan pendidikan, entah itu
lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat senantiasa akan
mempengaruhi potensi baik manusia. Di sinilah letak pentingnya pendidikan
bagi pengembangan potensi manusia. Potensi baik manusia tidak akan
berguna kalau tidak digunakan dan dikembangkan melalui pendidikan.
Potensi itu laksana segenggam emas dalam perut bumi, tidak ada gunanya
kalau tidak digali dan diolah demi kepentinganumat manusia.

Tugas utama pendidikan sesungguhnya adalah mengubah (transform)


potensi-potensi manusia menjadi kemampuan-kemampuan atau ketrampilan-
ketrampilan yang dapat dimanfaatkan manusia. Potensi intelektual mislanya
tidak ada gunanya kalau hanya disimpan di kepala. Ia akan menjadi berguan
manakala sudah diubah, melalui proses-proses pendidikan, menjadi
penemuan-penemuan ilmiah dalam bebagai bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi. Penemuan-penemuan ini pada dasarnya merupakan cerminan atau
hasil olahan dari upaya pengembangan potensi intelektual manusia yang
dulunya tersembunyi.

Pendidikan pada hakikatnya bermaksud menyelamatkan dunia dari


kehancuran yang tidak wajar. Dewasa ini telah mucul suatu fenomena yang
perlu dicermati dengan serius. Pendidikan model barat, pada satu sisi, telah
dapat mengeksploitasi potensi intelektual manusia sebesar-besarnya sehingga
melahirkan teknologi yang canggih. Namun pada sisi lain, pendidikan model
barat yang mereka laksanakan telah melupakan aspek moral dan spiritual yang
ada pada diri manusia. Akibatnya, mereka berhasil menciptakan manusia
modern yang hidup dalam dunia teknologi,tetapi jiwa mereka dihinggapi dan
dilanda krisis yang disebut dengan krisis moral-spiritual. Jiwa mereka hampa
dari nilai-nilai yang seyogianya menjadi dasar dari kehidupan mereka. Mereka
itu pandai, tetapi hakikatnya adalah bodoh karena berperilaku tanpa moral dan
brutal. Mereka itu kaya, tapi sesungguhnya mereka itu miskin, karena
kekayaannya diperoleh melalui jalan yang tidak halal. Itulah hasil pendidikan
yang mengabaikan aspek moral.

Seorang pendidik tidak dituntut untuk mencetak anak didiknya menjadi


orang ini dan itu, tetapi cukup dengan menumbuhkan dan mengembangkan
potensi dasarnya serta kecenderungan-kecenderungannya terhadap sesuatu
yang diminati sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimiliki anak.
Apabila anak mempunyai sifat dasar yang dipandang sebagai pembawaan
jahat, upaya pendidikan diarahkan dan difokuskan untuk menghilangkan serta
menggantikan atau setidaktidaknya mengurangi elemen-elemen kejahatan
tersebut. Bagi teori Lorenz yang membangun pembawaan agresi manusia
sejak lahir, perhatian pendidikan diarahkan untuk mencapai objek-objek
pengganti dan prosedur-prosedur sublimasi yang akan membantu
menghilangkan sifatsifat agresi ini. Jelasnya seorang pendidik tidak perlu
sibuk-sibuk menghilangkan dan menggantikan kejahatan yang telah dibawa
anak didik sejak lahir, melainkan berikhtiar sebaik-baiknya untuk menjauhkan
timbulnya pelajaran yang dapat menyebabkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak
baik. Konsep fitrah ini tidak terkecuali bagi pendidik muslim untuk berikhtiar
menanamkan tingkah laku yang sebaik-baiknya, karena fitrah itu tidak dapat
berkembang dengan sendirinya.

Pendidikan islam merupakan solusi bagi penyakit yang menimpa


manusia modern. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang dibangun atas
dasar fitrah manusia. Pendidikan Islam senantiasa bertujuan menimbulkan
pertimbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan
spiritual, intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh manusia.
Pendidikan Islam oleh karenanya selalu berusaha menyediakan jalan bagi
pertumbuhan manusia dalam segala aspek yaitu spiritual, intelektual,
imaajinasi, fisik, ilmiah, linguistic baik secara individual maupun secara
kolektif, dan memotivasi semua aspek ini untuk mencapai kebaikan dan
kesempurnaan hidup manusia.

