Anda di halaman 1dari 27

MATA KULIAH BAHASA INDONESIA

SEMESTER GENAP

TAHUN AKADEMIK

2019/20120

Oleh Kelompok 3 :

Ach. Sofyan Habibi 718511025


Sofiyan Yusuf 718511003
Syaiful Bahri 718511018
Zainurrahman 718511031
Nur Hadi

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS WIRARAJA

SUMENEP

2020
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
karunia dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Bahasa
Indonesia dengan lancar.

Adapun maksud penyusunan makalah ini untuk memenuhi tugas Bahasa


Indonesia. Rasa terima kasih penulis kepada yang terhormat Bapak Rusly, M. Pd
selaku dosen pengampu dari materi pembuatan tugas makalah ini, serta semua
pihak yang telah mendukung dalam penyusunan makalah ini yang tidak bisa
penulis sebutkan satu persatu.

Harapan penulis bahwa tugas besar ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang Ejaan Bahasa
Indonesia.

Penulis menyadari bahwa tugas besar ini masih jauh dari sempurna dengan
keterbatasan yang penulis miliki. Tegur sapa dari pembaca akan penulis terima
dengan tangan terbuka demi perbaikan dan penyempurnakan tugas besar ini.

                                                                   Sumenep, 18 Maret 2020

                                                                                     Penulis            

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..........................................................................................i


KATA PENGANTAR .......................................................................................ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................ii
BAB I : PENDAHULUAN.................................................................................4
1.1. Latar Belakang ...................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah ..............................................................................4
1.3. Tujuan ................................................................................................5
BAB II : PEMBAHASAN.................................................................................6
2.1. Pengertian Ejaan.................................................................................6
2.2. Aspek-aspek Ejaan..............................................................................6
2.3. Sejarah Ejaan......................................................................................7
2.4. Tujuan Penyempurnaan Ejaan............................................................11
2.5. Pemakaian Huruf Ejaan......................................................................11
2.6. Penulisan Huruf Ejaan........................................................................14
2.7. Pemakaian Kata Ejaan........................................................................16
2.8. Perkembangan Ejaan..........................................................................23
BAB III : PENUTUP..........................................................................................26
3.1. Kesimpulan.........................................................................................26
3.2. Saran...................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................27

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa Indonesia sudah lahir sejak dulu dan sudah dipergunakan oleh
masyrakat Indonesia sebelum kemerdekaan. Bahkan jauh sebelum itu. Tetapi
Bahasa Indonesia secara resmi digunakan atau disahkan yaitu pada tahun
1928. Tepat pada 28 Oktober 1928, ketika sumpah pemuda diikrarkan,
Bahasa Indonesia menjadi resmi sebagai Bahasa Nasional Indonesia.

Sebelum menjadi bahasa yang baik dan memilki ejaan yang baik dan
benar, bahasa Indonesia mengalami beberapa kali perubahan system ejaan.
Dimulai dari Ejaan Van Ophuysen pada 1901 menjadi Ejaan Republik atau
Ejaan Soewandi pada tahun 1947 hingga menghasilkan Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan pada tahun 1972 yang mana dipergunakan
hingga saat ini oleh seluruh masyrakat Indonesia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan, ejaan adalah kaidah-


kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat) di dalam bentuk
tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda-tanda baca. Oleh karena itu ejaan
perlu dipahami dan dibahas untuk menegetahui bagaimana sebenarnya ejaan
yang disempurnakan itu, untuk diketahui dan diaplikasikan kedalam penulisan
berbagai karya tulis.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan masalah diatas maka diangkatlah rumusan masalah sebagai
berikut:

1) Apa pengertian dari ejaan ?

2) Apa saja aspek-aspek ejaan ?

3) Bagaimana sejarah ejaan ?

4) Apa tujuan dari penyempurnaan ejaan ?

4
5) Bagaimana cara pemakaian huruf ejaan ?

6) Bagaimana cara penulisan huruf ejaan bahasa ?

7) Bagaimana cara pemakaian kata ejaan ?

8) Bagaimana perkembangan ejaan ?

1.3 Tujuan Masalah


Tujuan penulisan tugas akhir ini diantaranya adalah sebagai:

1) Untuk mengetahui pengertian dari ejaan ?

2) Untuk mengetahui aspek-aspek ejaan ?

3) Untuk mengetahui sejarah ejaan ?

4) Untuk mengetahui penyempurnaan ejaan ?

5) Untuk mengetahui cara pemakaian huruf ejaan ?

6) Untuk mengetahui cara penulisan huruf ejaan bahasa ?

7) Untuk mengetahui cara pemakaian kata ejaan ?

8) Untuk mengetahui perkembangan ejaan ?

