Anda di halaman 1dari 4

1.

             Apresiasi Fakta Cerita

a.    Alur Campuran

Pada bagian awal cerita, pengarang yang sudah menceritakan kehidupan masakecil Zaenudin sampai
ketika dia merenung dibawah pohon yang akhirnya pengarang mengangkat kembali ingatan Zainuddin
mengenai kisah masalalunya seperti asal-usul ayahnya dan kelahiran Zainuddin hingga akhirnya dia
yatim piatu dan dirawat Mak Base. Setelah mengisahkan alur tersebut, cerita dikembalikan lagi pada
saat Zainuddin merenung.

Selain itu, pengenalan tokoh yang seharusnya disampaikan diawal cerita namun disampaikan pada
padahan yang sudah membentuk sebuah alur ditengah cerita.

b.   Tokoh dan penokohan

Tokoh Penokohan

Zainuddin Pantang menyerah, pekerja keras, suka menolong,


haus ilmu, tegar, jujur, dermawan

Hayati Tidak berpendirian, matrealistis, tidak setia, tidak


berdaya

Aziz Sombong, tidak dapat dipercaya, boros, mata


keranjang, tidak tau malu, tidak bertanggungjawab,
pengecut

Khadijah Sombong, penghasut

Muluk Baik, dapat dipercaya, setia

Mak Base Baik, tulus, penyayang

Mak Limah Penyayang

Datuk Garang Egois, sombong, otoriter

c.    Latar

Latar Keterangan pada novel

Waktu 1930

Tempat Mengkasar, Surabaya, Jakarta, Minangkabau (Batipuh


dan Padang Panjang)

Suasana Menyedihkan, Mengharukan


2.             Sarana Cerita

a.    Judul : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

b.    Sudut Pandang : orang ketiga serbatahu

c.    Gaya dan nada

1)        Gaya terdapat dua bagian yang tidak terlepas darinya yaitu unsur leksikal dan unsur gramatikal

a)        Diksi : menggunakan gaya bahasa hiperbola dan penggunaan bahasa Melayu yang diksinya sulit
dipahami

b)        Struktur kalimat : membingungkan karena menggunakan bahasa Melayu yang struktur kalimatnya
belum sempurna dan kata-kata adat yang sulit dimengerti.

2)        Nada

Dengan penggunaan majas hiperbola dan pencitraan dari indra penglihatan membuat penggambaran
suasana yang begitu mengharukan dan membuat hati terbawa dalam cerita menjadi semakin jelas.

3.      Tema Cerita

Secara umum, novel ini mengisahkan perjalanan cinta Zainudin dan Hayati yang akhirnya terpisahkan
oleh maut dan waktupun tidak mengizinkan mereka untuk saling memiliki sebagai sepasang suami istri
seperti yang mereka harapkan pada waktu itu. Sehingga penulis menyimpulkan bahwa tema novel
tersebut adalah percintaan.

4.      Unsur Pragmatik

a.    Unsur Pragmatik

Memberikan informasi pada waktu itu memang terjadi hal-hal tersebut. Dengan harapan adanya novel
ini, adat yang semula menutup diri akan lebih membuka diri untuk menerima perubahan-perubahan
kearah yang lebih positif. Selain itu, nilai agama yang terkandung didalamnya bisa saja merupakan
sebuah motif penyebaran agama islam dan yang terkahir sebagai hiburan.

b.    Unsur Moral

Novel ini mengandung nilai sosial yang sangat tinggi, dimana pada saat itu daerah Minangkabau sangat
kuat dengat adat hingga diumpamakan meski terkena hujan dan panas tidak akan luntur kepatuhan
masyarakatnya dengan adat yang ada. Perjodohan juga masih menjadi corak kisah cinta anak muda
zaman tersebut. Nilai kesusilaan sendiri dapat dilihat apabila seorang wanita belum ada ikatan maka
tidak boleh bersentuhan dan berkirim surat.

Penyampaian pesan secara tidak langsung, karena nilai moral yang ada diungkapkan secara eksplisit dan
disiratkan melalui cerita.

5.      Unsur Ekstrinsik

Menurut Wellek dan Werren (1989), unsur ekstrinsik terdiri atas tiga bagian yang telah diuraikan sebagai
berikut.

a.    Biografi pengarang

HAMKA adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Beliau lahir di Molek, Meninjau, Sumatra
Barat, pada 17 Februari 1908. Ayah beliau bernama Syeh Abdul Karim bin Amrullah (Haji Rasul).

Ketika Hamka berumur sepuluh tahun ayahnya membangun Thawalib Sumatra di Padang Panjang. Di
sana Hamka belajar tentang ilmu agama dan bahasa Arab. Disamping belajar ilmu agama pada ayahnya,
Hamka juga belajar pada beberapa ahli Islam yang terkenal seperti: Syeh Ibrahim Musa, Syeh Ahmad
Rasyid, Sutan Mansyur dan Ki Bagus Hadikusumo.

Pada tahun 1927 Hamka menjadi guru agama di Perkebunan Tinggi Medan dan Padang Panjang tahun
1929. tahun 1957-1958 Hamka sebagai dosen di Universitas Islam Jakarta dan Universitas Muhamadiyah
Padang Panjang.

Hamka tertarik pada beberapa ilmu pengetahuan seperti: sastra, sejarah, sosiologi, dan politik. Pada
tahun 1928 Hamka menjadi ketua Muhammadiyah di Padang Panjang. Tahun 1929 beliau membangun
“Pusat Latihan Pendakwah Muhammadiyah” dua tahun kemudian menjadi ketua Muhammadiyah di
Sumatra Barat dan Pada 26 juli 1957 beliau menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia.

Hamka sudah menulis beberapa buku seperti: Tafsir Al-Azhar (5 jilid) dan novel seperti; Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck, Di bawah Lindungan Ka’bah, Merantau Ke Deli, Di dalam Lembah Kehidupan dan
sebagainya. Hamka memperoleh Doctor Honoris Causa dari Universitas Al- Azhar (1958), Doctor Causa
dari Universitas Kebangsaan Malaysia (1974) dan pada 24 juli 1981 Hamka meninggal dunia.

b.   Latar belakang penulisannya

Latar belakang pengarang yang hidup dilingkungan agama yang kental sejak kecil memberi pengaruh
pada karya sastra yang dihasilkanya. Seperti yang telah disebutkan judul karya satra yang dicipkannya
identik dengan agama dan kisah mengenai perjalanan hidup.

c.    Masyarakat yang melihat dari nilai-nilai yang berkembang

1)        Nilai sosial : saling menolong antar sesama

2)        Nilai ekonomi : hemat, berniaga


3)        Nilai budaya : perjodohan

4)        Nilai politik : mempengaruhi orang lain mengikuti suatu kaum

5)        Nilai Aagama : laki-laki tidak boleh berdekatan dengan wanita