Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH STOCHASTIC

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Matematika Pasar Modal

Dosen Pengampu :
Dr. Hisyam Ihsan, M.Si.
Ahmad Zaki, S.Si., M.Si.

Oleh
Rezki Auliyah Ramadhani
(1711042004)
A2 2017

JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR


2020
LATAR BELAKANG
Di era sekarang berinvestasi pada instrument saham sudah mulai diminati oleh
seluruh lapisan masyarakat Indonesia hal ini didorong dengan berbagai faktor. Investasi
di Pasar Modal sangat menguntungkan dan menjanjikan imbalan hasil yang sangat besar,
maka banyak orang yang melakukan investasi pada instrument ini. Tetapi perlu kita
ketahui bahwa saham mempunyai karakter “hight risk hight return” sehingga para
investor agar selalu berhati-hati dalam berinvestasi saham agar dapat meminimalisir
resiko yang ada (Filbert, 2016).
Fahmi (2012) menyatakan bahwa “Saham merupakan kertas tanda bukti penyertaan
kepemilikan modal pada suatu perusahaan yang tercantum dengan jelas nominal, nama
perusahaan dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang jelas kepada setiap
pemegangnya”. Jika kita membeli saham pada perusahaan tersebut berarti kita membeli
sebagian kepemilikan dari perusahaan dan kita juga dapat mengikuti Rapat Umum
Pemegang Saham pada perusahaan tersebut. Mempunyai saham memiliki banyak
keuntungan, kita juga mendapatkan deviden dari perusahaan tersebut ketika perusahaan
memperoleh laba, serta capital gain (keuntungan) selisih dari harga beli dan harga jual
pada saham (Puspita dkk., 2016).
Meskipun imbalan hasil saham sangat menggiurkan, namun para investor harus selalu
berhati-hati akan resiko kerugian yang terjadi. Karena dalam hal investasi maupun
trading banyak juga yang mengalami kerugian demi kerugian karena kurangnya analisis
yang dilakukan. Sehingga dalam investasi maupun trading saham sangat diperlukan
sebuah analisis untuk mendapatkan capital gain atau keuntungan (Puspita dkk., 2019).
Muchlisin (2017) menyebutkan “Ada dua macam analisis dalam dunia saham, yaitu
analisis fundamental dan analisis teknikal”. Tandelilin (2016) menyatakan bahwa
“Analisis Teknikal merupakan teknik untuk memprediksi arah pergerakan harga saham
serta indikator pasar saham lainnya berdasarkan pada data pasar historis seperti informasi
harga dan volume”. Analisis Teknikal bertujuan untuk mengetahui pergerakan harga dan
pergerakan trend suatu saham, kita juga dapat melihat harga terendah dan harga tertinggi
saham tersebut (Nugraha, 2018). Sehingga pada akhirnya mendapatkan suatu analisis
dalam menentukan kapan saat yang tepat untuk jual dan beli saham. Pada analisis
teknikal tidak terlalu memperhatikan tentang laporan keuangan yang ada pada
perusahaan, mereka lebih memfokuskan pada apa yang terjadi di pasar.

2
Ilham (2011) menyatakan bahwa analisis teknikal “merupakan teknik yang
menganalisa tentang pergerakan harga saham dalam jangka waktu tertentu atau dalam
hubungannya dengan faktor-faktor lain, misalnya frekuensi, harga rata-rata dan volume
transaksi”. Dalam setiap biaya yang dikeluarkan, harus diperhatikan aktivitas yang bisa
muncul (Putra dkk., 2017). Karena dalam penggunaan analisis teknikal banyak
menggunakan chart atau grafik, sehingga dengan penggunaan metode indikator
Stochastic Oscillator kita dapat mengetahui kondisi pasar, apakah pasar mengalami jenuh
jual (oversold) dan jenuh beli (overbought) (Nugraha, 2017). Dari pergerakan harga
saham tersebut akan terlihat sebuah pola atau trend yang dapat digunakan untuk kapan
waktu yang tepat untuk jual beli saham (Puspita dkk., 2016). Sehingga dengan adanya
analisis teknikal kita dapat memperoleh keuntungan yang optimal dan juga mengurangi
terjadinya kerugian terhadap saham yang kita beli.

