Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

MEMAHAMI KONSEP HUKUM MENDEL

DI SUSUN OLEH:
NAMA : NAMIRA
NIM : P 211 19 090
KELOMPOK : 1 (SATU)
ASISTEN : RISKA SEPTIANA

LABORATORIUM BIOSISTEMATIKA
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO

OKTOBER, 2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkawinan silang pertama kali ditemukan oleh George John Mendel yang
lahir di Heinzendeorf pada tahun 1822-1884 dan tinggal di cekoslavia.
Gregor John Mendel adalah seorang pendeta, pada tahun 1851 ia dikirim ke
Universitas Wina untuk belajar ilmu pengetahuan alam, tetapi dia tidak
mendapatkan nilai baik untuk fisika dan matematika. Ketika ia kembali ke
kota Brunn mulailah ia pada tahun 1857 mengumpulkan beberapa jenis ercis
(pisum sativum). Dikebun biaranya, ia menanam tanaman ercis untuk
mempelajari perbedaan satu dengan yang lainnya dan melakukan
perkawinan silang pada tanaman tersebut. Setelah kurang lebih tujuh tahun
lamanya ia mengadakan pengamatan secara teliti dan seksama, maka pada
tahun 1865 ia membawa hasil percobaannya pada pertemuan ilmiah yang
diselenggarakan oleh perhimpunan pengetahuan alam di brunn. Pada tahun
1866, karya ilmu Mendel itu dicetak oleh perhimpunan tersebut yang
kemudian menyebarluaskannya keberbagai perpustakaan di Eropa dan
Amerika.

Genetika merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang keturunan dan


pewaris sifat pada makhluk hidup. Dalam genetika terdapat gen yang
berfungsi menyampaikan informasi genetic pada keturunan berikutnya.
Oleh karena itu setiap keturunan akan mempunyai fenotip maupun genotip
yang hamper sama atau hasil campuran sifat-sifat induknya. Sifat yang
dapat diamati disebut fenotip, sedangkan yang tidak dapat diamati disebut
genotip yang berupa susunan genetic suatu individu.
Dalam ilmu genetika terdapat suatu istilah yang disebut sebagai homozigot
dan heterozigot. Homozigot adalah sifat suatu individu yang genotipnya
terdiri atas gen-gen yang sama dari tiap jenis gen, misalnya RR,rr,MM,NN
sedangkan Heterozigot adalah sifat suatu individu yang genotipnya terdiri
atas gen-gen yang berlainan dari tiap jenis gen, misalnya Rr,Mm,Nn.

Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum


Pertama Mendel, dan Hukum berpasangan secara bebas (independent
assortment) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.
Mendel mengatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel kelamin), kedua
gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah sehingga
tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya sebagaimana bunyi hukum
mendel I, dan bunyi hukum mendel II, menyatakan bahwa bila dua individu
mempunyai dua pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat
secara bebas, tidak bergantung pada pasangan sifat yang lain.

1.2.      Tujuan

Adapun tujuan dalam praktiikum yaitu memahami angka-angka


perbandingan dalam Hukum Mendel melalui Hukum Kebetulan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Hukum Mendel I dikenal juga dengan Hukum Segregasi menyatakan: ‘pada


pembentukan gamet kedua gen yang merupakan pasangan akan dipisahkan  dalam
dua sel anak’. Hukum ini berlaku untuk persilangan monohibrid (persilangan
dengan satu sifat beda).

Secara garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok:


a. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter
turunannya. Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel resisif (tidak
selalu nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya w dalam
gambar), dan alel dominan (nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf besar,
misalnya R).
b. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya ww
dalam gambar di samping) dan satu dari tetua betina (misalnya RR dalam
gambar di samping).
c. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda, alel dominan akan
selalu terekspresikan (nampak secara visual dari luar). Alel resesif yang tidak
selalu terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet yang dibentuk pada
turunannya.

Hukum Mendell II dikenal dengan Hukum Independent Assortment, menyatakan:


‘bila dua individu berbeda satu dengan yang lain dalam dua pasang sifat atau
lebih, maka diturunkannya sifat yang sepasang itu tidak bergantung pada sifat
pasangan lainnya’. Hukum ini berlaku untuk persilangan dihibrid (dua sifat beda)
atau lebih.
Gambar 1

