Anda di halaman 1dari 25

ASKEP PADA ANAK DAN REMAJA DENGAN HIV/AIDS

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan HIV/AIDS

Kelompok I

1. Aryo Rahmat I (SK116009)


2. Azidatun Nasihah (SK117006)
3. Fika Rizkiyatul M (SK117012)
4. Lailatul Ijazah (SK117020)
5. Ratih Puspita D (SK117026)
6. Sri Mulyani (SK117032)

Program Studi Ilmu Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal
2020
KATA PENGANTAR

Kami mengucapkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang


Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul “Makalah Asuhan
Keperawatan Pada Anak dan Remaja dengan HIV/AIDS” ini dengan baik.
Makalah ini tidak dapat selesai tanpa dukungan moral dan materi yang
diberikan dari berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terimakasih
kepada:

1. Allah SWT. Yang telah meridhoi pembuatan makalah dengan baik.

2. Ns. Triana Arisdiani, M.Kep.,Sp.Kep. MB dan tim selaku dosen


pengampu keperawatan HIV dan AIDS
3. Orang tua penulis yang telah memberikan dorongan dan motivasi.
4. Teman- teman penulis yang telah memberikan bantuan kepada
penulis.
5. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang
telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan
makalah ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari


sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun dari rekan-
rekan pembaca sangat dibutuhkan demi penyempurnaan makalah ini.

Kendal, 24 Maret 2020

Kelompok 1

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................................i

KATA PENGANTAR.....................................................................................................ii

DAFTAR ISI....................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah................................................................................................3
1.3 Tujuan..................................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 HIV anak dan remaja ..........................................................................................6


2.1.1 Definisi ......................................................................................................6
2.1.2 Etiologi.......................................................................................................6
2.1.3 Cara penularan............................................................................................7
2.1.4 Klasifikasi...................................................................................................7
2.1.5 Gejala infeksi..............................................................................................8
2.1.6 Cara pencegahan ........................................................................................9
2.1.7 Analisa Kasus.............................................................................................13
2.1.8 Asuhan keperawatan anak dan remaja dengan HIV .................................14

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulaan ........................................................................................................24

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
HIV (Human Immunodeficiency Virus) virus ini adalah virus yang
diketahui sebagai penyebab AIDS (Acquired Immune Deficiency
Syndrome). HIV merusak sistem ketahanan tubuh, sehingga orang-orang
yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya
dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif
mengidap HIV belum tentu mengidap AIDS. Namun, HIV yang ada
pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus,
jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat
berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh (Sopiah, 2009).
HIV akan menyerang sel-sel darah putih jika HIV masuk ke dalam
peredaran darah seseorang. Sel darah putih akan mengalami kerusakan
yang berdampak pada melemahnya kekebalan tubuh seseorang.
HIV/AIDS kemudian akan menimbulkan terjadinya infeksi
opportunistic lesi fundamental pada AIDS ialah infeksi limfosit T helper
(CD4+) oleh HIV yang mengakibatkan berkurangnya sel CD4+ dengan
konsekuensi kegagalan fungsi imunitas (Smeltzer, 2001).
Penyakit menular ini sangat menarik perhatian dunia sehingga
badan dunia UN (United Nations) bekerjasama dengan WHO (World
Health Organization) menyatakan bahwa, penyakit menular ini
dipengaruhi oleh perkembangan kesehatan tubuh seseorang yang dimana
ada beberapa faktor antara lain faktor keturunan, faktor kesehatan, faktor
lingkungan, dan faktor perilaku (Kurniawan, 2011). Menurut WHO
dalam Laporan Kemajuan 2011, pada akhir tahun 2010, diperkirakan 34
juta orang (31.600.000-35.200.000) hidup dengan HIV di seluruh dunia
(Sianturi, 2012).

