Anda di halaman 1dari 20

HAK JAMINAN

Dosen Pengajar : Ilmiati, S.Ag., M.H.

Makalah Ini Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Hukum
Perdata Pada Program Studi Hukum Keluarga Islam
Fakultas Syariah dan Hukum Islam

OLEH :

KELOMPOK 2

1. Khusnul Khatimah (0181002)


2. Rahmatang (01181010)
3. Asriana Wahyuni (01181019)
4. M. Abrar (01181029)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI


(IAIN) BONE
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Hak Jaminan ini dengan baik meskipun banyak kekurangan
didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Ilmiati, S.Ag., MH. selaku
Dosen mata kuliah Hukum Perdata yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab
itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang
akan datang.

Watampone,10 Desember 2019

Kelompok 2

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................i

DAFTAR ISI.........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................1

A. Latar Belakang...........................................................................................1
B. Rumusan masalah......................................................................................1
C. Tujuan pembahasan...................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................3

A. Pengertian Hak Jaminan............................................................................3


B. Jenis-jenis Jaminan....................................................................................3
C. Gadai..........................................................................................................5
D. Jaminan Fidusia.........................................................................................8
E. Hak Tanggungan.......................................................................................10
F. Hipotek......................................................................................................13

BAB III PENUTUP...............................................................................................16

A. Kesimpulan................................................................................................16
B. Saran..........................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................17

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Dalam rangka Pembangunan Ekonomi Indonesia bidang hukum yang


meminta perhatian yang dalam pembinaan hukumnya di antaranya ialah lembaga
jaminan. Pembinaan hukum terhadap bidang hukum jaminan tersebut sebagai
konsekuensi logis dan merupakan perwujudan tanggung jawab dari pembinaan
hukum untuk mengimbangi lajunya kegiata-kegiatan dalam bidang perdagangan,
perindustrian, pengangkutan, dan kegiatan-kegiatan dalam proyek pembangunan.

Lembaga jaminan tergolong bidang hukum yang bersifat netral tidak


mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupan spiritual dan budaya bangsa .
sehingga terhadap bidang hukum demikian tidak ada keberatan untuk diatur
dengan segera.

Hukum jaminan tergolong bidang hukum yang belakangan ini secara


populer disebut The Economic Law (Hukum Ekonomi), Wiertschafrecht atau
Droit Economique yang mempunyai fungsi menunjang kemajuan ekonomi dan
kemajuan pembangunan umumnya.

B. Rumusan Masalah
1) Apa pengertian hak jaminan?
2) Apa saja yang termasuk jenis-jenis jaminan?
3) Apa itu gadai?
4) Apa itu jaminan fidusia?
5) Apa itu hak tanggungan?
6) Apa itu hipotek?
C. Tujuan Pembahasan
1) Untuk mengetahui pengertian hak jaminan.
2) Untuk mengetahui jenis-jenis jaminan.
3) Untuk mengetahui tentang gadai.

1
4) Untuk mengetahui tentang jaminan fidusia.
5) Untuk mengetahui tentang hak tanggungan.
6) Untuk mengetahui tentang hipotek.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Hak Jaminan

Hak jaminan adalah hak-hak kreditur untuk didahulukan dalam


pengambilan pelunasan daripada kreditur lain, atas hasil penjualan suatu benda
tertentu yang secara khusus diperikatan.

Hak jaminan (Zakerheids rechten) adalah hak (een rect) yang memberikan
kedudukan yang lebih baik daripada kreditur-kreditur lainnya. Maksud kedudukan
lebih baik adalah lebih baik didalam usahanya mendapatkan pemenuhan
(pelunasan) piutangnya dibanding dengan kreditur lain yang tidak mempunyai hak
jaminan. Dengan kata lain pemenuhan piutangnya lebih terjamin, tetapi bukan
berarti pasti terjamin.

