Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu
dilakukan penanganan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan.
Untuk mengatasi masalah gizi diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang
cukup bagi ahli gizi dalam pelayanan gizi untuk masyarakat. Peningkatan gizi
di masyarakat memerlukan kebijakan dari setiap anggota masyarakat untuk
memperoleh makanan dalam jumlah yang cukup dan terjamin mutunya.
Masalah gizi utama di Indonesia yaitu Kurang Energi Protein (KEP),
Kurang Vitamin A (KVA), Anemia Gizi Besi (AGB) dan Gangguan Akibat
Kekurangan Yodium (GAKY). Salah satu masalah yang belum nampak
menunjukan titik terang keberhasilan penanggulangannya adalah masalah
kekurangan zat besi atau dikenal dengan anemia gizi besi. Anemia gizi besi
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang paling umum dijumpai pada
golongan rawan gizi yaitu ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, anak sekolah,
pekerja atau buruh yang berpenghasilan rendah.
Masalah gizi pada ibu hamil yang paling umum yaitu Kurang Energi
Protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), dan anemia gizi. Di Indonesia
tahun 2001 prevalensi anemia pada ibu hamil yaitu 40% dan prevalensi
Kurang Energi Kronik (KEK) yaitu 41% (Depkes, 2003).
B. Rumusan Masalah
Bagaimana konsep manajemen nutrisi pada ibu hamil yang mengalami
kekurangan zat besi?
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengetahui konsep manajemen nutrisi pada ibu hamil yang
mengalami kekurangan zat besi.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui apa pengertian nutrisi dan manajemen nutrisi.
b. Untuk mengetahui jenis-jenis nutrisi.

1
c. Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi selama kehamilan.
d. Untuk mengetahui status gizi ibu hamil.
e. Untuk mengetahui apa saja masalah yang berkaitan dengan nutrisi
selama kehamilan.
f. Untuk mengetahui penatalaksanaan ibu hamil yang mengalami
kekurangan zat besi.
g. Untuk mengetahui bagaimana pengkajian asuhan manajemen nutrisi
kehamilan pada ibu hamil yang mengalami kekurangan zat besi.
h. Untuk mengetahui apa saja diagnosa keperawatan pada ibu hamil
yang mengalami kekurangan zat besi.
i. Untuk mengetahui intervensi keperawatan pada ibu hamil yang
mengalami kekurangan zat besi.

2
BAB II
KONSEP NUTRISI KEHAMILAN

A. Pengertian
1. Pengertian Nutrisi
Nutrisi adalah ikatan kimia yang yang diperlukan tubuh untuk
melakukan fungsinya yaitu energi, membangun dan memelihara jaringan,
serta mengatur proses-proses kehidupan (Soenarjo, 2000).
Nutrisi dengan gizi seimbang bagi ibu hamil adalah keadaan
keseimbangan antara zat gizi yang diperlukan oleh ibu hamil untuk
kesehatan ibu dan pertumbuhan dan perkembangan janinnya yang dapat
dipenuhi oleh asupan zat gizi dari aneka ragam makanan.
Pada dasarnya pemenuhan kebutuhan nutrisi pada ibu hamil dan
menyusui khususnya banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti faktor
sosial, psikologis, ekonomi, pengetahuan, mitos, kebudayaan, dan
keyakinan serta khusus individual.
Zat makanan sangat penting bagi ibu hamil karena berfungsi untuk
perkembangan dan pertumbuhan janin. Oleh karena itu, kebutuhan akan
zat makanan harus selalu terpenuhi di dalam tubuh ibu hamil karena janin
memerlukan gizi untuk perkembangannya.
Jadi Nutrisi ibu hamil adalah zat-zat yang dibutuhkan ibu hamil untuk
memenuhi kebutuhan ibu dan janin yang berfungsi sebagai pertumbuhan
dan perkembangan pada ibu dan janin.
2. Pengertian Manajemen Nutrisi
Manajemen nutrisi adalah pengelolaan makanan dan cairan untuk
mendukung proses metabolisme pada pasien yang mengalami malnutrisi
atau tingginya resiko mendapatkan malnutrisi.
Tujuan dari manajemen nutrisi adalah untuk mengetahui asupan gizi
seimbang selama kehamilan, mengetahui asupan makanan selama
kehamilan, mengetahui asupan cairan selama kehamilan, memonitor
jumlah keutuhan nutrisi selama kehamilan, dan mencegah resiko
kekurangan dan kelebihan asupan selama kehamilan.

