Anda di halaman 1dari 23

FARMAKOLOGI

OBAT PADA SALURAN PENCERNAAN

Dosen Pengampu

Dony Setyawan H.P., S.Kep.Ns., MM.

Disusun Oleh

1. Ella Meru Kumala (G51171529)


2. Diana safira (G41171859)
3. Lisa Muhimmatun Hasanah (G41171920)
4. Fatika Laily Novitasari (G41172002)
5. Syahfira natasya prasetya (G41172029)
6. Asri dheajeng imani (G41172145)
7. Siti hajar aprilianti (G41172193)
8. Bellavidea aprilisa (G41172194)
9. Chindy Indriani Putri Regilia (G41172226)

KELOMPOK 1/ GOL C

PROGRAM STUDI REKAM MEDIK

JURUSAN KESEHATAN

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2019

1
DAFTAR ISI

Contents
DAFTAR ISI..........................................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................1
1.3 Tujuan................................................................................................................2
1.4 Manfaat..............................................................................................................2
BAB 2. PEMBAHASAN.........................................................................................................3
2.1 Definisi Obat Sistem Pencernaan.......................................................................3
2.2 Klasifikasi Obat Sistem Pencernaan....................................................................3
2.2.1 ANTISPASMODIK........................................................................................3
2.2.2 ANTIDIARE..................................................................................................5
2.2.3 OBAT LAKSATIF (PENCAHAR)......................................................................5
2.2.4 KOLAGOGUM,KOLELITOLITIK DAN HEPATIK PROTEKTOR.........................10
2.2.5 OBAT HEMOROID.....................................................................................10
2.2.6 OBAT DIGESTAN.......................................................................................12
2.2.7 ANTASIDA.................................................................................................12
2.2.8 ANTIFLATULEN DAN ANTIINFLAMASI.......................................................14
BAB 3. PENUTUP..............................................................................................................16
3.1 Kesimpulan............................................................................................................16
3.2 Saran.....................................................................................................................16

ii
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut
sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk
menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap
zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang
tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.Saluran
pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan,
lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga
meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu
pankreas, hati dan kandung empedu.Adapun gangguan pada sistem
pencernaan seperti gastritis,hepatitis,diare,konstipasi,apendiksitis dan
maag.Masalah pencernaan dari kategori ringan hingga berat harus segera
diatasi jika tidak akan dapat memperburuk keadaan.Salah satu cara untuk
mengatasi sistem pencernaan adalah dengan mengkonsumsi obat , yang
termasuk dalam kategori obat sistem pencernaan diantaranya Antasida, H2
reseptor antagonis , Antiemetik , Antikolinergik, Hepatoprotektor ,
Antibiotik , Proton pompa inhibitor, Prokinetik, Antidiare , Laksatif. Seperti
yang diketahui dalam pelayanan kesehatan, obat merupakan komponen yang
penting karena diperlukan dalam sebagian besar upaya kesehatan baik untuk
menghilangkan gejala/symptom dari suatu penyakit, obat juga dapat
mencegah penyakit bahkan obat juga dapat menyembuhkan penyakit. Tetapi
di lain pihak obat dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan apabila
penggunaannya tidak tepat. Oleh sebab itu, penyediaan informasi obat yang
benar, objektif dan lengkap akan sangat mendukung dalam pemberian
pelayanan kesehatan yang terbaik kepada masyarakat sehingga dapat
meningkatkan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah definisi dari obat sistem pencernaan ?

2. Apa sajakah klasifikasi dari obat pencernaan ?

1
3. Apa saja efek yang dapat ditimbulkan dari obat pencernaan ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari obat sistem pencernaan.

