Anda di halaman 1dari 16

CRITICAL JOURNALREVIEW

ANALISIS RAGAM TUTURAN PARA PELAKU PASAR KABUPATEN


PAMEKASAN

Oleh:

LISA KIRANTI (2181111007)

KELAS : REGULER C 2018

PRODI PENDIDIKAN : PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

JURUSAN : BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS : BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS : UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Sang Illahi Robbi yang mana atas berkat dan Rahmat-Nyalah kami
bisa menyelesaikan makalah ini, tak lupa sholawat dan salam marilah kita limpah curahkan
kepada Guru besar kita Yakni Nabi Muhammad SAW, tanpa adanya beliau mungkinkah kita
terbebas dari zaman kebodohan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs. Syamsul Arif, M.Pd., Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
2. Ibu Trisnawati Hutagalung, M.Pd., Sekretaris Jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia
3. Ibu Fitriani Lubis, M.Pd., Ketua Prodi Pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia
4. Bapak Drs. Azhar Umar, M.Pd., M.Pd, dosen mata kuliah Sosiolinguistik
5. teman-teman yang memberikan bantuan baik langsung maupun tidak langsung
6. orang tua tercinta yang tidak bosan-bosannya mendoakan dan sekaligus
memberikan dana kepada penulis.

Semoga critical book report ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, 25 Maret 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................i

DAFTAR ISI......................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................1

A. Rasionalisasi pentingnya CJR.................................................................................1


B. Tujuan Penulisan CJR.............................................................................................1
C. Manfaat Penulisan CJR...........................................................................................1
D. Identitas Jurnal.........................................................................................................1

BAB II RINGKASAN ISI JURNAL................................................................................3

A. Ringkasan Jurnal Utama..........................................................................................3


B. Ringkasan Jurnal Pembanding.................................................................................5

BAB III KELEBIHAN DAN KEKURANGAN..............................................................11

A. Kelebihan.................................................................................................................11
B. Kekurangan..............................................................................................................11

BAB IV PENUTUP............................................................................................................12

A. Simpulan..................................................................................................................12
B. Saran........................................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................13

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya CJR

Disaat kita membutuhkan sebuah referensi, yaitu jurnal sebagai sumber bacaan kita
selain buku dalam mempelajari mata kuliah Sosiolinguistik, sebaiknya kita terlebih dahulu
mengkritisi jurnal tersebut agar kita mengetahui jurnal mana yang lebih relevan untuk
dijadikan sumber bacaan.

B. Tujuan Penulisan CJR


a. Untuk memenuhi tugas KKNI yang wajib dari mata kuliah Sosiolinguistik.
b. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam meringkas dan membandingkan jurnal
satu dengan jurnal yang lain.
c. Memperkuat pemahaman pembaca terhadap pentingnya sosiolinguistik dalam
kehidupan.

C. Manfaat CJR
a. Sebagai rujukan bagaimana untuk menyempurnakan sebuah jurnal dan mencari
sumber bacaan yang relevan.
b. Membuat saya sebagai penulis lebih terasah dalam mengkritisi sebuah jurnal.
c. Untuk menambah pengetahuan tentang mata kuliah ini.

D. Identitas Jurnal
 Identitas jurnal pertama
a. Judul artikel : Analisis Ragam Tuturan Para Pelaku Pasar
Kabupaten Pamekasan (Studi Sosiolinguistik
Penggunaan Variansi Sapaan)
b. Nama jurnal : Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaaan
Sosial
c. Edisi terbit : 2013
d. Pengarang artikel : Abd. Ghofur
e. Penerbit : Nuansa
f. Kota terbit : Pamekasan
g. Nomor ISSN : 1907-7211 (Print); 2442-8078 (Online)

1
 Identitas jurnal kedua
a. Judul artikel : Register Percakapan Anggota Kesatuan Lalu Lintas
Polresta Pontianak: Kajian Sosiolinguistik
b. Nama jurnal : -
c. Edisi terbit : 2017
d. Pengarang artikel : Wahyu Damayanti
e. Penerbit : Balai Bahasa Kalimantan Barat
f. Kota terbit : Pontianak
g. Nomor ISSN : 0854-3283 ( Print), ISSN 2580-0353 (Online)

2
BAB II

RINGKASAN ISI JURNAL

A. Ringkasan Jurnal Utama

Pendahuluan

Masyarakat sebagai pemakai bahasa, selalu tumbuh dan berkembang. Hal ini
mempengaruhi juga terhadap perkembangan bahasa, sehingga pun ikut berkembang seperti
sesuatu yang hidup. Pertumbuhan dan perkembangan bahasa sejalan dengan perkembangan
kebudayaan bangsa, dimana bahasa merupakan salah satu bagian dari sejumlah cipta, rasa
dan karsa manusia. Wajarlah apabila suatu bahasa relevan dengan tingkat dan kualitas bahasa
dari bangsa itu.

