Anda di halaman 1dari 16

PEMEROLEHAN BAHASA

Pemerolehan bahasa atau akusisi bahasa merupakan proses yang


berlangsung di dalam otak seseorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa
pertamanya atau bahasa ibunya (Chaer, 2003:167). Menurut Kiparsky (dikutip
Tarigan, 2009:227) Pemerolehan bahasa atau language acquisition adalah suatu
proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis
yang makin bertambah rumit, ataupun teori-teori yang masih terpendam atau
tersembunyi yang mungkin sekali terjadi, dengan ucapan-ucapan orang tuanya
sampai dia memilih, berdasarakan suatu ukuran penilaian dari tata bahasa yang
paling baik serta paling sederhana dari bahasa tersebut. Selanjutnya, Tarigan
(2011:5) mengatakan pemerolehan bahasa mempunyai suatu permulaan yang tiba-
tiba, mendadak. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat simpulkan bahwa
permerolehan bahasa merupakan proses ketika anak-anak memperoleh bahasa
pertamanya.
Menurut Chaer (2003:167) ada dua proses yang terjadi ketika seorang
kanak-kanak sedang memperoleh bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi
dan performasi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan.
Kompentensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak
disadari. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk terjadinya proses performasi
yang terdiri dari dua proses, yakni proses pemahaman dan proses penerbitan atau
proses menghasilkan kalimat-kalimat.

BEBERAPA HIPOTESIS
A. Hipotesis Nurani
Setiap bahasawan (penutur asli suatu bahasa) tantu mampu memahami dan
membuat (menghasilkan, menerbitkan) kalimat-kalimat dalam bahasanya karena
dia telah “menuranikan” atau “menyimpan dalam nuraninya” akan tata bahasanya
itu menjadi kompetensi (kecakapan) bahasanya; juga telah menguasai
kemampuan-kemampuan performasi (pelaksanaan) bahasa itu. Jadi, dalam
pemerolehan bahasa, jelas yang diperoleh kanak-kanak adalah kompetensi dan
perfomasi bahasa pertamanya. Untuk memperoleh kemampuan berbahasa itu

1
2

kanak-kanak harus mengunakan alat, menurut Chomsky (dikutip Chaer,


2003:168) alat tersebut adalah hipotesis nurani (the innateness hypothesis).
Hipotesis nurani lahir dari beberapa pengamatan yang dilakukan para
pakar terhadap pemerolehan bahasa kanak-kanak (Lenneberg dan Chomsky,
dikutip Chaer, 2003:168). Hasil pengamatan itu antara lain:
1. Semua kanak-kanak yang normal akan memperoleh bahasa ibunya asal
saja “diperkenalkan” pada bahasa ibunya itu. Maksudnya, dia tidak
diasingkan dari kehidupan ibunya (keluarganya).
2. Pemerolehan bahasa tidak ada hubungannya dengan kecerdasan anak-
anak. Artinya, baik anak yang cerdas maupun yang tidak cerdas akan
memperoleh bahasanya.
3. Kalimat-kalimat yang didengar anak-anak sering kali tidak gramtikal,
tidak lengkap, dan jumlahnya sedikit.
4. Bahasa tidak dapat diajarkan kepada makhluk lain; hanya manusia yang
dapat berbahasa.
5. Peroses pemerolehan bahasa oleh anak-anak di mana pun sesui dengan
jadwal yang erat kaitannya dengan proses pematangan jiwa anak-anak.
6. Struktur bahasa sangat rumit, kompleks dan bersifat universal. Namun,
dapat dikuasai anak-anak dalam waktu yang relatif singkat, yaitu dalam
waktu antara tiga atau empat tahun saja.
Berdasarkan pengamatan di atas dapat disimpulkan bahwa manusia lahir
dengan dilengkapi oleh suatu alat yang memungkinkan dapat berbahasa dengan
mudah dan cepat. Oleh karena itu pandangan ini mengajukan satu hipotesis yang
disebut hipotesis nurani (bahasa inggris innate = dibawa sejak lahir, berada di
dalam, atau semula jadi).
Hipotesis nurani dibedakan menjadi dua macam, yaitu hipotesis nurani
bahasa dan hipotesis nurani mekanisme (Simanjuntak dikutip Chaer, 2003:169).
Hipotesis nurani bahasa merupakan satu asumsi yang menyatakan bahwa sebagian
atau semua bagian dari bahasa tidaklah dipelajari atau diperoleh tetapi ditentukan
oleh fitur-fitur nurani yang khusus dari organisme manusia. Sedangkan, hipotesis
nurani mekanisme menyatakan bahwa proses pemerolehan bahasa oleh manusia
ditentukan oleh perkembangan kognitif umum dan mekanisme nurani umum yang
3