2. Untuk mengetahui klasifikasi dari obat sistem pencernaan.


3. Untuk mengetahui efek yang dapat ditimbulkan dari obat sistem
pencernaan.

1.4 Manfaat
1. Dapat mendefinisikan dari obat sistem pencernaan.

2. Dapat mengklasifikasi dari obat sistem pencernaan.


3. Dapat mengetahui efek yang dapat ditimbulkan dari obat sistem
pencernaan.

2
BAB 2. PEMBAHASAN

1.5 Definisi Obat Sistem Pencernaan

Obat Sistem Pencernaan adalah obat yang bekerja pada sistem


gastrointestinal dan hepatobiliar. Sistem pencernaan berfungsi :
 menerima makanan
 memecah makanan menjadi zat-zat gizi (suatu proses yang disebut
pencernaan)
 menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah
 membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna dari tubuh

1.6 Klasifikasi Obat Sistem Pencernaan

Terdapat beberapa klasifikasi dari obat sistem pencernaan


diantaranya : Antispasmodik, Antasida, Antiflatulen dan AntiInflamasi,
Hepatoprotektor, Antidiare, Laksatif, Digestan, Hemoroid.

1.6.1 ANTISPASMODIK
Antispasmodik merupakan golongsn obat yang memiliki sifat sebagai
relaksan otot polos.Termasuk dalam kelas ini ialah senyawa yang memiliki efek
anti kolinelgik (lebih tepatnya anti muskarinik) dan antagonis reseptor-dopamin
tertentu.Meskipun antipasmodik dapat mengurangi spasme usus , tetapi
penggunaanya dalam dispepsia bukan tukak, sindrom usus irritable dan penyakit
divertikular hanya bermanfaat sebagai penobatan tambahan. Manfaat klinik anti
sekresi lambung obat anti muskarinik konvensional relatif kecil, karena
dosisnya dibatasi oleh efek samping senyawa miip antropin.Selain itu,
keberadaannya telah digantikan oleh obat-obat anti sekresi yang lebih kuat dan
spesifik, yakni antagonis reseptor-H2 histamin dan anti muskarinik selektif
piren zevin.Antipasmodik obat yang digunakan untuk mengatasi kejang pada
saluran cerna yang mungkin disebabkan diare, gastritis, tukak peptik
dan sebagainya.Beberapa contoh :Hyoscine (Obat ini beraksi pada sistem
saraf otonom dan mencegah kejang otot), Clidinium (Kombinasi

3
chlordiazepoxide dan clidinium bromide digunakan untuk mengobati lambung
yang luka dan teriritasi. Obat ini membantu mengobati kram perut dan
abdominal.) , Mebeverine , Papaverine, (golongan alkaloid opium yang
diindikasikan untuk kolik kandungan empedu dan ginjal dimana dibutuhkan
relaksasi pada otot polos, emboli perifer dan mesenterik.) , Timepidium ,
Pramiverine , Tiemonium.

GASTRITIS/MAAG

1. Gastritis bakterialis akibat infeksi oleh Helicobacter pylori (bakteri


yang tumbuh di dalam sel penghasil lendir di lapisan lambung).
Obat yang diberikan mengandung bismuth atau antibiotik misalnya
amoxicillin dan claritromycin) dan obat anti-tukak (omeprazole).
2. Gastritis karena stres akut, merupakan jenis gastritis yang paling
berat, yang disebabkan oleh penyakit berat atau trauma (cedera).
Obat : jenis antasida (untuk menetralkan asam lambung) dan anti-
ulkus yang kuat (untuk mengurangi atau menghentikan
pembentukan asam lambung). Perdarahan hebat : menutup sumber
perdarahan pada tindakan endoskopi.
3. Gastritis erosif kronis bisa merupakan akibat dari: bahan iritan
seperti obat-obatan, terutama aspirin dan obat anti peradangan
non-steroid lainnya penyakit Crohn , alkoholik, dll diobati dengan
jenis antasida dan antagonis reseptor H2 misal Cimetidin,
Ranitidian
4. Gastritis eosinofilik bisa terjadi sebagai akibat dari reaksi alergi
terhadap infestasi cacing gelang. diberikan obat maag dengan jenis
kortikosteroid atau dilakukan pembedahan.
5. Gastritis sel plasma merupakan gastritis yang penyebabnya tidak
diketahui.
Obat : jenis anti ulkus yang menghalangi pelepasan asam lambung

4
1.6.2 ANTIDIARE
Diare adalah peningkatan volume, keenceran atau frekuensi buang air
besar.( Perubahan frekuensi & konsistensi ) dari kondisi normal. Dalam keadaan
normal, tinja mengandung 60-90% air, pada diare airnya bisa mencapai lebih
dari 90%.Diare merupakan suatu gejala, pengobatannya tergantung pada
penyebabnya., dapat dijelaskan sebagai berikut :
 untuk membantu meringankan diare, diberikan obat seperti difenoksilat,
codein, paregorik (opium tinctur) atau loperamide.

 untuk membantu mengeraskan tinja bisa diberikan kaolin, pektin dan


attapulgit aktif.

