Anda di halaman 1dari 20

Makalah anatomi fisiologi manusia

”kompartemen cairan tubuh”

DAFTAR ISI
 
Kata Pengantar……………………………………………………………........................................….i
Daftar Isi………………………………………………………......................................……...………ii
 
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................................1
Latar belakang...........................................................................................................................1
Rumusan masalah......................................................................................................................2
Tujuan.......................................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN................................................................................................................3
 2.1 Pengertian cairan tubuh......................................................................................................3
 2.2 kompartemen cairan tubuh.................................................................................................3
2.3 komposisi cairan tubuh.......................................................................................................6
2.4 pergerakan cairan tubuh......................................................................................................8
2.5 fungsi cairan tubuh .............................................................................................................9
2.6 jenis cairan tubuh ................................................................................................................10
2.7 keseimbangan cairan tubuh ................................................................................................10

2.8  Ganguan Keseimbangan Cairan...............................................................................15

 
BAB III PENUTUPAN..................................................................................................................17
3.1 Kesimpulan.........................................................................................................................17
3.2 Saran...................................................................................................................................17
 
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................18

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat, taufik serta hidayah-Nya jualah sehingga makalah mata kuliah Anatomi fisiologi
manusia dengan materi “kompertemen cairan tubuh” ini dapat terselesaikan tepat pada
waktunya.

Makalah ini dibuat dan disusun dalam rangka memenuhi tugas dan tanggung jawab
penulis kepada dosen pengampu mata kuliah Anatomi fisiologi manusia. Dalam kesempatan
ini tidak lupa kami menyampaikan ucapan terima kasih atas segala bantuan yang telah
diberikan kepada teman-teman dan semua pihak yang terkait dalam penyusunan makalah.

Akhirnya, semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan taufik serta
hidayah-Nya kepada kita semua, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Amin.

i
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 latar belakang

Cairan tubuh manusia sebagaimana mahluk hidup yang lain tersusun atas berbagai
sistem organ,puluhan organ,ribuang jaringan,dan jutaan molekul. Secara fisik,molekul
pembentuk tubuh manusia dapat dibedakan menjadi jenis cairan dan matriks molekul
padat. Fungsi cairan dalam tubuh manusia , antara lain sebagai alat transportasi nutrien,
elektrolit , dan sisa metabolisme: sebagai komponen pembentuk sel, plasma , darah , dan
komponen tubuh lainnya: serta sebagai media pengatur suhu tubuh dan lingkungan
seluler.
Totak jumlah cairan yang terdapat dalam tubuh cukup besar dibandingkan dengan
kompartemen zat padat pembentuk tubuh. Bahkan, pada tulang manusia yang strukturnya
tampak begitu padat, sebenarnya terdapat kandungan cairan lebih dari 30%. Secara
umum, konsentrasi cairan pada tubuh sekitar 60%. Cairan tubuh tersebut meliputi cairan
darah, plasma jaringan, cairan sinovial pada persendian, cairan serebrospinal pada otak
dan medula spinalis , cairan dalaam bola mata,cairan pleura,dan berbagai cairan yang
terkandung dalam organ dan jaringan.
Cairan yang terdapat dalam tubuh selalu mengalami perubahan, baik konsentrasi, jumlah
maupun jenisnya. Cairan juga melalui proses keluar dan masuk tubuh kita. Perhatikan
manusia selalu minum setiap hari dan memakan makanan yang mengandung banyak air
Namun tubuh manusia tidak lantas menjadib"kebanjiran". Sebaliknya,manusia selalu
merasa haus karena kekurangan cairan. Hal ini terjadi karena tubuh memerlukan
penggantian cairan sehingga terdapat cairan yang dikeluarkan oleh tubuh dalam bentuk
air seni dan bentuk lain.
Cairan tubuh merupakan faktor penting dalam berbagai proses fisiologis didalam
tubuh. Dapat dikatakan,kemampuan kita untuk bertahan hidup sangat tergantung dari
cairan yang terdapat dalam tubuh kita. Oleh karena itu, terdapat berbagai mekanisme
yang berfungsi untuk mengatur volume dan komposisi cairan tubuh agar tetap dalam
keadaan seimbang atau disebut juga dalam keadaan homeostasis.Sistem kardiovaskuler
berfungsi untuk mensuplai berbagai bahan yang penting melalui darah keseluruh
jaringan.Sistem-sistem lainya seperti ginjal,paru-paru dan hati berfungsi untuk menjaga

