Anda di halaman 1dari 18

1

MENYUSUN ASKEP PENATALAKSANAAN PASIEN DENGAN ARV

Tugas Ini Untuk Memenuhi Mata Kuliah HIV/AIDS

Disusun Oleh :

1. Arista Ratna P (SK117005)


2. Era Rismatika Pd (SK117011)
3. Islahiyah Pratiwi (SK117019)
4. Putri Rahma D (SK117025)
5. Solikhatun (SK117031)
6. Nurul Faizah (SK118059)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDAL

1
2

KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas
makalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah “HIV/AIDS”. Makalah ini Kami
susun agar pembaca dapat lebih mememahami tentang apakah itu Manajemen Stress
yang disajikan berdasarkan studi dari berbagai sumber. Tak lupa Kami ucapkan
terima kasih kepada berbagai pihak serta sumber yang telah memberi dukungan
maupun informasi untuk menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja khususnya bagi diri
Kami sendiri, para mahasiswa dan semua yang membaca makalah ini, dan mudah-
mudahan dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Kami
menyadari bahwa dalam menulis makalah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk
itu Kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna
sempurnanya makalah ini.

Kendal, 12 Maret 2020

Penyusun
( Kelompok 6 )

2
3

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..........................................................................................i

KATA PENGANTAR .......................................................................................ii

DAFTAR ISI ......................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .......................................................................................


B. Rumusan Masalah ...................................................................................4
C. Tujuan .....................................................................................................5
D. Manfaat ...................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN

A. Program penanggulangan AIDS .............................................................6


B. Tujuan Pedoman .....................................................................................6
C. Sasaran pengguna pedoman ....................................................................7
D. Aspek Pencegahan dalam Pengobatan ....................................................7
E. Positive Prevention .................................................................................7
F. Kesiapan menerima terapi antiretroviral .................................................7
G. Anjuran Pemilihan Obat ARV Lini Pertama .......................................... 8
H. Pemantauan Terapi ARV ........................................................................
I. Panduan Obat ARV yang tidak Dianjurkan ...........................................

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan .............................................................................................
B. Saran........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................

3
4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Dengan makin berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan,
makin kompleksnya masalah pengobatan ARV, serta komplikasi dan efek
samping obat pada ODHA, maka diperlukan Pedoman ARV yang terus
menerus disesuaikan dengan perkembangan tersebut, termasuk terapi ARV
lini ke-2. Buku pedoman dirumuskan kembali oleh tim perumus yang
didukung oleh panel ahli yang dipimpin oleh Kementerian Kesehatan dengan
mengadaptasi Pedoman WHO tahun 2010: Antiretroviral Therapy For HIV
Infection In Adults And Adolescents In Resource-Limited Settings: Towards
Universal Access Recommendations For A Public Health Approach dan juga
mengacu pada buku Management of HIV Infection and Antiretroviral Therapy
in Adults and Adolescents, A Clinical Manual, yang diterbitkan oleh WHO
SEARO 2007.
Buku Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral edisi tahun 2011
merupakan pemutakhiran buku Pedoman Nasional Penggunaan Terapi
Antiretroviral yang diterbitkan pada tahun 2007 dengan menambahkan
tentang pedoman tatalaksana infeksi oportunistik dengan pendekatan sindrom.
Penemuan obat antiretroviral (ARV) pada tahun 1996 mendorong suatu
revolusi dalam perawatan ODHA di negara maju. Meskipun belum mampu
menyembuhkan penyakit dan menambah tantangan dalam hal efek samping
serta resistensi kronis terhadap obat, namun secara dramatis terapi ARV
menurunkan angka kematian dan kesakitan, meningkatkan kualitas hidup
ODHA, dan meningkatkan harapan masyarakat, sehingga pada saat ini HIV
dan AIDS telah diterima sebagai penyakit yang dapat dikendalikan dan tidak
lagi dianggap sebagai penyakit yang menakutkan.

4
5

B. TUJUAN
1. TUJUAN UMUM
Diharapkan mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang ARV
dan Peran perawat.
2. TUJUAN KHUSUS
a. Untuk mengetahui apa itu ARV
b. Untuk mengetahui penggunaan ARV
C. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu ARV ?
2. Bagaimana penggunaan ARV ?