 Jika diarenya berat /dehidrasi, maka penderita perlu dirawat di rumah sakit
dan diberikan cairan pengganti dan garam melalui infus.

Selama tidak muntah dan tidak mual, bisa diberikan larutan


yang mengandung air, gula dan garam.Anti diare yang ideal harus
bekerja cepat, tidak menyebabkan konstipasi, mempunyai indeks
terapeutik yang tinggi, tidak mempunyai efek buruk terhadap
sistem saraf pusat, tidak menyebabkan ketergantungan..
Contoh antidiare :

1. Racecordil, memenuhi semua syarat ideal, cara kerjanya


mengembalikan keseimbangan sistem tubuh dalam mengatur
penyebaran air dan elektrolit ke usus.
2. Loperamide, golongan opioid yang bekerja dengan cara
memperlambat motilitas saluran cerna
3. Nifuroxazide , bakterisidal terhadap E coli, Shigella
dysenteriae, Streptococcus, Staphylococcus dan P aeruginosa.
Nifuroxazide bekerja lokal pada saluran pencernaan.
4. Dioctahedral smectite, melindungi barrier mukosa usus &
menyerap toksin, bakteri, serta rotavirus.

1.6.3 OBAT LAKSATIF (PENCAHAR)


Sembelit (konstipasi) adalah suatu keadaan dimana seseorang

5
mengalami kesulitan buang air besar atau jarang buang air besar. Jika konstipasi
disebabkan oleh suatu penyakit, maka penyakitnya harus diobati. Pencegahan
dan pengobatan terbaik untuk konstipasi adalah gabungan dari olah raga,
makanan kaya serat. Sayur-sayuran, buah-buahan dan gandum merupakan
sumber serat yang baik.Golongan obat-obat pencahar yang biasa digunakan
adalah :
1. Bulking Agents. Bulking agents (gandum, psilium, kalsium
polikarbofil dan metilselulosa) bisa menambahkan serat pada
tinja.
2. Pelunak Tinja. Dokusat akan meningkatkan jumlah air yang
dapat diserap oleh tinja.
3. Minyak Mineral. Minyak mineral akan melunakkan tinja dan
memudahkannya keluar dari tubuh.
4. Bahan Osmotik. Bahan-bahan osmotik mendorong sejumlah
besar air ke dalam usus besar, sehingga tinja menjadi lunak
dan mudah dilepaskan.Cairan yang berlebihan juga
meregangkan dinding usus besar dan merangsang kontraksi.
Pencahar ini mengandung garam-garam (fosfat, sulfat dan
magnesium) atau gula (laktulosa dan sorbitol).
5. Pencahar Perangsang. Langsung merangsang dinding usus besar
untuk berkontraksi dan mengeluarkan isinya. Mengandung
substansi yang dapat mengiritasi seperti senna, kaskara,
fenolftalein, bisakodil atau minyak kastor. bekerja setelah 6-8
jam dan menghasilkan tinja setengah padat, tapi sering
menyebabkan kram perut. Dalam bentuk supositoria (obat yang
dimasukkan melalui lubang dubur), akan bekerja setelah 15-60
menit.jangka panjang menyebabkan kerusakan pada usus besar,
juga seseorang bisa menjadi tergantung pada obat ini sehingga
usus menjadi malas berkontraksi (Lazy Bowel Syndromes).
Indikasi : untuk mengosongkan usus besar sebelum proses
diagnostik dan untuk mencegah atau mengobati konstipasi yang
disebabkan karena obat yang memperlambat kontraksi usus

