Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ................................................................................................ i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................................1

B. Rumusan Masalah.. ......................................................................................1

C. Tujuan...........................................................................................

D. Manfaat Penulisan………………………..

BAB II PEMBAHASAN

A. Proses Berfikir …………………...……………………………………

B. Kegiatan Berfikir …………………………………………………..

C. Macam-Macam Berfikir………………………………………………...

D. Tingkatan Berfikir………………………………………….………….

BAB III PENUTUP

Kesimpulan ...................................................................................................

Saran …………………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berpikir merupakan suatu hal alamiah manusia. Disadari atau tidak, berpikir
melekat dalam kehidupan setiap manusia setiap harinya. Secara psikologis, pada
dasarnya manusia itu selalu memiliki keunikan dalam berpikir. Valentine (dalam
Kuswana, 2013: 2) mengartikan berpikir dalam kajian psikologis sebagai proses dan
pemeliharaan aktivitas yang berisi mengenai makna yang dihubungkan dengan
gagasan-gagasan yang diarahkan kepada tujuan. Kuswana (2012: 5) berpendapat
bahwa berpikir merupakan usaha setiap individu untuk mengkonstruksi kembali atau
manipulasi kognitif informasi yang berasal dari alam sekitar maupun dari simbol-
simbol yang di simpan dalam memori manusia.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan proses berfikir?

2. Bagaimana kegiatan berfikir?

3. Apa saja macam-macam berfikir?

4. Apa saja tingkatan dalam berfikir?

C. TUJUAN

Tujuan kami membuat makalah ini untuk mengetahui:


1. Pengertian proses berfikir
2. Kegiatan berfikir
3. Macam-macam berfikir
4. Tingkatan berfikir
D. MANFAAT PENULISAN

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan


pengetahuan bagi para pembaca tentang apa dan bagaimana melakukan proses
berpikir.
BAB II

PEMBAHASAN

A. PROSES BERFIKIR

Berfikir adalah proses mental yang memungkinkan manusia untuk


menghadapi kehidupan sehingga dapat menghadapinya secara efektif sesuai dengan
tujuan,rencana, dan keinginan manusia. Kata-kata yang mengacu pada konsep dan
proses yang serupa dalam bahasa inggris termasuk kignisi, kesanggupan merasa,
kesadaran, ide dan imajinasi. Berfikir melibatkan manipulasi otak dalam mengolah
informasi. Berfikir adalah peningkatan fungsi kognitif dan analisis proses berfikir
merupakan bagian dari psikologi kognitif.

Berfikir adalah kegiatan penalaran mengeksplorasi pengalaman dengan suau


maksud tertentu. Makin luas pengalaman atau pengetahuan yang dieksplorasi, maka
makin jauh dan mendalam juga proses berfikir yang harus dijalani. Proses berfikir ini
dimaksudkan untuk mengabstraksi objek penelitian menjadi sebuah hipotesis atau
informasi. Berfikir adalah sumber gejala pengetahuan, pengetahuan yang dihasilkan
memberikan umpan balik pada proses berfikir, sehingga ada interaksi antara proses
berfikir dan pengetahuan. Taraf berfikir menentukan tingkat pengetahuan, sebaliknya
tingkat pengetahuan menentukan taraf berfikir.

Proses berfikir yang ada pada diri manusia adalah berdialog dengan diri
sendiri dalam batin dengan manifestasinya adalah mempertimbangkan, merenungkan,
menganalisis, menunjukka alasan, membuktikan sesuatu, menggolongkan,
membandingkan, menarik kesimpulan, dsb. Berfikir merupakan suatu bentuk
kegiatan akal atau rasio manusia dimana pengetahuan yang diterima melalui panca
indra diolah dan ditunjukkan untuk mencapai suatu kebenaran. Pada aktivitas berfikir
itulah ditunjukkan dalam logika wawasan berfikir yang tepat atau ketepatan
pemikiran/kebenaran berfikir yang sesuai dengan penggarisan logika yang disebut
berfikir logis.

Dalam berfikir akan mendapatkan sebuah informasi baik informasi yang di


ambil dalam memori yang lalu atau sudah informasi yang baru didapatkan, dapat kita
contohkan saat kita belajar psikologi kognitif kita banyak mengingat tentang otak dan
otak itu sudah dipelajari saat sma hingga dapat mengambil informasi-informasi yang
lalu saat masih di sma dahulu. Proses berfikir ini sudah ada pada sejak didalam
kandungan contohnya didalam kandungan bayi dapat mendengar suara-suara ibunya
dan informasi itu masuk kedalam memorinya sehingga terjadi respon dari bayi
didalam kandungan tersebut.