DEFINISI DAN KONSEP


Stochastic Oscillator merupakan indikator momentum yang dikembangkan oleh
George C.Lane pada akhir 1950-an, indikator Stochastic Oscillator digunakan untuk
meminimalisirkan adanya prediksi sinyal yang kurang akurat Stochastic Oscillator akan
dikombinasikan dengan indikator lagging Moving Average.Stochastic Oscillator
memiliki dua buah garis , yaitu garis %K dan garis %D untuk mengindikasikan
perubahan rata-rata (Moving Average) atas nilai %K.
Metode yang digunakan relatif sederhana tetapi cukup profitable, selain itu petunjuk
yang dalam metode ini mudah dipahami. Berdasarkan pada observasi bahwa jika harga
mengalami kenaikan maka harga penutupan akan cenderung berada pada batas atas dari
range (kisaran) harga. Demikian juga sebaliknya saat Downtren, harga akan ditutup dekat
dengan batas bawah dari harga kisaran harga. Dalam stochastic digunakan dua garis,
yaitu %K dan garis %D. Kedua garis tersebut akan bergerak dalam skala 0-100. Garis
%K merupakan garis yang lebih cepat sedangkan garis %D menggambarkan tren
utamanya. Namun untuk mempermudah interpretasi indicator ini, umumnya garis %K
digambarkan dengan garis yang solid, sedangkan garis %D digambarkan dengan garis
titik-titik (Sulistiawan & Liliana, 2017)
Stochastic Oscillator ditampilkan sebagai dua garis. Garis utama disebut sebagai %K.
Garis kedua, disebut sebagai %D adalah moving average dari garis %K. Garis %K
umumnya ditampilkan sebagai garis utuh dan garis %D umumnya ditampilkan sebagai

3
garis putus-putus. Ada beberapa cara untuk menjelaskan stochastic oscillator, tiga
metode yang populer adalah sebagai berikut (Sulistiawan & Liliana, 2017):
a) Membeli ketika stochastic oscillator, garis %K atau garis %D, turun di bawah tingkat
tertentu (misalnya, 20) dan kemudian naik ke atas tingkat tersebut. Menjual ketika
stochastic oscillator naik ke atas tingkat tertentu (misalnya, 80) dan kemudian turun
di bawah tingkat tersebut.
b) Membeli ketika garis %K naik ke atas garis %D dan membeli ketika garis %K turun
dibawah garis %D.
c) Melihat penyimpangan; sebagai contoh, ketika harga membuat rangkaian harga
tertinggi baru sementara stochastic oscillator gagal melampaui nilai-nilai tertinggi
sebelumnya (Salim, 2013).
Pada indikator stochastic oscillator, terdapat dua garis yaitu %K dan %D. Kedua garis
ini menandakan harga akan naik atau turun. Apabila kedua garis ini berpotongan di atas
maka akan terjadi death cross yang berarti harga sudah terlalu mahal dan memungkinkan
harga akan turun (momen untuk menjual saham) Sedangkan, apabila kedua garis tersebut
berpotongan di bawah maka terjadi golden cross yang berarti harga dianggap murah dan
kemungkinan harga akan naik (momen untuk membeli saham). Keadaan overbought dan
oversold diperoleh bila garis %K telah memasuki batasan 20 dan 80 yakni di bawah 20
untuk oversold dan di atas 80 untuk overbought (Raharjo, 2009).