6
besar (misalnya narkotik).Adapun salah satu contoh dari obat
laksatif yang biasa digunakan oleh masyarakat luas adalah
DULCOLAX.
 DULCOLAX

 Indikasi:

Digunakan untuk pasien yang menderita konstipasi. Untuk persipan prosedur


diagnostik, terapi sebelum dan sesudah operasi dalam kondisi untuk
mempercepat defeksi.
 Kontra Indikasi:

Pada pasien ileus, abstruksi usus, yang baru mengalami pembedahan dibagian
perut seperti usus buntu, penyakit radang usus akut dan hehidrasi parah, dan
juga pada pasien yang diketahui hipersensitif terhadap bisacodyl atau komponen
lain dalam produk
 Komposisi:

1 tablet salut enterik mengandung 5 g:

4,4'-diacetoxy-diphenyl-(pyridyl-2)-methane (=bisacodil)
 Zat tambahan:

Laktosa, pti jagung, gliserol, magnesium stearat, sukrosa, talk, akasia,


titanium dioksida, eudragit L100 dan S100, dibutilftalat, polietilen
glikol, Fe-oksida kuning, beeswax white, carnauba wax, shellac.
 Cara Kerja Obat:

Bisacodyl adalah laksatif yang bekerja lokal dari kelompok turunan


difenil metan. Sebagai laksatif perangsang (hidragogue
antiresorptive laxative), DULCOLAX merangsang gerakan
peristaltis usus besar setelah hidrolisis dalam usus besar, dan
meningkatkan akumulasi air dan alektrolit dalam lumen usus besar.
 Dosis dan Cara Pemberian:

Kecuali ditentukan lain oleh dokter dosis yang dianjurkan adalah:

1. Untuk Konstipasi Tablet Salut Enterik Dewasa dan anak-anak di


atas 12 tahun: 2 - 3 tablet (10 - 15 mg) sekali sehari. Anak-anak

7
6 - 12 tahun: 1 tablet (5 mg) sekali sehari.

Anak-anak di bawah 6 tahun: konsultasi dengan dokter atau


dianjurkan memakai supositoria anak.

Tablet salut enterik sebaiknya diminum pada malam hari untuk


mendapatkan hasil evakuasi pada esok paginya. Tablet
mempunyai lapisan khusus, oleh karena itu tidak boleh diminum
bersama-sama dengan susu atau antasida.

Tablet harus ditelan dalam keadaan utuh dengan air secukupnya.


2. Untuk Persiapan Prosedur Diagnostik dan Sebelum Operasi
Bila DULCOLAK digunakan pada pasien untuk persiapan
pemeriksaan radiografik abdomen atau persiapan sebelum
operasi, maka penggunaan tablet DULCOLAX harus
dikombinasi dengan supositoria, agar didapat evakuasi yang
sempurna dari usus.
Dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah 2 - 4
tablet pada malam sebelumnya dan 1 sipositoria pada esok
paginya.
 Peringatan dan Perhatian:

Sebagaimana halnya laktasit lainnya, DULCOLAX tidak boleh


diberikan setiap hari dalam waktu yang sama. Jika pasien setiap hari
membutuhkan laktasif, harus diketahui penyebab terjadinya
konstipasi. Penggunaan berlebihan dalam waktu lama dapat
menyebabkanketidakseimbangan cairan dan elektrolit dan
hipokalemia, dan dapat mengendapkan onset konstipasi balik. Pusing
dan/atau syncope telah dilaporkan pada pasien yang menggunakan
DULCOLAX. Detail yang ada menunjukkan bahwa kejadian tersebut
akan terus berlanjut dengan berkurangnya kekuatan untuk defekasi
(defecation syncope), atau dengan respon vasovagal terhadap sakit
perut yang dapat berhubungan dengan konstipasi yang mendesak
pasien tersebut terpaksa menggunakan laktasif dan tidak perlu
menggunakan DULCOLAX. Penggunaan supositoria dapat