1
Pada anak remaja sesuai tahap tumbuh kembang secara psikososial
selalu berkeinginan untuk mencoba sesuatu yang baru, mencari identitas
diri dan uji nyali. Jika dianalisis, maka potensi anak remaja untuk
melakukan/mencoba sesuatu dapat menjadi meningkat, jika tidak ada
pendampingan dari orang terdekat. Dengan demikian, potensi tertular
HIV/AIDS makin tinggi karena kurangnya pengetahuan (Nurachmah &
Mustikasari, 2009).
Remaja menjadi salah satu kelompok rentan dalam epidemi
HIV/AIDS. Usia remaja adalah usia yang mulai mengeksplorasi rasa
ingin tahu dari masalah pergaulan sampai masalah hubungan seks
dengan orang misalnya pacar dan pekerja seks. Perkembangan
seksualitas merupakan masa kritis bagi remaja. Saat remaja mengalami
masa pubertas yang ditunjukan dengan terjadinya aktifitas hormonal
yang sangat aktif. Hal tersebut menyebabkan rasa keingintahuan remaja
tentang seks dan kesehatan reproduksi meningkat (Sopiah, 2009).
Jika permasalahan yang dihadapi remaja tersebut tidak segera
ditanggulangi, maka akan berdampak pada makin tingginya angka
HIV/AIDS dan hilangnya masa produktif dari penderita sehingga pada
akhirnya berdampak pada kehilangan usia produktif di Indonesia
(Nurachmah & Mustikasari, 2009). Oleh karena itu, yang perlu
dilakukan adalah mengkaji perilaku yang mengarah pada penularan
HIV/AIDS sejak usia sekolah. Harapannya, apabila teridentifikasi
perilaku berisiko tertular HIV/AIDS, maka penanganan selanjutnya
menjadi lebih fokus dan tuntas. Sampai saat ini masih sedikit penelitian
yang mengidentifikasi faktor pencegahan terkait perilaku berisiko
tertular sehingga suatu model intervensi kegiatan pencegahan dini belum
dapat dikembangkan (Nurachmah & Mustikasari, 2009).

2
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi HIV/AIDS ?
2. Apa etiologi HIV?
3. Bagaimana cara penularan HIV?
4. Apa klasifikasi dari HIV ?
5. Apa gejala infeksi HIV?
6. Bagaimana cara pencegahan HIV?
7. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada anak dan remaja yang terkena
HIV ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi HIV kehamilan
2. Untuk mengetahui etiologi HIV
3. Untuk mengetahui cara penularan HIV
4. Untuk mengetahui klasifikasi HIV
5. Untuk mengetahui gejala infeksi HIV
6. Untuk mengetahui cara pencegahan HIV
7. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada anak dan remaja yang
terkena HIV

3
BAB II

KONSEP

A. Human Immunodeficiency Virus (HIV) Pada anak dan remaja


1. Definisi
Acquired Immunodeficiency Syndrome adalah singkatan dari
AIDS. AIDS adalah kumpulan gejala klinis akibat penurunan sistem
kekebalan tubuh yang timbul akibat infeksi HIV. Penyebab Human
Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan
penyakit AIDS (Kementrian Kesehatan Republik Indonesi,2012).
AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome) adalah
kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan
tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi Human
Immunodeficiency virus (HIV). (Mansjoer, 2000:162)
AIDS adalah Runtuhnya benteng pertahanan tubuh yaitu
system kekebalan alamiah melawan bibit penyakit runtuh oleh virus
HIV, yaitu dengan hancurnya sel limfosit T (sel-T). AIDS adalah
penyakit yang berat yang ditandai oleh kerusakan imunitas seluler
yang disebabkan oleh retrovirus (HIV) atau penyakit fatal secara
keseluruhan dimana kebanyakan pasien memerlukan perawatan
medis dan keperawatan canggih selama perjalanan penyakit.
(Nurachmah & Mustikasari, 2009)
AIDS adalah penyakit defisiensi imunitas seluler akibat
kehilangan kekebalan yang dapat mempermudah terkena berbagai
infeksi seperti bakteri, jamur, parasit dan virus tertentu yang bersifat
oportunistik. (Sopiah, 2009)
Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan AIDS adalah
kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan
tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh retrovirus (HIV) yang
dapat mempermudah terkena berbagai infeksi seperti bakteri, jamur,
parasit dan virus.