1
jumlah dan komposisi caiaran tubuh agar selalu dalam keadaan seimbang.Apabila terjadi
ketidak seimbangan antara cairan yang ada dalam tubuh dan cairan yang dibituhkan oleh
tubuh,maka akan terjadi ketidak seimbangan atau terjadi gangguan pada berbagai system
yang berhubungan dengan kebutuhan cairan tersebut.Kelainan tersebut dapat berupa
kelebihan caiaran maupun kekurangan cairan.Cairan yang kita bahas adalah caiaran tubuh
yang salah satu komposisinya adalah elektrolit,dimana cairan tersebut menempati
kompartmen intrasel dan ekstrasel.
Jumlah cairan tubuh total pada seorang pria tidak sama dengan jumlah cairan tubuh total
pada seorang wanita,ini disebabkan karena pada seorang wanita jumlah jaringan
lemaknya lebih besar daripada seorang pria.

1.2 rumusan masalah


1.apa pengertian,fungsi dan jenis dari cairan tubuh?

2.apa saja komposisi yang terdapat dalam cairan intrasel dan ekstrasel?

3.bagaimana pergerakkan cairan di dalam tubuh?

4. Bagaimana Cara Perpindahan Cairan Tubuh?

5.  Jenis Cairan apa saja yang terdapat ?

6. Bagaimana keseimbangan cairan tubuh ?

7. Apa saja gangguan keseimbangan cairan tubuh ?

1.3 tujuan penulisan

Adapun tujuan dibuatnya makalh ini adalah sebagai berikut:

1.mahasiswa dapat mengetahui pengertian,fungsi dan jenis dari cairan tubuh

2.mahasiswa dapat mengetahui apa saja komposisi yang ada pada cairan tubuh kita

3.mahasiswa dapat mengetahui pergerakkan cairan di dalam tubuh kita

4.mahasiswa dapat mengetahui secara segnifikan tentang cairan tubuh kita

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1       Pengertian

Cairan tubuh adalah air beserta unsur-unsur didalamnya diperlukan untuk kesehatan
sel. Cairan ini sebagian berada di luar sel (ekstraselular) dan yang sebagian lagi berada di
dalam sel (intraselular).

Sel membangun tubuh secara sederhana yang hidup dalam laut interna yang merupakan
cairan ekstra sel (CES) yang dibungkus oleh kulit tubuh. Dari cairan ini sel menerima
oksigen dan bahan makanan, ke dalam cairan ini juga sel mengeluarkan sampah metabolisme.
Cairan ekstrasel bergerak secara tidak tetap di seluruh tubuh dan cepat bercampur dengan
sirkulasi darah, difusi darah dan cairan jaringan. Dalam cairan ekstrasel terdapat ion dan zat
gizi yang diperlukan oleh sel untuk pemeliharaan fungsi sel. Sel tubuh hidup, tumbuh dan
melakukan fungsi khusus selama terjadinya konsentrasi oksigen, glukosa, berbagai ion asam
amino, dan asam lemak yang sesuai dengan lingkungan interna.

2.2       Kompartemen Cairan Tubuh

Seluruh cairan tubuh didistribusikan diantara dua kompartemen utama, yaitu : cairan
intraselular (CIS) dan cairan ekstra selular (CES). Pada orang normal dengan berat badan 70
kg, total cairan tubuh (TBF) rata-ratanya sekitar 60% berat badan atau sekitar 42
L.  Persentase ini dapat berubah, bergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas.

3
1.Cairan Intraselular (CIS)

40% dari BB total adalah CIS. Cairan Intraselular adalah cairan yang terkandung di
dalam sel. Pada orang dewasa kira-kira 2/3 dari cairan tubuh adalah cairan  intraselular, sama
kira-kira 25 L pada rata-rata pria dewasa (70 kg). Sebaliknya, hanya ½ dari cairan tubuh bayi
yang merupakan cairan intraselular.