Oleh sebab itu kita membutuhkan suatu studi yang akan membahas tentang pemakaian
ragam bahasa agar tercipta komunikasi yang baik dan lancar. Dikatakan baik jika komunikasi
tersebut dapat menciptakan situasi yang serupa dengan kondisi yang diinginkan, dan
dikatakan lancar jika komunikasi tersebut terjadi dalam satu topik dan satu tujuan, antara
penutur dan pendengar saling memahami dan memberikan umpan balik terhadap apa yang
dikomunikasikan.

1. Sosiolinguistik

Sosiolinguistik merupakan ilmu antar disiplin antara sosiologi dan linguistik. Dua bidang
ilmu empiris yang mempunyai kaitan sangat erat. Menurut para ahli, sosiologi adalah kajian
yang objektif dan ilmiah mengenai manusia didalam masyarakat, dan mengenal lembaga-
lembaga, serta proses sosial yang terjadi dalam masyarakat tersebut. Sebagai objek dalam
kajian sosiolinguistik, bahasa tidak dapat dilihat atau ditelaah sebagai bahasa menurut
pengertian para ahli linguistik umum, melainkan harus dilihat atau ditelaah sebagai sarana
interaksi atau komunikasi yang terjadi dalam masyarakat itu sendiri.

2. Fungsi bahasa dalam sosiolinguistik

Fungsi bahasa sendiri dilihat dari segi topik ujaran ini berfungsi referensial. Finnochiaro
(1974) dan Halliday (1973) menyebutnya representational, sedangkan Jacobson (1960)
menyebutnya fungsi kognitif, ada juga yang menyebutnya fungsi denotatif atau fungsi
informatif. Fungsi referensial inilah yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu alat

3
untuk menyatakan pikiran, untuk menyatakan bagaimana pendapat si penutur mengenai dunia
di sekelilingnya.

3. Ragam bahasa

Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang disebabkan oleh terjadinya interaksi sosial
yang dilakukan menurut hubungan pembicara, kawan bicara, dan orang yang dibicarakan,
serta menurut medium pembicaraan atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang
pemakaiannya berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan.

Variasi bahasa berdasarkan penuturnya adalah yang disebut dialek, yakni variasi bahasa
dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah, atau
area tertentu, sementara bila dikhususkan pada variasi perorangan disebut dengan idiolek.

4. Kegunaan sosiolinguistik

Dalam penggunaan bahasa, sosiolinguistik memberikan pengetahuan tentang bagaimana


cara menggunakan sebuah bahasa. Sosiolinguistik mengajarkan tentang bagaimana
menggunakan sebuah bahasa dalam segi sosial tertentu. Dengan begitu akan terlihat bahwa
bahasa manusia tersebut beragam. Keragaman bahasa yang mencerminkan keragaman
masyarakat dapat terlihat pada salah satu segi bahasa yang dinamakan tutur sapa. Semua
bahasa mempunyai apa yang disebut sistem tutur sapa, yakni sistem yang mempertautkan
seperangkat kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang dipakai untuk menyebut dan memanggil
para pelaku dalam suatu peristiwa bahasa.

Metode

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, sedangkan jenis penelitiannya adalah


deskriptif, data kualitatif berupa peristiwa bahasa.

Hasil penelitian

Adapun tahapan pengumpulan data dari sample yang telah dipilih sebagai berikut:

 Pemilihan sample awal, apakah informan (untuk di wawancarai) ataukah suatu situasi
sosial (untuk diobservasi) adalah:
a. Informasi untuk diobservasi
b. Tehnik wawancara
c. Pemilihan sample

4
d. Menghentikan pemilihan sample lanjutan sekaligus tidak muncul lagi informasi
yang bervariasi dengan informasi yang telah diperoleh sebelumnya.

