Anda di halaman 1dari 7

FINAL TEST

COMMUNICATION THEORY

“PERTARUNGAN UNTUK KEBESARAN BANGSA”

Disusun oleh:

Nama : Leonardo Pieky .R


Kelas : 12-28A
Nim : 2008121099
Word Count : 1067

STIKOM The London School of Public Relations


Jakarta
Tahun 2009
BAB I

Kata Pengantar

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berkat
kuasa dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tugas saya ini. Makalah ini
diajukan untuk memenuhi tugas ujian akhir semester satu saya dalam mata
kuliah Introduction to Communication Theory di Sekolah Tinggi Ilmu
Komunikasi The London School of Public Relations, Jakarta. Penulis
menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang membantu. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan.

Jakarta, 2009

Leonardo Pieky .R
BAB II

Analisis

A. The Spiral of Silence Theory

Teori Spiral Keheningan adalah gabungan ilmu politik dan teori


komunikasi massa yang dicetuskan oleh ilmuwan politik Jerman, yaitu
Elisabeth Noelle-Neumann pada tahun 1974. Teori ini berusaha untuk
menjelaskan bagaimana opini publik terbentuk. Ia ingin mengetahui mengapa
negaranya mendukung posisi politik yang salah yang membawa negara itu
dalam kehancuran, penghinaan dan kekalahan nasional.

Teori Spiral Keheningan ini dapat diuraikan sebagai berikut:

• individu memiliki opini tentang berbagai isu. Akan tetapi, ketakutan akan
terisolasi menentukan apakah individu itu akan mengekspresikan opini-
opininya secara umum. Untuk meminimalkan kemungkinan terisolasi,
individu-individu itu mencari dukungan bagi opini mereka dari lingkung-
annya, terutama dari media massa.
• Media massa - dengan bias kekiri-kirian mereka - memberikan interpretasi
yang salah pada individu-individu itu tentang perbedaan yang sebenarnya
dalam opini publik pada berbagai isu. Media mendukung opini-opini
kelompok kiri dan biasanya menggambarkan kelompok tersebut dalam
posisi yang dominan.
• Sebagai akibatnya, individu-individu itu mungkin mengira apa yang
sesungguhnya posisi mayoritas sebagai opini suatu kelompok minoritas.
Dengan berlalunya waktu, maka lebih banyak orang akan percaya pada
opini yang tidak didukung oleh media massa itu, dan mereka tidak lagi
mengekspresikan pandangan mereka secara umum karena takut akan
terisolasi. Selama waktu tersebut, karena 'mayoritas yang bisu' tetap diam,
ide minoritas mendominasi diskusi. Yang terjadi kemudian, apa yang pada
mulanya menjadi opini minoritas, di kemudian hari dapat menjadi
dominan.
Spiral keheningan mengajak kita kembali kepada teori media massa yang
perkasa, yang mempengaruhi hampir setiap orang dengan cara yang sama
(Noelle-Meumann, 1973)

Orang-orang yang tidak terpengaruh oleh spiral kebisuan ini ialah orang-
orang yang dikenal sebagai avant garde dan hard core. Yang dimaksud
dengan avant garde di sini ialah orang-orang yang merasa bahwa posisi
mereka akan semakin kuat, sedangkan orang-orang yang termasuk ke dalam
kelompok hard core ialah mereka yang selalu menentang, apa pun
konsekuensinya (Noelle-Neumann, 1984).

Noelle-Newman (1984) menyatakan bahwa kekuatan media massa diperoleh


dari:
• kehadirannya di mana-mana (ubiquity);
• pengulangan pesan yang sama dalam suatu waktu (kumulasi); dan
• konsensus (konsonan) tentang nilai-nilai kiri di antara mereka yang
bekerja dalam media massa, yang kemudian direfleksikan dalam isi media
massa.

Bukti-bukti yang diungkapkan oleh Noelle-Newmann (1980, 1981) diperoleh


dari Jerman Barat, meskipun ia menyatakan bahwa "konsonan" itu iuga
berlaku bagi demokrasi parlementer Barat dan sistem media yang dikontrol
pemerintah. Tidaklah jelas apakah ia juga akan memperluas teorinya agar
mencakup negara-negara yang sedang berkembang. Namun untuk kasus di
Indonesia, masa peralihan pemerintahan Megawati ke Susilo Bambang
Yudhoyono memiliki sisi-sisi yang cukup relevan dengan asumsi teori ini.