Konsep fitrah memiliki tuntutan agar pendidikan Islam diarahkan


untuk bertumpu pada at-tauhid. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat
hubungan yang mengikat manusia dengan Allah SWT. Apa saja yang
dipelajari anak didik seharusnya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip
tauhid ini. Kepercayaan manusia akan adanya Allah melalui fitrahnya tidak
dapat disamakan dengan teori yang memandang bahwa monoteisme sebagai
suatu tingkat kepercayaan agama yang tertinggi. At-tauhid merupakan inti
dari semua ajaran agama yang dianugrahkan Allah kepada manusia,
munculnya kepercayaan tentang banyaknya Tuhan yang mendominasi
manusia hanya ketika at-tauhid telah dilupakan. Konsep attauhid bukan hanya
sekedar bahwa Allah itu Esa, tetapi juga masalah kekuasaan (otoritas).
Konsep at-tauhid inilah yang menekankan keagungan Allah yang harus
dipatuhi dan diperhatikan dalam kurikulum pendidikan Islam.

Berkaitan dengan hal tersebut Ali Syari’ati mengungkapkan lima


faktor yang secara kontinu dan simultan membangun personalitas anak didik,
yaitu :

• Faktor ibu yang memberi struktur dan dimensi kerohanian yang


penuh dengan kasih sayang dan kelembutan.
• Faktor ayah yang memberikan dimensi kekuatan akan hahrga diri.

• Faktor sekolah yang membantu terbentuknya sifat.

• Faktor masyarakat dan lingkungan yang memberikan sarana empiris


bagi anak.

• Faktor kebudayaan umum masyarakat yang memberi pengetahuan


dan pengalaman tentang corak kehidupan manusia.

Kelima faktor di atas merupakan stimulasi yang dapat


mengembangkan fitrah anak didik dalam berbagai dimensinya. Karena fitrah
manusia memiliki sifat yang suci dan bersih, orang tua/pendidik dituntut
untuk tetap menjaganya dengan cara membiasakan hidup anak didiknya pada
kebiasaan yang baik, serta melarang mereka membiasakan diri untuk berbuat
buruk.

Demikianlah Filsafat Pendidikan Islam memandang manusia sebagai


makhluk yang memiliki potensi baik (fitrah). Potensi ini harus dikembangkan
sedemikian rupa, agar manusia tetap berada dalam kebaikannya, atau bahasa
agama menyebutnya Hanif. Upaya pengembangan ini merupakan tugas
utama pendidikan Islam. Jadi, pada intinya mendidik menurut Islam usaha
mempertahankan posisi manusia agar tetap dalam keadaan fitrah. Lingkungan
keluarga, sekolah dan masyarakat senantiasa dikondisikan dengan sengaja
agar manusia tetap dalam potensi baiknya.
BAB 3
PENUTUP
A. KESIMPULAN

 Fitrah manusia adalah semua bentuk potensi yang telah dianugerahkan


oleh Allah kepada manusia semenjak proses penciptaannya di alam rahim
guna kelangsungan hidupnya di atas dunia serta menjalankan tugas dan
fungsinya sebagai makhluk terbaik yang diciptakan oleh Allah swt.
 Macam-macam Fitrah manusia adalah sebagai berikut:
a.          Potensi Fisik (Psychomotoric)
b.         Potensi Mental Intelektual (IQ)
c.          Potensi Mental Spritual Question (SP)
d.         Potensi Sosial Emosional
 Hubungan fitrah dengan pendidikan adalah potensi yang ada atau
kemampuan jasmani dan rohaniah yang dapat dikembangkan tersebut.
Pendidikan merupakan sarana (alat) yang menentukan sampai dimana tiitk
optimal kemampuan-kemampuan tersebut untuk mencapainya.
 Konsep Fitrah adalah sebagai berikut:
a. Konsep fitrah mempercayai bahwa secara alamiah manusia itu
positif (fitrah), baik secara jasadi, dan ruhani (sepiritual).
b. Mengakui bahwa komponen terpenting manusia adalah Qolbu
(Aqidah).
 Dalam Rangka membina dan mengembangkan seluruh potensi manusia,
baik potensi jasmani maupun rohani, secara efektif dapat dilakukan
melalui pendidikan.
B. SARAN

Manusia memelukan Pendidikan untuk mengembangkan potensi dalm


dirinya. Hal ini dikarenakan,fitrah manusia tidak bisa dibiarkan berkembang
bebas. Fitrah tersebut harus dididik dan diarahkan agar sesuai dengan peran
manusia diciptakan di muka bumi ini. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa
fitrah mempunyai dua kecenderungan yang berlawana, yaitu kearah kebaikan
dan ke burukan. Untuk itu, proses pendidikan harus dilakukan, agar manusia
tetap berada dalam lingkup kebaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Suharto, Toto. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta. Ar – Ruzz Media.

Quthub, Sayyid. 2002. Manhaj Islam Keselarasan Agama dengan Fitrah Manusia.
Yogyakarta. Madani Pustaka Hikmah.

http://bacindul.blogspot.com/2012/07/makalah-fitrah-manusia-dalam-pendidikan.html
http://abahanom-kng.blogspot.com/2012/10/tentang-fitrah-manusia.html
http://kurniawaalex.blogspot.com/2014/10/makalah-fitrah-manusia.html