5
BAB II

PEMBAHASAN
2. 1. Pengertian.
Ejaan merupakan penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-
menulis yang distandardisasikan. Lazimnya, ejaan mempunyai tiga aspek,
yakni aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf
dan penyusunan abjad.

Aspek morfologi yang menyangkut penggambaran satuan-satuan


morfemis dan aspek sintaksis yang menyangkut penanda ujaran tanda baca.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dinyatakan, ejaan adalah cara atau
aturan menuliskan kata-kata dengan huruf. Misalnya kata “huruf” dahulu
adalah “hoeroef”. Kata itu telah diatur dengan ejaan yang sesuai dan sekarang
yang dipergunakan adalah “huruf”.

Ejaan ada dua macam, yakni ejaan fenetis dan ejaan fomenis. Ejaan fenotis
merupakan ejaan yang berusaha menyatakan setiap bunyi bahasa dengan
huruf, serta mengukur dan mencatatnya dengan alat pengukur bunyi bahasa
(diagram).

Dengan demikian terdapat banyak lambing atau huruf yang dipergunakan


untuk menyatakan bunyi-bunyi bahasa itu. Ejaan fonemas adalah ejaan yang
berusaha menyatakan setiap fonem dengan satu lambing atau satu huruf,
sehingga jumlah lambing yang diperlukan tidak terlalu banyak jika
dibandingkan dengan jumlah lambing dalam ejaan fonetis.

2. 2. Aspek-aspek dalam ejaan.


a. Apek fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan
penyusunan abjad.
b. Aspek morfologis yang menyangkut penggambaran satuan-satuan
morfemis.
c. Aspek sintaknis yang menyangkut penanda ujaran berupa tanda baca.

6
2. 3. Sejarah Ejaan di Indonesia.
 Ejaan Van Ophuysen

Ejaan ini ditetapkan pada tahun 1901 yaitu ejaan bahasa


Melayu dengan huruf Latin. Van Ophuijsen merancang ejaan itu yang dibantu
oleh Engku NawawiGelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan
Ibrahim.

 Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, ejaan Van Ophuijsen


mengalami beberapa perubahan.Keinginan untuk menyempurnakan ejaan
Van Ophuijsen terdengar dalam Kongres Bahasa Indonesia I, tahun 1938 di
Solo.

Kemudian Pada tanggal 19 Maret 1947, Mr. Soewandi yang pada saat


itu menjabat sebagai Menteri Pengadjaran, Pendidikan, dan Kebudajaan
Republik Indonesia melalui sebuahPutusan Menteri Pengadjaran Pendidikan
dan Kebudajaan, 15 April 1947, tentang perubahan ejaan baru.meresmikan
ejaan baru yang dikenal dengan nama Ejaan Republik, yang menggantikan
ejaan sebelumnya.

Pada Kongres II Bahasa Indonesia tahun 1954 di Medan, Prof. Dr.


Prijono mengajukan Pra-saran Dasar-Dasar Ejaan Bahasa Indonesia dengan
Huruf Latin. Isi dasar-dasar tersebut adalah perlunya penyempurnaan kembali
Ejaan Republik yang sedang dipakai saat itu. Namun, hasil penyempurnaan
Ejaan Republik ini gagal diresmikan karena terbentur biaya yang besar untuk
perombakan mesin ketik yang telah ada di Indonesia.

 Ejaan Pembaharuan

Ejaan pemabahruan merupakan suatu ejaan yang direncanakan


untuk memperbaharui Ejaan Republik. Penyusunan itu dilakukan oleh Panitia
Pembaharuan Ejaan Bahasa Indonesia. Konsep Ejaan Pembaharuan yang
telah berhasil disusun itu dikenal sebuah nama yang diambil dari dua nama
tokoh yang pernah mengetuai panitian ejaan itu. Yaitu Profesor Prijono dan
E. Katoppo. Pada tahun 1957 panitia dilanjutkan itu berhasil merumuskan

7
patokan-patokan ejaan baru. Akan tetapi, hasil kerja panitia itu tidak pernah
diumumkan secara resmi sehingga ejaan itu pun belum pernah diberlakukan.
Salah satu hal yang menarik dalam konsep Ejaan Pembaharuan ialah
disederhanakannya huruf-huruf yang berupa gabungan konsonan dengan
huruf tunggal. Hal itu, antara lain tampak dalam contoh di bawah ini.

a) Gabungan konsonan dj diubah menjadi j

b) Gabungan konsonan tj diubah menjadi ts

c) Gabungan konsonan ng diubah menjadi ŋ

d) Gabungan konsonan nj diubah menjadi n

e) Gabungan konsonan sj diubah menjadi š

Selain itu, gabungan vokal (diftong) ai, au, dan oi, ditulis berdasarkan
pelafalannya yaitu menjadi ay, aw, dan oy.

 Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)

Usaha penyempurnaan ejaan terus dilakukan, termasuk bekerja sama


dengan Malaysia dengan rumpun bahasa Melayunya pada Desember 1959.
Dari kerjasama ini, terbentuklah Ejaan Melindo yang diharapkan
pemakaiannya berlaku di kedua negara paling lambat bulan Januari 1962.
Namun, perkembangan hubungan politik yang kurang baik antar dua negara
pada saat itu, ejaan ini kembali gagal diberlakukan.

Pada awal Mei 1966 Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK) yang
sekarang menjadi Pusat Bahasa kembali menyusun Ejaan Baru Bahasa
Indonesia. Namun, hasil perubahan ini juga tetap banyak mendapat
pertentangan dari berbagai pihak sehingga gagal kembali.

 Ejaan Bahasa Indonesia LBK

Ejaan Baru atau Ejaan LBK (Lembaga Bahasa dan Kesusastraan,


pendahulu Pusat Bahasa) adalah ejaan bahasa Indonesia yang dikeluarkan
pada tahun 1967. Ejaan ini adalah kelanjutan dari Ejaan Melindo. Anggota
pelaksananya pun, selain dari panitia LBK, juga beranggotakan panitia dari

8
Malaysia. Ejaan ini tidak memiliki banyak perbedaan dengan EYD kecuali
pada perincian-perincian kaidah saja.

Gabungan panitia yang diketuai oleh Anton M. Moeliono saat itu


berhasil merumuskan suatu konsep ejaan yang kemudian diberi nama Ejaan
Baru. Ejaan ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Sarino
Mangunpranoto, dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.062/67,
tanggal 19 September 1967.

Perubahan yang terdapat pada Ejaan Baru atau Ejaan LBK, antara lain

a. Huruf ‘tj’ diganti ‘c’, j diganti ‘y,’ ‘nj’ diganti ‘ny,’

b. ‘sj ‘menjadi ‘sy,’ dan ‘ch’ menjadi ‘kh.’

c. Huruf asing: ‘z,’ ‘y,’ dan ‘f’ disahkan menjadi ejaan bahasa Indonesia. Hal
ini disebabkan pemakaian yang sangat produktif.

d. Huruf ‘e’ tidak dibedakan pepet atau bukan, alasannya tidak banyak kata
yang berpasangan dengan variasi huruf ‘e’ yang menimbulkan salah
pengertian.

 Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia


meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu
berdasarkan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokanpemakaian ejaan itu.

Karena penuntutan itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan


Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk
oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat keputusannya tanggal
12 Oktober 1972, No. 156/P/1972, menyusun buku Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan
yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan
surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedomaan Umum Ejaan

9
Bahasa Indonesia yang Disempurkan dan Pedoman Umum Pembentukan
Istilah.

Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi


dikuatkan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.
0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987. Beberapa hal yang perlu
dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan.

Sebagaimana yang telah umum diketahui, Ejaan van Ophuysen sesuai


dengan namanya diprakarsai oleh Ch. A. van Ophuysen, seorang
berkebangsaan Belanda. Ejaan ini mulai diberlakukan sejak 1901 hingga
munculnya Ejaan Soewandi. Ejaan van Ophuysen ini merupakan ejaan yang
pertama kali berlaku dalam bahasa Indonesia yang ketika itu masih bernama
bahasa Melayu. Dan ini menjadi dasar dan asal terbentuknya Bahasa
Indonesia.

Sebelum ada ejaan tersebut, para penulis menggunakan aturan sendiri-


sendiri di dalam menuliskan huruf, kata, atau kalimat. Oleh karena itu, dapat
dipahami jika tulisan mereka cukup bervariasi. Akibatnya, tulisan-tulisan
mereka itu sering sulit dipahami. Kenyataan itu terjadi karena belum ada
ejaan  yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam penulisan. Dengan
demikian, ditetapkannya Ejaan van Ophuyson merupakan hal yang sangat
bermanfaat pada masa itu.

Setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dan


diproklamasikan menjadi negara yang berdaulat, para ahli bahasa merasa
perlu menyusun ejaan lagi karena tidak puas dengan ejaan yang sudah ada.
Ejaan baru yang disusun itu selesai pada tahun 1947, dan pada tanggal 19
Maret tahun itu juga diresmikan oleh Mr. Soewandi selaku Menteri PP&K
(Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan). Ejaan baru itu disebut Ejaan
Republik dan dikenal juga dengan nama Ejaan Soewandi.

