Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

CEREBRAL PALSY

DISUSUN OLEH

1. ABDUL WAHID R
2. EKAFITRI
3. GUSTIARIANI
4. FATMAWATI
5. HOTMI AFRENTI
6. M. IRFAN JASIR

PROGRAM STUDI DIII FISIOTERAPI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ABDURRAB
PEKANBARU
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala
rahmat dan karunia-Nya yang telah memberikan kemampuan akal pikiran kepada
seluruh manusia, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
judul“CEREBRAL PALSY”.
Dalam penulisan makalah ini, kami tentu menemukan hambatan baik dari
luar maupun dari dalam. Adapun hambatan itu adalah keterbatasan pengetahuan
kami, sumber informasi dan keterbatasan waktu yang membuat kurang
maksimalnya makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini banyak mendapat arahan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih kepada orang tua kami,
dosen pembimbing, serta teman-teman yang selalu memberikan dukungan
terhadap penulisan makalah ini.
Penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan penulis.

Pekanbaru, Mai 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 1
1.1 Latar Belakang................................................................................. 2
1.2 Rumusan masalah ............................................................................ 2
1.3 Tujuan ............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................... 3
2.1 Devinisi Cerebral palsy.................................................................... 3
2.2 Klasifikasi Cerebral Palsy................................................................ 4
2.3 Etiologi Cerebral Palsy..................................................................... 5
2.4 Faktor Resiko Cerebral Palsy........................................................... 7
2.5 Manifestasi Klini Cerebral Palsy...................................................... 8
2.6 Patofisiologi Dari Cerebral Palsy..................................................... 12
2.7 Gejala Dari Cerebral Palsy............................................................... 12
2.8 Diagnosis Dari Cerebral Palsy......................................................... 13
2.9 Penatalaksanaan .............................................................................. 15
2.10 Komplikasi ...................................................................................... 18
2.11 Pencegahan ...................................................................................... 18
2.12 Prognosis.......................................................................................... 19
BAB III PENUTUP ................................................................................ 20
3.1 Kesimpulan...................................................................................... 20
3.2 Saran ................................................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................. 21

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Cerebral palsy adalah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu
kurun waktu dalam perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik di dalam
susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat
pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya. Walaupun lesi serebral
bersifat statis dan tidak progresif, tetapi perkembangan tanda-tanda neuron perifer
akan berubah akibat maturasi serebral. Yang pertama kali memperkenalkan
penyakit ini adalah William John Little (1843), yang menyebutnya dengan istilah
cerebral diplegia, sebagai akibat prematuritas atau afiksia neonatorum. Sir
William Olser adalah yang pertama kali memperkenalkan istilah cerebral palsy,
sedangkan Sigmund Freud menyebutnya dengan istilah Infantile Cerebral
Paralysis. Walaupun sulit, etiologi cerebral palsy perlu diketahui untuk tindakan
pencegahan. Fisioterapi dini memberi hasil baik, namun adanya gangguan
perkembangan mental dapat menghalangi tercapainya tujuan pengobatan.
WinthropPhelps menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam
penanganan penderita cerebral palsy, seperti disiplin anak, saraf, mata, THT,
bedah tulang, bedah saraf, psikologi, ahli wicara, fisioterapi, pekerja sosial, guru
sekolah Iuar biasa. Di samping itu juga harus disertakan peranan orang tua dan
masyarakat.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi insidensi penyakit ini yaitu:
populasi yang diambil, cara diagnosis, dan ketelitiannya. Misalnya insidensi
cerebral palsy di Eropa (1950) sebanyak 2,5 per 1000 kelahiran hidup, Gilory
memperoleh 5 dan 1000 anak memperlihatkan defisit motorik yang sesuai dengan
cerebral palsy, 50 % kasus termasuk ringan sedangkan 10% termasuk berat. Yang
dimaksud ringan ialah penderita yang dapat mengurus dirinya sendiri, sedangkan
yang tergolong berat ialah penderita yang memerlukan perawatan khusus, 25 %
mempunyai intelegensi rata-rata (normal), sedangkan 30 % kasus menunjukkn IQ
di bawah 70, 35 % disertai kejang, sedangkan 50 % menunjukan gangguan bicara.
Laki-laki lebih banyak dari pada wanita ( 1,4 : 1,0).

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Devinisi Cerebral palsy
2. Bagaimana Klasifikasi Cerebral Palsy
3. Apa Etiologi Cerebral Palsy
4. Bagaimana Faktor Resiko Cerebral Palsy
5. Bagaimana Manifestasi Klini Cerebral Palsy
6. Apa Patofisiologi Dari Cerebral Palsy
7. Bagaimana Gejala Dari Cerebral Palsy
8. Apa Diagnosis Dari Cerebral Palsy
9. Bagaiman Pemeriksaan penunjang Dari Cerebral Palsy

