Anda di halaman 1dari 19

BIMBINGAN DALAM PENYELESAIAN

SOAL CERITA PADA SISWA KELAS III

Tugas Akhir Disusun Sebagai Salah Satu Syarat

Kelulusan D2 PGKSD FIP UNNES

Disusun Oleh :

Nama : SURYATI

NIM : 1402204216

PENDIDIKAN GURU KELAS SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2006
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara, yaitu :

Waktu luang sebelum waktu sibuk

Masa muda sebelum masa tua

Kaya sebelum miskin

Sehat sebelum sakit

Hidup sebelum mati

(Al Hadist)

Karya sederhana ini kupersembahkan untuk :

- Ayah dan ibuku tercinta.

- Kakak dan keluarga besar yang selalu

mendukungku.

- Teman-teman seperjuangan PGKSD FIP

UNNES.

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan

hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul “Bimbingan

Dalam Penyelesaian Soal Cerita Pada Siswa Kelas III” untuk memenuhi sebagian

persyaratan guna menyelesaikan pendidikan D2 PGKSD FIP UNNES.

Dalam penyusunan tugas akhir ini, penulis banyak memperoleh bimbingan

dan bantuan dari berbagai pihak, oleh karenanya penulis menyampaikan rasa

terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :

1. Drs. Sutaryono, selaku ketua program studi D2 PGKSD FIP UNNES.

2. Drs. Jaino, M.Pd, selaku kepala UPP II.

3. Drs. Susilo Hadi, M.Pd, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan

dorongan, bimbingan dan pentunjuk dalam penyusunan tugas akhir.

4. Keluarga besarku yang telah memberikan dorongan baik moril, spirituil

maupun materiil.

5. Teman-teman PGKSD FIP UNNES angkatan tahun 2004/2005 khususnya

kelas IV A.

Dengan segala keterbatasan, penulis yakin bahwa tugas akhir ini masih

jauh dari sempurna untuk itu kritik dan saran dari pembaca sangat penulis

harapkan.

Akhirnya penulis berharap semoga tugas akhir bermanfaat bagi pembaca.

Semarang, September 2006

Suryati

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ..............................................................

KATA PENGANTAR ................................................................................

DAFTAR ISI...............................................................................................

BAB I PENDHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................................

B. Rumusan Masalah ...........................................................................

C. Tujuan Bimbingan...........................................................................

D. Manfaat Bimbingan.........................................................................

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pembelajaran Matematika di SD.....................................................

B. Bimbingan Belajar Dalam Pembelajaran Matematika....................

C. Metode dan Media Dalam Pembelajaran Soal Cerita .....................

BAB III PAPARAN HASIL

A. Subjek Bimbingan...........................................................................

B. Hasil Bimbingan .............................................................................

BAB IV PENUTUP

A. Simpulan .........................................................................................

B. Saran................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................

iv
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Matematika sebagai suatu ilmu memiliki objek dasar abstrak yang dapat

berupa fakta, konsep, operasi dan prinsip. Dari objek dasar itu berkembang

menjadi objek-objek lain, misalnya pola-pola, struktur-struktur dalam

matematika yang ada dewasa ini. Pola pikir yang digunakan yang digunakan

dalam matematika itu ada deduktif atau deduktif aksiomatik (Sumarno dan

Sukahar, 1996 : xiii).

Matematika seabgai ilmu dasar begitu cepat mengalami perkembangan hal

itu terbukti dengan makin banyaknya kegiatan matematika dalam kehidupan

sehari-hari. Disamping itu juga sangat diperlukan siswa dalam mempelajari

dan memahami mata pelajaran lain. Akan tetapi pada kenyataannya banyak

siswa merasa takut, enggan dan kurang tertarik terhadap mata pelajaran

matematika. Banyak siswa yang kurang tertentang untuk mempelajari dan

menyelesaikan soal-soal matematika, terutama soal-soal cerita.

Selama ini metode yang dipergunakan dalam pembelajaran soal cerita

dalam matematika pada kelas ini masih menggunakan metode ceramah dan

latihan. Sedangkan soal cerita dalam matematika itu sendiri merupakan

kegiatan pemecahan masalah.

Berpijak pada permasalahan tersebut, maka guru merasa perlu untuk

berupaya memperbaiki metode pembelajarannya.

1
2

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan pada latar belakang tersebut maka dalam bimbingan

ini yang menjadi permasalahan adalah :

“Apakah dengan bimbingan dan penggunaan metode pemecahan masalah

dapat meningkatkan kemampuan belajar soal cerita pada siswa III ?”

C. Tujuan Bimbingan

a. Untuk mengetahui peran bimbingan dalam peningkatan kemampuan siswa

menyelesaikan soal cerita.

b. Dalam pembelajaran soal cerita dengan metode pemecahan masalah hasil

belajar siswa meningkat.