berinteraksi dengan pengalaman. Maka beda kedua hipotesis ini adalah bahwa
hipotesis nurani bahasa menekankan terdapatnya sesuatu “benda” nurani yang
dibawa sejak lahir yang khusus untuk bahasa dan berbahasa. Sedangkan, hipotesis
nurani mekanisme terdapatnya suatu “benda” nurani berbentuk mekanisme yang
umum untuk semua kemampuan manusia. Bahasa dan berbahasa hanya sebagian
saja dari yang umum itu.
Mengenai hipotesis nurani bahasa, Chomsky dan Miller (dikutip Chaer,
2003:169) mengatakan adanya alat khusus yang dimiliki setiap anak-anak sejak
lahir untuk dapat berbahasa. Alat itu namanya language acquiaition device
(LAD), yang berfungsi untuk memungkinkan seseorang anak-anak memperoleh
bahasa ibunya. Cara kerja LAD ini dapat dijelaskan sebagai berikut: apabila
sejumlah ucapan yang cukup memadai dari suatu bahasa (bahasa apa saja)
“diberikan” kepada LAD seorang anak-anak sebagai masukan (input), maka LAD
itu akan membentuk salah satu tata bahasa formal sebagai keluaran (output)-nya.
Jadi:

Ucapan-Ucapan LAD Tata Bahasa


Bahasa X Formal Bahasa X

Input Output
Adanya hipotesis nurani mengenai LAD ini semakin memperkuat
pandangan para ahli di budang pemerolehan bahasa, bahwa kanak-kanak sejak
lahir telah diberikan kemampuan untuk memperoleh bahasa ibunya. Buktinya,
meskipun masukan yang berupa ucapan-ucapan penuh dengan kalimat-kalimat
yang salah, tidak lengkap, dan struktur yang tidak gramatikal, namun ternyata
kanak-kanak dapat saja menguasai bahasa ibunya itu. Tampaknya bahasa ibu
dapat saja diperoleh oleh kanak-kanak dalam keadaan yang beragam-ragam dan
dengan corak yang bagaimana pun. Berdasarkan fakta ini, maka Eva Clark (1977),
salah seorang pakar pemerolehan bahasa, mengambil kesimpulan bahwa kanak-
kanak tidak mungkin dapat menguasai sintaksis bahasanya kalau dia tidak
dianugerahi suatu mekanisme nurani yang khas untuk memperoleh bahasa itu.
Tanpa mekanisme nurani nurani ini pemerolehan bahasa tidak mungkin terjadi.
4

Konsep LAD ini telah merangsang penelitian pemerolehan bahasa sampai


ke tingkat yang sangat tinggi. Pusat perhatian pada mulanya diarahkan pada
pemerolehan komponen sintaksis, sedangkan peranan semantic dan kognisi
kurang diperhatikan. Hal ini tidak mengherankan karena teori generative
transformasi yang dikembangkan oleh Chomsky memang hanya
memusatkanperhatian pada keotonomian komponen sintaksis. Jadi, yang perlu
bagi LAD hanyalah masukan linguistik. Faktor-faktor nonlinguistic seperti
masukan linguistik. Factor-faktor nonlinguistic seperti masukan penglihatan,
perasaan, dan juga pengetahuan bukan linguistik tidak begitu penting untuk
pemerolehan bahasa.
Namun, dalam perkembangannya yang terakhir pengkajian pemerolehan
bahasa sudah lebih memperhatikan tiga buah unsur yang dulu kurang diperhatikan
oleh LAD, yaitu (1) korpus ucapan, yang kini dianggap berfungsi lebih daripada
menggiatkan LAD saja, (2) peranan semantic yang lebih penting daripada
sintaksis, dan (3) peranan perkembangan kognisi yang sangat menentukan dalam
proses pemerolehan bahasa. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa hipotesis
nurani mekanisme lebih menarik perhatian beberapa ahli tertentu daripada
hipotesis nurani bahasa, yang sebelumnya lebih diperhatikan sebagai dasar
pengkajian pemerolehan bahasa.
Dewasa ini, hipotesis nurani lebih dikenal dengan nania, yang diusulkan
oleh Mc. Neil (1970), hipotesis kesemestaan linguistik kuat (strongs linguistic
universal), atau versi kuat hipotesisi nurani. Sedangkan hipotesis nurani
mekanisme mendapat nama baru yaitu kesemestaan linguistik lemah (weak
linguistic universals) atau versi lemah hipotesis nurani.
Menurut versi kuat kepunyaan linguistik tidak menggambarkan keupayaan
kognitif sama sekali (Chomsky: 1970, Lenneberg: 1967). Sebaliknya menurut
versi lemah, keupayaan kognitif umum mengandung juga keupayaan linguistik
(Piaget: 1964, Slobi: 1971). Hal ini berarti, tanpa keupayaan kognitif umum,
keupayaan linguistik tidak akan berwujud. Umpamanya, Bever (1970)
mengatakan bahwa unsur-unsur structural bahasa universal tertentu dapat
menggambarkan hambatan-hambatan kognitif umum, tetapi tidak menunjukkan
struktur linguistik nurani yang khusus. Hal ini menunjukkan bahwa hambatan-
5