4
2. Etologi HIV
Sindrom HIV/AIDS pertama kali dilaporkan oleh Michael
Gottlieb pada pertengahan tahun 1981 pada lima orang penderita
homoseksual dan pecandu narkotika suntik di Los Angeles,
Amerika Serikat. Sejak penemuan pertama inilah, dalam beberapa
tahun dilaporkan lagi sejumlah penderita dengan sindrom yang
sama dari 46 negara bagian Amerika Serikat lain. Penyakit ini telah
menjadi pandemi yang mengkhawatirkan masyarakat dunia dan
menjadi masalah global.
UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS saat ini
sekitar 60 juta orang telah tertular HIV dan 26 juta telah meninggal
karena AIDS, sedangkan saat ini orang yang hidup dengan HIV
sekitar 34 juta orang. Di Asia terdapat 4,9 juta orang yang terinfeksi
HIV, 440 ribu diantaranya adalah infeksi baru dan telah
menyebabkan banyak kematian pada penderitanya. Cara penularan
di Asia bervariasi, namun tiga perilaku yang beresiko tinggi
menularkan adalah berbagi alat suntik di kalangan pengguna napza,
seks yang tidak terlindungi dan lelaki seks dengan lelaki yang tidak
terlindung.
3. Cara Penularan HIV
Dalam buku manual ceramah: penyakit menular seksual, cairan
yang dapat menularkan HIV hanyalah darah, cairan sperma, dan
cairan vagina. Penularan hanya terjadi jika ada salah satu cairan
tersebut yang telah tercemar HIV masuk kedalam aliran darah
seseorang. HIV dapat ditularkan melalui beberapa cara, antara lain:
a. Hubungan seksual yang tidak aman dengan orang yang
terinfeksi HIV.
Dapat terjadi pada heteroseks maupun homoseks, baik laki-laki
ke perempuan atau sebaliknya maupun dari laki-laki ke laki-laki
cairan yang mengandung HIV dapat masuk kedalam aliran
darah melalui luka-luka yang terjadi maupun melalui membran
mukosa, saluran kencing dan vagina (pada heteseks), juga bisa

5
masuk melalui pembuluh darah di daerah anus yang pecah (pada
homoseks). Hal ini terutama banyak terjadi pada para pekerja
seks (pelacur yang menyalahgunakan obat atau yang melakukan
hubungan seks tanpa alat pelindung dengan tamu atau orang
yang menyuntik obat) dan para pria pengunjung tempat
pelacuran. Dalam satu kali hubungan seks secara tida aman
dengan orang yang terinfeksi HIV dapat terjadi penularan.
Walaupun secara statistik kemungkinan ini antara 0,1 % hingga
1%, tetapi lebih dari 90% kasus penularan HIV/AIDS terjadi
melalui hubungan seks yang tida aman. (IGAMA, 2006)
b. Transfusi darah yang tercemar HIV
c. Menggunakan jarum suntik, tindik, tato atau alat lain yang dapat
menimbulkan luka yang telah tercemar HIV, secara bersama-
sama dan tida di sterilkan. Resiko pemakaian obat suntik berasal
dari pemakaian jarum suntik yang bersama-sama. Virus
kemudian mencemari jarum dan masuk dalam aliran darah
pemakaian jarum berikutnya. Hal ini juga berlau untuk tindik,
tato, atau alat lain yang dapat menimbulkan luka. Dikalanngan
pengguna obat suntik, infeksi HIV berkisar antara 50%-90%
(Kementrian Kesehatan Republik Indonesi,2012)
d. Transplantasi dengan organ atau jaringan yang terinfeksi HIV
e. Secara tida sengaja tersuntik (tertusuk-red) jarum bekas
seseorang yang mengandung HIV (kadang-kadang bisa terjadi
pada petugas kesehatan) hal ini bisa terjadi karena beberapa
faktor yaitu kekurangtahuan staf medis dan para medis serta
mahasiswa dibidang kesehatan mengenai HIV/AIDS dan
kurangnya pemahaman dan pelaksanaan teknik sterilisasi yang
tepat.
HIV tidak dipindahkan dengan cara bersentuhan biasa seperti jabat
tangan, rangkulan, atau persinggungan tubuh di dalam bis atau kereta
api ataupun melalui gigitan serangga. AIDS juga tidak bisa
ditularkan melalui makan dan minum bersama atau pakaian alat

6
makan minum bersama. Pemakaian fasilitas umum bersama seperti
telepon umum, WC umum, dan kolam renang, ciuman, lewat
keringat (IGAMA,2006), Penggunaan berganti sisir rambut, sprei,
handuk ataupun pakaian.
4. Klasifikasi HIV
Klasifikasi menurut WHO digunakan pada beberapa Negara
yang pemeriksaan limfosit CD4+ tidak tersedia. Menurut WHO,
stadium klinis HIV/AIDS dibedakan menjadi 4 stadium, yaitu:
a. Stadium Klinis 1