KAJIAN PUSTAKA
Stochastic oscillator terdiri dari dua garis yang disebut %K dan %D. Inti dari
indikator ini adalah %K itu sendiri sedangkan %D adalah SMA dari %K. Bisa dikatakan
bahwa %D adalah sebagai garis pengidentifikasian arah %K. Jika kita lihat dari range
stochastic oscillator yaitu 0-100, dapat dikatakan bahwa sebenarnya indikator ini tidaklah
berbeda dengan RSI. Hanya saja dalam stochastic perhitungan meliputi harga terendah,
tertinggi dan closing price pada waktu yang ditentukan.

4
Gambar 2.1. adalah contoh indikator stochastic oscillator, candle yang berwarna merah
artinya bearish pattern sedangkan yang berwarna hijau adalah bullish pattern.

Gambar 2.1. Fast, Slow dan Full Stochastic Oscillator %K =5

Sumber : Meta trader 4 (2013)

Kelebihan sekaligus kekurangan stochastic adalah sensitifitasnya. Karena senstif


maka dapat memberikan sinyal yang lebih dini dalam pemantauan pergerakan harga.
Namun dengan demikian membuka celah munculnya berbagai sinyal palsu. Untuk
mengurangi banyaknya sinyal palsu karena sensitifitas stochastic maka diperlukan lebih
dari sekedar %D untuk menghaluskannya. Garis %K pun dapat dihaluskan terlebih
dahulu sebelum kemudian diolah kembali menjadi %D. Pengolahan ini membuat
berbagai varian dari stochastic oscillator. Fast stochastic adalah nama lain dari stochastic
biasa (pada gambar diatas adalah fast stochastic). Apabila garis %K dimuluskan SMA 3
periode sebelum kemudian diolah kembali dengan SMA 3 periode berikutnya guna
memperoleh garis %D maka akan diperoleh slow stochastic oscillator. Sedangkan bila
pemulusan menggunakan SMA dengan periode selain 3 untuk %K, stochastic yang
demikian dinamakan full stochastic oscillator.

5
Gambar 2.2. Full Stochastic Oscilaltor dengan pemulusan, %K = 14

Sumber : Meta trader 4 insta forex (2013)

Gambar 2.2. menggunakan periode 14 untuk %K-nya. Perhatikan perbedaannya dengan


fast stochastic oscillator pada gambar sebelumnya, full stochastic terlihat lebih halus.

Cara Penggunaan Stochastic Oscillator


Informasi yang dapat diperoleh dari stochastic oscillator secara umum tidak berbeda
dengan informasi pada RSI dan SMA, karena stochastic oscillator adalah gabungan dari
kedua jenis indikator tersebut dengan cara perhitungan yang berbeda. Secara keseluruhan,
indikator ini dapat kita gunakan untuk menentukan keadaan overbought/ oversold (yang
artinya prediksi trend untuk jangka panjang), perpotongan antara %K dan %D (sebagai
short term trend), dan bullish/bearish centerline.
 Overbought / Oversold
Keadaan overbought dan oversold menurut stochastic diperoleh bila garis %K telah
memasuki batasan 20 dan 80 yakni dibawah 20 untuk oversold dan diatas 80 untuk
overbought. Tetapi batasan 20/80 ini bukanlah batasan mutlak. Bisa saja 30/70 atau

6
yang lain. Keadaan overbought/ oversold ini akan memicu naik turunnya harga dalam
jangka panjang. Apabila sedang terjadi kenaikan harga namun stochastic sudah
menuju titik overbought-nya dan mulai meninggalkan area tersebut, itu berarti akan
terjadi tekanan pada laju kenaikan harga yang pada akhrinya membuat harga kembali
turun sampai keseimbangannya yang baru.

