Anda di halaman 1dari 9

Nama : Dinda Indria Nur Fajriatin

NIM : D41190766
Gol :B

SOAL !
1. Terangkanla pengertian bahasa indonesia ragam ilmiah!
2. Sebutkan ranah penggunaan bahasa ragam ragam ilmiah!
3. Sebuatkan dan jelaskan ciri-ciri bahasa indonesia ragam ilmiah!
4. Analisalah contoh-contoh dari ciri bahasa indonesia ragam ilmiah di atas, butir 2.3,
berkaitan dengan benar dan salahnya!
5. Jika sudah anda temukan, carilah penggunaan bahasa indonesia ragam ilmiah pada
artikel atau makalah atau laporan penelitian, baik yang memenuhi standar ciri-ciri
bahasa indonesia ragam ilmiah maupun yang tidak!
6. Analisisah kesalahannya dan kebenarannya!
7. Diskusikan hasilnya!

JAWABAN !
1. Pengertian bahasa indonesia Ragam bahasa yang digunakan untuk kegiatan yang
besifat ilmiah (disebut juga ragam bahasa baku). Kalimat ilmiah adalah tulisan yang
disusun secara sistematis dan logis. Bahasa tulis ilmiah merupakan perpaduan ragam
bahasa tulis dan ragam bahasa ilmiah. Selain itu, ragam baasa ilmiah harus singkat,
padat, jelas, dan logis karena bahasa ragam ilmiah digunakan sebagai sarana untuk
mengungkapkan pola pikir atau gagasan secara ilmiah melalui tulisan sehingga dapat
diterima sehingga dapat diterima oleh orang lain atau pembaca dengan benar.
2. Ranah penggunaan bahasa ragam ilmiah :
 Laporan yang berbentuk naskah, seperti : artikel, makalah, laporan hasil
penelitian, dan laporan yang berbentuk surat,seperti surat-surat resmi.
 Skripsi, tesis, dan disertasi.
 Laporan pekerjaan yang berbentuk surat, atau naskah.
 Laporan pertanggung jawaban seperti : laporan kegiatan, laporan keuangan, dan
laporan pemegang saham.
3. Pada dasarnya ada 2, yaitu ciri umum dan ciri khusus. Ciri umum adalah bahasa yang
digunakan harus bersifat ilmiah, artina sesuai dengan kaidah tata bahasa baku bahasa
indonesia. Ciri khususnya adalah:
a. Cendekia
Cendikia yang dimaksud adalah bahasa indonesia yang digunakan dalam
penulisan karya ilmiah mampu mengungkapkan hasi berpikir logis secara
tepat. Hal itu diwujudkan dalam penyusunan atau pengorganisasian bahasa
secara sistematis, artinya teratur dan runtut sehingga menunjukkan kelogisan
berpikir seseorang atau penulis
b. Lugas dan Logis
Lugas yang dimaksud adalah bahasa indonesia yang digunakan dalam
penulisan karya ilmiah harus bermakna harfiah dan tidak bermakna ganda,
sedangkan ciri logis adalah bahasa indonesia yang digunakan dalam penulisan
karya ilmiah sesuai dengan logika atau dapat diterima oleh aka sehat.
c. Jelas
Jelas yang dimaksud adalah bahasa indonesia yang digunakan dalam penulisan
karya ilmiah jelas struktur kalimat dan maknanya. Hal itu sangat membantu