8
menyebabkan sensasi rasa sakit dan iritasi lokal, kuhusnya pada fisura
anus dan proktitis ulserativa. Anak-anak tidak boleh menggunakan
DULCOLAX tanpa petunjuk dokter.
 Masa Hamil dan Menyusui

Pengalaman menunjukkan tidak ada bukti efek samping yang


berbahaya selama kehamilan. Namun demikian, seperti halnya obat
lain, penggunaan DULCOLAX selama kehamilan harus dengan
petunjuk medis. Belum diketahui apakah bisacodiyl menembus air
susu ibu atau tidak. Oleh karena itu, penggunaan DULCOLAX
selama menyusui tidak dianjurkan.
 Efek Samping:

Sewaktu menggunakan DULCOLAX, dapat terjadi rasa tidak


enak pada perut termasuk kram, sakit perut, dan diare. Reaksi alergi,
termasuk kasus-kasus angiooedema dan reaksi anafilaktoid juga
dilaporkan terjadi sehubungan dengan pemberian DULCOLAX.
 Interaksi:

Penggunaan bersamaan dengan diuretik atau adreno-kortikoid


dapat meningkatkan risiko ketidakseimbangan elektrolit jika
DULCOLAX diberikan dalam dosis berlebihan. Ketidaseimbangan
elektrolit dapat mengakibatkan peningkatan sensitivitas glikosida
jantung.
 Overdosis:

Gejala Bila dosis DULCOLAX terlalu tinggi, maka dapat


terjadi diare, kram perut dan berkurangnya kadar kalium serta
elektrolit lainnya secara nyata. Overdosis kronis DULCOLAX dapat
menyebabkan diare kronis, sakit perut, hipokalemia,
hiperaldosteronisme dan batu ginjal. Kerusakan tubulus ginjal,
alkalosis metabolik dan kelelahan otot akibat hipokalemia juga
terjadi pada penyalahgunaan laktasif kronis.
 Terapi

Dalam waktu yang singkat setelah minum DULCOLAX,

9
penyerapan DULCOLAX dapat dikurangi atau dicegah dengan
memaksa untuk muntah atau kuras lambung. Dalam hal ini mungkin
diperlukan penggantian cairan dan perbaikan keseimbangan
elektrolit. Ini sangat diperlukan pada pasien usia lanjut dan muda.
Pemberian antipasmodik mungkin ada manfaatnya.

1.6.4 KOLAGOGUM,KOLELITOLITIK DAN HEPATIK PROTEKTOR


Pada obat pencernaan golongan ini tidak langsung berkaitan dengan saluran
cerna tetapi lebih kepada fungsi hati dan empedu yang bermasalah.Obat yang
menstimulasi aliran empedu ke duodenum disebut Kolagogum.Hingga kini
belum ada pengobatan efektif pilihan untuk penyakit hepatitis yang kronis
karena virus.Ada beberapa zat aktif yang diindikasikan untuk masalah ini ,
seperti di bawah ini :
 Ursodeoksikolat, memberi efek cytoprotektif langsung, dan efek pada
siklus enterohepatik pada efek korelatif potensial asam empedu dan efek
imunomodulate.

 AARC atau asam amino rantai cabang, merupakan asam amino esensial
yang terdiri dari asam amino Valin, Leusin, & Isoleusin. Pada penderita
penyakit hati kronis atau sirosis hati kadar AARC ini akan menurun.

 Chenodeoxycholic adalah asam empedu, satu dari empat asam organik


utama yang diproduksi oleh hati, disintesa hati dari kolesterol. Indikasi :
batu empedu kolesterol, khususnya pada pasien yang beresiko tinggi
untuk pembedahan, tidak dapat ditolong dengan pembedahan sama sekali
atau yang menolak kolesistektomi (membuang kandung empedu yang
sakit atau yang berisi batu dengan pembedahan).

 Zat aktif lainny, berasal dari alam seperti silymarin, lecitin, ekstrak
rimpang-rimpangan maupun tanaman lainnya yang dalam penelitian
bermanfaat untuk kesehatan hati.