Pembahasan penelitian

Kata sapaan adalah kata yang muncul dalam pertuturan untuk memanggil orang yang
diajak bicara. Pengambilan data yang dimulai sejak bulan Juni sampai pertengahan Agustus
dengan mempertimbangkan hari-hari pasaran didapatkan sejumlah data yang selanjutnya
dipilah dan dipilih sesuai dengan fokus masalah. Setelah menganalisis percakapan antara
pedagang dan pembeli, serta karyawan toko, dari beberapa pasar yang ada di Kab.
Pamekasan.

Kata sapaan yang digunakan sebagian besar merupakan istilah kekerabatan dalam
masyarakat Madura misalnya Le’ [baca: ale’] / adik, Nom [baca: Anom] / paman, Nyah
[baca: nyayah] / bibi, pak [baca: pak/eppak/bapak] , bhi’[baca: bhibhi’] bibi, Yu / mbhug
/kakak perempuan, bak [baca: Mbak], Nak yang termasuk dalam data kekerabatan,
sedangkan untuk kata ganti yang banyak digunakan adalah Empean [kependekan dari
Sampean] / Anda , kanak. Penggunaan kata sapaan nominal dapat ditunjukkan dengan
temuan Ceng [baca: lanceng], ning. Untuk sapaan petname digunakan Sayang, Ning raddin.
Sedangkan untuk gelar/kepangkatan yang banyak ditemui adalah Jih [baca: Ajjih],
bhindhereh, Bapak/Ibu. Lebih lanjut penggunaan ciri zerojuga banyak ditemukan yakni,
sapaan yang tanpa menyebutkan kategori orang yang diajak berkomunikasi. Contoh:
Ngobenganah napah ?. pada kalimat tersebut cukup banyak ditemukan penggunaannya

B. Ringkasan Jurnal Pembanding

Pendahuluan

Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi digunakan dalam berbagai lingkungan,


tingkatan, dan kepentingan yang beraneka ragam, sedangkan bahasa sebagai kontrol sosial
berfungsi mengendalikan komunikasi agar orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut
dapat saling memahami.

Perbedaan penggunaan bahasa pada masing-masing lingkungan sosial biasanya ditandai


oleh register pada kelompok tersebut. Wardaugh (1998, hlm. 48), register adalah pemakaian
kosakata khusus yang berkaitan dengan jenis pekerjaan atau pun kelompok sosial tertentu.

5
Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik
pengumpulan data dengan cara simak dan catat.

Hasil dan Pembahasan

1. Bentuk Dasar

Istilah bentuk dasar dipilih di antara kelas kata utama, seperti nomina, verba, adjektiva,
dan numeralia (Tim Redaksi PUPI Pusat Bahasa, 2007, hlm. 23). Istilah bentuk dasar dipilih
di antara kelas kata utama, seperti nomina, verba, adjektiva, dan numeralia (Tim Redaksi
PUPI Pusat Bahasa, 2007, hlm. 23).

Misal:

(1) Dwi: hati-hati bos di depan ada larangan parkir lho (24/9/2016).
(2) Subeki: 93-1 mendorong truk engkel yg mogok di depan putaran muhamadiah
(27/9/2016).

Pada data (1) dan (2) terdapat register bentuk kata dasar verba, yaitu kata parkir dan
mogok. Kata dasar berkas merupakan bentuk verba yang berarti memarkir (Tim Redaksi
KBBI Pusat Bahasa, 2014, hlm. 1023).

2. Bentuk berafiks

Istilah bentuk berafiks disusun dari bentuk dasar dengan penambahan prefiks, infiks,
sufiks, dan konfiks seturut kaidah pembentukan kata bahasa Indonesia, misalnya dari bentuk
pirsa menjadi pemirsa, bukan pirsawan, dari hantar menjadi keterhantaran; dan bukan
hantaran.

Misal :

(1) Rivai: stap min ops melaksanakan giat sabtu tertib administrasi (24/9/2016).

Pada data (1) terdapat kata berafiks melaksanakan yang terbentuk dari kata kerja laksana
yang memiliki konfiks me- dan -kan.