penulis daam memaparkan gagasan atau pola pikirnya dan mempermudah
pembaca untuk memahami makna ang dimaksudkan.
d. Padat dan Ringkas
Padat yang dimaksud adalah gagasan atau pola pikir yang akan diungkapkan
tidak tercampur unsur-unsur lain yang tidak ada hubungannya atau tidak
diperlukan. Ciri ringkas yang dimaksud adalah bahasa indonesia yang
digunakan daam penulisan karya ilmiah harus singkat, tidak menggunakan
kata-kata yang tidak diperlukan atau kata-kata yang berlebihan.
e. Formal dan Objektif
Formal yang dimaksud mengacu pada pandangan bahwa komunikasi ilmiah
melalui tulisan ilmiah merupakan komunikasi formal atau resmi sehingga
bahasa indonesia yang digunakannya harus bahasa indonesia formal, artinya
bahasa indonesia yang digunakan harus bahasa yang mencakup seluruh tataran
struktur kebahasan. Penggunaan bahasa seperti itulah yang menunjukkan ciri
objektif, yaitu dapat diukur kebenarannya secara terbuka oleh umum.
f. Gagasan sebagai Pangkal Tolak
Gagasan sebagai pangkal tolak yang dimaksud adalah bahasa yang digunakan
dalam penulisan karya ilmiah harus berorientasi pada gagasan atau pola pikir
bukan pada penulis. Gagasan sebagai pangkal tolak terkait dengan objektivitas
penulis, artinya penggunaan bahasa tersebut secara dominan harus bertolak
pada objek yang dibicarakan dan bukan pada penulis secara pribadi. Oleh
karena itu, obejktivitas harus ditandai dengan upaya penulis untuk
menghindari penggunaan kata saya, kami, dan kita.
g. Penggunaan istilah Teknis
Penggunaan istilah teknis yang dimaksud adalah bahasa indonesia yang
digunakan dalam penulisan karya ilmiah harus berfungsi sebagai wacana
teknis, artinya sesuai dengan bidang keilmuannya yang dilengkapi dengan
peristillahan teknis yang meliputi penulisan angka, lambang, dan istilah sesuai
dengan bidang ilmu.
h. Konsisten
Konsisten yang dimaksud adalah bahasa indonesia yang digunakan dalam
penulisan karya ilmiah mulai dari tataran kecil sampai dengan tataran terbesar
dan terluas (keseluruhan struktur bahasa) harus ajeg. Arti ajeg adalah taat asas
atau selalu menggunakan bentuk-bentuk atau unsur-unsur tersebut dari awal
tulisan dari awal tulisan sampai akhir tulisan.
4. Contoh-contoh Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah dalam bentuk yang salah sekaligus
bentuk yang benar.
a. Cendekia
Contoh :
1) Kemajuan informasi pada era globalisasi ini dikhawatirkan akan terjadi
pergeseran nilai-nilai moral bangsa Indonesia terutama pengaruh budaya barat
yang masuk ke Negara Indonesia yang dimungkinkan tidak sesuai dengan
nilai-nilai budaya dan moral bangsa Indonesia.
2) Pergeseran nilai-nilai budaya bangsa terjadi karena masuknya pengaruh
budaya barat ke Indonesia.