1.6.5 OBAT HEMOROID


Hemoroid (Wasir) adalah pembengkakan jaringan yang mengandung
pembuluh balik (vena) dan terletak di dinding rektum dan anus. Wasir yang
tetap berada di anus disebut hemoroid interna (wasir dalam) dan wasir yang
keluar dari anus disebut hemoroid eksternal (wasir luar). Wasir bisa terjadi
karena mengeluarkan darah, terutama setelah buang air besar, sehingga tinja

10
mengandung darah atau terdapat bercak darah di handuk ataupun tisu kamar
mandi. Darahnya bisa membuat air di kakus menjadi merah. Lama kelamaan
wasir dapat menyebabkan penderitanya mengalami kehilangan darah yang berat
atau anemia sehingga memerlukan transfusi darah.

Wasir yang menonjol keluar mungkin harus dimasukkan kembali dengan tangan
perlahan-lahan atau bisa juga masuk dengan sendirinya. Wasir dapat
membengkak dan menjadi nyeri bila permukaannya terkena gesekan atau jika di
dalamnya terbentuknya pembekuan darah.Kadang-kadang, wasir bisa juga
menyabakan keluarnya lendir dan menimbulkan perasaan bahwa masih ada isi
rektum yang belum dikeluarkan. Perut terasa mau jebol karena banyak tinja
yang tertahan akibat takut mengalamai rasa sakit saat buang air besar. Gatal
pada daerah anus (pruritus ani) bisa menjadi gejala dari wasir. Rasa gatal ini
terjadi karena keadaan wasir yang terkeluar itu menghambat pembersihan anus
secara efisien, dapat menyebabkan partikel-partikel kecil dari feses menumpuk
pada kulit perianal dan bekerja sebagai iritan. Iritan ini dapat berpotensi menjadi
kanker bila tidak segera ditangani. Ada juga yang mengalami rasa sakit di
bagian tulang belakang bagian bawah. Biasanya, gejala itu di alami oleh
penderita yang sudah pada ambeien stadium 2. Penyakit hati menyebabkan
kenaikan tekanan darah pada vena portal dan kadang-kadang menyebabkan
terbentuknya wasir.

Pengobatan Hemoroid/Wasir biasanya, tidak


membutuhkan pengobatan kecuali bila menyebabkan gejala.
1. Obat pelunak tinja atau psilium bisa mengurangi sembelit
dan peregangan yang menyertainya.
2. Suntikan skleroterapi diberikan kepada penderita wasir yang
mengalami perdarahan. Dengan suntikan ini, vena digantikan
oleh jaringan parut.
3. Wasir dalam yang besar dan tidak bereaksi terhadap suntikan
skleroterapi, diikat dengan pita karet. Cara ini, disebut ligasi
pita karet, meyebabkan wasir menjadi layu dan putus tanpa
rasa sakit.
4. Pengobatan dilakukan dengan selang waktu 2 minggu atau

11
lebih. Mungkin 3-6 kali pengobatan.
5. Wasir juga bisa dihancurkan dengan menggunakan laser
(perusakan laser), sinar infra merah (fotokoagulasi infra
merah) atau dengan arus listrik (elektrokoagulasi).
6. Pembedahan mungkin digunakan bila pengobatan lain gagal.
 Kandungan obat hemoroid / wasir

Polidocanol, sediaan injeksi (ampul).Senyawa bismuth dan kombinasinya,


Kombinasi Hydrokortison, suppositoria.Ekstrak tumbuh-tumbuhan,
Graptophyllum pictum, Sophora japonica, dllSenyawa flucortolone dan
kombinasi senyawa alumunium, senyawa zink, hydrokortison dan lidokain
dalam bentuk krim.

1.6.6 OBAT DIGESTAN


Obat membantu proses pencernaan berisi enzim-enzim atau
campurannya, berguna memperbaiki fungsi pencernaan, bermanfaat pada
defisiensi satu atau lebih zat yang berfungsi mencerna makanan.

Sediaan digestan :
 Enzim pankreas

 Dalam sediaan dikenal sebagai pankreatin & pankrelipase. Mengandung


amilase, tripsin (protease) & lipase. Pankrelipase berasal dari pankreas
hewan, aktivitas lipase relatif lebih tinggi dari pankreatin.