3
B. Jenis-Jenis Nutrisi
Ada dua jenis nutrisi, yaitu:
1. Makronutrisi
Nutrisi ini biasanya dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang besar
karena sebagai sumber energi. Makronutrisi dapat diklasifikasikan
menjadi tiga senyawa, yaitu:
a. Karbohidrat
Karbohidrat dihasilkan dari sintesis CO2 dan H2O dengan
bantuan sinar matahari dan zat hijau daun (klorofil) melalui
fotosintesis. Karbohidrat merupakan sumber kalori bagi organisme
heterotrof (makhluk hidup yang tidak dapat membuat makanan
sendiri). Karbohidrat dapat diperoleh dari nasi, jagung, gandum, ubi
jalar, ketela pohon, kentang dan sagu. Fungsi karbohidrat yaitu
sebagai sumber energi utama untuk beraktivitas.
b. Protein
Protein terdiri dari asam amino esensial (tidak dapat dibuat di
dalam tubuh) dan asam amino non esensial (dapat dibuat di dalam
tubuh). protein berfungsi sebagai zat pembangun dan pelindung
tubuh, serta dapat pula menyediakan energi. Kekurangan protein
dapat menyebabkan penyakit kwashiokor. Menurut sumbernya,
protein terbagi menjadi protein nabati yang berasal dari tumbuhan,
misalnya kacang-kacangan, padi-padian, dan sayuran. Dan protein
hewani yang diperoleh dari daging hewan.
c. Lemak
Berdasarkan sumbernya, lemak juga dibedakan menjadi lemak
nabati dan lemak hewani. Lemak nabati yang diperoleh dari kelapa,
kemiri, zaitun, kacang tanah dan buah alpukat. Sedangkan lemak
hewani diperoleh dari daging, keju, mentega, telur, ikan segar, susu,
dan minyak ikan. Lemak berfungsi sebagai penyedia energi
cadangan, pembawa zat-zat makanan yang esensial dan sebagai
pelindung organ-organ tubuh yang lunak, serta melindungi tubuh dari
suhu rendah.

4
2. Mikronutrisi
Mikronutrisi merupakan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh dalam
jumlah sedikit dan hanya berfungsi untuk mendukung metabolisme
tubuh.
a. Vitamin
Vitamin adalah senyawa organik kompleks yang esensial untuk
pertumbuhan dan fungsi biologis makhluk hidup. Banyak jenis
vitamin diperlukan selama kehamilan dalam jumlah tertentu
diantaranya :
1) Vitamin A untuk pertumbuhan janin yang dibutuhkan dalam
jumlah tertentu saja dan tidak berlebihan karena dapat berbahaya
bagi kesehatan janin. Sangat dianjurkan untuk mengonsumsi
vitamin A yang bersumber dari sayur dan buah-buahn seperti
mangga, tomat, wortel dan aprikot.
2) Vitamin B1 dan B2 serta niasin untuk proses metabolisme tubuh.
3) Vitamin B6 dan B12 untuk mengatur penggunaan protein.
4) Vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi selama hamil
atau mencegah anemia.
5) Vitamin D pada susu dan olahannya serta kacang-kacangan,
menopang pembentukan tulang, gigi, serta persendian janin.
6) Vitamin E untuk pembetukan sel-sel darah merah serta
melindungi lemak dari kerusakan.
b. Mineral dan Air
Mineral merupakan zat anorganik dan diperlukan oleh tubuh
untuk membantu berbagai aktivitas yang terjadi di dalam tubuh,
seperti kerja otot, peredaran darah, pembekuan darah, dan lain-lain.
C. Kebutuhan nutrisi selama kehamilan
Kebutuhan gizi pada masa kehamilan akan meningkat sebesar 15%
dibandingkan dengan kebutuhan wanita normal. Peningkatan gizi ini
dibutuhkan untuk pertumbuhan rahim (uterus), payudara (mammae), volume
darah, plasenta, air ketuban dan pertumbuhan janin. Makanan yang
dikonsumsi oleh ibu hamil akan digunakan untuk pertumbuhan janin sebesar

5
40% dan sisanya 60% digunakan untuk pertumbuhan ibunya. Untuk
memperoleh anak yang sehat, ibu hamil perlu memperhatikan makanan yang
dikonsumsi selama kehamilannya. Makanan yang dikonsumsi disesuaikan
dengan kebutuhan tubuh dan janin yang dikandungnya. Dalam keadaan hamil,
makanan yang dikonsumsi bukan untuk dirinya sendiri tetapi ada individu lain
yang ikut mengkonsumsi makanan yang dimakan.
Penambahan kebutuhan gizi selama hamil meliputi:
1. Energi
Menurut RISKESDAS 2007 Rerata nasional Konsumsi Energi per
Kapita per hari adalah 1.735,5 kkal.Kebutuhan kalori tiap trimester antara
lain:
a. Trimester I, kebutuhan kalori meningkat, minimal 2.000 kilo
kalori/hari.
b. Trimester II, kebutuhan kalori akan meningkat untuk kebutuhan ibu
yang meliputi penambahan volume darah, pertumbuhan
uterus,payudara dan lemak.
c. Trimester III, kebutuhan kalori akan meningkat untuk pertumbuhan
janin dan plasenta.
2. Protein
Kebutuhan protein pada trimester I hingga trimester II kurang dari 6
gram tiap harinya, sedangkan pada trimester III sekitar 10 gram tiap
harinya. Menurut Widyakarya Pangan dan Gizi VI (2004) menganjurkan
penambahan 17 gram tiap hari.
Protein digunakan untuk pembentukan jaringan baru baik plasenta
dan janin, pertumbuhan dan diferensiasi sel, pembentukan cadangan
darah dan persiapan masa menyusui.Kebutuhan protein bisa didapat dari
nabati maupun hewani. Sumber hewani seperti daging tak berlemak, ikan,
telur, susu. Sedangkan sumber nabati seperti tahu, tempe dan kacang-
kacangan