1.3 Tujuan
1. Untuk Mengetahui Devinisi Cerebral palsy
2. Untuk Klasifikasi Cerebral Palsy
3. Untuk Mengetahui Etiologi Cerebral Palsy
4. Untuk Mengetahui Faktor Resiko Cerebral Palsy
5. Untuk Mengetahui Manifestasi Klini Cerebral Palsy
6. Untuk Mengetahui Patofisiologi Dari Cerebral Palsy
7. Untuk Mengetahui Gejala Dari Cerebral Palsy
8. Untuk Mengetahui Diagnosis Dari Cerebral Palsy
9. Untuk Mengetahui Pemeriksaan penunjang Dari Cerebral Palsy

2
BAB II
PEMBAHASAAN

2.1 Definisi Cerebral Palsy


Cerebral palsy adalah ensefalopatistatis yang mungkin di definisikan
sebagai kelainan postur dan gerakan non-progresif, sering disertai dengan epilepsy
dan ketidak normalan bicara, penglihatan, dan kecerdasan akibat dari cacat atau
lesi otak yang sedang berkembang. ( Behrman : 1999, hal 67 – 70 )
Cerebral palsy ialah suatu gangguan nonspesifik yang disebabkan oleh
abnormalitas system motor piramida ( motor kortek, basal ganglia dan otak kecil )
yang ditandai dengan kerusakan pergerakan dan postur pada serangan
awal. ( Suriadi Skep : 2006, hal 23 – 27 ).
Cerebral palsy adalah kerusakan jaringan otak yang kekal dan tidak
progresif, terjadi pada waktu masih muda ( sejak dilahirkan ) serta merintangi
perkembangan otak normal dengan gambaran klinik dapat berubah selama hidup
dan menunjukkan kelainan dalam sikap dan pergerakan, disertai kelainan
neurologist berupa kelumpuhan spastis, gangguan ganglia basal dan sebelum juga
kelainan mental. ( Ngastiyah : 2000, hal 54 – 56 ).
Jadi, Cerebral (otak) cpacry ( KeIumpuhan ) adalah suatu kelainan otak
yang ditandai dengan gangguan mengontrol hingga timbul kesulitan dalam
bergerak dan meletakkan posisi tubuh disertai gangguan fungsi tubuh lainnya
akibat kerusakan / kelainan fungsi bagian otak tertentu pada bayi / anak dapat
terjadi ketika bayi dalam kandungan, saat lahir atau setelah lahir, sering disertai
dengan epilepsy dan ketidak normalan bicara, penglihatan, kecerdasan kurang,
buruknya pengendalian otot, kekakuan, kelumpuhan dan gangguan fungsi saraf
lainnya.
Derajat Keparahan Cerebral Palsy
(Gross Motor Function Classification System/GMFCS)
Derajat I : Berjalan tanpa hambatan, keterbatasan terjadi pada
gerakan motorik kasar yang lebih rumit.
Derajat II : Berjalan tanpa alat bantu, keterbatasan dalam ber-jalan di
luar rumah dan di lingkungan masyarakat.

3
Derajat III : Berjalan dengan alat bantu mobilitas, keterbatasan dalam
berjalan di luar rumah dan di lingkungan masyarakat.
Derajat IV : Kemampuan bergerak sendiri terbatas, menggunakan alat
bantu gerak yang cukup canggih untuk berada di luar
rumah dan di lingkungan masyarakat.
Derajat V : Kemampuan bergerak sendiri sangat terbatas, walaupun
sudah menggunakan alat bantu yang canggih

2.2 Klasifikasi
Cerebral Palsy dibagi menjadi 4 kelompok :
1. Tipe spastic atau pyramidal ( 50% dari semua kasus CP, otot-otot
menjadi kaku dan lemah. Pada tipe ini gejala yang hampir selalu ada
adalah :
a. Hipertoni ( fenomena pisau lipat )
b. Hiperrefleksi yang disertai klonus.
c.    Kecenderungan timbul kontraktur.
d.    Reflex patologis.
Secara topografi distribusi tipe ini adalah sebagai berikut :
a. Hemiplegia apabila mengenai anggota gerak sisi yang sama.
b. Spastic diplegia, mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak
atas sedikit lebih berat.
c. Kuadriplegi, mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak
atas sedikit lebih berat.
d. Monopologi, bila hanya satu anggota gerak.
e. Triplegi apabila mengenai satu anggota gerak atas dan dua
anggota gerak bawah, biasanya merupakan varian dan
kuadriplegi.
2. Tipe disginetik ( koreatetoid, 20% dari semua kasus CP ), otot lengan,
tungkai dan badan secara spontan bergerak perlahan, menggeliat dan
tak terkendali, tetapi bisa juga timbul gerakan yang kasar dan
mengejang. Luapan emosi menyebabkan keadaan semakin memburuk,
gerakan akan menghilang jika anak tidur.

