Anda di halaman 1dari 21

Keadilan kolektif sahabat

Oleh:Abdul Basit,S.P.d.I

I. Pendahuluan

Para sahabat Nabi Muhammad saw adalah orang yang terdekat dengan Nabi saw, mereka
pengikut Nabi dan selalu membela beliau dalam segala situasi dan kondisi. Mereka ini
merupakan generasi awal yang beriman kepada ajaran Nabi saw dan yang menerima ajaran
Islam (hadis-hadis Nabi) secara langsung. Mereka ini sangat taat kepada Nabi saw sehingga
tak mungkin mereka itu berani berkhianat dan berbohong dengan sengaja dalam
meriwayatkan hadis Nabi. Mereka pada umumnya bersifat ‘adil, tsiqah dan dhabit. Akan
tetapi karena para sahabat Nabi itu adalah manusia biasa dan meraka banyak sekali, mereka
datang dari berbagai macam penjuru daerah Mekkah dan Madinah, bahkan dari luar dua
daerah tersebut. Mereka juga berasal dari qabilah atau suku yang berlainan, status social yang
beragam. . Karena ke- heterogen-nya, karakter dan sifat para sahabat juga tak sama.
Sehingga tak mustahil diantara mereka ada yang tidak ‘adil, dhabit dan tsiqah,. Dalam
sejarah terdapat dari mereka yang munafik dan fasik, sehingga periwayatan hadis dari mereka
ditolak. Bertolak dari perspektif diatas kita tentu bertanya, bagaimana konsep yang
menyatakan bahwa al-shabatu kulluhum ‘udulun dalam ilmu hadis ?.

II. Sahabat

1. Pengertian sahabat

Kata sahabat diambil dari “shuhbah” yaitu yang menemani, yang empunya,yang
menyertai, orang yang mengikuti atau menemani orang lain baik sebentar atau dalam
waktu yang lama.

Berkaitan dengan sahabat Nabi, beragam pandangan muncul mengenai siapa yang
layak untuk disebut sahabat.

Banyak pendapat ulama dalam kaitan pengertian sahabat, diantara mereka adalah;

a. Al-Bukhari berpendapat bahwa sahabat adalah orang muslim yang berteman atau
bersahabat atau bertemu dengan Nabi saw.

b. Ahmad bin Hanbal berkata; orang yang bertemu Nabi saw sebentar, sehari, sebulan
atau setahun termasuk golongan sahabat.

c. Ibnu Shalah, menurut beliau; yang disebut sahabat yaitu orang yang menerima hadis
atau ajaran dari Nabi saw.

d. Said bin Musayyab berujar; sahabat ialah orang yang hidup dimasa Nabi setahun atau
dua tahun dan ikut serta berperang bersama Nabi saw.
e. Al-Waqidi menggolongkan sahabat yaitu setiap orang yang bertemu dengan Nabi saw
dan telah berakal, beriman serta menerima ajaran beliau dengan akalnya.

f. Ibn al-Jawzi mengatakan bahwa; pada umumnya ulama tidak sependapat dengan Ibn
Musayyab, menurut mereka; Jarir ibn Abdillah al-Bajali dimasukkan dalam golongan
sahabat sekalipun dia masuk Islam pada tahun ke-10 H. Begitu juga bagi mereka yang
masih kecil pada saat Rasulullah saw wafat, seperti Abdullah ibn Abbas, Hasan,
Husein , Ibn Zubair dan lainnya, atau orang yang tidak ikut dalam peperangan bahkan
yang tidak satu majlis atau tidak pernah berbicara dengan beliau, namun pernah
bertemu dengan Nabi saw , mereka semua dikategorikan sebagai sahabat Nabi
Muhammad saw.

g. Jumhur ulama sepakat, sebagaimana yang dikatakan Ibn Hajar bahwa; sahabat adalah
orang yang bertemu Nabi saw serta beriman dengan beliau, dan meninggal dalam
Islam. Termasuk sahabat orang yang bertemu Nabi saw dalam satu majlis atau duduk
bersama beliau lama atau sebentar, meriwayatkan hadis atau tidak, ikut beserta Nabi
dalam peperangan atau tidak pernah , melihat beliau, namun tidak duduk bersama
beliau serta tidak melihat beliau karena sesuatu penyakit seperti buta.

2. Cara mengetahui sahabat

Adapun cara untuk mengetahui bahwa seseorang itu adalah sahabat, ialah dengan
kreteria sebagai berikut:

1. Adanya khabar mutawatir yang menyatakan, bahwa orang itu adalah sahabat.

Contoh: Khulafau’ur Rasyidin.

2. Adanya khabar masyhur, tetapi belum pada tingkat mutawatir yang menyatakan bahwa
orang itu sahabat.

Contoh: Dlamam Ibn Tsa’labah dan Ukasyah Ibn Muhassin.

3. Diakui oleh sahabat yang terkenal kesahabatannya.

Contoh: Hamamah ibn Abi Hamamah al-Dausy yang diakui oleh Abu Musa al-Asy’ary
bahwa dia termasuk sahabat.

4. Pengakuan sendiri dari orang yang ‘adil bahwa dia adalah sahabat
5. Sahabat yang didapat dari keterangan tabi’in yang terpercaya.

3. Mukhadlramun

Mukhadlramun ialah orang yang mengalami hidup pada zaman jahiliyah dan hidup pada
masa Nabi saw dalam keadaan Islam, tetapi tidak sempat bertemu atau melihat Nabi saw.
Menurut Prof.Hasbi ash-Shidiqy, mereka yang demikian itu dimasukkan dalam kategori “
Mukhadlramin”, sebab tidak diketahui dimasukkan kegolongan mana. Mereka bukan sahabat
bukan juga tabi’in.

Sedangkan Ibnu Hajar memasukkan mereka dalam golongan “tabi’in besar”, seperti
Amru ibn Maimun, Aswad ibn Yasid An-Nakha’i, Su’aid bin Ghaflah, Abu ‘Amr al-
Syaibany, Al-Ahnaf ibn Qais dan lain-lain.

Menurut Imam Muslim jumlah mereka ada 20 orang , al-Iraqy mengatakan mereka
berjumlah 42 orang, sedangkan Ibnu Hajar berpendapat mereka lebih dari itu.

4. Jumlah sahabat

Menurut Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib sangat sulit mengetahui jumlah sahabat secara
pasti, karena mereka tinggal di berbagai kawasan daerah yang luas. Para ulama hanya bisa
memperkirakan jumlah mereka. Dalam haji wada’ jumlah sahabat yang ikut serta kurang
lebih 90.000 orang. jumlah mereka menjadi 114.000 sahabat ketika Nabi saw wafat. Menurut
Ibn Sa’ad jumlah sahabat sekitar 30.000 orang, sementara itu Ibn Hajar berpendapat jumlah
sahabat sekitar 100.000 orang.

5. Tingkatan sahabat

Para sahabat adalah orang yang bertemu, bersahabat, bergaul dengan beliau. Mereka
tentu saja menempati tempat yang terhormat di sisi Allah dan Nabi saw, bagaiamana tidak?.
Merekalah yang membantu Nabi saw dalam segala urusan, mereka menyertai Nabi dalam
suka dan duka. Mereka mengorbankan harta, tenaga bahkan nyawa demi dakwah dan
penyebaran agama Islam. Ada diantara mereka yang selalu disisi Nabi saw pada waktu siang
dan malam, susah senang, pada saat beliau puasa dan berbuka, dalam keadaan berperang atau
dalam situasi normal dan sebagainya.