6
3. Bentuk ulang

Istilah bentuk ulang dapat berupa ulangan bentuk dasar seutuhnya atau sebagiannya
dengan atau tanpa pengimbuhan dan pengubahan bunyi (Tim Redaksi PUPI Pusat Bahasa,
2007, hlm. 27—28).

Misal:

(1) Sunarto: Mhn rekan2 ranting 96 dan ranting 9 agar tdk mengaplod korban laka utk
konsumsi luar trim (8/9/2016).
(2) Willy: ampun sy nda berani nilang bang. Sy nda pandai nilang2 org bang (21/9/2016).
(3) Asep: budak ni sering dah tipu2 klub PI…ptk info (23/9/2016).

Dalam percakapan antaranggota Polantas Pontianak terdapat bentuk kata ulang. Hal ini
bisa dilihat pada data (1)—(3) merupakan bentuk ulang tanpa pengimbuhan, yaitu rekan2,
nilang2, dan tipu2. Bentuk kata ulang ditandai dengan angka dua yang berarti pengulangan.
Bentuk majemuk

4. Bentuk majemuk

Istilah bentuk majemuk atau kompositum merupakan hasil penggabungan dua bentuk atau
lebih, yang menjadi satuan leksikal baru. Gabungan kata itu berupa (1) gabungan bentuk
bebas dengan bentuk bebas, (2) bentuk bebas dengan bentuk terikat, atau (3) bentuk terikat
dengan bentuk terikat (Tim Redaksi PUPI Pusat Bahasa, 2007, hlm. 28-32).

Misal :

(1) Putri: Ijin komandan n senior melaporkan sidang tilang hr ini utk sidang tilang pelajar
dan umum, situasi aman terkendali (23/9/2016).

Pada data ini terdapat bentuk majemuk gabungan bentuk yakni situasi aman terkendali.

7
5. Pemendekan atau abreviasi

Abreviasi adalah proses penanggalan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi
leksem sehingga menghasilkan bentuk baru yang berstatus kata (Kridalaksana, 2014, hlm.
159).

6. Pemenggalan

Salah satu bentuk abreviasi adalah pemenggalan. Pemenggalan adalah proses


pemendekan yang mengekalkan salah satu bagian dari kata atau leksem (Kridalaksana, 2014,
hlm. 162).

Misal:

(1) Kasat Wahyu: Trims. Trims…mlm ini silahkan laks antisipasi balap liar dengan
pendekatan cb preventif. (25/9/2016).

Pada data ini register yang menunjukkan adanya pemenggalan kata adalah laks. Laks
merupakan pemenggalan dari kata laksanakan.

7. Singkatan

Masih menurut Kridalaksana (2014, hlm. 162), singkatan adalah salah satu hasil proses
pemendekan yang berupa huruf, baik yang dieja huruf demi huruf maupun yang tidak dieja
huruf demi huruf.

Misal:

(1) Budiono: Tiba di rutan Pontianak TSK Rahmat kurnia LP 326 (25/9/2016).

Data ini terdapat register singkatan, yaitu pada TSK dan LP. TSK dan LP merupakan
singkatan dari tersangka dan laporan.

8. Akronim

Kridaklaksana (2014, hlm. 162) menyatakan akronim adalah proses pemendekan yang
menggabungkan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai
sebuah kata yang sedikit banyak memenuhi kaidah

Misal:

8
(1) Heri: pengamanan giat unras di bund untan dri solmadapar (24/9/2016).

Pada data ini terdapat register akronim unras dan untan. Unras merupakan akronim dari
unjuk rasa, sedangkan untan akronim dari Universitas Tanjungpura.

9. Kontraksi

Kontraksi, yaitu proses pemendekan yang meringkas leksem dasar atau gabungan leksem
(Kridalaksana, 2014, hlm. 162).

Misal:

(1) Asep: Pnjg sim b1 b2 dah bise ke di simling bg muis (26/9/2016).

Register kontraksi muncul pada data (42), yaitu pjng dan dah. Pjng merupakan kontraksi
dari perpanjangan dan dah merupakan kontraksi dari sudah.

10. Sapaan

Crystal dalam Damayanti (2014, hlm. 22), sapaan adalah cara mengacu seseorang di
dalam interaksi linguistik yang dilakukan secara langsung yang dianalisis, yaitu tipe-tipe
partisipan yang dibedakan berdasarkan situasi sosial dan kaidah-kaidah yang dikemukakan
untuk menjelaskan penulisan penggunaan istilah yang dilakukan oleh si pembicara, seperti
penggunaan nama pertama, gelar, dan pronomina (kata ganti).