Sejalan dengan perkembangan kehidupan bangsa Indonesia, kian


hari dirasakan bahwa Ejaan Soewandi perlu lebih disempurnakan lagi. Karena

10
itu, dibentuklah tim untuk menyempurnakan ejaan tersebut. Pada tahun 1972
ejaan itu selesai dan pemakaiannya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada
tanggal 16 Agustus 1972 dengan nama Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan (EYD).

Hingga sekarang EYD menjadi dasar dan kaidah Bahasa Indonesia


terutama dalam penulisan. Semua kalangan menggunakan EYD sebagai ejaan
yang benar dalam setiap tulisan ataupun karya tulis. Dan sering kita lihat
kalau setiap syarat suatu karya tulis adalah sesuai dengan EYD. Berikut tabel
dibawah adalah perbedaan ketiga ejaan diatas dalam aspek penghurufan.

2. 4. Tujuan Penyempurnaan Ejaan Bahasa Indonesia.


a) Menyesuaikan ejaan bahasa Indonesia dengan perkembangan bahasa
Indonesia.
b) Membina ketertiban dalam penulisan dan tanda baca.
c) Memulai usaha pembakuan bahasa Indonesia secara menyeluruh.
d) Mendorong pengembangan bahasa Indonesia.

2. 5. Pemakaian Huruf Ejaan Bahasa Indonesia.


 Abjad

Jenis huruf dan nama yang digunakan dalam sistem EYD ialah sebagai
berikut:

11
EYD menggunakan 26 huruf dan setiap huruf melambangkan fonem
tertentu.ke-26 huruf ini dapat digolongkan ke dalam dua bagian yaitu vocal dan
konsonan.

 Vokal

 Konsonan

12
 Diftong

 Persukuan

Di bawah ini dicantumkan pola persukuan kata dalam bahasa indonesia


seperti yang tercantum dalam buku Pedoman Umun Jean Bahasa Indonesia
Yang Disempurnakan sebagai berikut.setiap suku kata dalam bahasa Indonesia
ditandai oleh sebuah vocal.vokal ini dapat didahului atau diikuti oleh
konsonan.

Pemisahan suku kata pada kata dasar adalah sebagai berikut:

1. Kalau di tengah kata ada dua vocal yang berurutan,pemisahan tersebut


dilakukan  diantara kedua vocal itu.contoh: ma-af,bu-ah,ri-ang.
2. Kalau di tengah kata ada konsonan di antara dua vocal,pemisahan tersebut
dilakukan sebelum konsonan itu.contoh: a-nak,a-pa,a-gar.oleh karena
ng,sy,ny dan kh melambangkan satu konsonan,pemisahan suku kata
terdapat sebelum atau sesudah pasangan huruf itu.contoh : sa-ngat,nyo-
nya,isya-rat.

3. Kalau di tengah kata ada dua konsonan yang berurutan,pemisahan terdapat


diantara kedua konsonan itu.contoh: man-di,tem-pat,lam-bat,ker-tas.

4. Kalau di tengah kata ada tiga konsonan atau lebih,pemisahan tersebut


diantara konsonan yang pertama (termasuk ng)dengan konsonan
kedua.contoh:in-stru-men,bang-krut,ul-tra.

13
 Nama Diri

Penulisan nama-nama sungai,gunung,jalan,kota,dan sebagainya


disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Misalnya: Kali Brantas,
Danau Singkarak, Jalan Diponegoro, dan Sungai Citarum

Nama orang badan hukum,dan nama diri diri lain yang sudah lazim
disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan kecuali bila ada pertimbangan
khusus.Misalnya: Universitas Negeri Medan, Institut Teknologi Bandung,
S.Soebardi.

2. 6. Penulisan Huruf Ejaan Bahasa Indonesia.


Penulisan huruf dalam ejaan menyangkut dua hal, yaitu pemakaian
huruf kapital atau huruf besar dan pemakaian huruf miring.

 Huruf Kapital

Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama pada hal-hal berikut.

1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat dan
petikan langsung. Misalnya: Anak saya sedang bermain di halaman.
2. Ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci,
termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Contoh: Allah, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen

3. Nama gelar kehormatan dan keagamaan yang diikuti nama orang beserta
unsur nama jabatan dan pangkat.Misalnya:Mahaputra
Yamin, Raden Ajeng Kartini, Nabi Ibrahim, Presiden Megawati, Jenderal
Sutjipto, Haji Agus Salim

4. Nama orang, nama bangsa, suku bangsa, bahasa, dan nama tahun, bulan,
hari, hari raya, peristiwa sejarah, serta nama-nama
geografi.Misalnya:Hariyati Wijaya, suku Jawa

14
5. Unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, dokumen
resmi, serta nama buku, majalah, dan surat
kabar.Contoh:Republik Indonesia

6. Unsur singkatan nama gelar, pangkat, sapaan, dan nama kekerabatan yang
dipakai sebagai sapaan. Contoh:S. (sarjana sastra)

Di samping yang telah disebutkan di atas, huruf kapital juga digunakan


sebagai huruf pertama kata ganti Anda.