Ulama sepakat bahwa ada tingkatan sahabat, walaupun mereka berbeda berapa tingkatan
mereka. Menurut Ibn Sa’ad ada lima tingkatan sahabat, sedangkan Al-Hakim berpendapat
ada 12 tingkatan sahabat dan pendapat ini yang masyhur.

Adapun 12 tingkatan sahabat tersebut adalah;

1. Kelompok yang terdahulu dalam berislam di Makkah, seperti Abu Bakar, Umar, Ustman
dan Ali ra.
2. Sahabat yang berislam sebelum adanya musyawarah ahlu Makkah di Dar al-Nadwah.
3. Sahabat yang berhijrah ke Habasyah.
4. Sahabat yang ikut bay’at ‘aqabah yang pertama.
5. Sahabat yang ikut bay’at ‘aqabah kedua.
6. Orang yang ikut hijrah ke Madinah
7. Ahlu badar
8. Orang-orang yang berhijrah antara perang Badar dan perjanjian Hudaibiyah
9. Sahabat yang ikut dalam Bay’at al-Ridwan dalam perjanjian Hudaibiyah.
10. Orang yang berhijrah antara perjanjian Hudaibiyah dan Fathu Makkah
11. Orang-orang yang berislam dalam Fathu Makkah.
12. Anak-anak yang bertemu dan melihat Nabi saw dalam haji wada’.

III. ‘Adalah (keadilan)

1. Pengertian ‘Adalah ( keadilan)

Kata ‘adalah yang secara harfiah bisa diartikan sebagai “ keadilan”, biasa
dimengerti sebagai “suatu ungkapan tentang tengah-tengah dalam suatu perkara, tidak
berlebihan atau kekuranga.

Dalam terminologi Arab, kata ini memiliki beberapa arti, sehingga agak sulit
untuk merumuskan satu defenisi yang bisa disepakati. Syaikh Tahir al-Jaza’iri pernah
berkata: “ Salah satu yang paling sulit di dunia ini adalah menyepakati penjelasan tentang
‘adalah, karena luasnya batasan-batasannya, sedangkan telah banyak ulama yang
mencoba menjelaskannya.”

Imam Jalãl al-Dîn al-Suyuti mencatat setidaknya ada enam makna yang bisa
diterapkan bagi kata ‘adalah dari segi bahasa, yakni: (1) Berarti lawan dari kecurangan
dan kezaliman; misalnya kata yang ditujukan kepada raja: “ ia adalah seorang yang
adil”. (2) berarti lawan dari kefasikan dan kemaksiatan, (3) Berarti terpelihara,
maksudnya memiliki kualitas diri yang terhindar dari kekejian, kemaksiatan,
sebagaimana para nabi dan malaikat. (4) Berarti terjaga dari dosa dan kesalahan sebagai
karunia dari Allah tanpa diupayakan, sebagaimana para auliya’.(5) Berarti terjaga dari
kesalahan dalam berijtihad, sebagimana sebagian ulama syi’ah menyebut kualitas ini ada
pada “ Sang Mahdi yang ditunggu” dan (6) Berarti terhindar dari kebohongan dan sikap
yang berlebih-lebihan yang disengaja dalam periwayatan dengan melakukan sesuatu yang
menyebabkan tidak diterima perkataannya.

Sedangkan menurut Imam al-Gazali ‘adalah sebagai suatu ungkapan tentang


istiqamah-nya perjalanan hidup dan kehidupan beragama; sementara Ibn al-Mubarak
saat ditanya tentang ‘adalah menjawab bahwasanya seseorang dikatakan adil apabila
dalam dirinya terkandung lima macam hal, yakni pengakuan masyarakat, tidak meminum
minuman keras, tidak ada cela dalam urusan agamanya, bukan seorang pembohong dan “
tidak ada sesuatu dalam akalnya”.

Untuk lebih mudah memahami tantang ‘adalah ini, ada ulama yang memberikan
patokan bagi cirri seorang masuk kategori adil, yakni: Islam, Baligh, Berakal sehat, dan
selamat dari sebab-sebab kefasikan, yakni melakukan dosa besar atau terus-menerus dan
terang-terangan menjalankan dosa kecil. Demikian pula ia harus selamat dari cela
kehormatannya.

Dari berbagai definisi yang dikemukakan mengenai makna ‘adalah di atas, bisa
dikatakan bahwa pada dasarnya ‘adalah merupakan suatu kualitas kepribadiaan
seseorang yang berasal dari sikap takwa dan memelihara kehormatan diri, di mana
kualitas ini dapat dilihat secara lahiriyah dari pemeliharaan diri dari dosa besar dan
terbiasa melakukan dosa kecil serta hal-hal yang kecil namun merusak harga diri, seperti
makan sambil berjalan, kencing di tempat terbuka, dan lain jenisnya.

Sebagai catatan, kualitas adil yang disandang seseorang itu bukan berarti orang
tersebut adalah seorang yang ma’sum yang tidak pernah sekalipun melakukan dosa atau
kekhilafan.

Para ahli hadis menyusun kaidah-kaidah yang berkaitan dengan keadilan tidak
bertentangan dengan fitrah manusia, dimana didalam penilaian adil atau tidak adil
seseorang, tidak didasarkan pada kebersihannya orang tersebut dari dosa, melainkan
dengan lebih beratnya timbangan keadilannya jika dibandingkan dengan cacatnya. Untuk
itu Ibnu Hibban dalam kitabnya al-Majruhin min al-Muhaddisin berkata: “ Seseorang
yang adil itu, apabila nampak dalam dirinya banyak pertanda cela, maka ia harus
ditinggal, sebagaimana apabila dalam dirinya lebih banyak pertanda keadilan, maka ia
berhak disebut adil.”

2. Keadilan Sahabat

Dalam pembahasan mengenai sahabat, disamping pembahasan mengenai siapa


yang disebut sahabat itu, berapa jumlah mereka, bagaimana tingkatan mereka, dan lain
jenisnya; ada satu masalah yang menimbulkan kontroversi berkepanjangan. Kontroversi
itu berawal dari suatu kaidah dalam ilmu hadis yang berbunyi “ setiap sahabat adalah
adil”.

Dengan kaidah tersebut berarti, setiap dilakukan pembahasan mengenai perawi


hadis, dari awal sampai akhir sanad satu hadis, apabila sanad tersebut sampai kepada
sahabat Nabi saw, maka pembahasan dihentikan dan dianggap selesai karena mereka
semua dianggap adil.

Dalam muqaddimah kitabnya, al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, al-Hafiz Ibnu


Hajar menyatakan:” Al-Ahl al-Sunnah telah bersepakat bahwa semua sahabat itu adil; dan
tidak ada yang menyangkal hal ini, kecuali orang-orang yang tercela dari ahli bid’ah.”
Tidak hanya itu, untuk menguatkan pernyataan ini, Ibnu Hajar mengutip kata-kata Abi
Zar’ah al-Razi bahwasanya “Barang siapa menjelek-jelekkan sahabat Nabi saw, maka
ketahuilah sesungguhnya oran itu adalah zindiq”.