Dalam Pasal 1131 KUH Perdata diletakkan asas umum hak seorang
kreditur terhadap debiturnya “Segala kebendaan si berhutang, baik bergerak
maupun tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada
dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan.”
Hal ini menunjukkan bahwa piutang kreditur menindih segala harta debitur tanpa
kecuali.

B. Jenis-jenis Jaminan

Pada dasarnya, jaminan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu jaminan


kebendaan dan jaminan perorangan. Jaminan dengan jaminan kebendaan
(materiil) adalah jaminan yang berupa hak mutlak atas suatu benda yang ciri-
cirinya mempunyai hubungan langsung atas benda tertentu, dapat dipertahankan
terhadap siapa pun, selali mengikuti bendanya dan dapat dialihkan. Sementara itu,
jaminan perorangan (immateriil) adalah jaminan yang menimbulkan hubungan

3
langsung pada perorangan tertentu, hanya dapat dipertahankan terhadap debitur
tertentu, terhadap harta kekayaan debitur umumnya.1

Menurut Subekti, jaminan perorangan adalah suatu perjanjian antara


seorang berpiutang atau kreditur dengan seorang ketiga yang menjamin
dipenuhinya kewajiban-kewajiban si berhutang atau debitur. Yang termasuk
dalam jaminan perorangan adalah :

a. Penanggungan adalah orang lain yang dapat ditagih;


b. Tanggung-menanggung;
c. Perjanjian asuransi

Kemudian selanjutnya, jaminan kebendaan adalah jaminan yang diberikan


kepada kreditur atau suatu kebendaan milik debitur hak untuk memanfaatkan
benda tersebut jika debitur melakukan wanprestasi. Kemudian benda milik debitur
yang dijamin dapat berupa benda bergerak maupun benda tidak bergerak. Jaminan
kebendaan dapat dijaminkan dengan :

1. Gadai;
2. Hipotek;
3. Credietverband;
4. Hak tanggungan; dan
5. Jaminan fidusia.

Dari beberapa jenis jaminan tersebut di atas, baik jaminan perorangan


maupun jaminan kebendaan, yang masih berlaku adalah gadai, hak tanggungan,
jamian fidusia, borg, tanggung menanggung, dan perjanjian garansi.sedangkan
hipotek dan credietverband tidak berlaku lagi, karena telah dicabut dengan UU
No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda
yang Berkaitan dengan Tanah.

1
Sri Soedewi Masjchoen Sofyan, sebagaimana dikutip dari Halim HS, Pengantar Hukum
Perdata Tertulis, (Jakarta: Sinar Grafika. 2008) hal. 112

4
C. Gadai

Gadai adalah salah satu lembaga jaminan yang akan dapat digunakan
untuk mengikat objek jaminan utang yang berupa barang bergerak. Gadai diatur
oleh ketentuan Pasal 1150 KUHPerdata sampai dengan Pasal 1160 KUHPerdata.2

Gadai pada dasarnya adalah suatu hak kebendaan atas benda bergerak
milik orang lain dan bertujuan untuk tidak memberi kenikmatan atas benda
tersebut, melainkan untuk memberi jaminan bagi pelunasan hutang orang yang
memberikan jaminan tersebut.

Gadai diperjanjikan dengan maksud unruk memberikan jaminan atas suatu


kewajiban prestasi tertentu, yang pada umumnya tidak selalu merupakan
perjanjian utang piutang dan karenanya dapat diketahui bahwa perjanjian gadai
mengabdi kepada perjanjian pokoknya atau perjanjian gadai tersebut merupakan
perjanjian bersofat accessoir. Pada prinsipnya (barang) gadai dapat dipakai untuk
menjamin setiap kewajiban prestasi tertentu.

Dari ketentuan Pasal 1150 KUHPerdata bahwa mengenai objek gadai


adalah benda bergerak. Benda bergerak tersebut meliputi benda bergerak yang
berwujud (lichamelijke zaken) dan yang tidak berwujud (onlichemelijke zaken).
Benda bergerak tidak berwujud berupa hak untuk mendapatkan pembayarn uang,
yaitu berupa surat-surat piutang atas nama, atas nama, atas tunjuk.