6
3. Lemak
Lemak merupakan sumber tenaga dan untuk pertumbuhan jaringan
plasenta. Selain itu, lemak disimpan untuk persiapan ibu sewaktu
menyusui. Kadar lemak akan meningkat pada kehamilan trimester III.
4. Karbohidrat
Sumber utama untuk tambahan kalori yang dibutuhkan selama
kehamilan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin adalah
karbohidrat. Jenis karbohidrat yang dianjurkan adalah karbohidrat
kompleks seperti roti, serelia, nasi dan pasta. Karbohidrat kompleks
mengandung vitamin dan mineral serta meningkatkan asupan serat untuk
mencegah terjadinya konstipasi.
5. Vitamin
Wanita hamil membutuhkan lebih banyak vitamin dibandingkan
wanita tidak hamil. Kebutuhan vitamin diperlukan untuk mendukung
pertumbuhan dan perkembangan janin serta proses diferensiasi sel.
seperti:
a. Asam folat
Asam folat merupakan vitamin B yang memegang peranan penting
dalam perkembangan embrio. Asam folat juga membantu mencegah
neural tube defect, yaitu cacat pada otak dan tulang belakang.
Kekurangan asam folat dapat menyebabkan kehamilan prematur,
anemia, cacat bawaan, bayi dengan berat bayi lahir rendah (BBLR), dan
pertumbuhan janin terganggu. Kebutuhan asam folat sekitar 600-800
miligram. Menurut Widyakarya Pangan dan Gizi VI 2004
menganjurkan mengkonsumsi asam folat sebesar 5 mg/kg/hr (200 mg).
Asam folat dapat didapatkan dari suplemen asam folat, sayuran
berwarna hijau, jeruk, buncis, kacang-kacangan dan roti gandum.
b. Vitamin A
Vitamin A mempunyai fungsi untuk penglihatan, imunitas,
pertumbuhan dan perkembangan embrio. Kekurangan vitamin A
menyebabkan kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Sumber
vitamin A antara lain: buah-buahan, sayuran warna hijau atau kuning,

7
mentega, susu, kuning telur dan lainnya.
c. Vitamin B
Vitamin B1, vitamin B2, niasin dan asam pantotenat yang
dibutuhkan untuk membantu proses metabolisme. Vitamin B6 dan B12
diperlukan untuk membentuk DNA dan sel-sel darah merah. Vitamin
B6 berperan dalam metabolisme asam amino.
d. Vitamin C
Vitamin C merupakan antioksidan yang melindungi jaringan dari
kerusakan dan dibutuhkan untuk membentuk kolagen serta
menghantarkan sinyal ke otak. Vitamin C juga membantu penyerapan
zat besi di dalam tubuh. Ibu hamil disarankan mengkonsumsi 85
miligram per hari. Sumber vitamin C didapat dari tomat, jeruk,
strawberry, jambu biji dan brokoli.
e. Vitamin D
Vitamin D berfungsi mencegah hipokalsemia, membantu
penyerapan kalsium dan fosfor, mineralisasi tulang dan gigi serta
mencegah osteomalacia pada ibu. Sumber vitamin D terdapat pada
susu, kuning telur dan dibuat sendiri oleh tubuh dengan bantuan sinar
matahari.
f. Vitamin E
Vitamin E berfungsi untuk pertumbuhan sel dan jaringan serta
integrasi sel darah merah. Selama kehamilan wanita hamil dianjurkan
mengkonsumsi 2 miligram per hari.
g. Vitamin K
Kekurangan vitamin K dapat mengakibatkan gangguan perdarahan
pada bayi. Pada umumnya kekurangan vitamin K jarang terjadi, karena
vitamin K terdapat pada banyak jenis makanan dan juga disintesis oleh
bakteri usus.
6. Mineral
Wanita hamil juga membutuhkan lebih banyak mineral dibandingkan
sebelum hamil. Kebutuhan mineral diperlukan untuk mendukung
pertumbuhan dan perkembangan janin serta proses diferensiasi sel.