5
6

BAB II
PEMBAHASAN

A. Program penanggulangan AIDS di Indonesia mempunyai 4 pilar, yang


semuanya menuju pada paradigma Zero new infection, Zero AIDS-related
death dan Zero Discrimination. Empat pilar tersebut adalah:
1. Pencegahan (prevention); yang meliputi pencegahan penularan HIV
melalui transmisi seksual dan alat suntik, pencegahan di lembaga
pemasyarakatan dan rumah tahanan, pencegahan HIV dari ibu kebayi
(Prevention Mother to Child Transmission, PMTCT), pencegahan di
kalangan pelanggan penjaja seks, dan lain-lain.
2. Perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP); yang meliputi penguatan
dan pengembangan layanan kesehatan, pencegahan dan pengobatan
infeksi oportunistik, pengobatan antiretroviral dan dukungan serta
pendidikan dan pelatihan bagi ODHA. Program PDP terutama ditujukan
untuk menurunkan angka kesakitan dan rawat inap, angka kematian yang
berhubungan dengan AIDS, dan meningkatkan kualitas hidup orang
terinfeksi HIV (berbagai stadium). Pencapaian tujuan tersebut dapat
dilakukan antara lain dengan pemberian terapi antiretroviral (ARV).
3. Mitigasi dampak berupa dukungan psikososio-ekonomi.
4. Penciptaan lingkungan yang kondusif (creating enabling environment)
yang meliputi program peningkatan lingkungan yang kondusif adalah
dengan penguatan kelembagaan dan manajemen, manajemen program
serta penyelarasan kebijakan dan lain-lain.
B. Tujuan Pedoman
1. Menyediakan pedoman nasional terapi antiretroviral.
2. Menyediakan pedoman layanan HIV sebagai bagian dari rawatan HIV
secara paripurna

6
7

C. Sasaran Pengguna Pedoman


1. Para klinisi di fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes) yang memberikan
layanan tatalaksana HIV dan Terapi Antiretroviral.
2. Para pengelola program pengendalian HIV/AIDS di tingkat nasional,
provinsi, dan kabupaten/kota dan perencana kesehatan lain yang terlibat
dalam program perawatan dan pengobatan HIV sebagai rujukan untuk
perencanaan program.
3. Badan dan organisasi yang bekerja sama dengan pemerintah yang
memberikan layanan tatalaksana HIV dan Terapi Antiretroviral.
D. Aspek Pencegahan dalam Pengobatan ( Treatment a s Prevention )
Pengobatan ARV terbukti mempunyai peran yang bermakna dalam
pencegahan penularan HIV, karena obat ARV memiliki mekanisme kerja
mencegah replikasi virus yang secara bertahap menurunkan jumlah virus
dalam darah. Penurunan jumlah virus ini berhubungan dengan penurunan
kadar virus dalam duh genital dengan catatan tidak terdapat IMS. Penelitian
observasional menunjukkan penurunan penularan HIV pada pasangan
serodiscordant (berbeda status HIV-nya) yang mendapatkan pengobatan
ARV
E. Positive Prevention
Sangat penting untuk disadari bahwa penurunan jumlah virus akibat terapi
ARV harus disertai dengan perubahan perilaku berisiko. Dengan demikian
terapi ARV harus disertai dengan pencegahan lain seperti, penggunaan
kondom, perilaku seks dan NAPZA yang aman, pengobatan IMS dengan
paduan yang tepat.
F. Kesiapan menerima terapi antiretroviral
ODHA harus mendapatkan informasi yang lebih mengutamakan manfaat
terapi ARV sebelum terapi dimulai. Bila informasi dan rawatan HIV dimulai
lebih awal sebelum memerlukan terapi ARV maka pasien mempunyai
kesempatan lebih panjang untuk mempersiapkan diri demi keberhasilan terapi
ARV jangka panjang, melalui konseling pra-terapi ARV yang meliputi cara

7
8

dan ketepatan minum obat, efek samping yang mungkin terjadi, interaksi
dengan obat lain, pemantauan keadaan klinis dan pemantauan pemeriksaan
laboratorium secara berkala termasuk pemeriksaan jumlah CD4.
G. Anjuran Pemilihan Obat ARV Lini Pertama
Paduan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk lini pertama adalah: 2 NRTI +
1 NNRTI

8
9

H.