 Pepsin, enzim proteolitik yang kurang penting dibanding dengan enzim


pankreas.

 Empedu, mengandung asam empedu dan konjugatnya, mengatasi batu


kolesterol kandung empedu.

1.6.7 ANTASIDA
Antasida adalah basa-basa lemah yang digunakan untuk menetralisir kelebihan
asam lambung yg menyebabkan timbulnya sakit maag.Tujuan pengobatan
adalah menghilangkan gejala, mempercepat penyembuhan, dan mencegah
komplikasi lebih lanjut. Adapun penggolongan obat - obat antasida, antara lain :
 Antasida

12
 Aluminium Hidroksida
 Al Oksida
 Magnesium Karbonat
 Mg Trisilikat
 Mg Oksida
 Mg Hidroklorida
 Natrium Karbonat
 Bismuth Subnitrat
 Bismuth Subsitrat
 Kalsium Karbonat
 Hidrotalsite ( Mg, Al, Hidroksi Karbonat )
 Antagonis Reseptor H2 ( H2 Bloker )

 Ranitidin
 Simetidin
 Famotidin
 Nizatidin

Bekerja dengan cara mngurangi sekresi asam lambung sebagai


akibat hambatan reseptor H2.
 Penghambat Pompa Proton

 Omeprazol
 Lansoprazol
 Pantoprazol

Bekerja dengan cara menghambat asam lambung dengan cara


menghambat sistem enzim adenosin trifosfat hidrogen-kalium (pompa
proton dari sel parietal lambung).
 Anti Kolinergik / anti muskarinik

 Pirenzepin
 Fentonium
 Ekstrak Bellado

13
Bekerja dengna menghambat sekresi asam melalui reseptor muskarindan melawan
kejang
 Analog Prostaglandin

 Misoprostol (Anti sekresi dan proteksi)


 Pelindung mukosa

 Sukralfat(Melindungi mukosa dari serangan pepsin


dan asam)
 Penguat motilitas

 Metoklorpramid
 Domperidon
 Zat pembantu

 Dimetikon (Dimetilpolisiloksan)

Memperkecil gelembung gas yang timbul sehingga mudah di serap dan


dapat mencegah masuk angin, kembung dan kentut
 Penenang

 Diazepam
 Klordiazepoksida

Menekan stress yg dapat memicu asam lambung

1.6.8 ANTIFLATULEN DAN ANTIINFLAMASI


Pada kelompok obat ini adalah obat-obat yang berfungsi sebagai :

 Pengatur fungsi dan gerak dari gastrointestinal atau sering disebut


regulator GIT

 Anti radang atau pembengkakan pada saluran cerna atau disebut


antiinflamasi

 Obat kembung atau antiflatulen digunakan untuk meteorismus (gelembung


udara di pencernaan).

Contoh obat kelompok ini adalah :

 Cisapride, meningkatkan kontraksi lambung dan

14
 Dimethicone, menurunkan tegangan permukaan dari gas sehingga buih di
dalam pencernaan membentuk gelembung yang besar yang mudah
dikeluarkan oleh tubuh.

 Metoclopramide, merangsang motilitas saluran cerna tanpa mempengaruhi


sekresi lambung, empedu atau pankreas.

 Domperidone, antiemetik ( antimuntah ) prokinetik, dengan efek seperti


metoclopramide.

 Hyoscine, antikolinergik dengan fungsi untuk gangguan kontraksi saluran


pencernaan, kandung empedu, saluran kemih dan saluran alat kelamin
wanita.

15
BAB 3. PENUTUP

1.7 Kesimpulan

Obat Sistem Pencernaan adalah obat yang bekerja pada sistem


gastrointestinal dan hepatobiliar Sistem pencernaan berfungsi :
menerima makanan, memecah makanan menjadi zat-zat gizi (suatu
proses yang disebut pencernaan), menyerap zat-zat gizi kedalam aliran
darah, membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna dari
tubuh.Jenis-jenis obat pencernaan dapat diklasifikasikan sebagai
berikut : Antispasmodik, Antasida, Antiflatulen dan AntiInflamasi,
Hepatoprotektor, Antidiare, Laksatif, Digestan, Hemoroid. Dari sekian
obat yang disebutkan di atas, setiap obat memiliki efek dan fungsi yang
berbeda sesuai dengan golongan obat tersebut.