hambatan kognitif umumlah yang membatasi unsur-unsur structural bahasa


universal. Pandangan yang sama dikemukakan oleh Slobin (1971) yang
mengatakan bahwa mungkin penentuan arah perkembangan linguistik universal
didasarkan pada apa yang kita ketahui mengenai arah perkembangan kognitif
universal. Kesesuaian kedua pandangan di atas dengan teori perkembangan
kognisi Piaget (1964) sangat jelas. Piaget dalam teorinya mengatakan bahwa
perkembangan bahasa bergerak dari dan merupakan bagian dari perkembangan
kognitif umum kanak-kanak.
Pengkajian perkembangan pemerolehan bahasa berdasarkan pengkajian
perkembangan kognisi pada beberapa tahun berakhir telah maju dengan pesat, dan
dalam hal ini teori perkembangan kognisi Piaget sangat memegang peranan
penting. Namun demikian, penemuan-penemuan terakhir dalam
neuropsikolinguistik dan dalam pengkajian biologi bahasa telah membangkitkan
kembali minat ahli-ahli dalam versi kuat hipotesis nurani, tetapi dengan
penekanan pentingnya peranan semantic dalam proses perkembangan bahasa ini.
Penemuan-penemuan baru neuropsikolinguistik menunjukkan bahwa
sewaktu lahir kanak-kanak telah dilengkapi dengan bagian otak yang khusus
untuk bahasa dan berbahasa yang disebut “pusat-pusat bahasa dan ucapan”. Maka
menjadi pertanyaan, jika keupayaan berbahasa merupakan bagian dari keupayaan
kognitif yang umum, mengapa manusia memiliki bagian otak (korteks) yan
khusus untuk berbahasa.
Penekanan mengenai pentingnya komponen semantic dalam pengkajian
proses pemerolehan bahasa sejalan dengan penekanan yang sama dalam teori
semantic generative. Perkembangan baru ini dimulai sejak tahun tujuh puluhan,
dan telah dianggap sebagai satu pendekatan baru dalam pengkajian pemerolehan
bahasa kanak-kanak. Sebelum ini pengkajian dititikberatkan pada perkembangan
kosakata dan kemudian pada analisis tata bahasa (sintaksis) bahasa kanak-kanak.
Perhatian pendekatan baru ini ditujukan pada pengkajian unsur-unsur bahasa
kanak-kanak yang dianggap sebagai satu system untuk berkomunikasi. Oleh
karena itu, yang penting untuk dikaji bukanlah hanya ucapan-ucapan saja,
melainkan juga pesan, amanat, atau konsep yang terkandung dalam ucapan-
ucapan itu (Campbell: 1979). Tokoh utama dalam pendekatan ini yaitu Lois
6

