Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehamilan merupakan suatu proses kehidupan seorang wanita, dimana


dengan adanya proses ini terjadi perubahan-perubahan. Perubahan tersebut
meliputi perubahan fisik, mental dan sosial. Selain kebutuhan psikologis,
kebutuhan fisik juga harus diperhatikan agar kehamilan dapat berlangsung
dengan aman dan lancar. Kebutuhan fisik yang diperlukan ibu selama hamil
meliputi oksigen, nutrisi, peronal hygiene, pakaian, eliminasi, seksual,
mobilisasi dan body mekanik, exercise/senam hamil, istirahat/tidur, imunisasi,
traveling, persiapan laktasi, persiapan kelahiran bayi, memantau kesejahteraan
bayi, ketidaknyamanan dan cara mengatasinya, kunjungan ulang, pekerjaan,
tanda bahaya dalam kehamilan.

Kebutuhan Eliminasi Ibu Hamil adalah permasalahan yang terjadi


yang berhubungan dengan buang air kecil dan buang air besar selama masa
kehamilan. Masalah BAK dan BAB selama masa kehamilan bisa menjadi
tidak lancar jika selama masa kehamilan tidak dijaga dengan baik. Maka
dengan itu perlunya para ibu – ibu untuk mengetahui apa itu Kebutuhan
Eliminasi Pada Ibu Hamil yang di perlukan.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan
gangguan eliminasi?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penulisan konsep asuhan keperawatan ini adalah untuk
menambah pengetahuan dan mengetahui konsep asuhan keperawatan pada ibu
hamil dengan gangguan eliminasi sehingga permasalahan eliminasi tersebut
bisa diatasi dengan baik.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh baik berupa
urine atau alvi (buang air besar). kebutuhan eliminasi adalah suatu kebutuhan
yang dialami setiap ibu hamil yang berhubungan Buang Air Kecil (BAK) dan
Buang Air Besar (BAB) karena terjadinya perubahan kondisi fisik yang terjadi
pada masa kehamilan.Kebutuhan eliminasi terdiri dari atas dua, yaitu eliminasi
urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi fekal (kebutuhan buang air
besar).

1. Eliminasi urine

Eliminasi urine adalah proses pembuangan sisa metabolisme. Proses


pengeluaran ini sangat bergantung pada fungsi-fungsi organ eliminasi, seperti
ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. (A. Aziz, 2008)

2. Eliminasi Fekal

Eliminasi fekal adalah proses pembuangan atau pengeluaran sisa


metabolisme berupa feses dan flatus yang berasal dari saluran pencernaan
melalui anus. (Tarwoto dan wartona, 2003).

Menurut kozier, et al (2011), eliminasi fekal (defekasi) adalah


pengeluaran feses dari anus dan rektum. Defekasi juga disebut bowel
movement (pergerakan usus).

B. Kebutuhan Eliminasi pada Ibu Hamil

1. Trimester I : Frekuensi BAK menigkat karena kandungan kencing tertekan


oleh pembesaran uterus, BAB normal konsistensi lunak. Pada trimester ini zat
gizi yang harus terpenuhi yaitu cukup karbohidrat, protein, lemak, vitamin
mineral dan air.

2. Trimester II : Frekuensi BAK normal kembali karena uterus telah keluar dari
rongga panggul. Pada Trimester II Jumlah karbohidrat dan protein tetap.

3. Trimester III : Frekuensi BAK meningkat karena penurunan kepala bayi, BAB
sering konstipasi/obstipasi ( sembelit ) karena hormone progesteron
meningkat. Pada Trimester III Karbohidrat dikurangi, perbanyak konsumsi
sayur, buah – buahan segar, kenaikan berat Badan tidak boleh lebih dari ½ kg
perminggu.