Ada beberapa ketidaksepakatan tentang kelayakan teori dan metodologi


karya Noelle-Newmann ini. Pengritik melihat bahwa formulasi teorinya tidak
lengkap, dan konsep-konsep utamanya tidak dijelaskan dengan memadai. Di
samping itu, spiral kebisuan, sebagai teori opini publik, dikelompokkan
bersama perspektifnya yang lain tentang masyarakat dan media massa. Di
pihak lain, spiral kebisuan ini memperlakukan opini publik sebagai suatu
proses dan bukan sebagai sesuatu yang statis. Perspektif itu juga
memperhatikan dinamika produksi media dengan pembentukan opini publik
(Glynn dan McLeod, 1985; Katz, 1981; Salmon dan Kline, 1983). Studi yang
belum lama ini dilakukan memberi dukungan empirik pada teori spiral
kebisuan. Dalam evaluasi masalah-masalah yang dihadapi oleh suatu
komunitas di Waukegan, Illinois, Taylor (1982) menemukan bahwa orang-
orang yang merasa opininya mendapat dukungan mayoritas akan lebih berani
mengungkapkan pendapatnya. Demikian juga dengan orang-orang yang
merasa bahwa opininya akan mendapat dukungan di kemudian hari (misalnya
kelompok avant garde). Dengan cara yang serupa, Glynn dan McLeod (1985)
menemukan bahwa persepsi tentang apa yang dipercayai orang lain akan
mempengaruhi ekspresi opini dan pemungutan suara. Mereka juga
menemukan bahwa kelompok hard core di antara para pemilih lebih suka
mendiskusikan kampanye politik daripada yang lain. Yang dimaksud dengan
hard core di sini ialah orang-orang yang secara eksplisit menyukai seorang
kandidat setelah melalui beberakali wawancara.

Di samping itu, Glenn dan McLeod (1985) melaporkan juga bahwa


responden-responden mereka lebih suka melibatkan diri dalam diskusi-
diskusi politik dalam suatu pertemuan, jika orang-orang lain yang hadir di situ
pandangannya sejalan dengan pandangan mereka.
B. Pertarungan Untuk Kebesaran Bangsa

Artikel ini bercerita tentang kemenangan Barack Obama sebagai Presiden


terpilih Amerika Serikat, juga bagaimana suasana pemilihan umum yang
elegan. Dalam artikel tersebut, kita dapat melihat betapa dewasanya negara
adidaya tersebut. Hal yang paling menyentuh adalah sikap kedua kandidat
yang saling menghargai dan sportif, juga kesadaran tinggi untuk
mengutamakan kepentingan bangsa diatas segala kepentingan pribadi.
Terpilihnya Barack Obama menjadi Presiden Amerika membukakan pintu
sejarah baru, dimana ia menjadi Presiden Amerika pertama yang berkulit
hitam. Seperti kita ketahui, dalam kehidupan sosial Amerika, kulit hitam
merupakan tingkat terendah. Mereka dianggap sebagai budak dan selalu
direndahkan dan didiskriminasi. Hal ini menyebabkan kulit hitam menjadi
kaum minoritas yang tak berdaya di Amerika.
Obama sebagai keturunan keluarga Kenya dan yang pernah tinggal di
tempat kumuh, pelan-pelan meniti karir di bidang politik dengan bakatnya
sebagai orator. Pada akhirnya dia mampu menjadi senator Illinois dan
mencalonkan diri menjadi Presiden Amerika Serikat pada tahun ini.
Pencalonan Obama menjadi presiden Amerika, telah memberanikan kaum
minoritas untuk menyuarakan opini mereka dengan mendukung Obama untuk
menjadi presiden Amerika. Mereka yakin Obama dapat mengaspirasikan
keinginan mereka selama ini ditambah dengan cara Obama merebut hati
rakyat Amerika dari berbagai isu-isu miring yang berhembus. Berusungkan
tema ’Perubahan’ ia tidak hanya membuat kaum minoritas simpatik, tetapi
juga semua kalangan masyarakat, yaitu rakyat Amerika. Dan pada akhirnya
dia pun berhasil menduduki tahkta tertinggi negara adidaya tersebut.
Dalam kasus ini kita dapat melihat bagaimana kaum minoritas berani
menyuarakan opini mereka. Ini disebabkan mereka telah mendapatkan avant
grade, yaitu Obama yang mampu menyuarakan opini mereka dari resesif
menjadi dominan.
BAB III

Kesimpulan

Spiral of Silence menjelaskan bagaimana kaum minoritas tidak dapat


mengungkapkan opininya karena rasa takut dan terisolasi. Kaum minoritas
yang terisolasi ini bukan berarti mati, mereka terus berjuang secara geriliya
untuk memperjuangkan aspirasi mereka.
Dalam kasus ini, kaum minoritas telah menemukan figur yang tepat yang
dapat mereka jadikan media penyaluran aspirasi. Figur tersebut dalah
Obama. Obama dianggap telah mewakila golongan minor Amerika. Melalui
bakat oratornya, ia mengubah opini minoritas menjadi dominan dan membuat
opini mayoritas bungkam. Pada akhirnya, kaum minoritas menjadi kaum
mayoritas yang dominan.