Gambar 2.3. Stochastic Oscillator Dengan Level 20 dan 80

Sumber : Meta trader 4 (2013)

 %K and %D Crossing
Jika overbougth/ oversold adalah untuk trend jangka panjang, maka perpotongan %K
dan %D digunakan untuk perubahan trend minor. Maksudnya bila dalam suatu
kondisi long bullish trend, seringkali dalam pergerakannya kita menemukan trend-
trend minor. Besarnya minor dan mayor disini sangat relatif, bergantung pada time
frame yang di gunakan. Untuk time frame per jam atau per 4 jam, pergerakan minor
trend bisa mencapai 50 point. Itu artinya lebih dari cukup untuk memperoleh
keuntungan sampai 50 dollar hanya dengan 1 lot dan mengandalkan minor trend.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya %D merupakan MA dari %K yang tidak lain
pencerminan dari perubahan harga. Jadi, sesuai dengan sifat MA dalam menentukan
perubahan trend, setiap perpotongan antara %D dengan %K berarti adalah perubahan

7
trend untuk jangka waktu singkat di depan. Kondisi bullish terjadi bila garis %K
memotong %D dari bawah dan sebaliknya trend bearish diperoleh ketika %K
memotong dari atas. Keadaan ini bisa saja berlangsung bahkan ketika kedua garis
sedang dalam wilayah overbought/ oversold. Jika ini terjadi, itu artinya memang
tekanan beli atau jual sedang kuat sekali sehingga akan terjadi kemungkinan harga
menembus batas support dan ressistance-nya.

Gambar 2.4. %K Memotong %D

Sumber : Meta trader 4 (2013)

Gambar 2.4. menunjukkan bahwa secara keseluruhan harga sedang bergerak naik
namun demikian sering kali pada saat kenaikan harga, terjadi penurunan-penurunan
singkat yang merupakan usaha para pembeli menurunkan harga namun tidak cukup
kuat dalam menahan tekanan beli. Dalam kondisi demikian kita bisa mengambil dua
keuntungan sekaligus yaitu pada trend dalam jangka panjang maupun dalam short
term trend. Kedua kondisi ini dapat kita ketahui cukup dengan stochastic oscillator
 The Centerline
Sama seperti oscillator lainnya, pada stochastic oscillator pun juga terdapat
centerline yang dipatok pada nilai 50, jika %K memotong centerline dari bawah ini

8
menandakan kondisi bullish centerline dan sebaliknya bila % K memotong dari
bawah kondisi bearish tercapai. Namun centerline crossover ini jarang digunakan
karena seringkali terlambat memberikan rekomendasi buy/sell. Para analis lebih
sering menggunakan perpotongan antara %D dengan %K.

Gambar 2.5. %K Memotong Garis Centerline.

Sumber : Meta trader 4 insta forex (2013)

Hal yang menjadi kelebihan sekaligus kekurangan indikator yang bergerak dalam
kisaran tertentu seperti ini adalah sensitivitasnya. Semakin panjang periode yang
dipakai maka grafik indikator akan semakin halus yang artinya ke-sensitifitas-annya
akan berkurang. Disarankan juga untuk menggunakan full stochastic dalam
penggunaan karena memang lebih halus dan dapat mengurangi grafik indikator yang
terlalu keriting.

FORMULA MATEMATIS
Stochastic Oscillator (SO) merupakan alat analisis ciptaan George C Lane pada akhir
1950-an, Nilai kisaran pada indikator ini adalah 0-100 (oscillator), stochastic oscillator
digunakan untuk menunjukkan posisi closing relatif terhadap range transaksi dalam suatu

