Anda di halaman 1dari 4

BAB II

PEMBAHASAN

A.                Pengertian Hukum

Hukum[1] adalah sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan


kelembagaan. dari bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan
masyarakat dalam berbagai cara dan bertindak, sebagai perantara utama dalam hubungan sosial
antar masyarakat terhadap kriminalisasi dalam hukum pidana, hukum pidana yangberupayakan cara
negara dapat menuntut pelaku dalam konstitusi hukum menyediakan kerangka kerja bagi
penciptaan hukum, perlindungan hak asasi manusia dan memperluas kekuasaan politik
serta cara perwakilan mereka yang akan dipilih. Administratif hukum digunakan untuk meninjau
kembali keputusan dari pemerintah, sementara hukum internasional mengatur persoalan antara
berdaulat negara dalam kegiatan mulai dari perdagangan lingkungan peraturan atau tindakan
militer. filsuf Aristotle menyatakan bahwa "Sebuah supremasi hukum akan jauh lebih baik
dari padadibandingkan dengan peraturan tirani yang merajalela."

Hingga saat ini, belum ada kesepahaman dari para ahli mengenai pengertian hukum. Telah
banyak para ahli dan sarjana hukum yang mencoba untuk memberikan pengertian atau definisi
hukum, namun belum ada satupun ahli atau sarjana hukum yang mampu
memberikan pengertian hukum yang dapat diterima oleh semua pihak.[2] Ketiadaan definisi
hukum yang dapat diterima oleh seluruh pakar dan ahli hukum pada gilirannya memutasi adanya
permasalahan mengenai ketidaksepahaman dalam definisi hukum menjadi mungkinkahhukum
didefinisikan atau mungkinkah kita membuat definisi hukum? Lalu berkembang lagi menjadi
perlukah kitamendefinisikan hukum?.

Sedangkan hukum syara’ menurut ulama ushul ialah doktrin (kitab)


syari’yang bersangkutan dengan perbuatan orang-orang mukallaf secara perintah ataudiperintahkan
memilih atau berupa ketetapan (taqrir). Sedangkan menurut ulama fiqh hukum syara ialah efek yang
dikehendaki oleh kitab syari’ dalam perbuatan seperti wajib, haram dan mubah .

Syariat[3] menurut bahasa berartijalan. Syariat menurut istilah berarti hukum-hukum yang


diadakan oleh Allah untuk umatNya yang dibawa oleh seorang Nabi, baik hukum yang
berhubungandengan kepercayaan (aqidah) maupunhukum-hukum yang berhubungan dengan
amaliyah. Hukum Islam.

Hukum Islam berarti keseluruhan ketentuan-ketentuan perintah Allah yang wajib diturut


(ditaati) oleh seorang muslim. Dari definisi tersebut syariat meliputi:

1.      Ilmu Aqoid (keimanan).

2.      Ilmu Fiqih (pemahaman manusia terhadap ketentuan-ketentuan Allah).

3.      Ilmu Akhlaq (kesusilaan).

Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa hukum Islam adalah syariat yang 
berarti hukum-hukum yang diadakan oleh Allah untuk umat-Nya yang dibawa oleh seorang Nabi,
baik hukum yang berhubungan dengan kepercayaan (aqidah) maupun hukum-hukum yang
berhubungan dengan amaliyah (perbuatan).

B.                 Hukum Taklifi
Hukum taklifi adalah Hukum yang mengandung perintah, larangan atau memberi pilihan
kepada seorang mukallaf. Perintah Allah terbagi menjadi dua; Wajib dan Sunnah.  Larangan Allah
terbagi menjadi dua; Haram dan Makruh. Pilihan boleh (Mubah) terbagi menjadi dua; boleh
mengerjakan boleh meninggalkan.

1.      Wajib.

Menurut bahasa Wajib berarti tetap atau pasti. Adapun menurut istilah Wajib adalah: “sesuatu yang
diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah untuk dilaksanakan oleh seorang mukallaf. Wajib terbagi
menjadi tiga bagian secara garis besar:

a.       Dari sisi pembebanannya: Wajib Ain dan Wajib Kifayah.

b.      Dari sisi kandungan perintah: Wajib Mu’ayyan dan Wajib Mukhoyyar.

c.       Dari sisi waktu pelaksanaannya: Wajib Mutlak dan Wajib Muaqqat.

2.      Sunnah.

Hukum Sunnah merupakan sesuatu yang dianjurkan. Menurut sebagian ulama Ushul, Sunnah terbagi
menjadi tiga bagian:

a.       Sunnah Muakkad.

b.      Sunnah Ghairu Muakkad.

c.       Sunnah Zawaid.