Seperti nampak pada gambar 1, induk jantan (tingkat 1) mempunyai genotipe ww


(secara fenotipe berwarna putih), dan induk betina mempunyai genotipe RR
(secara fenotipe berwarna merah). Keturunan pertama (tingkat 2 pada gambar)
merupakan persilangan dari genotipe induk jantan dan induk betinanya, sehingga
membentuk 4 individu baru (semuanya bergenotipe wR).Selanjutnya,
persilangan/perkawinan dari keturuan pertama ini akan membentuk indidividu
pada keturunan berikutnya (tingkat 3 pada gambar) dengan gamet R dan w pada
sisi kiri (induk jantan tingkat 2) dan gamet R dan w pada baris atas (induk betina
tingkat 2). Kombinasi gamet-gamet ini akan membentuk 4 kemungkinan individu
seperti nampak pada papan catur pada tingkat 3 dengan genotipe: RR, Rw, Rw,
dan ww. Jadi pada tingkat 3 ini perbandingan genotipe RR , (berwarna merah) Rw
(juga berwarna merah) dan ww (berwarna putih) adalah 1:2:1. Secara fenotipe
perbandingan individu merah dan individu putih adalah 3:1.

Kalau contoh pada gambar 1 merupakan kombinasi dari induk dengan satu sifat
dominan (berupa warna), maka contoh ke-2 menggambarkan induk-induk dengan
2 macam sifat dominan: bentuk buntut dan warna kulit. Persilangan dari induk
dengan satu sifat dominan disebut monohibrid, sedang persilangan dari induk-
induk dengan dua sifat dominan dikenal sebagai dihibrid, dan seterusnya.
Hasil penelitian Mendel dengan melakukan persilangan berbagai varietas kacang
kapri (Pisum sativum) untuk monohibrid menyimpulkan bahwa setiap sifat
organisme ditentukan oleh faktor, yang kemudian disebut gen. Faktor tersebut
diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam setiap individu
tanaman terdapat dua faktor (sepasang) untuk masing-masing sifat, yang
kemudian dikenal dengan istilah sepasang (dua) alel; satu faktor berasal dari tetua
jantan dan satu faktor lagi berasal dari tetua betina. Dalam penggabungan tersebut,
setiap faktor tetap utuh dan selalu mempertahankan identitasnya. Pada saat
pembentukan gamet, setiap faktor dapat dipisah kembali secara bebas. Peristiwa
ini kemudian dikenal sebagai Hukum Mendel I, yaitu Hukum Segregasi (Yusuf,
2008).

Menurut Brown (1993), dalam suatu persilangan perlu diketahui istilah-istilah


yang digunakan. Istilah- istilah itu diantaranya :
a. Parental (P): induk
b. Filial (F): keturunan
c. Keturunan pertama (F1): anak
d. Keturunan kedua (F2): cucu
e. Genotipe: sifat menurun yang tidak tampak dari luar, contoh: AA, Aa, aa,
AABb
f. Fenotipe: sifat menurun yang tampak dari luar, contoh: besar, kecil, tinggi,
pendek
g. Dominan: sifat gen yang memiliki ekspresi lebih kuat yang dapat
menutupi/mengalahkan sifat yang dibawa gen alelnya, disimbolkan dengan
huruf kapital, contoh: AA, BB, MM
h. Resesif: sifat gen yang tidak muncul (tertutup) karena kalah oleh sifat
pasangannya, akan muncul apabila bersama-sama gen resesif lainnya,
disimbolkan dengan huruf kecil, contoh: aa, bb, mm
i. Homozigot: pasangan gen yang sifatnya sama, contoh: AA, aa, MM, bb
j. Heterozigot: pasangan gen yang tidak sama, contoh: Aa, Mm, Bb
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Waktu dan tempat pada praktikum ini dilaksanakan adalah hari Selasa 08
Oktober 2019, pukul 10.00 WITA sampai selesai. Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tadulako.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat yang digunakan berupa toples untuk menyimpan kancing model-
model gen, dan handphone untuk mendokumentasikan jalannya
praktikum.

3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah kancing model-
model gen warna hijau (M) dan putih (m).

3.3. Prosedur kerja


1. Menempatkan dalam dua toples masing-masing 50 butir hijau dan 50 butir
model gen putih.
2. Memberi label pada toples tersebut, toples (A) sebagai Induk Jantan dan
toples (B) sebagai Induk Betina.
3. Mengocok toples itu agar isinya bercampur.
4. Membuat pasangan gen-gen dari induk jantan dengan gen-gen dari induk
betina. Dengan cara menutup mata setiap kali mengmbil setiap butir gen
dari toples jantan dan sebutir dari toples betina.
5. Mengisi hasil pengamatan kedalam tabel hasil pengamatan.
BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Hasil pengamatan dari praktikum ini adalah :
Macam Pasangan Frekuensi Muncul
Merah-merah (MM) 13/1
Merah-putih (Mm) 24/2
Putih-putih (mm) 13/1