9
10

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas pasien

Nama : Tn. H

Umur : 30 tahun

2. Riwayat Kesehatan

Keluhan utama : Diare lebih dari 1 bulan

Riwayat penyakit sekarang : diare, demam, mudah lelah, letih lesu, berkeringat
pada malam hari

10
11

B. ANALISA DATA

Data Etiologi Problem


Ds : Kehilangan cairan aktif Kekurangan volume
• pasien mengatakan cairan
diare lebih dari 1
bulan
• berkeringat pada
malam hari
• Pasien mengatakan
lelah letih lesu

Do :
• turgor kulit buruk
• mukosa kering
• TD : 130/80
mmmHg
• S : 39 oC
• N : 82 x/menit
• RR : 26 x/menit
Ds : Kurang informasi Defisiensi pengetahuan
• Pasien mengatakan
memerlukan
informasi mengenai
penyakit dan obat
yang harus
dikonsumsinya tiap
hari
Do :
• Pasien tampak

11
12

memerlukan
informasi

C. DIAGNOSA PRIORITAS
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan
aktif 00027
2. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang
pengobatan ARV 00126

D. INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa Noc Nic


keperawatan

12
13

Kekurangan Kriteria hasil: Volume cairan,


volume cairan Volume cairan, kekurangan kekurangan
b/d kehilangan Hidrasi 0602 : Manajemen cairan
cairan aktif 1. Turgor kulit (4120)
ditingkatkan dari 1. Monitor status
sangat terganggu (1) cairan
ke cukup terganggu 2. Berikan terapi
(3) Cairan IV
2. Membran mukosa 3. Berikan kompres
lembab hangat pada bagian
dipertahankan pada lipatan
sangat terganggu (1) 4. Anjurkan pasien
ke cukup terganggu minum air putih
(3) sedikit demi sedikit
3. Peningkatan 5. Kolaborasi
hematokrit pemberian obat
ditingkatkan pada Diuretik
cukup berat (2) ke
sedang (3)
4. Diare ditingkatkan
pada berat (1) ke
sedang (3)
5. Peningkatan suhu
ditingkatkan dari
berat
Ke sedang (3)

Keseimbangan Cairan
0601 :

13
14

1. Tekanan darah
dipertahankan
Cukup terganggu 3
ke Sedikit terganggu
4
2. Turgor kulit
ditingkatkan dari
sangat terganggu (1)
ke cukup terganggu
(3)
3. Kelembapan
membrane mukosa
dipertahankan pada
sangat terganggu (1)
ke cukup terganggu
(3)

Tanda-Tanda Vital 0802 :


1. Suhu tubuh
Ditingkatkan Pada
Deviasi kisaran
normal 1 ke deviasi
sedang kisaran
normal 3
2. Denyut nadi
pertahankan ke
deviasi sedang
kisaran normal 3 ke

14
15

deviasi ringan dari


kisaran normal 4
3. Tekanan darah
sistolik pertahankan
ke deviasi sedang
kisaran normal 3 ke
deviasi ringan dari
kisaran normal 4
4. Tekanan darah
diastolik
pertahankan ke
deviasi sedang
kisaran normal 3 ke
deviasi ringan dari
kisaran normal 4
5. Kedalaman inspirasi
ditingkatkan ke
deviasi yang cukup
besar kisaran normal
2 ke deviasi ringan
dari kisaran normal 4
Defisiensi Pengetahuan : Proses Deficiensi pengetahuan
pengetahuan penyakit 1803 : Pengajaran : Peresepan
berhubungan 1. Karakter spesifik Obat-obatan 5616
dengan kurang penyakit 1. Instruksikan pasien
informasi tentang ditingkatkan ke untuk mengenali
pengobatan AR tidak ada karakteristik kasus
pengetahuan 1 ke dari obat-obatan
pengetahuan sesuai kebutuhan

15
16

sedang 3 2. Kenali pengetahuan


2. Tanda dan gejala pasien mengenai
penyakit obat-obatan
ditingkatkan ke 3. Informasikan
tidak ada pasien konsekuensi
pengetahuan 1 ke tidak memakai obat
pengetahuan atau menghentikan
sedang 3 pemekaian obat
3. Proses perjalanan secara tiba-tiba
penyakit 4. Libatkan keluarga
biasanya atau orang terdekat
ditingkatkan ke tentang proses
tidak ada pengobatan
pengetahuan 1 ke
pengetahuan
sedang 3
Defisiensi pengetahuan
:Prosedur penanganan
1814 :
1. Prosedur
penanganan
ditingkatkan ke tidak
ada pengetahuan 1
ke pengatahuan
sedang 3
2. Tujuan Prosedur
ditingkatkan ke tidak
ada pengetahuan 1
ke pengatahuan

16
17

sedang 3
3. Langkah-langkah
prosedur
ditingkatkan ke tidak
ada pengetahuan 1
ke pengatahuan
sedang 3

17
18

DAFTAR PUSTAKA

KemenKes, RI (2012) Pedoman Nasional Tata Laksana Klinis Infeksi HIV dan
Terapi Antiretriviral pada orang Dewasa dan Remaja:-Jakarta

18