Sekilas ini bertentangan dengan semangat untuk menyaring yang paling benar dan
yang paling murni berasal dari Nabi dengan meneliti secara mendetail, mendalam para
pembawanya. Tak heran dikalangan ulama ada perbedaan pendapat dengan , ini agaknya
masih perlu pengkajian lebih mendalam untuk segera menyebut orang-orang yang
berpandangan berbeda ini sebagai ahli bid’ah, karena mungkin semangat yang mendasari
perbedaan itu adalah keinginan untuk benar-benar memurnikan apa yang datang dari
Nabi dari segala yang meragukan.
Diantara yang berbeda itu, misalnya; Abu Hasan bin al-Qattan dari Mazhab
Syafi’i yang menyatakan bahwa para sahabat pun wajib dikaji keadilannya; dan juga
kaum Mu’tazilah dan Syi’ah yang menganggap bahwa semua sahabat itu adil, kecuali
mereka yang terlibat pembunuhan Ali. Sementara itu Umar bin ‘Ubayd dari aliran
Mu’tazilah mengatakan bahwa semua sahabat itu adil sebelum terjadinya fitnah,
sedangkan setelah terjadinya fitnah, predikat itu harus diteliti kembali.

Menarik untuk melihat pandangan Imam Nawawi yang dikutip oleh Ahmad Umar
Hasyim mengenai bisa diterimanya para sahabat yang terlibat fitnah ini. Menurut Imam
Nawawi, dari masing-masing pihak yang bertikai dalam prestiwa fitnah itu tidak jelas
siapa yang benar dan siapa yang salah, dan tentu saja masing-masing merasa sebagai
pihak yang benar. Untuk itu umat Islam harus melihat perbedaan ini sebagai perbedaan
ijtihad belaka.

Dalam hal ini ada tiga pendapat tentang keadilan sahabat:

Pertama, Orang-orang yang berpendapat bahwa tidak semua sahabat itu adil, terutama
mereka yang hidup sesudah nabi wafat dan sesudah kejadian fitnah. Kelompok ini
diantaranya adalah:

a. Menurut kelompok Syi’ah, mereka berpendapat bahwa sahabat yang hidup dalam masa
Nabi saw semuanya adil, kecuali mereka mendukung dan terlibat dalam persetujuan
atau consensus menentang Ali sebagai khalifah sesudah Nabi wafat. Sahabat seperti
Abu Bakar, Umar,Usman, Aisyah, Talhah,’Amar ibn ‘Ash tidak termasuk adil.
Menurut kelompok Zaydiyah mengatakan bahwa Abu Bakar, Umar, dan Usman
adalah sebagai penghianat. Sedangkan kelompok Imamiyah berkata bahwa
kebanyakan dari sahabat itu telah keluar dari Islam, kecuali Ali dan dua putranya.
Atau dengan kata lain bahwa, mereka yang tidak sejalan dengan sikap politik mereka,
maka digolongkan sebagai orang yang tidak adil, atau bahkan bukan muslim.

b. Kelompok Mu’tazilah berpendapat bahwa, semua sahabat itu adil kecuali mereka yang
terlibat dalam perang Shiffin. Mereka mengatakan bahwa mereka semua berdosa
besar , perkataan mereka ditolak.

c. Kelompok Khawarij, mereka berpendapat bahwa sahabat yang menerima tahkim dalam
perang Shiffin tidak adil, mereka semua penghianat .diantara mereka yang termasuk
penghianat adalah Ali, dan dua putranya, Ibn Abbas, Usman, Aisyah, Thalhah, Abu
Ayyub al-Anshari dan semua orang yang tidak mau berpisah dari Ali dan
Mu’awiyah .Menurut kelompok al-Kamiliyya Ali bukan orang yang ‘adil, karena dia
tidak mau mengadili pembunuh Usman .

Kedua, Jumhur ulama( ulama hadis, fiqh dan ushul) mereka berpendapat bahwa semua
sahabat itu adil tanpa kecuali, mereka beralasan dengan argument ” al-shabatu kulluhum
‘udulun “.
Jumhur telah sepakat bahwasanya para sahabat itu semuanya telah yakin akan
keharaman berbohong tentang Nabi, karena hal itu merupakan sebesar-besar dosa.
Andaipun ada hal-hal dalam pribadi sahabat yang bisa dinilai agak “ menyimpang”, maka
hal itu pastilah dilakukan atas dasar ijtihad dan ta’wil mereka, atau paling tidak hal itu
merupakan hasil dari sifat-sifat kemanusian yang dimiliki setiap orang. Jadi apabila
diambil contoh, sejahat-jahat ataupun securang-curang apapun yang namanya Mu’awiyah
bin Abi sufyan itu, kalau untuk urusan memalsukan hadis Nabi dan bohong dengan
bersandar kepada Nabi, ia tak berani.

Selain itu banyak alasan dikemukakan untuk menjunjung nama baik sahabat, ada
beberapa ayat al-Qur’an dan hadis Nabi yang mendukung argumen itu. Perilaku
perjuangan sahabat dalam membela sahabat dilukiskan dalam a-Qur’an, misalnya,

‫والذين أمنوا وهاجروا وجاهدوا في سبيل ال والذين أووا ونصروا أولئك هم المؤمنون حقا لهم‬

.‫مغفرة ورزق كريم‬

“ dan orang-orang yang berimana dan berhijrah serta berjihad dijalan Allah; dan
prang-orang yang member tempat kediaman dan pertolongan (kepada kaum anshar,
mereka itu benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki yang
mulia.

‫والسابقون الولون من المهاجرين والنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي ال عنهم ورضوا عنه‬

.‫وأعد لهم جنات تجري تحتها النهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم‬

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan
muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha
kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka
surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di
dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” .

‫كنتم خير أمة اخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بال‬

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

‫وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا‬
"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan
pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad)
menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”.

‫لقد رضي ال عن المؤمنين إذ يبايعونك تحت الشجرة فعلم ما في قلوبهم فأنزل السكينة عليهم‬
‫وأثابهم فتحا قريبا‬

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji
setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati
mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka
dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”.

‫محمد رسول ال والذين معه أشداء على الكفار رحماء بينهم تراهم ركعا سجدا يبتغون فضل‬

‫من ال ورضوانا‬

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat
mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya,...”.

‫للفقراء المهاجرين الذين أخرجوا من ديارهم وأموالهم يبتغون فضل من ال ورضوانا‬

.‫وينصرون ال ورسوله أولئك هم الصادقون‬

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari
harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan
mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Adapun tak sedikit hadis yang memuji para sahabat dan mengatakan keadilan
mereka adalah;

‫ فبأيهم اقتديتم اهتديتم‬، ‫إنما أصحابي كالنجوم‬

“ Sahabat-sahabatku bagai bintang (di malam hari),maka siapa diantara mereka yang
kamu ikuti pasti kalian akan mendapat petunjuknya.”
َ َ َ ‫فسي بيده ل‬ َ َ
ْ ُ ‫حدَك‬
‫م‬ َ ‫نأ‬ّ ‫وأ‬ْ ِ ِ َِ ِ ْ َ ‫ذي ن‬ ِ ّ ‫وال‬
َ ‫ف‬َ ‫حاِبي‬ َ ‫ص‬ْ ‫سّبوا أ‬ ُ َ ‫حاِبي َل ت‬ َ ‫ص‬ْ ‫سّبوا أ‬ ُ َ ‫َُ َل ت‬
َ َ ُ َ ْ ‫أ َن‬
‫ه‬ َ ‫صي‬
ُ ‫ف‬ ِ َ ‫وَل ن‬ َ ‫م‬ ْ ‫ه‬ِ ‫د‬
ِ ‫ح‬
َ ‫مد ّ أ‬ُ ‫ك‬ َ ‫ما أدَْر‬ َ َ‫د ذ‬
َ ‫هًبا‬ ٍ ‫ح‬ُ ‫لأ‬ َ ْ ‫مث‬
ِ ‫ق‬َ ‫ف‬
“ Janganlan mencaci sahabat-sahabatku. Seandainya seorang diantara kamu berinfak emas
sebesar gunung Uhud, niscaya pahalanya tidak mencapai satu mud pahala infak dari mereka.”