8
Kebutuhan mineral antara lain:
a. Zat Besi
Kebutuhan zat besi akan meningkat 200-300 miligram dan selama
kehamilan yang dibutuhkan sekitar 1040 miligram. Zat besi dibutuhkan
untuk memproduksi hemoglobin, yaitu protein di sel darah merah yang
berperan membawa oksigen ke jaringan tubuh. Selain itu, zat besi
penting untuk pertumbuhan dan metabolism energi dan mengurangi
kejadian anemia. Defisiensi zat besi akan berakibat ibu hamil mudah
lelah dan rentan infeksi, resiko persalinan prematur dan berat badan
bayi lahir rendah. Untuk mencukupi kebutuhan zat besi, ibu hamil
dianjurkan mengkonsumsi 30 miligram tiap hari. Efek samping dari zat
besi adalah konstipasi dan nausea (mual muntah). Zat besi baik
dikonsumsi dengan vitamin C, dan tidak dianjurkan mengkonsumsi
bersama kopi, teh, dan susu. Sumber alami zat besi dapat ditemukan
pada daging merah, ikan, kerang, unggas, sereal, dan kacang-kacangan.
b. Zat Seng
Zat seng digunakan untuk pembentukan tulang selubung syaraf
tulang belakang. Resiko kekurangan seng menyebabkan kelahiran
prematur dan berat bayi lahir rendah. Kebutuhan seng pada ibu hamil
sekitar 20 miligram per hari. Sumber makanan yang mengandung seng
antara lain: kerang, daging, kacang-kacangan, sereal.
c. Kalsium
Ibu hamil membutuhkan kalsium untuk pembentukan tulang dan
gigi, membantu pembuluh darah berkontraksi dan berdilatasi, serta
mengantarkan sinyal syaraf, kontraksi otot dan sekresi hormon.
Kebutuhan kalsium ibu hamil sekitar 1000 miligram per hari. Sumber
kalsium didapat dari ikan teri, susu, keju, udang, sarden, sayuran hijau
dan yoghurt.
d. Yodium
Ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi yodium sekitar 200
miligram dalam bentuk garam beryodium. Kekurangan yodium dapat
menyebabkan hipotirodisme yang berkelanjutan menjadi kretinisme.

9
e. Fosfor
Fosfor berperan dalam pembentukan tulang dan gigi janin serta
kenaikan metabolisme kalsium ibu. Kekurangan fosfor akan
menyebabkan kram pada tungkai.
f. Fluor
Fluor diperlukan tubuh untuk pertumbuhan tulang dan gigi.
Kekurangan fluor menyebabkan pembentukan gigi tidak sempurna.
Fluor terdapat dalam air minum.
g. Natrium
Natrium berperan dalam metabolisme air dan bersifat mengikat
cairan dalam jaringan sehingga mempengaruhi keseimbnagan cairan
tubuh pada ibu hamil. Kebutuhan natrium meningkat seiring dengan
meningkatnya kerja ginjal. Kebutuhan natrium ibu hamil sekitar 3,3
gram per minggu.
Daftar Angka Kecukupan Gizi (AKG) Per orang/hari yang
dianjurkan
o
N
t
a
Z
t
u
b
e
K
t
u
b
e
K
r
e
b
m
u
S
1
rg
ne
E

00
25

0
30
+
an
di
pa
-
di
Pa
9
t
i
V

0
2

0
2

+
d

h
a
u
B

Sumber: Widyakarya Pangan dan Gizi VIII.

Untuk perkembangan janin yang optimal, penuhilan kebutuhan gizi ibu


disetiap trimester kehamilan dengan pola makan yang bervariasi dan
seimbang.

10
D. Status gizi ibu hamil
1. Status gizi ibu hamil
Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi
untuk ibu hamil. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan
yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan
nutrient. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil, yaitu::
a. Faktor Langsung
Gizi secara langsung dipengaruhi oleh asupan makanan dan penyakit,
khususnya penyakit infeksi .
Faktor-faktor tersebut meliputi :
1)Keterbatasan ekonomi, yang berarti tidak mampu membeli bahan
makanan yang berkualitas baik, sehingga mengganggu pemenuhan
gizi.
2)Produk pangan, dimana jenis dan jumlah makanan di Negara tertentu
atau daerah tertentu biasanya berkembang dari pangan setempat
untuk jangka waktu yang panjang sehingga menjadi sebuah kebiasaan
turun-temurun.
3)Sanitasi makanan (penyiapan, penyajian, penyimpanan) hendaknya
jangan sampai membuat kadar gizi yang terkandung dalam bahan
makanan menjadi tercemar atau tidak higienis dan mengandung
kuman penyakit.
4)Pembagian makanan dan pangan masyarakat Indonesia umumnya