Bloom (1970) mengatakan bahwa ucapan kanak-kanak mempunyai banyak


penafsiran, dan orang dewasa (terutama ibu si kanak-kanak) pada umumnya dapat
menafsirkan ucapan kanak-kanak itu dengan tepat. Misalnya, meskipun kanak-
kanak hanya mengucapkan sebuah kata saja, tetapi dapat ditafsirkan sebagai
sebuah kalimat lengkap menurut arti dan fungsi di dalam komunikasi, semuanya
bergantung pada “konteks situasi ucapan itu”. Ucapan satu kata yang mengandung
satu frase atau satu kalimat disebut holofrasis (kata dengan makna yang mewakili
makna seluruh kalimat).
Ucapan holofrasis ini menjadi bukti akan wujudnya LAD bentuk baru
sebagai bagian dari versi kuat hipotesis nurani yang menekankan pada komponen
semantic. Dalam kaitan ini Mc. Neil (1970: 70) menyatakan bahwa struktur awal
bahasa kanak-kanak di seluruh dunia adalah sama, meskipun budaya dan bahasa
mereka berbeda. Struktur awal bahasa ini adalah struktur-dalam sebelum
dikenakan kaidah transformasi. Jadi jelas bahwa struktur-dalam semua bahasa ini
adlah sama. Yang berbeda adalah struktur luarnya, yakni setelah melalui rumus-
rumus transformasi.
Ucapan holofrasis kanak-kanak ini merupakan bukti yang sugestif bahwa
sebenarnya pada tahap ucapan satu kata ini kanak-kanak telah mampu
menyampaikan makna komunikasi dengan hubungan-hubungan tata bahasa dasar.
Hal ini dapat dipastikan karena kanak-kanak pada tahap ini belum mengerti apa
yang disebut sintaksis itu, Bowerman (1973) telah mengumpulkan ucapan-ucapan
holofrasis kanak-kanak dari Finlandia, Amerika dan Samoa. Data yang
dikumpulkannya itu juga menunjukkan ucapan awal kanak-kanak itu dapat
diuraikan berdasarkan tata bahasa dasar (struktur-dalam), tanpa transformasi.

B. Hipotesis Tabularasa
Secara harfiah tabularasa berarti ‘kertas kosong’, dalam arti belum ditulisi
apa-apa. Hipotesis ini menyatakan bahwa otak bayi pada waktu dilahirkan sama
seperti kertas kosong, yang nanti akan ditulisi dengan pengalaman-pengalaman.
Pada awalnya hipotesis ini dikemukakan oleh John Locke seorang empirisme
yang sangat terkenal yang kemudian dianut dan disebarluaskan oleh John Watson,
seorang tokoh terkemuka aliran behaviorisme dalam psikologi.
7

Menurut hipotesis tabularasa, semua pengetahuan dalam bahasa manusia


yang tampak saat perilaku berbahasa merupakan hasil dari integritas peristiwa-
peristiwa linguistik yang dialami dan diamati oleh manusia itu. Sejalan dengan
hipotesis ini, behaviorisme menganggap bahwa pengetahuan linguistik hanya
terdiri dari rangkaian hubungan-hubungan yang dibentuk dengan cara
pembelajaran S – R (Stimulus – Respons). Cara pembelajaran S – R yang
terkemuka adalah pelaziman klasik, pelaziman operan, dan mediasi atau penengah
yang telah dimodifikasi menjadi teori-teori pembelajaran bahasa.
Teori pembelajaran bahasa pelaziman operan menyatakan bahwa prilaku
berbahasa seseorang dibentuk oleh serentetan ganjaran yang beragam-ragam yang
muncul di sekitar orang itu. Seorang kanak-kanak yang sedang memperoleh
system bunyi bahasa ibunya, pada mulanya akan “mengucapkan” semua bunyi
yang ada pada semuan bahasa yang ada di dunia ini pada tahap berceloteh
(babbling period). Namun, orang tua si bayi atau kanak-kanak itu hanya
“memberikan” bunyi-bunyi yang ada dalam bahasa ibunya saja. Maka dengan
demikian, si bayi hanya dilazimkan untuk menirukan bunyi-bunyi dari bahasa
bunya saja. Lalu, si bayi akan menggabungkan bunyi-bunyi yang telah dilazimkan
itu untuk menirukan ucapan-ucapan orang tuanya. Jika tiruannya itu betul atau
mendekati ucapan yang sebenarnya, maka dia akan mendapat “hadiah” dari
ibunya berupa senyuman, tawa, ciuman, dsb. Bisa dikatakan bahasa kanak-kanak
itu berkembang setahap demi setahap, mulai dari bunyi, kata, frase, dan kalimat.
Perkembangan kemampuan berbahasa selalu diperkukuh dengan hadiah-hadiah
atau ganjaran-ganjaran, sehingga menjadi tabiat atau prilaku pada kanak-kanak
itu. Menurut teori behaviorisme ini, bahasa adalah sekumpulan tabiat-tabiat atau
prilaku-prilaku. Tabiat-tabiat seperti inilah yang dituliskan pada “kertas kosong”
tabularasa otak kanak-kanak.
Pemerolehan bahasa menurut teori behaviorisme ini tidak mungkin dapat
menerangkan factor kreativitas dalam penggunaan bahasa. Tidak mungkin
rasanya semua kalimat yang diucapkan kanak-kanak telah terlebih dahulu
“dituliskan” dalam tabularasa oleh kanak-kanak itu melalui pengukuhan. Setiap
kalimat yang diucapkan oleh seseorang adalah kalimat baru yang belum pernah
dibuat sebelumnya, kecuali pribahasa atau ungkapan seperti “selamat pagi”, “apa
8

