Anda di halaman 1dari 13

PANDUAN

PENGGUNAAN IMPLAN BEDAH

PT KARYA MANDIRI MEDIKA UTAMA

RUMAH SAKIT UMUM FIKRI MEDIKA


Jl.Raya Kosambi Telagasari km.3 klari karawang
No telp/Fax. (0267) 861 5555

Email : fikri.medika@gmail.com
Website : rsfikrimedika.com

TAHUN 2019
SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR UTAMA RUMAH SAKIT UMUM FIKRI MEDIKA

NOMOR : 14.014/SK-DIR/RSUFM/IV/2019

TENTANG

PENGGUNAAN IMPLAN BEDAH DI RUMAH SAKIT UMUM FIKRI MEDIKA


KARAWANG

DIREKTUR UTAMA RUMAH SAKIT UMUM FIKRI MEDIKA

Menimbang : 1. Bahwa Rumah Sakit sebagai salah satu sarana kesehatan yang
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat memiliki
peran yang sangat penting dalam meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat;
2. Bahwa dalam rangka mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan
yang prima dan profesional khususnya pelayanan bedah di Rumah Sakit
dan fasilitas kesehatan lainnya diperlukan suatu pedoman penggunaan
implan;
3. Bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas diperlukan penetapan
kebijakan direktur tentang penggunaan implan di Rumah Sakit Umum
Fikri Medika Karawang.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tertanggal 13


Oktober 2009 tentang Kesehatan;.

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tertanggal 28


Oktober 2009 tentang Rumah Sakit;
3. Landasan Hukum UU No.29 Tahun 2009 Tentang Prakktek Kedokteran

i
MEMUTUSKAN

Menetapkan : PANDUAN PENGGUNAAN IMPLAN BEDAH DI RUMAH SAKIT


UMUM FIKRI MEDIKA KARAWANG.

KESATU : Mengesahkan Panduan Penggunaan Implan Bedah di Rumah Sakit Umum


Fikri Medika Karawang Tahun 2019

KEDUA : Keputusan Diretur Rumah Sakit Umum Fikri Medika Karawang Tentang
Penggunaan Implan di Rumah Sakit Umum Fikri Medika Karawang.

KETIGA : Setiap tindakan implant wajib didokumentasikan di Buku Implant


Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Fikri Medika Karawang
berupa Nama, Tanggal, No. Medical Record, Tindakan, Jenis Implant,
dan No. Seri Implant.

KEEMPAT : Peraturan ini berlaku sejak ditetapkan dan apabila dikemudian hari
ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan perbaikan
sebagaimana mestinya.

DITETAPKAN DI KARAWANG
Pada tanggal : 09 April 2019
Direktur RSU Fikri Medika

( dr. H. Saepudin, MPH )

KATA PENGANTAR

ii
Pelayanan bedah dan anestesi di rumah sakit merupakan salah satu bagian dari
pelayanan kesehatan yang berkembang dengan cepat seiring dengan peningkatan ilmu
pengetahuan dan tehnologi dibidang kesehatan.

Untuk menjamin keselamatan pasien, Rumah Sakit dituntut dalam proses perencanaan
dan pengadaan peralatan medis/ Implant yang komprehensif dan berkesinambungan, untuk
mendapatkan perencanaan dan pengadaan yang berkesinabungan dibutuhkan komitmen
dalam menerapkan perencanaan.
Panduan ini dibuat bertujuan untuk memberikan acuan dalam pengelolaan
implan pada pasien operasi. Sehingga terwujudlah pelayanan penggunaan implant yang
bermutu dan sesuai standar pelayanan yang diharapkan

TIM PENYUSUN

DAFTAR ISI

iii
Surat Keputusan Direktur ................................................................................... i

Kata Pengantar ..................................................................................................... iii

Daftar Isi ................................................................................................................ iv

BAB I DEFINISI

A. Latar Belakang ............................................................................................ 1

B. Pengertian ................................................................................................... 1

C. Tujuan ......................................................................................................... 2

BAB II RUANG LINGKUP ................................................................................. 3

BAB III KEBIJAKAN .......................................................................................... 4

BAB IV TATA LAKSANA .................................................................................. 5

BAB V DOKUMENTASI ..................................................................................... 8

iv
BAB I
DEFINISI

A. Latar Belakang
Kamar operasi adalah suatu unit khusus di rumah sakit, tempat untuk melakukan
tindakan pembedahan, baik elektif maupun akut, yang membutuhkan keadaan steril.
Banyak tindakan bedah yang menggunakan implant. Tindakan pembedahan seperti ini
mengharuskan tindakan operasi rutin yang dimodifikasi dengan mempertimbangkan
faktor-faktor tertentu.
Peralatan kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit maupun di
fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Guna mencapai kondisi maupun
fungsi pengelolaan yang baik serta dapat mendukung pelayanan
kesehatan maka perlu adanya asuhan pasien operasi yang
menggunakan implan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan
hal-hal khusus tentang tindakan yang dimodifikasi.