D. Manfaat Bimbingan

a. Dalam pembelajaran soal cerita dengan metode pemecahan masalah

aktivitas guru meningkat.

b. Dalam pembelajaran soal cerita dengan metode pemecahan masalah

aktivitas siswa menyelesaikan soal cerita meningkat.


3

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pembelajaran Matematika di SD

Johnson dan Rising dalam Ruffendi (1994 : 28) mengemukakan bahwa

matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan

dengan cermat, jelas dan akurat representasinya dengan simbol dan padat,

lebih berupa bahasa simbol mengenai ide (gagasan) daripada mengenai bunyi.

Kemudian Kline dalam Ruffendi (1994 : 28) mengemukakan matematika itu

bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya

sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia

dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam.

Berpijak dari pengertian-pengertian di atas, maka matematika berfungsi

untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi melalui

bilangan dan simbol-simbol serta ketajaman penalaran sehingga siswa mampu

menyelesaikan permasalahan hidup sehari-hari.

Menurut kurikulum 2004, matematika merupakan suatu bahan kajian yang

memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran dedukatif,

yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran

sebelumnya sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat

sangat kuat dan jelas. Dalam pembelajaran matematika agar mudah dimengerti

oleh siswa, proses penalaran induktif dapat dilakukan pada awal

3
4

pembelajaran. Kemudian dilanjutkan dengan proses penalaran deduktif untuk

menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki oleh siswa.

Tujuan pembelajaran matematika adalah melatih konsisten dan

menumbuhkan cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, keratif dan

konsisten. Serta mengembangkan sikap gigih dan percaya diri sesuai dalam

menyelesaikan masalah (Depdiknas, 2003 : 6).

Berpijak dari uraian diatas, maka pembelajaran matematika di Sekolah

Dasar diutamakan agar siswa nantinya dapat memanfaatkan pengetahuan yang

diperoleh tentang bilangan untuk berbagai bidang lain dalam kehidupan

sehari-hari.

Proses pembelajaran matematika di Sekolah Dasar, khususnya kelas III

terlebih dahulu siswa diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda

sehingga keaktifan siswa dalam proses belajar terjadi secara penuh.

Bruner dalam Ruseffendi (1994 : 109-110) mengemukakan bahwa dalam

proses belajar siswa melewati 3 tahap yaitu :

1. Tahap enaktif

Dalam tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam memanipulasi objek.

2. Tahap Ikonik

Dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan siswa berhubungan dengan

mental, yang merupakan gambaran dari objek-objek yang

dimanipulasinya.

3. Tahap Simbolik
5

Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa

ketergantungan terhadap objek real.

B. Bimbingan Belajar Dalam Pembelajaran Matematika

Crow and Crow dalam Erman Amti (1992 : 2) mengemukakan bahwa

bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, baik pria maupun

wanita yang telah terlatih dengan baik dan memiliki kepribadian dan

pendidikan yang memadai kepada seorang, dari semua usia untuk

membantunya mengatur kegiatan, keputusan sendiri, dan menanggung

bebannya sendiri. Kemudian Jones, dalam Djumhur dan M. Surya (1975 : 10)

mengemukakan bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu-

individu dalam menentukan pilihan-pilihan dan mengadakan berbagai

penyesuaian dengan bijaksana dengan lingkungan.

Berdasarkan pengertian di atas, maka yang dimaksud dengan bimbingan

adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang yang ahli

kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja

maupun dewasa, agar orang yang dibimbing mengembangkan dan

memanfaatkan kemampuan dirinya sendiri berdasarkan norma-norma yang

berlaku.

Bimbingan belajar adalah layanan bimbigan yang memungkinkan siswa

mengembangkan diri dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi

belajar yang cocok dengan kecapatan dan kesulitan belajar atau dapat
6

mengatasi kesulitan belajar dalam kaitannya dengan pembelajaran

matematika.

C. Metode dan Media Dalam Pembelajaran Soal Cerita

Dalam mencapai tujuan pembelajaran matematika digunakan suatu strategi

yang mengaktifkan siswa untuk belajar. Dalam pelaksanaan belajar mengajar

matematika, guru hendaknya memiliki dan menggunakan metode atau strategi

yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik,

maupun sosial yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa dan

materinya. Adapun metode yang direkomendasikan dalam pembelajaran soal

cerita adalah metode pemecaham masalah.

Tahapan penyelesaian masalah dapat diskemakan sebagai berikut :

Analisis J Rencana J Penyelesaian J Penilaian

1. Analisis

Memperoleh gambaran lengkap dari apa yang diketahui dan apa yang

dipermasalahkan.

2. Rencana

Mengubah permasalahan menjadi sebuah masalah atau soal yang

penyelesaiannya secara prinsip dapat diketahui.