Adapun dasar hukum gadai dapat dilihat pada peraturan perundang-


undangan berikut ini:

1) Pasal 1150 KUHperdata sampai dengan Pasal 1160 Buku II KUHPerdata;


2) Artikel 1196vv, titel 19 Buku III NBW;
3) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1969 tentang Perusahaan Jawatan
Pegadaian;
4) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1970 tentang Perubahan Peraturan
Pemerintah Nomor 7 Tahun 1969 tentang Perusahaan Jawatan Pegadaian;
2
Osgar S. Matompo dan Moh. Nafri Harun, Pengantar Hukum Perdata, (Malang: Setara
Press, 2017) hal. 63

5
5) Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2000 tentang Perusahaan Umum
(Perum) Pegadaian;
6) Peraturan Pemerintah No 51 Tahun 2011 tentang Perusahaan Perseroan
(Persero).

Frieda Husni Hasbullah memberikan sifat khusus hak gadai antara lain:

a) Accesoir, yaitu berlakunya hak gadai tergantung pada ada atau tidaknya
perjanjian pokok atau hutang-piutang, artinya, apabila suatu perjanjian
hutang-piutang sah, maka perjanjian gadai sebagai perjanjian tambahan
juga juga sah, dan sebaliknya jika perjanjian hutang-piutang tidak sah,
maka perjanjian gadai juga tidak sah.
b) Ketentuan Pasal 1160 KUHPerdata, barang gadai tidak dapat dibagi-bagi
(ondeelbaar) sekalipun utangnya di antara para waris si berhutang atau di
antara para waris si berpiutang dapat dibagi-bagi.
c) Barang yang digadaikan merupakan jaminan bagi pembayaran kembali
hutang debitur kepada kreditur,
d) Barang gadai berada dalam kekuasaan kreditur atau penerima gadai
sebagai akibat adanya syarat inbezitstelling.
 Hak dan kewajiban penerima gadai (pandnemer) dan pemberi gadai
(pandgever)
a. Hak penerima/pemegang gadai (kreditur)
1) Kreditur dapat melakukan parate executie yaitu menjual atas
kekuasaan sendiri benda-benda debitur dalam hal debitur lalai atau
wanprestasi
2) Kreditur berhak menjual benda bergerak milik debitur melalui
perantara hakim dan disebut rieel executie.
3) Sebagaimana ketentuan Pasal 1157 ayat (1) KUHPerdata, bahwa
seorang kreditur berhak mendapatkan penggantian dari debitur semua
biaya yang bermanfaat yang telah dikeluarkan kreditur untuk
keselamatan benda gadai.

6
4) Selanjutnya dalam Pasal 1158 KUHPerdata menyatakan, apabila suatu
piutang digadaikan dan piutang itu menghasilkan bunga, maka
kreditur berhak memperhitungkan bunga piutang tersebut untuk
dibayarkan kepadanya.
5) Kreditur mempunyai hak retetnie. Hal ini sesuai ketentusn Pasal 1159
KUHPerdata.
b. Kewajiban penerima gadai
1) Penerima gadai hanya menguasai benda selaku houder bukan sebagai
bizitter (pemilik gadai) serta menjaga keselamatannya.
2) Kreditur wajib memberi tahu debitur apabila benda gadai akan dijual
selambat-lambatnya pada hari yang berikutnya
3) Kreditur bertanggung jawab atas hilangnya atau merosotnya nilai
benda gadai jika terjadi karena kelalaiannya
4) Kreditur wajib mengembalikan benda gadai setelah hutang pokok,
bunga, biaya, atau ongkos untuk penyelamatan benda yang
bersangkutan telah dibayar lunas.