B. Pengertian
Implan adalah bahan atau materi yang secara buatan di pasang pada tubuh. Banyak
tindakan bedah di rumah sakit yang menggunakan implan prostetik. Tindakan Operasi
seperti ini mengharuskan tindakan yang di modifikasi dengan mempertimbangkan
beberapa faktor.
Penilaian kebutuhan implan pada dasarnya dimaksudkan untuk pemenuhan implan
sesuai kemampuan rumah sakit, kebutuhan implan dan pengembangan pelayanan
kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat atau perkembangan teknologi. Perencanaan
kebutuhan implan dilakukan karena faktor:
1. Perkembangan teknologi
2. Kesesuaian terhadap standard keselamatan/regulasi
3. Ketersediaan jumlah dan jenis implan
4. Anggaran Pembelian Barang

1
C. Tujuan
1. Untuk memberikan asuhan keperawatan yang aman bagi pasien operasi dengan
pemasangan implan
2. Terciptanya pengendalian infeksi yang khusus bagi pasien operasi yang terpasang
implant
3. Memudahkan dalam hal penelusuran pasien jika terjadi penarikan kembali alat
implant
4. Terciptanya alur pelaporan terkait penggunaan implan pada pasien operasi

2
BAB II
RUANG LINGKUP

Ruang lingkup asuhan pasien operasi yang menggunakan implan mencakup


1. Pemilihan implan berdasarkan peraturan perundang-undangan
2. Modifikasi surgical safety checklist untuk memastikan ketersediaan implan di kamar
operasi dan pertimbangan khusus untuk untuk penandaan lokasi operasi
3. Kulaifikasi dan pelatihan setiap staf dari luar yang dibutuhkan untuk pemasangan
implan
4. Proses pelaporan jika ada kejadian yang tidak diharapkan terkait implan
5. Proses pelaporan malfungsi implan sesuai dengan standart
6. Pertimbangan pengendalian infeksi yang khusus
7. Instruksi khusus pada pasien setelah operasi
8. Kemampuan penelusuran alat jika terjadi penarikan kembali alat

3
BAB III
KEBIJAKAN

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tertanggal 13 Oktober 2009


tentang Kesehatan;.

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tertanggal 28 Oktober 2009


tentang Rumah Sakit;
5. Landasan Hukum UU No.29 Tahun 2009 Tentang Praktek Kedokteran
6. Surat Keputusan Direktur Utama Rumah Sakit Umum Fikri Medika Nomor :
14.014/SK-DIR/RSUFM/IV/2019 Tentang Penggunaan Implan Bedah Di Rumah Sakit
Umum Fikri Medika Karawang

4
BAB IV
TATA LAKSANA

A. Pemilihan dan penyelenggaraan implan Rumah Sakit Umum Fikri Medika Karawang
1. Rumah Sakit Umum Fikri Medika Karawang menyediakan pelayanan tindakan
operasi yang meyangkut pemasangan implan. Implan dalam hal ini adalah implant
yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis,
menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit, memulihkan
kesehatan pada manusia, dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi
tubuh.
2. Penilaian kebutuhan implan harus dilakukan secara teliti dan melalui proses
anamnesa serta perencanaan yang tepat
3. Berkaitan dengan implan tersebut Rumah Sakit Umum Fikri Medika Karawang tidak
menyediakan pengadaan implan tersebut secara langsung
4. Penyelenggaraan implan yang digunakan dalam tindakan operasi tersebut dibawa
dan dikelola sendiri oleh DPJP/ operator yang bersangkutan
5. Adapun beberapa implan yang digunakan di Rumah Sakit Umum Fikri Medika
Karawang antara lain:
a. Bedah mata : implan lensa mata
b. Bedah bedah : hernia mess
c. Bedah orthopedic : implant plate, wire, dan screw

d. Bedah obgyn : peralatan kontrasepsi

B. Modifikasi surgical safety checklist untuk memastikan ketersediaan implan di kamar


operasi dan pertimbangan khusus untuk untuk penandaan lokasi operasi
1. Setiap tindakan operasi yang memerlukan pemasangan implan harus dilakukan
pencatatan

5
2. Untuk memeastikan ketersediaan implan yang akan dipasang pada tubuh pasien,
petugas kesehatan harus melakukan pengecekan alat/implan dan menulisnya dalam
form checklist keselamatan pasien (surgical safety checklist).
3. Penandaan letak operasi menjadi bagian penting dalam pemilihan implan yang
akan dipasang , apabila implan tersebut memiliki bentuk/model yang berbeda
untuk sisi yang berbeda
4. Untuk itu pada operasi yang memiliki unsur lateralisasi dan diperlukan
pemasangan implan, petugas kesehatan wajib melaporkan terlebih dahulu
mengenai lokasi yang akan dipasang implan kepada DPJP.

