Anda di halaman 1dari 2

Latar Belakang

Materi prasyarat merupakan kemampuan awal yang harus dikuasai sebelum mempelajari
materi tertentu. Dalam prakteknya tidak jarang guru kurang memperhatikan hal ini. Bagi guru
pengetahuan awal ini diperlukan untuk menentukan strategi pembelajaran yang akan dilakukan.
Dengan memahami kemampuan awal siswa, guru dapat membantu siswa memperlancar proses
belajarnya sehingga dapat meminimalisi kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Pendapat ini
diperkuat oleh Shadiq (2013) bahwa proses pembelajaran akan menjadi bermakna atau
meaningfull bagi mereka (mengikuti pendapat Ausubel) jika siswa dapat mengaitkan
pengetahuan yang baru tentang proses pemecahan masalah itu dapat dikaitkan dengan
pengetahuan prasyarat yang sudah dipelajari siswa. Pengetahuan prasyarat siswa merupakan hal
penting yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran matematika.
Kemampuan awal (entry behavior) matematika (KAM) adalah kemampuan yang sudah
dimiliki sebelumnya oleh siswa baik secara alami maupun hasil pembelajaran untuk
melaksanakan suatu aktivitas matematis. Siswa dengan level KAM atas sudah memiliki
pengetahuan dasar matematis yang baik dan menguasai materi yang sudah diajarkan sebelumnya
dengan baik (Nurrohmat, 2019). Pada pembelajaran matematika dibutuhkan suatu pemahaman
kepada siswa terkait materi prasyarat sebagai bekal bagi siswa sebelum melanjutkan ke materi
baru. Siswa yang memiliki bekal pengetahuan tentu akan berdampak pada bagaimana
kemampuan siswa dalam memecahkan suatu permasalahan. Siswa memerlukan pengetahuan
prasyarat, keterampilan dan pemahaman matematika untuk menyelesaikan masalah matematis.
Penguasaan materi prasyarat adalah tanda kesiapan siswa untuk mengikuti pelajaran materi
matematika. Konsep lanjutan sulit dipahami sebelum memahami dengan baik konsep
sebelumnya yang menjadi prasyarat. Hal demikian yang tidak disadari oleh siswa disebabkan
minimnya informasi mengenai apa dan bagaimana sebenarnya matematika itu. Sehingga akan
menjadi suatu hal yang berakibat buruk bila murid tidak menguasai dan memahami konsep dasar
sebagai prasyaratnya.
Salah satu yang menjadi pemicu rendahnya penguasaan materi prasyarat dapat dilihat dari siswa
yang tidak memahami konsep serta kendala lain yaitu kesalahan dalam mengubah permasalahan
ke dalam bentuk model matematika. Bilangan bulat berpangkat adalah salah satu materi yang
dijadikan sebagai bahan observer dalam menilai kemampuan siswa. Ditemukan beberapa siswa
yang menganggap bahwa materi ini dianggap mudah tetapi pada kenyataannya masih terdapat
kesalahan dalam memahami suatu konsep.

Berdasarkan hasil observasi, untuk memperoleh hasil belajar yang optimal memerlukan suatu
latihan yang terus menerus, tetapi terlebih dahulu siswa harus megetahui inti dari materi yang
dipelajarinya. Berdasarkan konsep yang mereka temukan sendiri dalam proses pembelajaran,
tentu siswa akan lebih bersemangat, dan aktif belajar serta berusaha mencari penyelesaian dari
masalah yang diberikan oleh gurunya dengan menggunakan kemampuan sendiri (Widaryantii,
2018). Oleh karena itu, observer memerlukan suatu solusi untuk mengatasi permasalahan yang
terjadi yaitu dengan menerapkan suatu model pembelajaran dengan melibatkan taksonomi bloom
4C yaitu (1) Communication, (2) Collaboration, (3) Critical Thinking and problem solving, dan
(4) Creative and Innovative.
Konsep dasar sangat penting untuk membangun kemampuan awal siswa. Sehingga membuat
siswa harus mengingat kembali materi yang telah diajarkan sebelumnya. Mengingat tingkat
kemampuan daya ingat setiap anak berbeda-beda ada yang dapat dijangkau dalam memori
jangka panjang (Long term memory) dan ada juga dalam memori jangka pendek (Short term
memory).

Daftar Pustaka
Widaryantii (2018). Penerapan Metode Smart Games untuk meningkatkan Hasil Belajar
Bilangan Berpangkat Pada Siswa Kelas IX SMPN 1 Kalidatwir. Briliant: Jurnal Riset dan
Konseptual, (Online), Vol. 3, No. 1, (http://www.jurnal.unublitar.ac.id/index.php/briliant)
diakses pada 4 Maret 2020
Nuramalina, Y. Hendrayana, A. Khaerunnisa, E. (2020). Analisis Kemampuan Pemecahan
Masalah Siswa Melalui Aktivitas Rigorous Mathematical Thinking Ditinjau dari Kemampuan
Awal dan Gaya Belajar Matematis. Jurnal Penelitian Pembelajaran Matematika, (Online), Vol.
13, No. 1, (http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/JPPM/article/view/6035) diakses pada 4 Maret
2020.