b. Lugas dan Logis


Contoh:
1) Kalau pada zaman Sunan Kalijaga dalam kesenian wayang termasuk
ceritanya digunakan sebagai media penyebaran agama. Maka di masa
sekarang lebih tepat apabila penanaman budi pekerti dalam cerita wayang
melalui pengajaran apresiasi.
2) Kalau pada zaman Sunan Kalijaga, kesenian wayang, termasuk ceritanya,
digunakan sebagai media penyebaran agama; sekarang, kesenian wayang
digunakan sebagai media penanaman budi pekerti melalui apresiasi.
3) Saat terjadi kekacauan di pasar, pencuri berhasil ditangkap sama polisi.
4) Saat terjadi kekacauan di pasar, polisi berhasil menangkap pencuri.
c. Jelas
Contoh:
1) Untuk mengetahui apakah baik dan buruknya pribadi seseorang dari
tingkah dan lakunya dalam sehari-hari.
2) Baik buruknya pribadi seseorang dapat dilihat dari tingkah lakunya sehari-
hari.
3) Perkara diajukan kemeja hijau berjumlah lima puluh satu. Sedangkan
perkara disidangkan berjumlah dua puluh satu.
4) Perkara yang diajukan ke meja hijau berjumlah 51 buah, sedangkan
perkara yang telah disidangkan berjumlah 21 buah.
d. Padat dan Ringkas
Contoh:
1) Pendidikan agama di sekolah dasar bagaimanapun tidak akan terlaksana
dengan baik tanpa adanya dukungan yang baik pula dari orang tua murid
dalam keluarga.
2) Pendidikan agama di SD tidak akan terlaksana dengan baik tanpa
dukungan orang tua.
e. Formal dan Objektif
Contoh:
1) Menurut Moeliono mengatakan bahwa bahasa ilmiah itu lugas, eksak, dan
menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam pengungkapan. (1989)
2) Menurut Moeliono (1989), bahasa ilmiah itu lugas, eksak, dan
menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam pengungkapan.
3) Moeliono (1989) mengatakan bahwa bahasa ilmiah itu lugas, eksak, dan
menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam pengungkapan.
f. Gagasan sebagai Pangkal Tolak
Contoh:
1) Kita semua tahu bahwa pendidikan itu dilingkungan keluarga sangat
penting dalam menanamkan moral Pancasila.
2) Perlu dikatahui bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangat penting
dalam penanaman moral Pancasila.
g. Penggunaan Istilah Teknis
Contoh:
1) Hazard Analysis Critical Control Point/HACCP adalah sistem penjaminan
mutu dan keamanan pangan yang sangat dianjurkan oleh badan keamanan
pangan internasional Codex Alimentarius Commission untuk diterapkan di
industri pangan
2) Hazard Anaylisis Critical Control Point (HACCP) adalah sistem
penjaminan mutu dan keamanan pangan yang sangat dianjurkan oleh badan
keamanan pangan internasional Codex Alimentarius Commission (CAC)
untuk diterapkan di industri pangan.

h. Konsisten
Contoh:
1) Perlucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting bagi muslim
Bosnia. Untuk mereka yang penting adalah pencabutan embargo senjata.
2) Perlucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting bagi muslim
Bosnia. Bagi mereka yang penting adalah pencabutan embargo senjata.

5. Carilah penggunaan bahasa Indonesia ragam ilmiah pada artikel atau makalah atau
laporan penelitian, baik yang memenuhi standar ciri-ciri bahasa Indonesia ragam
ilmiah maupun yang tidak!

Nama : Yogi Aprianto


NIM : H1021131032
Prodi : FISIKA
Tema : Pentingnya Mengontrol Aktifitas Remaja Usia Sekolah