9
periode tertentu. Pada dasarnya indikator ini dipakai untuk mengukur kekuatan relatif
harga terakhir terhadap selang harga tertinggi dan terendahnya selama selang periode
yang di inginkan. SO mempunyai dua garis yang disebut dengan garis %K dan garis %D.
Garis %K adalah garis utama yang disebut dengan signal line. Garis ini menggambarkan
posisi relatif, serta harga penutupan terhadap range harga tertinggi dan terendah dalam
periode pengamatan. Garis %D merupakan trigger line yang tidak lain merupakan rata-
rata bergerak sederhana dari %K. Zona overbought yaitu ketika di atas level 80,
sedangkan di bawah level 20 dinyatakan sebagai oversold. Perpotongan kedua garis inilah
yang akan menghasilkan sinyal jual atau sinyal beli. Sinyal beli muncul apabila di zona
oversold garis %K memotong ke atas garis %D. Sinyal jual apabila di zona overbought,
garis %K memotong ke bawah garis %D.
Nilai %K dan %D dari SO dapat dihitung menggunakan formulasi, sebagai berikut:
Harga penutupan(t) – Harga terendah(t hari)
%K(t) = x 100%
Harga tertinggi(t hari) – Harga terendah(t hari) 
%D = 3 Periode dari % moving average %K
Moving average (MA) dihitung dengan mengambil nilai rata-rata dari harga suatu
sekuritas pada rentang waktu tertentu. Diberikan sejumlah data saham, maka MA pada t
periode sebagai berikut:
%Kt   + %Kt -1 +  %Kt -2
MA(t) =

ANALISIS SIMULASI
Data yang digunakan ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari data historis
harga emas yang berlaku di dunia, dan untuk mendapatkannya penulis mengadakan
pengambilan data dan informasi di salah satu perusahan bursa saham dan futures, yakni di
PT. MDKA. Data harga emas ini meliputi harga pembukaan, harga tertinggi, harga
terendah, dan harga penutupan. Sumber data yang digunakan diperoleh dari
yahoo.finance.com.

10
Tabel 1 Statistik deskriptif
Jumlah Rata-rata Minimal Maksimal
Pembukaan 44 1.241,14 1.165 1.300
Tertinggi 44 1.257,84 1.190 1.335
Terendah 44 1.216,59 1.085 1.270
Penutupan 44 1.237,95 1.150 1.295

Tabel 1 menjelaskan statistik deskriptif dari data yang didapat dari perusahaan PT.
MDKA dimana periode yang diambil dari periode September sampai dengan Oktober
2019. Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa terdapat 44 data saham yang meliputi
harga pembukaan, harga tertinggi, harga terendah dan harga penutupan. Banyak data
saham tersebut merupakan jumlah hari kerja dari 2 September hingga 31 Oktober 2019.

ANALISIS GRAFIK
Strategi menggunakan indikator ini adalah jika %K menembus ke atas dari %D
merupakan sinyal beli. Sebaliknya jika %K menembus ke bawah dari %D maka peluang
adanya pola pembalikan arah. Garis %K merupakan garis yang menjadi pengamat bagi
user pada saat berada di posisi lebih kecil atau sama dengan 20 (merupakan posisi
oversold). Sebaliknya jika nilai lebih besar atau sama dengan 80 poin merupakan potensi
adanya overbought yang berarti jangka pendek berpeluang melemah. Garis %K adalah
garis yang menggambarkan posisi relatif, serta harga penutupan terhadap range harga
tertinggi dan terendah dalam periode pengamatan. Sedangkan %D merupakan trigger
line yang tidak lain merupakan SMA dari %K. Periode standar SO yang
direkomendasikan oleh penemunya adalah periode 14. Namun, pada menu software
umumnya periode ini dapat digeser, misalnya dikurangi untuk mendapatkan sinyal yang
lebih cepat atau sensitif, ataupun ditingkatkan untuk meredam bad signals. Periode yang
digunakan dalam perhitungan SO untuk %K dalam penelitian ini adalah 14 periode dan
untuk %D merupakan tiga periode moving average dari %K dapat dilihat pada Tabel 2
berikut:

11
Tabel 2 Perhitungan stochastic oscillator

Tanggal Pembukaan Tertinggi Terendah Penutupan %K %D


9/2/2019 1.220 1.230 1.190 1.210
9/3/2019 1.220 1.270 1.210 1.250
9/4/2019 1.260 1.270 1.245 1.245
9/5/2019 1.240 1.255 1.210 1.225
9/6/2019 1.230 1.230 1.200 1.220
9/9/2019 1.230 1.235 1.215 1.220
9/10/2019 1.220 1.225 1.200 1.205
9/11/2019 1.200 1.220 1.200 1.200
9/12/2019 1.200 1.200 1.085 1.165
9/13/2019 1.180 1.190 1.120 1.150
9/16/2019 1.165 1.210 1.155 1.210
9/17/2019 1.215 1.215 1.185 1.190
9/18/2019 1.195 1.245 1.190 1.235
9/19/2019 1.235 1.245 1.220 1.240 83,7838
9/20/2019 1.240 1.290 1.240 1.270 90,2439
9/23/2019 1.275 1.325 1.270 1.295 87,5 87,1759
9/24/2019 1.300 1.310 1.270 1.270 77,0833 84,9424
9/25/2019 1.270 1.295 1.270 1.290 85,4167 83,3333
10/30/2019 1.210 1.220 1.165 1,210 33,3333 24,9042
10/31/2019 1.210 1.210 1.185 1.195 22,2222 23,1162

Berdasarkan Tabel 2 diperoleh hasil perhitungan %K yaitu berada di posisi 83,78%


dari jarak harga terendah dengan harga tertinggi dengan harga penutupan 1.240.
Selanjutnya didapatkan hasil perhitungan %D atau tiga periode SMA dari %K sebesar
87,17%. Garis %K dan %D pada periode selanjutnya dapat dihitung dengan
menggunakan Persamaan (1) dan Persamaan (2).

12
Gambar 4 Grafik candlestick dari trading emas PT. MDKA
Candlestick berwarna merah berarti harga penutupan lebih rendah dari harga
pembukaan yang menunjukkan sinyal akan turun (bearish). Sedangkan untuk candlestick
berwarna hijau berarti harga penutupan lebih tinggi dari harga pembukaan yang
menunjukkan sinyal akan naik (bullish). Volume untuk mengetahui besarnya transaksi
pada suatu waktu. Semakin besar volume maka akan semakin mendorong pergerakan
harga ke arah yang sesuai dengan transaksi. Harga penutupan terakhir yang secara
konsisten semakin mendekati harga tertinggi mengindikasikan dorongan beli atau disebut
dengan akumulasi. Harga penutupan terakhir yang mendekati harga terendah menandakan
kondisi jual. Berikut ini adalah hasil perhitungan menggunakan software R dapat dilihat
pada Gambar sebagai berikut:

Gambar 5 Line chart menggunakan stochastic oscillator

Berdasarkan Gambar 5 didapatkan informasi bahwa pada tanggal 23 September 2019


saat itu terdapat garis %K memotong dari atas ke bawah garis %D, maka hal ini akan
mengindikasikan terjadinya bearish tren. Selanjutnya garis %K dan %D berada di atas
level 80 sehingga terjadi overbought. Sinyal jual muncul ketika SO telah berada di area
overbought. Harga penutupan trading emas pada tanggal 23 September 2019 sebesar
Rp1,295.00 dengan %K 87,50% dan %D 87,17% hal ini menunjukkan bahwa pada
tanggal tersebut adalah kondisi jenuh jual. Kondisi overbought juga terjadi pada tanggal
26 September 2019 dimana garis %K memotong dari atas ke bawah garis %D dan berada
di atas level 80 sehingga terjadi kondisi jenuh jual.