Sehubungan dengan penulisan karya tulis, judul karya tulis, baik yang
berupa laporan, makalah, skripsi, disertasi, kertas kerja, maupun jenis karya
tulis yang lain, seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. Selain itu, huruf kapital
seluruhnya juga digunakan dalam penulisan hal-hal berikut:

 judul kata pengantar atau prakata;


 judul daftar isi;

 judul grafik, tabel, bagan, peta, gambar, berikut judul daftarnya masing-
masing;

 judul daftar pustaka;

 judul lampiran.

Dalam hubungan itu, judul-judul subbab atau bagian bab huruf pertama
setiap unsurnya juga ditulis dengan huruf kapital, kecuali yang berupa kata
depan dan partikel seperti, dengan, dan, di, untuk, pada, kepada, yang, dalam,
dan sebagai.

 Huruf Miring

Huruf miring (dalam cetakan) atau tanda garis bawah (pada tulisan
tangan/ketikan) digunakan untuk menandai judul buku, nama majalah, dan
surat kabar yang dipakai dalam kalimat.

15
Contoh: Masalah itu sudah dibahas Sutan Takdir Alisjabana dalam
bukunya yang berjudul Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia.

Berbeda dengan itu, judul artikel, judul syair, judul karangan dalam
sebuah buku (bunga rampai), dan judul karangan atau naskah yang belum
diterbitkan, penulisannya tidak menggunakan huruf miring, tetapi
menggunakan tanda petik sebelum dan sesudahnya. Dengan kata lain,
penulisan judul-judul itu diapit dengat tanda petik.

Contoh: Sajak “Aku” dikarang oleh Chairil Anwar.

Sesuai dengan kaidah, kata-kata asing yang ejaannya belum disesuaikan


dengan ejaan bahasa Indonesia atau kata-kata asing yang belum diserap ke
dalam bahasa Indonesia juga harus ditulis dengan huruf miring jika digunakan
dalam bahasa Indonesia. Misalnya, kata go public, devide et impera,
dan sophisticated pada contoh berikut.

1. Dewasa ini banyak perusahaan yang go public.


2. Kata asing sophisticated berpadanan dengan kata Indonesia

Berbeda dengan itu, kata-kata serapan seperti sistem, struktur, efektif,


dan efisien tidak ditulis dengan huruf miring karena ejaan kata-kata itu telah
disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia. Dengan kata lain, kata-kata
serapan semacam itu telah diperlakukan seperti halnya kata-kata asli bahasa
Indonesia.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, banyak pula dikenal nama-nama ilmiah


yang semula berasal dari bahasa asing. Nama-nama ilmiah semacam itu jika
digunakan dalam bahasa Indonesia juga ditulis dengan huruf miring karena
ejaannya masih menggunakan ejaan bahasa asing.Misalnya: Manggis
atau Carcinia mangostana banyak terdapat di pulau Jawa.

Pada nama-nama ilmiah semacam itu huruf kapital hanya digunakan


pada unsur yang pertama, sedangkan unsur selebihnya tetap ditulis dengan
huruf kecil

16
2. 7. Pemakaian Kata Ejaan Bahasa Indonesia.
 Kata Dasar

Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. “Contoh: pagar, rumah, tanah,
sedang.”

kata dasar adalah kata yang belum diberi imbuhan. Dengan kata lain,
kata dasar adalah kata yang menjadi dasar awal pembentukan kata yang lebih
besar. Contohnya adalah makan, duduk, pulang, tinggal, datang, minum,
langkah, pindah, dan lain – lain.

Kata dasar bisa membentuk satu kesatuan kalimat, yaitu:

1. Ular yang mati itu sangat panjang .

2. Aku pergi ke sekolah dengan ayah.

3. Budi datang ke rumahku dengan sangat cepat.

4. Kakak suka makan kue bakpia dari kota Jogjakarta.

5. Ayah sampai di rumah jam 9 malam, ketika aku sedang tidur.

 Kata turunan

Kata turunan atau disebut dengan kata berimbuhan adalah kata – kata
yang telah beruba bentuk dan makna. Perubahan ini dikarenakan kata – kata
tersebut telah diberi imbuhan yang berupa awalan (afiks), akhiran (sufiks),
sisipan (infiks), dan awalan – akhiran (konfiks). Contohnya adalah menanam,
berlari, tertinggal, dan lain – lain.