Psikologi kognitif merupakan hal yang harus difahami dengan baik karena
dengan proses berfikir manusia dapat belajar dari kesalahan dimasa lalu dan dari ini
kesalahan tersebut menjadi bahan informasi di masa depan agar tidak terulang
kembali kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan .Dari berfikir juga dapat
mengembangkan ide-ide yang cemerlang dan manusia juga dapat belajar suatu hal
yang baru tentang cara-cara manusia berfikir ketika mempelajari bagaimana manusia
memikirkan tentang berfikir. Banyak sekali pengertian-pengertian tentang kognisi
(berfikir) diantaranya adalah:

a. Neiser : kegiatan manusia untuk mengetahui , memperoleh, mengorganisasikan dan


menggunakan pengetahuan.

b. Anderson : memahami mekanisme dalam berfikir manusia.

Proses atau jalannya berpikir itu pada pokoknya ada tiga langkah, yaitu :
1. Pembentukan Pengertian
Pengertian, atau lebih tepatnya disebut pengertian logis di bentuk melalui tiga
tingkatan, sebagai berikut:
a. Menganalisis ciri-ciri dari sejumalah obyek yang sejenis. Obyek tersebut kita
perhatikan unsur – unsurnya satu demi satu. Misalnya maupun membentuk pengertian
manusia. Kita ambil manusia dari berbagai bangsa lalu kita analisa ciri-ciri misalnya :
Manusia Indonesia, ciri – cirinya :
* Mahluk hidup
* Berbudi
* Berkulit sawo mateng
* Berambut hitam
* Dan sebagainya
Manusia Eropa, ciri – cirinya :
* Mahluk hidup
* Berbudi
* Berkulit Putih
* Berambut pirang atau putih
* Bermata biru terbuka
* Dan sebagainya
Manusia Negro, ciri – cirinya:
* Mahluk hidup
* Berbudi
* Berkulit htam
* Berambut hitam kriting
* Bermata hitam melotot
* Dan sebagainya
Manusia Cina, ciri – cirinya:
* Mahluk Hidup
* Berbudi
* Berkulit kuning
* Berambut hitam lurus
* Bermata hitam sipit
* Dan sebagainya
Dan manusia yang lain – lainnya lagi.
b. Membanding – bandingkan ciri tersebut untuk diketemukan ciri – ciri mana yang
sama, mana yang tidak sama, mana yang selalu ada dan mana yang tidak selalu ada
mana yang hakiki dan mana yang tidak hakiki.
c. Mengabstraksikan, yaitu menyisihkan, membuang, ciri-ciri yang tidak hakiki,
menangkap cirri-ciri yang hakiki. Pada contoh di atas ciri – ciri yang hakiki itu ialah:
Makhluk hidup yang berbudi.

2. Pembentukan Pendapat
Membentuk pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau
lebih. Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat, yang terdiri dari
pokok kalimat atau subyek dan sebutan atau predikat. Selanjutnya pendapat dapat
dibedakan menjadi 3 macam yaitu :

a.) Pendapat Afirmatif atau positif, yaitu pendapat yang menyatakan keadaan
sesuatu, Misalnya Sitotok itu pandai, Si Ani Rajin dan sebagainya.

b.) Pendapat Negatif, Yaitu Pendapat yang menidakkan, yang secara tegas
menerangkan tentang tidak adanya seuatu sifat pada sesuatu hal : Misalnya Sitotok itu
Bodoh Si Ani Malas dan sebagainya.

c.) Pendapat Modalitas atau kebarangkalian, Yaitu Pendapat yang menerangkan


kebarangkalian, kemungkinan – kemungkinan sesuatu sifat pada sesuatu hal ;
misalnya hari ini mungkin hujan, Si Ali Mungkin tidak Datang. Dan sebagainya.

3. Penarikan Kesimpulan atau Pembentukan Keputusan


Keputusan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan
pendapat-pendapat yang telah ada.

B. KEGIATAN BERFIKIR
Pada kegiatan berpikir (akal budi) tingkat pertama yang terjadi adalah akal
budi secara langsung melihat, mempersepsi, menangkap atau mengerti sesuatu atau
obyek tertentu. Hal ini terjadi baik melalui panca indera maupun melalui kegiatan
berpikir itu sendiri. Kegiatan ini menghasilkan terbentuknya “idea” atau “gagasan”
atau “konsep” tentang hal atau obyek tertentu. Ide atau gagasan atau konsep ini
terbentuk di dalam akal budi manusia melalui proses abstraksi.

Dengan terbentuknya idea atau gagasan atau konsep dalam akal budi manusia
berarti bahwa akal budi manusia itu menangkap atau memahami esensi dari obyek
tertentu. Dapat juga dikatakan, esensi adalah “apa”-nya dari sesuatu atau apa yang
membuat sesuatu menjadi sesuatu itu. Lebih umum dapat kita katakan, esensi adalah
apa yang bagi akal budi terutama secara niscaya merupakan suatu hal tertentu. Esensi
yang ditangkap akal budi itu, bagi akal budi merupakan konsep atau diea atau
gagasan tentang hal itu.