1.8 Saran

Setelah mempelajari mata kuliah farmakologi maka perekam


medis dapat menyediakan ataupun memberikan informasi obat yang
benar, objektif dan lengkap akan sangat mendukung dalam pemberian
pelayanan kesehatan yang terbaik kepada masyarakat sehingga dapat
meningkatkan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat.

16
LAMPIRAN

SOAL OBAT SISTEM PENCERNAAN

1. Ada berapa klasifikasi dari obat pencernaan


a. 4
b. 6
c. 8
d. 9
e. 10
2. Obat yang berfungsi untuk memperlambat wsktu pengosongan lambung,
sehingga lebih serinh digunakan untuk pengobatan pada tukak duedenum dari
pada tukak lambung. Termasuk klasifikasi obat ...
a. Antikolinergik
b. Antasida
c. Obat Digestan
d. Obat Hemoroid
e. Obat Laksatif
3. Golongan obat yang memiliki sifat sebagai relaksan otot polos,merupakan
pengertian dari ...
a. Antitukak
b. Antipasmodik
c. Antidiare
d. Antikolinergik
e. Antasida
4. Obat yang digunakan untuk pasien yang menderita konstipasi serta digunakan
untuk persiapan prosedur diagnostik, terapi sebelum dan sesudah operasi
dalam kondisi untuk mempercepat defeksi. Salah satu merk dagang dari obat
tersebut adalah ...
a. Promag
b. Milanta
c. Dulcolax
d. Polidacanol
e. Amprazol
5. Bulking agent, pelunak tinja, minyak mineral, dan bahan osmotik merupakan
golongan obat ...
a. Obat laksatif
b. Antidiare
c. Antipasmodik
d. Kolagogum

17
e. Obat Hemaroid
6. Obat yang menstimulasi empedu ke duodenum disebut...
a. Hepalik Protektor
b. Kolelitolitik
c. Kolagogum
d. Ursodeoksilat
e. Obat Hemaroid
7. Antisida digolongkan menjadi 2, yaitu....
a. Antispasmodik, Antidiare
b. Kolagogum, Kolelitolitik
c. Anti Hiperasiditas, Antikolinergik
d. Anti Tukak, Hepatoprotektor
e. Antiemetik, Antispasmodik
8. Obat yang bereaksi pada sistem saraf otonom dan mencegah kejang otot...
a. Hyoscine
b. Papaverine
c. Clidnium
d. Omeprazole
e. Amoxillin
9. Basa basa lemah yang digunakan untuk menetralisir kelebihan asam lambung
yang menyebabkan timbulnya sakit maag yaitu …
a. Antitukak
b. Antispasmodik
c. Antikolinergik
d. Antiemetik
e. Antasida
10. Apa saja kandungan dari antasida,kecuali..
a. magnesium (Mg+)
b. Alumunium (All+++)
c. Kalsium (Ca++)
d. Simitikon
e. Zn+

11. Apa saja kandungan dari antasida,kecuali

a) magnesium (Mg+)

b) Alumunium (All+++)

c) Kalsium (Ca++)

d) Simitikon

e) Zn+

18
12. Berguna mendorong sejumlah besar air ke usus besar sehingga tinja
menjadi lunak dan mudah dilepaskan, dan juga dapat meregangkan
dinding usus besar dan merangsang kontraksi, pencahar ini mengandung
garam dan gula, kegunaan diats merupakan golongan dari obat pencahara
apa?

a) pelunak tinja

b) minyak mineral

c) Bilking Agents

d) Bahan Oskomik

e) Pencahar Perangsang

Contoh obat :

1. Contoh obat pencahar

19
2. Contoh obat antiflatulen dan antiinflamasi

3. Contoh obat antispasmodic

4. Contoh obat antasida

20
5. Contoh obat antidiare

6. Contoh obat hemoroid

21