kabar” dan “keras kepala”. Maka menurut pakar teori generative transformasi,
teori behaviorisme ini tidak mampu untuk menerangkan proses pemerolehan
bahasa (Simanjuntak: 1987)
Kritik dari pakar teori generative transformasi, terutama dari Chomsky
(1959), membuat Jenkin (1964, 1965) melontarkan penjelasan mengenai
kreativitas bahasa berdasarkan kerangka behaviorisme. Jenkin memperkenalkan
satu teori yang disebut teori mediasi atau penengah yang disebut “rantaian
respons” (respon chaining). Teori rantaian respons ini didasarkan pada prinsip
mediasi atau penengah seperti yang diperkenalkan oleh Osgood, tetapi dalam
bentuk yang agak berlainan. Walau bagaimanapun jelas tampak bahwa factor
penengah atau mediasi yang dimainkan oleh otak telah memegang peranan yang
sangat penting dalam proses pembelajaran “rantaian respons” itu.
Menurut prinsip mediasi, jika seseorang telah mengenal hubungan antara
meja dan kursi, dan hubungan antara meja dengan lantai, maka mengetahui
hubungan antara kursi dan lantai akan jauh lebih mudah karena peranan yang
dimainkan oleh factor penengah atau mediasi, yaitu meja dan yang mempunyai
hubungan dengan kursi dan lantai. Pembelajaran seperti inilah yang disebut
“rantaian respons” oleh Jenkin. Perhatikan bagan berikut:

Meja Kursi
Kursi Lantai
Meja Lantai

Dari penjelasan diatas kita kenal pula adanya dua buah prinsip baru, yaitu
(1) Kesamaan stimulus
(2) Kesamaan respons.
Yang dimaksud dengan kesamaan stimulus adalah prinsip, misalnya
mempelajari hubungan antara dua benda A dan C, akan jauh lebih mudah jika
hubungan di antara kedua benda itu dengan stimulus yang sama (B misalnya)
telah terlebih dahulu dipelajari atau diketahui. Perhatikan!
9

A B
A C
C B

Sedangkan yang dimaksud dengan kesamaan respons adalah prinsip


bahwa mempelajari hubungan antara dua benda A dan C juga akan jauh lebih
mudah jika hubungan diantara kedua benda itu dengan respons yang sama
(misalnya B) telah terlebih dahulu dipelajari. Perhatikan bagan berikut!
B A
A C
B C

Menurut Jenkin (Simanjuntak:1987), kata-kata yang berkategori


gramatikal yang sama dapat dikelompokkan ke dalam yang termasuk kesamaan
stimulus atau yang termasuk kesamaan respons. Dengan prinsip yang tampak
sederhana ini Jenkin mencoba menjelaskan kemampuan manusia membentuk
kalimat-kalimat baru untuk menyelamatkan teori behaviorismenya dengan
hipotesis tabularasa, seperti di bawah ini (Simanjuntak: 1987)
A B
(1) Bola itu merah Bola dan baju menjadi anggota kelas
stimulus karena kesamaan stimulus.
B
(2) Baju itu merah

A D
(3) Bola itu baru Merah (pada 1, 2) dan baru (pada 3, 4)
menjadi anggota kelas respons karena
kesamaan respons.
C D
(4) Baju itu baru
10

E B
(5) Kereta itu merah Kereta bergabung dengan kelas
stimulus (bola dan baju).

(6) Kereta itu baru Kalimat baru dibentuk dengan cara


merantaikan satu anggota kelas stimulus
dan anggota kelas respons.