1. Imbuhan (awalan,akhiran,sisipan)ditulis serangkai dengan kata dasar.


Contoh: berduri, diangkat, penetapan, mempermainkan, bergerigi.
2. Awalan dan akhiran ditulis serangkai dengan katayang langsung
mengikutinya atau mendahuluinya bila bentuk dasarnya gabungan kata.
Contoh: bertanggung jawab, serah terima, membabi buta.

3. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan
dan akhiran maka kata-kata itu ditulis serangkai. Contoh:penyalahgunaan,
memberitahukan, diserahterimakan, mempertanggungjawabkan.

17
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi,maka
gabungan itu ditulis serangkai. Contoh: pancasila, nonaktif, antarkota,
inkonvensional, amoral, subpokok ,multilateral transmigrasi, infrastruktur,
swadaya, tunanetra,dan kolonialisme

 Penulisan Gabungan Kata

Gabungan kata atau yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah
khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.

Misalnya:

Baku                                       Tidak Baku

tanda tangan                           tandatangan

tanggung jawab                       tanggungjawab

Berbeda dengan itu, gabungan kata yang maknanya sudah dianggap


padu unsur-unsurnya ditulis serangkai. Beberapa contohnya dapat diperhatikan
pada daftar berikut.

Baku                                                   Tidak Baku

acapkali                                               acap kali

daripada                                              dari pada

Gabungan kata lain yang salah satu unsurnya berupa unsur terikat
ditulis serangkai. Unsur terikat yang dimaksud, misalnya, pasca-, antar-,
panca-, nara-, dan pramu-.  Beberapa contoh penulisannya dapat diperhatikan
di bawah ini.

Unsur Terikat                           Baku                             Tidak


Baku

pasca-                                            pascaperang                 pasca
perang

18
antar-                                           antarkota                       antar
kota

Kata bilangan yang berasal dari bahasa Sanskerta juga dipandang sebagai
unsur yang terikat. Oleh karena itu, penulisannya pun harus diserangkaikan
dengan unsur yang menyertainya. Misalnya:

Unsur Terikat                           Baku                             Tidak


Baku

dwi-                                               dwifungsi                       dwi


fungsi

tri-                                                 tridarma                        tri
darma

Beberapa unsur terikat lain yang penulisannya harus diserangkaikan


dengan unsur yang mengikutinya adalah a-, adi-, anti-, awa-, audio-, bi-,
ekstra-, intra-, makro-, mikro-, mono-, multi-, poli-, pra-, purna-, semi-, sub-,
supra-, kontra-, non-, swa-, tele-, trans-, tuna-, dan ultra-.

Dalam penulisan unsur terikat perlu dipahami bahwa unsur terikat tertentu
apabila dirangkaikan dengan unsur lain yang berhuruf kapital harus diberi
tanda hubung di antara kedua unsur itu. Misalnya:

non-ASEAN, bukan non ASEAN, non ASEAN

non-Islam, bukan non Islam, nonIslam

 Penulisan Bentuk Ulang

Sejalan dengan kaidah yang berlaku sekarang, angka dua tidak


digunakan sebagai penanda perulangan. Dalam penulisan bentuk ulang, bagian-
bagian kata yang diulang ditulis seluruhnya secara lengkap dengan disertai
tanda hubung di antara unsur-unsur yang diulang. Dengan demikian, dalam
tulisan-tulisan yang bersifat resmi, seperti naskah buku, laporan penelitian,
laporan kegiatan, skripsi, dan berbagai karya tulis resmi yang lain, kata ulang

19
harus ditulis secara lengkap, tidak menggunakan angka dua. Misalnya, macam-
macam.

Seperti halnya bentuk ulang yang lain, bentuk ulang yang mengalami
perubahan fonem pun unsur-unsurnya yang diulang ditulis seluruhnya dengan
disertai tanda hubung di antara keduanya. Jadi, unsur yang diulang itu tidak
ditulis dengan menggunakan angka dua ataupun ditulis tanpa menggunakan
tanda hubung. Misalnya:

              Baku                                                         Tidak Baku

gerak-gerik                                               gerak gerik

sayur-mayur                                             sayur mayur

Sejalan dengan hal tersebut, bentuk-bentuk di bawah ini, yang lazim


disebut kata ulang semu, juga ditulis secara lengkap dengan menyertakan tanda
hubung. Misalnya:

               Baku                                                         Tidak Baku

kura-kura                                                   kura2, kura kura

paru-paru                                                  paru2, paru paru

 Penulisan Kata Depan

Kata depan adalah kata-kata yang secara sintaksis diletakan sebelum


kata benda, kata kerja atau kata keterangan dan secara semantis kata depan
menandakan berbagai hubungan makna anatar kata depan dan kata yang ada
dibelakangnya.