C. Kualifikasi dan pelatihan staf


1. Pelayanan pmebedahan dilakukan oleh dokter bedah dibantu dengan asisten bedah
dan perawat instrument
2. Semua petugas yang memberikan pelayanan bedah harus memiliki keterampilan
khusus sesuai dengan bidangnya.
3. Terkait produk implan diperlukan pelatihan pemasangan implan bagi setiap staf
yang terkait dari pihak produsen.
4. Kalibrasi implan dilakukan oleh pihak produsen/ staf pabrik

D. Proses pelaporan jika ada kejadian yang tidak diharapkan terkait implan
1. Jika terdapat kejadian yang tidak diharapkan terkait implan yang dipasang , harus
ada bukti pelaporan terkait hal ini.
2. Laporan yang diterima dicatat dalam formulir pelaporan yang nantinya akan
dilakukan investigasi oleh pihak Rumah Sakit
3. Apabila dalam investigasi ditemukan grading yang tinggi terkait implan maka pihak
Rumah Sakit akan menyerahkan bukti pelaporan kepada DPJP selaku penyelenggara
peralatan (implan) agar bisa melakukan tindak lanjut terhadap implan tersebut.

E. Proses pelaporan malfungsi implant


1. Jika didapati malfungsi terkait implan yang dipasang dalam tubuh pasien maka
Rumah Sakit akan melakukan pelaporan terkait hal ini kepada penyelenggara
peralatan (implan)
2. Pelaporan tersebut akan dijadikan pertimbangan bagi penyelenggara implan dengan
produsen terkait

6
3. Jika ditemukan kesepakan untuk melakukan penarikan kembali (recall) implan maka
Rumah Sakit harus melakukan penelusuran kembali (traceability) terhadap pasien –
pasien yang telah terpasang implan tersebut.

F. Pengendalian infeksi
1. Semua pasien yang menjalani operasi dengan pemasangan implan dilakukan
surveilens sebelum tindakan operasi, meliputi perawatan pra operasi, intra operasi,
post operasi dan perawatan luka operasi.
2. Antibiotic profilaksis diberikan secara sistemik dan harus memenuhi syarat dan
diberikan tidak lebih dari 24 jam
3. Bila ditemukan pus pada waktu dilakukan operasi harus dilakukan kultur
4. Surveilens pada pasien operasi dengan implan dilakukan sampai batas waktu satu
tahun pasca operasi

G. Instruksi khusus kepada pasien setelah operasi:


1. Setiap pasien operasi dengan pemasangan implan diberikan informasi/ penyuluhan
mengenai manajemen pasca operasi
2. Evaluasi perlu dilakukan pada pasien pasca operasi yang terpasang implant, dalam
hal ini pasien disarankan untuk memeriksakan kesehatannya secara rutin dan berkala
.
3. Menyarankan kepada pasien untuk segera memeriksakan ke diri ke Rumah Sakit jika
didapati tanda-tanda demam, muncul kemerahan, bengkak, atau nanah dari luka
operasi, sert a terjadi peningkatan rasa nyeri pada area operasi. Kondisi ini menjadi
tanda-tanda terjadinya infeksi atau penolakan tubuh terhadap implant
4. Pasien dengan pemasangan implant pasca operasi harus memiliki kedisiplinan dalam
mengkonsumsi obat-obatan immunosupresan untuk mencegah kerusakan implant
akibat proses penolakan yang terjadi
5. Memiliki gaya hidup sehat pasca operasi penting untuk meminimalkan terjadinya
resiko komplikasi

H. Kemampuan penelusuran (traceability) terhadap recall alat /implan

7
1. Pasien operasi dengan pemasangan implant dicatat identitas pribadinya dalam rekam
medis secara lengkap
2. Identitas/barcode implant ditempelkan pada rekam medic pasien dan juga pada data
pasien yang ada di unit kamar bedah

BAB V
DOKUMENTASI

1. Identitas dan pengumpulan data pasien operasi yang terpasang implan tersedia di
unit kamar bedah .
2. Stiker/ barcode/ kode produksi implant ditempel/disalin pada laporan operasi yang
kemudian disimpan pada catatan rekam medik pasien dan buku Rekap Implant di
kamar bedah, guna sebagai bank data apabila ada recal mengenai implant
3. Untuk memastikan ketersediaan implan dan prosedur keselamatan pasien , pada
lembar surgical safety checklist juga disertakan modifikasi asuhan tentang implan
yang akan digunakan.

Anda mungkin juga menyukai