Konsep atau idea atau gagasan tentang sesuatu hal itu akan diungkapkan
dalam bentuk yang berupa lambang-lambang bunyi, yakni bunyi yang mempunyai
makna tertentu yang disebut perkataan, atau berupa lambang-lambang grafis, yakni
gambar yang mempunyai makna tertentu, misalnya berupa huruf atau rangkaian
huruf-huruf yang mewujudkan perkataan. Contoh: manusia, pohon, harimau, kursi,
mencubit, ilmu, dan sebagainya.

Kegiatan berpikir yang disebut keputusan. Pada tingkat kedua, yang terjadi
adalah tindakan akal budi yang berupa mengelompokkan atau menghubungkan dua
konsep (idea atau gagasan). Tindakan akal budi ini yang berupa mempersatukan dua
konsep dengan jalan mengiyakan, atau memisahkan dua konsep dengan jalan
menyangkal.Dalam proses ini, salah satu konsep disebut subyek dan yang lainnya
dinamakan predikat. Kedua konsep ini, dihubungkan dengan jalan disusun
sedemikian rupa sehingga mewujudkan sebuah penilaian.

Penilaian ini adalah berupa kedua konsep itu sama atau tidak, atau apakah
konsep yang satu termasuk ke dalam konsep yang lain atau tidak. Hasilnya adalah
berupa keputusan. Dalam keputusan itu, dinyatakan bahwa konsep yang satu (yakni
predikat) mengiyakan atau menyangkal konsep yang lain (yakni subyek).

Dalam contoh: “Manusia adalah makhluk rasional”, terjadi pengiyaan, yakni konsep
“makhluk rasional” mengiyakan konsep “manusia”. Contoh lain: “Kuda adalah bukan
makhluk rasional”. Pada contoh kedua itu terjadi penyangkalan, yakni konsep
makhluk rasional menyangkal konsep “kuda”. Produk dari kegiatan akal budi tingkat
ini (keputusan) dinamakan prosisi (putusan).Pada tingkat ini yang terjadi adalah akal
budi manusia melihat atau memahami sekelompok proposisi anteseden. Kemudian
berdasarkan pemahaman tentang proposisi-proposisi anteseden itu, akal budi menarik
atau membentuk sebuah proposisi baru yang disebut proposisi konsekuen atau
kesimpulan.

Proposisi anteseden itu juga biasa dinamakan premis. Jadi, penalaran adalah
kegiatan atau proses yang mempersatukan anteseden dan konsekuen. Keseluruhan
proposisi-proposisi anteseden dan konsekuen itu dinamakan argumentasi atau
argumen. Istilah “penalaran” menunjuk pada kegiatan akal budinya. Sedangkan
istilah “argumen” menunjuk pada hasil atau produk dari kegiatan penalaran. Contoh:
berdasarkan pemahaman tentang hubungan antara proposisi: “manusia adalah
makhluk fana” dan proposisi “mahasiswa adalah makhluk fana” ditarik atau
dimunculkan proposisi “mahasiswa adalah makhluk fana” sebagai proposisi
konsekuensinya.

C. MACAM-MACAM BERFIKIR

1. Berpikir Deduktif

Deduktif adalah sifat deduksi yang berasal dari kata Latin deucere. Dengan
begitu, kata deduksi yang diturunkan dari kata tersebut memiliki arti mengantar dari
sebuah hal ke hal lainnya. Sebagai sebuah istilah penalaran, deduksi adalah proses
berfikir atau penalaran yang bertolak dari preposisi yang sebelumnya sudah ada
menuju ke preposisi baru yang akhirnya membentuk sebuah kesimpulan.

Reasoning yang deduktif bersumber dari pandangan umum atau general conclusion
dan sumber filsafat berfikir atau philosophy thinking seperti yang berasal dari Plato
dan juga Aristoteles.

2. Berfikir Induktif

Induktif memiliki arti bersifat induksi. Sedangkan induksi merupakan proses


berfikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan
sebuah kesimpulan atau inferensi.

Berfikir induktif atau inductive thinking merupakan penarikan sebuah kesimpulan


umum dari beberapa kejadian atau dara di sekelilingnya yang juga membutuhkan tips
meningkatkan daya ingat. Dasarnya ialah observasi dan juga proses pemikiran yang
sintesis.

3. Berfikir Evaluatif

Berfikir evaluatif merupakan cara berfikir kritis, menilai antara baik dan
buruknya, tepat atau tidaknya sebuah gagasan. Dalam berfikir evaluatif ini, seorang
individu bisa menambah atau mengurangi sebuah gagasan dan menilai atas dasar
kriteria tertentu.