1. Latar Belakang
Seorang manusia memiliki suatu tahap-tahap pertumbuhan usianya. Ada saat
pertumbuhan usia seorang manusia yang akan mengalami tahap transisi (perubahan)
yang sangat penting yaitu tahap usia remaja. Pada tahap remaja seorang manusia
mulai memunculkan rasa keingintahuannya yang besar terhadap sesuatu. Rasa
keingintahuan itu diwujudkannya dengan melakukan berbagai macam akifitas, supaya
apa yang menjadi rasa keingitahuannya terjawab contoh pada saat seorang anak
remaja melihat seekor burung terbang dia akan bertanya-tanya apa yang menyebabkan
burung itu bisa terbang dan rasa keingintahuannya tersebut diwujudkannya dengan
aktifitas membaca buku tentang burung.
Seorang anak usia remaja juga memiliki aktifitas yang wajib ia lakukan yaitu
bersekolah. Pada aktifitas bersekolah anak remaja akan lebih dalam mempunyai rasa
keingitahuannya tentang sesuatu karena di sekolah ia akan menemukan hal-hal baru
baginya. Aktifitas bersekolah seorang anak remaja tidak hanya terpaku pada rasa
keingitahuannya tentang ilmu pengetahuan yang didapatnya tetapi, ada juga hal-hal
yang sia-sia yang menjadi rasa keingintahuan remaja yang salah yaitu, ketika remaja
memiliki rasa keingintahuan tentang pergaulan dan mewujudkan aktifitasnya dengan
cara mengabiskan waktu untuk terus bersama-sama dengan teman-teman
pergaulannya. Pergaulan yang akan menjadi aktifitas yang salah jika, aktifitas itu
dilakukan hanya untuk bermain-main dan mengabaikan belajarnya, hal ini juga yang
dapat mengindikasikan pergaulan menjadi hal yang negatif walaupun, tidak semua
pergaulan suatu hal yang negatif.
Pergaulan yang mengabaikan proses belajar inilah yang harus dikontrol dalam
perwujudan nyatanya. Peran kedua orang tua sangat penting dibutuhkan dalam
mengontrol pergaulan seseorang anak remajanya supaya tidak terjerumusan
dipergaulanan yang terindikasi pergaulan yang negatif. Pengontrolan aktifitas
pergaulan juga perlu ditelaah dahulu bagi orang tua, karena pergaulan juga penting
selama pergaulan itu bersifat positif bagi seorang anak usia remaja.
2. Rumusan Masalah
2.1. Bagaimana cara orang tua untuk mengontrol aktifitas seorang anak dalam
pergaulannya?
2.2. Pergaualan seperti apa yang menyebabkan suatu masalah bagi seorang anak
remaja?
2.3. Seberapa besar penting peran orang tua untuk mengontrol aktifitas seorang anak
remaja mereka?
3. Batasan Masalah
3.1 Cara-cara yang efektif untuk mengontrol aktifitas pergaualan seorang anak
remaja.
3.2 Jenis-jenis Pergaulan apa saja yang dikategorikan positif dan negatif bagi anak ?
3.3. Meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya dalam mengontrol seorang
anak remajanya.
4. Tujuan Penelitian
4.1. Menemukan cara-cara yang efektif untuk mengontrol aktifitas pergaulan anak
remaja
4.2. Mengetahui jenis-jenis pergaulan yang positif dan negatif bagi seorang anak
remaja
4.3. Menumbuhkan kesadaran bagi kedua orang tua akan pentingnya peran untuk
mengontrol pergaualan anaknya
5. Manfaat Penelitian
5.1 Mengajarkan cara-cara yang efektif untuk mengontrol aktivitas pergaulan anak
remaja
5.2 Dapat mengklasifikasikan dan membedakan aktifitas pergaualan yang positif dan
negative
5.3. Menjadi bahan sumber referensi bacaan bagi kedua orang tua dalam mencari
pengetahuan tentang mendidik anaknya

Sumber: http://blogmfip.blogspot.com/2014/03/contoh-karya-tulis-ilmiah-
perbaikan.html
6. Analisislah kesalahannya dan kebenarannya!
Nama : Yogi Aprianto
NIM : H1021131032
Prodi : FISIKA
Tema : Pentingnya Mengontrol Aktifitas Remaja Usia Sekolah