1) Asimtomatis

2) Limfadenopati persisten generalisata

3) Tidak ada penurunan berat badan

4) Penampilan/aktivitas fisik skala I: Asimtomatis, aktivitas


normal

b. Stadium Klinis II

1) Penurunan berat badan, tetapi <10% dari berat badan


sebelumnya

2) Manifestasi mukokutaneus minor (dermatitis seboroik,


prurigo, infeksi jamur pada kuku, ulserasi mukosa oral
berulang, infeksi atau luka di sudur mulut)

3) Herpes zoster, dalam 5 tahun terakhir

4) Infeksi berulang pada saluran pernapasan atas (missal:


sinusitis bakterial)

5) Dengan penampilan/aktivitas fisik skala II: simtomatis,


aktivitas normal

c. Stadium Klinis III

1) Penurunan berat badan >10%

7
2) Diare kronis dengan penyebab tidak jelas, > 1 bulan
3) Demam dengan sebab yang tidak jelas (intermittent atau
tetap), > 1 bulan
4) Kandidiasis oris
5) Oral hairy leukoplakia
6) TB Pulmoner, dalam satu tahun terakhir
7) Infeksi bacterial berat (missal: pneumonia, piomiositis)
8) Dengan penampilan/aktivitas fisik skala III: Lemah, berada
di tempat tidur, <50% per hari dalam bulan terakhir

d. Stadium Klinis IV

1) HIV wasting syndrome


2) Ensefalitis Toksoplasmosis
3) Diare karena Cryptosporidiosis, > 1 bulan
4) Cryptococcosis ekstrapulmoner
5) Infeksi virus Sitomegalo
6) Infeksi Herpes simpleks > 1 bulan
7) Berbagai infeksi jamur berat (histoplasma,
coccidioidomycosis)
8) Kandidiasis esophagus, trachea atau bronkus
9) Mikobakteriosis atypical
10) Dengan penampilan/aktivitas fisik skala IV: sangat lemah,
selalu berada di tempat tidur >50% per hari dalam bulan
terakhir
5. Gejala infeksi HIV yang pertama, yaitu:
a. Beberapa orang mungkin sakit, beberapa hari atau beberapa
minggu sesudah terinfeksi. Gejalanya seperti gejala flu,
misalnya demam, pembesaran kelenjar,berkeringat malam, dan
batuk-batuk. Gejala ini biasanya hanya berlangsung beberapa
hari atau beberapa minggu saja. Lalu hilang dengan sendirinnya.
b. Pada beberapa orang lagi gejalanya bisa terus berkembang
menjadi gejala-gejala yang lebih lanjut, seperti pembesaran

8
kelenjar secara lebih meluas dan tidak jelas penyebabnya,
misalnya di leher, lipatan paha dan ketiak. Selanjutnya juga
timbul rasa lemas, penurunan berat badan sampai lebih dari 5kg
setiap bulannya tanpa sebab yang jelas, batuk kering terus-
menerus (seperti batuk perokok), diare, bercak-bercak di kulit,
perdarahan yang tak jelas sebabnya, sesak nafas, sakit
tenggorokkan, keringat malam, dan demam. Tanda-tanda yang
tidak khas ini adalah indikasi adanya kerusakan sistem
kekebalan tubuh.
c. Pada tahap akhir orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya
telah demikian rusaknya akan menjadi panderita AIDS. Pada
tahap ini penderita sering diserang penyakit berbahaya, yang
disebut infeksi oportunistik, yaitu penyakit yang disebabkan
oleh kuman-kuman yang biasanya hidup dalam badan, yang
kalau sistem kekebalan tubuh baik, kuman-kuman ini bisa
dikendalikan oleh badan kita. Infeksi oportunistik ini misalnya
Pneumonia Pnewmocystis carinii; beberapa jenis kanker kulit
(walaupun kanker macam ini jarang pada wanita AIDS);
kelainan di otak (seperti dementia); atau gejala-gejala seperti
demam, batuk-batuk dan berkeringat. Penyakit-penyakit tida
bisa mematikan, walaupun pada orang-orang yang sehat
penyakit-penyakit ini tidak berbahaya.
Samapai sekarang belum diketahui penyebab cepat lambatnya
seseorang menjadi penderita AIDS. Ada kemungkinan adanya faktor-
faktor tertentu yang berpengaruh seperti:
a. Adanya penyakit menular seksual lainnya pada orang yang
terinfeksi HIV
b. Frekuensi terpapar dengan HIV
c. Faktor-faktor yang merendahkan daya tahan seperti kurang gizi
dan stress
d. Penyalahgunaan obat-obatan
6. Cara-cara pencegahan HIV/AIDS