2.Cairan Ekstraselular (CES)

20% dari BB total adalah CES. Cairan Ekstraselular adalah cairan diluar sel. Ukuran
relatif dari (CES) dapat menurun seiring  dengan bertambahnya usia. Pada bayi baru lahir,
kira-kir ½ cairan tubuh terkandung didalam cairan ekstraselular (CES). Setelah ber usia 1
tahun, volume relatif dari (CES) menurun sampai kira-kira 1/3 dari volume total. Ini hampir
sebanding dengan 15 L dalam rata-rata pria dewasa (70 kg).

CES dibagi menjadi:

A) Cairan interstisial (CIT) adalah cairan disekitar sel, pada orang dewasa volume cairan
interstisial kira-kira 8L Cairan limfe termasuk dalam volume interstisial. Volume
Relatif (CIT)  bergantung dengan ukuran tubuh, pada bayi baru lahir volume cairan
interstisial kira-kira 2 kali lebih besar dibanding orang dewasa.

4
B).Cairan intravaskular (CIV) adalah cairan yang terkandung di dalam pembuluh darah.
Volume relatif dari (CIV) sama pada orang dewasa dan anak-anak. Rata-rata volume darah
orang dewasa kira-kira 5-6 L (8% dari BB).3 L (60%) dari jumlah tersebut adalah PLASMA.
Sisanya 2-3 L (40%) terdiri dari sel darah merah (SDM, atau eritrosit) yang mentranspor
oksigen dan bekerja sebagai bufer tubuh yang penting; sel darah putih (SDP, atau leukosit);
dan trombosit. Tapi nilai tersebut diatas dapat bervariasi pada orang yang berbeda-beda,
bergantung pada jenis kelamin, berat badan dan faktor-faktor lain. Adapun fungsi dari darah
adalah mencakup :

- pengiriman nutrien (mis ; glokusa dan oksigen) ke jaringan


- transpor produk sisa ke ginjal dan paru-paru
- pengiriman antibodi dan SDP ke tempat infeksi
- transpor hormon ke tempat aksinya
- sirkulasi panas tubuh

C) Cairan Transelular (CTS) adalah cairan yang terkandung didalam rongga khusus dari
tubuh. Contoh (CTS) meliputi cairan serebrospinal, perikardial, pleural, sinovial, dan cairan
intraokular serta sekresi lambung. Pada waktu tertentu volume (CTS) dapat mendekati jumlah
1 L. Namun, sejumlah besar cairan dapat saja bergerak kedalam dan keluar ruang transelular

5
setiap harinya. Sebagai contoh, saluran gastro-intestinal (GI) secara normal mensekresi dan
mereabsorbsi sampai 6-8 L per-hari.

2.3       Komposisi

1.   Komposisi kompartemen cairan adalah :

6
 CES. Plasma darah dan cairan interstisial memiliki isi yang sama yaitu ion Natrium
dan klorida serta ion bikarbonat dalam jumlah besar, tetapi sedikit ion kalium,
kalsium, magnesium, fosfat, sulfat dan asam organik. Perbedaanya adalah dalam hal
protein; plasma mengandung lebih banyak protein dan cairan interstisial mengandung
sangat sedikit protein. 
 CIS. Akibat pompa Natrium-kalium dependen ATP, konsentrasi ion natrium dan
kalium Intraselular berlawanan dengan yang ada dalam CES. Dalam CIS Ion kalium
berkonsentrasi tinggi dan ion natrium berkonsentrasi rendah. Konsentrasi protein
dalam sel tinggi, yaitu sekitar empat kali konsentrasi dalam plasma.

2.      Komposisi cairan tubuh

A. Air. Air adalah senyawa utama dari tubuh manusia. Rata-rata pria Dewasa hampir
60% dari berat badannya adalah air dan rata-rata wanita mengandung 55% air dari
berat badannya.
B.  solute (terlarut),selain air cairan tubuh mengandung dua jenis substansi terlarut
elektrolit dan non elektrolit
 Elektrolit : Substansi yang berionisasi (terpisah) di dalam larutan dan akan
menghantarkan arus listrik. Elektrolit berionsasi menjadi ion positif dan negatif dan diukur
dengan kapasitasnya untuk saling berikatan satu sama lain (miliekuivalen/liter) atau dengan
berat molekul dalam garam (milimol/litermEq/L ). Jumlah kation dan anion, yang diukur
dalam miliekuivalen, mol/L dalam larutan selalu sama.
 Kation : ion-ion yang mambentuk muatan positif dalam larutan. Kation ekstraselular utama
adalah natrium (Na+), sedangkan kation intraselular utama adalah kalium (K+). Sistem
pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa natrium ke luar dan kalium ke dalam
 Anion : ion-ion yang membentuk muatan negatif dalam larutan. Anion ekstraselular utama
adalah klorida ( Clˉ ), sedangkan anion intraselular utama adalah ion fosfat (PO4-).