4
3. Tipe ataksik, ( 10% dari semua kasus CP ), terdiri dari tremor, langkah
yang goyah dengan kedua tungkai terpisah jauh, gangguan koordinasi
dan gerakan abnormal.
4. Tipe campuran ( 20% dari semua kasus CP ), merupakan gabungan
dari 2 jenis diatas, yang sering ditemukan adalah gabungan dari tipe
spastic dan koreoatetoid. Berdasarkan derajat kemampuan fungsional :
a. Ringan
Penderita masih bisa melakukan pekerjaan / aktivitas sehari-
hari sehingga sama sekali tidak atau hanya sedikit sekali
membutuhkan bantuan khusus.
b. Sedang
Aktivitas sangat terbatas, penderita membutuhkan bermacam-
macam bantuan khusus atau pendidikan khusus agar dapat
mengurus dirinya sendiri, dapat bergerak dan berbicara. Dengan
pertolongan secara khusus, diharapkan penderita dapat mengurus
diri sendiri, berjalan atau berbicara sehingga dapat bergerak,
bergaul, hidup di tengah masyarakat dengan baik.
c. Berat
Penderita sama sekali tidak bisa melakukan aktifitas fisik dan
tidak mungkin dapat hidup tanpa pertolongan orang lain.
Pertolongan atau pendidikan khusus yang diberikan sangat sedikit
hasilnya. Sebaiknya penderita seperti ini ditampung dengan
retardasi mental berat, atau yang akan menimbulkan gangguan
social-emosional baik bagi keluarganya maupun lingkungannya.

2.3 Etiologi
2.3.1 Pranatal
a) Infeksi yang terjadi pada masa kehamilan menyebabkan kelainan
pada janin, misalnya oleh lues, toksoplasmosis, rubela dan
penyakit infeksi sitomegalik.
b) Radiasi sinar X
c) Malformasi Kongenital

5
d) Asfiksia dalam kandungan (misalnya: solusio plasenta, plasenta
previa, anoksi maternal, atau tali pusat yang abnormal)
2.3.2 Perinatal
a) Anoreksia/Hipoksia
Penyebab terbanyak ditemukan dalam masa perinatal ialah
cidera otak. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya
anoreksia. Hal demikian terdapat pada keadaan presentasi bayi
abnormal, disproporsi sefalopelvik, partus lama, plasenta previa,
infeksi plasenta, partus menggunakan bantuan alat tertentu dan
lahir dengan seksio sesar.
b) Perdarahan otak
Perdarahan dan anoreksia dapat terjadi bersama-sama,
sehingga sukar membedakannya, misalnya perdarahan yang
mengelilingi batang otak, mengganggu pusat pernapasan dan
peredaran darah sehingga terjadi anoreksia. Perdarahan dapat
terjadi di ruang subaraknoid dan menyebabkan penyumbatan CSS
sehingga mangakibatkan hidrosefalus. Perdarahan di ruang
subdural dapat menekan korteks serebri sehingga timbul
kelumpuhan spastis.
c) Prematuritas
Bayi kurang bulan mempunyai kemungkinan menderita
perdarahan otak lebih banyak dibandingkan dengan bayi cukup
bulan, karena pembulu darah, enzim, faktor pembekuan darah dan
lain-lain masih belum sempurna.
d) Ikterus
Ikterus pada masa neonatus dapat menyebabkan kerusakan
jaringan otak yang kekal akibat masuknya bilirubin ke ganglia
basal, misalnya pada kelainan inkompatibilitas golongan darah.
Terjadi ikterus bila bilirubin dalam darah lebih dari 20 mg/dl.
e) Meningitis purulenta

6
Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak
tepat pengobatannya akan mengakibatkan gejala sisa berupa palsi
serebral.
2.3.3 Post natal / Pasca natal
a) Trauma Kapitis
b) Infeksi misalnya : meningitis bakterial, abses serebri,
tromboplebitis, ensefalomielitis.
c) Luka Parut pada otak pasca bedah.
Beberapa penelitian menyebutkan faktor prenatal dan perinatal lebih
berperan dari pada faktor pascanatal. Studi oleh nelson dkk ( 1986 ) menyebutkan
bayi dengan berat lahir rendah, asfiksia saat lahir, iskemia prenatal, faktor
penyebab cerebral palsy. Faktor prenatal dimulai saat masa gestasi sampai saat
akhir, sedangkan faktor perinatal yaitu segala faktor yang menyebabkan Cerebral
palsy mulai dari lahir sampai satu bulan kehidupan. Sedangkan faktor pascanatal
mulai dari bulan pertama kehidupan sampai 2 tahun. ( Hagbreg dkk, 1975 ), atau
sampai 5 tahun kehidupan ( Blair dan Stanley, 1982 ), atau sampai 16 tahun
( Perlstein, Hod, 1964 ).

2.4 Faktor Resiko


Faktor-faktor resiko yang menyebabkan kemungkinan terjadinya CP
semakin besar antara lain adalah :
1. Letak sungsang.
2. Proses persalinan sulit
Masalah vaskuler atau respirasi bayi selamaa persalinan merupakan
tanda awal yang menunjukkan adanya masalah kerusakan otak atau
otak bayi tidak berkembang secara normal. Komplikasi tersebut dapat
menyebabkan kerusakan otak permaanen.
3. Apgar score rendah.
Apgar score yang rendah hingga 10 – 20 menit setelah kelahiran.
4. BBLR dan prematuritas.
Resiko CP lebih tinggi diantara bayi dengan berat lahir 
5. Kehamilan ganda.