Kemudian selanjutnya, hak dan kewajiban pemberi/pemilik gadai dapat


diuraikan sebagai berikut:

a. Hak pemberi/pemilik gadai (debitur)


1) Apabila hasil penjualan barang gadai setelah diperhitungkan untuk
pelunasan pembayaran hutang debitur termasuk beban bunga dan
biaya-biaya lain masih berlebih, maka debitur berhak menerima
kelebihan dari hasil penjualan barang gadai tersebut.
2) Apabila barang gadai yang diserahkan oleh debitur kepada kreditur
menghasilkan pendapatan sehingga dapat dipergunakan untuk
mengurangi hutang debitur, maka dimungkinkan debitur yang
bersangkutan meminta diperhitungkan ke dalam pembayaran
hutagnya.
b. Kewajiban pemberi gadai

7
1) Pemberi gadai wajib menyerahkan fisik benda yang digadaikan
kepada penerima gadai (kreditur)
2) Debitur pemberi gadai menyerahkan kelengkapan dokumen (jika ada)
sebagai bukti kepemilikan barang gadai yang bersangkutan
3) Pemberi gadai wajib mengganti semua biaya yang berguna dan
diperlukan yang telah dikeluarkan oleh kreditur guan keselamatan
barang gadai. Hal ini sesuai ketentuan Pasal 1157 ayat (2) KUH
Perdata.
 Hapusnya Gadai

Hak gadai dihapus apabila: (1) dengan hapusnya suatu perikatan pokok,
dimana perjanjian hutang-piutang sehubungan telah dibayarnya hutang pokok
ditambah bunga dan biaya lainnya seperti biaya pemeliharaan benda gadai, (2)
apabila benda lepas atau tidak lagi berada dalam kekuasaan pemegang gadai.

D. Jaminan Fidusia

Fidusia dalam Bahasa Indonesia disebut dengan istilah “penyerahan hak


milik secara kepercayaan”. Dalam terminologi Belanda sering disebut dengan
istilah lengkapnya berupa Fidusiare Eigendoms Overdracht (FEO), sedangkan
dalam Bahasa Inggrisnya secara lengkap sering disebut dengan istilah Fidusiary
Transfer Of Ownership.

Pengertian fidusia berdasarkan Pasal 1 Angka 1 Undang Undang Nomor


42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu
benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak
kepemilikannya dialihkan tetap dalam penguasaan pemilik benda.berdasarkan
pasal tersebut fidusia dirumuskan secara umum, yang belum dihubungkan atau
dikaitkan dengan suatu [erjanjian pokok jadi belum dikaitkan dengan hutang.

Adapun berdasarkan pengertian tersebut di atas, dapat dirumuskan unsur-


unsur fidusia sebagai berikut:

a) Unsur secara kepercayaan dari sudut pemberi fidusia

8
b) Unsur kepercayaan dari sudut penerima fidusia
c) Unsur tetap dalam penguasaan pemilik benda
d) Kesan ke luar tetap beradanya benda jaminan di tangan pemberi fidusia
e) Hak mendahului
 Dasar hukum jaminan fidusia

Lembaga jaminan fidusia merupakan lembaga jaminan yang secara yuridis


formal diakui sejak berlakunya Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang
Jaminan Fidusia.

Suatu perjanjian accessoir, perjanjian jaminan fidusia memiliki ciri-ciri


sebagaimana diatur dalam Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999 sebagai
berikut:

a) Memberikan kedudukan yang mendahului kepada kreditur penerima


fidusia terhadap kreditur lainnya (Pasal 27 Undang Undang Jaminan
Fidusia)
b) Selalu mengikuti objek yang dijamin ditangan siapapun objek itu berada
(Pasal 20 Undang Undang Jaminan Fidusia)
c) Memenuhi asa spesialitas dan publisitas, sehinnga mengikat pihak ketiga
dan memberikan jaminan kepastian hukum kepada pihak-pihak yang
berkepentingan (Pasal 6 dan Pasal 11 Undang Undang Jaminan Fidusia)
 Objek dan Subjek Jaminan Fidusia
a) Objek Jaminan Fidusia

Sebelum berlakunya Undang Undang Nomor 42 tahun 1999, yang menjadi


objek jaminan fidusia adalah benda bergerak yang terdiri dari benda dalam
persediaan (inventory), benda dagangan, piutang, peralatan mesin, dan kendaraan
bermotor, akan tetapi dengan berlakunya Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999
tentang Jaminan Fidusia, maka objek jaminan fidusia diberikan dengan pengertian
yang luas.