Karena kandungan elektrolit dari palsma dan cairan interstisial secara esensial sama, nilai
elektrolit plasma menunjukkan komposisi cairan ekstraselular, yang terdiri atas cairan
intraselular dan interstisial. Namun demikian, nilai elektrolit plasma tidak selalu
menunjukkan komposisi elektrolit dari cairan intraselular. Pemahaman perbedaan antara dua
kompartemen ini penting dalam mengantisipasi gangguan seperti trauma jaringan atau

7
ketidakseimbangan asam-basa. Pada situasi ini, elektrolit dapat dilepaskan dari atau bergerak
kedalam atau keluar sel, secara bermakna mengubah nilai elektrolit palsma.

  Non-elektrolit : Substansi seperti glokusa dan urea yang tidak berionisasi dalam
larutan dan diukur berdasarkan berat (miligram per 100 ml-mg/dl). Non-elektrolit lainnya
yang secara klinis penting mencakup kreatinin dan bilirubin.

2.4   Pergerakan Cairan

Cairan tubuh dan zat yang terlarut di dalamnya berada dalam mobilitas konstan dan
proses menerima dan mengeluarkan cairan yang terus menerus. Perpindahan cairan dan
elektrolit tubuh terjadi dalam tiga fase yaitu:

a) Fase I

Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi, nutrisi dan oksigen diambil
dari paru-paru dan dan saluran pencernaan

b) Fase II

Cairan interselular beserta komponennya pindah dari darah kapiler dan sel.

c) Fase III

Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan interselular masuk ke dalam
sel. Pembuluh darah kapiler dan membran sel yang merupakan membran semipermiabel
mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen cairan dalam tubuh ikut berpindah.

Metode perpindahan cairan dan elektrolit tubuh dilakukan dengan: cara transpor pasif
(difusi dan osmosis), transpor aktif, dan filtrasi.

Difusi    Merupakan kecenderungan alami dari suatu substansi untuk bergerak dari
suatu area dengan konsentrasi yang lebih tinggi ke daerah konsentrasi yang lebih rendah.
Difusi terjadi melalui perpindahan tidak teratur dari ion dan molekul. Beberapa factor yang
mempengaruhi mudah tidaknya difusi zat terlarut menembus membran kapiler dan sel yaitu
permebilitas membrane kapiler dan sel, potensial listrik serta perbedaan tekanan.

Osmosis adalah  perpindahan air terjadi melalui membran dari daerah dengan


konsentrasi zat terlarut yang rendah ke daerah dengan konsentrasi zat terlarut tinggi sampai
dengan kedua konsentrasi tersebut sama.

8
Transpor aktif adalah perpindahan zat terlarut melalui sebuah membran sel yang
melawan perbedaan konsentrasi atau muatan listrik. Transpor aktif berbeda dengan transpor
pasif karena memerlukan energi dalam bentuk adenosine triposfat (ATP). Salah satu
contohnya adalah transportasi pompa kalium-natrium.

Konsentrasi natrium lebih besar dalam CES di banding di CIS oleh karena itu ada
kecenderungan natrium untuk memasuki sel dengan cara difusi. Hal ini diimbangi juga oleh
pompa natrium-kalium yang terdapat pada membran sel dan sel aktif memindahkan natrium
dari sel ke dalam CES. Sebaliknya konsentrasi kalium intraseluler yang terjadi dipertahankan
dengan memompakan kalium ke dalam sel.

Natrium tidak berperan penting dalam perpindahan air di dalam bagian  plasma dan bagian
cairan intraselular karena konsentrasi natrium hampir sama pada kedua bagian itu. Distribusi
air dalam kedua bagian itu diatur oleh tekanan hidrostatik yang dihasilkan oleh darah kapiler,
terutama akibat pemompaan oleh jantung dan tekanan osmotik koloid yang disebabkan oleh
albumin serum.