4.2 Analisi Data


a) Dominan Sempurna
Adapun proses penyilangan sebagai berikut :


P : × ♂
(MM)
(mm)
G : M m

F1 : Mm
(Merah)
F1 >< F1 = ♀ Mm >< Mm
Gamet = M >< M
m m
♀/♂ M m
MM Mm
M
(Merah) (Merah)
Mm Mm
m
(Merah) (Putih)

Perbandingan Genotipe F2 : = Mm : Mm : mm
=1:2:3
Perbandingan Fenotipe F2 : = Merah : Putih
=3:1

b) Dominan Tidak Sempurna


Adapun proses penyilangan sebagai berikut :

♀ ♂
P : ×
(MM) (mm)
G : M m

F1 : Mm
(Merah Muda)
F1 >< F1 = ♀ Mm >< Mm
Gamet = M >< M
m m

♀/♂ M m
MM Mm
M
(Merah) (Merah Muda)
Mm Mm
m
(Merah Muda) (Putih)

Perbandingan Genotipe F2 : = Mm : Mm : mm
=1:2:1
Perbandingan Fenotipe F2 : = Merah : Putih
=1:2:1
4.3 Pembahasan
Hukum Mendel I dikenal sebagai hukum Segregasi. Selama proses meiosis
berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan
tidak berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel
gamet. Proses pemisahan gen secara bebas dikenal sebagai segregasi bebas.
Hukum Mendel I dikaji dari persilangan monohybrid (Syamsuri, 2004).

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pasangan merah-merah


muncul sebanyak 13/1x, merah-putih sebanyak 24/1x, dan putih-putih
sebanyak 13/1x. Pembentukan Gamet pasangan-pasangan gen sel alel saling
berpisah. Pemisahan gen ini terjadi pada melosis berlangsung. Jadi didalam
setiap gamet hanya terdapar 1 sel kromosom. Hal ini dapat dikenal pada
Hukum Mendel I atau Hukum Pemisah sel alel

.
Fenotip merah (M) dominan sempurna terhadap fenotip putih (m) maka
persilangan monohibrid antar dua individu yang bersifat heterozigot
menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotipe = 3 : 1 .

Pada tabel persilangan tersebut semua kancing F 1 heterozigot berwarna merah


muda (Mm). Warna tersebut merupakan intermediot (antara merah dan putih).
Sifat-sifat tersebut bersifat intermediet atau dominan tidak sempurna, maka
didapatkan perbandingan fenotipnya yaitu = 1:2:1 (MM : Mm : mm).
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum mengenai konsep hukum mendel, dapat
disimpulkan bahwa data perbandingan pada hukum Mendel melalui media
kancing yang dibedakan dengan warna merah dan putih, jika sifat merah
dominan terhadap putih maka menghasilkan perbandingan 3:1, sedangkan
jika sifatnya intermediet atau dominan tidak sempurna maka akan
menghasilkan perbandingan 1:2:1.

5.2 Saran
Pada saat penghitungan data, diperlukan ketelitian, agar tidak terjadi
penyimpangan pada hukum Mendel.
DAFTAR PUSTAKA

Aassrafi, A. (2018). Percobaan Hukum Mendel. [Online]. Tersedia :


academia.edu/38055931/laporan_praktikum_percobaan_hukum_mendel_kan
cing_genetika. (Diakses pada 12 Oktober 2019).
Putri, P.O. (2018). Hukum Mendel. [Online]. Tersedia :
https://oktavianipratama.wordpress.com/science/biology/hukum-mendel/.
(Diakses pada 12 Oktober 2019).
Salviona, S. (2016). Prinsip Hukum Mendel. [Online]. Tersedia:
https://biologyeducationforcampus.wordpress.com/2016/06/14/prinsip-
hukum-mendel-1-2/. (Diakses pada 12 Oktober 2019).
Syamsuri. (2004). Biologi. Jakarta: Erlangga. Universitas Bengkulu.
Tim Pengampuh Mata Kuliah. (2019). Modul Praktikum Biologi Umum. Palu :
Universitas Tadulako.
Yatim, W. (1996). Biologi modern : biologi sel. Bandung: Tarsito.
LAMPIRAN
LEMBAR ASISTENSI

NAMA :
STAMBUK :
KELOMPOK :
ASISTEN : RISKA SEPTIANA

No Hari/tanggal Koreksi Paraf


.
1. Perbaiki Setelah itu
langsung print. Jangan lupa
di baca kembali sebelum
®
dikumpul ke asistennya

Anda mungkin juga menyukai