1 . Latar Belakang
Seorang manusia memiliki suatu tahap-tahap pertumbuhan usianya. Ada saat
pertumbuhan usia seorang manusia yang akan mengalami tahap transisi (perubahan)
yang sangat penting yaitu tahap usia remaja. Pada tahap remaja seorang manusia
mulai memunculkan rasa keingintahuannya yang besar terhadap sesuatu. Rasa
keingintahuan itu diwujudkannya dengan melakukan berbagai macam akifitas, supaya
apa yang menjadi rasa keingitahuannya terjawab (seharusnya diberi tanda titik [-2])
contoh pada saat seorang anak remaja melihat seekor burung terbang dia akan
bertanya-tanya apa yang menyebabkan burung itu bisa terbang dan rasa
keingintahuannya tersebut diwujudkannya dengan aktifitas membaca buku tentang
burung.
Seorang anak usia remaja juga memiliki aktifitas yang wajib ia lakukan yaitu
bersekolah. Pada aktifitas bersekolah anak remaja akan lebih dalam mempunyai rasa
keingitahuannya tentang sesuatu (seharusnya diberi tanda koma [-2]) karena di
sekolah ia akan menemukan hal-hal baru baginya. Aktifitas bersekolah seorang anak
remaja tidak hanya terpaku pada rasa keingitahuannya tentang ilmu pengetahuan yang
didapatnya tetapi, (seharusnya koma setelah kata “didapatnya”[-2]) ada juga hal-hal
yang (diksi [-5]) sia-sia yang menjadi rasa keingintahuan remaja yang salah yaitu,
(seharusnya koma setelah kata “salah”[-2]) ketika remaja memiliki rasa
keingintahuan tentang pergaulan dan mewujudkan aktifitasnya dengan cara
mengabiskan waktu untuk terus bersama-sama dengan teman-teman pergaulannya.
Pergaulan yang (diksi) akan menjadi aktifitas yang salah jika, (seharusnya koma
setelah kata “salah” [-2]) aktifitas itu dilakukan hanya untuk bermain-main dan
mengabaikan belajarnya, hal ini juga yang dapat mengindikasikan pergaulan menjadi
hal yang negatif walaupun, (seharusnya koma setelah kata “negatif” [-2]) tidak semua
pergaulan suatu hal yang negatif.
Pergaulan yang mengabaikan proses belajar inilah yang harus dikontrol dalam
perwujudan nyatanya. Peran kedua orang tua sangat penting dibutuhkan dalam
mengontrol pergaulan seseorang anak remajanya (seharusnya diberi tanda koma [-2])
supaya tidak terjerumusan (seharusnya “tidak terjerumus” [-5]) dipergaulanan yang
terindikasi pergaulan yang negatif. Pengontrolan aktifitas pergaulan juga perlu
ditelaah dahulu bagi orang tua, karena pergaulan juga penting selama pergaulan itu
bersifat positif bagi seorang anak usia remaja.

2. Rumusan Masalah
2.1. Bagaimana cara orang tua untuk mengontrol aktifitas seorang anak dalam
pergaulannya?
2.2. Pergaualan seperti apa yang menyebabkan suatu masalah bagi seorang anak
remaja?
2.3. Seberapa besar (diksi -5]) penting peran orang tua untuk mengontrol aktifitas
seorang anak remaja mereka?

3. Batasan Masalah
3.1. Cara-cara yang efektif untuk mengontrol aktifitas pergaualan seorang anak
remaja.
3.2. Jenis-jenis pergaulan apa saja yang dikategorikan positif dan negatif bagi anak?
(struktur kalimat [-10])
3.3. Meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya dalam mengontrol seorang
anak remajanya.

4. Tujuan Penelitian
4.1. Menemukan cara-cara yang efektif untuk mengontrol aktifitas pergaulan anak
remaja (seharusnya diberi tandai titik [-2])
4.2. Mengetahui jenis-jenis pergaulan yang positif dan negatif bagi seorang anak
remaja (seharusnya diberi tandai titik [-2])
4.3. Menumbuhkan kesadaran bagi kedua orang tua (pemborosan kata, kata “kedua”
seharusnya dihilangkan[-5]) akan pentingnya peran untuk mengontrol pergaualan
anaknya (seharusnya diberi tandai titik [-2])

5. Manfaat Penelitian
5.1. Mengajarkan cara-cara yang efektif untuk mengontrol aktivitas pergaulan anak
remaja (seharusnya diberi tandai titik [-2])
5.2. Dapat mengklasifikasikan dan membedakan aktifitas pergaualan yang positif dan
negative (seharusnya kata “negative” dimiringkan, karena termasuk bahasa asing[-5])
(seharusnya diberi tandai titik [-2])
5.3. Menjadi bahan sumber referensi bacaan bagi kedua orang tua (pemborosan kata,
kata “kedua” seharusnya dihilangkan) dalam mencari pengetahuan tentang mendidik
anaknya (seharusnya diberi tandai titik [-2])