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 butir 4 Undang Undang Jaminan Fidusia


bahwa benda adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki dan dialihkan baik yang

9
yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang terdaftar, tidak terdaftar, yang
bergerak, tidak bergerak yang tidak daoat dibebani dengan Hak Tanggungan dan
Hipotek. Mengenai objek jaminan fidusia dalam Pasal 10 Undang Undang
Jaminan Fidusia disebutkan bahwa kecuali diperjanjikan lain:

 Jaminan fidusia meliputi hasil dari benda yang menjadi objek jaminan
fidusia, yang dimaksud dengan “hasil dari benda yang menjadi objek
jaminan fidusia” adalah segala sesuatu yang diperoleh dari benda yang
dibebani jaminan fidusia.
 Jaminan fidusia meliputi klaim asuransi, dalam hal benda yang menjadi
objek fidusia yang diasuransikan.
b) Subjek Jaminan Fidusia

Subjek jaminan fidusia adalah pemberi dan penerima jaminan fidusia.


Berdasarkan ketentuan Pasal 1 butir 5 Undang Undang Jaminan Fidusia, yang
dimaksud dengan Pemberi Fidusia adalah orang perseorangan/koporasi pemilik
benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Kemudian dalam Pasal 1 butir 6
Undang Undang Jaminan Fidusia yang dimaksud penerima fidusia adalah orang
perseorangan/koporasi yang mempunyai piutang yang pembayarannya dijamin
dengan jaminan fidusia.

 Hapusnya Jaminan Fidusia

Menurut Pasal 25 ayat (1) Undang Undang Jaminan Fidusia diatur


mengenai hapusnya jainan fidusia, yaitu sebagai berikut:

 Hapusnya utang yang dijaminkan dengan fidusia;


 Pelepasan hak atas jaminan fidusia oleh penerima fidusia; atau
 Musnahnya benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
E. Hak Tanggungan

Pada tanggal 19 April tahun 1996 diberlakukan Undang Undang Nomor 4


Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah beserta Benda-benda yang

10
berkaitan dengan Tanah, yang selanjutnya disebut dengan Undang Undang Hak
Tanggungan (UUHT).

Menurut ketentuan Pasal 1 butir (1) Undang Undang Hak Tanggungan


memberikan defenisi hak tanggungan sebagai berikut:

“Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas
tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960
tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-
benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan
hutang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur
tertentu terhadap kreditur-kreditur lain.”

Hak tanggungan identik dengan hak jaminan, yang bilamana dibebankan


atas tanah hak milik, tanah hak guna bangunan dan/ atau tanah hak guna usaha
memberikan kedudukan utama kepada kreditur-kreditur tertentu yang akan
menggeser kreditur lain dalam hal si berhutang (debitur) cidera janji atau
wanprestasi dalam pembayaran hutangnya, dengan perkataan lain dapat dikatakan
bahwa pemegang hak tanggungan pertama lebih preferent terhadap kreditur-
kreditur lainnya,

 Objek dan Subjek Hak Tanggungan

Pasal 4 Undang Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan


Atas Tanah Beserta Benda-benda yang Berkaitan dengan Tanah, menyebutkan
bahwa yang menjadi objek hak tanggungan adalah:

 Hak milik;
 Hak guna usaha;
 Hak guna bangunan;
 Hak pakai atas tanah negara, yang menurut ketentuan yang berlaku wajib
didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan dapat juga
dibebani dengan hak tanggungan.