11
masih dipengaruhi oleh adat atau tradisi. Misalnya, masih ada
kepercayaan bahwa ayah adalah orang yang harus diutamakan dalam
segala hal termasuk pembagian makanan keluarga.
5)Pengetahuan gizi yang kurang, prasangka buruk pada bahan makanan
tertentu, salah persepsi tentang kebutuhan dan nilai gizi suatu
makanan dapat mempengaruhi status gizi seseorang.
6)Pemenuhan makanan berdasarkan pada makanan kesukaan saja akan
berakibat pemenuhan gizi menurun atau berlebih.
7)Pantangan pada makanan tertentu, sehubungan dengan makanan yang
dipandang pantas atau tidak untuk dimakan. Tahayul dan larangan
yang beragam didasarkan pada kebudayaan daerah yang berlainan.
Misalnya, ada sebagian masyarakat yang masih percaya ibu hamil
tidak boleh makan ikan.
8)Selera makan juga akan mempengaruhi dalam pemenuhan kebutuhan
gizi. Selera makan dipicu oleh sistem tubuh (missal dalam keadaan
lapar) atau pun dipicu oleh pengolahan serta penyajian makanan.
9)Suplemen Makanan Ada beberapa suplemen makanan yang biasanya
diberikan untuk ibu hamil, antara lain:
a) Tablet Tambah Darah (TTD) yang mengandung zat besi (Fe)
yang dapat membantu pembentukan sel darah merah yang
berfungsi sebagai pengangkut oksigen dan zat nutrisi makanan
bagi ibu dan janin. TTD mengandung 200 mg ferrosulfat yang
setara dengan 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat.
Tablet Tambah Darah diminum satu tablet tiap hari di malam hari
selama 90 hari berturut-turut, karena pada sebagian ibu yang
hamil merasakan mual, muntah, nyeri pada lambung, diare, dan
susah buang air besar. Usaha lain untuk menambah asupan zat
besi adalah daging segar, ikan, telur, kacangkacangan, dan
sayuran segar yang berwarna hijau tua.
b) Kalsium merupakan zat yang dibutuhkan untuk perkembangan
tulang dan gigi bayi, jika asupan kalsium kurang maka kebutuhan
kalsiun diambil dari tulang ibu. Kebutuhan akan kalsium bagi ibu

12
hamil adalah 950 mg tiap harinya. Asupan Kalsium bisa didapat
dari minum susu, ikan, udang, rumput laut, keju, yoghurt, sereal,
jus jeruk, ikan sarden, kacangkacangan, biji-bijian, dan sayur
yang berwarna hijau gelap.
c) Vitamin juga diperlukan untuk menjaga kesehatan ibu yang
hamil. Beberapa vitamin ibu hamil yang dibutuhkan adalah
vitamin C (80 mg) yang berfungsi untuk membantu penyerapan
zat besi, vitamin A (6000 IU), vitamin D (4 mcg). Vitamin ini
dapat diperoleh dari cabe merah, mangga, pepaya, wortel, ubi,
aprikot, dan tomat.

b. Faktor Tidak Langsung


1) Pendidikan keluarga
Faktor pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan menyerap
pengetahuan tentang gizi yang diperolehnya melalui berbagai
informasi.
2) Faktor budaya
Masih ada kepercayaan untuk melarang memakan makanan
tertentu yang jika dipandang dari segi gizi, sebenarnya sangat baik
bagi ibu hamil.
3) Faktor fasilitas kesehatan
Fasilitas kesehatan sangat penting untuk menyokong status
kesehatan dan gizi ibu hamil, dimana sebagai tempat masyarakat
memperoleh informasi tentang gizi dan informasi kesehatan lainnya,
bukan hanya dari segi kuratif, tetapi juga preventif dan rehabilitatif.
2. Penilaian Status Gizi Ibu Hamil
Penilaian status gizi merupakan proses pemeriksaan keadaan gizi
seseorang dengan cara mengumpulkan data penting baik yang bersifat
subjektif maupun yang bersifat objektif. Status gizi janin ditentukan antara
status gizi ibu sebelum dan selama dalam kehamilan dan keadaan ini
dipengaruhi oleh status gizi ibu sewaktu konsepsi dipengaruhi oleh keadaan
sosial ekonomi, keadaan kesehatan dan gizi ibu, paritas dan jarak kehamilan
jika yang dikandung bukan anak yang pertama. Penilaian Status Gizi Ibu

13
Hamil meliputi:
a. Berat Badan
Berat badan sebelum hamil dan perubahan berat badan selama
kehamilan berlangsung merupakan parameter klinik yang penting untuk
memprediksikan berat badan bayi lahir rendah. Wanita dengan berat
badan rendah sebelum hamil atau kenaikan berat badan rendah sebelum
hamil atau kenaikan berat badan tidak cukup banyak pada saat hamil
cenderung melahirkan bayi BBLR. Kenaikan berat badan selama
kehamilan sangat mempengaruhi massa pertumbuhan janin dalam
kandungan. Pada ibu-ibu hamil yang status gizi jelek sebelum hamil maka
kenaikan berat badan pada saat hamil akan berpengaruh terhadap berat
bayi lahir. Kenaikan tersebut meliputi kenaikan komponen janin yaitu
pertumbuhan janin, plasenta dan cairan amnion 1. Pertambahan berat
badan ini juga sekaligus bertujuan memantau pertumbuhan janin. Pada
akhir kehamilan kenaikan berat hendaknya 12,5-18 kg untuk ibu yang
kurus. Sementara untuk yang memiliki berat ideal cukup 10-12 kg
sedangkan untuk ibu yang tergolong gemuk cukup naik < 10 kg .
Sebelum kehamilan, pasien memiliki berat badan 64 kg dan tinggi
badan 157 cm dengan indeks massa tubuh 26,01 kg/m 2. Berdasarkan data
tersebut, disimpulkan pasien memiliki berat badan berlebih. Saat hamil,
pasien awalnya pasien memiliki berat badan 65 kg (pada kehamilan 6
minggu), kemudian turun menjadi 63 kg (pada kehamilan 8 minggu).
indeks massa tubuh pada kehamilan 8 minggu 25.6 kg/m2 yang
disimpulkan sebagai berat badan berlebih. Selama kehamilan, pasien
mengaku jarang makan dikarenakan setiap pasien makan selalu
dimuntahkan. Dalam 1 minggu terakhir, pasien baru hanya memakan roti.
Pada pasien ini IMT 26,01 kg/m rekomendasi penambahan berat padan
seperti pada wanita hamil seperti pada pasien ini 7-11,5 Kg. Hal ini
dikarenakan pada kasus ini memiliki indeks massa tubuh yang berlebih.
Penambahan berat badan selama kehamilan secara fisiologis dapat
dilihat pada table berikut ini.