ِ ّ ‫حاِبي َل ت َت‬ َ َ
‫دي‬ ِ ‫ع‬
ْ َ ‫ضا ب‬ ً ‫غَر‬ َ ‫م‬ ْ ‫ه‬ُ ‫ذو‬ ُ ‫خ‬ َ ‫ص‬ ْ ‫في أ‬ ِ ‫ه‬َ ّ ‫ه الل‬ َ ّ ‫حاِبي الل‬ َ ‫ص‬ْ ‫في أ‬ ِ ‫ه‬ َ ّ ‫ه الل‬ َ ّ ‫الل‬
‫م‬ َ ‫نآ‬ َ َ ‫م‬ َ َ َ ‫م‬ َ َ
ْ ‫ه‬
ُ ‫ذا‬ ْ ‫م‬ َ ‫و‬َ ‫م‬ ْ ‫ه‬ ُ ‫ض‬
َ ‫غ‬ َ ْ ‫ضي أب‬ ِ ‫غ‬ْ ُ ‫فب ِب‬ ْ ‫ه‬ ُ ‫ض‬َ ‫غ‬ َ ْ ‫ن أب‬ْ ‫م‬َ ‫و‬ َ ‫م‬ ْ ‫ه‬ ُ ّ ‫حب‬
َ ‫حّبي أ‬ُ ِ ‫فب‬ ْ ‫ه‬ُ ّ ‫حب‬َ ‫نأ‬ ْ ‫م‬ َ ‫ف‬
ْ َ ُ ّ ّ َ ‫ف‬ َ ‫ذاِني‬ َ ‫ف‬ َ
ُ َ‫خذ‬
‫ه‬ ُ ‫ن ي َأ‬ ْ ‫شك أ‬ ِ ‫ه ُيو‬ َ ‫ذى الل‬ َ ‫نآ‬ ْ ‫م‬ َ ‫و‬َ ‫ه‬ َ ‫ذى الل‬ َ ‫قد ْ آ‬ َ ‫نآ‬ ْ ‫م‬ َ ‫و‬
َ ‫ذاِني‬ َ ‫قد ْ آ‬

“ Takutlah kepada Allah dalam hak para sahabatku. Jangan kamu jadikan mereka jadi
sasaran cercaan sepeninggalku. Barang siapa mencintai mereka, maka dia mencintai
mereka karena cinta kepadaku. Dan barang siapa membenci mereka, maka dia
membenci mereka karena benci kepadaku. Dan barang siapa menyakiti mereka, maka
niscaya menyakiti aku; dan barang siapa menyakiti aku, niscaya menyakiti Allah; dan
barang siapa menyakiti Allah; pasti Allah akan menyiksanya”.

‫م‬
ٌ ‫وا‬ ْ َ ‫جيءُ أ‬
َ ‫ق‬ ّ ُ‫م ث‬
ِ َ‫م ي‬ ُ َ ‫ن ي َُلون‬
ْ ‫ه‬ َ ‫ذي‬ ِ ّ ‫م ال‬ّ ُ‫م ث‬ْ ‫ه‬ُ َ ‫ن ي َُلون‬َ ‫ذي‬ ِ ّ ‫م ال‬ّ ُ ‫قْرِني ث‬ َ ‫س‬ِ ‫خي ُْر الّنا‬
َ
‫ه‬ َ ‫ه‬ َ َ ‫ق‬
ُ َ ‫هادَت‬ َ ‫ش‬ ُ ُ ‫مين‬ ِ َ ‫وي‬
َ ‫ه‬ُ َ ‫مين‬ِ َ‫م ي‬ْ ‫ه‬ِ ‫د‬ ِ ‫ح‬
َ ‫هادَةُ أ‬
َ ‫ش‬ ُ ِ ‫سب‬
ْ َ‫ت‬
“ Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang dekat kepada
mereka, kemudian seteklah mereka dating satu kaum yang imannya mendahului
syahadatnya dan syahadatnya mendahului imannya.”

Ketiga, Ulama yang berpendapat bahwa tidak semua sahabat dapat digolongkan
orang yang adil. Mereka harus diuji keadilan mereka, hal itu dilakukan dalam
meriwayatkan hadis. Dalam hal ini ada dua pendapat yaitu:

a. Semua sahabat perlu diuji keadilan mereka, kecuali mereka yang telah dinyatakan
diketahui keadilannya mereka berdasarkan khabar masyhur atau mutawatir.

b. Hanya sahabat yang terlibat dalam konflik fitnah itu saja yang perlu diuji
keadilannya.

Ada beberapa alasan untuk mendukung pendapat ini;

1. Terdapat ayat al-Qur’an yang menunjukkan adanya kemunafikan sahabat Rasul,


seperti;

‫ومن العراب منافقون ومن أهل المدينة مردوا على النفاق لتعلمهم نحن نعلمهم سنعذبهم‬

‫مرتين ثم يردون إلى عذاب عظيم‬

“ Diantara orang-orang Badu disekeliling kamu terdapat orang-orang


munafik. Bahkan diantara penduduk Madianh sendiri juga terdapat orang
munafik yang keterlaluna dalam kemunafiakan. Kamu tidak mengetahui
mereka, tetapi kami mengetahui. Mereka akan kami siksa dua kali, kemudian
dikembalikan keazab yang besar “.

Orang munafik itu secara lahiriah tercatat sebagai orang Islam yang tentunya
memenuhi syarat untuk disebut sahabat.

2. Dalam sebuah kasus terdapat beberapa orang sahabat Rasul yang mengotori
keluarga Nabi saw dengan berita bohong yang dikenal dengan “ hadits al-
ifki”. Mereka menyebarkan fitnah bahwa salah seorang istri Nabi telah
berbuat serong dengan seorang laki-laki.

3. Dalam surah at-Taubah ayat 28 dan seterusnya dilukiskan bahwa di antara


sahabat ada yang enggan berangkat perang ketika perintah datang. Kemudian
Allah mengecam dengan azab yang pedih. Adapula yang hanya mau
berangkat perang untuk memperoleh keuntungan dengan mudah, dan enggan
bila melaukan pekerjaan yang sulit. Agar tidak ikut berperang, mereka
mencari-cari alasan, bahkan, bila perlu mereka berani bersumpah palsu,
dengan mengatakan, “ Apabila kami sanggup, tentu akan berangkat bersama
kamu semua”.

Atas dasar keterangan itu, agaknya kelompok ketiga ini mengatakan, ” Apabila
Jumhur menetapkan semua sahabat itu ‘adil , tidak dapat dikritik sebagaimana layaknya
para periwayat hadis, dan mereka menganggap bahwa sahabat itu ma’shum dari
kesalahan dan kelupaan, sesungguhnya para muhaqqiq telah berlebihan.”

Dalam Duha al-Islam Ahmad Amin berkata:

“Sesungguhnya kita telah menyaksikan sahabat mengkritik sahabat lainnya, bahkan .