9
Untuk mencegah tertular dengan HIV/AIDS maka upaya yang dapat
dilakukan antara lain “ABC” yaitu:
a. Abstinence (berpantang seks) adalah jalan yang pasti menuju
terhindarnya dari infeksi HIV, apabila pasangan menghentikan
segala kegiatan seksualnya.
b. Be Feithful (hubungan monogami seumur hidup). Gadis dan
wanita muda lebih mungkin melaukan daripada pria untuk
membatasi hubungannya hanya dengan orang-orang yang
disayangi atau yang akan dinikahinya. Akan lebih sukar tertular
HIV apabila hanya memiliki satu orang pasangan seks
dibandingkan bila berhubungan dengan banyak orang.
c. Condom. Kondom adalah selaput atau sarung yang berfungsi
sebagai tameng pencegah lewatnya jasad renik pembawa
penyakit (dan mani) dari seorang pria kepada pasangan seksnya.
Kondom juga mencegah masuknya cairan vagina (dan kuman di
dalamnya) ke saluran kencing pria melalui liang uretra atau
melalui luka

B. Analisis Kasus
An. Y, 16 tahun dirawat di rumah sakit dengan keluhan diare lebih dari
satu bulan, demam disertai flu. An. Y, mempunyai riwayat penggunaan
obat-obatan terlarang, diantaranya adalah obat suntik. TD : 110/70
mmHg, N : 82x/menit, S: 390C, RR : 26x/menit, turgor kulit buruk, dan
mukosa kering serta terdapat stomatitis

10
C. Asuhan Keperawatan
1. Analisa data

NO Analisa Data Etiologi Problem

1. Ds : pasien mengatakan diare Kehilangan cairan Defisiensi volume


yang aktif cairan (00027)
lebih dari 1 bulan

Do : pasien tampak lemas

- Turgor kulit buruk


- Mukosa kering
- Terdapat stomatitis
- Kelemahan
- Kulit kering
- Penurunan berat badan

2. Ds : pasien mengatakan Dehidrasi Hipertermi (00007)


demam disertai flu

Do : wajah pasien tampak


merah

- kulit teraba panas


- tampak gelisah
- S : 390C
- N : 82x/menit
- TD : 110/70mmHg
3. Ds : pasien mengatakan Kurang sistem Ketidakefektifan
pendukung
pernah menggunakan obat- performa peran
obatan terlarang (obat suntik) (00055)
tanpa sepengetahuan orang
tuanya

11
Do : pasien nampak kurang
dekat dengan keluarganya

- Perubahan presepsi
peran
- Ansietas
- Ketidak adekuatan
adaptasi terhadap
perubahan

4. Ds : pasien mengatakan sesak Ketidakefektifan


Hiperventiasi
nafas pola nafas (00032)

Do : pasien tampak ngap-


ngapan dan gelisah

- Tampak menggunakan
otot bantu nafas
- Pola nafas tampak
abnormal
- RR : 26 x/ menit
5. Ds : pasien mengatakan tidak Defisiensi
Kurang informasi pengetahuan
tau efek penggunaan obat-
( 00126 )
obatan terlarang ( obat suntik )

Do : pasien tampak bingung


saat di jelaskan mengenai efek
penggunaan obat-onatan
terlarang

- Perilaku kurang tepat


- Kurangnya

12
pengetahuan

2. Diagnosa Keperawatan
a. Defisien volume cairan b/d Kehilangan cairan yang aktif (00027)
b. Hipertermi b/d Dehidrasi (00007)
c. Ketidakefektifan performa peran b/d Kurang sistem pendukung
(00055)
d. Ketidakefektifan pola nafas b/d Hiperventiasi (00032)
e. Defisiensi pengetahuan b/d Kurang informasi ( 00126 )

3. Prioritas Diagnosa Keperawatan


a. Defisiensi volume cairan b/d Kehilangan cairan yang aktif
(00027)
b. Hipertermia b/d Dehidrasi (00007)
c. Ketidakefektifan pola nafas b/d Hiperventiasi (00032)
d. Ketidak efektifan performa peran b/d Kurang sistem pendukung
(00055)
e. Defisiensi pengetahuan b/d Kurang informasi ( 00126 )