Filtrasi adalah tekanan hidrostatik dalam kapiler cenderung untuk menyaring cairan
yang keluar dari kompartemen vascular ke dalam cairan intra seluler. Contoh proses filtrasi
adalah pada glomerulus ginjal.

Meskipun keadaan diatas merupakan proses pertukaran dan pergantian yang terus menerus
namun komposisi dan volume cairan relatif stabil, keadaan ini disebut keseimbangan dinamis
atau homeostatis.

2.5       Fungsi Cairan Tubuh

1. Sarana untuk mengangkut zat-zat makanan ke sel-sel


2. Mengeluarkan buangan-buangan sel
3. Mmbentu dalam metabolisme sel
4. Sebagai pelarut untuk elektrolit dan non elektrolit
5. Membantu memelihara suhu tubuh
6. Membantu pencernaan
7. Mempemudah eliminasi

9
8. Mengangkut zat-zat seperti (hormon, enzim, SDP, SDM)

2.6       Jenis Cairan

1.      Cairan Nutrien

Pasien yang istirahat di tempat tidur memerlukan sebanyak 450 kalori setiap harinya.
Cairan nutrien (zat gizi) melalui intravena dapat memenuhi kalori ini dalam bentuk
karbohidrat, nitrogen dan vitamin yang penting untuk metabolisme. Kalori yang terdapat
dalam cairan nutrien dapat berkisar antara 200-2500 kalori per liter. Caian nutrient terdiri atas

1) Karbohidrat dan air, contoh: dextrose (glukosa), levulose (fruktosa), invert sugar (1/2
dextose dan ½ levulose)
2)  Asam amino, contoh: amigen, aminosol dan travamin.
3)  Lemak, contoh: lipomul dan liposyn.

2.      Blood volume expanders

Blood volume expandersmerupakan bagian dari jenis cairan yang berfungsi


meningkatkan volume pembuluh darah setelah kehilangan darah atau plasma. Apabila
keadaan darah sudah tidak sesuai, misalnya pasien dalam kondisi pendarahan berat, maka
pemberian plasma akan mempertahankan volume darah. Pada pasien dengan lika bakar berat,
sejumlah besar cairan hilang dari pembuluh darah di daerah luka. Plasma sangat perlu
diberikan untuk menggantikan cairan ini. Jenis blood volume expanders antara lain: human
serum albumin dan dextran dengan konsentrasi yang berbeda. Kedua cairan ini mempunyai
tekanan osmotik, sehingga secara langsung dapat meningkatkan jumlah volume darah.

2.7       Keseimbangan Cairan

Keseimbangan cairan dicapai dengan masukan dan keluaran cairan yang seimbang.
Karena air mengalami proses kehilangan yang tidak terelakan setiap saat melalui ginjal, kulit,
dan paru-paru hal yang terpenting adalah untuk tetap mempertahankan jumlah cairan yang
cukup dalam tubuh.

Pengatur utama masuknya cairan adalah melalui mekanisme haus, pusat haus
dikendalikan berada di otak. Sedangkan rangsangan haus berasal dari kondisi dehidrasi
intraselular, sekresi angiotensin II sebagai respon dari penurunan tekanan darah dan

10
pendarahan yang mengakibetkan penurunan volume darah. Perasaan kering di mulut biasanya
terjadi bersama dengan sensasi haus walaupun kadang terjadi secara sendiri. Sensasi haus
akan segera hilang setelah minum sebelum proses absorbsi oleh tractus gastrointestinal.

1.      Asupan (intake) cairan melalui 3 cara:

A. Minum, jumlah perolehan secara mendasar diatur oleh rasa haus, tetapi hal ini
lebih dipengaruhi oleh kebiasaan minum. Selama aktifitas dan temperature yang
sedang seorang dewasa kira-kira minum 1500ml air per hari. Sedangkan
kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500ml air per hari, sehingga kebutuhan 1000ml
sisanya diperoleh dari
B.  Makan yang mengandung air, daging mengandung 50% sampai 75% air dan
beberapa jenis buah dan sayur mengandung 95% air
C. Proses oksidasi makanan dalam tubuh (metabolisme), air metabolik yang
dihasilkan melalui katabolisme mencapai sekitar 300ml. katabolisme 1gram lemak
menghasilkan 1,07ml air, 1gram karbohidrat, 0,55ml air dan 1gram protein,
0,41ml air.