4. Berpikir Analogis

Yaitu berpikir untuk mencari hubungan antarperistiwa atas dasar


kemiripannya.

5. Berpikir Ilmiah

Yaitu berpikir dalam hubungan yang luas dengan pengertian yang lebih
komplek disertai pembuktian-pembuktian.
6. Berpikir Pendek

Yaitu lawan berpikir ilmiah yang terjadi secara lebih cepat, lebih dangkal dan
seringkali tidak logis. Sedangkan menurut De Bono (1989 dalam Khodijah,
2006:119) mengemukakan dua tipe berpikir, sebagai berikut.

a.) Berpikir vertikal (berpikir konvergen) yaitu tipe berpikir tradisional dan generatif
yang bersifat logis dan matematis dengan mengumpulkan dan menggunakan hanya
informasi yang relevan.

b.) Berpikir lateral (berpikir divergen) yaitu tipe berpikir selektif dan kreatif yang
menggunakan informasi bukan hanya untuk kepentingan berpikir tetapi juga untuk
hasil dan dapat menggunakan informasi yang tidak relevamn atau boleh salah dalam
beberapa tahapan untuk mencapai pemecahan yang tepat

D. TINGKATAN BERFIKIR

1. Tingkat Konkrit

Merupaka proses berfikir lewat bayang atau tanggapan khusus yang terjadi dari
pengamatan panca indera yang bersifat konkrit. Berfikir dalam tingkatan ini
mengandung kesadaran akan hubungan antara pengamatan satu dengan yang lain dan
belum ada.

Sebagai contoh, tanggapan hanya khusus mengenai sebuah benda yang sudah pernah
diamati. Tingkat ini dialami anak anak sebab mereka belum dapat menyusun
pengertian untuk menguasai bayang atau tanggapan dalam fikiran sehingga membuat
anak anak belum dapat berfikir secara cepat atau dengan kata lain masih memerlukan
peraga benda yang konkrit.

2. Tingkat Skematis
Tingkat skematis atau bagan adalah tingkat saat bayang atau tanggapan tidak lagi
menjadi kegiatan yang konkrit dan seseorang sudah mempunyai gambaran umum.
Untuk itu, seseorang sudah bisa membandingkan keadaan atau sifat dari banyak
benda yang diamati sebab sudah mengetahui bagaimana cara membangun sikap kritis.

3. Tingkat Abstrak

Tingkat abstrak adalah saat seseorang memakai pengertian yang dibagi atas beberapa
golongan. Pada proses berfikir, seseorang tidak lagi membayangkan sebuah benda
sebab alam fikiran sudah dipenuhi dengan pengertian umum sebagai bahasa.

Sedangkan dalam jiwa digunakan untuk menyusun pengertian atas dasar arah yang
sudah ditentukan oleh problema atau soal yang harus diselesaikan. Aturan beberapa
pengertian tersebut memiliki hubungan yang sudah dikuasai seperti hubungan sebab
akibat, persamaan dan juga perbedaan.

Konsep berfikir dalam psikologi bisa dikatakan proses memanipulasi atau mengelola
dan juga mentransformasi informasi ke dalam memori dimana terdapat macam
macam berfikir yakni deduktif, induktif dan juga evaluatif. Dengan ini diharapkan
jika seseorang bisa meningkatkan proses berfikir dengan cara yang kreatif.

BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN

Secara umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski,
dalam Suriasumantri (ed), 1983:52 dalam http//www psikologi pendidikan.com)) di
dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses
penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam diri
seseorang yang berupa pengertian-perngertian yang terjadi karena adanya masalah.

Proses berpikir ada tiga langkah yaitu :

(a) Pembentukan Pengertian , atau lebih tepatnya disebut pengertian logis,

(b) Pembentukan Pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian
atau lebih. Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat, yang terdiri dari
pokok kalimat atau subyek dan sebutan atau predikat, dan

(c) Penarikan Kesimpulan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat
baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada.

B. SARAN

Setelah mengetahui dari berbagai sumber tentang berpikir dan proses berfikir
maka sebagai mahasiswa hendaknya menerapkan langkah- langkah proses berpikir
siswa guna untuk mendapatkan hasil belajar yang betul-betul maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Endra, Febri. 2017. Pengantar Metodologi Penelitian (Statistika Praktis). Sidoarjo :


Zifatama Jawara.

Faiz, Muhammad. “Proses Berfikir”. https://muhammadfaiz.wordpress.com/2009/03

/03/proses-berfikir/. Diakes 24 November 2019.

Habibah,Hikmah. ”Proses Berfikir”. https://www.kompasiana.com/hikmahhabibah/

552ff5936ea8340e738b4569/proses-berfikir. Diakses 24 November 2019.

https://dosenpsikologi.com/konsep-berfikir-dalam-psikologi.