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya


kecuali dalam gabungan kata, seperti kepada dan daripada.

20
Jika di dan ke berupa awalan maka ditulis serangkai dengan kata dasarnya,
seperti kata dikelola dan ketujuh.

 Penulisan Singkatan atau Akronim

Istliah singkatan berbeda dengan akronim. Singkatan ialah kependekan


yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik dilafalkan huruf demi huruf
maupun dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya. Beberapa singkatan yang
dilafalkan huruf demi huruf dapat diperhatikan pada contoh berikut.

Singkatan                                     Pelafalannya

SMP                                              [es-em-pe]

UGM                                             [u-ge-em]

Singkatan yang dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya, misalnya:

Singkatan                                                Pelafalannya

Bpk.                                             [bapak], bukan [be-pe-ka]

Singkatan yang berupa gabungan huruf awal suatu kata, dalam kenyataan
berbahasa, sering ditulis dengan disertai tanda titik pada masing-masing
hurufnya, seperti yang terdapat pada contoh berikut.        

K.B.                                       keluarga berencana

S.D.                                        sekolah dasar

Penulisan singkatan itu tidak tepat karena singkatan yang berupa


gabungan huruf awal suatu kata tidak diikuti tanda titik, kecuali singkatan
nama gelar akademik dan singkatan nama orang. Dengan demikian, penulisan
tersebut yang benar adalah LKMD, KB, SD, dan PT.

Selain singkatan umum seperti di atas, ada pula yang disebut singkatan


lambang, yaitu suatu bentuk singkatan yang terdiri atas satu huruf atau lebih
yang melambangkan konsep dasar ilmiah, seperti kuantitas, satuan, dan unsur.

21
Dalam pemakaian dan penulisannya, singkatan lambang berbeda
dengan singkatan lain. Perbedaan itu tidak hanya terletak pada cara
penulisannya, tetapi juga penandaannya. Dalam hal ini, penulisan dan
penandaan singkatan lambang pada umumnya disesuaikan dengan peraturan
internasional karena pemakaiannya pun bersifat internasional. Secara umum,
singkatan lambang tidal diikuti tanda titik. Misalnya: 

m                                   meter

Akronim ialah kependekan yang berupa gabungan hurf awal, gabungan


suku kata, atau gabungan huruf awal dan suku kata,  yang ditulis dan dilafalkan
seperti halnya kata biasa. Misalnya:

              siskamling                     sistem keamanan lingkungan

Depdiknas                     Departemen Pendidikan Nasional

Akronim lain yang berupa gabungan huruf awal suatu kata, seperti
halnya singkatan yang berupa gabungan huruf awal, seluruhnya ditulis dengan
huruf kapital dan tidak diikuti tanda titik. Misalnya:

              ABRI                             Angkatan Bersenjata Republik


Indonesia

IKIP                               institut keguruan dan ilmu pendidikan

 Penulisan Unsur Serapan

Bahasa Indonesia berkembang sangat pesat, dan dalam


pekembangannya itu bahasa Indonesia banyak menyerap bahasa atau ejaan lain
dari berbagai bahasa di dunia. Seperti bahasa Arab, Belanda, Sanskerta,
Portugis, dan Inggris.

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka. Maksudnya ialah bahwa


bahasa ini banyak menyerap kata-kata dari bahasa lainnya. Sehingga banyak
kata serapan Bahasa Indonesia dari berbagai bahasa seperti berikut ini:

22
Berasarkan taraf integrasinya unsure serapan dalam bahasa Indonesia
dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:

1. Unsur asing yang belum sepenuhnya terserap kedalam Bahasa Indonesia.


Unsur-unsur serapan ini dipakai dalam konteks Bahasa Indonesia tetapi
pengucapannya masih mengikuti cara bahasa asing. Contoh: reshuffle,
shuttle cock.
2. Unsure asing yang pengucapannya dan penulisannya disesuaikan dengan
kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaan asing hanya
diubah seperlunya sehingga bentuk indonesianya masih dapat
dibandingkan dengan bentuk asalnya.

2. 8. Perkembangan Ejaan Bahasa Indonesia.


 Perkembangan Awal Revisi 1987

Pada tahun 1987, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.
0543a / U / 1987 tentang perbaikan “Spelling Pedoman Umum Indonesia
Ditingkatkan”. Keputusan Menteri ini meningkatkan EYD edisi 1975.

 Perkembangan Awal Revisi 2009

Pada tahun 2009, Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan Menteri


Pendidikan Nasional Peraturan Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan. Dengan dikeluarkannya
peraturan ini, di EYD 1987 edisi berubah dan tidak lagi berlaku.