Didalam tubuh seseorang yang sehat volume cairan tubuh dan komponen kimia dari
cairan tubuh selalu berada dalam kondisi dan batas yang aman. Dalam kondisi yang normal
pengeluaran cairan yang terjadi sesuai dengan pemasukannya. Kondisi sakit dapat
menyebabkan gangguan pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Dalam rangka
mempertahankan fungsi tubuh maka tubuh akan kehilangan cairan antara lain melalui proses
penguapan ekspirasi, penguapan kulit, ginjal (urin) dan ekskresi pada proses metabolisme.

2.      Keluaran (output) cairan melalui 4 proses yaitu:

A. Urin, proses pembentukan urin oleh ginjal dan ekresi melalui tractus urinarius
merupakan proses pengeluaran cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi normal
pengeluaran urin sekitar 1400-1500ml per 24jam atau sekitar 30-50ml per jam.
Pada orang yang sehat kemungkinan produksi urin bervariasi dalam setiap
harinya. Apabila aktifitas kelenjar meningkat maka produksi urin akan menurun
sebagai upaya tetap mempertahankan keseimbangan dalam tubuh. Kehilangan air
terbesar melalui ginjal merupakan bagian yang tidak dapat dihindarkan, bagian

11
yang dikendalikan oleh antidiuritik hormon (ADH). ADH dihasilkan oleh
hipotalamus dan ditransportasikan ke kelenjar pituitary, darimana dilepaskan
sesuai dengan kebutuhan. Hal tersebut mengatur reabsorbsi air dari tubulus distal
ginjal dan mengatur jumlah urin yang di ekresi.

B.  IWL (Insesible Water Loss) terjadi melalui paru-paru dan kulit, melalui kulit
dengan mekanisme difusi. Pada orang dewasa normalnya kehilangan cairan tubuh
melalui proses ini berkisar antara 300-400ml per hari, apabila respirasi atau suhu
tubuh meningkat maka IWL dapat meningkat.

C.  Keringat, berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas,
respon ini berasal dari anterior hypothalamus sedangkan impulsnya ditransfer
melalui susum tulang belakang yang dirangsang oleh susunan saraf simpatis pada
kulit. Cairan yang keluar melalui keringat sekitar 100ml per hari.

D.  Feses, pengeluaran air melalui feses berkisar antara 100-200ml per hari, yang
diatur melalui proses reabsorbsi di dalam mukosa usus besar (kolon).

3.      Organ yang berperan dalam pengaturan keseimbangan cairan meliputi:

a). Ginjal

Fungsi-fungsi utama ginjal dalam mempertahankan keseimbangan cairan:


- Pengaturan volume dan osmolalitas CES melalui retensi dan eksresi selektif cairan tubuh.
- Pengaturan kadar elektrolit dalam CES dengan retensi selektif substansi yang dibutuhkan.
- Pengaturan pH CES melalui retensi ion-ion hidrogen.
- Ekskresi sampah metabolik dan substansi toksik.
Oleh karena itu gagal ginjal jelas mempengaruhi keseimbangan cairan, karena ginjal tidak
dapat berfungsi.

b). Jantung dan pembuluh darah

Kerja pompa jantung mensirkulasi darah melalui ginjal di bawah tekanan yang sesuai
untuk menghasilkan urine. Kegagalan pompa jantung ini mengganggu perfusi ginjal dan
karena itu mengganggu pengaturan air dan elektrolit.

12
c). Paru-paru

Melalui ekhalasi paru-paru mengeluarkan air sebanyak +300L setiap hari pada orang
dewasa. Pada kondisi yang abnormal seperti hiperpnea atau batuk yang terus-menerus akan
memperbanyak kehilangan air; ventilasi mekanik dengan air yang berlebihan menurunkan
kehilangan air ini.

d).  Kelenjar pituitari

Hipotalamus menghasilkan suatu substansi yaitu ADH yang disebut juga hormon
penyimpan air, karena fungsinya mempertahankan tekanan osmotik sel dengan
mengendalikan retensi atau ekskresi air oleh ginjal dan dengan mengatur volume darah.

e). Kelenjar adrenal

Aldosteron yang dihasilkan/disekresi oleh korteks adrenal (zona glomerolus).