7
6. Malformasi SSP.
Sebagian besar bayi-bayi yang lahir dengan CP memperlihatkan
malformasi SSP yang nyata, misalnya lingkar kepala abnormal
(mikrosefali). Hal tersebut menunjukkan bahwa masalah telah terjadi
pada saat perkembangan SSP sejak dalam kandungan.
7. Perdarahaan maternal atau proteinuria berat pada saat masa akhir
kehamilan.
Perdarahan vaginal selama bulan ke 9 hingga 10 kehamilan dan
peningkatan jumlah protein dalam urine berhubungan dengan
peningkatan resiko terjadinya CP pada bayi.
8. Hipertiroidism maternal, mental retardasi dan kejang.
9. Kejang pada bayi baru lahir.

2.5 Manifestasi klinis


Manifestasi klinik Cerebral palsy bergantung pada lokalisasi dan luasnya
jaringan otak yang mengalami kerusakan, apakah pada korteks serebri, ganglia
basalis atau serebelum. Dengan demikian secara klinik dapat dibedakan 3 bentuk
dasar gangguan motorik pada Cerebral palsy, yaitu : spastisitas, atetosis dan
ataksia.
2.5.1 Spastisitas
Terdapat peninggian tonus otot dan refleks yang disertai dengan
klonus dan reflek Babinski yang positif. Tonus otot yang meninggi itu
menetap dan tidak hilang meskipun penderita dalam keadaan tidur.
Peninggian tonus ini tidak sama derajatnya pada suatu gabungan otot,
karena itu tampak sifat yang khas dengan kecenderungan terjadi kontraktur,
misalnya lengan dalam aduksi, fleksi pada sendi siku dan pergelangan
tangan dalam pronasi serta jari-jari dalam fleksi sehingga posisi ibu jari
melintang di telapak tangan.
Tungkai dalam sikap aduksi, fleksi pada sendi paha dan lutut, kaki
dalam flesi plantar dan telapak kaki berputar ke dalam. Tonic neck reflex
dan refleks neonatal menghilang pada waktunya. Kerusakan biasanya

8
terletak di traktus kortikospinalis. Bentuk kelumpuhan spastisitas tergantung
kepada letak dan besarnya kerusakan yaitu monoplegia/ monoparesis.
Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi salah satu anggota gerak lebih
hebat dari yang lainnya; hemiplegia/ hemiparesis adalah kelumpuhan lengan
dan tungkai dipihak yang sama; diplegia/ diparesis adalah kelumpuhan
keempat anggota gerak tetapi tungkai lebih hebat daripada lengan;
tetraplegia/ tetraparesis adalah kelimpuhan keempat anggota gerak, lengan
lebih atau sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai. Golongan spastitis
ini meliputi 3 – ¾ penderita cerebral palsy. Bentuk kelumpuhan spastitis
tergantung kepada letak dan besarnya kerusakan, yaitu:
a) Monoplegia/ Monoparesis
Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi salah satu anggota gerak
lebih hebat dari yang lainnya.
b) Hemiplegia/ Diparesis
Kelumpuhan lengan dan tungkai dipihak yang sama.
c) Diplegia/ Diparesis
Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi tungkai lebih hebat
daripada lengan. 
d) Tetraplegia/ Tetraparesis
Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi lengan lebih atau sama
hebatnya dibandingkan dengan tungkai
e) Tonus otot yang berubah
Bayi pada golongan ini, pada usia bulan pertama tampak fleksid
(lemas) dan berbaring seperti kodok terlentang sehingga tampak
seperti kelainan pada lower motor neuron. Menjelang umur 1 tahun
barulah terjadi perubahan tonus otot dari rendah hingga tinggi. Bila
dibiarkan berbaring tampak fleksid dan sikapnya seperti kodok
terlentang, tetapi bila dirangsang atau mulai diperiksa otot tonusnya
berubah menjadi spastis, Refleks otot yang normal dan refleks
babinski negatif, tetapi yang khas ialah refleks neonatal dan tonic neck
reflex menetap. Kerusakan biasanya terletak di batang otak dan
disebabkan oleh afiksia perinatal atau ikterus.

9
2.5.2 Koreo-Atetosis
Kelainan yang khas yaitu sikap yang abnormal dengan pergerakan
yang terjadi dengan sendirinya (involuntary movement). Pada 6 bulan
pertama tampak flaksid, tetapa sesudah itu barulah muncul kelainan
tersebut. Refleks neonatal menetap dan tampak adanya perubahan tonus
otot. Dapat timbul juga gejala spastisitas dan ataksia, kerusakan terletak
diganglia basal disebabkan oleh asfiksia berat atau ikterus kern pada masa
neonatus.
2.5.3 Ataksia
Ataksia adalah gangguan koordinasi. Bayi dalam golongan ini
biasanya flaksid dan menunjukan perkembangan motorik yang lambat.
Kehilangan keseimbangan tampak bila mulai belajar duduk. Mulai berjalan
sangat lambat dan semua pergerakan canggung dan kaku. Kerusakan
terletak di serebelum.
 Gangguan pendengaran
Terdapat 5-10% anak dengan cerebral palsy. Gangguan
berupa kelainan neurogen terutama persepsi nadi tinggi, sehingga
sulit menangkap kata-kata. Terdapat pada golongan koreo-
atetosis.
 Gangguan bicara
Disebabkan oleh gangguan pendengaran atau retradasi
mental. Gerakan yang terjadi dengan sendirinya dibibir dan lidah
menyebabkan sukar mengontrol otot-otot tersebut sehingga anak
sulit membentuk kata-kata dan sering tampak anak berliur.
 Gangguan mata
Gangguan mata biasanya berupa strabismus konvergen dan
kelainan refraksi.padakeadaan asfiksia yang berat dapat terjadi
katarak.
 Paralisis
Dapat berbentuk hemiplegia, kuadriplegia, diplegia,
monoplegia, triplegia. Kelumpuhan ini mungkin bersifat flaksid,
spastik atau campuran.