11
Mengenai subjek hak tanggungan ini diatur dalam Pasal 8 dan Pasal 9
UUHT, dari ketentuan dua pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa yang menjadi
subjek hukum dalam hak tanggungan adalah subjek hukum yang terkait dengan
perjanjian pemberi hak tanggungan. Di dalam suatu perjanjian hak tanggungan
ada dua pihak yang mengikatkan diri, yaitu sebagai berikut:

 Pemberi hak tanggungan yaitu orang atau pihak yang menjaminkan objek
hak tanggungan (debitur);
 Pemegang hak tanggungan, yaitu orang atau pihak yang menerima hak
tanggungan sebagai jaminan dari piutang yang diberikannya.

Dalam Pasal 8 dan Pasal 9 UUHT memuat ketentuan mengenai subjek hak
tanggungan, yaitu sebagai berikut:

 Pemberi hak tanggungan, adalah orang perorangan atau badan hukum


yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum
terhadap objek hak tanggungan pada saat pendaftaran hak tanggungan itu
dilakukan;
 Pemegang hak tanggungan adalah orang perorangan atau badan hukum
yang berkedudukan sebagai pihak yang mendapatkan pelunasan atau
pihutang yang diberikan.
 Syarat Sahnya Pembebanan Hak Tanggungan

Tata cara pembebanan wajib memenuhu syarat yang ditetapkan dalam


Pasal 10 ayat (1); Pasal 11 ayat (1); Pasal 12; Pasal 13; dan Pasal 14 UU Nomor 4
Tahun 1996. Syarat sahnya pembebanan hak tanggungan yaitu :

a) Pemberian hak tanggungan dilakukan dengan pembuatan APHT oleh


Pejabat Pembuat Hak Akta Tanah (PPAT) sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku (Pasal 10 ayat (2) UUHT)
b) Pemberian hak tanggungan wajib memenuhi syarat spesialitas (Pasal 11
ayat (1) UUHT) yang meliputi:
 Nama dan identitas pemegang dan pemberi hak tanggungan

12
 Domisili para pihak, pemegang dan pemberi hak tanggungan
 Penunjukan secara jelas hutang atau hutang yang dijamin pelunasannya
dengan hak tanggungan
 Nilai tanggungan
 Uraian yang jelas mengenai objek hak tanggungan
 Hapusnya Hak Tanggungan

Hapusnya hak tanggungan diatur dalam Pasal 18 Undang Undang Nomor


4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-benda yang
Berkaitan dengan Tanah disebutkan sebab-sebab hapusnya hak tanggungan,
sebagai berikut:

 Hapusnya hutang yang dijamin dengan hak tanggungan


 Dilepaskannya hak tanggungan oleh pemegang hak tanggungan
 Pembersihan hak tanggungan bedasarkan penetapan peringkat oleh Ketua
Pengadilan Negeri
 Hapusnya hak atas tanah yang dibebani hak tanggungan
F. Hipotek

Hipotek adalah suatu hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak, untuk
mengambil penggantian daripadanya bagi pelunasan suatu perikatan (Pasal 1162
KUHPerdata).3

Menurut Prof. Subekti, S.H., dengan mengacu dari Pasal 1162 KUHPer,
hypotheek adalah suatu hak kebendaan atas suatu benda tak bergerak, bertujuan
untuk mengambil pelunasan suatu utang dari (pendapatan penjualan) benda itu.