14
b. Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin (Hb) adalah komponen darah yang bertugas
mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Untuk
level normalnya untuk wanita sekitar 12-16 gram per 100 ml sedang
untuk pria sekitar 14-18 gram per 100 ml. Pengukuran Hb pada saat
kehamilan biasanya menunjukkan penurunan jumlah kadar Hb.
Hemoglobin merupakan parameter yang digunakan untuk menetapkan
prevalensi anemia. Anemia merupakan masalah kesehatan yang paling
banyak ditemukan pada ibu hamil. Kurang lebih 50% ibu hamil di
Indonesia menderita anemia. Anemia merupakan salah satu status gizi
yang berpengaruh terhadap BBLR. Pengukuran kadar haemoglobin
dilakukan sebelum usia kehamilan 20 minggu dan pada kehamilan 28
minggu. Pada pasien ini tidak dapat dilakukan pemeriksaan darah rutin
sehingga nilai Hb tidak dapat diketahui. Namun dari hasil pemeriksaan
fisik konjungtiva palpebral tidak terlihat pucat.
c. Lingkar Lengan Atas (LILA)
1) Pengertian
Pengukurann LILA adalah suatu cara untuk mengetahui risiko
kekurangan energi protein (KEP) wanita usia subur (WUS).
Pengukuran LILA tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan
status gizi dalam jangka pendek. Pengukuran LILA digunakan karena

15
pengukurannya sangat mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja.
2) Tujuan
Beberapa tujuan pengukuran LILA adalah mencakup masalah
WUS baik ibu hamil maupun calon ibu, masyarakat umum dan peran
petugas lintas sektoral. Adapun tujuan tersebut adalah:
a) Mengetahui risiko KEK WUS, baik ibu hamil maupun calon ibu,
untuk menapis wanita yang mempunyai risiko melahirkan bayi
berat lahir rendah (BBLR).
b) Meningkatkan perhatian dan kesadaran masyarakat agar lebih
berperan dalam pencegahan dan penanggulangan KEK.
c) Mengembangkan gagasan baru di kalangan masyarakat dengan
tujuan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak.
d) Meningkatkan peran petugas lintas sektoral dalam upaya
perbaikan gizi WUS yang menderita KEK.
e) Mengarahkan pelayanan kesehatan pada kelompok sasaran WUS
yang menderita KEK.
3) Ambang Batas
Ambang Batas LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia
adalah 23,5 cm atau di bagian merah pita LILA, artinya wanita
tersebut mempunyai risiko KEK dan diperkirakan akan melahirkan
berat bayi lahir rendah (BBLR). BBLR mempunyai risiko kematian,
gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan
anak. Pada pasien ini didapatkan nilai LILA 33 cm. Hal ini
menggambarkan jauh dari ambang terendah 23,5 cm.
4) Cara pengukuran LILA
Pengukuran LILA dilakukan melalui urut-urutan yang telah
ditetapkan. Ada 7 urutan pengukuran LILA, Yaitu:
a) Tetapkan posisi bahu dan siku
b) Letakkan pita antara bahu dan siku
c) Tentukan titik tengah lengan
d) Lingkarkan pita LILA pada tengah lengan
e) Pita jangan terlalu ketat

16
f) Pita jangan terlalu longgar
g) Cara pembacaan skala harus benar
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran LILA adalah
pengukuran dilakukan di bagian tengah antara bahu dan siku lengan
kiri (kecuali orang kidal kita ukur lengan kanan). Lengan harus dalam
posisi bebas, lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang
dan kencang. Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak
kusut atau sudah dilipat-lipat sehingga permukaanya sudah tidak rata.
d. Relative Body Weight (RBW)
RBW merupakan standart penilaian kecukupan kalori (energi)
secara tidak langsung. Energi dapat didefinisikan sebagai kemampuan
untuk melakukan pekerjaan, tubuh memperoleh energy dari makanan
yang dimakan, dan energi dalam makanan ini terdapat sebagai energi
kimia yang dapat diubah menjadi energi bentuk lain. Bentuk energi
yang berkaitan dengan proses-proses biologi adalah energi kimia,
energi mekanis, energi panas dan energi listrik. Penentuan kebutuhan
kecukupan energi dengan teori RBW adalah: BB = Berat badan (Kg);
TB = Tinggi badan (Cm); dengan ketentuan:

RBW = BB x 100%
(TB-100)

1) Kurus, jika RBW < 90 %


2) Normal, jika RBW = 90-100 %
3) Gemuk, jika RBW >110 % atau -<120 %
4) Obesitas ringan, RBW 120-130 %
5) Oesitas sedang, RBW > 130-140 %
6) Obesitas berat, RBW > 140 %

Kebutuhan kalori (energi) perhari


1) Orang kurus, BB x 40-60 kalori
2) Orang normal, BB x 30 kalori

17
3) Orang gemuk, BB x 20 kalori
4) Orang Obesitas, BB x (10 x15) kalori

Kalori untuk ibu hamil ditambah 100 kalori (tri semester


I),ditambah 200 kalori (tri semester II), ditambah 300 kalori (tri
semester III). Pada pasien ini didapatkan hasil berat badan relative
adalah 110%. Ini berarti pasien merupakan pasien yang gemuk.
Kebutuhan kalori pada pasien ini adalah 1260 kalori.
3. Pertunbuhan berat badan
Kenaikan berat badan rata–rata selama kehamilan adalah 9 – 13,5 kg.
Kenaikan bervariasi pada masing-masing wanita dan bergantung pada
faktor besar bayi, keadaan plasenta, cairan amnion, penambahan sirkulasi
darah, penambahan jaringan cadangan ibu baik dalam bentuk protein
maupun lemak, untuk keperluan melahirkan maupun menyusui.
Penambahan berat badan per trimester lebih penting daripada
penambahan berat badan keseluruhan. Pada trimester pertama kenaikan
hanya sedikit antara 0,7 – 1,4 kg. Pada trimester selanjutnya akan terjadi
kenaikan berat badan yang dikatakan teratur yaitu 0,35 – 0,4 kg per
minggu.
E. Masalah-masalah yang berkaitan dengan nutrisi selama kehamilan
1. Kekurangan Energi Kronis (KEK)
Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana ibu
menderita keadaan kekurangan makanan yang berlangsung menahun
(kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu
(Depkes RI, 2002). KEK merupakan gambaran status gizi ibu di masa
lalu yaitu kekurangan gizi kronis pada masa anak-anak baik disertai sakit
yang berulang ataupun tidak. Kondisi tersebut akan menyebabkan bentuk
tubuh yang pendek (stunting) atau kurus (wasting) pada saat dewasa
(Soetjiningsih, 2009).
Status KEK pada Wanita Usia Subur (WUS) ditentukan
menggunakan Lingkar Lengan Atas atau disebut LILA. Pengukuran
LILA pada kelompok WUS adalah salah satu cara deteksi dini yang

18
mudah dilakukan masyarakat. WUS yang berisiko KEK di Indonesia jika
hasil pengukuran LILA kurang dari atau sama dengan 23,5 cm. Apabila
hasil pengukuran lebih dari 23,5 cm makaWUS tersebut tidak beresiko
menderita KEK (Supariasa, dkk., 2001).
Ukuran LILA menggambarkan keadaan konsumsi makan terutama
konsumsi energi dan protein dalam jangka panjang. Kekurangan energi
secara kronis menyebabkan ibu hamil tidak mempunyai cadangan zat gizi
yang adekuat untuk menyediakan kebutuhan ibu dan janin karena ada
perubahan hormon dan meningkatnya volume darah untuk pertumbuhan
janin. Sebagai akibatnya, suplai zat gizi pada janin berkurang sehingga
pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat. Selanjutnya akan lahir
bayi dengan berat yang rendah (Depkes RI, 1996).
Akibat lain dari KEK adalah kerusakan struktur susunan syaraf pusat
terutama pada tahap pertama pertumbuhan otak (hiperplasia) yang terjadi
selama dalam kandungan. Masa rawan pertumbuhan sel-sel saraf terjadi
pada trimester 3 kehamilan sampai sekitar 2 tahun setelah lahir.
Kekurangan gizi pada masa dini perkembangan otak akan menghentikan
sintesis protein dan DNA yang dapat mengganggu pertumbuhan otak
terganggu sehingga sel-sel otak yang berukuran normal lebih sedikit.
Dampaknya akan terlihat pada struktur dan fungsi otak di masa
mendatang yang berpengaruh pada intelektual anak (Soetjiningsih, 2009).
Menurut Arisman (2007) beberapa penyebab yang mempengaruhi
terjadinya gizi kurang adalah kurangnya asupan makanan dan penyakit
infeksi. Ibu hamil yang asupan makanannya cukup tetapi menderita sakit
akan mengalami gizi kurang. Adapun ibu hamil yang asupan makanannya
kurang maka daya tahan tubuh akan melemah dan akan mudah terserang
penyakit. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya KEK pada ibu hamil
adalah tingkat pendidikan yang rendah, pengetahuan ibu tentang gizi
yang kurang, pendapatan keluarga yang tidak memadai, usia ibu yang
kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, serta jarak kelahiran yang
terlalu dekat.
2. Anemia