Dari penjelasan diatas dapat kita lihat bahwa sesungguhnya teori mediasi
“rantaian respons” yang dikemukakan oleh jenkin belum dapat digunakan untuk
menjelaskan kreativitas manusia dalam membentuk kalimat-kalimat baru. Sruktur
bahasa manusia terlalu rumit untuk dapat diterangkan pemerolehannya oleh teori
rantaian respons yang begitu sederhana.
Jadi, usaha yang dibuat jenkin kurang berkesan. Hal ini sama saja
keadaannya dengan konsep behaviorisme yang dilakukan oleh Bloomfield dalam
linguistik dan oleh skinner dalam psikologi. Bloomfield (1993) memberikan
ilustrasi tentang jack dan jiil dengan buah apelnya. Mula mula jiil merasa lapar
dan dia melihat apel diatas pohon. Jill mengeluarkan suara dengan larings, lidah,
dan bibirnya. Jack memanjat pohon apel, memetik apel, dan memberikannya
kepada jill. Jill memakan buah apel itu. Kemudian Bloomfield menganalisis
rantaian stimulus kata-kata dan rantaian respons kata-kata yang berlangsung
sehingga jill mendapatkan buah apel itu. Lalu, Bloomfield menyimpulakan
“language enables one person to make a reaction (R) when antother person has the
stimulus (s)”, (Bloomfield 1993 : 26).
Dengan demikian jelas, seseorang akan dapat mengeluarkan kalimat
apabila orang lain mengeluarkan stimulus. Kreativitas seseorang untuk
mengeluarkan kalimat hanya diterangkan menurut konsep S-------R, yaitu sebagai
rantaian peristiwa yang dihubungkan. Satu kalimat dianggap sebagai satu
rangkaian kata yang dikeluarkan sebagai respons kepada kata-kata yang
mendahuluinya, dan selanjutnya menjadi stimulus kepada kalimat berikutnya.
11

Begitu juga dengan bunyi kata-kata dan kata-kata dalam kalimat merupakan
rantaian S-----R saja.
Menurut Skiner (1957) berbicara merupakan satu respons operan yang
dilazimkan kepada sesuatu stimulus dari dalam diri atau luar, yang sebenarnya
tidak jelas diketahui. Untuk menjelaskan hal ini skinner memperkenalkan
sekumpulan kategori respons bahasa yang hampir serupa fungsinya dengan
ucapan, yaitu mands, tacst, echoisc, textuals, dan verbal operant. Apakah yang
dimaksud dengan kelima istilah ini?
a. Mand
Kata mand adalah akar dari kata command, demand, dan lain-lain.
Satu mand adalah satu operan bahasa dibawah pengaruh stimulus yang
bersifat menyingkirkan, merampas, atau menghabiskan. Di dalam tata
bahasa mand ini sama dengan kalimat imperative. Mand ini muncul
sebagai kalimat imperative, permohonan, atau rayuan, hanya apabila
penutur ingin mendapatkan sesuatu. Hal ini mungkin karena dahulu
kalimat seperti ini telah pernah diamati oleh penutur ketika seseorng
mengucapkan untuk mendapatkan kembali sesuatu yang dirampas,
disingkirkan, atau diambil (manded) daripadanya. Umpamanya kalau
seorng kanak-kanak mengucapkan kata “susu”. Dia mengucapkan
perkataan ini karena adanya stimulus rasa lapar atau haus ( stimulus yang
merampas seuau dari kanak-kanak itu), dan dulu kanak-kanak itu telah
pernah mengalami atau mengamati bahwa kalau kata “ susu” itu
diucapkan, maka orang tuanya segera memberikannya (sebagai ganjaran
dan pengukuhan). Jadi, mand memerlukan satu interaksi khusus antara
kedaan dulu yang serupa dan dialami, respons bahasa, perilaku orang yang
mengukuhkan, dan jenis pengukuhan.

b. Tacts
Tact adalah benda atau peristiwa konkret yang muncul sebagai
akibat adanya stimulus. Di dalam tata bahasa tact ini dapat disamakan
dengan menamai atau menyebut nama sesuatu benda atau peristiwa.
12

Umpamanya kalau kita melihat sebuah mobil sebagai stimulus mka kita
akan mengeluarkan satu tact “mobil” sebagai respons.

c. Echoics
Echoics adalah satu perilaku berbahasa yang dipengaruhi oleh
respons orng lain sebagai stimulus dan kita meniru ucapan itu.
Umpamanya apabila seseorang mengatakan “mobil”, maka stimulus itu
membuat kita mengucapkan kata “mobil” sebagai sebuah respons.