Sekiranya posisi sahabat tidak bisa dikritik, tentu kita dapat mengetahui hal tersebut
dengan memperhatikan perangai mereka sendiri.”

Menurut Ahmad Amin lagi, klaim akan kemutlakan keadilan sahabat itu sebenarnya
tidak pada tempatnya, karena diantara para sahabat sendiri telah terjadi saling kritik,
misalnya penolakan Ibnu Abbas terhadap hadis yang dibawa oleh Abu Hurairah
mengenai orang yang harus terlebih dulu berwudhu sebelum mengusung jenazah,
penolakan Aisyah juga terhadap hadis Abu Hurairah mengenai seseorang untuk
membasuh tangan setelah tidur dan sebelum memasukkan tangan kedalam bejana, dan
juga penolakan Umar bin Khattab atas keterangan Fatimah bin Qays ketika mengajukan
gugatan cerai atas suaminya.

Abu Rayyah dalam bukunya mengulas hadis tentang ancaman berdusta atas nama
Nabi, mengutip berita pemalsuan hadis dimasa Nabi dalam Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam
karya Ibn Hazm al-Zahiri sebagai berikut: Riwayat dari Abdullah bin Buraidah dari Ibn
al-Khatib al-Aslani, ia berkata, “ Datang seorang pria kepada kelompok Bani Laits-2
kilometer dari Madinah- dan berkata, sungguh Rasulullah memberi aku pakaian ini ( al-
hullat) dan menyuruhku agar menghakimi tantang darah dan harta kalian dengan apa
yang saya ketahui. Orang tersebut pernah melamar seorang wanita dari mereka di masa
Jahiliyyah tetapi tidak mereka kawinkan. Ia pun pergi hingga akhirnya mendatangi
wanita tersebut. Kemudian mereka mengirim utusan kepada Nabi saw ( untuk
menanyakan berita yang dibawa pria tersebut), lalu Rasul berkata, “ Ia bohong,
….musuh Allah.” Kemudian Rasulullah saw mengutus seorang pria dan berkata. Jika
engkau mendapatinya masih hidup, pukullah tengkuknya, dan jika sudah mati, bakarlah.

Dr.Ahmad Amin, memperhatikan hadis yang mengancam orang yang berdusta atas
nama Nabi saw dengan ancaman berat ini, mensinyalir telah terjadi pemalsuan hadis di
masa Nabi. Ada dua argument untuk mendukung hal tersebut; yaitu kenyataan tidak
adanya upaya penulisan hadis Nabi pada masa ini, sehingga sangat rentan terhadap
kekeliruan dan pemalsuan, dan kedua adalah hadis mutawatir dari Nabi yang menyatakan
bahwasanya “barang siapa yang berbohong dengan mengatasnamakan Nabi, maka
hendaklah orang itu bersiap-siap untuk menempati tempatnya di neraka.” Sinyalemen ini
dibantah oleh Musthafa al-Siba’i dengan alasan bahwa para sahabat adalah orang yang
setia kepada Nabi saw, mengetahui seluruh ihwal Nabi, sampai lembar ubannya.
Andainya pemalsuan itu terjadi pasti akan disiarkan secara mutawatir untuk kemudian
disingkiri.

Syuhudi Ismail membantah penggunaan hadis di atas sebagai tanda adanya


pemalsuan hadis di jaman Nabi, menurut dia, hadis di atas bersifat sebagai ramalan,
maksudnya adalah kekhawatiran Nabi saw akan kondisi umat masa mendatang, sehingga
statement Nabi tersebut untuk menjadi pedoman bagi umatnya di masa mendatang untuk
tidak berbohong mengenai dirinya.

3. Melacak Benang Merah Perbedaan.

Keadilan seorang pembawa hadis tidak bisa dipungkiri merupakan persyaratan


yang tidak boleh diabaikan dalam upaya memilah dan mendapatkan hadis yang benar-
benar berasal dari Nabi saw, sehingga ketika dimunculkan kaidah “ setiap sahabat itu adil
“, kontroversi yang hebat terjadi.

Adanya sikap setuju terhadap kaidah tersebut, bahkan sikap “ sangat setuju ”
sehingga menvonis “ sesat “ mereka yang berpendapat berbeda, mungkin lebih tepat
dipahami sebagai sikap menghargai dan menjunjung tinggi para sahabat sebagai
penerima pertama segala teladan dan tuntunan Nabi saw, sekaligus sebagai upaya agar
jangan sampai ada hal yang tidak tersampaikan yang berasal dari Nabi saw karena tidak
menerima apa yang dibawa oleh sahabat Nabi saw.

Disisi lain, pandangan yang tidak setuju terhadap kaidah tersebut tentunya tidak
boleh dipahami sebagai sikap merendahkan atau apalagi meremehkan posisi sahabat
sebagai pembawa syari’at dan tangan pertama yang langsung menerima teladan, tuntunan
dan ajaran-ajaran Nabi saw. Keberadaan mereka ini agaknya lebih tepat jika dipandang
sebagai suatu sikap hati-hati dan berjaga-jaga agar tidak terjadi kesalahan dalam
menerima hadis dan dalam menisbatkan sesuatu kepada Nabi saw yang tidak berasal dari
Nabi saw.

Dari beragam pendapat diatas, baik yang pro maupun yang kontra, setidaknya ada
benang merah yang bisa ditarik, yakni bahwasanya para sahabat adalah juga manusia
yang tidak ma’sum dari kesalahan; hanya saja menurut jumhur, untuk urusan
memalsukan hadis Nabi saw secara sengaja, para sahabat tidak mungkin berani,
sementara bagi yang tidak sepakat dengan jumhur, para sahabat mungkin saja melakukan
pemalsuan tersebut.

Dengan posisi tersebut, maka bisa dikatakan bahwa maksud dari setiap sahabat itu
adil ini sebenarnya bukan merupakan pemutlakan terhadap keadilan sahabat tanpa peduli
apapun dan seperti apapun keadaannya. “ Keadilan “ itu adalah predikat asli dan asal
yang dimiliki sahabat, dan ini tidak menepis adanya kemungkinan adanya sahabat yang
tidak adil apabila ditemukan cacat yang menimpa keadilan mereka.
Dengan kata lain, pendekatan yang tepat kepada sahabat sebagaimana yang
direkomendasikan oleh Jumhur ulama itu tidaklah tepat apabila diartikan pemutlakan
akan keadilan sahabat tanpa terkecuali, tetapi lebih tepat dikatakan sebagai pendekatan
husn zan terhadap sahabat, dimana apabila dikemudian hari terbukti bahwasanya
praduga tidak bersalah tersebut ternyata salah, maka vonis “tidak adil” tidak segan-segan
ditempelkan. Apabila dianalogikan dengan metode, maka boleh dikatakan bahwasanya
metode untuk menyikapi sahabat adalah metode deduktif, sementara menghadapi selain
sahabat, dipakai metode induktif.

IV. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas telah kita ketahui perdebatan panjang tentang keadilah
sahabat. Mereka yang bersekeras dengan pendapat semua sahbat itu adil, ingin menjaga
citra dan martabat sahabat Nabi yang telah bersama Nabi dan berjuang bersama beliau,
peran mereka dalam menyebarkan sunah atau hadis Nabi sangat besar, sehingga mereka
adalah orang-orang yang mulia disisi Allah, bahkan diantara mereka ada yang telah
dijamin masuk surga.