13
Tabel 3 Simulasi transaksi perdagangan emas
Tanggal Biaya Harga beli Tanggal Harga jual Laba %Laba
admin jual
9/2/2019 1.000.000 98.999.34 9/23/2019 105.085.36 4.035.171,35 4,04%
0 5
9/2/2019 1.000.000 98.999.34 9/26/2019 104.679.63 3.633.493,70 3,63%
0 0

Diasumsikan pembelian dilakukan pada awal bulan September, yaitu pada tanggal 2
September 2019 dengan modal awal Rp100.000.000,00. Biaya pembelian emas sebesar
Rp98.999.340,00 dengan biaya admin sebesar Rp1.000.000 dimana biaya admin yaitu 1%
dari modal awal. Tanggal 23 September 2019 harga jual emas sebesar Rp105.085.365,00
dan mendapatkan laba Rp4.035.171,35. Selanjutnya pada tanggal 26 September 2019
harga jual emas sebesar Rp104.679.630,00 dan mendapatkan laba Rp3.633.493,70.

KESIMPULAN
Berdasarkan studi kasus menggunakan data trading emas diketahui bahwa sinyal beli
dan sinyal jual pada perusahaan PT. MDKA terdapat dua sinyal dalam periode yang
digunakan dua bulan terakhir mulai dari tanggal 2 September 2019 sampai dengan 31
Oktober 2019. Terdapat dua sinyal untuk menjual emas yaitu pada tanggal 23 September
2019 dan 26 September 2019. Pada sinyal beli tidak ada satupun garis %K memotong ke
atas garis %D dari bawah dan berada pada kondisi oversold atau berada di bawah level
20, sehingga tidak terdapat sinyal beli pada periode dua bulan terakhir. Simulasi pada
studi kasus untuk dua bulan terakhir (September-Oktober) dengan asumsi modal awal
sebesar Rp100.000.000,00 pembelian emas dilakukan pada awal bulan yaitu tanggal 2
September 2019. Diantara dua sinyal jual tersebut diperoleh keuntungan terbesar dalam
menjual emas pada tanggal 23 September 2019 sebesar Rp4.035.171,35. Sehingga
diperoleh waktu yang paling tepat untuk melakukan penjualan dalam periode dua bulan
terakhir sebaiknya pada tanggal 23 September 2019 karena memiliki keuntungan yang
lebih besar diantara sinyal lain.

SARAN

14
1. Bagi peneliti selanjutnya dan akademisi dalam analisis teknikal mempunyai banyak
indikator. Indikator yang ada hanya 3 indikator maka alangkah baiknya untuk di
tambah dengan indikator-indikator analisis teknikal lainnya, serta memperkuat
dengan analisa fundamental.
2. Bagi para investor alangkah baiknya jika diterapkan dalam dunia investasi,
pertimbangan yang baik untuk mengambil keputusan yang tepat guna menentukan
posisi beli atau jual dalam pasar modal.

15
DAFTAR REFERENSI
Damayanti, M., Rizki, S.W. & Perdana, H. (2020). Analisis Teknikal Pada Investasi Trading
Emas Online dengan Stochastic Oscillator, (Online), Vol. 9, No. 1,
(https://www.google.com/url?
sa=t&source=web&rct=j&url=http://digilib.unila.ac.id/2000/8/BAB
%2520II.pdf&ved=2ahUKEwii6NCCpu_nAhVEjOYKHX-
uBTkQFjABegQIAxAB&usg=AOvVaw0jVdNG7DgIkSHp2echCOzP, diakses 24 Februari
2020).
Prasetyo, P., Nurlaely. & Subagyo, H. (2019). Analisis Komparatif Penggunaan Metode
Stochastic, Moving Average dan MACD dalam mendapatkan Keuntungan Optimal dan
Syar’I, (Online), Vol. 2, No. 1, ( http://dx.doi.org/10.30737/jimek.v2i1.414, diakses 24 Februari
2020).

Halim, A. Analisis Investasi. Ed ke-2. Jakarta: Salemba Empat; 2005.


Tandelilin, E. Portofolio dan Investasi. Yogyakarta: Kanisus; 2010.
Sulistiawan, Dedhy, dan Liliana. 2007. Analisis Teknik Modern pada Perusahaan Sekuritas.
Yogyakarta : Andi yogyakarta.

16