23
 Perbedaan dengan ejaan sebelumnya

Perubahan yang terdapat pada Ejaan Baru atau Ejaan LBK (1967),
antara lain:

1. “dj” menjadi “j”: djarak → jarak


2. “ch” menjadi “kh”: achir → akhir

3. “sj” menjadi “sy” : sjarat → syarat

4. “j” menjadi “y” : sajang → sayang

5. “tj” menjadi “c” : tjutji → cuci

6. “nj” menjadi “ny” : njamuk → nyamuk

Beberapa kebijakan baru yang ditetapkan dalam EYD, antara lain:

1. F, v, dan z adalah penyerapan unsur-unsur bahasa asing yang diresmikan.


2. Surat-surat q dan x biasanya digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan
terus digunakan, misalnya, furqan kata, dan xenon.

3. Awalan “di-” dan kata berikutnya “dalam” tulis dibedakan. Preposisi “di”
dalam contoh di rumah, di ladang, tulisan dipisahkan oleh spasi, sementara
“yang” dibeli atau dimakan dalam seri ditulis dengan kata-kata yang
mengikuti.

4. Re-ditulis kata penuh dengan elemen mengulangi. Dyad tidak digunakan


sebagai penanda kekambuhan

Secara umum, hal-hal yang diatur dalam EYD adalah:

 Menulis surat, termasuk modal dan miring.


 Menulis kata-kata.

 Menulis tanda baca.

 Menulis singkatan dan akronim.

24
 Menulis angka dan nomor simbol.

 Menulis elemen penyerapan.

Sebelumnya “oe” sudah menjadi “u” saat Ejaan Van Ophuijsen diganti
dengan Republik Spelling. Jadi sebelum EYD, “oe” tidak digunakan. Untuk
penjelasan lebih lanjut tentang menulis tanda baca, menulis dapat dilihat pada
tanda baca EYD yang tepat.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang memiliki ejaan yang telah


disesuaikan. Ejaan tersebut memiliki perubahan yaitu sebanyak tiga kali setelah
bahasa itu digunakan sebagai bahasa nasional. Ketiga sistem ejaan itu
menhasilkan ejaan yang baku dan dipergunakan sampai saat ini oleh setiap
orang terutama akademisi, penulis, wartawan dan lain sebagainya. ejaan itu
adalah Ejaan yang disempurnakan (EYD).

Dalam Ejaan Bahasa Indonesia, banyak hal yang harus dilihat dan
dipahami. Karena begitu rumit dan banyak jika dilihat dari segi huruf, kata,
kalimat, tanda baca baik dalam pemakaian, penulisan dan pelafalannya. Huruf
memiliki banyak cara penulisan dan pemakaian, seperti abjad yang merupakan
vocal dan konsona, diftong, persukuan, dan nama diri. Sedangkan
penulisannya, digunakan pada huruf capital dan huruf miring. Demikian juga
kata, memilki kaidah pemakaian yang diatur dalam ejaan bahasa Indonesia.
Seperti, kata dasar, turunan, gabungan, kata ganti, singkatan dan akronim.

Untuk penulisan huruf menjadi kata dan kata menjadi kalimat, perlu
digunakan tanda baca. Tanda baca memiliki peran penting dan itu sudah diatur
dalam ejaan bahasa Indonesia.

25
BAB III
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan

Ejaan merupakan penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis


yang distandardisasikan. EYD (Ejaan yang Disempurnakan) merupakan tata
bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahsa indonesia
dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf kapital dan huruf
miring, serta penulisan unsur serapan. Perkembangan ejaan di Indonesia telah
mengalami beberapa pergantian, mulai dari ejaan Van Ophuysen hingga ejaan
yang disempurnakan (EYD).

5.2. Saran

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai pelajar untuk selalu mengingatkan


kepada masyarakat guna dapat menggunakan kaidah tata bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Karena bagaimanapun bahasa memiliki peran peting
dalam proses pembangunan karakter masyarakat. Dengan mempelajari ejaan,
maka proses pembelajaran, pemahaman, dan penulisan bahasa Indonesia akan
menjadi lebih mudah.

26
DAFTAR PUSTAKA

Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa


Indonesia (PUEBI).

Rusliy. 2017. Handout Bahasa Indonesia. Tidak Diterbitkan.

https://www.gurupendidikan.co.id/ejaan-bahasa-indonesia/ (di akses pada tanggal


20 maret 2020)

https://duniakampus7.blogspot.com/2014/03/pengertian-ejaan-bahasa-
indonesia.html?m=1 (di akses pada tanggal 15 maret 2020)

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ejaan_Pembaharuan (di akses pada tanggal 15


maret 2020)

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ejaan_Baru (di akses pada tanggal 15 maret 2020)

27

Anda mungkin juga menyukai