d. Textual
Textual adalah perilaku berbahasa yang diatur oleh stimulus
tertulis sedemikian rupa sehingga bentuk perilaku itu mempunyai korelasi
dengan bahasa yang tertulis itu. Korelasi yang dimaksud ialah hubungan
sistematik antara system penulisan (ejaan) suatu bahasa dengan respons
ucapan apabila membacanya secara langsung. Jadi, apabila kita melihat
tulisan <kucing> sebagai stimulus maka kita memberi respons [kucing].

e. Intraverbal Operant
Interverbal operan adalah operan berbahasa yang diatur oleh
perilaku berbahasa terdahulu yang dilaukan atau dialami oleh penutur.
Umpamanya, kalau sebuah kata dituliskan sebagai stimulus, maka kata
lain yang ada hubungannya dengan kata itu akan diucapkan sebagai
respons. Kata meja, misalnya akan membangkitkan kata kursi. Begitu juga
kata terima kasih sebagai akan membangkitkan kata kembali sebagai
responsnya.

Akhirnya bisa dikatakan analisis Bloomfield dan Skinner di atas yang


didasarkan pada hipotesis tabularasa dan teori hubungan S – R behaviorisme tidak
memadai untuk menerangkan proses pemerolehan bahasa anak-anak. Analisis
mereka tidak dapat menjelaskan kompetensi linguistik (pengetahuan tata bahasa)
yang telah dinuranikan oleh kanak-kanak dan disimpan dalam otaknya, dan
13

bagaimana kompetensi ini digunakan untuk membuat dan memahami kalimat-


kalimat baru yang belum pernah dibuatnya.

C. Hipotesis Kesemestaan Kognitif


Dalam kognitifisme hipotesis kesemestaan kognitif yang di perekenalkan
oleh piaget telah digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan proses-proses
pemerolehan bahasa kanak-kanak. Piaget sendiri sebenarnya tidak pernah secara
khusus mengeluarkan satu teori mengenai pemerolehan bahasa karena beliau
menganggap bahasa merupakan satu teori mengenai pemerolehan bahasa karena
beliau menggap bahasa merupakan satu bagian dari perkembangan kognitif
(intelek) secara umum. Piaget hanya mengaji perkembangan kognitif umum ini;
dan dalam pengkajian ini beliau telah mengeluarkan sebuah hipotesis mengenai
kesemestaan kognitif, termasuk bahasa. Namun, para pengikut Piaget di Jenewa
telah meluaskan pandangan Piaget ini sehingga satu teori pemerolehan bahasa
dalam kognitifisme telah dirumuskan (Sinclair-de Zwart, 1963).
Menurut teori yang didasarkan pada kesemestaan kognitif, bahasa
diperoleh berdasarkan struktur-struktur kognitif deriamotor. Struktur-struktur ini
diperoleh kanak-kanak melalui interaksi dengan benda-benda atau orang-orang di
sekitarnya. Urutan pemerolehan ini secara garis besar adalah sebagai berikut:
1. Antara usia 0 sampai 1,5 tahun anak-anak mengembangkan pola-pola
aksi dengan cara bereaksi terhadap alam sekitarnya. Pola-pola inilah
yang kemudian diatur menjadi struktur-struktur akal (mental).
Berdasarkan sturktur-struktur akal ini anak-anak mulai membangun
satu dunia beda-beda yang kekal yang lazim disebut kekekalan benda.
Maksudnya, anak-anak telah mulai sadar bahwa meskipun benda-
benda yang pernah diamatinya atau disentunya hilang dari
pandangannya; namun tidak berarti benda-benda itu tidak ada lagi di
dunia ini.
2. Setelah struktur aksi dinuranikan, maka anak-anak memasuki tahap
representasi kecerdasan, yang terjadi antara usia 2 tahun sampai 7
tahun. Pada tahap ini anak-anak telah mampu membentuk representasi
14

simbolik benda-benda seperti permainan simbolik, peniruan,


bayangan, mental, gambar-gambar dan lain-lain.
3. Setelah tahap representasi kecerdasan, dengan reprensentasi
simboliknya, berakhir, maka bahasa anak-anak semakin berkembang,
dan dengan mendapat nilai-nilai sosialnya. Struktur-struktur
linguistiknya muali dibentuk berdasrkan bentuk-bentuk kognitif umum
yang telah dibentuk ketika berusia kurang lebih dua tahun.