3.      Haram.

Haram adalah sesuatu yang dilarang mengerjakannya. Di dalam kajian Ushul Fiqih diuraikan bahwa
sesuatu yang dilarang oleh Allah pasti membawa kerusakan dan bahaya. Sedangkan sesuatu yang
diwajibkan oleh Allah pasti membawa kebaikan dan kedamaian.

Ulama Ushul membagi haram kedalam dua bagian:

a.       Haram Li-Dzatihi.

b.      Haram Li-Ghoirihi

4.      Makruh.

Makruh secara bahasa berarti “sesuatu yang dibenci”. Adapun secara istilah, makruh adalah: “Sesatu
yang dianjurkan oleh syariat untuk meninggalkannya, bilamana ditinggalkan maka akan terpuji dan
bila dikerjakan tidak berdosa”. Contoh: berkumur pada bulan ramadlan.

Hukum Takhyiri

Takhyir[5] adalah Syari’ (Allah dan Rasul) memberikan pilihan kepada mukallaf untuk
memilih melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan. Hukum yang terambil dari nash dengan
gaya redaksi ini hukumnya adalah halal. Artinya seorang mukallaf boleh melakukan / meninggalkan.
[6] Dalam pembahasan ilmu ushul hukum, takhyiri biasa disebut dengan mubah.

Redaksi Takhyiri antara lain:


1.      Menyatakan bahwa suatu perbuatan, halal dilakukan. Contoh dalam Surat al-Baqarah Ayat 187 yang
artinya “Dihalalkan bagimu pada malam hari-hari puasa bercampur dengan istri-istrimu, mereka
adalah pakaianmu dan dan kamu adalah pakaian mereka...”

2.      Pembolehan dengan menafikan dosa dari suatu perbuatan, contoh dalam Surat al-Baqarah Ayat 173
yang artinya “Tetapi barang siapa yang dalam keadaan terpaksa sedang ia tidak menginginkannya,
dan tidak pula melampaui batas maka tidak ada dosa baginya (makan), sesungguhnay Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”

3.      Pembolehan dengan menafikan kesalahan dari melakukan suatu perbuatan, contoh dalam Surat al-
Baqarah Ayat 235 yang artinya“Dan tidak ada kesalahan bagimu meminang wanita-wanita itu
(dalam ’iddah wafat) dengan sindiran atau kamu menyembunyi-kan (keinginan mengawini mereka)
dalam hatimu...”

     Hukum Wadh’i

Hukum Wadl’i[4] adalah Ketentuan syariat dalam bentuk menetapkan sesuatu sebagai


sebab, syarat atau sebagai mani’ (penghalang). Dengan demikian hukum wadl’I terbagi menjadi 3
macam: Sebab, Syarat dan Mani’ (penghalang).

1.       Sebab.

Sebab adalah sesuatu yang dijadikan oleh syariat sebagai tanda bagi adanya hukum, dan tidak
adanya sebab sebagai tanda tidak adanya hukum. Jika ada sebab maka ada hukum dan jika tidak ada
sebab maka tidak ada hukum.

Contoh: Tergelincirnya matahari menjadi sebab datangnya waktu dluhur. Anak menjadi sebab
seseorang mendapat warisan orang tuanya. Tindakan perzinaan menjadi sebab seseorang dihukum
cambuk. Gila menjadi sebab hartanya dipegang oleh walinya. Jual beli menjadi sebab bagi
perpindahan kepemilikan barang.

2.      Syarat.

Syarat adalah sesuatu yang tergantung kepadanya adanya sesuatu yang lain, dan berada diluar
hakekat sesuatu itu.

Contoh: Wudlu sebagai syarat sahnya sholat. Si A berkata kepada si B: “Jika kamu membantu saya
maka hutangmu lunas.” Membantu di sini adalah sebagai syarat hutang si B lunas. Menyarahkan
ijazah sebagai syarat pendaftaran di kampus UNHASY.

Syarat dibagi menjadi 2 macam: Syarat Syar’I (Syarat yang ditetap-kan oleh syariat) dan Syarat Ja’li
(Syarat yang ditetapkan oleh mukallaf).

3.       Mani’.

Mani’ adalah sesuatu yang ditetapkan oleh syariat sebagai penghalang bagi adanya hukum atau
penghalang bagi berfungsinya suatu sebab.

Contoh: Membunuh istri sebagai mani’ (penghalang) suami tidak mendapat warisan istri. Haidl
sebagai mani’ (penghalang) seorang wanita mukallaf melakukan sholat. Hutang sebagai mani’
(penghalang) seseorang tidak wajib mengeluarkan zakat.
Mani’ dibagi menjadi 2 macam: Mani’ Hukum Syara’ dan Mani’ Sebab.

http://aleychan.blogspot.com/2014/11/ushul-fiqh-hukum-dan-pembagiannya.html?m=1