10
 Gerakan involunter
Dapat berbentuk atetosis, khoreoatetosis, tremor dengan
tonus yang dapat bersifat flaksid, rigiditas, atau campuran.
 Kejang
Dapat bersifat umum atau fokal.
 Gangguan perkembangan mental
Retardasi mental ditemukan kira-kira pada 1/3 dari anak
dengan cerebral palsy terutama pada grup tetraparesis, diparesis
spastik dan ataksia. Cerebral palsy yang disertai dengan retardasi
mental pada umumnya disebabkan oleh anoksia serebri yang
cukup lama, sehingga terjadi atrofi serebri yang menyeluruh.
Retardasi mental masih dapat diperbaiki bila korteks serebri tidak
mengalami kerusakan menyeluruh dan masih ada anggota gerak
yang dapat digerakkan secara volunter. Dengan
dikembangkannya gerakan-gerakan tangkas oleh anggota gerak,
perkembangan mental akan dapat dipengaruhi secara positif.
 Problem emosional terutama pada saat remaja.
Dari manifestasi klinis diatas tadi, terdapat ciri-ciri dari
cerebral palsy, yaitu :
1. Perkembangan motor kasar dan motor halus yang lambat
2. Tindakan yang sepatutnya hilang masih kekal
3. Berjalan dengan menjinjit atau kaki diseret
4. Ketidaknormalan bentuk otot
5. Lekukan pada spinal “jawbone” kepala kecil
6. Penangkapan
7. Sawan
8. Percakapan komunikasi
9. Deria yang lemah
10. Kerencatan akal
11. Masalah pembelajaran
12. Masalah tingkah laku

11
2.6 Patofisiologi
Adanya malformasi pada otak, penyumbatan pada vaskuler, atropi, hilangnya
neuron dan degenerasi laminar akan menimbulkan narrower gry, saluran sulci
dan berat otak rendah. Anoxia merupakan penyebab yang berarti dengan
kerusakan otak, atau sekunder dari penyebab mekanisme yang lain. CP (Cerebral
Palsy) dapat dikaitkan dengan premature yaitu spastic displegia yang disebabkan
oleh hypoxic infarction atau hemorrhage dalam ventrikel.
Type athetoid / dyskenetik disebabkan oleh kernicterus dan penyakit
hemolitik pada bayi baru lahir, adanya pigmen berdeposit dalam basal ganglia dan
beberapa saraf nuclei cranial. Selain itu juga dapat terjadi bila gangsal banglia
mengalami injury yang ditandai dengan idak terkontrol; pergerakan yang tidak
dosadari dan lambat. Type CP himepharetic,karena trauma pada kortek atau CVA
pada arteri cerebral tengah. Cerebral hypoplasia; hipoglicemia neonatal
dihubungkan dengan ataxia CP.
Spastic CP yang paling sering dan melibatkan kerusakan pada motor korteks
yang paling ditandai dengan ketegangan otot dan hiperresponsif. Refleks tendon
yang dalam akan meningkatkan dan menstimulasi yang dapat menyebabkan
pergerakan sentakan yang tiba-tiba pada sedikit atau semua ektermitas. Ataxic CP
adanya injury dari serebelum yang mana mengatur koordinasi, keseimbangan dan
kinestik. Akan tampak pergerakan yang tidak terkoordinasi pada ekstremitas aras
bila anak memegang / menggapai benda. Ada pergerakan berulang dan cepat
namun minimal. Rigid / tremor / atonic CP ditandai dengan kekakuan pada kedua
otot fleksor dan ekstensor. Type ini mempunyai prognosis yang buruk karena ada
deformitas multiple yang terkait dengan kurangnya pergerakan aktif. Secara
umum cortical dan antropy cerebral menyebabkan beratnya kuadriparesis dengan
retardasi mental dan microcephaly.

2.7 Gejala
Gejala biasanya timbul sebelum anak berumur 2 tahun dan pada kasus yang
berat,bisa muncul pada saat anak berumur 3 bulan.
Gejalanya bervariasi,mulai dari kejanggalan yang tidak tampak nyata
sampai kekakuan yang berat,yang menyebabkan bentuk lengan dan tungkai

12
sehingga anak harus memakai kursi roda. Gejalanya selalu mengiringi tipe dari
cerebral palsy.
Gejala lain yang mungkin muncul adalah :
 Kecerdasan dibawah normal
 Keterbelakangan mental
 Kejang/epilepsy (trauma pada tipe spastik)
  Gangguan menghisap atau makan
 Pernafasan yang tidak teratur
 Gangguan perkembangan kemampauan motorik (misalnya
menggapai sesuatu, duduk , berguling ,merangkak , berjalan)
 Gangguan berbicara (disatria)
 Gangguan penglihatan
 Gangguan pendengaran
 Kontraktur persendian
 Gerakan menjadi terbatas

