Anda di halaman 1dari 4

Afra Hanifi Auly Avecenia

12.06.0048

TUGAS ESSAY PERTUSSIS untuk dr Ade Malikul Alim Nasiruddin, SpA

Pertusis atau “batuk rejan” atau “batuk 100 hari” merupakan salah satu
penyakit menular saluran pernapasan yang sudah diketahui adanya sejak tahun 1500-
an. Dahulu pertusis adalah penyakit yang sangat epidemik karena menyerang bukan
hanya negara-negara berkembang namun juga beberapa bagian dari negara maju.
Namun setelah digalakkannya vaksinasi untuk pertusis, angka kematian dapat ditekan,
dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi pertusis diharapkan
tidak ditemukan lagi, meskipun ada kasusnya namun tidak signifikan.

Di seluruh dunia, setiap tahun terdapat sekitar 16 juta kasus pertusis, 95%
diantaranya terjadi di negara berkembang, dan mengakibatkan 195.000 anak
meninggal setiap tahunnya. Kejadian pertusis selalu meningkat dari tahun ke tahun
dengan angka peningkatan yang bermakna, bahkan di negara-negara yang cakupan
vaksinasinya tinggi sekalipun.

Penyakit ini dapat menyerang semua kelompok umur, terutama pada anak-anak,
dan dapat menyebabkan kematian terutama pada anak berusia kurang dari 1 tahun.
CDC pada tahun 1997-2000 menunjukkan bahwa 29.048 orang dengan batuk rejan,
8.390 orang (29%) berusia < 1 tahun, 3.359 orang (12%) berusia 1-4 tahun, 2.835
orang (10%) berusia 5-9 tahun, 8.529 orang (29%) berusia 10-19 tahun, dan 5.935
orang (20%) berusia > 20 tahun.

Pertussis atau disebut juga dengan batuk rejan, “whooping cough”, adalah batuk
yang ditandai dengan adanya suara tarikan nafas yang keras atau inspiratory whoop
yang mengikuti serangan batuk yang hebat sebelumnya. Batuk pada pertussis dapat
berlangsung beberapa hari, minggu, hingga berbulan-bulan. Gejala ini mengganggu
kegiatan sehari-hari dan dapat menyebabkan gangguan tidur yang signifikan.

Bordetella pertussis (B. pertussis) adalah penyebab pertussis dan biasanya


menyebabkan pertussis sporadic. B.pertussis menular melalui droplet. Spesies lain
Bordetella, terutama Bordetella parapertussis dan Bordetella bronchiseptica, dapat
menyebabkan gejala seperti pertusis namun lebih ringan.
Bordetella pertusis setelah ditularkan melalui sekresi udara pernapasan
kemudian melekat pada silia epitel saluran pernapasan. Setelah terjadi perlekatan,
Bordetella pertussis kemudian bermultiplikasi dan menyebar ke seluruh permukaan
epitel saluran napas.Selama pertumbuhan Bordetella pertusis, maka akan
menghasilkan toksin pertusis toxin. Toksin pertusis mempunyai efek mengatur
sintesis protein dalam membrane sitoplasma, berakibat terjadi perubahan fungsi
fisiologis dari sel target termasuk limfosit (menjadi lemah dan mati), meningkatkan
pengeluaran histamine dan serotonin, efek memblokir beta adrenergic dan
meningkatkan aktifitas insulin, sehingga akan menurunkan konsentrasi gula darah.
Toksin juga menyebabkan peradangan ringan dengan hyperplasia jaringan limfoid
peribronkial dan meningkatkan jumlah lendir pada permukaan silia, maka fungsi silia
sebagai pembersih terganggu, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder. Penumpukan
lendir akan menimbulkan plak yang dapat menyebabkan obstruksi dan kolaps paru.

Diagnosis pertusis dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan


pemeriksaan laboratorium. Pada anamnesis dan pemeriksaan fisik tanda dan gejala
yang ditemukan tergantung dari stadium pertusis pada saat pasien diperiksa.

Pertusis terjadi dalam 3 stadium. Stadium kataral mulai terjadi secara bertahap
dalam waktu 7-10 hari setelah terinfeksi, ciri-cirinya menyerupai flu ringan. Stadium
paroksismal mulai Mulai timbul dalam waktu 10-14 hari setelah terinfeksi dengan
gejala episode 5-15 kali batuk diikuti dengan menghirup nafas dalam dengan pada
tinggi. Episode batuk-batuk yang paroksimal dapat terjadi lagi sampai obstruksi
“mucous plug” pada saluran nafas menghilang. Stadium konvalesen mulai terjadi
dalam waktu 4-6 minggu setelah gejala awal. Batuk semakin berkurang, muntah juga
berkurang, anak tampak merasa lebih baik. Kadang batuk terjadi selama berbulan-
bulan, biasanya akibat iritasi saluran pernafasan.

Uji laboratorium yang dapat menentukan jenis bakteri dan spesifik pada
penyakit pertusis adalah biakan sekret nasofaring pada saat stadium kataralis dan
stadium paroksismal. Untuk meningkatkan hasil diagnosis dapat juga dilakukan
pemeriksaan PCR. PCR paling sensitif pada fase awal penyakit dan pada fase
paroksismal. Pada pemeriksaan foto toraks dapat memperlihatkan infiltrat perihiler,
atelektasis atau emfisema.
Tujuan terapi pertusis adalah membatasi lama stadium paroksismal, dan
mempertahankan kondisi optimal pasien. Pengobatan suportif yang bisa dilakukan
diantaranya menghindarkan faktor-faktor yang menimbulkan serangan batuk,
mengatur hidrasi dan nutrisi, oksigen dapat diberikan pada distres pernapasan
akut/kronik, penghisapan lendir terutama pada bayi dengan pneumonia dan distres
pernapasan dan menjamin asupan nutrisi. Antibiotik dapat diberikan untuk
mengendalikan penyebaran infeksi dan mengurangi durasi stadium paroksismal.
Antibiotik yang direkomendasikan untuk tatalaksana pertusis untuk anak berusia lebih
dari 1 tahun adalah makrolid, seperti eritromisin, claritromisin, dan azitromisin.
Sedangkan untuk anak berusia kurang dari 1 tahun lebih direkomendasikan
menggunakan azitromisin atau claritromisin intravena.
Daftar Pustaka

Altunaiji, S., Kukuruzovic, R., Curtis, N. & Massie, John. 2012. Cochrane
Review: Antibiotics for whooping cough (pertussis). Evidence-Based Child Health A
Cochrane Review Journal.

S. Long, Sarah. 2005. Pertusis. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol II . Jakarta : EGC

Pavic-Espinoza, I., Bendezú-Medina, S., Herrera-Alzamora, A. et al.


2015. High prevalence of Bordetella pertussis in children under 5 years old
hospitalized with acute respiratory infections in Lima, Peru. BioMed Central
Infectious Disease :15, 554

Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 2007. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan
Anak. FKUI : Jakarta