Sama seperti halnya dengan hak gadai, hipotek sifatnya adalah accessoir,
yaitu adanya tergantung pada perjanjian pokok. Pada dasarnya, hipotek
mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

1) Hipotek lebih didahulukan pemenuhannya dari piutang yang lain atau


droit de preference (Pasal 1133 KUHPer)
3
Simanjuntak, Hukum Perdata Indonesia, (Jakarta: Pranamedia Group, 2015) hal. 199

13
2) Hipotek itu tak dapat dibagi-bagi dan meletak diatas seluruh benda yang
menjadi objeknya (Pasal 1163 ayat 1 KUHPer)
3) Hak hipotek itu senantiasa mengikuti bendanya dalam tangan siapa benda
itu berada atau droit de sulte (Pasal 1163 ayat 2 KUHPer)
4) Objek hipotek adalah benda-benda tetap, yaitu yang dapat dipakai sebagai
jaminan adalah benda-benda tetap, baik yang berwujud maupun yang
berupa hak-hak atas tanah (Pasal 1164 KUHPer)
5) Hak hipotek hanya berisi hak untuk menguasai/memiliki bendanya.
 Subjek dan Objek Hipotek

Suatau hipotek hanya dapat diberikan oleh pemilik benda itu (Pasal 1168
KUHper). Adapun yang dapat dijadikan objek hipotek adalah benda yang tak
bergerak. Menurut Pasal 1164 KUHPer, yang dapat dibebani dengan hipotek
adalah:

1) Benda-benda yang tak bergerak


2) Hak pakai hasil atau benda tersebut
3) Hak opstal atau hak erfpacht
4) Bunga tanah
5) Bunga sepersepuluh
6) Pasar-pasar yang diakui oleh pemerintah beserta hak istimewa yang
melekat padanya

Diluar Pasal 1164 KUHPer yang dapat dibebani hipotek ialah:

1) Bagian yang tak dapat dibagi-bagi dalam benda tak bergerak yang
merupakan hak milik bersama (hak milik bersama yang bebas)
2) Kapal (diatur dalam KUHD). Selanjutnya menurut Pasal 1167 KUHPer,
benda bergerak tidak dapat dibebani dengan hipotek.
 Syarat-syarat Hipotek

Cara untuk mengadakan hipotek harus memenuhi syarat-syarat tertentu,


yaitu:

14
 Harus dengan akta notaris, kecuali dalam hal-hal yang dengan tegas
ditunjuk undang-undang (Pasal 1171 KUHPer),
 Harus didaftarkan ke Kantor Balik Nama (Pasal 1179 KUHPer).
 Asas-Asas Hipotek

Menurut Prof. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, ada dua asas dalam
hipotek, yaitu:

1) Asas publiciteit, yaitu asas yang mengharuskan bahwa hipotek itu harus
didaftarkan pada pegawai pembalikan nama, yaitu pada kantor kadaster.
Yang didaftarkan ialah akta dari hipotek itu
2) Asas specialitelit, yaitu asas yang menghendaki, bahwa hipotek hanya
dapat diadakan ats benda-benda yang ditunjukkan secara khusus untuk
dipakai sebagai tanggungan.
 Hapusnya Hipotek

Menurut pasal 1209 KUHPer, hak hipotek dapat dihapus karena:

 Hapusnya perikatan pokoknya


 Si berpiutang melepaskan hipoteknya
 Penetapan tingkat oleh hakim.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

15
 Hak jaminan adalah hak-hak kreditur untuk didahulukan dalam
pengambilan pelunasan daripada kreditur lain, atas hasil penjualan
suatu benda tertentu yang secara khusus diperikatan.
 Pada dasarnya, jaminan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu jaminan
kebendaan dan jaminan perorangan
 Jaminan kebendaan dapat dijaminkan dengan :
a) Gadai;
b) Hipotek;
c) Hak tanggungan; dan
d) Jaminan fidusia.
B. Saran

Di dalam penulisan makalah ini, masih banyak kekurangan dan masih jauh
dari kata sempurna, untuk itu kami menerima saran/kritik yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

S. Matompo, Osgar dan Harun, Moh. Nafri. 2017. Pengantar Hukum Perdata.
Malang: Setara Press

16
Simanjuntak. 2015. Hukum Perdata Indonesia. Jakarta: Prenamedia Group

https://butew.com/2018/04/30/pengertian-hak-jaminan-kebendaan/

17