Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pentingnya penguasaan materi prasyarat merupakan tanda kesiapan siswa untuk
mengikuti pelajaran materi matematika selanjutnya. Siswa yang tidak menguasai pengetahuan
prasyarat tentu akan kesulitan untuk memahami pengetahuan yang baru. Ausubel pernah
menyatakan jika ia diminta untuk meringkas psikologi pendidikan hanya menjadi satu prinsip
saja, maka ia berkata: “Satu faktor terpenting yang berpengaruh pada proses pembelajaran adalah
apa yang diketahui siswa. Tentukanlah hal itu (apa yang diketahui siswa tersebut) lalu ajarlah ia
berdasar pada apa yang sudah diketahuinya itu (Shadiq, 1999).
Faktanya, setelah melakukan wawancara dengan guru mengatakan bahwa yang menjadi
permasalahan didalam pembelajaran salah satu diantaranya yaitu siswa tidak menguasai materi
prasyarat. Ternyata setelah melakukan observasi ditemukan siswa bahwa ia tidak mampu
menentukan nilai dari (52)-2 x (54)-5 tetapi ia mampu menentukan (52) x (54) ini membuktikan
bahwa siswa tidak memahami apa maksudnya, mengapa dan darimana ia memperoleh jawaban
tersebut dan setelah bertanya kepada siswa yang bersangkutan ia hanya menjawab (5 2+4)-2+(-5) =
(56)-7 dengan alasan yang tidak jelas. Artinya, siswa tersebut hanya menghafal sifat-sifat tanpa
memahami apa maksudnya. Cara belajar seperti ini disebut dengan belajar hafalan (rote
learning).
Salah satu faktor penyebab rendahnya penguasaan siswa terhadap pengetahuan prasyarat
disebabkan oleh peran guru yang masih bertindak sebagai motivator dalam hal ini siswa kurang
terlibat aktif dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Selain itu, siswa terkesan menghafal (rote
learning) tanpa memahami apa maksud materi tersebut. Oleh karena itu, model pembelajaran
penemuan sebagaimana yang telah dikembangkan oleh Bruner bahwa siswa akan lebih mudah
memahami suatu materi apabila ia mampu mengaitkan pengetahuan yang baru terhadap
pengetahuan prasyarat yang sudah dipelajarinya.
yang tidak memahami materi eksponen yaitu menghubungkan pengetahuan baru dengan
pengetahuan yang telah dipelajari, siswa tidak hanya kesulitan dalam menjelaskan definisi,
bahkan ia cenderung menghafal sifat-sifat dari eksponen itu sendiri. Contohnya ketika diberikan
soal (52)-2 x (54)-5 dengan menggunakan sifat eksponen am x an = am+n hasil yang diperoleh siswa
(52+4)-2+(-5) = (56)-7. Ini mengindikasikan bahwa siswa tersebut salah dalam mengartikan terhadap
suatu bilangan yang berpangkat jika dikalikan dengan bilangan yang berpangkat diperoleh hasil
untuk setiap pangkatnya dijumlahkan tanpa memperhatikan tanda kurung. Siswa akan merasa
kesulitan mempelajari eksponen apabila ia belum mengetahui bilangan bulat berpangkat positif,
negatif dan nol. Dari contoh tersebut membuktikan bahwa konsep dasar yang dibangun oleh
siswa sangat berpengaruh terhadap pengetahuan baru.
Salah satu faktor penyebab rendahnya penguasaan siswa terhadap pengetahuan prasyarat
disebabkan oleh peran guru yang masih bertindak sebagai motivator dalam hal ini siswa kurang
terlibat aktif dalam mengkonstruksi pengetahuannya.
untuk memahami konsep-konsep yang dipelajari. Sehingga seringkali siswa tidak mampu
menjawab soal yang berbeda dari contoh yang diberikan oleh guru. Bahkan, siswa juga merasa
kesulitan menjawab soal dikarenakan siswa tidak paham menggunakan konsep mana yang harus
digunakan. Oleh karena itu, model pembelajaran dengan pendekatan penemuan terbimbing salah
satu alternatif untuk membantu siswa memperdalam pengetahuan. Hal ini dikarenakan model
pembelajaran penemuan sebagaimana yang telah dikembangkan oleh Bruner bahwa siswa akan
lebih mudah mengerti apabila ia mampu menghubungkan beberapa ide-ide penyelesaian dengan
menggunakan beberapa cara untuk memudahkan siswa dalam mengingat konsep, struktur atau
rumus yang telah ditemukan (Rochaminah, 2010).

Daftar Pustaka
Putra, H.D. Setiawan, H. Nurdianti, D. Retta, I. Desi, A. (2018). Kemampuan Pemahaman
Matematis Siswa SMP di Bandung Barat. JPPM, (Online), Vol. 11, No. 1,
(http://www.jurnal.untirta.ac.id/index.php/JPPM/article/view/2981), diakses pada 6 Maret 2020.

Lestari, W. (2017). Pengaruh Kemampuan Awal Matematika dan Motivasi Belajar terhadap
Hasil Belajar Matematika. Jurnal Analisa, (Online), Vol. 3, No. 1,
(http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/analisa/index), diakses pada 6 Maret 2020.

Annajmi. (2016). Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep matematik Siswa SMP melalui
Metode Penemuan Terbimbing berbantuan Software Geogebra. Journal of mathematics
Education and Science, (Online), Vol. 2, No. 1,
(https://jurnal.uisu.ac.id/index.php/mesuisu/article/view/110), diakses pada 6 Maret 2020.

Latif, S. (2016). The Profile of Teacher’s Understanding on Student’s Mathematics Ability based
on Teacher‘s Teaching Experience at SMPN 1 Gantarangkeke. Jurnal Daya Matematis, (Online),
Vol. 4, No. 2, (https://ojs.unm.ac.id/index.php/JDM/article/view/2899), diakses pada 6 Maret
2020.

Warsita, B. (2008). Teori Belajar Robert M. Gagne dan Implikasinya pada Pentingnya Pusat
Sumber Belajar. (Online), Vol. 12, No. 1,
(https://jurnalteknodik.kemdikbud.go.id/index.php/jurnalteknodik/article/view/421, diakses pada
6 Maret 2020.
BAB II
KAJIAN TEORI

1. Hakikat Matematika
2. Pengetahuan Prasyarat
Dalam mempelajari suatu materi pembelajaran dibutuhkan kemampuan pemahaman
siswa yang menjadi bekal bagi siswa sebelum melanjutkan ke materi berikut.
3. Hierarki Belajar Matematika
4. Pembelajaran Bermakna
5. Pembelajaran bermakna dan pemantapan pengetahuan prasyarat

Mengidentifikasi masalah
Jangan menambah masalah jika tidak mampu memberikan solusi
Kesimpulan
Sampai saat ini saya tidak dapat menemukan masalah sehingga saya tidak perlu mencari solusi