Sementara mereka yang berpendapat bahwa tidak semua sahabat adil, merupakan
upaya agar hadis benar-benar murni dari pemalsuan dan campuran dari yang bukan
berasal dari Nabi. Jadi pendapat mereka bukan berarti mereka merendahkan sahabat atau
meremahkan peran sahabat sebagai orang-orang yang pertama dalam membela dan
melindungi Nabi, dan sebagai orang-orang yang paling berjasa dalam men-syi’ar-kan
Islam dan orang-orang yang pertama menerima semua hadis atau sunah langsung dari
Nabi saw.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Amidy, Al-Ahkam fi Ushul al-Ahkam, Kairo: Muassaah al-Hilmy wa


Syurakahu, 1967.

2. Al-Asqalani, Al- Hafiz Ibnu Hajar , al-Isabah fi tamyiz al-sahabah, Beirut: Dar
Sadir, 1328 H.

3. Al-Bukhari, Sahih Bukhari

4. Al-Khatib, Muhammad ‘Ajjaj , al-Sunnah Qabla al-Tadwin, Beirut:Dar Fikr,


1981.

5. Al-Maktabah Syamilah: al-Isdar al-Tsani

6. Al-Siba’I, Al-Sunnah wa Makanatuha min al-Tasyri’ al-Islam, Mesir:

7. Al-Suyuti, Imam Jalal al-Din , Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi, Beirut:
Dar al-Fikr, 1988.
8. Al-Tahhan, Mahmud , Taisir Mustalah al-Hadis, Beirut: Dar al-Saqafah al-
Islamiyah, 1985.

9. Amin, Ahmad , Fajr al-Islam, Kairo : Maktabah al-Nahdah al-Misriyyah, 1975.

10. ----------------- , Duha al-Islam, Kairo :Maktabah al-Nahdah al-Misriyah,1975.

11. At-Turmudzi, Sunan al-Tirmidzi

12. At-Thabrany, Sulaiman ibn Ahmad, Al-Mu’jam al-Kabir, Maktabah Ibn


Taimiyah,Kair.

13. Al-‘AiniMahmud ibn Ahmad al-‘Aini, ‘Umdatu al-Qari Syarh Sahih Bukhari,
Dar al-Kutub Ilmiyah, Beirut 2001.

14. Faiz, Fakhruddin, “ Perdebatan Seputar Keadilan Sahabat Dalam Ilmu


Hadist” Jurnal Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadis Vol.1, No.2 Januari 2001

15. Hamadah, Faruq , Al-Manhaj al-Islam fi al-Jarh wa al-Ta’dil, Beirut: Dar al-
Nasr al-Ma’rufah,1989.

16. Hasyim, Ahmad Umar , Qawaid Ushul al-Hadist, Dar al-Fikrb Beirut.

17. Imam Muslim, Sahih Muslim, Kairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, 1956.

18. Ismail, M.Syuhudi l, Kaedah Kesahihan sanad Hadis,: Telaah Kritis dan
Tinjauan Dengan Pendekatan Sejarah, Jakarta: Bulan Bintang,1995.

19. Zuhri, Muhammad, Hadis Nabi Telaah Historis Metodologis, Tiara Wacana
Yogyakarta 2003.

Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin (Beirut:Dar Fikr, 1981),C 5


h.387

Ibid

Ibid, h.393

Ahmad Umar Hasyim, Qawaid Ushul al-Hadist, ( Dar al-Fikrb Beirut ), h. 274

Ibid.,h 32

Muhammad ‘Ajaz al-Khatib, As-Sunnah Qabla Tadwin, ( Dar Al-Fikr, Beirut, 1981 ), C.
5, h.105
Ibid, h.277

Mahmud al-Tahhan, Taisir Mustalah al-Hadis ( Beirut: Dar al-Saqafah al-Islamiyah,


1985), h.198.

Faruq Hamadah, Al-Manhaj al-Islam fi al-Jarh wa al-Ta’dil, ( Beirut: Dar al-Nasr al-
Ma’rufah,1989), h.156

Imam Jalal al-Din al-Suyuti, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi,( Beirut: Dar al-
Fikr, 1988), h.214-215

Al-Amidy, Al-Ahkam fi Ushul al-Ahkam ( Kairo: Muassaah al-Hilmy wa Syurakahu,


1967), h.68

Faruq Hamadah, Op.Cit., 154

Ibid.154-155

Fakhruddin Faiz, “ Perdebatan Seputar Keadilan Sahabat Dalam Ilmu Hadist” Jurnal
Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadis Vol.1, No.2 Januari 2001

Al- Hafiz Ibnu hajar al-Asqalani, al-Isabah fi tamyiz al-sahabah, Juz 1 ( Beirut: Dar
Sadir, 1328 H),h. 9

Ibid,,h. 10

Faruq Hamadah, Op.Cit., h. 197-198

Ahmad Umar Hasyim, Op.Cit.,h.272

Faruq Hamadah, Op.Cit. h. 200

(Q.S al-anfal:74)

(Q.S al-Taubah:100)

Q.s Ali Imran :110

Q.S al-Baqarah: 143

Q.S Al-Fath :18

Q.S Al-Fath: 29

Al-Hasy:8
Ibn Battah,Al-Ibanatu al-Kubra, ( Al-Maktabah Syamilah: al-Isdar al-Tsani)Juz.II,
h220.no.709

Musa Syahin Lasyin, Fath al-Mun’im Syarh Shahih Muslim ( Dar Syuruk: ), juz.9,
h.589, no.5640.

Abu Bakar Ibnu ‘Arabi Al-Maliki, ‘Aridatu al-Ahwadzi Syarh Shahih At-Tirmidzi (Dar
Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut), juz 13,h.244/ At-Turmudzi, Sunan al-Tirmidzi ( AL-Maktabah
al-Syamilah:al-Isdar Tsani),Juz ,2.h.362, No.3797

Musa Syahin Lasyin, Fath al-Mun’im Syarh Shahih Muslim ( Dar Syuruk: ), juz.9,
h.578, no.5630/Bukhari, Sahih Bukhari, ( Al-Maktabah al-Syamilah: al-Isdar Tsani), Juz 9,
h.133.no.2458,

Q.S al-Taubah : 101

Musa Syahin Lasyin, Fath al-Mun’im Syarh Shahih Muslim ( Dar Syuruk: ), juz.10,
h.354,no. 6099/ Lihat Sahih Bukhari, hadist al-Ifki, (Dar al-Fikr, Beirut ) ,h.44

.Mulai dari surah al-Nur ayat 11 Allah mengecam keras orang-orang yang mula-mula
menyebar berita bohong. Ayat selanjutnya menerangkan bahwa ketika berita itu mulai tersebar,
banyak orang Islam mempercayainya, bahkan, ikut menyebarluaskannya berita tersebut. Padahal,
menodai kebersihan keluarga Rasul adalah dosa besar.

Q.S al-Taubah:39-40

Muh Zuhri, Hadis Nabi Telaah Historis Metodologis (Tiara Wacana Yogyakarta 2003),
h133

Ahmad Amin, Duha al-Islam ( Kairo:Maktabah al-Nahdah,1975) h.75-76

Ahmad Amin, Fajr al-Islam( Kairo : Maktabah al-Nahdah al-Misriyyah, 1975),h.216-


217

Sulaiman ibn Ahmad at-Thabarny, Al-Mu’jam al-Kabir (Maktabah Ibn Taimiyah,Kairo ),


Juz 5,h.131, No.1437.