Misal:

(1) Asep: Dwi…tambah angin ban ktl…lp tdd nak cas ban tu (25/9/2016).

Pada data ini terdapat register sapaan dengan langsung menyebut nama diri, yaitu Dwi.

11. Kode

Kode adalah tanda (kata-kata, tulisan) yang disepakati untuk maksud tertentu (untuk
menjamin kerahasiaan berita, pemerintah, dan sebagainya) (Tim Redaksi KBBI Pusat
Bahasa, 2014, hlm. 711).

Misal:

(1) Sunarto: Mhn rekan2 ranting 96 dan ranting 9 agar tdk mengaplod korban laka utk
konsumsi luar trim (8/9/16).

9
Pada data ini register kode muncul dengan kata dan angka ranting 96 dan ranting 9 yang
berarti personal pada unit kecelakaan untuk ranting 96 dan ranting 9 yang berarti personal
lalu lintas.

12. Istilah khusus

Istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu makna
konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu (Tim Redaksi KBBI
Pusat Bahasa, 2014, hlm. 552).

Misal:

(1) Ro: dakgar putaran oso negative helm BB R2 (24/9/2016).

Pada data ini terdapat istilah khusus dakgar yang sering digunakan dalam percakapan
antaranggota Lantas.

10
BAB III

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

A. Kelebihan
 Kelebihan
1. Dari aspek ruang lingkup isi artikel, jurnal pertama karangan Abd. Gafur
merupakan sebuah jurnal yang sudah baik dalam memaparkan ruang lingkup isi.
Baik, membahas tentang pengertian sosiolinguistik maupun menganalisis
permasalah di jurnal ini yakni tentang ragam tutur para pelaku. Terdapat contoh
penggalan dari hasil pembahasan yakni mengenai tentang contoh-contoh kata
sapaan seperti “kepala sekolah” yang dipakai di Madura yakni “Kalebhun”.
Sedangkan jurnal kedua karangan Damayanti sudah memuat materi sangat baik.
Dan nilainya satu poin di atas jurnal 1. Jurnal pembanding mampu memberikan
penjelasan mengenai analisis register percakapan anggota kesatuan lalu lintas
Polresta Pontianak lengkap dengan pengertian setiap subbab lengakp dengan
contoh.
2. Dari aspek tata bahasa jurnal pertama dan kedua telah memakai bahasa yang baku
dan sesuai EYD, sehingga bahasa mudah dimengerti.
3. Dari aspek tata layout jurnal utama, dan jurnal kedua telah bagus dan rapi.
Menggunakan spasi yang benar, ukuran huruf yang benar, dan tata letak yang rapi.
 Kekurangan

Kekurangannya terletak pada hasil ruang lingkup di jurnal 1 yang kurang unggul sedikit
dengan jurnal pembanding.

11
BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

Dari buku-buku yang sudah direview sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa jurnal
utama dan jurnal pembanding tidak banyak mengandung kekurangan. Hal ini terbukti karena
kedua buku ini telah menyajikan hasil informasi dengan baik dan tepat, sehingga tidak ada
kebingungan dari para pembaca. Namun, perlu ditegaskan lagi bahwa hasil yang dipercayain
oleh para pembaca tentu saja mengandung contoh yang lengkap dengan pembahasannya. Dan
hal tersebutlah yang membuat jurnal pembanding kalah sedikit dengan jurnal utama.

A. Saran

Semoga jurnal-jurnal lainnya juga dapat memperbaiki hasil pembahasannya dengan


memperkuat contoh dan materi dengan baik.

12
DAFTAR PUSTAKA

Damayanti, Wahyu. (2017). Register Percakapan Anggota Kesatuan Lalu Lintas Polresta
Pontianak: Kajian Sosiolinguistik. 29(1), 103-116.

Ghofur, Abd. (2013). Analisis Ragam Tuturan Para Pelaku Pasar Kabupaten Pamekasan
Studi Sosiolinguistik Penggunaan Variansi Sapaan). Jurnal penelitian sosial dan
keagamaan sosial Indonesia, 10(2), 260-282.

13