Anda di halaman 1dari 5

BAB 5

PEMBAHASAN

5.1 Gambaran pengetahuan catin sebelum penyuluhan di wilayah kerja

puskesmas Kamal.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui pengetahuan catin sebelum

penyuluhan di Kecamatan Kamal sebagian besar adalah baik sebanyak 35 orang

(87,5%). Rendahnya pengetahuan yang dimiliki catin tentang pemeriksaan pra

nikah dikarenakan sebagian besar setengahnya tamat SMA. Pendidikan SMA

merupakan pendidikan yang cukup tinggi, akan tetapi keinginan dari masing-

masing catin yang kurang untuk dapat mencari informasi lebih banyak tentang

pemeriksaan pra nikah dapat menjadi suatu penyebab rendahnya pengetahuan

catin. Banyak catin yang tidak mengetahui tentang adanya pemeriksaan pra

nikah, mereka hanya fokus pada administrasi KUA yang harus dilengkapi untuk

menikah, tetapi mereka mengesampingkan masalah kesehatan masing-masing

yang nantinya juga sangat berpengaruh pada anak dan juga pernikahan mereka.

Menurut notoatmodjo (2014), pengetahuan dipengaruhi oleh faktor

pendidikan formal dan sangat erat hubungannya. Diharapkan dengan pendidikan

yang tinggi maka akan semakin luas pengetahuannya. Tetapi orang yang

berpendidikan rendah tidak mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan

pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan formal saja, tetapi juga

dapat diperoleh dari pendidikan non formal.

49
50

5.2 Gambaran pengetahuan catin sesudah penyuluhan di wilayah kerja

puskesmas Kamal.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui pengetahuan catin setelah

penyuluhan di Kecamatan Kamal sebagian besar adalah baik sebanyak 39 orang

(97,5%).

Usia catin yang setangahnya merupakan usia 26-30 tahun dimana

merupakan usia yang sudah matang. Pada usia tersebut seseorang sudah mulai

bisa mengerti dan memilih sesuatu hal yang baik dan buruk. Setelah

mendapatkan penyuluhan catin mengerti tentang pemeriksaan pra nikah yang

memiliki banyak manfaat bagi kedua catin. Mereka menjadi tahu bahwa dalam

menikah tidak hanya masalah administrasi saja yang harus dilengkapi tetapi juga

masalah kesehatan baik secara fisik maupun psikis yang harus dipersiapkan agar

terbina keluarga yang sehat dan juga harmonis.

Menurut Amalia (2018), usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir

seseorang. Bertambahnya usia akan semakin berkembang pola pikir dan daya

tangkap seseorang sehingga pengetahuan yang diperoleh akan semakin banyak.

5.3 Gambaran sikap catin tentang pemeriksaan pra nikah sebelum penyuluhan

di wilayah kerja puskesmas Kamal.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui sikap catin sebelum penyuluhan

di Kecamatan Kamal lebih dari setengahnya adalah tidak mendukung sebanyak

23 orang (57,5%).

Pengetahuan yang kurang akan sangat mempengaruhi seseorang dalam

mengambil sikap atau tindakan, begitupun dengan catin yang sebelumnya

memiliki pengetahuan yang kurang tentang pemeriksaan pra nikah maka mereka
51

juga tidak mendukung terhadap pemeriksaan pra nikah. Mereka beranggapan

bahwa pemeriksaan pra nikah secara menyeluruh tidak diperlukan, yang mereka

nilai secara sekilas pasangan mereka sehat maka secara keseluruhan juga akan

sehat. Persepsi tersebut tentunya salah karena meskipun secara penampilan

tampak sehat belum tentu secara keseluruhan sehat, seperti riwayat penyakit

keturunan dan riwayat penyakit lainnya yang harus dilakukan pemeriksaan lebih

lanjut. Biaya yang mahal dari setiap pemeriksaan juga menjadi kendala bagi cain

yang sudah mengetahui tentang pemeriksaan pra nikah tetapi tidak

melakukannya, mereka berasalasan bahwa masih banyak kebutuhan pernikahan

yang lainnya sehingga mereka menolak dengan adanya pemeriksaan pra nikah.

Menurut Lawrence Green (1993) dalam Notoatmodjo (2014), bahwa

kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh faktor-faktor, yakni faktor

perilaku dan faktor diluar perilaku, selanjutnya perilaku itu sendiri salah satunya

adalah faktor predisposisi (predisposing factors) yang terwujud dalam

pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.

5.4 Gambaran sikap catin tentang pemeriksaan pra nikah sesudah penyuluhan

di wilayah kerja puskesmas Kamal.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui sikap catin sesudah penyuluhan

di Kecamatan Kamal sebagian besar adalah mendukung sebanyak 39 orang

(97,5%).

Setelah diadakan penyuluhan pengetahuan catin tentang pemeriksaan pra

nikah semakin bertambah. Mereka mengerti arti penting pemeriksaan pra nikah

yang tidak hanya menguntungkan mereka tetapi juga demi anak yang akan

mereka lahirkan di masa yang akan datang. Sikap mereka yang selama ini
52

menganggap bahwa biaya pemeriksaan pra nikah besar menjadi tidak masalah.

Mereka merasa bahwa biaya yang mereka keluarkan untuk pemeriksaan pra

nikah tidak akan pernah sia-sia, akan tetapi malah menguntungkan, karena

dengan pemeriksaan pra nikah mereka menjadi tahu tentang kesehatan masing-

masing pasangan, sehingga apabila terjadi masalah kesehatan mereka bisa

melakukan tindak lanjut dan tidak merugikan mereka dimasa depan.

Menurut Notoatmodjo (2014), sikap adalah respon tertutup seseorang

terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan

emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju dan

sebagainya).

5.5 Pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan dan sikap calon pengantin

tentang pemeriksaan pra nikah di wilayah kerja puskesmas Kamal.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa nilai P-Value

pengetahuan sebesar 0,046 sehingga P-value lebih kecil dari α yaitu 0,046<0,05

dengan demikian ada perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan.

Sedangkan untuk variabel sikap diketahui bahwa nilai P-Value 0,008 sehingga

sehingga P-value lebih kecil dari α yaitu 0,008<0,05 dengan demikian ada

perbedaan sikap sebelum dan sesudah penyuluhan. Sehingga dapat ditarik

kesimpulan ada pengaruh penyuluhan terhadap sikap calon pengantin tentang

pemeriksaan pra nikah di wilayah kerja puskesmas Kamal.

Penyuluhan sangat berpengaruh terhadap pengetahuan dan sikap catin

tentang pemeriksaan pra nikah, pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah

diberikan penyuluhan sangatlah berbeda. Penyuluhan melalui lembar bolak balik

sangatlah efisien, selain mereka mendengarkan pemaparan materi dari peneliti,


53

mereka juga mendaptkan lembar bolak balik yang dilengkapi dengan materi dan

gambar yang menarik, sehingga apabila penyuluhan telah selesai, catin dapat

membawa pulang lembar bolak balik dan membacanya di rumah.

Menurut Notoatmodjo yang dikutip oleh Yuliasari, (2014) media pendidikan

kesehatan hakikatnya adalah alat bantu pendidikan yang dapat merubah

pengetahuan dan sikap seseorang.