2.8 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis lengkap tentang riwayat
kehamilan, perinatal dan pascanatal, dan memperhatikan faktor risiko terjadinya
cerebral palsy. Juga pemeriksaan fisik lengkap dengan memperhatikan
perkembangan motorik dan mental dan adanya refleks neonatus yang masih
menetap.
Pada bayi yang mempunyai risiko tinggi diperlukan pemeriksaan berulang
kali, karena gejaladapat berubah, terutama pada bayi yang dengan hipotoni, yang
menandakan perkembangan motorik yang terlambat; hampir semua cerebral palsy
melalui fase hipotoni.
Pemeriksaan penunjang lainnya yang diperlukan adalah foto polos kepala,
pemeriksaan pungsi lumbal. Pemeriksaan EEG terutama pada penderita yang
memperlihatkan gejala motorik, seperti tetraparesis, hemiparesis, atau karena
sering disertai kejang. Pemeriksaan ultrasonografi kepala atau CT Scan kepala
dilakukan untuk mencoba mencari etiologi.

13
Pemeriksaan psikologi untuk menentukan tingkat kemampuan intelektual
yang akan menentukan cara pendidikan ke sekolah biasa atau sekolah luar biasa.
2.8.1 Diagnosis pembanding
a) Mental subnormal
b) Retardasi motorik terbatas
c) Tahanan volunter terhadap gerakan pasif
d) Kelainan persendian
e) Cara berjalan yang belum stabil
f) Gerakan normal
g) Berjalan berjinjit
h) Pemendekan kongenital pada gluteus maksimus, sastrak nemius
atau hamstring
i) Kelemahan otot-otot pada miopati, hipotoni atau palsy erb
j) Lain penyebab dari gerakan involunter
k) Penyakit-penyakit degeneratif pada susunan saraf
l) Kelainan pada medala spinalis
m) Sindrom lain

2.8.2 Pemeriksaan penunjang


a) Pemeriksaan mata dan pendengaran segera dilakukan setelah
diagnosis sebral palsi di tegakkan.
b) Fungsi lumbal harus dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan penyebabnya suatu proses degeneratif. Pada
serebral palsi. CSS normal.
c) Pemeriksaan EKG dilakukan pada pasien kejang atau pada
golongan hemiparesis baik yang disertai kejang maupun yang
tidak.
d) Foto rontgen kepala.
e) Penilaian psikologis perlu dikerjakan untuk tingkat pendidikan
yang dibutuhkan.
f) Pemeriksaan metobolik untuk menyingkirkan penyebab lain dari
reterdasi mental.

14
2.9 Penatalaksanaan
Pada umumnya penanganan penderita CP meliputi :
a) Medik
Pengobatan kausal tidak ada, hanya simtomatik. Pada keadaan ini
perlu kerja sama yang baik dan merupakan suatu tim dokter anak,
neurolog, psikiater, dokter mata, dokter THT, ahli ortopedi, psikolog,
fisioterapi, occupatiional therapist, pekerja sosial, guru sekolah luar
biasa dan orangtua pasien.
b) Aspek non medis yang dilakukan
Untuk mengatasi kecacatan motorik yang disertai kecacatan
mental memerlukan pendidikan yang khusus. Kesembuhan dalam arti
regenerasi otak yang sehat dapat diraih dengan pengobatan dan
perawatan yang tepat.
c) Fisioterapi
Tindakan ini harus segera dimulai secara intensif. Orang tua turut
membantu program latihan dirumah. Untuk mencegah kontraktur
perlu diperhatikan posisi pasien pada waktu istirahat atau tidur. Bagi
pasien yang berat dianjurkan untuk sementara tinggal dipusat latihan.
Fisioterapi ini dilakukan sepanjang pasien hidup.
d)  Tindakan bedah
Bila terdapat hipertonus otot atau hiperspastisitas, dianjurkan
untuk dilakukan pembedahan otot, tendon atau tulang untuk reposisi
kelainan tersebut. Pembedahan stereotatik dianjurkan pada pasien
dengan pergerakan koreotetosis yang berlebihan.
Bertujuan untuk mengurangi spasme otot, menyamakan kekuatan
otot yang antagonis, menstabilkan sendi-sendi dan mengoreksi
deformitas. Tindakan operasi lebih sering dilakukan pada tipe spastik
dari pada tipe lainnya. Juga lebih sering dilakukan pada anggota gerak
bawah dibanding -dengan anggota gerak atas. Prosedur operasi yang
dilakukan disesuaikan dengan jenis operasinya, apakah operasi itu
dilakukan pada saraf motorik, tendon, otot atau pada tulang.