3. Penyelesaian

Melaksanakan rencana pemecahan yang dituliskan dengan jelas dalam

bentuk pengerjaan dan hasil.

4. Penilaian
7

Memeriksa apakah masalah sudah diselesaikan dengan tuntas dan layak

sebagai jawaban pertanyaan atau penyelesaian masalah. (Sukirman, 1997 :

10.9-10.11).

Mengacu pada pendapat Bruner, bahwa didalam pembelajaran matemtika

harus menggunakan tahapan-tahapan tertentu dan pendekatan kontekstual.

Maka sebelum siswa menyelesaikan soal cerita, terlebih dahulu diadakan

tanya jawab yang mengarah pada pemecahan penyelesaian soal cerita sebagai

berikut.

1. Tahap Enaktif

Guru mengadakan tanya jawab, contoh :

Guru : “Berapa uang sakumu Vera ?”

Vera : “empat ratus rupiah, bu.”

Guru : “Sekarang kamu Rian, berapa uang sakumu ?”

Rian : “Lima ratus rupiah, bu.”

Guru : “Vera mempunyai uang empat ratus rupiah. Rian mempunyai

uang lima ratus rupiah. Bila disatukan ada berapa uang saku mereka ?”

Siswa : “Sembilan ratus rupiah.”

Didalam tahap enaktif adanya pengalaman langsung dan alat peraga yang

berupa uang.
8

2. Tahap Ikonik

Guru mengadakan tanya jawab seperti diatas tetapi pada tahap ikonik

dimanipulasi dengan menggambar himpunan dipapan tulis seperti berikut :

100
100 100
100 100
100 100
100 100
U = 100 100
100 100 100
100
100 100
100

Didalam tahap ini ikonik adanya manipulasi benda asli dengan tiruan.

3. Tahap Simbolik

Guru langsung menggunakan lambang bilangan karena pada tahap ini

siswa sudah mampu menggunakan notasi dan berfikir abstrak.

Rp. 400,00 + Rp. 500,00 = Rp. 900,00

Soal cerita dalam pembelajaran matematika adalah bentuk soal non rutin

karena merupakan kegiatan pemecahan masalah. Dalam menyampaikan

soal cerita, siswa harus :

• Mengerti soalnya dan mengetahui dengan jelas apa yang ditanyakan.

• Dapat menuliskan kalimat matematikanya dalam bentuk kalimat

bilangan dengan salah satu peubah (biasanya n).

• Mencari bilangan yang membuat hal itu menjadi benar (berapakah n).

• Menjawab pertanyaan dalam soal cerita itu menggunakan bilangan

yang diperoleh (Hambali dan Siskandar, 1993 : 43-44).

Langkah-langkah di atas dalam pembelajaran soal cerita dikelas II sebagai

berikut :
9

Contoh soal :

Suatu pertandingan sepak bola dihardiri 2.750 penonton putra dan 496

penonton putri. Sebelum pertandingan berakhir, jumlah penontotn yang

telah pulang 372 orang. Berapa orang jumlah penonton yang pulang

setelah pertandingan berakhir ? (Supardjo, 2004 : 74).

Dalam hal ini perlu dibiasakan untuk menulis terlebih dahulu :

• Apa yang diketahui

Banyak penonton putra 2.750 orang.

Banyak penonton putri 496 orang.

Penonton yang telah pulan sebelum pertandingan berakhir 372 orang.

• Apa yang ditanya

Berapa jumlah penonton yang pulang setelah pertandingan berakhir ?

• Menulis kalimat matematikanya

2.750 + 496 – 372 =

• Menjawab pertanyaan dan mengkomunikasikan hasilnya.

2.750

496 +
3.246

372 +
2.874

Jadi, penonton yang pulang setelah pertandingan ada 2.874 orang.

Selain metode dalam pembelajaran soal cerita diperlukan adanya

penggunaan media yang tepat. Adapun media rekomendasikan dalam


10

pembelajaran soal cerita penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah

adalah :

• Media tiga dimensi realita berupa mata uang.

Penggunaan mata uang dalam pembelajaran soal cerita selain guru

yang menggunakan, siswa juga diberi kesempatan untuk menggunakan

sendiri.

• Media visual diam yang berupa lembar kerja siswa

Lembar kerja siswa dibut oleh guru, yang memuat perintah dalam

mengerjakan dan soal cerita sebagai latihan yang harus diselesaikan

siswa.

• Media visual diam yang berupa kertas manila bertuliskan soal cerita.
11

BAB III

PAPARAN HASIL

A. Subjek Bimbingan

Subjek pnelitian dalam penyusunan tugas akhir ini yaitu salah satu siswa

kelas III SDN Mangkang Kulon 02 yang mengalami kesulitan belajar dalam

menyelsaikan soal cerita.