Ahmad Amin, Op.Cit,h.211

39.Sulaiman ibn Ahmad al-Thabrany,Op.Cit., juz.4,h.189, no. 4100/Mahmud ibn Ahmad


al-‘Aini, ‘Umdatu al-Qari Syarh Sahih Bukhari (Dar al-Kutub Ilmiyah, Beirut 2001), Cet.1,
juz.8, h.121,no. 1291

Al-Siba’I, Al-Sunnah wa Makanatuha min al-Tasyri’ al-Islam, (Mesir: ), h. 183


M.Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan sanad Hadis,: Telaah Kritis dan Tinjauan
Dengan Pendekatan Sejarah (Jakarta: Bulan Bintang,1995),h.104-105

Fakhruddin Faiz, Perdebatan Seputar Keadilan Sahabat Dalam Ilmu Hadis,” Jurnal
Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadis”,Vol.1,No.2, Januari 2001
MEMAHAMI JIWA MANUSIA
Ditulis oleh Ustads Hamdan Maghribi, Lc
Manusia, dalam paradigma Barat postmodernisme; bagi Karl Marx disetir oleh
perutnya (ekonomi) dan bagi Sigmund Freud oleh libido seksnya. Ketika
berhijrah di abad ke 7 M, Nabi Muhammad saw. telah menyinggung temuan
Marx dan Freud ini. Orang berhijrah itu disetir oleh tiga orientasi : seks,
materi dan idealisme atau keimanan (lillah wa rasulihi). Artinya, manusia itu
bisa jadi seharga dorongan perutnya, atau dorongan seksualnya dan dapat
menjadi sangat idealis, meninggalkan kedua dorongan jiwa hewani dan
nabati itu.

Jadi semua perilaku manusia hakekatnya disetir oleh jiwa atau nafs-nya. Tapi
jiwa mempunyai banyak anggota, yang oleh al-Ghazzali disebut tentara hati
(junud al-qalbi). Anggota jiwa dalam al-Qur’an diantaranya adalah qalb (hati),
ruh (roh), aql (akal) dan iradah (kehendak) dsb. Al-Qur’an menyebut kata
nafs sebanyak 43 kali, 17 kali kata qalb-qulub, 24 kali kata ta’aqilun
(berakal), dan 6 kali kata ruh-arwah. Itulah, modal manusia untuk hidup di
dunia, yaitu sinergi semua, buka independensi masing-masing anggotanya.

Nabi menjelaskan peran qalb (hati) dalam hidup manusia. Menurutnya, aspek
penentu hakekat manusia adalah segumpal darah (mudghah), yang disebut
qalb (hati). Gumpalan itulah yang menjadi penentu kesalehan dan kejahatan
jasad manusia (HR. Sahih Bukhari). Karena begitu menentukannya fungsi hati
itulah Allah hanya melihat hati manusia dan tidak melihat penampilan dan
hartanya. (HR. Ahmad ibn Hanbal). Sejatinya, hati adalah wajah lain dari nafs
(jiwa), maka dari itu hati atau jiwa manusia itu bertingkat-tingkat. Para ulama
menemukan tujuh tingkatan jiwa dari dalam al-Qur’an:

Pertama, nafs al-ammarah bi al-su’, atau nafsu pendorong kejahatan. Ini


adalah tingkat nafs paling rendah yang melahirkan sifat-sifat seperti
takabbur, kerakusan, kecemburuan, nafsu syahwat, ghibah, bakhil dsb. Nafsu
ini harus diperangi.

Kedua, nafs al-lawwamah. Ini adalah jiwa yang memiliki tingkat kesadaran
awal melawan nafs yang pertama. Dengan adanya bisikan dari hatinya, jiwa
menyadari kelemahannya dan kembali kepada kemurniannya. Jika ini
berhasil maka ia akan dapat meningkatkan diri kepada tingkat diatasnya.

Tingkat ketiga adalah Nafs al-Mulhamah atau jiwa yang terilhami. Ini
adalah tingkat jiwa yang memiliki tindakan dan kehendak yang tinggi. Jiwa ini
lebih selektif dalam menyerap prinsip-prinsip. Ketika jiwa ini merasa terpuruk
kedalam kenistiaan, segera akan terilhami untuk mensucikan amal dan
niatnya.

Keempat, Nafs al-mutma’innah atau jiwa yang tenang. Jiwa ini telah
mantap imannya dan tidak mendorong perilaku buruk. Jiwa yang tenang yang
telah menomor duakan nikmat materi.

Kelima, Nafs al-Radhiyah atau jiwa yang ridha. Pada tingkatan ini jiwa telah
ikhlas menerima keadaan dirinya. Rasa hajatnya kepada Allah begitu besar.
Jiwa inilah yang diibaratkan dalam doa: Ilahi anta maqsudi wa ridhaka
matlubi (Tuhanku engkau tujuanku dan ridhaMu adalah kebutuhanku).

Keenam, Nafs al-Mardhiyyah, adalah jiwa yang berbahagia. Tidak ada lagi
keluhan, kemarahan, kekesalan. Perilakunya tenang, dorongan perut dan
syhawatnya tidak lagi bergejolak dominan.

Ketujuh, Nafs al-Safiyah adalah jiwa yang tulus murni. Pada tingkat ini
seseorang dapat disifati sebagai Insan Kamil atau manusia sempurna.
Jiwanya pasrah pada Allah dan mendapat petunjukNya. Jiwanya sejalan
dengan kehendakNya. Perilakunya keluar dari nuraninya yang paling dalam
dan tenang.

Begitulah jiwa manusia. Ada pergulatan antara jiwa hewani yang jahat
dengan jiwa yang tenang. Ada peningkatan pada jiwa-jiwanya yang tenang
itu. Sahabat Rasulullah saw. Sufyan al-Thawri pernah mengatakan bahwa
beliau tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih kuat dari nafsunya;
terkadang nafsu itu memusuhinya dan terkadang membantunya. Ibn
Taymiyyah menggambarkan pergulatan itu bersumber dari dua bisikan:
bisikan syetan (lammat a-syaitan) dan bisikan malaikat (lammat al-malak).

Perang melawan nafsu jahat banyak caranya. Sahabat Nabi Yahya ibn Mu’adh
al-Razi memberikan tipsnya. Ada empat pedang untuk memerangi nafsu
jahat: makanlah sedikit, tidurlah sedikit, bicaralah sedikit dan sabarlah ketika
orang melukaimu… maka nafs atau ego itu akan menuruti jalan ketaatan,
seperti penunggang kuda dalam medan perang. Memerangi nafsu jahat ini
menurut Nabi adalah jihad. Sabdanya “Pejuang adalah orang yang
memperjuangkan nafs-nya dalam mentaati Allah” (al-Mujahidu man jahada
nafsahu fi ta’at Allah ‘azza wa jalla). (HR.Tirmidhi, Ibn Majah, Ibn Hibban,
Tabrani, Hakim dsb).

Kejahatan diri dalam al-Qur’an juga dianggap penyakit


(10) ‫ن‬
َ ‫ب َأِليٌم ِبَما َكاُنوا َيْكِذُبو‬
ٌ ‫عَذا‬
َ ‫ضا َوَلُهْم‬
ً ‫ل َمَر‬
ُّ ‫ض َفَزاَدُهُم ا‬
ٌ ‫ِفي ُقُلوِبِهْم َمَر‬

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi
mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta (QS 2:10).