Peningkatan aldosteron ini mengakibatkan retensi natrium sehingga air juga ditahan,
kehilangan kalor. Sedangkan apabila aldosteron kurang maka air akan banyak keluar karena
natrium hilang. Kortisol juga menyebabkan retensi natrium.

f).Kelenjar paratiroid

Mengatur keseimbangan kalsium dan fosfat melalui hormon paratiroid (PTH).


Sehingga dengan PTH dapat mereabsorbsi tulang, absorbsi kalsium dari usus dan reabsorbsi
kalsium dari ginjal.

4.      Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan diantaranya:

 Umur, kebutuhan pemasukan cairan tubuh dipengaruhi oleh usia, karena usia akan
berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme dan berat badan. Bayi dan
anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan disbanding orang
dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan
gangguan fungsi ginjal atau jantung.

13
Kebutuhan air
UMUR
Jumlah air dalam 24jam ml/kg berat badan
3 hari 250-300 80-100

1 tahun 1150-1300 120-135

3 tahun 1350-1500 115-125

4 tahun 1600-1800 100-110

10 tahun 2000-2500 70-85

14 tahun 2200-2700 50-60

18 tahun 2200-2700 40-50

Dewasa 2400-2600 20-30

 Iklim, orang yang tinggal didaerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban
udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan dan elektrolit tubuh melalui
keringat.
 Diet berpengaruh terhadap pemasukan cairan dan elektrolit. Ketika pemasukan
nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga serum
albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan
dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini dapat menyebabkan edema.
 Stress dapat meningkatkan metabolism sel, glukosa darah dan pemecahan glikogen
otot. Mekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga apabila
terjadi berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.
 Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap keseimbangan cairan misalnya, trauma
(luka) seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan cairan melaui IWL. Penyakit
ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator keseimbangan
cairan dan elektrolit tubuh.

14
 Tindakan medis seperti suction dan  nasogastrik tube berpengaruh terhadap
keseimbangan cairan tubuh.
  Pengobatan seperti deuritik dan laksative dapat berpengaruh pada keseimbangan
cairan tubuh.
 Pembedahan pada pasien beresiko tinggi terhadap gangguan keseimbangan cairan
karena pasien mengalami kehilangan darah selama proses pembedahan.

2.8  Ganguan Keseimbangan Cairan

1). Kekurangan volume cairan ekstraselular atau hipovolemia didefinisikan sebagai


kehilangan cairan tubuh isotonik yang disertai kehilangan natrium dan air dalam jumlah yang
relatif sama. Kekurangan volume isotonik seringkali diistilahkan dengan dehidrasi yang
seharusnya dipakai untuk kondisi kehilangan air murni yang relatif mengakibatkan
hipernatremia. Kekurangan cairan eksternal terjadi karena penurunan asupan cairan dan
kelebihan pengeluaran cairan. Tubuh akan merespons kekurangan cairan tubuh dengan
mengosongkan cairan vaskuler. Sebagai kompensasi akibat penurunan cairan inetrstisial,
tubuh akan mengalirkan cairan keluar sel. Pengosongan cairan ini terjadi pada pasien diare
dan muntah. Ada tiga macam kekurangan cairan eksternal yaitu:
a.  Dehidrasi isotonik, terjadi jika tubuh kehilangan sejumlah cairan dan elektrolit
secara seimbang.
b. Dehidrasi hipertonik, terjadi jika tubuh kehilangan lebih banyak air daripada
elektrolit.
c.  Dehidrasi hipotonik, terjadi jika tubuh kehilangan lebih banyak elektrolit daripada
air.

Kehilangan cairan eksrta sel secara berlebihan menyebabkan volume ekstrasel


berkurang (hipovolume) dan perubahan hematokrit. Pada keadaan dini, tidak terjadi
perpindahan cairan daerah intrasel ke permukaan, sebab osmolaritasnya sama. Jika terjadi
kekurangan cairan ekstrasel dalam waktu yang lama, kadar urea, nitrogen dan kreatinin
meningkat dan menyebabkan perpindahan cairan intrasel ke pembuluh darah. Kekurangan
cairan dalam tubuh dapat terjadi secara lambat atau cepat dan tidak selalu cepat diketahui.
Kelebihan asupan pelarut seperti protein dan klorida/natrium akan menyebabkan ekskresi
atau pengeluaran urine secara berlebihan serta berkeringat dalam waktu lama dan terus
menerus. Hal ini dapat terjadi pada pasien dengan gangguan pada hypothalamus, kelenjar
gondok, ginjal, diare, muntah secara terus-menerus dan lain-lain.   