15
e) Obat-obatan
Pasien cereebral palsy (CP) yang dengan gejala motorik ringan
adalah baik, makin banyak gejala penyertaannya dan makin berat
gejala motoriknya makin buruk prognosisnya. Bila di negara maju ada
tersedia institute cerebral palsy untuk merawat atau untuk menempung
pasien ini.
Pemberian obat-obatan pada CP bertujuan untuk memperbaiki
gangguan tingkah laku, neuro-motorik dan untuk mengontrol serangan
kejang.
Pada penderita CP yang kejang. pemberian obat anti kejang
memberikan hasil yang baik dalam mengontrol kejang, tetapi pada CP
tipe spastik dan atetosis obat ini kurang berhasil. Demikian pula obat
muskulorelaksan kurang berhasil menurunkan tonus otot pada CP tipe
spastik dan atetosis. Pada penderita dengan kejang
diberikan maintenanceanti kejang yang disesuaikan dengan
karakteristik kejangnya, misalnya luminal, dilantin dan sebagainya.
Pada keadaan tonus otot yang berlebihan, obat golongan
benzodiazepine, misalnya : valium, librium atau mogadon dapat
dicoba. Pada keadaanchoreoathetosis diberikan artane. Tofranil
(imipramine) diberikan pada keadaan depresi. Pada penderita yang
hiperaktif dapat diberikan dextroamphetamine 5 – 10 mg pada pagi
hari dan 2,5 – 5 mg pada waktu tengah hari.
f) Tindakan keperawatan
Mengobservasi dengan cermat bayi-nayi baru lahir yang beresiko
( baca status bayi secara cermat mengenai riwayat
kehamilan/kelahirannya . Jika dijumpai adanya kejang atau sikap bayi
yang tidak biasa pada neonatus segera memberitahukan dokter agar
dapat dilakukan penanganan semestinya.
Jika telah diketahui bayi lahir dengan resiko terjadi gangguan
pada otak walaupun selama di ruang perawatan tidak terjadi kelainan
agar dipesankan kepada orangtua/ibunya jika melihat sikap bayi tidak
normal supaya segera dibawa konsultasi ke dokter.

16
g) Occupational therapy
Ditujukan untuk meningkatkan kemampuan untuk menolong diri
sendiri, memperbaiki kemampuan motorik halus, penderita dilatih
supaya bisa mengenakan pakaian, makan, minum dan keterampilan
lainnya.
h) Redukasi dan rehabilitasi.
Dengan adanya kecacatan yang bersifat multifaset, seseorang
penderita CP perlu mendapatkan terapi yang sesuai dengan
kecacatannya. Evaluasi terhadap tujuan perlu dibuat oleh masing-
masing terapist. Tujuan yang akan dicapai perlu juga disampaikan
kepada orang tua/famili penderita, sebab dengan demikian ia dapat
merelakan anaknya mendapat perawatan yang cocok serta ikut pula
melakukan perawatan tadi di lingkungan hidupnya sendiri. Fisioterapi
bertujuan untuk mengembangkan berbagai gerakan yang diperlukan
untuk memperoleh keterampilan secara independent untuk aktivitas
sehari-hari. Fisioterapi ini harus segera dimulai secara intensif. Untuk
mencegah kontraktur perlu diperhatikan posisi penderita sewaktu
istirahat atau tidur. Bagi penderita yang berat dianjurkan untuk
sementara tinggal di suatu pusat latihan. Fisioterapi dilakukan
sepanjang hidup penderita. Selain fisioterapi, penderita CP perlu
dididik sesuai dengan tingkat inteligensinya, di Sekolah Luar Biasa
dan bila mungkin di sekolah biasa bersama-sama dengan anak yang
normal. Di Sekolah Luar Biasa dapat dilakukan speech therapy dan
occupational  therapy yang disesuaikan dengan keadaan penderita.
Mereka sebaiknya diperlakukan sebagai anak biasa yang pulang ke
rumah dengan kendaraan bersama-sama sehingga tidak merasa
diasingkan, hidup dalam suasana normal. Orang tua janganlah
melindungi anak secara berlebihan dan untuk itu pekerja sosial dapat
membantu di rumah dengan melihat seperlunya.

17
2.10 Komplikasi
a) Ataksi
b) Katarak
c) Hidrosepalus
d) Retardasi Mental
IQ di bwh 50, berat/beban dari otak motoriknya IQ rendah, dengan
suatu ketegangan IQ yang  lebih rendah.
e) Strain/ ketegangan
Lebih sering pada qudriplegia dan hemiplegia
f) Pinggul Keseleo/ Kerusakan
Sering terjadi pada quadriplegia dan paraplegia berat.
g) Kehilangan sensibilitas
Anak-anak dengan hemiplegia akan kehilangan sensibilitas.
h) Hilang pendengaran
Atrtosis sering terjadi terpasang, tetapi bukan pada anak spaskis.
i) Gangguan visual
Bermata juling, terutama pada anak-anak prematur dan quadriplegia.
j) Kesukaran btuk bicara
Penyebab: disartria, Retardasi mental, hilang pendengaran, atasi
kortikal, gangguan emosional dan mungkin sebab gejala lateralisasi
pada anak hemiplagia. 
k) Inkontinensia
RM, dan terutama oleh karena berbagai kesulitan pada pelatihan
kamar kecil.
l) Penyimpangan Perilaku
Tidak suka bergaul, dengan mudah dipengaruhi dan mengacaukan
ketidaksuburan/kemandulan.