Sementara Nabi mengajarkan bahwa setiap penyakit ada obatnya. Para


ulama pun lantas berfikir kreatif. Ayat-ayat dan ajaran-ajaran Nabi pun
dirangkai diperkaya sehingga membentuk struktur pra-konsep. Dari situ
menjadi struktur konsep dan akhirnya menjadi disiplin ilmu.

Ilmu tentang jiwa atau nafs itu pun lahir dan disebut Ilm-al Nafs, atau Ilm-al
Nafsiyat (Ilmu tentang Jiwa). Ketika Ilmu al-Nafs berkaitan dengan ilmu
kedokteran (tibb), maka lahirlah istilah al-tibb al-ruhani (kesehatan jiwa) atau
tibb al-qalb (kesehatan mental). Tidak heran jika penyakit gangguan jiwa
diobati melalui metode kedokteran yang dikenal dengan istilah al-Ilaj al-nafs
(psychoteraphy).

Dalam Ilmu al-Nafs ditemukan bahwa raga dan jiwa berkaitan erat, demikian
pula penyakitnya. Psikolog Muslim asal Persia Abu Zayd Ahmed ibn Sahl al-
Balkhi pada abad ke 10 (850-934), menemukan teori bahwa penyakit raga
berkaitan dengan penyakit jiwa. Alasannya, manusia tersusun dari jiwa dan
raga. Manusia tidak dapat sehat tanpa memiliki keserasian jiwa dan raga. Jika
badan sakit, jiwa tidak mampu berfikir dan memahami, dan akan gagal
menikmati kehidupan. Sebaliknya, jika nafs atau jiwa itu sakit maka
badannya tidak dapat merasakan kesenangan hidup. Sakit jiwa lama
kelamaan dapat menjadi sakit fisik. Itulah sebabnya ia kecewa pada dokter
yang hanya fokus pada sakit badan dan meremehkan sakit mental. Maka
dalam bukunya Masalih al-Abdan wa al-Anfus, ia mengenalkan istilah al-Tibb
al-Ruhani (kedokteran ruhani).

Jadi, hakekatnya manusia yang dikuasai oleh dorongan nafsu hewani dan
nabati saja, boleh jadi sedang sakit. Manusia sehat adalah manusia yang
nafsunya dikuasai oleh akalnya, Hatinya (qalb) untuk taat pada Tuhannya.
Itulah insan kamil yang memiliki jiwa yang tenang, yang kembali pada Tuhan
dan masuk surganya dengan ridho dan diridhoi. Yang senantiasa
menyelaraskan antara fikir dan dzikir, antara akal dan wahy. Itulah manusia
yang selama hidupnya menjadi sinar cahaya (misykat) bagi umat manusia
Melihat Calon Isteri Sebelum
Khitbah
Ditulis oleh Dewan Asatidz
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah r.a. beliau
berkata: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:"Ketika salah satu dari kalian
melakukan khitbah terhadap seorang perempuan, kemudian memungkinkan baginya
untuk melihat apa yang menjadi alasan baginya untuk menikahinya, maka lakukanlah".
Hadist ini sahih dan mempunyai riwayat lain yang menguatkannya.

Ulama empat madzhab dan mayoritas ulama menyatakan bahwa Seorang lelaki yang
berkhitbah kepada seorang perempuan disunnahkan untuk melihatnya atau
menemuinya sebelum melakukan khitbah secara resmi. Rasulullah telah mengizinkan
itu dan menyarankannya dan tidak disyaratkan untuk meminta izin kepada perempuan
yang bersangkutan. Landasan untuk itu adalah hadist sahih riwayat Muslim dari Abu
Hurairah r.a. berkata: Aku pernah bersama Rasulullah r.a. lalu datanglah seorang lelaki,
menceritakan bahwa ia menikahi seorang perempuan dari kaum anshar, lalu Rasulullah
menanyakan "Sudahkan anda melihatnya?" lelaki itu menjawab "Belum". "Pergilah dan
lihatlah dia" kata Rasulullah "Karena pada mata kaum anshar (terkadang ) ada
sesuatunya".

Para Ulama sepakat bahwa melihat perempuan dengan tujuan khitbah tidak harus
mendapatkan izin perempuan tersebut, bahkan diperbolehkan tanpa sepengetahuan
perempuan yang bersangkutan. Bahkan diperboleh berulang-ulang untuk meyakinkan
diri sebelum melangkah berkhitbah. Ini karena Rasulullah s.a.w. dalam hadist di atas
memberikan izin secara mutlak dan tidak memberikan batasan. selain itu, perempuan
juga kebanyakan malu kalau diberitahu bahwa dirinya akan dikhitbah oleh seseorang.

Begitu juga kalau diberitahu terkadang bisa menyebabkan kekecewaan di pihak


perempuan, misalnya pihak lelaki telah melihat perempuan yang bersangkutan dan
memebritahunya akan niat menikahinya, namun karena satu dan lain hal pihak lelaki
membatalkan, padahal pihak perempuan sudah mengharapkan.Maka para ulama
mengatakan, sebaiknya melihat calon isteri dilakukan sebelum khitbah resmi, sehingga
kalau ada pembatalan tidak ada yang merasa dirugikan. Lain halnya membatalkan
setelah khitbah kadang menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan.Persyaratan
diperbolehkan melihat adalah dengan tanpa khalwat (berduaan saja) dan tanpa
bersentuhan karena itu tidak diperlukan. Bagi perempuan juga diperbolehkan melihat
lelaki yang mengkhitbahinya sebelum memutuskan menerima atau menolak.

Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan diperbolehkan lelaki melihat


perempuan yang ditaksir sebelum khitbah. Sebagian besar ulama mengatakan boleh
melihat wajah dan telapak tangan. Sebagian ulama mengatakan boleh melihat kepala,
yaitu rambut, leher dan betis. Dalil pendapat ini adalah hadist di atas, bahwa Rasulullah
telah mengizinkan melihat perempuan sebelum khitbah, artinya ada keringanan di sana.
Kalau hanya wajah dan telapak tangan tentu tidak perlu mendapatkan keringanan dari
Rasulullah karena aslinya diperbolehkan. Yang wajar dari melihat perempuan adalah
batas aurat keluarga, yaitu kepala, leher dan betis. Dari Umar bin Khattab ketika
berkhitbah kepada Umi Kultsum binti Ali bin Abi Thalib melakukan demikian.

Dawud Al-Dhahiri, seorang ulama tekstualis punya pendapat nyentrik, bahwa boleh
melihat semua anggota badan perempuan kecuali alat kelaminnya, bahkan tanpa baju
sekalipun. Pendapat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Aqil dari Imam Ahmad. Alasannya
hadist yang memperbolehkan melihat calon isteri tidak membatasi sampai dimana
diperbolehkan melihat. Tentu saja pendapat ini mendapat tentangan para ulama. Imam
AUza'I mengatakan boleh melihat anggota badan tempat-tempat daging.

Bagi perempuan yang akan menerima khitbah disunnahkan untuk menghias dirinya
agar kelihatan cantik. Imam Ahmad berkata:"Ketika seorang lelaki berkhitbah kepada
seorang perempuan, maka hendaklah ia bertanya tentang kecantikannya dulu, kalau
dipuji baru tanyakan tentang agamanya, sehingga kalau ia membatalkan karena alasan
agama. Kalau ia menanyakan agamanya dulu, lalu kecantikannya maka ketika ia
membatalkan adalah karena kecantikannya dan bukan agamanya. (Ini kurang bijak)