C. Fisiologi Berkemih

Proses kejadian eliminasi urine ada dua langkah utama : pertama, bila
kandung kemih secara progresif terisi sampai tegangan di dindingnya meningkat
diatas nilai ambang dikirim ke medulla spinalis diteruskan ke pusat miksi pada
susunan saraf pusat. Kedua, pusat miksi mengirim sinyal ke otot kandung kemih
(destrusor), maka sfingter eksterna releksasi berusaha mengosongkan kandung
kemih, sebaliknya bila memilih tidak berkemih sfingter eksterna berkontraksi.
Kerusakan pada medulla spinalis menyebabkan hilangnya kontrol volunter
berkemih, tetapi jalur refleks berkemih dapat tetap sehingga terjadinya berkemih
secara tetap, maka kondisi ini disebuut refleks kandung kemih.

Fisiologi berkemih secara umum menurut Gibson (2003) dapat dilihat


pada grafik dibawah ini.
Urine masuk ke kandung
kemih

Terjadi peregangan serat otot


dinding kandung kemih

Impuls berjalan melalui serabut


aferen

Menuju pars lumbalis medula spinalis dan


transmisikan ke korteks serebri

Miksi dikontrol saraf aferen menuju kandung kemih, impuls


berjalan kesaraf para simpatis sakralis menyebabkan :

Otot dinding kandung kemih


berkontraksi Sfringter berkontraksi

Timbul ransangan ingin BAK

Pengeluaran urine : kontraksi otot dinding abdomen dan


diafragma , peningkatan tekanan kandung kemih yang
sebelumnya terisi 170-230 ml
D. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Eliminasi

1. Diet dan asupan

Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang memengaruhi


output urine (jumlah urine) dan defekasi. Protein dan natrium dapat
menentukan jumlah urine yang dibentuk.Selain itu, minum kopi juga dapat
meningkatkan pembentukan urine. Disamping itu makanan yang memiliki
kandungan serat tinggi dapat membantu proses percepatan defekasi dan jumlah
yang dikonsumsipun dapat memengaruhinya.

2. Respon keinginan awal untuk berkemih

Kebiasaan mengabaikan keinginan awal utnuk berkemih dapat


menyebabkan urin banyak tertahan di vesika urinaria, sehingga memengaruhi
ukuran vesika urinaria dan jumlah pengeluaran urin.

3. Gaya hidup

Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan


eliminasi. Hal ini terkait dengan tersedianya fasilitas toilet. Hal ini dapat
terlihat pada seseorang yang memiliki gaya hidup sehat/ kebiasaan melakukan
eliminasi di tempat yang bersih atau toilet, etika seseorang tersebut buang air
di tempat terbuka atau tempat kotor, maka akan mengalami kesulitan dalam
proses defekasi.

4. Stress psikologis

Meningkatkan stres dapat meningkatkan frekuensi keinginan berkemih.


Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan
jumlah urine yang diproduksi.
5. Tingkat pertumbuhan dan perkembangan

Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi


pola berkemih. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih mengalami
mengalami kesulitan untuk mengontrol buang air kecil. Namun kemampuan
dalam mengontrol buang air kecil meningkat dengan bertambahnya usia

6. Asupan cairan

Pemasukana cairan yang kurang dalam tubuh membuat defekasi


menjadi keras. Oleh karena itu, proses absopsi air yang kurang menyebabkan
kesulitan proses defekasi.

7. Kondisi penyakit

Kondisi penyakit dapat memengaruhi proses eliminasi, biasanya


penyakit-penyakit tersebut berhubungan langsung dengan system pencernaan,
seperti gastroenteristis atau penyakit infeksi lainnya, seperti diabetes mellitus.

8. Kerusakan sensoris dan motoris

Kerusakan pada system sensoris dan motoris dapat memengaruhi


proses defekasi karena dapat menimbulkan proses penurunan stimulasi
sensoris dalam melakukan defekasi.

E. Gangguan Eliminasi pada Ibu Hamil

1. Gangguan Eliminasi Urine

Gangguan eliminasi urine adalah disfungsi eliminasi urine.

2. Konstipasi

Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko


tinggi mengalami statis usus besar sehingga mengalami eliminasi yang jarang
atau keras, serta tinja yang keluar jadi terlalu kering dan keras.