2.11 Pencegahan
Pencegahan merupakan usaha yang terbaik. CP dapat dicegah dengan jalan
menghilangkan faktor etiologik kerusakan jaringan otak pada masa prenatal, natal
dan post natal. Sebagian daripadanya sudah dapat dihilangkan, tetapi masih

18
banyak pula yang sulit untuk dihindari. “Prenatal dan perinatal care” yang baik
dapat menurunkan insidens CP. Kernikterus yang disebabkan “haemolytic disease
of the new born” dapat dicegah dengan transfusi tukar yang dini, “rhesus
incompatibility” dapat dicegah dengan pemberian “hyperimmun anti D
immunoglobulin” pada ibu-ibu yang mempunyai rhesus negatif. Pencegahan lain
yang dapat dilakukan ialah tindakan yang segera pada keadaan hipoglikemia,
meningitis, status epilepsi dan lain-lain.

2.12 Prognosis
Prognosis bergantung pada banyak faktor, antara lain : Berat ringannya CP,
cepatnya diberi pengobatan, gejala-gejala yang menyertai CP, sikap dan
kerjasama penderita, keluarganya dan masyarakat. Menurut Nelson WE dkk
(1968), hanya sejumlah kecil penderita CP yang dapat hidup bebas dan
menyenangkan, namun Nelson KB dkk (1981) dalam penyelidikannya terhadap
229 penderita CP yang.didiagnosis pada usia 1 tahun, ternyata setelah berumur 7
tahun 52% di antaranya telah bebas dari gangguan motorik. Dilaporkan pula
bahwa bentuk CP yang ringan, monoparetik, ataksik, diskinetik dan diplegik yang
lebih banyak mengalami perbaikan. Penyembuhan juga lebih banyak ditemukan
pada golongan anak kulit hitam dibanding dengan kulit putih. Di negara maju,
misalnya diInggris dan Scandinavia, terdapat 20–25% penderita CP bekerja
sebagai buruh harian penuh dari 30–50% tinggal di” Institute Cerebral Palsy”.
Makin banyak gejala penyerta dan makin berat gangguan motorik, makin
buruk prognosis. Umumnya inteligensi anak merupakan petunjuk prognosis,
makin cerdas makin baik prognosis. Penderita yang sering kejang dan tidak dapat
diatasi dengan anti kejang mempunyai prognosis yang jelek. Pada penderita yang
tidak mendapat pengobatan, perbaikan klinik yang spontan dapat terjadi walaupun
lambat. Dengan seringnya anak berpindah-pindah tempat, anggota geraknya
mendapat latihan bergerak dan penyembuhan dapat terjadi pada masa kanak-
kanak. Makin cepat dan makin intensif pengobatan maka hasil yang dicapai makin
lebih baik. Di samping faktor-faktor tersebut di atas, peranan orang tua/keluarga
dan masyarakat juga ikut menentukan prognosis. Makin tinggi kerjasama dan
penerimaannya maka makin baik prognosis.

19
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Cerebral (otak) parcy ( KeIumpuhan ) adalah suatu kelainan otak yang
ditandai dengan gangguan mengontrol hingga timbul kesulitan dalam bergerak
dan meletakkan posisi tubuh disertai gangguan fungsi tubuh lainnya akibat
kerusakan / kelainan fungsi bagian otak tertentu pada bayi / anak dapat terjadi
ketika bayi dalam kandungan, saat lahir atau setelah lahir, sering disertai dengan
epilepsy dan ketidak normalan bicara, penglihatan, kecerdasan kurang, buruknya
pengendalian otot, kekakuan, kelumpuhan dan gangguan fungsi saraf lainnya.
Cerebral palsy dapat disebabkan oleh prenatal, perinatal dan post natal da nada
berbagai macam klasifikasi pada cerebral palsy. Pencegahan merupakan usaha
yang terbaik. CP dapat dicegah dengan jalan menghilangkan faktor etiologik
kerusakan jaringan otak pada masa prenatal, natal dan post natal. Sebagian
daripadanya sudah dapat dihilangkan, tetapi masih banyak pula yang sulit untuk
dihindari.

3.2 Saran
Setelah membaca makalah ini, diharapkan pembaca dapat memahami
pengertian dan etiologi dari Cerebral palsy. Dengan demikian, diharapkan
nantinya dapat melakukan pencegahan dan pengobatan terhadap Cerebral palsy.

20
DAFTAR PUSTAKA

Adnyana, I Made Oka. 2007. Cerebral Palsy Ditinjau dari Aspek Neurologi.


Available from: http://www.cerminduniakedokteran.com . (Diunduh pada
tanggal 15 januari 2014)

Anggra. 2009. Cerebral palsi. Available from: http://sugengrawuh.blogspot.com.


(Diunduh pada tanggal 15 januari 2014)

Carpenito, Lynda Juall. (2009.). Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik


Klinis, Edisi 9, hlm 1393. Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Eaton, Marilyn, dkk. 2009. Buku Ajar Keperawatn Pediatrik, Volume 2. Jakarta:


EGC.

http://www.indonesiaindonesia.com/f/12784-cerebral-palsy/ (Diunduh pada


tanggal 16 januari 2014)

21