19
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar
hemoglobin (Hb) < 11 gr% pada trimester I dan III sedangkan pada
trimester II kadar hemoglobin < 10,5 gr%. Anemia selama kehamilan
memerlukan perhatian serius karena berpotensi membahayakan ibu dan
anak (Manuaba, 2009).
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menyebutkan anemia
pada kehamilan umumnya bersifat fisiologis. Anemia merupakan
keadaan ketika jumlah sel darah merah atau konsentrasi pengangkut
oksigen dalam darah (Hb) tidak mencukupi untuk kebutuhan fisiologis
tubuh. Wanita hamil rentan mengalami anemia defisiensi besi karena
kebutuhan oksigen pada ibu hamil lebih tinggi sehingga memicu
peningkatan produksi eritopoitin. Volume plasma bertambah dan sel
darah merah meningkat. Peningkatan volume plasma lebih besar dari
peningkatan eritrosit sehingga menyebabkan penurunan konsentrasi
hemoglobin (Rai, dkk, 2016).
Anemia selama kehamilan dapat berakibat fatal, memiliki efek
negatif pada kapasitas kerja, motorik dan perkembangan mental pada
bayi, anak-anak, dan remaja. Pada ibu hamil, anemia dapat menyebabkan
berat lahir rendah, kelahiran prematur, keguguran, partus lama, atonia
uteri dan menyebabkan perdarahan serta syok (Rai, dkk, 2016).
Almatsier (2004) menyebutkan bahwa anemia gizi di Indonesia pada
umumnya disebabkan anemia kurang besi. Penyebab utama anemia
kurang besi adalah makanan yang dikonsumsi kurang mengandung zat
besi terutama dalam bentuk besi-hem. Faktor sosial ekonomi berpengaruh
terhadap terjadinya anemia.
3. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) adalah setiap
kelainan yang ditemukan akibat defisiensi yodium (Bachtiar, 2009).
Yodium merupakan salah satu mineral yang diperlukan tubuh dalam
jumlah kecil tetapi mempunyai fungsi penting untuk kehidupan. Yodium
yang ada di kelenjar tiroid digunakan untuk mensintesis hormon tiroksin,
tetraiodotironin (T4), dan triiodotironin (T3). Hormon tersebut diperlukan

20
untuk pertumbuhan normal, perkembangan fisik, dan mental manusia
(Almatsier, 2004).
Salah satu cara untuk mengelompokkan GAKY adalah dengan
pengukuran median Urinary Iodine Excretion (UIE) atau kadar yodium
dalam urin. Hampir semua zat yodium yang masuk ke dalam tubuh
melalui makanan akhirnya dibuang melalui urin. Pedoman hasil
pemeriksaan UIE pada ibu hamil pada Tabel 2.

GAKY memberikan dampak negatif terhadap kualitas sumber daya


manusia, baik fisik, mental, maupun kecerdasan. GAKY tidak hanya
menyebabkan pembesaran kelenjar gondok tetapi juga menimbulkan
gangguan lain. Kekurangan yodium pada ibu hamil menyebabkan
abortus, lahir mati, kelainan bawaan pada bayi, meningkatnya angka
kematian perinatal dan melahirkan bayi kretin (Supariasa, dkk. 2001).
Perkembangan otak terjadi dengan pesat pada janin dan anak sampai
usia 2 tahun. Karena itu ibu hamil penderita GAKY meskipun masih
pada tahap ringan dapat berdampak buruk pada perkembangan
kecerdasan anak. Kekurangan yodium banyak terjadi di daerah
pegunungan karena tanahnya kurang mengandung yodium.

F. Penatalaksanaan
1. Perbanyak konsumsi zat besi
Penderita anemia zat besi dianjurkan untuk memperbanyak
mengonsumsi makanan yang kaya akan zat besi agar kadar zat besi dalam
tubuh kembali normal:
a. Daging merah, ayam, dan hati ayam

21
b. Makanan laut, seperti tiram, kerang, dan ikan.
c. Sayuran hijau, misalnya bayam dan brokoli.
d. Kacang-kacangan, contohnya kacang hijau, kacang merah.
2. Mengonsumsi suplemen zat besi
Dosis yang dianjurkan adalah 150-200 miligram setiap hari.
Sebaiknya minum suplemen ini dalam keadaan perut masih kosong,
namun apabila memiliki riwayat penyakit maag minumnya setelah
makan. Selain itu, konsumsilah suplemen ini dengan makanan atau
minuman yang kaya akan vitamin C agar zat besi bisa terserap lebih baik.
3. Transfusi sel darah merah
Bila suplemen penambah zat besi tidak mempan mengurangi gejala
yang dialami penderita dengan cepat, maka cara penanganan yang bisa
dilakukan adalah dengan melakukan transfusi sel darah merah.

22