13
4. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan NOC NIC


Defisiensi volume cairan b/d Setelah dilakukan tindakan keperawatan 8 NIC : Manajemen Diare (0460)
Kehilangan cairan yang aktif jam diharapkan pasien memiliki skala
O : Pantau output dan input
(00027) outcome :
- Amati turgor kulit secara berkala
NOC : Keseimbangan cairan ( 0601 )
N : berikan cairan dengan tepat
1. Sangat terganggu
E : Instruksikan pasien atau keluarga untuk mencatat
2. Banyak terganggu
warna, volume, frekuensi, dan konsistensi tinja.
3. Cukup terganggu
4. Sedikit terganggu C : Kolaborasi dengan dokter bila terjadi peningkatan
5. Tidak terganggu frekuensi atau suara perut
Kriteria hasil :

1. Keseimbangan intake dan output


dalam 24 jam dipertahankan pada
skala 3 ditingkatkan ke skala 4
2. Berat badan stabil dipertahankan pada

9
skala 2 ditingkatkan ke skala 4
3. Kelembapan membran mukosa
dipertahankan pada skala 3
Hipertermia b/d Dehidrasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan 4 NIC : Perawatan demam (3740)
(00007) jam diharapkan suhu tubuh dalam batas
O : Pantau suhu dan tanda-tanda vital
normal dengan skala outcome :
N : Fasilitasi istirahat, terapkan pembatasan aktivitas
NOC : Termoregulasi (0800)
jika diperlukan
1. Sangat terganggu
E : Dorong pasien banyak mengkonsumsi cairan
2. Besar terganggu
3. Cukup terganggu Ajarkan keluarga dan pasien untuk kompres hangat
4. Sedikit terganggu
C : Kolaborasi dalam pemberian obat (antipiretik, agen
5. Tidak terganggu
bakteri)
Kriteria hasil :

1. Berkeringat saat panas dipertahankan


pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
2. Peningkatakan suhu kulit

10
dipertahankan pada skala 2
ditingkatkan ke skala 3
3. Dehidrasi dipertahankan pada skala 3
ditingkatkan ke skala 4
Ketidakefektifan pola nafas b/d Setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC : Pengurangan Kecemasan ( 5820 )
Hiperventiasi (00032) selama 2 x 24 jam diharapkan pasien
O : observasi tanda-tanda vital
memiliki skala outcome :
N : Gunakan pendekatan yang tenang dan menyakinkan
NOC : Status Perafasan : Kepetenan Jalan
Nafas ( 0410 ) E : Instruksikan klien untuk menggunakannteknik
relaksasi
1. Deviasi berat dari kiaran normal
2. Deviasi cukup berat dari kisaran C : kolaborasikan dengan tim kesehatan lain dalam
normal melakukan implementasi yang sesuai dengan
3. Seviasi sedang dari kisaran normal kebutuhan pasien
4. Deviasi ringan dari kisaran normal
5. tidak ada deviasi dari ksaran normal
Kriteria Hasil :

11
1. Frekuensi nafas pernafasan
dipertahankan pada skala 2
ditingkatkan ke skala 4
2. Ansietas di pertahankan pada skala 2
ditingkatkan ke skala 5

Ketidak efektifan performa Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x NIC : Peningkatan peran (5370)
peran b/d Kurang sistem 24 jam diharapkan pasien memiliki skala
O : Identifikasi peran dalam keluarga
pendukung (00055) outcome :
N : Berikan kesempatan perawat gabung untuk
NOC : Penampilan peran (1501)
membantu klarifikasi peran sebagai orang tua
1. Tidak adekuat
E : diskusi mengenai adaptasi peran pada keluarga
2. Sedikit adekuat
3. Cukup adekuat C : Kolaborarikan dengan keluarga untuk memberikan
4. Sebagian cukup berat adekuat dukungan penuh pada pasien.
5. Sepenuhnya adekuat
Kriteria hasil :