Menurut Piaget (dikutip Chaer, 2003:179) ucapan holofrasis pertama


selalu menyampaikan pola-pola pada umumnya mengacu kepada anak-anak itu
sendiri. Umpamanya, kalau seorang anak-anak usia 1,5 tahun mengucapkan kata
“Panana” (grand papa) jika dia menginginkan seseorang melakukan sesuatu
terhadap dirinya seperti yang biasa dilakukan kakeknya. Sesudah tahap ini barulah
ucapan-ucapan yang didasarkan pada aksi ini diperluas dengan uraian mengenai
peristiwa-peristiwa atau sifat-sifat benda lain.
Berdasarkan pandangan Piaget di atas, Zwart (dikutip Chaer, 2003:179)
mencoba merumuskan tahap-tahap pemerolehan bahasa anak-anak sebagai
berikut.
Pertama, anak-anak memilih satu gabungan bunyi pendek dari bunyi-bunyi
yang didengarnya untuk menyampaikan satu pola aksi.
Kedua, jika gabungan bunyi-bunyi pendek dipahami, maka anak-anak itu
memakai seri bunyi yang sama, tetapi dengan bentuk fonetik yang lebih dekat
dengan fonetik orang dewasa, untuk menyampaikan pola aksi yang sama, atau
apabila pola aksi yang sama dilakukan orang lain.pola aksi ini pada mulanya
selalu mempunyai hubungan dengan anak-anak itu, dan di dalam pola aksi itu
selalu terjalin unsur, yaitu agen, aksi, dan penderita.
Ketiga, setelah tahap kedua di atas muncullah fungsi-fungsi atta bahasa yang
pertama yaitu, subjek-predikat, dan objek-aksi, yang menghasilkan struktur:
Subjek - Verbal - Objek
Atau
Agen + Aksi + Penderita
15

Bisa dilihat dari penjelasan di atas bahwa hipotesis kesemestaan kognitif


dalam psikologi sama atau sejalan dengan hipotesis nurani mekanisme dalam
linguistik. Dewasa ini, seperti juga dalam linguistik, dalam kognitifisme 
perhatian juga lebih ditujukan pada masalah makna (sematik) serta peranannya
dalam pemerolehan bahasa. Piaget maupun Mc. Namara sama-sama berpendapat
bahwa kanak-kanak lebih dahulu mengembangkan proses-proses kognitif yang
bukan linguistik. Setelah itu barulah mereka memperoleh lambang-lambang
linguistik. Jadi, pemerolehan bahasa tergantung pada pemerolehan proses-proses
kognitif itu.

Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah,
melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari
kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus
berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam
kognisi. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan
perkembangan bahasa (Chaer, 2003:223). Hal ini tentu saja berbeda dengan
pendapat Chomsky yang menyatakan bahwa mekanisme umum dari
perkembangan kognitif tidak dapat menjelaskan struktur bahasa yang kompleks,
abstrak, dan khas. Begitu juga dengan lingkungan berbahasa. Bahasa harus
diperoleh secara alamiah.

Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus dicapai adalah


perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk
keterampilan berbahasa. Dari lahir sampai 18 bulan, bahasa dianggap belum ada.
Anak hanya memahami dunia melalui indranya. Anak hanya mengenal benda
yang dilihat secara langsung. Pada akhir usia satu tahun, anak sudah dapat
mengerti bahwa benda memiliki sifat permanen sehingga anak mulai
menggunakan simbol untuk mempresentasikan benda yang tidak hadir
dihadapannya. Simbol ini kemudian berkembang menjadi kata-kata awal yang
diucapkan anak.
16

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2000. Echa: Kisah Pemerolehan Bahasa Anak


Indonesia. Jakarta: Grasindo

Hasanah, Mamluatul. 2006. “Model Nativis Language Acquisition Device (Sebuah


Teori Pemerolehan Bahasa)”. http://www.jurnallingua.com/edisi-2006/5-
vol-1-no-1/33-model-nativis-language-acquisition-device-sebuah-teori-
pemerolehan-bahasa.html. (Diakses: 15 September 2012).

Safriandi. 2009.” Pemerolehan Bahasa


Pertama”.http://nahulinguistik.wordpress.com /2009/04/14/pemerolehan-
bahasa-pertama/. (Diakses: 15 September 2012).

Tarigan, Henry Guntur. 2009. Psikolinguistik. Bandung: Angkasa.

__________________. 2011. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung:


Angkasa.