15
2). Terdapat dua manifestasi yang ditimbulkan akibat kelebihan cairan, yaitu
hipervolume (peningkatan volume darah) dan edema (kelebihan cairan pada intersitisial).
Normalnya, cairan interstisial tidak terikat dengan air, tetapi elastis dan hanya terdapat di
antara jaringan.

Kelebihan volume cairan ekstraselular dapat terjdi bila natrium dan air keduanya
tertahan dengan proporsi yang kira-kira sama. Dengan terkumpulnya cairan isotonik yang
berlebihan pada cairan ekstraselular (hipervolemia) maka cairan akan berpindah ke
kompartemen cairan interstitial sehingga menyebabkan edema. Edema adalah penumpukan
cairan interstitial yang berlebihan, edema dapat terlokalisir atau generalisata.

 Piiting edema merupakan edema yamg ada pada darah perifer atau akan berbentuk
cekung setelah ditekan pada daerah yang bengkak, hal ini disebabkan oleh perpindahan
cairan ke jaringan melalui titik tekan. Cairan dalam jaringan yang edema tidak digerakan ke
permukaan lain dengan penekanan jari. Nonpitting edema tidak menunjukan tanda kelebihan
cairan ekstrasel, tetapi sering karena infeksi dan trauma yang menyebabkan membekunya
cairan pada permukaan jaringan. Kelebihan cairan vaskular meningkatkan hidrostatik cairan
dan akan menekan cairan ke permukaan interstisial.

  Edema anasarka  adalah edema yang terdapat di seluruh tubuh. Peningkatan tekanan


hidrostatik yang sangat besar menekan sejumlah cairan hingga ke membran kapiler paru
sehingga menyebabkan edema paru, dan dapat mengakibatkan kematian. Manifestasi edema
paru adalah penumpukan sputum, dispnea, batuk dan adanya suara nafas ronnchi basah.
Keadaan edema ini disebabkan oleh gagal jantung sehingga dapat mengakibatkan
peningkatan penekanan pada kapiler darah paru dan perpindahan cairan ke jaringan paru.

Pada kelebihan ekstrasel, gejala yang sering timbul adalah edema perifer (pitting edema),
asites, kelopak mata membengkak, suara nafas ronnchi basah, penambahan berat badan
secara tidak normal atau sangat cepat, dan nilai hematokrit pada umumnya normal, akan
tetapi menurun bila kelebihan cairan bersifat akut.

16
BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
         Tubuh manusia terdiri dari cairan antara 50%-60% dari berat badan. Cairan tubuh
adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut ) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah
zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada
di dalam larutan.
Cairan tubuh merupakan faktor penting dalam berbagai proses fisiologis didalam
tubuh. Dapat dikatakan,kemampuan kita untuk bertahan hidup sangat tergantung dari cairan
yang terdapat dalam tubuh kita. Oleh karena itu, terdapat berbagai mekanisme yang berfungsi
untuk mengatur volume dan komposisi cairan tubuh agar tetap dalam keadaan seimbang atau
disebut juga dalam keadaan homeostasis.Sistem kardiovaskuler berfungsi untuk mensuplai
berbagai bahan yang penting melalui darah keseluruh jaringan.

3.2     Saran
     Dari makalah ini kami selaku penulis menyarankan kepada pembaca untuk selalu
memenuhi kebutuhan dan keseimbangan  cairan dalam tubuh.

17
DAFTAR PUSTAKA

Sediaoetama, Achmad Djaeni. 1999. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid I. Jakarta :
Dian Rakyat.

Pearce, Evelyn. 1993. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia.

Communication Limited, Cambridge. 1996. Anatomi dan Fisiologi Modul Swa-instruksional.


Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC.

Jati, Wijaya. 2007. Aktif Biologi Pelajaran Biologi untuk SMA/MA. Jakarta: Ganeca Exact.

http://choled.wordpress.com/2008/02/17/

http://ayosz.wordpress.com/2008/02/21/keseimbangan-asam-basa//

Potter & Perry. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4. Jakarta: EGC

18

Anda mungkin juga menyukai