Biodata siswa :

Nama : Andenito Sri Kristiani

Nama Ayah : Moroluptua Ambarito

Pekerjaan : Swasta

Nama Ibu : Rohani

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

B. Hasil Bimbingan

Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam penyelesian soal cerita,

guru memberikan bimbingan. Adapun bimbingan yang diberikan yaitu :

1. Pemberian tes awal yang diguakan untuk mengetahui sejauh mana

kemampuan siswa menguasai materi yang akan disampaikan.

2. Penggunaan metode yang tepat dalam meningkatkan kemampuan siswa

dalam menyelesaikan soal cerita

Dalam hal ini metode yang digunakan yaitu metode pemecahan masalah.

3. Penggunaan media yang tepat

11
12

Adapun media yang digunakan yaitu media tiga dimensi realita yag berupa

mata uang. Guru memberikan soal cerita kepada siswa yang berkaitan

dengan pengalaman yang sudah dimiliki. Hal ini dapat melibatkan siswa

secara langsung dalam penyelesaian soal tersebut.

“Farida mempunyai uang Rp. 700,00. Diberikan kepada Sari Rp. 450,00.

Berapa uang yang dimiliki Farida sekarang ?”

4. Guru menjelaskan kepada siswa tentag cara penyelesaian soal cerita.

Setelah guru mengetahui bahwa siswa kurang mampu menyelesaikan soal

cerita yang diberikan sebagai tes awal, guru menjelaskan pemecahan

masalah dalam menyelesaikan soal cerita. Adapun langkah-langkah

sebagai berikut : menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanya

pengerjaannya dan cara mengkomunikasikan hasil.

Contoh : Sebuah truk memuat 2.635 melon. Sesat kemudian muatan

ditambah lagi 1.425. Setelah sampai disuatu tempat penjualan diturunkan

1.780. Berapa melon dalam truk sekarang ?

Apa yang diketahui :

- Melon muatan truk pertama : 2.635 buah

- Muatan ditambah lagi : 1.425 buah

- Muatan diturunkan : 1.780 buah

Apa yang ditanya :

Berapa melon dlam truk sekarang.

Menulis kalimat matematika

2.635 + 1.425 – 1.780 = …..


13

Menjawab pertanyaan dan mengkomunikasikan hasilnya

2.635

1.425 +
4.060

1.780 -
2.280

Jadi, melon dalam truk sekarang 2.280 buah

5. Guru memberika lembar kerja siswa sebagai tes akhir

Soal :

1) Pak Wawan memiliki 2 petaj sawah. Petak pertama menghasilkan padi

2.682 kilogram. Petak kedua menghasilkan 1.825 kilogram. Dari hasil

tersebut dijual 1.983 kilogram. Berapa kilogram padi pak Wawan yang

tiak dijual ?

2) Suatu lomba sepeda santai diikuti oleh 2. 705 peserta putra dan 1.926

putri. Dari jumlah peserta jumlah peserta yang mencapai garis finish.

Berdasarkan hasil bimbingan, kemampuan siswa dalam menyelesaikan

soal cerita mengalami peningkatan. Bimbingan yang diberikan oleh guru dan

penggunaan metode serta media yang tepat dapat meningkatkan kemampuan

siswa dalam menyelesaikan soal-soal tersebut.


14

BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan paparan hasil pada bab III dan lancasan teori pada bab II

dapat disimpulkan bahwa :

1. Bimbingan dan penggunaan metode serta media yang tepat dapat

meningkatkan hasil belajar siswa dalam penyelesaian soal cerita pada

siswa kelas III.

2. Metode pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam

menyelesaikan soal-soal cerita.

B. Saran

Berdasarkan simpulan diatas, penulis mengajukan saran sebagai berikut :

- Guru hendaknya menanmkan pemahaman soal cerita pemberian

bimbingan dan penggunan metode serta media yang tepat sehingga dalam

proses pembelajaran yang berkaitan dengan soal cerita tidak mengalami

kendala yang serius.

14
15

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2003. Kurkulum 2004. Jakarta : Pusat Kurikulum Balitbang

Mugiarso, Heru. 2004. Bimbingan Dan Konseling. Semarang : UPT MKK


UNNES

Rohma, Siti. 2004. Skripsi Penigkatan Hasil Belajar Siswa Tentang Soal Cerita
Melalui Metode Pemecahan Masalah Pada Siswa Kelas III SD Wonorejo 03
Pringapus Kabupaten Semarang.

Ruseffendi, dkk. 1994. Pendidikan Matematika 3. Jakarta : Depdikbud

Siskandar dan Hambali Julius. 1993. Pendidikan Matematika 1. Jakarta :


Depdikbud

Supardjo. 2004. Matematika Gemar Berhitung 3A. Solo : PT. Tiga Serangkai.

15