12
1. Panampilan perilaku keluarga
dipertahankan pada skala 1
ditingkatkan ke skala 3
2. Penampilan perilaku orang tua
diepertahankan pada skala 1
ditingkatkan ke skala 3
3. Melakukan peran sesuai harapan
dipertahankan pada skala 1
ditingkatkan ke skala 4
Defisiensi pengetahuan b/d Setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC : pendidikan orangtua: Remaja
Kurang informasi ( 00126 ) selama 8 jam diharapakan pasien memiliki
O : observasi kedekatan anak dengan orang tua
skala outcome :
N: minta orang tua untuk menggambarkan karakteristik
NOC : Pengetahuan : Control
anak remaja
Penyalahgunaan Napza ( 1812 )
- Sampaikan strategi pengeturan batasan untuk
1. Tidak ada pengetahuan
anak remaja
2. Pengetahuan terbatas
- Gunkan strategi bermain peran untuk mengelola
3. Pengetahuan sedang

13
4. Pengetahuan banyak konflik keluarga
5. Pengetahuan sangat banyak E : Ajarkan orang tua menggunakan realitas dan
kosekuensi untuk mengelola perilaku remaja

Kriteria hasil : C : konsultasikan kepada dokter psikiater untuk


memberikan informs mengenai penyalahgunaan
1. Factor resiko personal terhadap
zat terlarang
penyalahgunaan zat dipertahahankan
pada skla 2ditingkatkan ke skala 4
2. Efek kesehatan yang merugikan
akibat penyelahgunaan zat
dipertahankan pada skala 1
ditingkatkan ke skala 4
3. Konsekuensi social dari pengguna zat
terlarang di pertahankan pada skala 2
ditingktakan ke skala 4
4. Tanda –tanda ketergantungan selama
penghentian zat terlarang
dipertahankan pada skala 1

14
ditingkatkan ke skala 4

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan sebuah
retrovirus yang memiliki genus lentivirus yang menginfeksi,
merusak, atau menggangu fungsi sel sistem kekebalan tubuh
manusia sehingga menyebabkan sistem pertahanan tubuh manusia
tersebut menjadi melemah Virus HIV menyebar melalui cairan
tubuh dan memiliki cara khas dalam menginfeksi sistem kekebalan
tubuh manusia terutama sel Cluster of Differentiation 4 (CD4) atau
sel-T. AIDS adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya
system kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh
retrovirus (HIV) yang dapat mempermudah terkena berbagai infeksi
seperti bakteri, jamur, parasit dan virus.
Remaja menjadi salah satu kelompok rentan dalam epidemi
HIV/AIDS. Usia remaja adalah usia yang mulai mengeksplorasi
rasa ingin tahu dari masalah pergaulan sampai masalah hubungan
seks dengan orang misalnya pacar dan pekerja seks. Perkembangan
seksualitas merupakan masa kritis bagi remaja. Saat remaja
mengalami masa pubertas yang ditunjukan dengan terjadinya
aktifitas hormonal yang sangat aktif. Hal tersebut menyebabkan rasa
keingintahuan remaja tentang seks dan kesehatan reproduksi
meningkat.

14
Daftar Pustaka

IGAMA. (2006). “Cara Penularan dan Pencegahan HIV/AIDS”. IGAMA,


Malang. Dari http://www.geocities.com/igamamalang/penularan.htm
diaksek pada 23 Maret 2020 pukul 17.50

Kemenkes RI. 2012. Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari


Ibu ke anak. Jakarta : Kementrian Kesehatan Indonesia

Mansjoer, A. (2000). Kapita Selekta Kedokteran jilid I. Jakarta: Medika


Aesculapius

NANDA. (2018). Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2018 –


2020. Jakarta : EGC

Nursing Intervensions Classification (NIC). (6th ed). (2013). St. Louis


Missouri: Mosby Elsevier Inc.

Nursing Outcomes Classification (NOC). (5th ed). (2013). St. Louis


Missouri: Mosby Elsevier Inc.

Nurachmah, E., & Mustikasari. (2009).Faktor Pencegahan HIV/AIDS.


Makasar:kesehatan, 63-68

Sianturi, S. (2012). Hubungan Faktor Predisposisi, Pendukung dan Penguat


Dengan Tindakan Penggunaan Kondom Pada WPS Untuk Pencegahan
HIV/AIDS di Kabupaten Serdang Bedagai. Jurnal Precure Tahun 1
Volume 1.

Smeltzer, S. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &


Suddarth. (Agung Waluyo. Penerjemah). Ed. 8. Jakarta: EGC

Sopiah, P. (2009). Lindungi Pelajar Dari Serangan Virus HIV/AIDS.


Bandung: Elisa Surya Dwitama